Category Archives: Parenting

Saya Kira Saya sudah Mendidik Anak

Seorang teman saya mengeluh soal anaknya.

“Masak dia gagal masuk Universitas X (dia menyebut sebuah PTN ternama). Padahal bapak ibunya sama-sama lulusan situ,” keluhnya.

“Lho, memangnya seleksi masuk PTN sudah selesai?”

“Belum sih. Ini hasil simulasi di tempat dia ikut bimbingan.”

“Lho, kamu memvonis anakmu berdasarkan hasil simulasi? Kupikir tadi sudah gagal benar. Artinya masih ada waktu untuk memperbaikinya, kan?”

“iya, sih.”

“Nah, ketimbang memvonis dia gagal, tidakkah lebih baik memberi dia semangat, mengubah program belajarnya, selagi masih ada waktu?”

ia terdiam.

“Ada satu hal lagi. Kenapa dirimu kau jadikan standar untuk anakmu? Apakah kalau bapak ibunya lulusan PTN X, anaknya juga harus begitu?”

“Iya, dong.”

“Apakah anakmu sama dengan kamu? Potensinya, bakatnya, minatnya? Pernahkah mengukur potensi anak? Pernahkah mencari tahu apa minat dia?”

Dia terdiam.

“Boleh jadi ia punya potensi yang sangat berbeda dengan kamu. Menyuruh dia mengikuti jalan kamu selain menyiksa dia juga boleh jadi telah membunuh potensi besar yang ia miliki. Ia punya bakat A, tapi akhirnya menjadi B, demi memuaskan keinginan orang tuanya.”

“Tapi aku tidak memaksakan jurusan yang harus dia masuki. Yang penting dia bisa masuk PTN.”

“Belum tentu juga anakmu butuh kuliah.”

“Lho, kok gitu?”

“Memang begitu. Tidak setiap orang harus kuliah. Ada banyak profesi yang tidak memerlukan kuliah. Juga ada banyak profesi yang tidak tersedia kuliahnya di PTN. Mematok target anak harus masuk PTN tertentu itu lebih merupakan gengsi orang tua ketimbang kebutuhan anak.”

“Lha, kamu nggak masalah kalau anakmu nggak kuliah? Bapaknya doktor, kok anaknya nggak kuliah?”

“Sama sekali tidak. Profesor saya di Jepang dulu, anaknya jadi hair stylist. Bapaknya profesor di bidang fisika. Dia tidak mempermasalahkan. Saya juga tidak. Ini jalan saya. Anak saya punya jalan sendiri.”

Ia terdiam lagi.

“Pernah ngobrol sama anakmu, memabahas minat dia?”

“Wah, sekarang sudah nggak.”

“Sepertinya kamu nggak akrab sama anakmu.”

“Akrab gimana?”

“Dekat. Apakah anakmu masih mau memeluk dan menciummu?”

Dia tertawa.

“Lho, ini serius. Anak saya biasa memeluk saya, cium saya, tidur di pangkuan saya. Bahkan kadang-kadang duduk di pangkuan saya. Padahal dia sudah gadis remaja. Ia terbuka bicara sama saya, termasuk soal pribadi, misalnya soal cowok yang dia suka.”

“Wah, itu nggak mungkin.”

“Kalau anakmu tidak nyaman membahas sesuatu denganmu, lalu dengan siapa dia membahasnya? Dengan teman, atau orang lain. Maka secara perlahan hubungan kepercayaan antara anak dan orang tua hilang. Anak lebih percaya pada orang lain. Pada titik itu kita tak lagi kenal siapa anak kita. Kamu galak sama anakmu?

“Ya, sering emosi juga.”

“Itulah. Kita sering sulit membedakan antara tegas dengan galak. Kita harus tegas, bukan galak. Kita harus menegur, bukan memarahi. Apa bedanya? Emosi. Galak, marah, sering kali merupakan luapan emosi. Itu bukan pendidikan. Mendidik itu memberikan arahan dengan tegas, bila diperlukan. Tujuannya jelas, mengarahkan. Kalau memarahi, itu sekedar untuk melepaskan amarah kita saja.”

