Category Archives: Motivasi

Menyusun Rencana Kabur dari Kemiskinan

Bagi saya penyebab utama kemiskinan adalah pola pikir dan kemalasan. Artinya, kalau mau membebaskan diri dari kemiskinan, orang harus mengubah pola pikirnya, dan bekerja keras. Saya dikritik. Kata pengritik, seolah saya hendak mengatakan bahwa orang-orang miskin itu pemalas. Kemiskinan, kata mereka, bukan melulu soal kerja keras atau pemalas, tapi juga terkait dengan kebijakan pemerintah. Mereka menyebutnya kemiskinan struktural. “Kurang keras bagaimana lagi para buruh atau kuli itu bekerja, tetap saja mereka miskin,” kata mereka.

Ketika bicara soal kemiskinan dan orang miskin, saya lebih suka membicarakannya sebagai “kita”, bukan “mereka”. Maka, ketika saya bicara soal kemalasan, itu bukan untuk menuding atau merendahkan, tapi sebagai evaluasi untuk memperbaiki diri. Ini soal mencari apa yang salah, bukan menyalahkan.

Banyak orang bekerja keras, tapi tetap miskin. Apa yang kurang kalau begitu? Saya suka mengandaikan kemiskinan itu seperti gravitasi. Kita dan semua benda bermassa terikat oleh gaya gravitasi bumi. Kalau kita melompat ke atas, kita akan ditarik kembali ke muka bumi. Kalau kita terbang dengan pesawat, kita harus mendarat kembali.

Bisakah kita lepas dari ikatan gaya gravitasi itu? Bisa. Hanya saja, kita memerlukan energi besar. Energi itu setara dengan yang diperlukan untuk melempar benda dengan kecepatan 11,2 km/detik, atau 40.320 km/jam. Kecepatan ini disebut escape velocity atau kecepatan kabur. Seberapa cepat itu? Rekor kecepatan tertinggi sebuah pesawat terbang hingga saat ini adalah 3.530 km per jam, jauh di bawah kecepatan kabur tadi.

Para penjelajah ruang angkasa berhasil membebaskan diri mereka dari ikatan gravitasi bumi. Dengan roket yang membawa bahan bakar sumber energi dalam jumlah besar. Sejumlah energi digunakan dalam suatu rentang waktu yang lama. Artinya, diperlukan energi dalam jumlah besar, juga diperlukan waktu yang lama. Bila tidak cukup, apa boleh buat, kita akan kembali jatuh ke bumi.

Begitu pula dengan kerja untuk membebaskan diri dari kemiskinan. Kerja keras saja tidak cukup. Kita perlu kerja keras dalam waktu yang lama, dan juga perlu strategi untuk memastikan bahwa kita tidak terjatuh kembali. Saya menyebutnya dengan rencana kabur, atau escape plan.

Berikut beberapa kunci dalam rencana kabur untuk membebaskan diri dari kemiskinan.

Pertama, pastikan kita bekerja dengan penghasilan memadai. Bekerja tanpa penghasilan memadai, seberapa keras pun, seberapa lama pun, tidak akan membebaskan kita dari kemiskinan. Intinya, harus ada sejumlah uang dari penghasilan kita yang kita sisihkan untuk memperbesar tenaga kita dalam rangka membebaskan diri tadi.

Bagaimana kalau yang kita terima saat ini ternyata kurang? Cari pekerjaan lain. Tapi bagaimana bila tidak ada pilihan lain? Ada! Yang mengatakan tidak ada itu adalah orang yang menderita penyakit miskin pikiran. Itu yang membuat dia tidak bisa keluar dari kemiskinan.

Maaf, saya harus mengatakan ini. Saya melihat begitu banyak orang yang melakukan pekerjaan tanpa masa depan. Mereka bekerja hanya cukup untuk makan sehari-hari, bahkan kurang. Tapi mereka tidak mau berganti pekerjaan. Kebanyakan berkata, tidak ada pilihan lain. Pilihan ada banyak, dan diambil oleh orang lain. Orang lain bisa, kenapa kita tidak?

