Category Archives: Media

Radio

 

radio

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ayah sebenarnya suka pada radio. Di kampung kami hampir tak ada sarana hiburan. Alunan lagu-lagu yang disiarkan oleh RRI atau RTM (Radio Televisyen Malaysia) adalah hiburan yang menyenangkan. Tapi bagi Ayah radio lebih dari sekedar lagu-lagu. Ada azan pemberi tahu waktu salat. Juga ada ceramah agama.

Tapi Ayah tak hendak membeli radio. “Ah, apa pula bagusnya. Hanya ada suara orang menyanyi dan mengaji, tapi tak nampak orangnya. Kalau dah nampak orangnya, barulah aku mau beli.” begitu dalih Ayah selalu kalau ada orang menawarkan radio kepadanya. Aku tak sepenuhnya percaya bahwa itu alasan yang sebenarnya. Ayah sepertinya memang menahan diri untuk tidak membelanjakan uangnya untuk kesenangan, karena anak-anaknya mesti disekolahkan.

Ayah harus berpuas dengan limpahan suara radio tetangga. Di kampung kami orang biasa berbagi. Termasuk dalam hal suara radio. Orang yang punya radio membunyikan radionya keras-keras agar tetangga juga bisa ikut mendengar.

Waktu berlalu. Di kota kata orang sudah ada televisi. Ya, inilah radio impian Ayah. Yang menyanyi dan berbicara sudah terlihat. Orang-orang menggoda Ayah untuk membeli. “Nah, sekarang radio impian awah sudah ada, bila nak beli?” begitu tuntutan mereka. Ayah Cuma tersenyum kecut, termakan omongannya sendiri. Ketika itu abangku sudah lulus SPG dan mulai bekerja sebagai guru di kota. Ayah mungkin sudah sedikit lega, lalu memanjakan dirinya dengan sebuah kesenangan kecil. Ayah membeli televisi? Ah, tidak. Ayah hanya membeli sebuah radio.

Radio yang dibeli Ayah adalah radio tiga band. Sudah pakai transistor. Jauh terlihat lebih modern dari radio tua yang ada di rumah nenek. Badannya dari plastik, bukan kayu. Ukurannya juga kecil, bisa dibawa-bawa. Baterinya tiga. Kalau bateri lampu senter Ayah sudah melemah, bateri tersebut dipasang di radio.

Sejak punya radio barang pujaan Ayah yang tak boleh disentuh orang lain bertambah jadi dua. Tadinya hanya lampu senter. Ayah marah besar kalau aku main-main dengan benda itu. Khususnya bila saat dia membutuhkannya di malam hari dia tak menemukannya. Pastilah aku jadi sasaran amuknya. Kini barang pusaka Ayah bertambah satu lagi, yaitu radio.

Ayah tak mengizinkan aku menyentuh radio itu. “Nanti rusak.” katanya. Aku paham. Dan aku pun tak tertarik benar dengan radio. Tak seperti lampu senter yang selalu memancing hasratku untuk menyentuh dan menyalakannya.

Ayah suka mendengar warta berita, juga ceramah agama. Untuk lagu-lagu Ayah lebih suka mendengarkan RTM. RRI banyak menyiarkan lagu-lagu yang tak dikenal Ayah. Sedangkan dari RTM masih sering mengalun lagu-lagu dari penyanyi kegemaran Ayah, P. Ramlee.

Tapi radio bagi Ayah bukan hanya itu. RRI di kota punya acara berita pendengar yang disiarkan petang hari menjelang magrib. Sambil menunggu azan Ayah menyimak berita-berita itu. Berita atas permintaan pendengar, ditujukan untuk pendengar lain. Berbagai ragam berita yang disiarkan. Ada berita gembira seperti kelahiran, ada juga berita duka tentang sakit dan kematian. Pedagang yang berniaga menyampaikan berita tentang harga-harga barang dagangan.

Aku masih ingat betul suaranya. „Berita berikut datang dari Pak Aslam di Pontianak, ditujukan kepada sanak saudara di Kubu. Isi berita, telah berpulang ke rahmatullah ibunda kami…………..“ Kadang-kadang ada sanak saudara di kota yang mengirim berita kepada orang di kampung kami. Kalau Ayah mendengar berita itu, dia akan bergegas menyampaikannya kepada yang dituju.

