Category Archives: Media

Media Sosial, untuk Apa?

Tahun lalu dalam kunjungan ke Jepang, saya bertemu dengan seseorang yang sudah agak tua, usianya 60 tahun lebih. Sambil makan malam, obrolan kami masuk ke bahasan soal media sosial. Orang ini tidak punya akun media sosial apapun. Ia heran dengan orang yang main media sosial.
 
“Kenapa saya harus membagikan foto saya saat makan, atau bepergian, untuk dilihat orang lain?” tanyanya heran. Saya tak heran dengan pertanyaan itu. Ada begitu banyak orang yang heran dengan perilaku manusia di dunia maya. Untuk apa itu semua?
 
Suka atau tidak, media sosial adalah kebutuhan sebagian orang. Kalau bukan kebutuhan, produk ini tidak akan jadi industri, bukan? Sebagaimana produk lain, ada yang tidak membutuhkannya. Itu pun biasa saja.
 
Tapi pertanyaan tadi penting untuk dijawab. Untuk apa kita membagikan foto saat kita makan? Atau, makanan yang kita makan. Untuk apa kita membagikan foto anak kita? Atau, foto liburan keluarga kita?
 
Jawabannya bisa beragam. Kadang kita ingin memamerkan kebahagiaan kita, atau keberadaan materi kita. Ada juga yang ingin memamerkan, dengan siapa saja dia bergaul. Baik dengan kalangan elit, maupun dengan kalangan pinggiran, keduanya ingin memamerkan. Kita sedang membangun citra diri. Ada yang mencitrakan dirinya sebagai orang sukses dan kaya, ada pula yang membangun citra sederhana. Masalah? Tidak. Membangun citra, itu hal yang biasa saja. Dalam kehidupan keseharian pun, kita sedang membangun citra.
 
Yang tidak bagus adalah membangun citra palsu. Orang miskin berlagak kaya. Korup, tapi sok suci. Atau, membangun citra yang berlebihan. Kalau isi media sosial Anda hanya pamer kekayaan, apakah Anda tidak punya hal lain dalam hidup?
 
Tapi tidak sedikit orang yang sekadar menjadikan media sosial sebagai tempat berbagi kabar dengan teman, atau sanak saudara. “Kami sedang berkunjung ke sini, lho.” Atau,”Kami sedang melakukan ini, lho.”
 
Ada pula yang menggunakan media sosial untuk mempengaruhi orang lain. Ia melakukan propaganda. Propaganda bisa positif, bisa pula negatif secara absolut, bisa pula secara relatif. Tujuan propaganda adalah untuk menggiring orang pada suatu pemikiran, nilai, atau bahkan untuk bertindak.
 
Propaganda dengan mudah bisa kita temukan di media sosial. Bahkan, mungkin ini salah satu komponen terbesar media sosial kita. Propaganda politik, agama, kepentingan golongan. Hal terpenting pada propaganda adalah, ia tidak begitu mementingkan basis fakta, atau kebenaran. Yang penting adalah bagaimana menggiring orang.
 
Ada begitu banyak pengguna media sosial yang ambil bagian dalam permainan propaganda. Ingat, kunci terpenting pada media sosial adalah pada peran para pengguna. Suatu muatan tidak akan bermakna kalau tidak diteruskan secara massal, menjadi viral. Kekuatan media sosial bukan sekedar pada pembuat muatannya, tapi justru pada penyebarnya.
 
Tanpa disadari, banyak orang yang menjagi bagian sebuah propaganda. Ikut menyebar sesuatu, yang ia sendiri mungkin tidak tahu. Korban propaganda, mencari korban lain.
 
Sebaiknya bagaimana? Tetapkanlah nilai, lalu bermainlah di dunia sosial media berdasar nilai itu. Lebih penting lagi, jadikan media sosial sebagai tempat untuk mengevaluasi nilai-nilai yang kita anut. Persis seperti saat bergaul di dunia nyata, di mana kita hidup dengan nilai, Dalam interaksi, kita mengubah nilai kita, atau membuat orang lain mengubah nilainya.
 