Mau contoh nyata? Pekerjaan sebagai pak ogah, pedagang asongan, dan sejenisnya itu, bukan pekerjaan yang bisa membebaskan diri dari kemiskinan. Kalaupun bisa, diperlukan strategi yang sangat khusus, yang nanti akan dijelaskan lebih lanjut.

Kedua, lakukan pekerjaan dengan peningkatan penghasilan. Tanpa peningkatan, kita akan terus bekerja dalam waktu yang lama, dan sulit untuk lepas dari kemiskinan. Tapi, bagaimana caranya? Kalau kita pedagang asongan, cobalah untuk menjual lebih banyak dari yang lain, dengan cerdik mencari tempat berjualan, atau barang yang dijual. Tabunglah sejumlah penghasilan untuk dijadikan modal, menambah barang dagangan. Atau, gunakan itu sebagai modal untuk mempekerjakan orang lain.

Seorang tukang harus meningkatkan keterampilannya agar upahnya bertambah. Perlahan ia harus meningkatkan posisi dari tukang biasa menjadi kepala tukang, atau mandor. Kelak ia bisa meningkat jadi pemborong kecil-kecilan.

Apakah semua ini nyata? Ya, ini semua nyata. Ada banyak orang yang berhasil dengan cara seperti itu. Sayangnya lebih banyak yang bertahan, terikat erat pada zona nyaman yang sebenarnya sangat tak nyaman, yaitu kemiskinan. Jadi, ini jawaban atas pertanyaan tadi. Kerja keras saja memang tidak cukup untuk bebas dari kemiskinan. Perlu kerja dengan peningkatan.

Itulah yang dulu dilakukan emak saya. Ayah dulu bekerja sebagai buruh tadi. Bagi Emak, itu bukan pekerjaan yang bisa membebaskan dia dari kemiskinan, karena hasilnya sedikit dan tidak ada peningkatan. Emak mengajak Ayah pindah ke kampung baru, membuka lahan, dan membangun kebun. Punya kebun sendiri adalah langkah awal untuk membebaskan diri dari kemiskinan.

Ketiga, prihatin. Artinya, menahan diri dari kemewahan dalam bentuk apapun. Ada banyak orang yang segera ingin menikmati kemewahan saat baru saja mendapat penghasilan lebih baik dari sebelumnya. Sebagian bahkan tidak sadar bahwa tambahan penghasilan itu sementara saja sifatnya. Mereka mengira itu kekal, lalu berfoya-foya. Saat sumbernya hilang, barulah mereka menyesal.

Sepanjang masa sekolah dulu saya nyaris tak punya baju selain seragam sekolah. Emak sengaja mengajari kami untuk menahan diri, meski sebenarnya sudah mampu membelinya. Emak memilih memakai uangnya untuk hal-hal yang lebih berguna untuk masa depan. Demikian pula, Emak mengajari kami untuk tidak jajan dan makan di luar. Lebih baik masak sendiri kalau ingin makan enak.

Keempat, lakukan apa saja. Apa saja yang bisa menambah penghasilan, menjadikan hidup kita lebih baik. Kalau kita tidak bisa, belajar. Jangan pernah membatasi diri dengan kata tidak bisa. Banyak orang sukses dengan cara ini. Mencoba, belajar, coba lagi, sampai berhasil. Dengan cara yang sama ia terus membesar.

Empat poin di atas mungkin belum cukup untuk membuat kita bebas dari kemiskinan. Tapi empat poin itu fundamental. Tanpa itu, kita tidak akan bisa membebaskan diri.

Pengeluh Bermental Korban

Ketika saya membahas soal etos kerja buruh, ada yang komentar. Kata dia, buruh-buruh kurang produktif, rendah motivasi, tidak giat, dan lain-lain, itu karena mereka diperlakukan tidak adil. Orang yang bekerja baik, rajin, dan tekun, tetap saja tidak mendapat penghargaan yang layak. Yang naik pangkat biasanya yang dekat sama atasan.

Penulis komentar mengaku kesimpulan itu dia dapat dari interaksi dengan buruh. Saya tanya? Anda sebagai apa? Jawabnya berputar-putar tak jelas.. Tapi akhirnya terjawab, dia buruh juga.

