Category Archives: Politik

Hadits Palsu dan Politisasi Islam

Hadits adalah perkataan atau perbuatan nabi Muhammad yang disampaikan secara verbal antar generasi. Hadits baru dikumpulkan dan ditulis secara sistematis beberapa abad setelah wafatnya nabi Muhammad.

Pola periwayatannya, dalam suatu peristiwa nabi mengatakan sesuatu. Perkataan itu didengar banyak orang, beberapa orang, atau satu orang. Pendengar menceritakannya kepada orang lain. Orang-orang itu kemudian menyampaikannya lagi. Dengan cara itulah hadits tersebar.

Perkataan nabi yang didengar banyak orang, kemudian diteruskan kepada banyak orang, disebut hadits mutawatir. Karena sejumlah orang tidak mungkin berdusta bersama maka hadist mutawatir dianggap otentik, atau sahih. Jumlah hadits mutawatir ini relatif sedikit, dibanding jumlah hadits secara keseluruhan.

Bila perkataan atau perbuatan nabi hanya disaksikan oleh satu atau sedikit orang, maka hadits itu disebut hadits ahad. Hadits ahad ini dibagi dalam beberapa kategori. Bila rantai penyampai hadits (sanad) itu terdiri dari orang-orang dengan reputasi baik, maka hadits dianggap sahih (otentik). Bila dalam rangkaian itu ada yang kurang baik reputasinya, maka hadits itu dianggap lemah atau dhaif.

Di bawah itu ada hadts yang derajatnya maudhu, atau palsu. Ini hadits yang tidak bisa dilacak jalur riwayat sanadnya yang terhubung langsung dengan nabi. Dipastikan, atau kuat dugaan, itu adalah perkataan seseorang, mengatas namakan nabi.

Kenapa ada orang yang membuat hadits palsu? Ini bagian menariknya. Salah satu penyebab utama munculnya hadits palsu adalah politik. Dunia Islam sejak awal sejarahnya sudah diwarnai oleh konflik politik.

Tak lama setelah nabi wafat, sudah terjadi friksi. Orang-orang Madinah (anshar) berkumpul untum menetapkan pemimpin, pengganti nabi. Mendengar itu, Umar dan Abu Bakar mendatangi mereka, mencegah jangan sampai orang anshar yang dipilih. Akhirnya mereka berhasil meyakinkan orang-orang anshar, lalu terpilihlah Abu Bakar. Ali, menantu dan sepupu nabi tidak dilibatkan. Dia sempat marah ketika itu, tapi kemudian bersikap legawa, sehingga konflik tidak meluas.

Ketika Usman jadi khalifah, wilayah kekuasaan sudah meluas. Berbagai kepentingan muncul. Sisa bara friksi tadi juga belum padam. Lalu terjadilah pemberontakan. Usman kemudian terbunuh.

Ali naik menghamtikan Usman. Perpecahan terus terjadi. Aisyah, janda nabi, memberontak. Terjadilah Perang Unta. Aisyah bisa ditaklukkan Ali. Tapi Muawiyah, kerabat Usman, anak Abu Sufyan, menantang. Pecahlah Perang Shiffin.

Sempat terjadi rekonsiliasi setelah perang itu, tapi sifatnya palsu. Kekuasaan Ali sudah dilemahkan. Ia kemudian dibunuh oleh golongan Khawarij, faksi lain di luar faksi Ali dan Muawiyah. Muawiyah kemudian mengambil alih kekuasaan. Lalu ia membangun dinasti Umayyah.

Dalam konflik itulah muncul hadits-hadits palsu. Orang berlomba-lomba membuat pembenaran. Masing-masing merasa pihak yang (paling) benar, dan mencari stempel pembenaran. Dari mana stempelnya? Dari nabi.

Pada zaman itu orang sudah tahu bahwa nama Tuhan punya kekuatan besar kalau dipakai berpolitik. Tapi firman Tuhan tak bisa dipalsukan. Yang bisa dipalsukan adalah sabda nabi, karena belum ada buku catatannya. Maka lahirlah hadits-hadits palsu.