Dalam media sosial, saya banyak membuat posting tentang nilai yang saya anut, misalnya soal ketertiban sosial, kebersihan lingkungan, good governance, self development, toleransi, pendidikan, kehangatan keluarga, dan sebagainya. Saya posting foto makanan, kemudian saya berbagi pengetahuan tentang makanan itu, resep, tempat kuliner, atau seluk beluk lain terkait dengannya. Demikian pula saat liburan, saya berbagi informasi tentang tempat liburan, serta nilai tentang bagaimana kehangatan keluarga saat liburan.
 
Tapi, seperti saya ungkap di atas, saya juga narsis, membangun citra, pamer dan sebagainya. Hal-hal yang biasa dilakukan banyak orang di media sosial.
 
Ingat, media sosial adalah tempat di mana orang bisa melihat kita. Apa yang ingin kita perlihatkan? Dalam istilah keren, ini adalah tempat untuk melakukan personal branding. Maka, biasakan untuk menghasilkan dan membagikan gagasan di media sosial. Orang akan mengenal Anda melalui gagasan itu.
 
Saya menikmati hasil dari kegiatan di media sosial. Saya menjadi penulis, baik kolom maupun buku. Bahkan ada yang berminat mengumpulkan meme buatan saya menjadi sebuah buku. Saya juga diundang ceramah di banyak tempat, dengan tema yang bervariasi. Nah, penting bagi setiap orang untuk bertanya pada diri sendiri, apa yang dia hasilkan dari aktivitas media sosial.

Fakta dan Opini

Saya terbiasa membedakan antara fakta dan bukan fakta. Yang bukan fakta di antaranya adalah opini, analisa, isu, persepsi, prasangka, dan fitnah. Saya pernah bekerja sebagai ilmuwan. Hal paling penting dari kerja ilmuwan adalah memilah antara fakta dan bukan fakta. Bekerja 12 tahun sebagai peneliti fisika membuat saya terlatih.

Selain itu selama 20 tahun terakhir saya bekerja dalam lingkungan Jepang. Salah satu keunikan budaya Jepang adalah mereka memisahkan dengan tegas antara fakta dan bukan fakta. Misalnya kita hendak mengungkapkan “jam ini mahal”, dalam bahas Jepang kalimatnya menjadi “Kono tokei wa takai.” Kalimat itu hanya diucapkan bila seseorang memang benar-benar tahu harga jam itu, dan secara objektif harga itu memang mahal. Bila ia hanya menduga, ia akan mengatakan “Kono tokei wa takai to omou.” Saya pikir jam ini mahal.

Kalau dia mengira (dari tampilan jam), ia akan bilang, “Kono tokei wa takasou.” Kalau ia mendengar dari orang lain bahwa jam itu mahal, ia akan bilang,”Kono tokei wa takai souda.” Masih ada beberapa jenis ungkapan lain, memastikan terpisahnya fakta dan bukan fakta. Saya terbiasa dengan logika itu.

Dalam keseharian kita terbiasa dengan informasi yang tidak dipilah antara fakta dan bukan fakta. “Fulan Marah,” begitu judul berita. Apakah Fulan Marah itu fakta? Marah itu adalah suatu keadaan emosi yang sebenarnya sangat rumit untuk didefinisikan. Ada orang yang bicara sambil gebrak-gebrak meja, tapi dia tidak sedang marah. Orang yang belum mengenal dia akan mengira dia sedang marah. Maka dalam hal ini, kalau yang terlihat adalah gebrak meja, maka faktanya adalah gebrak meja. Marah bukan fakta, tapi persepsi.

Banyak hal yang sifatnya relatif bila diungkap tanpa ukuran. Mahal, murah, cepat, lambat, semua itu hal yang relatif, sesuai persepsi. Ukuran menjelaskan faktanya. Daging sapi mahal. Itu persepsi. Harga daging sapi Rp 130 ribu per kilo, itu fakta. Fakta tidak berubah, siapapun melihatnya. Mahal atau murah, tergantung siapa yang menilai. Hujan lebat, itu soal persepsi. Berapa milimeter, itu faktanya.

