Category Archives: Pendidikan

Saya Kira Saya sudah Mendidik Anak

Seorang teman saya mengeluh soal anaknya.

“Masak dia gagal masuk Universitas X (dia menyebut sebuah PTN ternama). Padahal bapak ibunya sama-sama lulusan situ,” keluhnya.

“Lho, memangnya seleksi masuk PTN sudah selesai?”

“Belum sih. Ini hasil simulasi di tempat dia ikut bimbingan.”

“Lho, kamu memvonis anakmu berdasarkan hasil simulasi? Kupikir tadi sudah gagal benar. Artinya masih ada waktu untuk memperbaikinya, kan?”

“iya, sih.”

“Nah, ketimbang memvonis dia gagal, tidakkah lebih baik memberi dia semangat, mengubah program belajarnya, selagi masih ada waktu?”

ia terdiam.

“Ada satu hal lagi. Kenapa dirimu kau jadikan standar untuk anakmu? Apakah kalau bapak ibunya lulusan PTN X, anaknya juga harus begitu?”

“Iya, dong.”

“Apakah anakmu sama dengan kamu? Potensinya, bakatnya, minatnya? Pernahkah mengukur potensi anak? Pernahkah mencari tahu apa minat dia?”

Dia terdiam.

“Boleh jadi ia punya potensi yang sangat berbeda dengan kamu. Menyuruh dia mengikuti jalan kamu selain menyiksa dia juga boleh jadi telah membunuh potensi besar yang ia miliki. Ia punya bakat A, tapi akhirnya menjadi B, demi memuaskan keinginan orang tuanya.”

“Tapi aku tidak memaksakan jurusan yang harus dia masuki. Yang penting dia bisa masuk PTN.”

“Belum tentu juga anakmu butuh kuliah.”

“Lho, kok gitu?”

“Memang begitu. Tidak setiap orang harus kuliah. Ada banyak profesi yang tidak memerlukan kuliah. Juga ada banyak profesi yang tidak tersedia kuliahnya di PTN. Mematok target anak harus masuk PTN tertentu itu lebih merupakan gengsi orang tua ketimbang kebutuhan anak.”

“Lha, kamu nggak masalah kalau anakmu nggak kuliah? Bapaknya doktor, kok anaknya nggak kuliah?”

“Sama sekali tidak. Profesor saya di Jepang dulu, anaknya jadi hair stylist. Bapaknya profesor di bidang fisika. Dia tidak mempermasalahkan. Saya juga tidak. Ini jalan saya. Anak saya punya jalan sendiri.”

Ia terdiam lagi.

“Pernah ngobrol sama anakmu, memabahas minat dia?”

“Wah, sekarang sudah nggak.”

“Sepertinya kamu nggak akrab sama anakmu.”

“Akrab gimana?”

“Dekat. Apakah anakmu masih mau memeluk dan menciummu?”

Dia tertawa.

“Lho, ini serius. Anak saya biasa memeluk saya, cium saya, tidur di pangkuan saya. Bahkan kadang-kadang duduk di pangkuan saya. Padahal dia sudah gadis remaja. Ia terbuka bicara sama saya, termasuk soal pribadi, misalnya soal cowok yang dia suka.”

“Wah, itu nggak mungkin.”

“Kalau anakmu tidak nyaman membahas sesuatu denganmu, lalu dengan siapa dia membahasnya? Dengan teman, atau orang lain. Maka secara perlahan hubungan kepercayaan antara anak dan orang tua hilang. Anak lebih percaya pada orang lain. Pada titik itu kita tak lagi kenal siapa anak kita. Kamu galak sama anakmu?

“Ya, sering emosi juga.”

“Itulah. Kita sering sulit membedakan antara tegas dengan galak. Kita harus tegas, bukan galak. Kita harus menegur, bukan memarahi. Apa bedanya? Emosi. Galak, marah, sering kali merupakan luapan emosi. Itu bukan pendidikan. Mendidik itu memberikan arahan dengan tegas, bila diperlukan. Tujuannya jelas, mengarahkan. Kalau memarahi, itu sekedar untuk melepaskan amarah kita saja.”

Begitulah. Ada begitu banyak momen interaksi kita dengan anak yang terlewatkan begitu saja, tanpa kita isi dengan proses pendidikan. Kita mengira kita sudah mendidik anak, tapi nyatanya tidak. Mungkin kita justru lebih sering hadir sebagai sosok pengganggu dan perusak ketimbang pendidik.

