Category Archives: Parenting

Memegang Kendali Pendidikan Anak

Banyak orang yang menjadikan sekolah sebagai tumpuan bagi pendidikan anak-anaknya. Bahkan, tidak sedikit yang seolah telah membebaskan dirinya dari kewajiban mendidik anak-anaknya, setelah ia memasukkan anaknya ke sekolah. Segala sesuatu diserahkan ke sekolah. Ibarat orang mengirim pakaian kotor ke binatu, ia cukup mebayar, lalu menerima hasilnya saja, berupa pakaian bersih.

Tidak sedikit pula yang kecewa dengan pihak sekolah, tapi tidak sanggup berbuat apa-apa. Seorang ibu mengadu pada saya, di sekolah anaknya diajarkan pandangan bahwa musik itu haram. Ia sendiri tidak menganggapnya begitu. Perbedaan pandangan itu bisa saja menjadi sumber konflik dengan anak. Bagaimana memberi tahu anak mengenai pandangan lain soal musik?

Di situlah pentingnya peran kita sebagai pengendali pendidikan anak. Ingat, tanggung jawab pendidikan anak ada pada kita, bukan pada sekolah. Bagaimana pun juga, sekolah hanya pembantu kita dalam pendidikan. Peran utama, kendali, harus ada pada kita. Kenapa? Karena ini anak kita. Sebagus apapun sekolah, yang berada di situ adalah orang lain.

Bagaimana bersikap terhadap sekolah? Sekolah adalah mitra kita dalam mendidik anak. Ketika hendak memasukkan anak ke sekolah, kita memilih sekolah yang cocok. Apa dasarnya? Dasarnya adalah prinsip kita tentang pendidikan anak. Kita punya prinsip dan konsep. Maka kita cari sekolah yang cocok dengan prinsip itu, atau setidaknya mendekati. Jangan sampai kita memasukkan anak ke sekolah yang tidak cocok dengan prinsip kita.

Sekali lagi, sekolah adalah mitra. Artinya, kita juga harus memberi masukan kepada sekolah soal muatan pendidikan yang mereka lakukan. Saya sering menyampaikan kritik kepada guru-guru di sekolah anak saya. Pernah saya tegur kepala sekolah soal kurangnya tempat sampah pada acara di sekolah, sehingga sampah bertebaran. Di lain waktu saya tegur soal AC yang menyala di ruangan kelas yang tidak sedang dipakai.

Minggu lalu saya hadir rapat di sekolah anak, untuk persiapan jambore pramuka yang akan diikuti anak saya. Salah satu hal yang dibahas adalah soal pintu gerbang tenda yang menurut saya berbiaya mahal. Gurunya dengan bangga bercerita bahwa gerbang ini nanti akan dikerjakan oleh tukang yang terampil (profesional, istilah dia), dan kemungkinan besar akan memenangkan kompetisi. Usai penjelasan, saya tanya,”Unsur pendidikan apa yang sedang kita lakukan melalui gerbang megah ini?”

Guru tadi gelagapan, memberi jawaban berputar-putar. Kepala sekolah ikut menjawab, tapi tetap tanpa substansi yang menjawab pertanyaan saya. Saya paham, karena mereka memang tidak punya jawaban. Mereka sedang khilaf, lupa soal apa itu substansi pendidikan. Akhirnya ada guru yang menjelaskan bahwa para siswa nantinya akan terlibat dalam pembangunan gerbang. Saya anggap jawaban itu sejenis jawaban emergency.

Poin saya adalah, teruslah mengingatkan guru-guru tentang hakikat pendidikan. Saya rewel kepada guru-guru anak saya, bukan karena tidak percaya kepada sekolah. Saya sedang menjalankan peran sebagai pengendali pendidikan anak saya. Sekolah adalah mitra saya.

Saya juga memantau, nilai-nilai apa yang diajarkan di sekolah anak saya. Dalam suasana Natal tertangkap dari pembicaraan bahwa anak-anak di sekolah diajarkan untuk tidak mengucapkan selamat Natal. Pelan-pelan pandangan itu saya koreksi di rumah.

Bagaimana caranya? Kembali ke prinsip tadi. Kita adalah pengendali muatan pendidikan anak-anak kita. Sekolah hanyalah pembantu. Dalam makna lain, sekolah adalah lingkungan yang memberi pengaruh pada anak-anak kita. Selain sekolah, teman-teman mereka, tetangga, media massa, media sosial, dan lain-lain. Semua memberikan pengaruh. Sebagai penanggung jawab pendidikan, kita mengendalikan pengaruh itu. Anak-anak kita tidak mungkin kita isolasi dari pengaruh. Tapi kita mengendalikan dampaknya. Itulah peran kita sebagai pengendali.