Persepsi bisa dianggap fakta atau mendekati fakta bila ia dianut oleh sangat banyak orang. Harga daging sapi mahal bisa menjadi fakta bila harganya adalah Rp 150 ribu per kilo. Bagi umumnya rakyat Indonesia harga itu mahal. Maka tak salah bila dalam hal ini diberitakan bahwa harga daging mahal.

Bagaimana memilah fakta dan bukan fakta saat kita menyampaikan informasi? Pertama, sertakan fakta. Misalnya tadi, ketika kita bilang mahal, sertakan berapa harganya. Dengan begitu orang bisa memilih untuk setuju atau tidak dengan persepsi kita soal mahal atau tidak.

Kedua, tegaskan derajat informasi yang kita sampaikan. “Informasi yang saya terima dari….” Kita membuka peluang adanya informasi lain. Cara lain,”Saya dengar……” Dugaan kita bukanlah fakta, maka kita katakan,”Menurut dugaan saya…” Atau,”Kesimpulan saya…”

Bagaimana membedah fakta atau bukan? Dengan memperkaya diri dengan informasi dan berpikir dengan benar. Kemarin setelah Arcandra dipecat ada kabar bahwa ia dipecat karena ada yang terancam. Ia katanya sudah komunikasi dengan KPK, berkas informasinya sudah lengkap, untuk membongkar kasus di zaman Sudirman Said. Dengan dipecatnya Arcandra, kasusnya tidak akan diproses.

Kita yang paham tentu tahu bahwa kerja KPK tidak tergantung kerja sama menteri. Dalam banyak kasus justru menterilah yang dicokok KPK. Kalau Acandra punya data, kasus akan jalan sekalipun ia bukan menteri lagi.

Begitulah. Banyak orang memproduksi sampah yang dianggap sebagai fakta. Mereka jadi seleb media sosial. Beberapa di antaranya dijerat dengan tuduhan kriminal. Saran saya, jangan terpesona pada tokoh, termasuk pada saya. Tetap waras mengurai fakta dan bukan fakta.

Agama di Media Sosial

Pernah saya berdiskusi dengan seorang ustaz di rumah saya. Saya sampaikan hal-hal yang menjadi pertanyaan saya tentang Islam. Setelah itu kami salat berjamaah, dan saya persilakan dia untuk menjadi imam. Usai salat dia bercerita. “Waktu diskusi tadi sebenarnya saya sedang berusaha keras menahan emosi. Hampir saja Pak Hasan saya terjang dan saya pukuli, kalau saya tidak berpikir panjang,” katanya.

“Kenapa begitu?” tanya saya.

“Apa yang Bapak pertanyakan, apa yang Bapak kritikkan itu adalah hal-hal yang selama ini saya baca di internet. Setiap kali saya baca, saya sangat marah, rasanya ingin saya tinju monitor komputer saya. Nah, kini hal-hal yang saya baca itu saya dengar langsung dari orangnya sendiri, hadir di depan muka saya,” jelasnya. Saya memang menanyakan, tepatnya mempertanyakan banyak hal dalam Islam secara kritis. Untungnya di akhir diskusi dia akhirnya paham bahwa saya tidak sedang menghina Islam, melainkan sedang berusaha memahami. Di akhir cerita, dia menyarankan saya untuk berdiskusi dengan ulama lain, yang dia anggap lebih mumpuni. “Doktor harus dihadapkan dengan doktor,” kata dia. Saya datangi ulama yang dia sarankan, tapi diskusi tidak berkembang baik. Ulama itu menjawab singkat,”Saya tidak pernah berpikir tentang hal itu.” Selesai.

Internet membuat dunia menjadi seakan  tanpa batas. Media sosial membongkar batas-batas yang selama ini masih tersisa di dunia internet, menjadi benar-benar tanpa batas. Kita yang biasanya bergaul dengan orang dari kalangan yang sangat terbatas, kini dicampurkan dalam suatu bak besar bernama media sosial. Topik-topik sensitif yang biasanya enggan kita bahas di ruang nyata, menjadi hal yang tak lagi tabu dibahas di ruang maya. Interaksi yang memuat kejutan seperti yang terjadi antara saya dengan ustaz tadi, berlangsung hampir setiap menit di ruang maya.