Bisakah Anda bayangkan? Ada orang yang denga enteng berdusta, atas nama nabi. Dari mana sumber energi untuk berdusta itu? Nafsu untuk berkuasa. Itu sudah san abad yag lalu, di masa awal sejarah Islam.

Itu terus berlangsung. Orang terus berdusta untuk mencapai kekuasaan. Mereka menciptakan fakta-fakta palsu, di bawah naungan nama Tuhan dan nabinya, atas nama membela Islam. Seperti belasan abad yang lalu, memakai nama Tuhan sangat efektif untuk membuat sekelompok manusia percaya.

Jadi, kalau perkataan nabi saja bisa dipalsukan untuk politik, sekedar hoax, dusta, itu hal kecil saja. Demikian pula dengan tafsir-tafsir palsu atas ayat-ayat Quran. Semua bisa dibuat demi kepentingan politik.

Iman, Kebencian, dan Hilangnya Akal Sehat

Menolak reklamasi Teluk Jakarta? Saya menolak. Alasan saya, soal lingkungan. Bagaimanapun juga, pengubahan lingkungan secara radikal akan mengubah ekosistem. Meski ada perhitungan begini dan begitu, tetap saja ada hal yang luput dari perhitungan manusia.

Alasan lain? Soal keadilan. Ada banyak nelayan yang kehilangan laut, karena laut mereka kini ditimbun tanah, menjadi pulau. Sementara mereka tidak menikmati keuntungan dari pulau itu.

Itu adalah alasan-alasan bernalar untuk menolak reklamasi. Tentu semua itu bisa diperdebatkan, dengan data dan asumsi-asumsi. Soal nalar selalu bisa diperdebatkan.

Tapi ada penolakan yang tak lagi bisa diperdebatkan, karena alasannya tak lagi berdasar nalar. Lantas, berdasar apa? Ilusi. Ada orang-orang yang percaya bahwa reklamasi itu dilakukan oleh pengembang Cina. Hasilnya nanti akan dijual kepada orang-orang Cina. Ini sebagai salah satu langkah orang-orang Cina untuk menguasai Indonesia.

Cukup? Belum. Cina-cina itu tidak hanya pindah ke Indonesia. Mereka punya skenario yang lebih parah. Pulau-pulau reklamasi itu akan dijadikan basis perdagangan narkoba yang diimpor dari Cina. Narkoba ini akan dipakai untuk merusak bangsa Indonesia.

Strategi ini tentu saja paralel dengan yang sudah berjalan, yaitu mendatangkan 10 juta buruh Cina. Mereka inj sebenarnya bukan buruh biasa. Mereka adalah tentara Cina yang menyamar. Pada saatnya nanti mereka akan menghancurkan Indonesia dari dalam, ketika Cina menyerang secara terang-terangan.

Kenapa semua ini bisa terjadi? Karena Presiden Jokowi adalah antek Cina. Dia adalah orang Cina yang pura-pura jadi Jawa. Ia pemimpin agen-agen Cina yang akan merusak Indonesia, untuk kemudian dijajah.

Anda mungkin akan bertanya, orang bodoh mana yang percaya pada cerita itu? Yang percaya bukan hanya orang-orang yang pendidikannya rendah. Tak sedikit dari mereka itu yang berpendidikan tinggi, termasuk doktor lulusan luar negeri.

Kenapa bisa begitu?

Sebab pertamanya, iman. Dengan iman orang dilatih untuk percaya pada hal-hal yang tak logis. Betapapun logisnya seseorang, ia akan menyediakan ruang untuk percaya pada sesuatu yang tak logis, kalau dia beriman.

Dalam agama, ada begitu banyak dongeng yang dipercaya begitu saja, dianggap kejadian nyata, dan dijadikan dasar untuk berpikir. Dongeng dijadikan pedoman. Orang-orang yang “terlatih” untuk berpedoman pada dongeng, tidak lagi menajamkan nalarnya ketika mendengar cerita tadi. Mereka cenderung menerima.

Tapo, cerita tadi kan bukam soal agama. Betul. Celakanya, cerita tadi sering disampaikan dalam forum-forum agama, baik secara verbal, maupun lewat tulisan-tulisan di media sosial. Disampaikan oleh orang-orang yang dipercayai sebagai pemimpin agama. Karena itu informasinya diperlakukan sebagai informasi suci.