Sesekali Emak juga mengirim berita kalau dia sedang pergi ke kota. Emak seorang pedagang. Dia membeli pakaian, obat, kosmetik, serta berbagai barang lain di kota, untuk dijajakan berkeliling kampung. Kalau ke kota, Emak berbelanja dalam jumlah besar. Emak pulang naik kapal motor. Tapi kapal motor hanya sampai ke kecamatan. Dari situ harus naik sampan lagi ke kampung kami.

Menjelang pulang Emak mengirim berita, memberitahukan dia akan pulang hari apa. Lalu pada hari tersebut aku dan Ayah berkayuh sampan, pergi menjemput Emak ke kecamatan.

Aku pernah mendapat berita yang ditujukan untuk diriku sendiri. Hanya sekali. Waktu itu Emak dan Ayah pergi ke kota. Emak sakit dan dia perlu berobat. Aku pikir Emak hanya perlu ke dokter untuk diperiksa dan minta obat, lalu segera kembali. Tapi dua hari setelah keberangkatannya aku mendengar berita dari Ayah, melalui radionya. Isinya: Emak harus diopname di rumah sakit.

Kelak setelah aku sekolah di madrasah tsanawiyah di kota, aku bersama dua siswa lain dipilih untuk mewakili sekolah dalam acara cerdas cermat kandungan al-Quran pada acara MTQ. Aku jadi juru bicara. Acaranya disiarkan langsung oleh RRI. Di tingkat kota kami juara. Lalu kami mewakili kota di MTQ tingkat provinsi, kami juara tiga. Acara itu juga disiarkan secara langsung oleh RRI. Ayah memberi tahu dan mengajak orang kampung untuk mendengarkan siaran itu.

 

TVRI

image

 

 

 

“Ayah kan bukan reporter, dan tidak pernah jadi reporter, kenapa Ayah mau melatih para reporter?” protes Sarah saat mendengar bahwa saya akan mengisi pelatihan untuk reporter TVRI. Saya sempat hilang percaya diri. “Panitianya mengindang Ayah karena Ayah pernah bekerja sebagai peneliti. Sepertinya mereka ingin mengaji metode jurnalistik dari aspek risetnya,” jawab saya.

Sebelum acara dimulai saya berbincang dengan bu Usi Karundeng, beliau menyatakan alasan mengundang saya kurang lebih sama dengan yang saya jelaskan pada Sarah.

Bulan ini saya mendapat 2 berkah penting, yaitu terwujudnya 2 impian saya. Beberapa tahun yang lalu saya pernah berbincang dengan kawan saya, Sopril Amir soal media. Ringkasnya, saya butuh media untuk menyampaikan gagasan saya.

Dulu saya cukup sering menulis di koran. Tapi setiap kali menulis saya merasa terbelenggu. Saya harus menulis sambil membayangkan apa yang diinginkan redaksi, lalu meraut pendapat saya agar sesuai dengan keinginan mereka, agar dimuat. Akhirnya saya tak sanggup lagi. Saya berhenti menulis di koran. Kepada Sopril saya sampaikan bahwa saya butuh media bebas yang tidak membelenggu.

Waktu itu saya membuat blog. Tapi jumlah akses ke blog sangat rendah, sehingga tulisan saya lebih banyak sekedar jadi arsip. Facebook menyediakan ruang interaksi yang lebih baik, terlebih setelah berbagai fasilitas seperti “share” ditambahkan. Viralitas gagasan meningkat.

Setelah beberapa kali mendapat gangguan di Facebook, dengan bantuan Endro Sulistianto yang sejak tahun 2006 setia mengawal blog saya, saya hidupkan lagi blog dengan domain saya sendiri.

Dua minggu yang lalu seorang kawan wartawan Kompas menawari saya kesempatan untuk menulis kolom di Kompas online. Dibanding dengan blog milik saya jangkauannya tentu lebih luas. Berbeda dengan tulisan di media cetak, di sini tidak ada batasan ruang. Jadi saya bisa menulis tiap hari. Jadi, mimpi saya untuk punya media tempat menuliskan gagasan, kini terwujud.

Soal TV, sudah lama saya gemas melihat kualitas laporan yang disiarkan oleh berbagai stasiun TV. Bobot kandungan rendah, metode peliputan buruk, kualitas laporan juga rendah. Bahkan kemampuan bahasa para reporter maupun penyiar sangat rendah. Beberapa kali saya ungkapkan bahwa saya sangat ingin memberi masukan kepada mereka.

Keinginan saya itu akhirnya terwujud. Dua minggu yang lalu Bu Usi mengontak saya untuk mengisi pelatihan di TVRI.