Yang terjadi di dunia maya adalah manusia-manusia yang nyaris tanpa profil, saling berinteraksi. Manusia-manusia yang tak saling kenal satu sama lain, berbicara tanpa batas. Lebih pelik lagi, jalur komunikasi yang dipakai adalah bahasa tulis, yang sering kali gagal menyampaikan maksud secara utuh. Maka media sosial adalah dunia yang sangat rawan konflik.

Tidak hanya itu. Dunia sosial juga menghilangkan strata sosial dan segmen usia. Seorang cendekia dengan posisi terhormat di dunia nyata, bisa berinteraksi dengan anak SMP, atau buruh kasar di proyek konstruksi. Kiyai besar dengan ilmu mendalam, bisa berinteraksi dengan anak kemarin sore yang baru belajar agama lewat majelis halaqah. Perbedaan status sosial, level pengetahuan, dan sebagainya juga bisa menimbulkan konflik.

Pernah saya ungkapkan suatu fakta sejarah tentang rumah tangga nabi, yaitu konflik antara nabi dengan istri-istri beliau terkait kehadiran Maria Qibtiyah. Fakta itu sebenarnya tertulis di kitab-kitab tafsir, sesuatu yang biasa didiskusikan. Masalahnya, sangat banyak orang yang berislam tanpa belajar. Mereka hanya mendengar secuil doktrin, dan mempercayainya tanpa periksa. Kontan mereka marah dengan fakta yang saya ungkap tadi, dan menuduh saya memfitnah dan menghina nabi.

Semua itu menjadi tambah panas bisa bercampur dengan kepentingan politik. Politik kita masih sebatas politik emosi. Laksana penonton bola, publik kita melihat politik dengan bingkai nalar “yang penting pihak saya menang”,  bukan atas kepentingan-kepentingan yang lebih mendasar seperti terpenuhinya hak-hak dia sebagai warga negara. Akibatnya, semangat untuk menang lebih mendominasi pola komunikasi.

Ketika pikiran kita sudah dipenuhi oleh keberpihakan berbasis emosi, maka tidak ada lagi objektivitas. Tadi saya membaca posting orang yang memuat kritik saya terhadap Aa Gym, soal anjing pelacak di bandara. Ia menuduh saya bersikap kurang ajar. Kata-kata saya dia anggap kurang ajar. Tapi persis di bawah posting itu, ia memuat posting yang memaki-maki Ahok. Padahal kritik saya terhadap Aa Gym hanya berupa sindiran satire, tanpa makian.  Bahkan, menurut teman saya yang berteman dengan dia, orang ini sebenarnya biasa memaki orang lain.

Apakah saya selalu objektif? Saya tidak berani mengklaim begitu. Yang bisa saya klaim adalah saya berusaha untuk selalu objektif. Obejektivitas, sayangnya, sering ditetapkan secara subjektif. Itulah peliknya.

Jadi bagaimana? Saya menetapkan platform dalam bermedia sosial, agar tidak larut dalam konflik, meski konflik sering kali memang tidak bisa dihindari. Pertama, saya menjunjung tinggi kemerdekaan berpikir dan berekspresi. Dalam hal ini saya bahkan terpaksa berbenturan dengan admin Facebook sendiri, apa boleh buat. Kedua, saya bermedia dengan basis pengetahuan dan fakta. Sering saya merevisi atau menghapus sebuah posting yang kemudian saya sadari tidak kuat basis faktanya. Ketiga, saya tidak berminat mengubah pandangan orang-orang yang memang sudah diametral pertentangannya dengan saya. Yang bisa saya lakukan hanya membuka dialog untuk saling memahami. Bila pun itu tidak tercapai, minimal saya memberi kepercayaan diri kepada orang-orang yang sepaham dengan saya. Banyak orang yang punya pendirian tertentu tapi tidak tahu cara mempertahankan pendiriannya itu dengan argumen yang akurat. Saya menyediakan itu bagi mereka.

