Category Archives: Riset dan Pengembangan

Kapital, Teknologi, dan Senjata

Suka atau tidak, 3 hal itu memenuhi ruang hidup kita sekarang. Ekonomi dunia digerakkan oleh kalitalisme, kekuatan uang. Uang ini jadi lingkaran setan dengan berbagai pendukungnya. Kapital menggerakkan inovasi teknologi. Inovasi ini nanti akan memberikan masukan kembalian berupa uang lagi, dalam jumlah yang lebih berlipat. Pada saat yang sama, teknologi memungkinkan terciptanya senjata-senjata canggih, yang bisa dipakai untuk mengamankan sumber daya alam, jalur bisnis, juga sebagai tekanan politik. Nanti, lagi-lagi ia akan memberikan pengembalian dalam jumlah yang lebih dahsyat lagi.

Amerika memegang semua itu. Teknologi, senjata, kapital. Ditambah lagi, sumber daya alam. Gonjang ganjingnya harga minyak dunia sekarang ini tidak terlepas dari beralihnya konsentrasi pemakaian energi Amerika dari minyak ke shallow gas.

Maka, meski babak belur saat krisis Lyman 6 tahun lalu, Amerika tetap kokoh. Meski ekonominya babak belur, seluruh negara di dunia masih tetap mengandalkan dolar sebagai cadangan devisa.

Rusia punya sumber daya alam, teknologi, dan tentu saja senjata. Tapi dalam hal kapital, masih jauh di bawah Amerika. Cina yang relatif lebih komplit, ditambah dengan satu hal, jumlah manusia. Yang terakhir ini bisa jadi keuntungan sekaligus masalah.

Jepang dan Korea punya teknologi dan kapital. Dalam hal senjata mereka masih tergantung pada Amerika, meski sekarang mulai menggeliat untuk melepaskan diri.

Apa yang dimiliki negara-negara Islam? Cuma sumber daya alam. Teknologi mereka tidak punya. Maka sumber daya alam hanya bisa jadi kapital dengan bantuan teknologi dari negara-negara lain. Parahnya, kapital yang diperoleh sebagian besar habis untuk konsumsi, tidak menghasilkan inovasi. Ketika sumber daya alam habis atau turun harga, mereka terancam jatuh miskin. Inilah yang sedang dihadapi oleh negara-negara Arab. Indonesia juga begitu.

Apa yang terpenting dari itu semua? Manusia. Manusialah yang bergerak menumpuk kapital, membuatnya jadi berlipat, mengubahnya menjadi teknologi, dan melipat gandakan kapital lagi. Manusia juga yang mengelola senjata, menjadikannya kekuatan untuk menguasai wilayah dan supply chain.

Kalau kita lihat sejarah peradaban, sejak abad pertengahan, dunia Islam sudah mundur jauh. Mereka tak lagi mengendalikan kapital, juga tidak mengendalikan teknologi. Ekonomi berkembang tanpa warna Islam. Dunia Islam bergeser keluar lapangan permainan, menjadi penonton.

Apa yang bisa dilakukan penonton? Bersorak, atau mengeluh. Itulah dunia Islam sekarang. Lebih spesifik lagi, lebih banyak mengeluhnya. Mereka mengeluh soal kapitalisme yang tidak adil, tapi ekonominya dikendalikan oleh kapitalisme. Setiap orang belanja memakai uang kertas produk riba, sambil merapalkan dalil-dalil tentang keharaman riba. Islam tidak hadir lagi ketika mata uang modern diperkenalkan dan dikembangkan.

Orang-orang Islam mengeluh soal babi yang haram, sementara produk makanan dan obat-obatan mereka dipenuhi produk turunan dari babi. Demikian pula halnya dengan alkohol.

Orang-orang Islam mengeluh soal khalwat, rapatnya interaksi perempuan dan laki-laki. Tapi berbagai produk budaya liberal memenuhi ruang keluarga mereka dalam wujud TV dan internet.

