Category Archives: Riset dan Pengembangan

Mendiskusikan Agama dan Sains

reli

Ada satu temuan baru mengenai kejadian alam semesta. Umum diketahui bahwa berdasarkan terori relativitas Einstein digambarkan bahwa alam semesta ini berasal dari sebuah titik singular. Titik singular adalah titik yang maha padat. Ia kemudian meledak, kita kenal kejadiannya sebagai sebuah dentuman besar atau big bang. Dari situ lah alam semesta diduga berasal.

Persoalannya, dengan model ini tak bisa digambarkan apa yang terjadi sebelum dentuman itu. Kata Steven Hawking, pertayaan tentang itu tak relevan, karena “sebelum” itu adalah soal waktu. Sedangkan waktu baru tercipta bersama terciptanya ruang, yaitu pada dentuman tadi.

Kini ada teori baru yang mengatakan bahwa telah dilakukan koreksi kuantum terhadap teori Einstein tadi. Menurut teori ini alam semesta tidak berasal dari sebuah dentuman. Alam semesta ini tiada awal, pun tiada akhirnya.

Pernyataan di atas tentu akan mengusik kalangan agama, sebagaimana pernyataan Hawking bahwa Tuhan tidak terlibat dalam penciptaan alam semesta. Sebelumnya teori Darwin tentang evolusi makhluk hidup juga menyengat. Masih banyak lagi benturan-benturan antara sains dan agama terjadi dalam sejarah kita.

Sengatan semacam itu lah sepertinya yang telah memunculkan gagasan soal islamisasi sains yang sempat diwacanakan sekitar tahun 90-an. Entah kenapa wacana itu kini sepi. Gagasan ini beranjak dari kekhawatiran bahwa sians sedang dan akan berkembang menjadi “liar”, cenderung menjauhkan manusia dari eksistensi Tuhan serta ajaran agama, khususnya Islam. Maka diperlukan islamisasi untuk mengoreksinya. Namun, bagaimana caranya? Tiba di pertanyaan ini wacananya menjadi muskil, karena kontribusi ilmuwan muslim terhadap sains masih sangat minim. Segelintir ilmuwan itupun belum tentu setuju dengan gagasan ini. Mungkin inilah sebab utama memudarnya wacana ini.

Seorang teman pernah memberi saya buku berjudul “Atoms and Eden”. Buku ini merupakan kumpulan wawancara seorang wartawan dengan sejumlah kalangan ilmuwan elit dunia, tentang hubungan agama dan sains. Beragam tokoh ada di situ, baik dari kalangan ateis seperti Richard Dawkins dan Sam Harris, maupun kalangan yang lebih “ramah” terhadap agama seperti Karen Armstrong. Kesimpulannya? Tidak ada. Setiap orang punya pandangan sendiri dalam melihat hubungan agama dengan sains.

Apa sebenarnya masalah dalam hubungan ini? Dulu ketika manusia belum mengenal sains agama (melalui kitab suci dan nabi) mencoba menjelaskan alam semesta. Tujuan sebenarnya bukan untuk memberi pengetahuan detil. Sekedar memperkenalkan bahwa alam semesta ini ada penciptanya. Ia lah Tuhan. Keberadaan Tuhan dijelaskan melalui dahsyatnya alam, yang tak mungkin bisa diciptakan manusia.

Perlahan sains berkembang. Banyak hal yang kemudian diketahui manusia. Di antaranya hal-hal yang berbeda dari yang dibahas di kitab suci. “Berbeda” dalam hal ini menjadi kontroversi sendiri. Benarkah rumusan sains berbeda dengan rumusan kitab suci? Berbeda rumusan, atau hanya sekedar tafsir atas kitab suci yang harus dimodifikasi? Sebaliknya, benarkah rumusan sains itu lah yang benar? Bukankah kebenaran sains adalah kebenaran nisbi yang bisa berubah?

Ilmuwan sendiri beragam sikapnya. Ada yang mengatakan bahwa isi kitab suci telah usang. Ada pula yang sekedar mengatakan bahwa kitab suci harus ditafsir ulang, bukan using. Berbagai usaha melakukan tafsir ulang itu kemudian menimbulkan banyak wacana baru, di antaranya usaha penafsiran yang mencari keselarasan seperti dilakukan oleh Maurice Bucaille dan Keith Moore terhadap Quran. Perlu dicatat bahwa keduanya bukan muslim. Gaya ini kemudian diikuti oleh cukup banyak orang seperti Ahmad Baiquni, dilanjutkan oleh berbagai jenis orang seperti Adnan Oktar (Harun Yahya). Gaya ini pun menimbulkan perdebatan pula. Salah satu yang keberatan adalah Ziauddin Sardar, seorang ilmuwan muslim yang tadinya diundang bergabung bersama Bucaille dan Moore oleh pemerintah Saudi Arabia untuk mencari rumusan tafsir selaras tadi.