 

 

Menghafal itu bukan Belajar

Salah satu kegemasan saya soal pendidikan di Indonesia adalah soal kebiasaan menjadikan kegiatan menghafal sebagai bagian utama dari proses belajar. Ini dilakukan secara sadar maupun tidak. Yang dilakukan secara sadar adalah perintah untuk menghafal doa, teks, ayat, dan sebagainya. Yang dilakukan secara tidak sadar adalah materi pelajaran yang melebihi porsi, sehingga mustahil dipahami anak. Akhirnya ditempuh jalan pintas, yaitu, hafalkan saja. Sangat menyedihkan bila melihat bahwa pendidikan dasar kita didominasi oleh kegiatan menghafal.

Menghafal adalah proses menempatkan informasi ke dalam ingatan (memori). Ada proses mengubah informasi menjadi kode dalam proses penyimpanan, ini disebut coding. Bila diperlukan, informasi itu bisa ditarik kembali, diubah kodenya sehingga menjadi format asal. Menghafal umumnya berbasis pada bunyi yang dihasilkan secara oral.

Belajar adalah proses yang berbeda. Sangat berbeda. Perbedaan terpentingnya terletak pada proses pencernaan informasi. Informasi dicerna, berbasis pada informasi dan pemahaman yang sudah ada sebelumnya. Pada akhirnya informasi juga akan disimpan dalam memori, tapi dalam format yang sama sekali berbeda dengan yang disimpan melalui proses hafalan.

Nah, inilah masalah pada pendidikan kita, khususnya pendidikan dasar. Entah kenapa pembuat kurikulum kita begitu bersemangat untuk menjejalkan sebanyak mungkin pengetahuan kepada anak-anak sejak usia dini. Demikian banyak sehingga guru tak sanggup membangun pemahaman kepada anak-anak atas setiap subjek pelajaran. Anak-anak pun tak sanggup memahaminya. Akhirnya, dipilihlah jalan pintas, hafalkan saja.

Tentu saja ini sangat terkait dengan pola ujian, atau tes kita. Ujian kita berbasis pada pola pilihan ganda, satu jawaban untuk satu pertanyaan. Cara paling jitu untuk menghadapi ujian ini adalah menghafal. Kita tidak menyediakan ruangan memadai untuk eksplorasi dan argumentasi dalam sistem tes kita.

Selain hanya menyediakan satu jawaban atas satu persoalan, sistem hafalan tidak membangun hubungan antar informasi yang disimpan. Informasi disimpan dalam format tunggal, tanpa hubungan. Artinya, informasi tidak membangun pengetahuan, sebatas kumpulan bunyi belaka.

Cara menghafal adalah dengan mengulang. Persis seperti orang melakukan latihan fisik. Kalau kita rajin melakukan latihan beban secara berulang, maka otot kita akan membesar. Itu adalah “memori” yang menandai aktivitas tadi. Menghafal sama dengan memberi tanda itu pada otak kita. Konsekuensinya, bila prosesnya kita hentikan, maka secara perlahan tanda itu akan hilang. Kita akan lupa.

Anak-anak banyak belajar dari menghafal. Mereka bisa menghafal dengan cepat. Tugas kita sebenarnya bukan menjejali mereka dengan hafalan, mumpung ingatan mereka masih segar. Tugas kita justru sebaliknya, memanfaatkan masa itu untuk menciptakan ruang-ruang untuk fondasi pemahaman sebanyak mungkin, agar mereka lebih mudah menyerap informasi pada tahap selanjutnya, berbasis pada pemahaman. Banyak orang terjebak pada mitos bahwa kalau anak-anak disuruh menghafal di usia dini maka mereka akan ingat seumur hidup. Salah. Kelak mereka akan lupa lagi, kecuali mereka terus menerus melakukan pengulangan.

Nah, apa baiknya bila anak kita disuruh melakukan pengulangan demi mempertahankan hafalan? Bukankah sebaiknya mereka memanfaatkan waktu dan energinya untuk mengumpulkan informasi lain yang lebih baru? Ingatlah bahwa sesuatu yang dihafal adalah sesuatu yang statis, tidak mengalami pembaruan.