Begitulah. Ada begitu banyak momen interaksi kita dengan anak yang terlewatkan begitu saja, tanpa kita isi dengan proses pendidikan. Kita mengira kita sudah mendidik anak, tapi nyatanya tidak. Mungkin kita justru lebih sering hadir sebagai sosok pengganggu dan perusak ketimbang pendidik.

 

 

Menghafal itu bukan Belajar

Salah satu kegemasan saya soal pendidikan di Indonesia adalah soal kebiasaan menjadikan kegiatan menghafal sebagai bagian utama dari proses belajar. Ini dilakukan secara sadar maupun tidak. Yang dilakukan secara sadar adalah perintah untuk menghafal doa, teks, ayat, dan sebagainya. Yang dilakukan secara tidak sadar adalah materi pelajaran yang melebihi porsi, sehingga mustahil dipahami anak. Akhirnya ditempuh jalan pintas, yaitu, hafalkan saja. Sangat menyedihkan bila melihat bahwa pendidikan dasar kita didominasi oleh kegiatan menghafal.

Menghafal adalah proses menempatkan informasi ke dalam ingatan (memori). Ada proses mengubah informasi menjadi kode dalam proses penyimpanan, ini disebut coding. Bila diperlukan, informasi itu bisa ditarik kembali, diubah kodenya sehingga menjadi format asal. Menghafal umumnya berbasis pada bunyi yang dihasilkan secara oral.

Belajar adalah proses yang berbeda. Sangat berbeda. Perbedaan terpentingnya terletak pada proses pencernaan informasi. Informasi dicerna, berbasis pada informasi dan pemahaman yang sudah ada sebelumnya. Pada akhirnya informasi juga akan disimpan dalam memori, tapi dalam format yang sama sekali berbeda dengan yang disimpan melalui proses hafalan.

Nah, inilah masalah pada pendidikan kita, khususnya pendidikan dasar. Entah kenapa pembuat kurikulum kita begitu bersemangat untuk menjejalkan sebanyak mungkin pengetahuan kepada anak-anak sejak usia dini. Demikian banyak sehingga guru tak sanggup membangun pemahaman kepada anak-anak atas setiap subjek pelajaran. Anak-anak pun tak sanggup memahaminya. Akhirnya, dipilihlah jalan pintas, hafalkan saja.

Tentu saja ini sangat terkait dengan pola ujian, atau tes kita. Ujian kita berbasis pada pola pilihan ganda, satu jawaban untuk satu pertanyaan. Cara paling jitu untuk menghadapi ujian ini adalah menghafal. Kita tidak menyediakan ruangan memadai untuk eksplorasi dan argumentasi dalam sistem tes kita.

Selain hanya menyediakan satu jawaban atas satu persoalan, sistem hafalan tidak membangun hubungan antar informasi yang disimpan. Informasi disimpan dalam format tunggal, tanpa hubungan. Artinya, informasi tidak membangun pengetahuan, sebatas kumpulan bunyi belaka.

Cara menghafal adalah dengan mengulang. Persis seperti orang melakukan latihan fisik. Kalau kita rajin melakukan latihan beban secara berulang, maka otot kita akan membesar. Itu adalah “memori” yang menandai aktivitas tadi. Menghafal sama dengan memberi tanda itu pada otak kita. Konsekuensinya, bila prosesnya kita hentikan, maka secara perlahan tanda itu akan hilang. Kita akan lupa.

Anak-anak banyak belajar dari menghafal. Mereka bisa menghafal dengan cepat. Tugas kita sebenarnya bukan menjejali mereka dengan hafalan, mumpung ingatan mereka masih segar. Tugas kita justru sebaliknya, memanfaatkan masa itu untuk menciptakan ruang-ruang untuk fondasi pemahaman sebanyak mungkin, agar mereka lebih mudah menyerap informasi pada tahap selanjutnya, berbasis pada pemahaman. Banyak orang terjebak pada mitos bahwa kalau anak-anak disuruh menghafal di usia dini maka mereka akan ingat seumur hidup. Salah. Kelak mereka akan lupa lagi, kecuali mereka terus menerus melakukan pengulangan.