Dalam berbagai perdebatan tadi saya sebenarnya bertanya, perlukah kitab suci dan sains itu diselaraskan? Kalau ada gagasan untuk menyelaraskannya, asumsinya keduanya tidak selaras. Faktanya memang demikian. Kalau mau diselaraskan, dasar berpikirnya adalah keduanya harus selaras. Mengapa harus?

Oo, tentu harus selaras, kata kalangan agama. Alam ini ciptaan Tuhan. Demikian pula kitab suci, ia adalah kabar dari Tuhan. Tentu aneh bila dua hal yang sama-sama dari Tuhan tidak selaras. Bila tidak selaras bisa ada kecurigaan bahwa kitab suci itu bukan berasal dari Tuhan.

Masalah tidak berhenti sampai di situ saja. Beberapa temuan maupun gagasan sains berpotensi “mengusir” Tuhan. Seperti gagasan di atas, kalau alam semesta tidak berawal dan tidak berakhir, bagaimana dengan Tuhan? Bukankah sifat itu adalah sifat Tuhan? Apakah dengan demikian Tuhan itu sebenarnya hanyalah alam semesta ini?

Masalahnya jadi semakin rumit. Namun bagi saya ada beberapa benang merah penting yang mungkin bisa menjadi “penengah”. Pertama, sains itu meneliti alam. Tuhan bukanlah objek kajian sains. Jadi, apapun temuan sains ia tidak bisa digunakan untuk membuktikan atau menegasi keberadaan Tuhan. Kok begitu? Ya, karena sains tidak membahas Tuhan. Ia tidak membahas wujud Tuhan, juga tidak membahas hubungan antara Tuhan dengan alam. Kalau ada yang membahasnya itu adalah bahasan soal tafsir terhadap sains. Tafsir itu soal preferensi orang, bukan soal fakta sains.

Kedua, seperti saya tulis di atas, meski membahas alam kitab suci tidak berniat menjelaskan alam secara rinci. Ia hanya memperkenalkan alam. Lebih tepat lagi, memperkenalkan Tuhan. Lagi pula, kitab suci sebenarnya bersifat lokal saja. Ia hadir pada suatu masa, berkomunikasi dengan orang pada masa itu. Meski kemudian ia dipakai hingga kini, statusnya bukan penjelas segala sesuatu yang berfungsi sepanjang masa. Yang berlaku sepanjang masa hanyalah substansi nilai yang hendak diajarkan. Nilainya sendiri boleh jadi berubah oleh berubahnya manusia.

Masalah kita adalah adanya sekelompok orang yang menganggap kitab suci itu berlaku dan benar sepanjang masa hingga ke setiap detilnya. Semangat untuk menyelaraskan tadi sebenarnya dipicu untuk mempertahankan prinsip bahwa apapun yang berlaku belasan abad yang lalu harus pula berlaku sekarang. Untuk mendukung itu maka setiap butir yang terkandung dalam kitab suci harus dipertahankan sebagai kebenaran.

Sebenarnya yang menjadi goyah oleh sains bukan eksistensi Tuhan. Yang goyah adalah keinginan manusia untuk tetap memberlakukan apa yang berlaku belasan abad yang lalu.

 

Sumber foto: The Arbinger

Alan Turing, Homoseksualitas, dan Masyarakat

 

Alan Turing adalah profesor matematika di King College, Cambridge. Ia memimpin sebuah tim inteljen Inggris yang berupaya memecahkan sandi-sandi militer Jerman melalui penciptaan sebuah mesin pintar. Ia berhasil! Namun tak serta merta perang berakhir. Turing memilih untuk berhati-hati dalam memakai mesin itu, agar Jerman tak menyadari bahwa sandi mereka telah berhasil dipecahkan. Melalui analisa kalkulus yang rumit, ia menyarankan berbagai pola serangan maupun pertahanan kepada tentara Inggris dan Sekutu, sampai akhirnya Jerman dikalahkan.