Apakah saya mengatakan tidak boleh menghafal? Tidak juga. Menghafal tetap punya beberapa sisi positif. Salah satunya, ia bisa menarik informasi dengan cepat dari memori. Saat berpikir membangun pemahaman, kecepatan ini bisa membantu. Namun harus diingat bahwa menghafal harus diposisikan sebagai alat bantu proses belajar. Ia bukan proses utama dalam belajar.

Contoh sederhananya adalah, anak-anak kita ajari proses penjumlahan. Mereka paham apa itu penjumlahan, dan bisa melakukan penjumlahan terhadap berbagai bilangan. Dalam proses itu mereka akan hafal bahwa 2+2=4. Atau, mereka sudah paham bahwa 3×5 adalah 5+5+5, tidak mengapa kalau mereka hafal bahwa 5×5 sama dengan 15.

Pendidikan Socrates-Confusian, dan Pola Komunikasi Kita

Socrates adalah filusuf Yunani yang hidup di pertengahan abad sebelum Masehi. Pada zaman yang hampir sama di Cina hidup filusuf lain, yaitu Kong zhu Chu. Selain hidup pada zaman yang hampir sama, keduanya punya perhatian besar pada masalah pendidikan dan kepemimpinan. Pemikiran dan gaya keduanya mempengaruhi perilaku manusia hingga saat ini.

Kebudayaan dunia saat ini secara garis besar bisa kita bagi dua, yaitu Barat dan Timur. Kebudayaan Barat dibangun dengan pola pikir yang dibentuk oleh model pendidikan Socrates. Adapun dunia Timur dibentuk oleh pendidikan dengan model Confusian.

Pendidikan model Confusian berpusat pada guru. Dalam bahasa Cina guru adalah 老師 atau 先生. Keduanya bermakna orang yang lebih tua. Guru adalah orang yang lebih tua, lebih berpengalaman, lebih berilmu, dan lebih bijak. Guru adalah ilmu itu sendiri. Segala yang dikatakan sang guru adalah sesuatu yang bersumber dari dirinya. Kata itu adalah guru itu sendiri.

Dalam model Socrates peran guru tidak sangat sentral. Ia hanya mengajak orang untuk berpikir dan melakukan eksplorasi. Ia mengajarkan beberapa hal, sebagai pembuka jalan dan penuntun dalam berpikir. Pemikiran dilakukan sendiri oleh para pelajar.

Konsekuensinya, informasi yang dihasilkan, bukan milik sang guru, tidak melekat pada dirinya. Informasi adalah sesuatu yang dihasilkan oleh pikiran siapa saja.

Dua model itulah yang membedakan sekolah-sekolah kita dengan sekolah-sekolah Barat. Sekolah kita berpusat pada guru sebagai pengajar, murid mendengar, memahami, dan mengingatnya. Secara umum, yang aktif adalah guru, murid cukup pasif saja. Hasil pendidikan diukur dengan seberapa banyak murid dapat menyerap informasi yang sudah disampaikan oleh guru.

Adapun pada sekolah-sekolah Barat yang memakai model Socrates, guru berfungsi hanya sebagai fasilitator. Informasi digali bersama. Hasil pendidikan tidak hanya diukur dengan berapa banyak informasi yang dserap pelajar, tapi lebih ditekankan pada seberapa aktif dia.

Di Timur orang dilatih untuk mendengar, di Barat orang dilatih untuk bicara. Ini yang membentuk perbedaan cara komunikasi kita. Kita, produk pendidikan Confusian cenderung pasif dalam berkomunikasi. Kita berpendapat bila diberi kesempatan. Jarang terjadi silang argumen yang tajam. Dalam analogi, bisa kita ibaratkan seperti permainan golf. Dalam permainan golf, setiap orang mendapat giliran, dan yang lain menghormati kesempatan itu tanpa mengusiknya.

Model komunikasi Barat dapat kita ibaratkan dengan permainan rugby. Dalam permainan rugby, orang berebut bola. Berbagai cara dilakukan, agar dapat bola. Jadi, dalam berkomunikasi mereka akan berusaha sebanyak mungkin untuk bicara, membuat pendapat mereka didengar.

Ada lagi perbedaan lain. Komunikasi di dunia Barat dilakukan dengan format pesan low context. Makna pesan tetuang secara jelas dalam setiap kata yang dipakai untuk mengirim pesan. Tanggung jawab penyampaian pesan ada pada pengirimnya.

