Category Archives: Media

Fakta dan Opini

Saya terbiasa membedakan antara fakta dan bukan fakta. Yang bukan fakta di antaranya adalah opini, analisa, isu, persepsi, prasangka, dan fitnah. Saya pernah bekerja sebagai ilmuwan. Hal paling penting dari kerja ilmuwan adalah memilah antara fakta dan bukan fakta. Bekerja 12 tahun sebagai peneliti fisika membuat saya terlatih.

Selain itu selama 20 tahun terakhir saya bekerja dalam lingkungan Jepang. Salah satu keunikan budaya Jepang adalah mereka memisahkan dengan tegas antara fakta dan bukan fakta. Misalnya kita hendak mengungkapkan “jam ini mahal”, dalam bahas Jepang kalimatnya menjadi “Kono tokei wa takai.” Kalimat itu hanya diucapkan bila seseorang memang benar-benar tahu harga jam itu, dan secara objektif harga itu memang mahal. Bila ia hanya menduga, ia akan mengatakan “Kono tokei wa takai to omou.” Saya pikir jam ini mahal.

Kalau dia mengira (dari tampilan jam), ia akan bilang, “Kono tokei wa takasou.” Kalau ia mendengar dari orang lain bahwa jam itu mahal, ia akan bilang,”Kono tokei wa takai souda.” Masih ada beberapa jenis ungkapan lain, memastikan terpisahnya fakta dan bukan fakta. Saya terbiasa dengan logika itu.

Dalam keseharian kita terbiasa dengan informasi yang tidak dipilah antara fakta dan bukan fakta. “Fulan Marah,” begitu judul berita. Apakah Fulan Marah itu fakta? Marah itu adalah suatu keadaan emosi yang sebenarnya sangat rumit untuk didefinisikan. Ada orang yang bicara sambil gebrak-gebrak meja, tapi dia tidak sedang marah. Orang yang belum mengenal dia akan mengira dia sedang marah. Maka dalam hal ini, kalau yang terlihat adalah gebrak meja, maka faktanya adalah gebrak meja. Marah bukan fakta, tapi persepsi.

Banyak hal yang sifatnya relatif bila diungkap tanpa ukuran. Mahal, murah, cepat, lambat, semua itu hal yang relatif, sesuai persepsi. Ukuran menjelaskan faktanya. Daging sapi mahal. Itu persepsi. Harga daging sapi Rp 130 ribu per kilo, itu fakta. Fakta tidak berubah, siapapun melihatnya. Mahal atau murah, tergantung siapa yang menilai. Hujan lebat, itu soal persepsi. Berapa milimeter, itu faktanya.

Persepsi bisa dianggap fakta atau mendekati fakta bila ia dianut oleh sangat banyak orang. Harga daging sapi mahal bisa menjadi fakta bila harganya adalah Rp 150 ribu per kilo. Bagi umumnya rakyat Indonesia harga itu mahal. Maka tak salah bila dalam hal ini diberitakan bahwa harga daging mahal.

Bagaimana memilah fakta dan bukan fakta saat kita menyampaikan informasi? Pertama, sertakan fakta. Misalnya tadi, ketika kita bilang mahal, sertakan berapa harganya. Dengan begitu orang bisa memilih untuk setuju atau tidak dengan persepsi kita soal mahal atau tidak.

Kedua, tegaskan derajat informasi yang kita sampaikan. “Informasi yang saya terima dari….” Kita membuka peluang adanya informasi lain. Cara lain,”Saya dengar……” Dugaan kita bukanlah fakta, maka kita katakan,”Menurut dugaan saya…” Atau,”Kesimpulan saya…”

Bagaimana membedah fakta atau bukan? Dengan memperkaya diri dengan informasi dan berpikir dengan benar. Kemarin setelah Arcandra dipecat ada kabar bahwa ia dipecat karena ada yang terancam. Ia katanya sudah komunikasi dengan KPK, berkas informasinya sudah lengkap, untuk membongkar kasus di zaman Sudirman Said. Dengan dipecatnya Arcandra, kasusnya tidak akan diproses.