Menurut analisa ahli sejarah, berkat kontribusi Turing itu, perang dapat dipercepat 2 tahun. Diperkirakan percepatan itu telah menyelamatkan sekitar 15 juta jiwa.

Tak cuma itu. Turing adalah pioneer dalam ilmu komputer. Ia mendesain Turing machine, yang merupakan basis komputer modern. Artinya, komputer yang kita pakai sekarang, termasuk berbagai gawai dalam genggaman kita.

Untuk mengenang Turing, Macintosh memakai logo berupa sebuah apel yang tidak utuh lagi, sudah tergigit sebagian. Apel ini ditemukan di rumah Turing saat kematiannya. Mungkin itulah gigitan terakhir Turing sebelum ia meninggal. Ia diduga bunuh diri.

Sisi lain soal Turing, ia adalah seorang homoseksual. Di zaman itu homoseksualitas terlarang dalam hukum Inggris. Ia diadili, lalu diberi pilihan: dipenjara atau dikebiri secara kimia. Ia memilih dikebiri, dengan meminum obat terapi hormon untuk menekan hasrat seksualnya. Ia memilih hukuman itu agar bisa tetap melanjutkan pekerjaannya, mendesain komputer yang kini kita nikmati.

Saya teringat pada Alan Turing ketika membaca berita soal larangan masuknya LGBT ke kampus-kampus yang disampaikan Menristek Dikti kemarin. Homoseksualitas adalah cela dan nista, tidak patut berada di kampus.

Saya bayangkan bila ada orang jenius seperti Turing di kampus kita sekarang, sekaligus ia seorang homoseksual seperti Turing pula. Apa yang akan dia hadapi? Mungkin ia akan dibuang dari kampus.

Apa kesalahan atau kejahatan Turing? Ia menggunakan penisnya dengan cara berbeda dari manusia pada umumnya. Ia hidup di tengah masyarakat yang memasukkan penis ke vagina untuk mendapat kenikmatan seksual, sementara ia punya cara lain. Karena cara menikmati seks yang berbeda itu Turing menjadi tidak punya hak untuk hidup bersama kita. Ia boleh hidup hanya dengan meninggalkan cara dia menikmati hubungan seks.

Mengapa? Karena menurut banyak orang, itu cara berhubungan seks yang tak patut. Atau lebih tepat lagi, masyarakat belasan abad yang lalu menetapkan bahwa itu tak patut, kemudian terekam dalam naskah kitab yang disucikan, kemudian diabadikan.

Pada saat yang sama, kitab suci yang terbit belasan abad yang lalu juga menetapkan bahwa orang tidak boleh makan babi, atau minum arak. Apakah pemakan babi dan peminum arak diperlakukan sama seperti perlakuan yang diterima Turing? Tidak. Apakah kalau kebetulan ada peneliti atau dosen yang makan babi atau minum arak, ia akan kena sanksi dari pihak kampus? Apakah Menristek Dikti akan mengecam keras terhadap pemakan babi atau peminum arak? Kemungkinan besar tidak. Lalu, apa yang membuatnya jadi berbeda?

Seks adalah bagian yang paling tertutup dalam sejumlah aktivitas hidup kita. Kita makan dan minum masih mungkin dilihat oleh banyak orang. Sedangkan hubungan seks kita sangat kecil kemungkinan untuk dilihat orang. Tapi ironisnya, hubungan seks ini lebih sering diributkan orang ketimbang urusan lain dalam perilaku kita.

Mengapa? Embuh.

Trapped in a Frame

trappedSaya pernah mengalami hal ini, dan saya yakin banyak orang mengalaminya. Saya sedang berada di dalam mobil di tempat parkir. Tiba-tiba saya merasakan mobil saya maju, bergerak perlahan ke depan. Sejenak saya panik. Bagaimana mungkin mobil saya bisa maju, padahal saya sedang menginjak rem. Refleks rem saya injak lebih keras. Tapi mobil tetap bergerak maju. Apakah saya salah injak pedal?

Oh, ternyata tidak. Saya tidak salah injak. Mobil saya pun tidak maju. Yang terjadi adalah mobil di sebelah saya sedang bergerak mundur perlahan. Dalam pandangan sesaat saya mobil sayalah yang sedang bergerak. Ya, pandangan sesaat, mungkin kurang dari sedetik. Setelah itu saya sadar akan kejadian sebenarnya.