Adapun di dunia Timur, pesan bersifat high context. Kandungan pesan sering kali tidak sekedar berada dalam deretan kata pembawa pesan, tapi sangat tergantung pada konteks saat pesan disampaikan. Tangung jawab pemaknaan pesan ada pada penerima. Ia harus mampu menerjemahkan maksud pengirim pesan, dengan mendengar isi pesan dan sekaligus membaca konteksnya.

Hal lain yang tidak kalah penting, dalam sistem Confusian, informasi bersumber dari guru. Informasi dan guru itu satu kesatuan. Menyanggah atau mempertanyakan informasi sama artinya dengan menyanggah atau mempertanyakan guru.

Sementara itu, dalam sistem Socrates, informasi tidak satu paket dengan guru. Informasi adalah produk di luar sang guru. Menyanggah atau mempertanyakan informasi, adalah sesuatu yang biasa dilakukan, tanpa membuat guru merasa dibantah.

Saya, meskipun dididik dengan gaya Confusian, tumbuh menjadi pelaku komunikasi bergaya Socrates. Bagi saya biasa saja menyampaikan opini dengan blak-blakan dan tajam, serta menyasar tokoh-tokoh besar. Yang dikritik adalah gagasannya. Tapi harap dicatat, bahwa saya hanya membahas gagasan, bukan sosok.

Orang-orang yang menganut gaya Confusian akan gerah dengan gaya itu. Mereka menganggapnya sebagai serangan pribadi kepada sang tokoh, dan bahkan menganggapnya pelecehan.

Mahasiswa Abadi

Istilah ini populer pada tahun 70-90. Tapi saat ini pun sebenarnya fenomena ini masih ada. Mahasiswa abadi adalah mahasiswa yang masa kuliahnya lama. Tidak hanya lama, pada suatu titik, tidak jelas kapan mahasiswa itu akan lulus. Tidak sedikit dari mereka yang akhirnya tidak lulus kuliah.

Gejala ini marak di tahun 80-an, sehingga pemerintah mengeluarkan kebijakan drop out (DO). Pada 2 tahun pertama dilakukan evaluasi dengan ambang batas yang telah ditetapkan. Bila ambang batas itu tidak dilampaui, maka mahasiswa itu akan kena DO. Kebijakan ini tidak berjalan dengan efektif. Banyak kampus yang tidak tega menerapkannya dengan ketat.

Kini masa kuliah diperpendek jadi 4 tahun. Mahasiswa didorong untuk lulus cepat. Gejala mahasiswa abadi sudah turun drastis. Tapi bukan berarti sudah musnah sama sekali.

Ada banyak jenis mahasiswa abadi. Ada yang pada awalnya lancar, setiap mata kuliah dia lulus dengan nilai baik, tapi mentok pada saat harus menulis skripsi. Skripsi tidak kunjung jadi, selama bertahun-tahun. Ada pula yang sejak awal terseok-seok, dan terus begitu sepanjang kuliah. Ada juga yang tidak kuliah, sibuk dengan hal-hal lain di luar itu. Mereka sibuk menjadi aktivis, atau sibuk berbisnis.

Mahasiswa abadi tipe pertama adalah mahasiswa yang gagal membangun kemampuan belajar. Ia tidak bertransformasi menjadi orang yang mampu belajar mandiri. Orang-orang ini belajar dengan tipe anak-anak, tidak masuk ke cara belajar orang dewasa (adult learning). Ia hanya sanggup belajar dengan cara menghafal, pada hal-hal yang disodorkan padanya. Ia tidak sanggup mencari sendiri bahan pelajaran, meramunya menjadi pengetahuan baru, yang bisa ia pakai untuk menyelesaikan masalah.

Mahasiswa yang terseok-seok sejak awal adalah mahasiswa yang boleh jadi memang tidak layak kuliah. Kemampuan intelektualnya tidak memadai. Tapi ia tetap memaksakan diri untuk kuliah, mengikut arus. Atau, dipaksa oleh orang tua untuk kuliah. Mereka kuliah tanpa kemampuan, tanpa tujuan, dan tanpa semangat.

Adapun yang sibuk dengan aktivitas lain di luar kuliah, mereka adalah orang-orang yang kehilangan tujuan. Mereka tidak lagi tahu apa tujuan mereka kuliah. Sebagian sekedar mencari pelarian, karena nilai mereka yang buruk.