Praktisnya bagaimana? Terlibatlah, jangan lepas tangan seperti orang mengirim baju kotor ke binatu. Dampingi anak-anak belajar. Perbanyak waktu untuk berinteraksi dengan anak, sehingga kita tahu perkembangan pemahaman dan pikiran, serta tindak tanduk mereka. Jangan sampai terjadi, anak lepas dari pantauan kita. Kita baru sadar saat anak sudah jauh, dan kita tak sanggup lagi meraihnya.

Saya sediakan waktu minimal 2 jam pada malam hari, untuk mendampingi anak-anak saya belajar, atau sekedar berbincang atau main bersama. Saya habiskan hampir seluruh waktu di akhir pekan untuk bersama mereka. Menurut saya, itu yang dibutuhkan untuk menjadi pengendali pendidikan anak.

 

Anak Membutuhkan Perhatian

Seorang ayah mengeluh pada saya.

“Anak saya, umur 4 tahun. Sekarang agresif sekali. Kalau dia marah, dia mengamuk. Teriak keras-keras. Ia melempar-lempar. Kemarin mobil saya disambit batu oleh dia. Apakah karena selama ini dia saya kerasi? Apakah dia cemburu karena dia punya adik? Apakah karena kurang perhatian, karena mamanya juga bekerja? Bagaimana cara menenangkannya supaya tidak mengamuk?”

Cerita ringkas sang ayah memberi gambaran rumit tentang situasi sang anak. “Masalah anak Anda itu rumit, dan sikapnya saat ini terbentuk selama bertahun-tahun. Untuk memperbaikinya perlu waktu yang cukup lama. Jadi, itu hal terpenting yang sekarang harus diingat.”

“Maksudnya bagaimana, Pak?”

“Dari pertanyaan Anda tadi terlihat bahwa Anda sedang mencari solusi instan. Lakukan A, maka hasilnya adalah B. Dalam hal ini rumus itu tidak berlaku. ”

Anak ini kurang perhatian dalam kadar yang kompleks. Seperti diceritakan ayahnya, ia jarang berinteraksi dengan kedua orang tuanya. Keduanya bekerja. Ketika pulang kerja ibunya mungkin sibuk dengan urusan di adik kecil. Ayah? “Saya biasanya beri dia HP untuk main game, biar dia diam,” cerita ayahnya. “Saya sengaja tidak membelikan dia HP, supaya tidak kecanduan.”

“Tidak membelikan, tapi memberi dia HP saat dia sebenarnya butuh perhatian Anda, itu sudah merupakan kesalahan yang sangat besar.”

“Maksudnya bagaimana, Pak?”

“Berbagai kelakuan agresif yang Anda lihat selama ini adalah cara anak untuk meminta perhatian.”

Kalau anak misalnya menangis menjerit-jerit, guling-guling mengamuk, itu tandanya mereka ingin menyampaikan sesuatu. Saya cukup sering melihat kejadian ini, di tempat umum maupun di lingkungan keluarga. Orang tua biasanya hanya menyuruh anak dia. “Diam, jangan nangis.” Ungkapan semacam itu. Mereka berharap anak akan diam secara instan. Itu tidak akan terjadi.

Yang sering saya saksikan dalam kejadian itu adalah rendahnya empati. Orang tua tidak berada di alam anaknya. Ia berada di alam lain, alam orang dewasa. Karena itu ia tak mampu menangkap pesan yang sedang disampaikan oleh anaknya.

Ketiga anak saya tidak pernah menangis lama-lama. Sejak mereka bayi saya terbiasa mengenali jenis tangisan mereka. Meski terdengar sama, ada perbedaan antara tangisan bayi yang sedang lapar, merasa kurang nyaman misalnya karena popoknya basah, atau karena kesakitan. Kemampuan membedakannya hanya bisa kita dapat kalau kita punya interaksi yang sangat kuat dengan bayi kita. Saya terbiasa menyelami alam bayi, sehingga saya menemukan isi pesan yang mereka sampaikan.