Saya juga buruh, kok. Tapi saya melihat dunia dengan cara berbeda. Perusahaan bekerja dengan sistem. Perusahaan membutuhkan orang-orang baik untuk memimpin. Maka disiapkanlah sistem pembinaan, penilaian, dan promosi. Perusahaan dengan manajemen baik, membuat sistem transparan. Orang-orang diperlakukan dengan adil.

Artinya, orang yang bekerja baik akan mendapat imbalan dan penghargaan yang baik. Itu rumus umum.

Tidak adakah kasus di mana orang dizalimi? Ada. Tapi itu kasus minor saja. Ada juga perusahaan dengan sistem manajemen yang buruk. Artinya apa? Kalau Anda kebetulan dizalimi, atau berada di sebuah sistem manajemen yang buruk, Anda sebenarnya bisa pindah. Anda terhubung dengan pasar bebas tenaga kerja. Kalau Anda sebutir intan yang kebetulan berada di comberan, Anda tinggal keluar dari situ, hijrah, dan Anda akan segera menemukan tempat yang pantas buat Anda.

Masalahnya, apakah Anda sebutir intan? Kalau Anda terus berada di kubangan comberan, carilah cermin untuk melihat diri Anda sendiri. Jangan-jangan Anda cuma sebuah kerikil kotor.

Menyalahkan pihak lain adalah cara berpikir dengan sudut pandang korban. “Saya ini dizalimi. Sudah bekerja dengan baik, tapi tidak dihargai, karena saya berada di sistem yang buruk. Apa boleh buat. Terima saja nasib saya. Memang takdir saya begini. Semoga Tuhan segera mengeluarkan saya dari sini. Semoga yang menzalimi saya kelak mendapat azab.”

Banyak orang betah bertahun-tahun berada dalam situasi itu. Keadaan itu menjadi zona nyaman baginya. Ironis bukan? Zona nyaman tapi sangat tak nyaman. Zona nyaman memang tak selalu nyaman. Orang bertahan di situ bukan karena nyaman, tapi karena takut menghadapi keadaan di luar zona itu. Ia takut untuk mengeluarkan tenaga lebih, yang diperlukan untuk membongkar tembok yang membatasi dirinya dengan dunia luar.

Seperti ia ungkap tadi, yang mendapat promosi adalah orang yang dekat dengan atasan. Apakah orang yang dekat dengan atasan itu buruk? Dalam kaca mata korban, yang dekat dengan atasan itu adalah orang yang pandai menjilat, lalu membangun hubungan kroni atau nepotis. Itu hal buruk.

Tapi kita bisa melihat keadaan dekat dengan atasan itu dari sudut pandang lain. Seseorang yang dekat dengan atasan, disukai atasan, artinya ia pandai berkomunikasi. Ia menjaga kepantasan perilaku. Ia pandai menempatkan diri. Singkatnya, ia pandai menjalin hubungan antar manusia.

Itu semua adalah keterampilan, yang tidak dimiliki oleh si pengeluh bermental korban tadi. Ketimbang memeriksa dan memperbaiki diri, ia memilih untuk mengeluh. Karena itu, ia tak beranjak dari tempatnya berada.

Dalam kasus lain, pernah seorang teman menulis tentang seorang gadis cantik. Dengan parasnya, ia segera diterima bekerja. Dalam sekejap, ia disenangi banyak orang. Siapa yang tak senang dengan gadis cantik, bukan? Dalam tempo yang tak lama, karirnya melesat naik. Ia adalah gadis yang beruntung, atau hoki. Begitu teman saya tadi menggambarkannya.

Hoki adalah konsep zona nyaman. Seseorang berhasil karena hoki. Iakebetulan memiliki sesuatu yang menguntungkan dirinya. Keberhasilan adalah sebuah kebetulan. Saya tidak berhasil karena kebetulan saya tak memiliki faktor hoki tadi.

Dengan pikiran itu kita gagal mempelajari kunci-kunci yang membuat orang sukses. Kebetulan, kan? Yang bisa kita lakukan hanyalah menunggu sampai kebetulan yang menguntungkan datang pada kita. Tak ada hal lain yang bisa dilakukan.