Kita yang paham tentu tahu bahwa kerja KPK tidak tergantung kerja sama menteri. Dalam banyak kasus justru menterilah yang dicokok KPK. Kalau Acandra punya data, kasus akan jalan sekalipun ia bukan menteri lagi.

Begitulah. Banyak orang memproduksi sampah yang dianggap sebagai fakta. Mereka jadi seleb media sosial. Beberapa di antaranya dijerat dengan tuduhan kriminal. Saran saya, jangan terpesona pada tokoh, termasuk pada saya. Tetap waras mengurai fakta dan bukan fakta.

Agama di Media Sosial

Pernah saya berdiskusi dengan seorang ustaz di rumah saya. Saya sampaikan hal-hal yang menjadi pertanyaan saya tentang Islam. Setelah itu kami salat berjamaah, dan saya persilakan dia untuk menjadi imam. Usai salat dia bercerita. “Waktu diskusi tadi sebenarnya saya sedang berusaha keras menahan emosi. Hampir saja Pak Hasan saya terjang dan saya pukuli, kalau saya tidak berpikir panjang,” katanya.

“Kenapa begitu?” tanya saya.

“Apa yang Bapak pertanyakan, apa yang Bapak kritikkan itu adalah hal-hal yang selama ini saya baca di internet. Setiap kali saya baca, saya sangat marah, rasanya ingin saya tinju monitor komputer saya. Nah, kini hal-hal yang saya baca itu saya dengar langsung dari orangnya sendiri, hadir di depan muka saya,” jelasnya. Saya memang menanyakan, tepatnya mempertanyakan banyak hal dalam Islam secara kritis. Untungnya di akhir diskusi dia akhirnya paham bahwa saya tidak sedang menghina Islam, melainkan sedang berusaha memahami. Di akhir cerita, dia menyarankan saya untuk berdiskusi dengan ulama lain, yang dia anggap lebih mumpuni. “Doktor harus dihadapkan dengan doktor,” kata dia. Saya datangi ulama yang dia sarankan, tapi diskusi tidak berkembang baik. Ulama itu menjawab singkat,”Saya tidak pernah berpikir tentang hal itu.” Selesai.

Internet membuat dunia menjadi seakan  tanpa batas. Media sosial membongkar batas-batas yang selama ini masih tersisa di dunia internet, menjadi benar-benar tanpa batas. Kita yang biasanya bergaul dengan orang dari kalangan yang sangat terbatas, kini dicampurkan dalam suatu bak besar bernama media sosial. Topik-topik sensitif yang biasanya enggan kita bahas di ruang nyata, menjadi hal yang tak lagi tabu dibahas di ruang maya. Interaksi yang memuat kejutan seperti yang terjadi antara saya dengan ustaz tadi, berlangsung hampir setiap menit di ruang maya.

Yang terjadi di dunia maya adalah manusia-manusia yang nyaris tanpa profil, saling berinteraksi. Manusia-manusia yang tak saling kenal satu sama lain, berbicara tanpa batas. Lebih pelik lagi, jalur komunikasi yang dipakai adalah bahasa tulis, yang sering kali gagal menyampaikan maksud secara utuh. Maka media sosial adalah dunia yang sangat rawan konflik.

Tidak hanya itu. Dunia sosial juga menghilangkan strata sosial dan segmen usia. Seorang cendekia dengan posisi terhormat di dunia nyata, bisa berinteraksi dengan anak SMP, atau buruh kasar di proyek konstruksi. Kiyai besar dengan ilmu mendalam, bisa berinteraksi dengan anak kemarin sore yang baru belajar agama lewat majelis halaqah. Perbedaan status sosial, level pengetahuan, dan sebagainya juga bisa menimbulkan konflik.

Pernah saya ungkapkan suatu fakta sejarah tentang rumah tangga nabi, yaitu konflik antara nabi dengan istri-istri beliau terkait kehadiran Maria Qibtiyah. Fakta itu sebenarnya tertulis di kitab-kitab tafsir, sesuatu yang biasa didiskusikan. Masalahnya, sangat banyak orang yang berislam tanpa belajar. Mereka hanya mendengar secuil doktrin, dan mempercayainya tanpa periksa. Kontan mereka marah dengan fakta yang saya ungkap tadi, dan menuduh saya memfitnah dan menghina nabi.