Dengan cara itulah komunikasi dengan anak harus dibangun, yaitu dengan membangun kedekatan. Anak tumbuh, kita tahu sifat-sifat, bahasa lisan, maupun bahasa tubuhnya. Ada begitu banyak pesan non-verbal yang mereka sampaikan. Bahkan pesan-pesan verbal anak bersifat sangat high context. Maksudnya, makna yang dibawa pesan itu sangat tergantung pada kebiasaan interaksi antara orang tua dan anak.

Orang tua banyak yang gagal menangkap pesan-pesan itu. Mereka terjebak untuk melihat tindak tanduk anaknya dengan kaca mata orang dewasa. Hasilnya, penghakiman bahwa anaknya nakal, tidak patuh, tidak tertib, dan sebagainya. Tindakan korektif yang dilakukan kemudian adalah memberi hukuman. Berharap anak jera, dan mengubah perilakunya. Tak jarang hukumannya berupa hukuman fisik, bahkan sampai menjurus pada kekerasan.

Kepada ayah tadi saya anjurkan untuk menyediakan waktu bersama anaknya.

“Tapi saya capek, Pak, kalau pulang kerja.”

“Kalau Anda tidak tahan capek sekarang, Anda akan capek seumur hidup dengan urusan anak Anda. Bukan hanya capek, bahkan mungkin Anda akan kehilangan dia. Anak yang nakal sampai berbuat kriminal, pecandu narkotika, dan sebagainya, umumnya karena hal ini, kurang perhatian dari orang tua.”

“Jadi, apa yang harus saya lakukan?”

“Hentikan kebiasaan memberi HP pada anak. Pisahkan anak dari HP. Ganti HP itu dengan kehadiran Anda.”

“Terus, ngapain?”

“Lakukan aktivitas berdua. Ajak dia main apa saja. Sekedar melipat kertas, mencoret-coret bikin gambar, atau ajak dia main di luar rumah. Sekedar Anda ajak belanja pun boleh. Intinya, membangun kembali ikatan yang selama ini sudah terputus.”

Saya ingatkan bahwa ini akan membutuhkan waktu lama. Saat awal mungkin anak akan menolak sama sekali. Ia akan lebih nyaman dengan HP. Ini ujian pertama yang harus dilewati oleh sang ayah. Kalau ia menyerah pada titik ini, tidak akan ada tahap selanjutnya. Jadi, jangan menyerah.

Mendidik anak memang pekerjaan yang paling berat, membutuhkan kesabaran tinggi. Banyak orang sukses dalam hidup, menjadi orang hebat, tapi ia gagal mendidik anaknya. Begitulah gambaran soal beratnya mendidik anak. Ia lebih berat dari berbagai tantangan hidup manapun.

 

Saya Kira Saya sudah Mendidik Anak

Seorang teman saya mengeluh soal anaknya.

“Masak dia gagal masuk Universitas X (dia menyebut sebuah PTN ternama). Padahal bapak ibunya sama-sama lulusan situ,” keluhnya.

“Lho, memangnya seleksi masuk PTN sudah selesai?”

“Belum sih. Ini hasil simulasi di tempat dia ikut bimbingan.”

“Lho, kamu memvonis anakmu berdasarkan hasil simulasi? Kupikir tadi sudah gagal benar. Artinya masih ada waktu untuk memperbaikinya, kan?”

“iya, sih.”

“Nah, ketimbang memvonis dia gagal, tidakkah lebih baik memberi dia semangat, mengubah program belajarnya, selagi masih ada waktu?”

ia terdiam.

“Ada satu hal lagi. Kenapa dirimu kau jadikan standar untuk anakmu? Apakah kalau bapak ibunya lulusan PTN X, anaknya juga harus begitu?”

“Iya, dong.”

“Apakah anakmu sama dengan kamu? Potensinya, bakatnya, minatnya? Pernahkah mengukur potensi anak? Pernahkah mencari tahu apa minat dia?”

Dia terdiam.

“Boleh jadi ia punya potensi yang sangat berbeda dengan kamu. Menyuruh dia mengikuti jalan kamu selain menyiksa dia juga boleh jadi telah membunuh potensi besar yang ia miliki. Ia punya bakat A, tapi akhirnya menjadi B, demi memuaskan keinginan orang tuanya.”

“Tapi aku tidak memaksakan jurusan yang harus dia masuki. Yang penting dia bisa masuk PTN.”

“Belum tentu juga anakmu butuh kuliah.”

“Lho, kok gitu?”