Kita bertanya, bagaimana caranya agar umat Islam bisa kembali berjaya, ikut berkontribusi dalam derap peradaban dunia? Sedihnya, jawabannya aneh: kembali kepada Quran dan sunnah. Maaf, jawaban itu salah. Maksudnya, salah karena yang dimaksud kembali adalah kembali hidup dengan gaya abad ke 7.

Tidak bisa tidak, kalau mau bangkit maka dunia Islam harus menguasai 2 hal fundamental: kapital dan teknologi. Caranya? Apa boleh buat, jadilah kapitalis. Lebih kapitalis dari Amerika. Kemudian lakukan konversi kapital menjadi teknologi.

Yang kedua itu maha sulit. Untuk membangun teknologi, orang harus punya satu tradisi penting: berpikir bebas. Ini tidak dimiliki dunia Islam. Orang-orang Islam sudah dibelenggu dengan norma-norma abad 7, membuat mereka tak bisa bergerak. Pikiran mereka sudah dipenjara dalam ruang yang sangat sempit.

Ini kenyataan pahit yang harus saya ungkap. Maka posis saya adalah bongkar ruang sempit itu. Merdekakan diri, meski dengan itu kita akan dianggap kafir sekalipun.

Jacquard Loom, Mesin Tenun dengan Program Mekanis

DSC_0125Kain tenun yang kita pakai pada dasarnya adalah anyaman benang. Ada ribuan benang disusun sejajar secara vertikal, lalu ada ribuan pula benang horizontal yang dipasang turun naik di sela-sela benang vertikal tadi. Di satu titik ia dipasang di bawah benang vertikal, di benang vertikal sebelahnya ia berada di atas. Begitu seterusnya.

Berbagai motif di kain bisa dihasilkan dengan kombinasi warna benang vertikal, juga dengan kombinasi jumlah benang vertikal dan horizontal yang saling berselang-seling tadi. Proses sederhananya dapat kita perhatikan pada anyaman tikar pandan yang biasa dibuat di desa-desa.

Proses penenunan pada masa awal dilakukan dengan tangan. Kombinasi atas bawah maupun kombinasi warna dilakukan dengan tangan manusia. Nah, bagaimana bisa proses ini dimekanisasi?

Itulah yang dilakukan oleh Joseph Marie Jacquard (1752–1834) seorang pengusaha tenun dari Perancis. Ia menciptakan sistem yang boleh disebut sebagai mesin tenun otomatis pertama. Dengan melubangi papan-papan kecil Jackuard menandai benang mana yang akan naik atau turun pada suatu hitungan benang horizontal. Ia juga menandai berapa jumlah benang yang akan naik atau turun. Papan-papan kecil ini digabung menjadi untaian panjang. Dengan papan ini proses penenunan dapat dilakukan secara otomatis.

Mungkin sistem ini dapat disebut sebagai sistem otomatis pertama dalam sejarah umat manusia. Papan-papan Jacquard tadi adalah program yang memberi perintah pada mesin untuk melakukan pekerjaan yang diinginkan. Kini perintah itu dinyatakan dalam bahasa mesin yang semuanya berbasis pada kombinasi digit 0 dan 1, tentu saja dalam format yang lebih rumit. Tapi prinsip dasarnya adalah sama.

Program komputer pada dasarnya adalah sederet kode untuk menerjemahkan logika manusia menjadi kegiatan mesin. Dulu hal ini dilakukan dengan sistem mekanis, sekarang dengan perangkan elektronik. Logika dasarnya sama.

Dikotomi Teknologi Kampung dan Kampus

Rhenald Kasali mengunjungi montir hebat, yang membuat alat hebat. Karena ia tak paham teknologi, ia minta nasihat pada yang paham, ahli fisika dan ahli kimia. Sayangnya para ahli itu memberi penilaian yang tak sesuai harapan Rhenald. Mereka menyangsikan produk teknologi. Padahal menurut Rhenald produk teknologi ini unik, dan bisa mengubah dunia. Ia kemudian mendatangi pengusaha serta Menteri BUMN Dahlan Iskan, yang untungnya mau membantu pengembangan teknologi tadi. Rhenald kemudian memaparkan kekecewaannya terhadap pihak kampus.
 