Semua itu menjadi tambah panas bisa bercampur dengan kepentingan politik. Politik kita masih sebatas politik emosi. Laksana penonton bola, publik kita melihat politik dengan bingkai nalar “yang penting pihak saya menang”,  bukan atas kepentingan-kepentingan yang lebih mendasar seperti terpenuhinya hak-hak dia sebagai warga negara. Akibatnya, semangat untuk menang lebih mendominasi pola komunikasi.

Ketika pikiran kita sudah dipenuhi oleh keberpihakan berbasis emosi, maka tidak ada lagi objektivitas. Tadi saya membaca posting orang yang memuat kritik saya terhadap Aa Gym, soal anjing pelacak di bandara. Ia menuduh saya bersikap kurang ajar. Kata-kata saya dia anggap kurang ajar. Tapi persis di bawah posting itu, ia memuat posting yang memaki-maki Ahok. Padahal kritik saya terhadap Aa Gym hanya berupa sindiran satire, tanpa makian.  Bahkan, menurut teman saya yang berteman dengan dia, orang ini sebenarnya biasa memaki orang lain.

Apakah saya selalu objektif? Saya tidak berani mengklaim begitu. Yang bisa saya klaim adalah saya berusaha untuk selalu objektif. Obejektivitas, sayangnya, sering ditetapkan secara subjektif. Itulah peliknya.

Jadi bagaimana? Saya menetapkan platform dalam bermedia sosial, agar tidak larut dalam konflik, meski konflik sering kali memang tidak bisa dihindari. Pertama, saya menjunjung tinggi kemerdekaan berpikir dan berekspresi. Dalam hal ini saya bahkan terpaksa berbenturan dengan admin Facebook sendiri, apa boleh buat. Kedua, saya bermedia dengan basis pengetahuan dan fakta. Sering saya merevisi atau menghapus sebuah posting yang kemudian saya sadari tidak kuat basis faktanya. Ketiga, saya tidak berminat mengubah pandangan orang-orang yang memang sudah diametral pertentangannya dengan saya. Yang bisa saya lakukan hanya membuka dialog untuk saling memahami. Bila pun itu tidak tercapai, minimal saya memberi kepercayaan diri kepada orang-orang yang sepaham dengan saya. Banyak orang yang punya pendirian tertentu tapi tidak tahu cara mempertahankan pendiriannya itu dengan argumen yang akurat. Saya menyediakan itu bagi mereka.

Facebook bagi saya hanyalah media untuk bertaaruf dengan jujur. Inilah saya. Sosok saya, atau apa yang saya pikirkan tidak selalu menyenangkan bagi orang lain. Dalam dunia nyata pun sebenarnya demikian. Hanya saja, saya tidak berinteraksi di dunia nyata sebanyak interaksi saya di dunia maya.

Merindukan Ikon Kebanggaan

Cukup lama Khoirul Anwar, orang Indonesia yang bekerja sebagai peneliti di Jepang dikenal sebagai “penemu teknologi 4G’ oleh sebagian masyarakat Indonesia, hingga akhirnya ia menegaskan melalui Kompas.com bahwa dia bukan penemu teknologi itu. Seingat saya sudah sejak tahun 2012 ia dikenal dengan “julukan” itu, sejak ia tampil di acara Kick Andy di Metro TV.

Kita dulu juga pernah dihebohkan oleh berita tentang Nelson Tansu, yang dikabarkan menjadi profesor di usia 25 tahun di Leigh University, Amerika. Ia disebut sebagai profesor termuda di dunia. Faktanya Nelson waktu itu adalah seorang assistant profesor, jenjang jabatan pertama yang diduduki seorang dosen yang baru lulus pendidikan doktorat.

Cukup lama juga kita mengira pendidikan kita sudah hebat, terbukti dengan banyaknya pelajar kita yang memenangkan medali emas pada berbagai olimpiade sains tingkat internasional. Olimpiade itu sebenarnya tidak begitu populer di negara-negara maju seperti Jepang. Lebih dari itu, medali emas pada olimpiade sains sebenarnya berbeda dengan medali emas olimpiade olah raga. Pada olimpiade sains, penerima medali emas tidak hanya satu orang, melainkan beberapa orang. Artinya, menerima medali emas itu bukan berarti juara satu.