Facebook bagi saya hanyalah media untuk bertaaruf dengan jujur. Inilah saya. Sosok saya, atau apa yang saya pikirkan tidak selalu menyenangkan bagi orang lain. Dalam dunia nyata pun sebenarnya demikian. Hanya saja, saya tidak berinteraksi di dunia nyata sebanyak interaksi saya di dunia maya.

Merindukan Ikon Kebanggaan

Cukup lama Khoirul Anwar, orang Indonesia yang bekerja sebagai peneliti di Jepang dikenal sebagai “penemu teknologi 4G’ oleh sebagian masyarakat Indonesia, hingga akhirnya ia menegaskan melalui Kompas.com bahwa dia bukan penemu teknologi itu. Seingat saya sudah sejak tahun 2012 ia dikenal dengan “julukan” itu, sejak ia tampil di acara Kick Andy di Metro TV.

Kita dulu juga pernah dihebohkan oleh berita tentang Nelson Tansu, yang dikabarkan menjadi profesor di usia 25 tahun di Leigh University, Amerika. Ia disebut sebagai profesor termuda di dunia. Faktanya Nelson waktu itu adalah seorang assistant profesor, jenjang jabatan pertama yang diduduki seorang dosen yang baru lulus pendidikan doktorat.

Cukup lama juga kita mengira pendidikan kita sudah hebat, terbukti dengan banyaknya pelajar kita yang memenangkan medali emas pada berbagai olimpiade sains tingkat internasional. Olimpiade itu sebenarnya tidak begitu populer di negara-negara maju seperti Jepang. Lebih dari itu, medali emas pada olimpiade sains sebenarnya berbeda dengan medali emas olimpiade olah raga. Pada olimpiade sains, penerima medali emas tidak hanya satu orang, melainkan beberapa orang. Artinya, menerima medali emas itu bukan berarti juara satu.

Saya juga sering membaca tentang pesawat terbang R80 buatan Habibie. Diberitakan atau tepatnya dibicarakan seolah-olah pesawat itu sudah siap terbang. Padahal prosesnya masih sangat panjang. Waktu berkesempatan berbincang dengan Ilham Habibie, dia menjelaskan bahwa proses perancangan pesawat itu baru akan selesai tahun 2016 ini. Kemudian masuk ke pembangunan purwarupa. Proses ini akan lebih panjang lagi.  Sebagai catatan tambahan, pesawat yang sekelas yaitu MRJ buatan Mitsubishi sudah menjalani uji terbang pertama bulan November 2015, setelah mengalami beberapa kali penundaan. Artinya, R80 pun mungkin akan mengalami berbagai jenis penundaan.

Ceritanya jadi tambah heboh kalau kita bahas soal mobil listrik, yang konon sempat mau “diambil” oleh Malaysia. Tak lupa pula kita dengan Tawan, Iron Man dari Bali.

Mengapa orang-orang  sering berlebihan dalam membicarakan sesuatu? Karena kita kekurangan ikon yang membanggakan. Sepak bola, olah raga yang paling banyak digemari di Indonesia, tidak punya prestasi. Malah kini sedang dalam kisruh berkepanjangan. Bulu tangkis juga hidup segan mati tak mau, khususnya bila dibandingkan dengan prestasi kita di masa lalu. Kita haus akan kehadiran orang-orang berprestasi yang bisa membuat kita bangga.

Sementara itu situasi di bidang lain juga tidak menyenangkan. Setiap hari kita disuguhi dengan berita-berita tentang pejabat korupsi, atau memakai narkotika. Atau tentang pejabat-pejabat pongah yang suka menghamburkan uang negara. Ironisnya, kalau ada pejabat yang baik pun, masih ada pula orang yang mencari-cari celanya untuk dihujat.

Dalam situasi itu, ada segelintir orang yang memang suka membesar-besarkan, membuat klaim-klaim. Ada peneliti yang sampai merasa perlu untuk membuat siaran pers ketika makalahnya dimuat di jurnal bergengsi, padahal ia cuma penulis keempat. Atau ada yang mengabarkan ke media ketika ia memenangkan penghargaan sebagai presenter terbaik pada sebuah konferensi, padahal itu biasa saja. Ada yang dengan bangga mengatakan bahwa nama Indonesia telah menggetarkan daratan Eropa ketika putra-putri kita menang di olimpiade sains. Adduuuuh.