Menurut pengalamannya, orang-orang kampus cenderung arogan. Mereka skeptis terhadap berbagai jenis teknologi kampung. Mereka hanya mau peduli pada teknologi keren, hasil kerja mereka sendiri. Mereka hanya peduli pada kerja-kerja untuk menghasilkan publikasi di jurnal ilmiah, bukan membangun teknologi. Sebagian dari mereka bahkan hanya mengerjakan penelitian untuk menambah penghasilan belaka. Itulah sebabnya, meski sadar diri tidak paham teknologi, Rhenald tidak mendengar nasihat para ahli yang ia mintai pendapat soal teknologi yang dihasilkan montir tadi. Ia lebih percaya pada pandangannya sendiri, yang nota bene bukan ahli dalam teknologi, bahwa produk yang ia lihat akan mengubah dunia.
 
Kenyataan di Kampus
 
Kenyataan di kampus sebenarnya tidak seragam. Penggambaran yang dilakukan oleh Rhenald menurut saya agak serampangan, sehingga hasilnya adalah dikotomi antara kampus dan kampung yang dilakukan secara provokatif, sehingga membuat pembaca memandang sinis pada dunia kampus. Agar lebih jelas, akan saya paparkan secara ringkas sudut pandang saya tentang kenyataan di kampus. Para peneliti di kampus kita, termasuk juga para peneliti di lembaga non-kampus seperti LIPI, BPPT dan lain-lain, umumnya adalah (maaf) peneliti abal-abal. Seperti yang digambarkan Rhenald, mereka hanya meneliti untuk keperluan menambah penghasilan dan nilai kum untuk kenaikan pangkat. Tema dan metode penelitiannya sering kali membuat yang paham soal riset akan mengerutkan kening. Tak jarang penelitian mereka adalah plagiat, atau reproduksi penelitian orang lain yang dilakukan secara serampangan. Publikasi mereka juga di jurnal abal-abal.
 
Sebenarnya di luar golongan itu ada sejumlah peneliti kita yang melakukan riset serius. Kalau kita mau menelusuri database publikasi ilmiah seperti SCORPUS atau Google Scholar, kita akan dengan mudah menemukan riset-riset mereka yang menjadi acuan peneliti lain secara internasional. Kok publikasi ilmiah lagi? Mana produk teknologinya? Bukankah yang diinginkan Rhenald adalah produk teknologi? Orang-orang yang mengharap teknologi dalam bentuk nyata memang akan mencibir pada publikasi ilmiah. Publikasi ilmiah bukan teknologi, kata mereka. Banyak yang menganggapnya hanya tumpukan kertas sia-sia.
 
Tapi cobalah sebut satu produk teknologi yang dibangun tanpa publikasi ilmiah. Adakah? Tidak. Produk-produk teknologi yang menghidupi kita sekarang dibangun dengan ribuan tumpuk jurnal ilmiah! Tapi kenapa kita tak merasakan hadirnya teknologi dari kampus kita? Ada beberapa sebab. Pertama, sebagian besar hasil riset kita memang belum sampai pada taraf menghasilkan teknologi. Ibarat lukisan dinding dari ratusan potong puzzle, hasil riset kita baru mampu menghasilkan beberapa keeping bagian puzzle, belum mampu membentuk suatu wujud yang terlihat. Kalau ditanyakan lagi kenapa cuma bisa begitu, jawabannya akan panjang. Salah satu sebabnya adalah anggaran riset kita yang sangat kecil, hanya 0.08% dari GDP. Berharap ada teknologi yang dihasilkan dari dana riset cekak sama dengan berharap hasil panen mewah dari petani yang hanya bermodal sebuah cangkul.
 