Itu baru satu komponen. Komponen lainnya adalah kebencian. Sejak dulu ada orang-orang yang dibuat begitu benci pada Cina, Kristen, dan Komunis. Saking bencinya, satu entitas yang mereka benci, bisa menyandang tiga identitas itu sekaligus. Belakangan ini ditambah satu lagi, Syiah.

Kebencian semakin mematikan sensor nalar. Maka cerita yang paling tidak masuk akal pun, akan dipercaya. Tak heran, misalnya, ada orang yang sampai dituduh Syiah, padahal dia Kristen.

Gejala kematian akal sehat ini terasa menguat, sejak pilkada 2012. Ia semakin menguat pada pilpres 2014. Lalu menjadi semakin kuat pada pilkada yang baru lalu.

Bagi saya, pemilu, pilkada, apapun hasilnya, bisa saya terima. Tapi kebodohan dan pembodohan macam ini, sungguh mengerikan. Orang-orang yang mati nalar, bisa berbuat apa saja, termasuk hal-hal yang mengerikan.

Masalahnya, kapan ini akan berakhir? Sepertinya masih belum. Karena ada orang-orang yang memetik keuntungan dari kebodohan ini. Dalam politik, orang-orang bodoh ini disebut useful idiots.

Memaknai Pidato Anies di Petamburan

Anies berkunjung ke Markas FPI di Petamburan. Ini terjadi saat elektabilitasnya sedang turun. Agus bertengger di urutan pertama, Ahok di urutan kedua. Pilkada diperkirakan akan berlangsung 2 putaran. Calon dengan suara terkecil, akan terlempar. Maka bisa dipahami arti penting kunjungan ini bagi Anies. Anies harus merebut suara pemilih muslim yang anti Ahok. Saat itu suara itu hendak dilimpahkan ke Agus. Maka Anies harus membuat sesuatu yang bisa membelokkan pandangan dari Agus ke dirinya.

Anies membuka pidato dengan menyebut istilah “Universitas Terbuka Petamburan”. Rizieq dia sebut sebagai “guru kita semua”. Ini adalah sopan santun kepada tuan rumah. Tapi dalam konteks yang lebih luas, maknanya tidak hanya sebatas itu. Rizieq adalah orang yang biasa memaki. Anies pasti tahu itu. Gus Dur dia maki. Said Aqil dia maki juga. Wiranto dia sebut penjilat pantat Cina, dan namanya diganti Wiranti. Orang yang memilih pemimpin non-muslim dia sebut babi. Orang seperti ini dipanggil guru oleh mantan Menteri Pendidikan. Wonderful!

Anies kemudian memuji sebuah makalah yang tadinya dibahas di situ, entah apa isinya. Kata Anies, itu makalah yang hebat, karena catatan kakinya banyak. Kita yang biasa bergelut dengan dunia ilmiah tentu akan tersenyum mendengar ungkapan itu. Kekuatan sebuah makalah ada pada argumennya. Catatan kaki atau referensi, itu pendukung saja. Referensi itu untuk menunjukkan bahwa sudah ada yang mengungkapkan sesuatu, jadi tidak perlu diulang argumennya. Merujuk pada suatu referensi tidak memastikan kebenaran sebuah makalah.

Lalu Anies bercerita soal makalah yang membahas lobi Yahudi. Penulisnya, kata Anies, dipecat dari posisi dekan gara-gara tulisan itu. Validitas pernyataan itu pernah dibantah seorang penulis. Yang menulis paper tadi bukan dekan, dan tentu saja tidak pernah dipecat.

Apa relevansi paper ini dengan acara di Petamburan? Tidak ada. Ini adalah siasat komunikasi belaka. Ada kata kunci “Yahudi”, dan dibahas dalam citra jahat. Itu cara untuk mengkondisikan pikiran orang. Anies sedang membangun atmosfer, bahwa “kita punya musuh yang sama, yaitu Yahudi yang jahat”. Tapi apa hubungannya dengan Indonesia? Di situlah menariknya. Yahudi itu bisa dimusuhi oleh sebab apa saja. Memusuhi Yahudi selalu relevan bagi umat Islam. Jurus itu yang sedang dimainkan Anies.