Masyarakat kita umumnya tidak kritis, karena tidak tahu. Urusan teknologi 4G misalnya, kebanyakan sarjana lulusan S1 pun banyak yang tidak tahu tentangnya. Demikian pula halnya dengan hal-hal lain seperti teknologi mobil listrik, olimpiade sains, dan sebagainya. Bahkan awak media kita tak punya cukup pengetahuan untuk membedakan antara menciptakan dan merakit. Media bukan penjelas kabar, tapi penyebar kabar tak jelas. Maka jadilah kita ini sebagai bangsa konsumen hoax dan berita kabur.

Saya menempatkan diri sebagai penyedia informasi terang, sebatas kemampuan yang saya miliki. Kadang posisi itu saya ambil dengan resiko dimaki-maki sebagai orang yang dengki.

Menulis Skripsi

Banyak orang kesulitan dalam menulis skripsi. Ada yang sampai menghabiskan waktu bertahun-tahun. Faktor penyebab kesulitan ada banyak, termasuk di antaranya dosen pembimbing yang menyulitkan. Tapi  faktor utama biasanya ada pada orang tersebut.

Saya bukan mahasiswa cemerlang dengan IPK tinggi. Boleh dibilang IPK saya jeblok, karena selama masa kuliah, saya lebih banyak aktif di gelanggang mahasiswa ketimbang aktif kuliah. Tapi ketika tiba waktunya saya harus lulus, saya putuskan untuk lulus. When I’m done, I’m done. Memasuki tahun ke enam, bagi saya sudah cukup. Jaman itu mahasiswa yang kuliah dengan baik, biasanya lulus 5 tahun. Ketika masa itu sudah saya lewati, saya pikir saya harus memutuskan. Maka saya sudahi kegiatan saya di gelanggang, saya kembali ke kampus. Saya mengulang mata kuliah yang belum lulus atau nilainya rendah, dan saya mulai mengerjakan skripsi.

Ada tren waktu itu, mahasiswa mengerjakan penelitian duplikatif. Metode penelitian sama, hanya ganti sampel. Jadi dalam banyak hal tinggal copy paste terhadap skripsi yang sudah ada. Saya tidak tertarik dengan cara ini. Saya cari tema yang belum banyak dikerjakan. Kebetulan ada dosen yang baru selesai S2 di UI, Pak Wagini namanya. Penelitian S2 dia tentang kristal alkali halida yang diberi warna dengan emisi laser. Gejala ini disebut color center. Tentu tak mungkin melakukan penelitian dengan tema serupa di UGM karena peralatannya tidak tersedia. Tapi Pak Wagini memberi tahu saya bahwa pewarnaan (coloration) kristal dapat dilakukan dengan cara lebih sederhana, yaitu dengan memberikan tegangan listrik pada suhu tinggi. Berbekal sketsa alat dari Pak Wagini, saya meminta bagian Bengkel FMIPA UGM untuk membuat oven untuk keperluan pewarnaan tadi.

Langkah berikutnya adalah soal penyediaan kristal. Kristal yang ada di tangan Pak Wagini sudah dipakai berulang-ulang, sehingga kualitasnya tidak bagus lagi. Lalu bagaimana? Saya tahu Pak Wagini mendapatkan kristal itu dari profesor pembimbingnya, orang Jepang yang kebetulan jadi profesor tamu di UI. Namanya Kagawa, dari Fukui University. Saya surati profesor itu, saya jelaskan bahwa saya akan menulis skripsi di bawah bimbingan Pak Wagini, dan saya membutuhkan kristal. Lalu datang balasan dari beliau, bersama dua potong kristal yang saya butuhkan.