“Memang begitu. Tidak setiap orang harus kuliah. Ada banyak profesi yang tidak memerlukan kuliah. Juga ada banyak profesi yang tidak tersedia kuliahnya di PTN. Mematok target anak harus masuk PTN tertentu itu lebih merupakan gengsi orang tua ketimbang kebutuhan anak.”

“Lha, kamu nggak masalah kalau anakmu nggak kuliah? Bapaknya doktor, kok anaknya nggak kuliah?”

“Sama sekali tidak. Profesor saya di Jepang dulu, anaknya jadi hair stylist. Bapaknya profesor di bidang fisika. Dia tidak mempermasalahkan. Saya juga tidak. Ini jalan saya. Anak saya punya jalan sendiri.”

Ia terdiam lagi.

“Pernah ngobrol sama anakmu, memabahas minat dia?”

“Wah, sekarang sudah nggak.”

“Sepertinya kamu nggak akrab sama anakmu.”

“Akrab gimana?”

“Dekat. Apakah anakmu masih mau memeluk dan menciummu?”

Dia tertawa.

“Lho, ini serius. Anak saya biasa memeluk saya, cium saya, tidur di pangkuan saya. Bahkan kadang-kadang duduk di pangkuan saya. Padahal dia sudah gadis remaja. Ia terbuka bicara sama saya, termasuk soal pribadi, misalnya soal cowok yang dia suka.”

“Wah, itu nggak mungkin.”

“Kalau anakmu tidak nyaman membahas sesuatu denganmu, lalu dengan siapa dia membahasnya? Dengan teman, atau orang lain. Maka secara perlahan hubungan kepercayaan antara anak dan orang tua hilang. Anak lebih percaya pada orang lain. Pada titik itu kita tak lagi kenal siapa anak kita. Kamu galak sama anakmu?

“Ya, sering emosi juga.”

“Itulah. Kita sering sulit membedakan antara tegas dengan galak. Kita harus tegas, bukan galak. Kita harus menegur, bukan memarahi. Apa bedanya? Emosi. Galak, marah, sering kali merupakan luapan emosi. Itu bukan pendidikan. Mendidik itu memberikan arahan dengan tegas, bila diperlukan. Tujuannya jelas, mengarahkan. Kalau memarahi, itu sekedar untuk melepaskan amarah kita saja.”

Begitulah. Ada begitu banyak momen interaksi kita dengan anak yang terlewatkan begitu saja, tanpa kita isi dengan proses pendidikan. Kita mengira kita sudah mendidik anak, tapi nyatanya tidak. Mungkin kita justru lebih sering hadir sebagai sosok pengganggu dan perusak ketimbang pendidik.

 

 

Menghafal itu bukan Belajar

Salah satu kegemasan saya soal pendidikan di Indonesia adalah soal kebiasaan menjadikan kegiatan menghafal sebagai bagian utama dari proses belajar. Ini dilakukan secara sadar maupun tidak. Yang dilakukan secara sadar adalah perintah untuk menghafal doa, teks, ayat, dan sebagainya. Yang dilakukan secara tidak sadar adalah materi pelajaran yang melebihi porsi, sehingga mustahil dipahami anak. Akhirnya ditempuh jalan pintas, yaitu, hafalkan saja. Sangat menyedihkan bila melihat bahwa pendidikan dasar kita didominasi oleh kegiatan menghafal.

Menghafal adalah proses menempatkan informasi ke dalam ingatan (memori). Ada proses mengubah informasi menjadi kode dalam proses penyimpanan, ini disebut coding. Bila diperlukan, informasi itu bisa ditarik kembali, diubah kodenya sehingga menjadi format asal. Menghafal umumnya berbasis pada bunyi yang dihasilkan secara oral.

Belajar adalah proses yang berbeda. Sangat berbeda. Perbedaan terpentingnya terletak pada proses pencernaan informasi. Informasi dicerna, berbasis pada informasi dan pemahaman yang sudah ada sebelumnya. Pada akhirnya informasi juga akan disimpan dalam memori, tapi dalam format yang sama sekali berbeda dengan yang disimpan melalui proses hafalan.

Nah, inilah masalah pada pendidikan kita, khususnya pendidikan dasar. Entah kenapa pembuat kurikulum kita begitu bersemangat untuk menjejalkan sebanyak mungkin pengetahuan kepada anak-anak sejak usia dini. Demikian banyak sehingga guru tak sanggup membangun pemahaman kepada anak-anak atas setiap subjek pelajaran. Anak-anak pun tak sanggup memahaminya. Akhirnya, dipilihlah jalan pintas, hafalkan saja.