Lalu Anies membahas aksi 411 dan 212. Ia memujinya. Tentu saja ia memuji dalam konteks bahwa acara ini berlangsung tertib. Tapi pada saat yang sama ia sedang mengirim pesan bahwa “aku ada di pihak kalian”. Apa acara 411 dan 212? Bagi saya itu acara untuk memaksakan kehendak di atas hukum. Tuntutanya adalah tangkap Ahok. Pokoknya Ahok harus dibui, terserah mau pakai mekanisme hukum atau tidak. Anies, meski tidak langsung, memuji kegiatan itu.

Kemudian Anies membahas soal peran orang Arab dalam kemerdekaan. Biarlah, karena saya tak hendak membahas itu. Itu soal yang dalam sejarah memang diakui adanya. Demikian pula klarifikasi Anies soal siapa dia, yang bukan liberalis, bukan Syiah, dan bukan pula Wahabi.

Di akhir pidato, Anies bicara soal kebijakan Ahok. Soal penggunaan lapangan Monas untuk pengajian. “Ini program, ya. Kalau menang nanti, kita tasyakuran di Monas.” Ahok dianggap memusuhi umat Islam, karena tidak lagi mengizinkan pengajian di Monas. Padahal itu berlaku untuk semua acara.

Lalu Anies juga mengritik larangan takbir keliling, sebuah larangan yang sebenarnya sudah diterbitkan sejak zaman Sutiyoso. Daerah lain seperti Jawa Barat dan Jawa Timur juga menerapkan larangan yang sama. Tapi Anies tahu betul bahwa ini adalah salah satu keluhan FPI terhadap Ahok. Maka Anies memainkan isunya. Demikian pula halnya dengan pengaturan penyembelihan kurban.

Inikah program Anies untuk membangun Jakarta? Dengan menjungkir balikkan kebijakan yang sudah ada, agar sesuai dengan selera Rizieq? Boleh jadi itu cuma strategi untuk mendapatkan simpati pemilih. Tapi bagi saya itu tetap tidak sehat dalam demokrasi. Sederhananya, Anies sedang melakukan provokasi.

Bagaimana selanjutnya? Entahlah. Saya hanya merekamnya sebagai fakta bahwa Anies sudah berubah. Dulu ia pernah mengritik keras Prabowo, yang dekat dengan FPI. Bagi Anies, FPI itu ekstremis. Tapi kini, Anies berada di kubu Prabowo, dan mendekat kepada FPI.

Atau, saya yang salah. Bahwa Anies memang begitu sejak dulu. Anies yang rela berubah menjadi apa saja, untuk mencapai tujuannya.

 

Menjalankan Perintah Quran dan Berindonesia

Ini adalah ayat Quran yang sedang populer sekarang.
 
“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih,yaitu) Yaitu orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Ketahuilah bahwa semua kekuatan itu milik Allah.” (QS. An-Nisa’ [4] : 138-139).
 
Anda bisa bayangkan betapa takutnya sebagian orang terhadap ancaman ayat ini. Memilih pemimpin non-muslim adalah sikap orang munafik, yang akibatnya akan membuat Anda masuk neraka. Makanya, banyak orang dengan gampang memberi cap munafik kepada orang-orang yang mendukung Ahok.
 
Coba kita renungkan. Kita berhadapan dengan ancaman siksa neraka. Apa yang akan kita lakukan? Tentulah kita akan memilih untuk mematuhi ayat itu, bukan? Lagipula ini cuma soal gubernur atau bupati. Terlalu kecil urusannya bila dibandingkan dengan urusan akhirat. Baiklah, patuhi ayat ini.
 
Tapi sebentar. Ini soal pemimpin, kan? Coba kita lihat dalam skala yang lebih luas lagi. Anda tidak boleh menjadikan orang kafir sebagai pemimpin. Artinya, mereka tidak boleh kita jadikan presiden, gubernur, bupati, camat, lurah. Iya kan? Lalu, mereka boleh jadi apa?
 