Peralatan siap, kristal siap diwarnai. Tapi saya membutuhkan seperangkat monokromator dan detektor untuk mengukur serapan akibat pewarnaan kristal itu. Di FMIPA UGM peralatan itu tidak ada. Maka saya coba ke BATAN. Waktu itu saya ketemu peneliti alumni UGM juga, Pak Budi namanya. Di BATAN memang tersedia monokromator dan detektor, tapi mesti saya set sendiri. Maka saya coba mengeset alat sendiri, sumber cahaya, monokromator, dan detektor. Semua peralatan itu sudah cukup tua, jadi banyak masalah. Saya juga mesti menyusun sistem optik yang baik agar cahaya dapat terfokus dengan baik ke sampel, lalu masuk ke monokromator. Ada dua bulan saya mengutak atik alat itu, tapi belum memuaskan. Saya pikir alat ini tidak akan memadai untuk penelitian saya. Sambil terus mengutak atik alat, saya mencari informasi tentang peralatan alternatif. Akhirnya saya dapatkan informasi bahwa di Laboratorium Analisa Kimia Fisika Pusat (LAKFIP) UGM ada alat yang prinsipnya serupa. Saya ke sana, dan benar, ada alat yang namanya spektrofotometer. Fungsinya persis seperti alat yang sedang saya set. Maka saya putuskan untuk memakai alat ini.

Dengan alat yang kompak dan otomatis, pengukuran saya hanya memerlukan waktu dua hari. Selesai. Data untuk menulis skripsi sudah lengkap. Namun bukan berarti kerja saya di BATAN tadi jadi sia-sia. Dari mengeset peralatan tadi saya jadi paham betul prinsip kerja sebuah sistem monokromator, sehingga saya bisa menjelaskan cara kerja spektrofotometer dengan baik di skripsi saya.

Berikutnya saya tulis, lalu saya serahkan draftnya ke dosen pembimbing, yaitu Pak Wagini. Seminggu setelah saya serahkan, saya datangi beliau, saya tanya progres pemeriksaan atas skripsi saya. Dia bilang baru sedikit yang dikoreksi. Saya tanya, apa yang dikoreksi? Ternyata cuma tanda baca.

“Pak, yang itu Bapak tidak perlu koreksi. Nanti saya edit. Tolong koreksi hal-hal prinsip saja,” pinta saya.

“Oh, kalau itu tidak ada. Skripsi ini sudah baik.”

Lalu saya lakukan proses pengeditan, saya perbaiki berbagai salah ketik, ejaan, dan tanda baca. Berikutnya saya serahkan ke dosen pembimbing utama, Pak Sumartono, dosen yang lebih senior. Kemudian saya berangkat KKN. Saat KKN saya santai-santai saja menikmati suasana pedesaan, sementara teman-teman harus mengatur waktu untuk pulang ke Yogya, konsultasi skripsi dengan dosen pembimbing. Selesai KKN saya menghadap Pak Sumartono. Ada koreksi? Cuma koreksi beberapa istilah, tidak ada yang prinsip.

Lalu saya maju ujian. Tidak ada pertanyaan yang tak bisa saya jawab. Beberapa pertanyaan benar-benar berupa pertanyaan karena si penanya memang tidak tahu, bukan menguji. Lalu saya lulus. Total waktu yang saya habiskan untuk mengerjakan skripsi hanya sekitar 6 bulan.

Dari pengalaman yang saya, serta pengamatan terhadap rekan-rekan, mahasiswa yang bertele-tele dalam menulis skripsi biasanya:

1. Tidak menguasai materi kuliah secara umum. Nilai mereka mungkin tinggi, tapi penguasaan mereka terhadap ilmu yang ditekuni jauh dari cukup.

2. Tidak memahami seluk beluk subjek yang dipilih untuk dijadikan penelitian skripsi.

3. Tidak memahami metode dan logika penelitian.

4. Tidak mencari alternatif lain ketika menghadapi masalah, bertahan menghabiskan waktu untuk hal yang akhirnya sia-sia.

5. Bermasalah dalam komunikasi dengan pembimbing. Tidak berani mengambil langkah berganti pembimbing bila masalah tidak bisa diselesaikan.

6. Tidak pandai menulis, dan tentu saja tidak belajar bagaimana menulis dengan baik.

7. Malas dan tidak disiplin.

Jadi, kalau Anda bertele-tele dalam menulis skripsi, boleh jadi Anda punya masalah tersebut. Perbaikilah.