Nah, apa baiknya bila anak kita disuruh melakukan pengulangan demi mempertahankan hafalan? Bukankah sebaiknya mereka memanfaatkan waktu dan energinya untuk mengumpulkan informasi lain yang lebih baru? Ingatlah bahwa sesuatu yang dihafal adalah sesuatu yang statis, tidak mengalami pembaruan.

Apakah saya mengatakan tidak boleh menghafal? Tidak juga. Menghafal tetap punya beberapa sisi positif. Salah satunya, ia bisa menarik informasi dengan cepat dari memori. Saat berpikir membangun pemahaman, kecepatan ini bisa membantu. Namun harus diingat bahwa menghafal harus diposisikan sebagai alat bantu proses belajar. Ia bukan proses utama dalam belajar.

Contoh sederhananya adalah, anak-anak kita ajari proses penjumlahan. Mereka paham apa itu penjumlahan, dan bisa melakukan penjumlahan terhadap berbagai bilangan. Dalam proses itu mereka akan hafal bahwa 2+2=4. Atau, mereka sudah paham bahwa 3×5 adalah 5+5+5, tidak mengapa kalau mereka hafal bahwa 5×5 sama dengan 15.

Galau-galau Cinta

broken

 

 

 

 

 

 

 

Bagi yang tidak merasakan, mungkin galau cinta bisa dianggap sekedar bahan untuk bercanda atau ejek-ejekan. Tapi masalah sepele ini bisa betul-betul merusak. Pendidikan terhadap anak-anak, bimbingan terhadap remaja, harus turut memperhatikan soal ini.
 
Ada beberapa kejadian fatal yang pernah saya lihat, soal asmara ini. Ada anak yang sangat cerdas dan cemerlang. Ia kuliah di jurusan bergengsi di sebuah perguruan tinggi ternama. Tentu orang tuanya bangga padanya.
 
Tapi pada suatu masa, anak itu jatuh cinta pada salah satu teman kuliahnya. Soal biasa, bukan? Soal biasa pula, cintanya ternyata ditolak. Biasanya ini hanya akan jadi cerita galau singkat, yang kelak jadi bahan olok-olok antar teman.
 
Tapi yang ini tidak biasa. Anak tadi mengalami kejutan mental yang luar biasa. Ia kemudian menjadi kehilangan semua kecemerlangannya. Ia tak lagi kuliah, mengunci diri di kamar. Kemudian mulai bicara sendiri. Saya menyaksikan sendiri keadaannya, setelah ia parah. Bahkan, kabarnya ia pergi dari rumah, tak tahu sekarang berada di mana.
 
Bukan sedikit contoh yang demikian itu. Pernah pula saya menyaksikan seorang gadis yang jatuh cinta pada seorang pemuda, tapi ia bertepuk sebelah tangan. Akhirnya, ia pun menderita sakit jiwa.
 
Kalau pun tidak sampai gila, tidak sedikit remaja yang mengalami perubahan perilaku akibat asmara. Ada yang tadinya pendiam, tiba-tiba menjadi beringas. Ada pula yang sebaliknya, dari anak yang aktif dan ceria, tiba-tiba menjadi pendiam. Tidak sedikit yang merosot prestasi belajarnya gara-gara ini.
 
Apa masalahnya sehingga hal yang seharusnya sepele itu bisa demikian fatal? Bagi saya, mental itu sama dengan fisik. Fisik kita, sekali kena penyakit, akan menderita. Tapi dengan itu ia membangun ketangguhannya sendiri. Karena itu, anak sakit, itu soal biasa saja. Kuatkan tubuhnya, agar dia sembuh. Dia akan jadi lebih kuat.
 