Mereka juga tentu tidak boleh jadi Panglima TNI dan Kapolri. Juga tidak boleh jadi Pangdam, Kapolda, Dandim, Kapolres, dan seterusnya. Juga kepala dinas, kepala cabang, kepala kantor.
 
Lantas, mereka bolehnya jadi apa?
 
Lalu ada yang berdalih,”Maksudnya bukan begitu. Ini hanya soal pemimpin yang dipilih. Yang tidak dipilih langsung oleh rakyat, boleh.” Sama saja. Menjadikan mereka pemimpin itu maknanya Anda memilih mereka, dan Anda juga mengakui kepemimpinan mereka.
 
Itu artinya, Anda juga tidak boleh punya bos dan atasan di kantor. Tidak boleh bekerja di perusahaan non-muslim. Lho, lho, lho, kok ngaco, kata mereka. Bekerja sama dengan orang kafir dalam hal muamalah boleh saja, kata mereka. Ngeri kali kalau tidak boleh bekerja bersama non muslim, kan?
 
Tapi coba kita ulangi lagi. Ini soal awliya. Apa arti kata ini? Pemimpin, pelindung, teman dekat, pengelola, pengatur, ketua, dan masih banyak lagi. Tahukah Anda bahwa kata wali kota, wali kelas, wali murid itu berasal dari kata ini, wali, jamaknya awliya? Itu artinya, muslim tidak boleh berteman dekat, bekerja sama, kongsi, beraliansi, dan sebagainya.
 
Lihatlah, betapa hidup ini jadi mustahil. Anda tidak boleh berteman dekat dengan non muslim. Ada banyak orang yang melakukan itu. Mereka pura-pura manis di depan non muslim, tapi kalau sudah berkumpul kembali dengan sesama muslim, mereka menunjukkan sikap aslinya.
 
Tapi bagi saya itu tidak mungkin saya lakukan. Maaf, justru itu adalah sikap munafik yang dicela oleh ayat di atas.
 
Jadi, bagaimana? Mungkinkah kita bisa mengamalkan Quran di Indonesia? Kalau dengan model penafsiran di atas, mustahil. Pilihannya adalah, keluar dari Indonesia, atau meninggalkan ayat di atas.
 
Adakah pilihan lain? Ada! Ubah definisi kafir dalam ayat itu. Maksudnya? Ada begitu banyak ayat yang menyebut kata kafir, dengan maksud menunjuk kepada kaum Quraisy Mekah yang waktu itu memang memerangi umat Islam. Hanya disebut kafir saja, tanpa embel-embel. Tapi yang membaca ayat itu, pada masa itu, sudah tahu siapa kafir yang dimaksud.
 
Masuk akal, bukan? Memang mustahil kita bisa berteman dekat dengan orang-orang yang memerangi kita. Tapi, sebaliknya mustahil kita hidup normal kalau kita mengharamkan pertemanan dekat dengan orang, hanya karena kita berbeda iman dengan mereka.
 
Bagi saya, sikap ini lebih masuk akal. Anda berbeda dengan saya? Tidak masalah.

Kristenphobia

Orang-orang Islam banyak yang mengeluhkan islamphobia, yaitu orang-orang yang anti dan takut secara berlebihan kepada Islam dan umat Islam. Tapi pada saat yang sama, sebenarnya sangat banyak dari umat Islam itu yang sangat anti Kristen, atau bisa kita sebut menderita kristenphobia.

Tahun 2001, saat Amerika mulai menyerang Afganistan, saya sedang belajar di Kumamoto, Jepang. Ada satu grup relawan bernama Peshawar-kai, dipimpin oleh Tetsu Nakamura, yang aktif membantu orang-orang Afganistan. Nakamura bersuara sangat keras mengritik serangan Amerika itu. Mereka datang ke Kumamoto, mengadakan kuliah umum tentang situasi di Afganistan, sekaligus menggalang dana. Kami, mahasiswa muslim di Kumamoto datang menghadiri acara itu.

Dalam kuliahnya Nakamura menjelaskan situasi di Afganistan, dan kegiatan mereka membantu orang-orang di sana. Nakamura adalah seorang dokter, maka kegiatannya berfokus pada pelayanan kesehatan. Karena kegiatan itu Nakamura kadang dicap sebagai pembela Islam fundamentalis. “Bagaimana mungkin saya membela Islam fundamentalis, sedangkan saya ini seorang Kristen,” katanya membela diri.