Tapi kita bisa melihat cerita gadis cantik tadi dengan cara lain . Pertama, ia menyadari keunggulannya. Ia cantik dan ia sadar. Ada begitu banyak gadis cantik yang tak sadar soal itu. Sebenarnya ia cantik, tapi tak berdandan dengan pantas, untuk membuat kecantikannya terlihat.

Kedua, ia nerperilaku pantas. Tak semua gadis cantik itu menyenangkan. Ada banyak yang menjengkelkan, karena ia pongah. Ketiga, ia bisa melakukan pekerjaan. Gadis cantik yang sekedar punya kecantikan, tak menyelesaikan masalah. Gadis cantik yang tak punya hal lain yang bisa dipakai untuk menyelesaikan masalah, sungguh menjengkelkan.

Artinya, dalam sudut pandang positif, gadis cantik yang melesat karirnya adalah orang yang sadar kecantikannya, dan ia membuat orang nyaman bekerja bersamanya, komunikatif, dan bekerja baik.

Maka, darinya kita bisa belajar bagaimana menemukan keunggulan-keunggulan kita, dan memanfaatkannya untuk bekerja. Kita membangun komunikasi yang baik, dan bekerja dengan baik, menyelesaikan setiap masalah yang dibebankan pada kita.

Lihatlah, bagaimana sudut pandang bisa membuat dunia menjadi tampak sangat berbeda. Berhentilah mengeluh dan menyalahkan pihak lain Perbanyaklah evaluasi diri. Tingkatkan keterampilan dan keahlian. Bangun hard skill dan soft skill.

Kata Covey, kalau kau selalu melihat masalah ada di luar dirimu, ada pada pihak lain, makau kamu adalah orang yang paling bermasalah.

Jidoushi, Tadoushi, dan Tanggung Jawab

Dalam sebuah penerbangan yang terlambat dari jadwal, awak kabin menjelaskan,”Kami mohon maaf atas keterlambatan penerbangan ini, karena pesawat ini tadi terlambat tiba dari Jakarta.” Jadi, siapa yang menyebabkan keterlambatan penerbangan ini? Pesawat. Kita semua tahu bahwa keterkambatan terjadi akibat kesalahan manajemen perusahaan penerbangan. Tapi itu tidak diakui dalam penjelasan tadi.

Saat terjadi kecelakaan, orang biasa berkata,”Mobil saya bertabrakan.” Seakan mobil itu bisa berjalan sendiri lalu bertabrakan. Kejadian sebenarnya adalah, pemilik atau pengendara mobil menabrakkan mobilnya. Tapi hampir tidak pernah ada orang yang bilang,”Saya menabrakkan mobil saya.”

“Bertanrakan” adalah kata kerja intransitf. Dalam tata bahasa kita definisinya adalah kata kerja yang tidak memerlukan objek. Pasangannya adalah kata kerja transitif, yang memerlukan objek. Dalam hal di atas “bertabrakan” adalah kata kerja intransitif, “menabrak” atau “menabrakkan” adalah kata kerja transitif.

Orang Jepang punya definisi yang berbeda soal kedua jenis kata kerja ini. Mereka menyebutnya jidoushi (intransitif) dan tadoushi (transitif). Cara orang Jepang mendefinisikan keduanya merefleksikan sikap bertanggung jawab.

Doushi berarti kata kerja. Ji artinya sendiri atau dengan sendirinya, sedangkan ta berarti (pihak) lain. Jidoushi artinya kata kerja yang menggambarkan kejadian/kerja yang terjadi dengan sendirinya, atau dilakukan sendiri oleh subjek. Sedangkan tadoushi adalah kejadian/kerja oleh subjek kepada suatu objek.

Dalam hal contoh di atas, “bertabrakan” adalah jidoushi (dalam bahasa Jepang “butsukaru”). Bentuk transitif atau tadoushi dari kata ini adalah “butsukeru”. Kalau mengalami kecelakaan, orang Jepang tidak memakai kata kerja intransitif, tapi memakai kata kerja transitif. Mereka akan bilang,”Kuruma wo butsuketa.” (Saya menabrakkan mobil saya.) Mereka tidak akan bilang,”Kuruma ga butsukatta.” (Mobil saya bertabrakan.) Kata kerja dengan akhiran “-ta” menunjukkan bentuk lampau.