Kedua, sebenarnya kalau dibilang tidak menghasilkan teknologi, tidak tepat juga. Seperti yang juga sedikit disinggung oleh Rhenald, kampus-kampus seperti ITB, UGM, UI, dan IPB, sekarang aktif memasarkan produk-produk riset mereka. Sebagian sudah jadi produk komersil. Kenapa kita tidak tahu? Dalam banyak hal kita memang tidak sadar akan hadirnya produk teknologi.
 
Perusahaan tempat saya bekerja, Toray, punya banyak teknologi yang hadir dalam kehidupan sehari-hari kita tanpa orang pernah tahu soal eksistensi perusahaan kami ini. Mengapa? Karena sebagian besar produk kami bukan berbentuk barang jadi (finished good), hanya merupakan bagian dari sebuah produk jadi. Demikian pula halnya dengan produk-produk riset kita.
 
Kalau produk riset kita hanya menghasilkan paper di jurnal, masih pentingkah? Tidakkah sebaiknya kita percaya saja pada teknologi kampung yang bisa dihasilkan tanpa tetek bengek metode ilmiah? Tidak demikian. Publikasi ilmiah adalah pergaulan, agar kita tidak kurang gaul. Kita merasa menemukan produk teknologi yang kita kira hebat. Namun ternyata produk itu sudah pernah ditemukan orang lain di belahan dunia lain, dan sudah diketahui pula kegagalannya. Atau, apa yang kita kira sesuatu yang hebat di balik temuan kita, ternyata hanyalah fatamorgana akibat kelalaian kita dalam melakukan observasi dan pengukuran. Mekanisme seleksi dan penilaian pada jurnal ilmiah secara sistematis akan mengurangi kesalahan-kesalahan itu secara maksimal.
 
Teknologi Kampung
 
Saya sudah banyak mendengar temuan-temuan hebat, yang oleh Rhenald disebut sebagai teknologi kampung. Bahkan sejak dulu, jauh sebelum saya berkecimpung dalam dunia riset. Ada bermacam jenisnya. Alat pemicu hujan, pasta penguat konduktor, pupuk hebat, serta blue energy yang pernah bikin heboh kantor kepresidenan tempo hari. Semua berawal dari cerita yang sama seperti yang disampaikan Rhenald. Ada karya hebat yang kurang perhatian. Kemudian ada yang mencoba membantu. Apakah produk teknologi kampung yang hadir di tengah kita saat ini? Maaf, mungkin saya lalai, tapi saya tidak menemukannya.
 
Teknologi kampung itu kebanyakan hanya berhenti pada cerita seperti yang dikisahkan Rhenald. Hampir tidak ada yang menjadi produk sahih. Mengapa bisa begitu? Sepanjang yang bisa saya amati, teknologi kampung itu kebanyakan adalah produk dari cara berfikir instan, yang mengira riset akan secara instan menghasilkan produk yang menyelesaikan masalah. Beberapa di antaranya memang punya manfaat yang bisa langsung dirasakan, seperti produk herbal yang diceritakan Rhenald. Tapi ingat, produk teknologi sebenarnya bukan sekedar produk yang bisa kita rasakan manfaatnya, tapi juga harus dipastikan tidak ada efek sampingan yang merugikan. Sebenarnya riset untuk memastikan tidak adanya efek sampingan ini dalam banyak kasus lebih panjang ketimbang riset untuk menghasilkan produk itu sendiri.
 
Saya memahami skeptisme para ahli yang dibawa Rhenald untuk memeriksa produk montir tadi dalam konteks ini. Mereka wajib skeptis dan berhati-hati. Karena mereka bukan orang awam teknologi, mereka tahu bahwa teknologi tidak instan sifatnya. Lalu apakah bengkel-bengkel kampung, inovator kampung mustahil menghasilkan teknologi? Tidak mustahil. Hanya saja kita perlu hati-hati dan arif dalam menilai dan mempromosikannya. Jangan sampai kita terlanjur mempromosikan sesuatu yang kelak akan merugikan masyarakat. Juga sebaiknya tidak memprovokasi masyakarat untuk melecehkan sesuatu (dalam hal ini kampus) karena kita ingin mempromosikan sesuatu yang lain.
 