Yang sibuk dengan bisnis, ada yang benar-benar sibuk berbisnis, dan bisnisnya bagus. Orang-orang seperti ini memang sebenarnya tidak perlu lagi meneruskan kuliah. Mereka sudah punya segala sesuatu yang dibutuhkan. Tapi tidak sedikit pula yang sebenarnya hanya pura-pura berbisnis. Mereka sebenarnya sedang melarikan diri dari kuliah.

Lalu, ada satu lagi jenis mahasiswa abadi, yang wujudnya agak samar. Mereka cukup lancar kuliah, bisa lulus, tapi tidak sampai punya kemampuan memadai untuk masuk ke dunia kerja. Mereka tidak punya cukup skill. Mereka tidak laku di dunia kerja. Lalu, apa yang mereka lakukan? Kuliah lagi, ambil S2. Mereka mengira ijazah S2 akan menyelamatkan mereka kelak.

Secara keseluruhan, mahasiswa abadi adalah orang-orang yang hidup tanpa manajemen diri. Mereka tidak merumuskan tujuan hidup dengan jelas, tidak punya visi soal masa depan diri sendiri, tidak membuat rencana untuk menjalani hidup, dan tidak hidup menjalani suatu rencana. Hidup mengalir dalam wujud kebetulan-kebetulan. Kalau kebetulannya baik, dapatlah mereka sesuatu. Kalau buruk, terpuruklah mereka.

Tidak sedikit mahasiwa yang belum paham, apa itu kuliah. Mereka berfantasi, menganggap kuliah itu adalah kotak hitam ajaib, siapa saja yang masuk lalu keluar dari situ akan jadi orang sukses. Mereka tidak sadar bahwa kuliah itu adalah seperangkat proses kerja keras, dengan membawa sebuah visi.

Ada banyak mahasiswa yang bermimpi, tapi tidak mengenali jalan menuju mimpinya. Atau, mereka tidak pernah menerjemahkan mimpi itu menjadi rencana-rencana untuk dijalani. Mereka tidur abadi, terbuai mimpi, dalam keadaan jasad mereka hidup melakukan berbagai kegiatan.

Apa yang mesti dilakukan? Bangun, tatap masa depan. Tentukan visi, mau jadi apa saya. Berdasarkan visi itu, susun rencana. Kuliah apa yang akan diambil, kegiatan apa yang akan dilakukan, skill apa yang akan dibangun. Tetapkan jangka waktu pencapaian. Eksekusi, jalankan rencana itu. Evaluasi pencapaiannya secara periodik. Bila ada yang belum sesuai target, lakukan tindakan koreksi. Inilah yang disebut mekanisme plan-do-check-action (PDCA).

Ilusi Pendidikan Tinggi

wisuda

 

 

 

 

 

 

Ini adalah cerita yang biasa kita saksikan. Satu keluarga petani, tinggal di desa. Mereka punya sawah atau kebun, hidup cukup dengan hasil darinya. Dengan hasil kebun itu mereka menyekolahkan anak, hingga ke perguruan tinggi. Tidak sedikit dari mereka yang menjual sebagian sawah atau ladang untuk keperluan itu.

Ketika anaknya selesai kuliah, ia tak menjadi apa-apa. Ia tidak mendapat kerja di perusahaan atau lembaga pemerintah. Ia kembali ke kampung, bertani lagi. Atau bekerja sebagai buruh. Tidak terlihat sesuatu yang membedakan dirinya dengan orang-orang yang tak kuliah. Tidak sedikit pula yang bahkan tidak sanggup mandiri seperti orang tua mereka, sekedar menumpang hidup dari harta yang didapat oleh orang tua.

Apa yang sedang terjadi? Apa yang salah pada perguruan tinggi kita?

Dalam masa 20-30 tahun terakhir ini kita sedang mengalami berbagai jenis transformasi. Ada transformasi dari masyarakat agraris menuju masyarakat industri. Juga transformasi demografis dari desa menjadi urban. Akses ke dunia pendidikan sedang bertransofrmasi menjadi lebih mudah. Dalam situasi itu seharusnya terjadi pergeseran pola pikir. Tapi sering kali terjadi situasi yang tidak sinkron antara situasi yang dihadapi dengan pola pikir yang dipakai.