Cara mengungkapkan kejadian itu menegaskan soal siapa yang bertanggung jawab. Memakai kata kerja intransitif cenderung membuat kita lupa soal siapa yang bertanggung jawab, karena peristiwa seakan terjadi dengan sendirinya. Orang Jepang secara tegas menggunakan kata kerja transitif, ungkapannya lebih bertanggung jawab.

Ada satu lagi pasangan kata kerja yang bagi saya juga memberi tekanan soal tanggung jawab ini, yaitu kowareru (rusak) dan kowasu (merusak). Bentuk lampau kedua kata kerja ini masing-masing kowareta dan kowashita.

Saat melakukan eksperimen waktu kuliah dulu keteledoran saya menyebabkan sebuah alat laboratorium rusak. Saya melaporkan kejadian itu kepada Sensei (profesor) saya. Dalam logika bahasa Indonesia otak saya berkata, “Alat itu rusak”. Logika itu saya terjemahkan dalam bahasa Jepang, sehingga dari mulut saya keluar kalimat “Souchi (alat) ga kowareta“. Setelah mendengar penjelasan saya, Sensei menjawab, “Kore wa kowareta janaku, kowashita desho.” (Ini sih bukan rusak, tapi kamu rusakkan).

Ada perbedaan mendasar pada dua kata kerja di atas. Kowareru berarti alat itu rusak dengan sendirinya. Sedangkan kowasu berarti ada sesuatu yang menyebabkan kerusakan, dan sesuatu itulah yang (harus) bertanggung jawab. Dalam hal ini saya. Mengungkapkan kejadian di atas dengan kata kowareru adalah bentuk pengingkaran tanggung jawab tersebut.

Perhatikan bahwa orang Jepang mendefinisikan kedua kata kerja tadi dengan cara yang secara tegas menyatakan pihak yang bertanggung jawab atas suatu peristiwa. Ini sangat mempengaruhi cara berpikir mereka. Cobalah kita perhatikan, mana yang lebih sering kita pakai untuk mengungkapkan peristiwa, transitif atau intransitif?

Tanggung jawab dalam hal ini tidak hanya untuk soal-soal yang negatif belaka. Ini berlaku juga untuk hal yang positif. Ada begitu banyak ungkapan yang menunjukkan bahwa tanpa sadar kita banyak berharap atau menganggap tejadinya sesuatu akibat hal-hal yang ada di luar diri kita. Pemilihan subjek atau kata kerja yang kita ambil mewakili pola pikir itu.

Misalnya, ungkapan ini. “Buku saya sudah jadi.” Bandingkan dengan,”Saya sudah selesai menulis buku saya.” Kedua kalimat membawa makna inti yang sama. Tapi kalimat kedua menegaskan usaha yang dilakukan oleh subjek.

Cara kita berbahasa menunjukkan pola pikir kita. Bahkan cara kita berbahasa memberi sugesti yang menggiring cara berpikir kita. Mari gunakan ungkapan-ungkapan yang memberi sugesti positif.

Bisakah Saya Mengatur Waktu?

Saya sering mendengar pertanyaan ini. Bisakah saya mengatur waktu? Seorang mahasiswa becerita bahwa ia sedang berbisnis online, dan usahanya sedang tumbuh. Ia bertanya pada saya, apakah dia perlu menjnggalkan kuliah untuk mengurus bisnisnya. Ia khawatir tidak bisa mengatur waktu dengan baik, sehingga membuat salah satu urusannya terbengkalai.

Ada pula seorang manejer di dealer sepeda motor. Ia anak muda yang penuh semangat. Meski hanya lulusan SMA ia bisa meniti karir, dari petugas sales sampai jadi manejer. Ia ingin menambah ilmu, dengan masuk ke perguruan tinggi. Tentu saja ia harus kuliah sambil kerja. Ia punya kelhawatiran yang sama, bisakah saya mengatur waktu.