Tentu saja ini sangat terkait dengan pola ujian, atau tes kita. Ujian kita berbasis pada pola pilihan ganda, satu jawaban untuk satu pertanyaan. Cara paling jitu untuk menghadapi ujian ini adalah menghafal. Kita tidak menyediakan ruangan memadai untuk eksplorasi dan argumentasi dalam sistem tes kita.

Selain hanya menyediakan satu jawaban atas satu persoalan, sistem hafalan tidak membangun hubungan antar informasi yang disimpan. Informasi disimpan dalam format tunggal, tanpa hubungan. Artinya, informasi tidak membangun pengetahuan, sebatas kumpulan bunyi belaka.

Cara menghafal adalah dengan mengulang. Persis seperti orang melakukan latihan fisik. Kalau kita rajin melakukan latihan beban secara berulang, maka otot kita akan membesar. Itu adalah “memori” yang menandai aktivitas tadi. Menghafal sama dengan memberi tanda itu pada otak kita. Konsekuensinya, bila prosesnya kita hentikan, maka secara perlahan tanda itu akan hilang. Kita akan lupa.

Anak-anak banyak belajar dari menghafal. Mereka bisa menghafal dengan cepat. Tugas kita sebenarnya bukan menjejali mereka dengan hafalan, mumpung ingatan mereka masih segar. Tugas kita justru sebaliknya, memanfaatkan masa itu untuk menciptakan ruang-ruang untuk fondasi pemahaman sebanyak mungkin, agar mereka lebih mudah menyerap informasi pada tahap selanjutnya, berbasis pada pemahaman. Banyak orang terjebak pada mitos bahwa kalau anak-anak disuruh menghafal di usia dini maka mereka akan ingat seumur hidup. Salah. Kelak mereka akan lupa lagi, kecuali mereka terus menerus melakukan pengulangan.

Nah, apa baiknya bila anak kita disuruh melakukan pengulangan demi mempertahankan hafalan? Bukankah sebaiknya mereka memanfaatkan waktu dan energinya untuk mengumpulkan informasi lain yang lebih baru? Ingatlah bahwa sesuatu yang dihafal adalah sesuatu yang statis, tidak mengalami pembaruan.

Apakah saya mengatakan tidak boleh menghafal? Tidak juga. Menghafal tetap punya beberapa sisi positif. Salah satunya, ia bisa menarik informasi dengan cepat dari memori. Saat berpikir membangun pemahaman, kecepatan ini bisa membantu. Namun harus diingat bahwa menghafal harus diposisikan sebagai alat bantu proses belajar. Ia bukan proses utama dalam belajar.

Contoh sederhananya adalah, anak-anak kita ajari proses penjumlahan. Mereka paham apa itu penjumlahan, dan bisa melakukan penjumlahan terhadap berbagai bilangan. Dalam proses itu mereka akan hafal bahwa 2+2=4. Atau, mereka sudah paham bahwa 3×5 adalah 5+5+5, tidak mengapa kalau mereka hafal bahwa 5×5 sama dengan 15.

Galau-galau Cinta

broken

 

 

 

 

 

 

 

Bagi yang tidak merasakan, mungkin galau cinta bisa dianggap sekedar bahan untuk bercanda atau ejek-ejekan. Tapi masalah sepele ini bisa betul-betul merusak. Pendidikan terhadap anak-anak, bimbingan terhadap remaja, harus turut memperhatikan soal ini.
 
Ada beberapa kejadian fatal yang pernah saya lihat, soal asmara ini. Ada anak yang sangat cerdas dan cemerlang. Ia kuliah di jurusan bergengsi di sebuah perguruan tinggi ternama. Tentu orang tuanya bangga padanya.
 
Tapi pada suatu masa, anak itu jatuh cinta pada salah satu teman kuliahnya. Soal biasa, bukan? Soal biasa pula, cintanya ternyata ditolak. Biasanya ini hanya akan jadi cerita galau singkat, yang kelak jadi bahan olok-olok antar teman.
 
Tapi yang ini tidak biasa. Anak tadi mengalami kejutan mental yang luar biasa. Ia kemudian menjadi kehilangan semua kecemerlangannya. Ia tak lagi kuliah, mengunci diri di kamar. Kemudian mulai bicara sendiri. Saya menyaksikan sendiri keadaannya, setelah ia parah. Bahkan, kabarnya ia pergi dari rumah, tak tahu sekarang berada di mana.
 