Kontan ucapan itu menjadi fokus perhatian teman-teman saya yang hadir. Tadinya ada niar untuk menyalurkan sumbangan yang sudah dikumpulkan melalui Peshawar-kai. Tapi kini muncul pertanyaan, bagaimana kalau uang itu dipakai untuk kristenisasi di sana. Akhirnya penyaluran sumbangan itu batal dilakukan.

Ada begitu banyak cerita soal kecurigaan orang Islam kepada orang Kristen. Setiap kegiatan membantu, selalu dikaitkan dengan kristenisasi. Rumah sakit, sekolah, dan badan-badan sosial, dianggap sebagai kedok kegiatan kristenisasi. Maka tak jarang kegiatan itu dihalangi. Parahnya, ada orang yang meributkan bantuan dari pihak Kristen itu, sementara mereka sendiri tidak membantu.

Berbagai halangan terhadap pembangunan gereja serta gangguan terhadap ibadah orang Kristen telah dilakukan. Bahkan, terjadi pula serangan da perusakan terhadap gereja. Kejadian yang paling aneh adalah kerusuhan Situbondo, tahun 1996. Mulanya adalah pengadilan terhadap muslim yang dituduh menista agama. Usai persidangan ada isu bahwa ia lari dan disembunyikan di gereja. Lalu gereja diserang dan dirusak.

Politik Indonesia tak pernah lepas dari isu terkait kristenphobia. Meski Soeharto itu seorang muslim, ia sering dituduh terlalu dekat kepada kelompok Kristen. Bahkan istrinya sering digosipkan sebagai seorang Katholik yang berpura-pura masuk Islam. Tim ekonomi Soeharto sering dicap pro Kristen, meski di sana ada orang muslim seperti Emil Salim dan Saleh Afif.

Pemilu legislatif, pilpres, dan pilkada, tak pernah lepas dari isu Kristen. Selalu saja ada calon yang dianggap mewakili atau dipengaruhi oleh pihak Kristen. Maka pemilihan bukan lagi soal menentukan siapa yang pantas untuk suatu jabatan, tapo dianggap sebagai pertarungan antara Islam dan Kristen.

Pangkal dari semua ini ada di ayat Quran yang mengatakan bahwa Yahudi dan Nasrani tidak akan rela sampai orang Islam mengikuti agama mereka. Orang Islam percaya bahwa orang Kristen akan selalu melakukan tipu daya untuk menguasai umat Islam. Ini jadi semacam postulat. Apapun yang dilakukan oleh Kristen, sebaik apapun, di belakangnya pasti ada tipu daya. Bayangkan, ratusan juta, bahkan miliaran manusia dengan pikiran seperti itu.

Ayat itu sendiri sama sekali tak berlatar belakang konflik. Sepanjang sejarah hidup nabi Muhammad, tidak ada catatan sejarah konflik dengan pihak Kristen. Yang ada justru catatan persahabatan, yaitu ketika orang-orang muslim Mekah melarikan diri ke Habasyah, dan dilindungi oleh penguasa yang beragama Kristen. Ayat tadi yaitu Al-Baqarah 120 dan Al-Maidah 51 yang sekarang populer itu terkait dengan friksi terhadap pihak Yahudi. Entah kenapa orang-orang Nasrani ikut “kena getah”.

Jadi, bagaimana seharusnya? Saya selalu menganjurkan agar ayat-ayat semacam ini diperlakukan sebagai catatan sejarah saja, bukan pedoman. Pedoman kita adalah fakta yang kita hadapi sekarang, bahwa orang Kristen pun ingin hidup damai. Hanya orang aneh yang hidupnya selalu diisi dengan kedengkian terhadap orang lain. Sebaliknya, orang aneh saja yang selalu menganggap pihak lain selalu membenci dirinya.

Mari lepaskan beban konflik sejarah yang sebenarnya tidak terkait dengan kita. Bebaskan diri kita untuk memilih jalan damai.