Soal mental juga begitu. Anak-anak harus terbiasa gagal, atau tidak tercapai keinginannya. Ia harus belajar menerima, bahwa tak semua keinginan akan tercapai. Atau, lebih tajam lagi, ada keinginan yang harus diusahakan berulang-ulang, baru bisa tercapai.
 
Bagaimana cara mengajarkan hal itu pada anak? Pertama, jangan biasakan menuruti semua keinginannya. Penuhi permintaan anak berbasis pada kebutuhan. Meski kita bisa, kita mampu, tidak semua keinginan anak harus dituruti. Sering saya bersikap tega pada anak, menolak permintaannya, karena menurut saya tidak perlu dituruti. Dengan begitu anak belajar mengatasi rasa kecewanya.
 
Kedua, hadapkan anak kita pada berbagai kompetisi. Ia pasti akan gagal. Maka pada saat itu kita harus hadir, menguatkan dia. Dengan begitu ia akan belajar membangun kekuatan mental menghadapi kegagalan.
 
Ketiga, komunikasikan dengan baik hal-hal yang menyangkut perasaan asmaranya. Hal ini mungkin akan berat, karena anak remaja biasanya enggan membahas soal ini dengan orang tua. Kenapa? Banyak orang tua yang melarang anaknya pacaran. Padahal hasrat untuk suka pada lawan jenis itu alami. Ia muncul begitu saja. Kalau tidak terjadi komunikasi yang baik, anak akan menyimpan perasaannya sendiri. Ketika ia bermasalah dengan perasaan itu, kita sebagai orang tua sama sekali tidak tahu. Kalau kita tidak tahu, bagaimana kita bisa membantu?
 
Bagaimana membuat anak terbuka soal perasaan asmaranya? Ini bukan sesuatu yang bisa kita dapat dengan instant. Kita harus membangunnya dengan baik, sehingga tersedia ruang kepercayaan yang luas antara kita dengan anak. Anak harus diberi ruang senyaman mungkin, sehingga ia tidak takut, juga tidak malu untuk bercerita.
 
Anak perlu mendapat keyakinan bahwa kita tidak marah dengan perasan dia. Atau, mereka tidak dilecehkan atau diejek dengan perasaan itu. Ini betul-betul wilayah sensitif.
 
Keempat, sediakan pendampingan yang memadai saat anak kita mengalami krisis asmara. Kita harus sanggup mendeteksinya, menggali informasi mengenai keadaanya, tapi harus hati-hati, jangan sampai menciderai ruang pribadinya.
 
Kita bahkan perlu mendeteksi, kapan kita perlu mendapat bantuan atau pendampingan dari psikolog. Nah, soal ini kadang juga jadi hambatan bagi orang tua. Tidak sedikit yang malu konsultasi dengan psikolog, karena kalau konsultasi seakan anaknya sakit mental. Sakit mental dianggap penyakit memalukan. Padahal, tidak semua konsultasi ke psikolog berarti anak kita sakit. Bahkan, kalau pun sakit, sama saja dengan sakit fisik. Sakit bisa disembuhkan, bukan sesuatu yang hina.
 
Rumit? Iya. Tapi sekali lagi, semua itu mudah saja, kalau kita biasa hadir di tengah anak-anak kita.
sumber foto: rawstory

Mencegah Kecanduan Gawai pada Anak

Kecanduan gawai artinya anak menghabiskan sangat banyak waktu dengan gawai. Waktu mereka dengan gawai melebihi waktu interaksi dengan manusia nyata. Anak selalu memegang gawai dalam setiap kesempatan, termasuk pada saat makan, atau di tempat tidur. Mereka abai terhadap banyak hal, seperti interaksi dengan orang lain, pelajaran, dan tugas-tugas di rumah.