Nanoteknologi dan Tekstil Canggih

texti

Banyak orang menganggap industri tekstil sebagai industri kuno yang tidak menarik lagi. Bagi sebagian orang, ini adalah sunset industry, industri yang tidak dianggap menghasilkan laba yang banyak. Sedikit pula orang yang menyadari bahwa sekarang banyak bahan tekstil baru yang memanfaatkan nantoteknologi, dan memiliki sifat-sifat canggih yang tidak dikenal sebelum zaman ini.

Penjelasan tentang nanoteknologi harus dimulai dengan menjelaskan apa itu nano. Kata nano itu adalah kata berasal dari bahasa Yunani, yang digunakan sebagai awalan satuan. Kita paling akrab dengan kata kilo, yang artinya seribu. Kilo yang paling sering kita pakai tanpa menyebut satuan di belakangnya merujuk pada kilometer (seribu meter) dan kilogram (seribu gram). Selain pada kedua satuan itu istilah kilo sebenarnya banyak dipakai dalam pernyataan lain seperti kiloliter, kiloton, kilohertz, dan seterusnya.

nanonSelain kilo ada hekto, deka, masing-masing bermakna 100 dan 10. Di atas kilo mega (1000) giga (1.000.000) dan seterusnya. Di bawah deka ada yang tidak pakai awalan, berarti 1. Misalnya 1 meter, ya satu meter. Di bawah itu ada desi (0,1). 1 desi meter (dm) adalah 0,1 meter. Di bawah itu ada senti, ) 0,01 atau seper seratus), mili (0,001 atau seper seribu), mikro (0,000001 seper sejuta), dan nano (0,000000001 atau seper semilyar). Jadi 1 nanometer adalah 1 per 1 milyar meter.

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas soal skala ini, beberapa contoh bisa diungkapkan. Ukuran bakteria adalah sekitar 1000 nanometer (nm). Diameter rambut manusia sekitar 80.000 nm, sedangkan panjang seekor semut adalah sekitar sejuta nanometer.

Apa hubungannya dengan nanoteknologi? Nanoteknologi adalah teknologi yang menggunakan bahan dalam orde nanometer. Bahan yang dipakai berukuran satu sampai puluhan atau seratusan nanometer. Bahan-bahan ini dibuat dengan dua cara: bottom up dan top down.

Bottom up artinya bahan-bahan dibuat dengan mengatur atom-atom atau molekul suatu bahan untuk tersusun sesuai keinginan, dan produknya dibatasi sampai pada skala nanometer saja. Caranya misalnya dengan menguapkan suatu bahan, lalu menjadikannya padat kembali dengan cara yang sangat khusus, seperti metode molecular beam epitaxy, chemical vapor deposition, dan sebagainya. Gampangnya, orang bisa membuat “bedil partikel”, kemudian ia menembakkan peluru-peluru partikel itu ke sebuah target, sehingga partikel-partikel tersebut membentuk susunan tertentu.

Adapun cara top down adalah dengan membuat bahan yang sangat kecil dari bahan yang besar dengan cara membelahnya. Saya kira cara ini lebih mudah dibayangkan.