Saya juga sering membaca tentang pesawat terbang R80 buatan Habibie. Diberitakan atau tepatnya dibicarakan seolah-olah pesawat itu sudah siap terbang. Padahal prosesnya masih sangat panjang. Waktu berkesempatan berbincang dengan Ilham Habibie, dia menjelaskan bahwa proses perancangan pesawat itu baru akan selesai tahun 2016 ini. Kemudian masuk ke pembangunan purwarupa. Proses ini akan lebih panjang lagi.  Sebagai catatan tambahan, pesawat yang sekelas yaitu MRJ buatan Mitsubishi sudah menjalani uji terbang pertama bulan November 2015, setelah mengalami beberapa kali penundaan. Artinya, R80 pun mungkin akan mengalami berbagai jenis penundaan.

Ceritanya jadi tambah heboh kalau kita bahas soal mobil listrik, yang konon sempat mau “diambil” oleh Malaysia. Tak lupa pula kita dengan Tawan, Iron Man dari Bali.

Mengapa orang-orang  sering berlebihan dalam membicarakan sesuatu? Karena kita kekurangan ikon yang membanggakan. Sepak bola, olah raga yang paling banyak digemari di Indonesia, tidak punya prestasi. Malah kini sedang dalam kisruh berkepanjangan. Bulu tangkis juga hidup segan mati tak mau, khususnya bila dibandingkan dengan prestasi kita di masa lalu. Kita haus akan kehadiran orang-orang berprestasi yang bisa membuat kita bangga.

Sementara itu situasi di bidang lain juga tidak menyenangkan. Setiap hari kita disuguhi dengan berita-berita tentang pejabat korupsi, atau memakai narkotika. Atau tentang pejabat-pejabat pongah yang suka menghamburkan uang negara. Ironisnya, kalau ada pejabat yang baik pun, masih ada pula orang yang mencari-cari celanya untuk dihujat.

Dalam situasi itu, ada segelintir orang yang memang suka membesar-besarkan, membuat klaim-klaim. Ada peneliti yang sampai merasa perlu untuk membuat siaran pers ketika makalahnya dimuat di jurnal bergengsi, padahal ia cuma penulis keempat. Atau ada yang mengabarkan ke media ketika ia memenangkan penghargaan sebagai presenter terbaik pada sebuah konferensi, padahal itu biasa saja. Ada yang dengan bangga mengatakan bahwa nama Indonesia telah menggetarkan daratan Eropa ketika putra-putri kita menang di olimpiade sains. Adduuuuh.

Masyarakat kita umumnya tidak kritis, karena tidak tahu. Urusan teknologi 4G misalnya, kebanyakan sarjana lulusan S1 pun banyak yang tidak tahu tentangnya. Demikian pula halnya dengan hal-hal lain seperti teknologi mobil listrik, olimpiade sains, dan sebagainya. Bahkan awak media kita tak punya cukup pengetahuan untuk membedakan antara menciptakan dan merakit. Media bukan penjelas kabar, tapi penyebar kabar tak jelas. Maka jadilah kita ini sebagai bangsa konsumen hoax dan berita kabur.

Saya menempatkan diri sebagai penyedia informasi terang, sebatas kemampuan yang saya miliki. Kadang posisi itu saya ambil dengan resiko dimaki-maki sebagai orang yang dengki.

Menulis Skripsi

Banyak orang kesulitan dalam menulis skripsi. Ada yang sampai menghabiskan waktu bertahun-tahun. Faktor penyebab kesulitan ada banyak, termasuk di antaranya dosen pembimbing yang menyulitkan. Tapi  faktor utama biasanya ada pada orang tersebut.

Saya bukan mahasiswa cemerlang dengan IPK tinggi. Boleh dibilang IPK saya jeblok, karena selama masa kuliah, saya lebih banyak aktif di gelanggang mahasiswa ketimbang aktif kuliah. Tapi ketika tiba waktunya saya harus lulus, saya putuskan untuk lulus. When I’m done, I’m done. Memasuki tahun ke enam, bagi saya sudah cukup. Jaman itu mahasiswa yang kuliah dengan baik, biasanya lulus 5 tahun. Ketika masa itu sudah saya lewati, saya pikir saya harus memutuskan. Maka saya sudahi kegiatan saya di gelanggang, saya kembali ke kampus. Saya mengulang mata kuliah yang belum lulus atau nilainya rendah, dan saya mulai mengerjakan skripsi.