Ya, TVRI. Kita yang berumur lebih dari 35 tahun tentu pernah merasakan zaman di mana kita hanya punya 1 saluran siaran TV. Kita betah menonton meski acaranya hanya berupa pidato menjemukan yang disampaikan oleh Presiden Soeharto, atau keterangan pers oleh Harmoko. Karena kita tidak punya pilihan lain.

Tapi kita juga ingat bahwa TVRI pernah punya acara legendaris seperto Dunia Dalam Berita, drama Losmen, serta berbagai kuis yang diproduksi oleh Ani Sumadi. TVRI sudah begitu lama memberi kita berbagai informasi dan hiburan.

Kini kita punya banyak saluran, termasuk saluran TV berbayar yang jumlah salurannya bisa mencapai seratus. Masihkah kita menonton TVRI? Mungkin sebagian besar dari kita tidak.

Tapi ingat, TVRI adalah aset bangsa. Ia mungkin masih menjadi saluran TV dengan jangkauan paling luas. Ia juga satu-satunya TV yang tidak komersil. Jadi ada banyak harapan bisa kita sematkan kepadanya.

Tentu tak sedikit dari kita yang mencibir. TVRI kuno, dan tidak kreatif. Itulah kenyataannya. Peralatan siaran dan peliputan sudah tua. Dulu peralatan itu berasal dari bantuan JICA, dan kini tidak ada lagi bantuan. Dana dari pemerintah pun tak seberapa.

Jadi, bagaimana TVRI akan berperan di tengah ketatnya persaingan media seperti sekarang? Hal itu biarlah dijawab oleh pihak manajemen TVRI. Porsi saya kecil saja, menyumbangkan sedikit kepedulian dan pengetahuan saya untuk pernaikan kualitas SDM TVRI.

Kepada peserta pelatihan, para reporter dari berbagai daerah, saya ajarkan untuk melakukan riset kecil untuk memperkaya liputan dan laporan. Wartawan harus punya pengetahuan luas dan selalu memperluas pengetahuan. Mereka harus punya pengetahuan tentang apa yang mereka liput dan laporkan. Tanpa itu laporan mereka hanya akan jadi sekumpulan gambar dan suara tanpa isi.

Saya ajarkan kepada para reporter itu bagaimana belajar secara cepat melalui internet. Juga bagaimana mencari sumber informasi yang sahih.

Di akhir pelatihan saya ajak mereka untuk mengevaluasi laporan yang pernah disiarkan yang saya ambil dari Youtube. Saya ajak mereka mencari kesalahan dalam laporan tersebut. Mereka kaget, dalam sebuah laporan berdurasi 3 menit bisa ditemukan sampai 6-7 kesalahan dalam berbagai bentuk. Itu adalah kesempatan yang sangat bagus untuk mengevaluasi diri.

Dalm diskusi peserta banyak mengeluhkan berbagai belenggu yang melilit mereka. Mulai dari kekuasaan editor, sampai ke kecenderungan kompetisi berbagai stasiun untuk mengejar rating, bukan kualitas. Saya sampaikan bahwa kita semua, dalam bidang apapun, berhadapan dengan gunung tinggi masalah. Melihat besarnya masalah, kita bisa langsung putus asa. Tapi saya tidak. Saya tidak mau dibelenggu. Saya selalu mencari jalan untuk berkontribusi menyelesaikan masalah, sekecil apapun. Seperti saya ceritakan di atas, kalau kita mau bersabar, selalu ada saja jalan.

Sebagai penutup saya ajak mereka untuk terus menerus belajar, memingkatkan kualitas diri. Ada banyak kesempatan belajar melalui berbagai fellowship yang disediakan khusus bagi wartawan. Saya dorong mereka untuk mengikuti program tersebut.

Saya percaya TVRI bisa lebih baik lagi, dan kita bisa berkontribusi untuk memperbaikinya dengan cara kita masing-masing. Karena TVRI itu milik kita.

Kecanduan Fakta Palsu

faktaAda sekelompok orang yang gemar memproduksi fakta palsu, kemudian bergembira dengan fakta itu. Menurut saya ini semacam kecanduan.

Setiap kali ada yang membuat fakta palsu, selalu ada bantahannya. Tapi sejumlah orang terus memproduksinya, lalu ada puluhan ribu orang di media sosial yang bergembira karena itu. Melihat sebuah “fakta” tentang sesuatu yang sesuai dengan angan, mendatangkan kebahagiaan bagi mereka. Bahwa kemudian dibuktikan bahwa fakta itu palsu, tak masalah. Mereka hanya butuh kebahagiaan saat melihatnya pertama kali. Continue reading