Saya tak perlu berpanjang lebar menjelaskan akibat kecanduan gawai itu. Anak jadi susah dikontrol, tidak lagi mendengarkan kita. Hubungan kita dengan anak terputus. Prestasi belajar mereka akan rusak. Boleh jadi fisik mereka pun akan rusak, terutama mata.

Bagaimana mencegahnya? Pertama, membebaskan diri kita dari kecanduan gadget. Anak yang kecanduan biasanya tumbuh dari orang tua yang kecanduan. Anak tidak hanya meniru orang tua, tapi menemukan pelarian sendiri saat diabaikan oleh orang tua mereka yang kecanduan. Maka kalau Anda sendiri mengalami kecanduan dengan ciri-ciri di atas, segeralah lakukan pengobatan untuk diri Anda sendiri.

Apa yang mesti dilakukan agar anak kita tidak kecanduan gawai? Sebenarnya ini berlaku juga untuk berbagai jenis kecanduan lain, seperti TV, game, atau komik. Hal terpenting adalah menyediakan waktu sebanyak mungkin untuk berinteraksi dengan anak, memberi mereka perhatian sebanyak mungkin.

Anak-anak pada dasarnya sangat membutuhkan interaksi dengan orang tua. Mereka akan lapor saat melihat, mendengar, atau mengalami sesuatu yang tidak biasa, atau membuat mereka senang/sedih. Tapi apa yang terjadi saat anak memberi tahu sesuatu pada kita? Kita mengabaikannya, menganggapnya tidak penting, atau bahkan memarahinya. Itu terjadi karena kita sendiri asyik dengan hal lain seperti gawai, TV, obrolan dengan teman, atau dengan pekerjaan kita. Kalau itu terjadi, anak akan mulai berhenti bicara dengan mereka. Mereka akan mencari hal-hal lain.

Kedua, ajak anak melakukan aktivitas bersama. Bentuknya bisa sangat banyak. Bisa main, masak, olah raga, berbincang, atau sekedar bercanda. Banyak orang tua yang mengeluh, sulit menyuruh anak berhenti dari keasyikan mereka dengan gawai. Kenapa? Karena hanya disuruh, tidak dialihkan kepada hal lain yang lebih positif, dan orang tuanya tidak terlibat. Ketimbang menyuruh, mengajak akan lebih efektif. Kalau anak-anak terlalu asyik nonton TV atau main gawai, cobalah ajak mereka melakukan hal lain, seperti main sepeda, atau hal lain. Pasti akan lebih mudah.

Ketiga, bantu anak dalam pelajaran. Kesulitan dalam pelajaran membuat anak menjadi kehilangan gairah untuk belajar. Saat mereka kesulitan banyak orang tua yang tidak peduli, tidak membantu. Anak jadi frustrasi. Mereka enggan belajar, dan mulai mencari hal lain. Bantulah anak mengatasi kesulitan mereka, buat agar belajar itu menyenangkan. Manfaatkan internet untuk melakukan eksplorasi yang membuat pelajaran lebih menarik dan mudah dipahami.

Keempat, perhatikan batas umur anak. Jangan berikan penguasaan gawai kepada anak yang belum cukup umur. Demikian pula dengan akun media sosial. Facebook misalnya menetapkan batas usia minimal 13 tahun. Jangan langgar batas itu.

Kelima, beri tahu anak tentang apa itu internet, manfaat dan kerugiannya. Tidak cukup sekali, tapi mesti berulang-ulang, agar anak-anak paham dan sadar.

Keenam, batasi dan minimalkan waktu penggunaan gawai oleh anak-anak secara ketat. Biasakan pula agar mereka mengaksesnya di ruang terbuka, misalnya di ruang keluarga, yang berada dalam jangkauan pengawasan kita. Jangan biarkan anak-anak terbiasa main gawai di tempat tersembunyi. Jangan biarkan mereka main gawai saat kita tidak berada di dekat mereka.

Intinya adalah, penuhi waktu anak dengan interaksi bersama kita, sehingga mereka cukup mendapat perhatian, dan tidak tenggelam dalam keasyikan sendiri.