Ada tren waktu itu, mahasiswa mengerjakan penelitian duplikatif. Metode penelitian sama, hanya ganti sampel. Jadi dalam banyak hal tinggal copy paste terhadap skripsi yang sudah ada. Saya tidak tertarik dengan cara ini. Saya cari tema yang belum banyak dikerjakan. Kebetulan ada dosen yang baru selesai S2 di UI, Pak Wagini namanya. Penelitian S2 dia tentang kristal alkali halida yang diberi warna dengan emisi laser. Gejala ini disebut color center. Tentu tak mungkin melakukan penelitian dengan tema serupa di UGM karena peralatannya tidak tersedia. Tapi Pak Wagini memberi tahu saya bahwa pewarnaan (coloration) kristal dapat dilakukan dengan cara lebih sederhana, yaitu dengan memberikan tegangan listrik pada suhu tinggi. Berbekal sketsa alat dari Pak Wagini, saya meminta bagian Bengkel FMIPA UGM untuk membuat oven untuk keperluan pewarnaan tadi.

Langkah berikutnya adalah soal penyediaan kristal. Kristal yang ada di tangan Pak Wagini sudah dipakai berulang-ulang, sehingga kualitasnya tidak bagus lagi. Lalu bagaimana? Saya tahu Pak Wagini mendapatkan kristal itu dari profesor pembimbingnya, orang Jepang yang kebetulan jadi profesor tamu di UI. Namanya Kagawa, dari Fukui University. Saya surati profesor itu, saya jelaskan bahwa saya akan menulis skripsi di bawah bimbingan Pak Wagini, dan saya membutuhkan kristal. Lalu datang balasan dari beliau, bersama dua potong kristal yang saya butuhkan.

Peralatan siap, kristal siap diwarnai. Tapi saya membutuhkan seperangkat monokromator dan detektor untuk mengukur serapan akibat pewarnaan kristal itu. Di FMIPA UGM peralatan itu tidak ada. Maka saya coba ke BATAN. Waktu itu saya ketemu peneliti alumni UGM juga, Pak Budi namanya. Di BATAN memang tersedia monokromator dan detektor, tapi mesti saya set sendiri. Maka saya coba mengeset alat sendiri, sumber cahaya, monokromator, dan detektor. Semua peralatan itu sudah cukup tua, jadi banyak masalah. Saya juga mesti menyusun sistem optik yang baik agar cahaya dapat terfokus dengan baik ke sampel, lalu masuk ke monokromator. Ada dua bulan saya mengutak atik alat itu, tapi belum memuaskan. Saya pikir alat ini tidak akan memadai untuk penelitian saya. Sambil terus mengutak atik alat, saya mencari informasi tentang peralatan alternatif. Akhirnya saya dapatkan informasi bahwa di Laboratorium Analisa Kimia Fisika Pusat (LAKFIP) UGM ada alat yang prinsipnya serupa. Saya ke sana, dan benar, ada alat yang namanya spektrofotometer. Fungsinya persis seperti alat yang sedang saya set. Maka saya putuskan untuk memakai alat ini.

Dengan alat yang kompak dan otomatis, pengukuran saya hanya memerlukan waktu dua hari. Selesai. Data untuk menulis skripsi sudah lengkap. Namun bukan berarti kerja saya di BATAN tadi jadi sia-sia. Dari mengeset peralatan tadi saya jadi paham betul prinsip kerja sebuah sistem monokromator, sehingga saya bisa menjelaskan cara kerja spektrofotometer dengan baik di skripsi saya.

Berikutnya saya tulis, lalu saya serahkan draftnya ke dosen pembimbing, yaitu Pak Wagini. Seminggu setelah saya serahkan, saya datangi beliau, saya tanya progres pemeriksaan atas skripsi saya. Dia bilang baru sedikit yang dikoreksi. Saya tanya, apa yang dikoreksi? Ternyata cuma tanda baca.