Yang saya alami di mobil itu bukanlah fantasi. Itu bukan khayalan. Itu realitas. Dalam kerangka relativitas Newton, saya boleh mengklaim bahwa saya lah yang sedang bergerak maju, sedangkan mobil di sebelah saya diam. Bahkan ketika saya libatkan pohon di depan mobil saya, serta objek lain di sekitar saya, klaim saya bahwa mobil di sebelah saya sedang diam tetap sah. Mobil saya, pohon di depan mobil saya, objek lain di sekitar saya bergerak maju, sedangkan mobil di sebelah saya diam. Namun deskripsi tentang gerakan mobil saya benda-benda di sekitar saya menjadi rumit. Jauh lebih sederhana bila gerak benda-benda dirumuskan dalam kerangka mobil saya dan benda-benda di sekitar saya diam, dan mobil di sebelah saya bergerak.

Dua kerangka berfikir (framework) mobil saya diam dan mobil saya bergerak maju sekali lagi adalah kerangka yang benar. Hanya saja akan timbul kerumitan bila kita hanya mampu melihat sistem dari satu kerangka saja. Inilah yang disebut dengan terjebak dalam kerangka tunggal (trapped in a frame). Kita hanya tahu satu sudut pandang, tidak mau tahu dengan sudut pandang lain yang sebenarnya juga wujud.

Banyak masalah sosial yang timbul akibat cara berfikir yang terjebak oleh sudut pandang tunggal ini. Orang-orang Islam, misalnya, suka meributkan aktivitas yang mereka sebut “kristenisasi” atau pemurtadan. Dalam kerangka berfikir mereka orang-orang Kristen melakukan proses pemurtadan terhadap sejumlah umat Islam. Tapi di satu sisi umat Islam sendiri juga aktif berdakwah, menghasilkan para mualaf, termasuk di antaranya dari kalangan Kristen. Dalam kerangka berfikir tunggal tadi, yang dilakukan oleh umat Islam adalah berdakwah yang merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan setiap muslim. Sedangkan yang dilakukan orang Kristen itu adalah pemurtadan. Padahal dari sudut pandang yang lebih luas, dakwah Islam maupun kegiatan misi Kristen itu substansinya sama.

Contoh lain, saya pernah dimaki-maki orang ketika saya mengatakan bahwa Indonesia dulu menjajah Timor Timur. Yang memaki saya, meski seorang dosen yang harusnya terdidik, adalah seseorang yang kebetulan bapaknya berperang di Timor Timur. Dalam pandangan dia, yang dilakukan Indonesia di sana adalah membebaskan Timor Timur dari penjajahan Portugal dan kekejaman Fretilin. Tapi dari sudut pandang lain, khususnya oleh sebagian orang Timor Timur, Indonesia adalah kekuatan asing yang menguasai bangsa mereka, dan itu adalah penjajahan.

Ada banyak contoh tentang pandangan-pandangan dari sudut sempit atau kerangka acuan tunggal. Bila kita terus memelihara cara pandang seperti itu, maka kita akan terlihat seperti orang gila yang mengira dirinya adalah pusat alam semesta. Saya bersyukur, belajar fisika membuat saya sadar bahwa dunia ini bisa dilihat dari berbagai sudut pandang yang jumlahnya tak berhingga. Melihat dari berbagai sudut pandang itu jauh lebih indah dari pada melihat dari sudut pandang tunggal.

 

Gathukology dan Obsesi Islam Kaffah

gathukAda banyak orang yang terobsesi untuk mencocokkan Quran dengan sains. Klaimnya, banyak fakta sains yang baru diketahui manusia pada abad ke XX ini sudah tertulis di Quran. Sebutlah misalnya soal proses perkembangan embrio, gunung yang berjalan, gunung sebagai pasak bagi bumi, teori big bang, besar kecepatan cahaya, dan sebagainya. Lebih dahsyat lagi, kecocokan Quran dan sains modern itu diklaim telah menyebabkan banyak ilmuwan dan profesor masuk Islam. Uniknya, Keith Moore dan Maurice Bucaille, dua tokoh yang menulis buku tentang kecocokan Quran dan sains, tidak pernah ada konfirmasi tegas soal status keislamannya.

Lebih parah lagi, pencocokan ini kemudian diikuti dengan produksi berbagai fakta palsu alias hoax. Misalnya tentang “fakta ilmiah” tentang larangan pemakaian emas. Atau tentang penelitian terhadap sayat lalat, dan sebagainya.