Mengapa nanomaterial? Bahan-bahan dalam skala “natural” atau skala asal ternyata banyak yang “menyembunyikan” sifat hebatnya. Sifat itu hanya bisa muncul kalau ia membentuk struktur tertentu. Menarik untuk disimak bahwa suatu bahan bisa saja terbuat dari unsur yang sama, tapi sifatnya akan sangat berbeda tergantung pada bagaimana atom-atom itu tersusun. Karbon itu pada susunan atom tertentu “hanya” akan jadi batubara. Tapi dengan susunan atom tertentu karbon dapat membentuk intan. Selain itu ada pula serat karbon yang dikenal sangat keras, sepuluh kali lipas lebih kuat dari baja. Lalu, yang mutakhir adalah karbon tabung nano (carbon nanotube), yaitu atom-atom karbon membentuk struktur tabung berukuran sekian nanometer. Bahan ini punya banyak sifat unik dan unggul, dari sisi mekanik maupun elektronik.

Ada lagi contoh lain, yaitu partikel nano. Ada bahan yang dalam ukuran di atas skala nano tidak menunjukkan sifat ferromagnetik (tidak ditarik oleh medan magnet), namun ketika ia dipecah menjadi partikel berskala nano ia akan menjadi ferromagnet. Mengapa begitu? Pada saat ia dalam skala di atas nano, spin yang menyebabkan sifat magnet tadi saling berlawanan dalam bahan tersebut (membentuk domain) sehingga saling menghapuskan. Ketika ia dipecah dalam skala nano, maka spin-spin itu tidak saling berinteraksi, dan muncul sebagai penyebab sifat magnet tersebut.

Pakain yang kita kenakan dibuat dari kain. Kain adalah tenunan atau rajutan benang-benang. Sedangkan benang terbuat dari serat yang dipintal. Apa itu serat? Contoh yang paling umum adalah kapas. Kapas itu kalau dipintal akan menjadi benang. Ada banyak lagi contoh serat yang biasa dipakai di industri tekstil, di antaranya bulu domba (wol), kepompong ulat sutera, serat kayu (rayon), dan sebagainya. Bahan-bahan ini berasal dari alam, sehingga biasa disebut serat alam (natural fiber).

Selain bahan alami ada banyak serat tekstil yang merupakan hasil sintesa kimia, umumnya dihasilkan dari bahan kimia berbasis minyak bumi (petrokimia). Bahan ini biasa dikenal dengan istilah polimer sintetis. Polimer adalah bahan yang terbentuk dari ikatan antar molekul (mer) dalam jumlah tak terbatas (poli). Bahan-bahan alam yang disebutkan tadi adalah polimer juga, yang dikenal sebagai polimer alami (natural polymer). Polyester adalah polimer sintesis yang paling banyak dipakai untuk tekstil, sedangkan untuk bahan alami kapas adalah yang paling banyak dipakai.

Bahan tekstil canggih dibuat dengan mengatur sifat-sifat bahan melalui berbagai manipulasi di tingkat nano. Misalnya, bila kita menginginkan bahan yang tahan air (tidak basah), maka kita bisa mengatur molekul-molekul sedemikian rupa agar hidrofobisitas (kemampuan menolak air) tinggi. Caranya dengan memakai molekul yang tidak mudah membentuk ikatan hidrogen maupun ikatan Van der Waals, dua jenis ikatan yang biasanya mengikat air. Demikian pula sebaliknya, bila kita ingin bahan dengan kemampuan menyerap air yang tinggi, maka kita bisa mendesain molekul-molekul dengan hidrofilisitas tinggi.

nanotexSelain dua sifat di atas (hidrofobisitas dan hidrofilisitas) ada berbagai sifat bahan yang bisa diatur dengan manipulasi nanoteknologi, seperti kekuatan secara mekanis, ketahanan terhadap api, proteksi terhadap sinar ultraviolet, dan sebagainya. Dengan kemampuan kita mengendalikan sifat-sifat bahan pada tingkat nano, kita bisa membuat berbagai jenis bahan dengan berbagai sifat yang unik. Tentu saja tidak hanya pada pembuatan fiber saja efek fungsi bahan dapat dikendalikan. Pada proses pemintalan, penenunan, dan proses akhir (finishing) juga dapat dilakukan beberapa manipulasi.