“Pak, yang itu Bapak tidak perlu koreksi. Nanti saya edit. Tolong koreksi hal-hal prinsip saja,” pinta saya.

“Oh, kalau itu tidak ada. Skripsi ini sudah baik.”

Lalu saya lakukan proses pengeditan, saya perbaiki berbagai salah ketik, ejaan, dan tanda baca. Berikutnya saya serahkan ke dosen pembimbing utama, Pak Sumartono, dosen yang lebih senior. Kemudian saya berangkat KKN. Saat KKN saya santai-santai saja menikmati suasana pedesaan, sementara teman-teman harus mengatur waktu untuk pulang ke Yogya, konsultasi skripsi dengan dosen pembimbing. Selesai KKN saya menghadap Pak Sumartono. Ada koreksi? Cuma koreksi beberapa istilah, tidak ada yang prinsip.

Lalu saya maju ujian. Tidak ada pertanyaan yang tak bisa saya jawab. Beberapa pertanyaan benar-benar berupa pertanyaan karena si penanya memang tidak tahu, bukan menguji. Lalu saya lulus. Total waktu yang saya habiskan untuk mengerjakan skripsi hanya sekitar 6 bulan.

Dari pengalaman yang saya, serta pengamatan terhadap rekan-rekan, mahasiswa yang bertele-tele dalam menulis skripsi biasanya:

1. Tidak menguasai materi kuliah secara umum. Nilai mereka mungkin tinggi, tapi penguasaan mereka terhadap ilmu yang ditekuni jauh dari cukup.

2. Tidak memahami seluk beluk subjek yang dipilih untuk dijadikan penelitian skripsi.

3. Tidak memahami metode dan logika penelitian.

4. Tidak mencari alternatif lain ketika menghadapi masalah, bertahan menghabiskan waktu untuk hal yang akhirnya sia-sia.

5. Bermasalah dalam komunikasi dengan pembimbing. Tidak berani mengambil langkah berganti pembimbing bila masalah tidak bisa diselesaikan.

6. Tidak pandai menulis, dan tentu saja tidak belajar bagaimana menulis dengan baik.

7. Malas dan tidak disiplin.

Jadi, kalau Anda bertele-tele dalam menulis skripsi, boleh jadi Anda punya masalah tersebut. Perbaikilah.

Radio

 

radio

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ayah sebenarnya suka pada radio. Di kampung kami hampir tak ada sarana hiburan. Alunan lagu-lagu yang disiarkan oleh RRI atau RTM (Radio Televisyen Malaysia) adalah hiburan yang menyenangkan. Tapi bagi Ayah radio lebih dari sekedar lagu-lagu. Ada azan pemberi tahu waktu salat. Juga ada ceramah agama.

Tapi Ayah tak hendak membeli radio. “Ah, apa pula bagusnya. Hanya ada suara orang menyanyi dan mengaji, tapi tak nampak orangnya. Kalau dah nampak orangnya, barulah aku mau beli.” begitu dalih Ayah selalu kalau ada orang menawarkan radio kepadanya. Aku tak sepenuhnya percaya bahwa itu alasan yang sebenarnya. Ayah sepertinya memang menahan diri untuk tidak membelanjakan uangnya untuk kesenangan, karena anak-anaknya mesti disekolahkan.

Ayah harus berpuas dengan limpahan suara radio tetangga. Di kampung kami orang biasa berbagi. Termasuk dalam hal suara radio. Orang yang punya radio membunyikan radionya keras-keras agar tetangga juga bisa ikut mendengar.

Waktu berlalu. Di kota kata orang sudah ada televisi. Ya, inilah radio impian Ayah. Yang menyanyi dan berbicara sudah terlihat. Orang-orang menggoda Ayah untuk membeli. “Nah, sekarang radio impian awah sudah ada, bila nak beli?” begitu tuntutan mereka. Ayah Cuma tersenyum kecut, termakan omongannya sendiri. Ketika itu abangku sudah lulus SPG dan mulai bekerja sebagai guru di kota. Ayah mungkin sudah sedikit lega, lalu memanjakan dirinya dengan sebuah kesenangan kecil. Ayah membeli televisi? Ah, tidak. Ayah hanya membeli sebuah radio.