Awkarin-Anya dan Orang Tua yang Panik

Saya baru tahu soal seleb instagram Awkarin-Anya yang dikabarkan mendapat peringatan dari Ketua KPAI. Aku mereka menurut Ketua KPAI berisi konten negatif yang dapat menjerumuskan anak-anak. Saya lihat isinya sekilas, menurut saya biasa saja. Tapi bukan itu poin terpentingnya.

Saya punya anak, 3 orang. Prinsip yang saya tanamkan pada mereka adalah soal identitas. “Kalian dibesarkan dengan seperangkat aturan. Mungkin aturan itu berbeda dengan yang dijalani teman-teman kamu. Tapi begitulah, karena ini aturan rumah kita. Rumah kita memang berbeda dengan rumah mereka.”

Kemarin dalam perjalanan pulang dari sekolah saya tawari anak saya yang tertua untuk punya HP. Dalam waktu dekat dia akan pergi ke luar kota, acara sekolah. Saya pikir dia sudah akan membutuhkan. Tapi dia menolak.

Demikian pula saat saya tawarkan membuka akun media sosial. Dia tidak berminat. “Aku belum siap,” katanya.

Anak-anak biasa saya paparkan dengan hal-hal yang berbeda dengan nilai yang kami anut. Sehari-hari mereka melihat istri saya memakai jilbab, anak perempuan saya juga berjilbab. Tapi mereka juga biasa melihat orang berbaju renang, bahkan berbikini di pantai atau kolam renang. Mereka terbiasa melihat dunia aneka rupa, dan bersikap bedasarkan nilai yang mereka anut.

Konten Awkarin-Anya tidak mendidik? Hellooo, bagaimana dengan konten sinetron yang hampir 24 jam sehari memenuhi ruang keluarga Anda? Sadarilah di luar sana ada jutaan konten yang tidak layak untuk anak. Siapa yang bertanggung jawab memfilternya? Kita, sebagai orang tua. Filternya ada di rumah kita. Bukan di KPAI, bukan negara. KPAI tidak akan sanggup memfilter semua.

Tidakkah konyol bahwa ada orang yang mengatur atau mengendalikan konten orang lain dengan alasan menjaga anaknya? Itu sama dengan mensterilkan seluruh dunia agar anak kita bebas dari penyakit.

Para orang tua ini bahkan mungkin tidak sadar bahwa mereka adalah predator bagi anak-anak mereka sendiri. Kelakuan mereka saat memegang gadget, atau sikap mereka yang membebaskan anak-anaknya main gadget tanpa kontrol, adalah pemangsa ganas terhadap anak-anak mereka. Mereka lalai menjaga anak-anak sendiri tapi begitu berisik terhadap anak-anak orang.

Logika yang dikembangkan KPAI di bawah pimpinan Asrorun Niam ini adalah logika polisi moral. KPAI mulai mengurusi hal-hal yang jauh dari urusan pendidikan anak.

Konten Awakarin-Anya buruk? Jaga anak Anda, beri tahu mereka agar tidak berkunjung ke akun itu. Tidak yakin bahwa anak Anda bisa Anda kontrol? Kalau begitu, inilah saatnya bagi Anda untuk becermin. Sudahkah Anda jadi orang tua yang mendidik, atau sekedar membesarkan fisik anak Anda.

Lama-lama KPAI bisa berkembang jadi polisi moral. Mereka mengutak-atik KUHP, menganggapnya berbahaya bagi anak-anak. Nanti mereka juga mungkin akan menyeleksi, film apa atau konser musik apa yang boleh ditayangkan. Bahkan mungkin mereka akan merazia orang-orang yang tidak puasa atau tidak salat, dengan alasan itu akan memberi pengaruh buruk pada anak-anak.

Yang seharusnya dilakukan oleh KPAI, tapi tidak dilakukan, adalah mempertegas peran san sikap orang tua terhadap konten internet. Bukan mengontrol konten itu.