Apa sebenarnya yang mendorong adanya semangat ini? Pertama, ini yang sering dikemukakan, Quran cocok dengan sains adalah bukti bahwa Quran ini kebenaran yang datang langsung dari Allah. Tidak mungkin ini karangan Muhammad. Karena nabi Muhammad tidak mengerti sains, bahkan seorang yang buta huruf. Jadi, ia hanya menyampaikan fakta-fakta saja, yang baru kemudian hari, belasan abad kemudian dipahami orang.

Kadang saya berpikir, sadarkah orang-orang ini bahwa mereka sebenarnya sedang melecehkan Quran dan nabi Muhammad? Coba bayangkan. Nabi Muhammad (dianggap) tidak mengerti sains. Fakta-fakta sains yang dimuat di Quran itu tidak mungkin dipahami manusia abad ke VII, zaman nabi masih hidup. Lalu, apakah itu berarti nabi menyampaikan sesuatu yang tidak ia pahami? Sekedar perekam pesan tanpa paham maknanya?

Quran adalah petunjuk yang nyata. Artinya jelas. Lalu, bagaimana mungkin sebuah petunjuk tidak dipahami orang selama belasan abad bisa disebut petunjuk yang jelas? Apa bukan sebaliknya, ini sebuah petunjuk yang kabur?

Ada pula yang berargumen, kalau fakta-fakta sains itu dimuat dalam bahasa yang tegas dan jelas, dikhawatirkan orang-orang pada masa itu akan menolaknya, karena berbeda dengan kenyataan yang mereka hadapi. Kalau begitu, kenapa orang-orang itu bisa menerima kabar tentang perjalanan Isra’ Mikraj, yang jelas tidak masuk akal pada zaman itu? Argumen ini sekaligus menempatkan Allah seperti tak berkuasa memberi petunjuk kepada manusia, takut manusia tak paham, dan seterusnya.

Ada satu hal lagi yang sebenarnya menjadi pendorong bagi paham ini, yaitu bahwa Quran itu benar dalam setiap ayat dan hurufnya. Benar secara tekstual. Benar seperti apa adanya. Karena ia benar pada setiap ayat dan hurufnya, maka ia harus pula dilaksanakan ayat per ayat, sebagaimana tertulis. Ia boleh dilepaskan dari berbagai konteks yang menjadi latar belakangnya. Ia harus dilaksanakan, sebagaimana orang-orang abad VII menerapkannya, tanpa mempertimbangkan perubahan kondisi dan zaman. Penerapan yang demikian itu disebut dengan Islam kaffah.

Terhadap orang-orang macam ini sering saya sodorkan ayat-ayat yang memuat frase “azwaazukum (atau azwaazuhum) aw maa malakat aimaanukum”. Frase ini menjelaskan bahwa penyaluran kebutuhan seksual dapat dilakukan terhadap istri-istri dan budak-budak yang dimiliki. Frase ini bertebaran di seluruh antero Quran. Silakan laksanakan, biar kaffah. Lalu mereka kehilangan konsistensi, mendadak menjadi liberal, menyatakan bahwa Islam sebenarnya menginginkan penghapusan perbudakan secara bertahap. Padahal tidak ada satupun ayat maupun hadist yang tegas mengharamkan perbudakan, sebagaimana tegasnya pengharaman khamar atau daging babi.

Ziauddin Sardar mengungkapkan fakta menarik, bahwa ada 700 lebih ayat yang menyuruh orang untuk memperhatikan alam. Ilustrasinya disesuaikan dengan pengetahuan manusia pada masa itu. Jumlah ini kontras dengan jumlah ayat-ayat tentang hukum, yang jumlahnya tak lebih dari 300. Lebih menarik lagi, Quran bahkan menantang manusia (sejak zaman itu) untuk mengarungi langit.

Apa artinya ini? Quran tidak menjabarkan satu per satu fakta tentang alam. Kenapa? Karena tidak perlu! Fakta tentang alam tidak ada yang statis sifatnya, tidak fixed. Sains hanyalah kumpulan pemahaman manusia tentang alam, bukan alam itu sendiri. Karena itu sains selalu berubah. Maka, alih-alih memberi penjelasan tegas soal ini dan itu, Quran lebih banyak menyuruh untuk melakukan pengamatan. Tafakkur, ta’qil, tadabbur. Lihat, pelajari, pikirkan, manfaatkan. Sayangnya pesan ini tidak bisa ditangkap. Orang-orang Islam kebanyakan lebih terobsesi untuk memperlakukan Quran sebagai kitab hukum, untuk membekukan peradaban seperti peradaban manusia abad ke VII.