Berbagai jenis tekstil canggih kini beredar di pasar. Salah satu pelopor produsen tekstil canggih adalah Uniqlo. Bersama Toray perusahaan ini tidak hanya berbisnis dengan aspek-aspek design seperti warna dan potongan baju, tapi juga berbasis pada sifat bahan. Salah satu produknya yang terkenal adalah Heattech. Ini adalah bahan untuk sweater yang tipis namun hangat. Dengan bahan ini orang tidak lagi perlu memakai baju tebal yang mengganggu gaya selama musim dingin. Orang bisa menikmati kehangatan sambil tetap bergaya.

Masih ada berbagai jenis bahan pakaian canggih, seperti bahan yang sangat ringan, mudah kering, antibakteria, dan sebagainya. Jadi, bisnis tekstil bukanlah bisnis kuno, namun sebuah bisnis canggih. Tentu saja, hanya bagi perusahaan-perusahaan yang punya teknologi.

 

Quran dan Sains Semut

AntIni cerita dalam Quran. Alkisah, Sulaiman bersama tentaranya, yang terdiri dari manusia, jin, dan burung, memasuki suatu tempat. Di situ bersarang semut-semut. Sulaiman mendengar raja semut itu berkata kepada rakyatnya, para semut, “Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarangmu, agar kamu tidak terinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedang mereka tidak mengetahuinya.” Sulaiman kemudian tersenyum, bersyukur atas nikmat Allah yang diberikan padanya, karena paham bahasa semut.

Kebanyakan orang membaca cerita ini berfokus pada mukjizat yang dimiliki oleh Sulaiman. Saya sedikit berbeda. Fokus saya pada semut itu. Coba perhatikan dengan sudut pandang berbeda. Raja semut dalam cerita itu bisa tahu bahwa Sulaiman dan pasukannya akan lewat. Dari mana ia tahu? Apakah semut bisa membedakan antara manusia dengan makhluk lain?

Tidak cuma itu. Semut ini tahu nama Sulaiman. Ia juga tahu bahwa Sulaiman membawa pasukan. Dari mana semut itu tahu bahwa itu Sulaiman? Bisakah semut mengenali dan membedakan orang? Misalnya kalau kita lakukan percobaan, Alex dan Ali dijejer di hadapan semut, bisakah semut mengenali dan membedakan mana Alex dan mana Ali?

Lebih menarik lagi, soal tentara. Apakah semut bisa membedakan profesi manusia? Apakah semut tahu bahwa ini tentara dan itu hansip?

Bagi saya semua pertanyaan ini menarik belaka. Ada orang-orang yang mengklaim bahwa semua cerita di Quran itu adalah kisah nyata. Juga mengklaim bahwa semua yang tertulis di Quran itu cocok dengan sains. Dalam hal semut ini, belum ada riset yang bisa membuktikan bahwa semut punya kemampuan mengenali manusia, mengingat nama manusia, dan membedakan profesi manusia. Ayat ini bisa menjadi motivasi untuk meneliti semut.

Kalau riset oleh ilmuwan muslim bisa membuktikan hipotesa-hipotesa di atas, maka ini akan jadi babak baru sains Islam. Orang-orang Islam bukan lagi menjadi pencocok antara fakta sains dengan ayat-ayat Quran. Ia akan membuktikan bahwa Quran benar-benar cocok dengan sains!

Tapi boleh jadi hipotesa itu salah. Semut-semut itu bukan semut biasa seperti semut sekarang. Mereka memang semut yang spesial, diberi kemampuan khusus yang tidak dimiliki oleh semut-semut sekarang. Seperti diceritakan di awal, burungnya pun burung khusus. Ia bisa berkomunikasi dengan Sulaiman, dan bisa menjadi tentara. Kalau begini ceritanya, kita tidak bisa lagi melakukan riset tentangnya. Zaman Sulaiman adalah zaman yang berbeda dengan zaman kita. Mungkin Walt Disney pernah hidup di zaman ini.