Radio yang dibeli Ayah adalah radio tiga band. Sudah pakai transistor. Jauh terlihat lebih modern dari radio tua yang ada di rumah nenek. Badannya dari plastik, bukan kayu. Ukurannya juga kecil, bisa dibawa-bawa. Baterinya tiga. Kalau bateri lampu senter Ayah sudah melemah, bateri tersebut dipasang di radio.

Sejak punya radio barang pujaan Ayah yang tak boleh disentuh orang lain bertambah jadi dua. Tadinya hanya lampu senter. Ayah marah besar kalau aku main-main dengan benda itu. Khususnya bila saat dia membutuhkannya di malam hari dia tak menemukannya. Pastilah aku jadi sasaran amuknya. Kini barang pusaka Ayah bertambah satu lagi, yaitu radio.

Ayah tak mengizinkan aku menyentuh radio itu. “Nanti rusak.” katanya. Aku paham. Dan aku pun tak tertarik benar dengan radio. Tak seperti lampu senter yang selalu memancing hasratku untuk menyentuh dan menyalakannya.

Ayah suka mendengar warta berita, juga ceramah agama. Untuk lagu-lagu Ayah lebih suka mendengarkan RTM. RRI banyak menyiarkan lagu-lagu yang tak dikenal Ayah. Sedangkan dari RTM masih sering mengalun lagu-lagu dari penyanyi kegemaran Ayah, P. Ramlee.

Tapi radio bagi Ayah bukan hanya itu. RRI di kota punya acara berita pendengar yang disiarkan petang hari menjelang magrib. Sambil menunggu azan Ayah menyimak berita-berita itu. Berita atas permintaan pendengar, ditujukan untuk pendengar lain. Berbagai ragam berita yang disiarkan. Ada berita gembira seperti kelahiran, ada juga berita duka tentang sakit dan kematian. Pedagang yang berniaga menyampaikan berita tentang harga-harga barang dagangan.

Aku masih ingat betul suaranya. „Berita berikut datang dari Pak Aslam di Pontianak, ditujukan kepada sanak saudara di Kubu. Isi berita, telah berpulang ke rahmatullah ibunda kami…………..“ Kadang-kadang ada sanak saudara di kota yang mengirim berita kepada orang di kampung kami. Kalau Ayah mendengar berita itu, dia akan bergegas menyampaikannya kepada yang dituju.

Sesekali Emak juga mengirim berita kalau dia sedang pergi ke kota. Emak seorang pedagang. Dia membeli pakaian, obat, kosmetik, serta berbagai barang lain di kota, untuk dijajakan berkeliling kampung. Kalau ke kota, Emak berbelanja dalam jumlah besar. Emak pulang naik kapal motor. Tapi kapal motor hanya sampai ke kecamatan. Dari situ harus naik sampan lagi ke kampung kami.

Menjelang pulang Emak mengirim berita, memberitahukan dia akan pulang hari apa. Lalu pada hari tersebut aku dan Ayah berkayuh sampan, pergi menjemput Emak ke kecamatan.

Aku pernah mendapat berita yang ditujukan untuk diriku sendiri. Hanya sekali. Waktu itu Emak dan Ayah pergi ke kota. Emak sakit dan dia perlu berobat. Aku pikir Emak hanya perlu ke dokter untuk diperiksa dan minta obat, lalu segera kembali. Tapi dua hari setelah keberangkatannya aku mendengar berita dari Ayah, melalui radionya. Isinya: Emak harus diopname di rumah sakit.

Kelak setelah aku sekolah di madrasah tsanawiyah di kota, aku bersama dua siswa lain dipilih untuk mewakili sekolah dalam acara cerdas cermat kandungan al-Quran pada acara MTQ. Aku jadi juru bicara. Acaranya disiarkan langsung oleh RRI. Di tingkat kota kami juara. Lalu kami mewakili kota di MTQ tingkat provinsi, kami juara tiga. Acara itu juga disiarkan secara langsung oleh RRI. Ayah memberi tahu dan mengajak orang kampung untuk mendengarkan siaran itu.