Mengatur waktu adalah soal mengelola alokasi waktu. Kita semua punya waktu yang sama, 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Jatah itu tak bisa kita tambah, juga tak bisa dikurangi. Yang bisa kita lakukan hanyalah mengelola waktu itu, untuk apa ia kita gunakan.

Mengelola waktu itu sama seperti mengisi sebuah kotak. Setiap orang punya kotak dengan ukuran atau volume sama. Berapa banyak barang yang bisa kita masukkan dalam kotak itu, tergantung bagaimana kita menyusun barang tersebut di dalam kotak. Kalau kita masukkan barang secara serampangan, maka akan banyak celah di antara barang-barang itu, tidak terisi, dan menjadi mubazir. Kita hanya bisa memasukkan sedikit barang.

Celah tadi adalah waktu antara, waktu luang antara satu kegiatan dengan kegiatan lain. Banyak yang gagal mengelola atau mengisi waktu ini, sehingga waktunya terbuang percuma. Ia lalu merasa tidak punya cukup waktu. Padahal ia punya banyak waktu.

Bagaimana memanfaatkan waktu luang ini? Pertama, usahakan mengatur jadwal dengan rapi, sehingga tidak banyak celah atau waktu senggang antara satu kegiatan dengan kegiatan lain. Persis seperti kita menata rapi letal barang-barang dalam kotak, sehingga celah-celah kecil tadi bisa terakumulasi menjadi celah besar yang bisa diisi dengan barang lain. Praktisnya, segera lakukan hal lain, begitu Anda selesai mengerjakan suatu hal. Atur jadwal agar Anda bisa pindah dari satu agenda ke agenda lain dengan cepat.

Cara lain adalah dengan mengisi waktu luang tadi secara efektif. Ada kegiatan yang bisa dicicil, maka lakukan kegiatan itu di sela-sela kegiatan lain. Banyak orang yang gagal memanfaatkan waktu sela ini. Waktu dalam perjalanan, di bis atau kereta, misalnya, bisa diisi dengan membaca atau menulis. Bagaimana dengan yang menyetir sendiri? Saya dulu sering memanfaatkan waktu selama menyetir dengan berpikir. Banyak gagasan tulisan, atau solusi masalah yang terpikirkan selama menyetir.

Kita bisa pula mengelola kotak waktu kita dengan memperpendek waktu untuk setiap kegiatan. Ibarat memasukkan barang tadi, barangnya kita tekan agar volumnya me jadi lebih kecil. Kita latih diri kita untuk mengerjakan pekerjaan dengan cepat. Sesuatu yang biasanya kita kerjakan dalam waktu 1 jam, kita kerjakan dalam waktu 45 menit. Maka kita punya waktu ekstra, 15 menit.

Apa pekerjaan yang bisa dipercepat? Salah satunya adalah rapat. Ada begitu banyak orang membuang waktu pecuma untuk rapat-rapat yang bertele-tele. Ada banyak rapat yang sebenarnya bahkan tidak perlu dilakukan. Kita bisa berunding lewat telepon atau email, tapi kita memilih untuk rapat. Ditambah lagi, kita rapat secara bertele-tele.

Bila tidak ada lagi celah, tidak ada lagi pekerjaan yang bisa dimampatkan waktu pengerjaannya, maka pilihan terakhir adalah seleksi. Dari sejumlah agenda yang kita miliki, ada sejumlah agenda yang harus kita buang dari jadwal kita, untuk diganti dengan jadwal yang lebih penting. Ini adalah soal penetapan prioritas.

Masih adakah cara lain? Ada. Pakai waktu orang lain. Ibarat kotak tadi, kita tempatkan isi kotak kita ke kotak orang lain. Bagaimana bisa? Itu namanya pendelegasian. Ada banyak hal yang sebenarnya bisa kita serahkan kepada orang lain, tidak perlu kita kerjakan sendiri. Ini namanya pendelegasian. Banyak manejer atau pemimpin yang pontang panting kehabisan waktu, karena ia mengerjakan semuanya sendiri. Sementara bawahannya menganggur. Delegasikan pekerjaan kepada staf, bawahan, atau bahkan sejawat, maka Anda akan bisa menikmati tambahan waktu.