Bukan sedikit contoh yang demikian itu. Pernah pula saya menyaksikan seorang gadis yang jatuh cinta pada seorang pemuda, tapi ia bertepuk sebelah tangan. Akhirnya, ia pun menderita sakit jiwa.
 
Kalau pun tidak sampai gila, tidak sedikit remaja yang mengalami perubahan perilaku akibat asmara. Ada yang tadinya pendiam, tiba-tiba menjadi beringas. Ada pula yang sebaliknya, dari anak yang aktif dan ceria, tiba-tiba menjadi pendiam. Tidak sedikit yang merosot prestasi belajarnya gara-gara ini.
 
Apa masalahnya sehingga hal yang seharusnya sepele itu bisa demikian fatal? Bagi saya, mental itu sama dengan fisik. Fisik kita, sekali kena penyakit, akan menderita. Tapi dengan itu ia membangun ketangguhannya sendiri. Karena itu, anak sakit, itu soal biasa saja. Kuatkan tubuhnya, agar dia sembuh. Dia akan jadi lebih kuat.
 
Soal mental juga begitu. Anak-anak harus terbiasa gagal, atau tidak tercapai keinginannya. Ia harus belajar menerima, bahwa tak semua keinginan akan tercapai. Atau, lebih tajam lagi, ada keinginan yang harus diusahakan berulang-ulang, baru bisa tercapai.
 
Bagaimana cara mengajarkan hal itu pada anak? Pertama, jangan biasakan menuruti semua keinginannya. Penuhi permintaan anak berbasis pada kebutuhan. Meski kita bisa, kita mampu, tidak semua keinginan anak harus dituruti. Sering saya bersikap tega pada anak, menolak permintaannya, karena menurut saya tidak perlu dituruti. Dengan begitu anak belajar mengatasi rasa kecewanya.
 
Kedua, hadapkan anak kita pada berbagai kompetisi. Ia pasti akan gagal. Maka pada saat itu kita harus hadir, menguatkan dia. Dengan begitu ia akan belajar membangun kekuatan mental menghadapi kegagalan.
 
Ketiga, komunikasikan dengan baik hal-hal yang menyangkut perasaan asmaranya. Hal ini mungkin akan berat, karena anak remaja biasanya enggan membahas soal ini dengan orang tua. Kenapa? Banyak orang tua yang melarang anaknya pacaran. Padahal hasrat untuk suka pada lawan jenis itu alami. Ia muncul begitu saja. Kalau tidak terjadi komunikasi yang baik, anak akan menyimpan perasaannya sendiri. Ketika ia bermasalah dengan perasaan itu, kita sebagai orang tua sama sekali tidak tahu. Kalau kita tidak tahu, bagaimana kita bisa membantu?
 
Bagaimana membuat anak terbuka soal perasaan asmaranya? Ini bukan sesuatu yang bisa kita dapat dengan instant. Kita harus membangunnya dengan baik, sehingga tersedia ruang kepercayaan yang luas antara kita dengan anak. Anak harus diberi ruang senyaman mungkin, sehingga ia tidak takut, juga tidak malu untuk bercerita.
 
Anak perlu mendapat keyakinan bahwa kita tidak marah dengan perasan dia. Atau, mereka tidak dilecehkan atau diejek dengan perasaan itu. Ini betul-betul wilayah sensitif.
 
Keempat, sediakan pendampingan yang memadai saat anak kita mengalami krisis asmara. Kita harus sanggup mendeteksinya, menggali informasi mengenai keadaanya, tapi harus hati-hati, jangan sampai menciderai ruang pribadinya.
 
Kita bahkan perlu mendeteksi, kapan kita perlu mendapat bantuan atau pendampingan dari psikolog. Nah, soal ini kadang juga jadi hambatan bagi orang tua. Tidak sedikit yang malu konsultasi dengan psikolog, karena kalau konsultasi seakan anaknya sakit mental. Sakit mental dianggap penyakit memalukan. Padahal, tidak semua konsultasi ke psikolog berarti anak kita sakit. Bahkan, kalau pun sakit, sama saja dengan sakit fisik. Sakit bisa disembuhkan, bukan sesuatu yang hina.
 
Rumit? Iya. Tapi sekali lagi, semua itu mudah saja, kalau kita biasa hadir di tengah anak-anak kita.
sumber foto: rawstory