Di masa lalu sekolah adalah tiket untuk pindah dari domain petani-desa-wong cilik menjadi pegawai-kota-priyayi. Seperti digambarkan oleh Umar Kayam dalam novel “Para Priyayi’, sekolah membuat para wong cilik yang tadinya harus menerima status wong cilik sebagai suratan takdir, bisa bertransformasi menjadi priyayi. Anak orang desa, sekolah, menjadi pegawai pemerintah atau swasta, kemudian menjadi orang kaya dan terhormat di kota.

Proses ini yang dipercayai oleh banyak orang. Mereka terjebak dalam ilusi, bahwa sekolah, khususnya perguruan tinggi adalah mesin pencetak priyayi. Siapapun yang masuk ke situ akan keluar sebagai sosok yang digambarkan di atas. Dengan modal gelar sarjana dan ijazah, mereka berharap bisa pindah dari domain wong cilik menjadi priyayi.

Di masa lalu hal itu memang berlaku. Siapapun yang pernah kuliah nyaris bisa dipastikan akan mendapat pekerjaan. Tapi sekarang situasi sudah berubah. Fakta menunjukkan bahwa ada begitu banyak pengangguran sarjana, fenomenanya diwakili oleh cerita di awal tulisan ini tadi. Diperkirakan saat ini ada 500 ribu sarjana yang menganggur.

Orang tua menyekolahkan anak-anak mereka berdasar pada ilusi tadi. Mereka tidak menimbang kemampuan intelektual anak. Pokoknya kuliah. Kalau tidak bisa masuk jurusan favorit, cari jurusan lain. Tidak bisa masuk ke perguruan tinggi besar, masuk ke perguruan tinggi kecil pun tak apa. Tak bisa masuk ke negeri, ke swasta pun boleh. Tak bisa masuk ke PTS mahal, cari yang murah.

Sebagian besar anak-anak yang dikuliahkan juga berpikir seperti itu. Masih banyak yang mengira bahwa ijazah dan gelar sarjana akan menjamin masa depan mereka. Mereka tidak tahu soal apa yang dibutuhkan untuk merebut kesempatan kerja yang sudah semakin menyempit. Mereka kuliah tanpa rencana dan target.

Adapun perguruan tinggi, mereka sekedar menangkap situasi ini sebagai pasar yang harus digarap. Orang-orang membuka berbagai perguruan tinggi swasta, untuk menampung luberan peminat kuliah yang tidak tertampung di perguruan tinggi negeri. Maka kita menyaksikan perguruan tinggi berdiri hingga ke pelosok negeri. Tak mau kalah dengan swasta, perguruan tinggi negeri menyelenggarakan program extention, untuk menampung orang-orang yang tak lulus dalam seleksi reguler.

Orang-orang juga menjadi gila gelar. Lulusan sekolah vokasi yang tadinya tidak perlu menyandang gelar sarjana, memaksa diri pindah ke jalur akademik, agar punya gelar. Tidak punya gelar dianggap seperti cacat. Orang merasa lebih tidak nyaman dalam status tanpa gelar ketimbang tanpa keahlian.

Situasi ini harus diubah. Orang-orang harus dibangunkan dari ilusi. Sekolah atau perguruan tinggi bukan mesin pencetak priyayi. Harus disadari bahwa tidak semua orang harus kuliah. Juga tidak semua orang harus jadi sarjana. Menguliahkan anak harus didahului dengan pemikiran tentang apa potensi yang dimiliki anak, dan perencanaan soal akan jadi apa anak itu kelak.

Juga harus disadarkan bahwa masa priyayi sudah selesai. Sekarang orang bisa hidup terhormat sebagai petani yang makmur. Atau jadi pedagang, perajin, dan pengusaha. Tidak selalu harus jadi pejabat negara atau perusahaan. Anak-anak bisa dikuliahkan dengan mempertimbangkan potensi yang ia miliki, juga aset yang dimiliki keluarganya. Seorang anak petani, misalnya, bisa belajar untuk mengelola pertanian orang tuanya secara modern, berikut aspek bisnis pertanian tersebut.

Poin terpentingnya adalah bahwa kuliah itu tempat belajar. Belajar dengan suatu tujuan, dan target. Mau jadi apa seseorang dengan kuliah, maka jurusan yang ia pilih disesuaikan dengan tujuan itu. Kemudian selama kuliah ia secara terstruktur dan terencana belajar soal hal-hal yang ia butuhkan.