Ingatlah. Kita sebenarnya tak kekurangan waktu. Kita hanya sering membuangnya secara sia-sia.

 

Emak, Cina, dan Arab

Salah satu bagian dari buku baru saya “Emakku bukan Kartini” yang sebentar lagi terbit adalah verità tentang Emak bedagang. Ia membeli pakaian, obat, dan kosmetik, di kota, lalu menjualnya ke kampung, dengan menjajakannya keliling kampung. Waktu kecil saya sering ikut membantu Emak pergi berdagang. Hasil dari berdagang ini jauh lebih besar dari hasil kebun kelapa kami. Dari sinilah uang untuk biaya sekolah kami dihasilkan.

Mulanya ada orang berdagang, sesekali datang ke kampung kami. Ia menginap di rumah kami. Setelah berkali-kali orang itu datang, Emak memberanikan diri mengambil barang dagangannya, lalu menjajakannya. Waktu itu Emak masih mengasuh saya, sehingga tak terlalu serius dengan urusan dagang itu.

Ketika saya sudah agak besar, Emak memberanikan diri. Ia pergi ke kota, minta diperkenalkan kepada pedagang grosir di pasar. Emak membeli barang dagangan, tapi tidak kontan. Ia menitipkan gelang emas sebagai jaminan. Ia mendapat sejumlah barang, kemudian menjualnya ke kampung kami. Hasil penjualan itu disetorkan, lalu ia mendapat barang lagi. Begitu seterusnya.

Setelah berkali-kali, akhirnya jaminan tadi tak lagi diperlukan. Emak boleh mengambil barang dagangan, menjualnya, kemudian menyetor hasil penjualan, setela dipotong keuntungannya sendiri.

Salah satu toko tempat Emak belanja dulu pemiliknya orang Cina, namanya A Song. Saya sering ikut Emak belanja, dan mengenal A Song dengan cukup baik. Tokonya selalu ramai dikunjungi oleh ibu-ibu seperti Emak. Mereka juga berdagang, membeli barang dari A Song, tanpa pembayaran di muka.

A Song dan karyawannya selalu melayani dengan ramah. Setiap tamu yang datang ia sapa dan salami, dan disuguhi minuman. Kalau tiba waktu makan siang, A Song membelikan makanan. Emak biasanya belanja sangat lama, kadang sampai setengah hari.

Toko lain yang juga sering dikunjungi Emak milik orang Arab, namanya Husin. Sama seperti A Song, Ami Husin ini ramah. Ia selalu melayani Emak dengan senyum.

Ada lagi beberapa toko Cina yang dikunjungi Emak untuk membeli beberapa jenis barang lain. Semua sama, ramah, dan Emak tak perlu membeli kontan.

Apa yang mengikat orang-orang itu? Kepentingan dan keuntungan. Suku, agama, tak penting. Yang penting, sama-sama untung. Fondasinya adalah kepercayaan. Saling percaya dan menjaga kepercayaan itu, dan kita sama-sama untung.

Banyak orang membenci Cina. Ada juga yang benci Arab. Mereka memasang stigma bahwa Cina itu licik dan penipu. Tamak dan rakus, hanya mau untung sendiri. Pengalaman saya, tidak demikian. Ipar saya juga berdagang, punya toko. Ia punya begitu banyak kawan Cina, sampai dia fasih bahasa Teu Cew.

Bisnis itu soal uang. Kalau sama-sama menguntungkan, orang tak akan lihat dengan siapa dia berniaga. Tapi di atas soal itu, bisnis itu soal kepercayaan. Kalau orang sudah bisa dipercaya, apapun suku atau agamanya, tak penting lagi. Sebaliknya, kalau sudah culas dan menipu, jangankan saudara sesuku dan seagama, saudara kandung pun tak patut dijadikan mitra.

Saya menikmati keindahan hubungan yang dibangun atas dasar saling pecaya, saling menghormati, dan saling menguntungkan itu. Berkat itulah, kami bersaudara bisa sekolah, dan kemudian bekerja dengan layak. Hubungan itu membantu kami keluar dari kemiskinan.

Saya percaya hubungan seperti itu dapat dibangun di manapun, oleh siapapun.