Category Archives: Kesehatan

Mengapa tak Boleh Menatap Matahari?

Mata kita memiliki keterbatasan. Bila intensitas cahaya terlalu rendah, maka kita tidak bisa melihat. Demikian pula sebaliknya, bila intensitas cahaya terlalu tinggi, kita juga tidak bisa melihat. Batas kemampuan kita melihat digambarkan pada gambar berikut.
batasmata
Matahari adalah sumber cahaya yang sangat kuat, melebihi batas kemampuan mata kita. Karena itu kita tidak bisa melihat matahari secara langsung, kecuali pada saat terbit atau saat terbenam. Pada waktu-waktu lain sinar matahari sangat kuat. Cahaya yang berlebihan hanya akan memberi kita gambaran kabur saja.
 
Tidak hanya itu. Matahari mengandung sinar ultraviolet dan infrared. Keduanya punya daya rusak. Ingatlah pada pengalaman saat kita berjemur terlalu lama, apa yang terjadi? Kulit kita terbakar, atau biasa dikenal dengan istilah sunburn. Itulah yang akan terjadi pada mata kita ketika kita menatap langsung matahari dalam waktu tertentu. Sel-sel pada kornea mata bagian terluar yang transparan akan hancur, seperti terbakarnya kulit kita. Akibatnya akan dirasakan kemudian, kita akan merasakan perih pada mata seperti tergores amplas. Gejala ini disebut photokeratitis.
 
Bila mata dipaksa untuk terus melihat, maka yang berikutnya akan rusak adalah retina, yang merupakan “layar” di dalam mata, di mana bayangan terbentuk, kemudian dikirimkan datanya ke otak. Gejala ini disebut solar retinopathy.
 
Semakin lama kita melihat matahari kerusakan yang ditimbulkannya akan makin parah. Puncaknya adalah kebutaan.
 
Kaca mata hitam adalah filter yang berfungsi sebagai penurun intensitas cahaya. Sebagian cahaya yang lewat pada filter akan diserap, hanya sebagian yang diteruskan. Besar porsi serapan tergantung pada jenis bahan dan ketebalannya. Efek ini sama dengan yang terjadi saat matahari terbit atau tenggelam. Saat itu cahaya matahari merambat melewati lapisan udara yang jauh lebih tebal dibanding dengan saat siang hari, sehingga cahaya yang sampai ke kita lemah saja. Itulah sebabnya kenapa kita bisa melihat matahari pada saat itu. Jadi, kaca mata hitam sebenarnya bukan sekedar untuk bergaya. Ia berfungsi mengurangi intensitas cahaya matahari yang masuk ke mata, menghindarkan kita dari kesilauan, dan mencegah kerusakan mata. Tapi ingat, dengan kaca mata hitam pun menatap matahari secara langsung tetap tidak dianjurkan.

Menyembuhkan Homoseksualitas

gayDalam diskusi soal kontroversi homoseksualitas, banyak muncul pertanyaan berulang,”Bagaimana bila anakmu yang homoseks?” Biasanya pertanyaan itu saya abaikan. Tapi ada satu penanya yang saya ladeni. Saya tanya balik,”Bagaimana bila anakmu yang homoseks?”

“Saya akan obati.”

“Bagaimana cara mengobatinya?”

“Ada terapinya.”

“Terapi apa? Coba tunjukkan link atau berita soal terapi ilmiah yang berhasil.”

Dia tidak bisa menjawab. Akhirnya keluar dalil “pokoknya”. Terapi yang bisa diharapkan untuk menyembuhkan adalah dengan mengajak orang mengingat Tuhan, takut pada hukuman Tuhan, dan sejenis itu. Intinya, orang-orang itu sebenarnya tak peduli soal homoseksualitas. Yang penting bagi mereka adalah, jangan senggama dengan cara yang berbeda dengan kami. Jadi, yang diharapkan dari “pengobatan” itu adalah agar orang-orang itu berpura-pura jadi normal.

Tentu ada banyak orang yang mencoba jalan pura-pura itu. Ada banyak gay yang berpura-pura normal, menikah secara normal hingga punya anak. Tidak sedikit dari mereka yang tetap menjalani kehidupan gay secara rahasia. Ada yang kemudian mengaku. Tapi mungkin lebih banyak yang menjalani kehidupan di 2 alam.

Sudah sejak lama homoseksualitas diaggap sebagai penyimpangan. Ketika orang mulai mengenal pengobatan baik secara medis maupun psikis, orang menganggap homoseksualitas adalah penyakit. Kalau penyakit tentu harus dicarikan cara untuk mengobatinya. Bapak psikoanalisa Sigmund Freud pernah menyatakan bahwa homoseksualitas bisa dihilangkan dengan terapi hipnotis. Tapi pada akhirnya ia menyatakan bahwa hasil “pengobatan” tidak bisa diprediksi.

Berbagai metode terapi dicoba, termasuk dengan memberi kejutan listrik kepada “pasien”. Ada juga yang melakukan tekanan psikis berbentuk hukuman dan bullying. Tentu saja dicoba pula berbagai jenis obat-obat kimiawi. Namun tak satupun metode pengobatan ini yang terbukti berhasil secara klinis.

Anggapan bahwa homoseksualitas adalah penyakit mulai dikritik pada dekade 50-an. Setelah melalui berbagai upaya yang cukup panjang, akhirnya Asosiasi Psikologi Amerika pada tahun 1973 memutuskan untuk menghapus homoseksualitas dari daftar penyakit mental. Tentu saja penghapusan ini sempat dituduh sebagai hasil dari tekanan kelompok aktivis gay.

Upaya untuk menekan homoseksualitas secara hukum telah pula dilakukan di banyak negara. Di Inggris misalnya, melalui Buggery Act 1553 homoseksualitas dianggap kejahatan yang bisa diganjar hukuman mati. Beberapa orang telah diseksekusi karena homoseksualitas. Hukuman mati ini kemudian dicabut, tapi homoseksualitas tetap sebuah kejahatan. Pada tahun 1950an ribuan orang dipenjara karena hal ini. Baru pada tahun 1967 dikeluarkan aturan baru yang lebih lunak, yang membolehkan aktivitas homoseksual terbatas di ruang privat.

Dalam sejarah hukum Amerika kejadinnya mirip. Pembolehan terhadap homoseksualitas masih merupakan hal baru di banyak negara.

Kebanyakan orang di Indonesia mungkin masih menganggap homoseksualitas sebagai penyakit. Lebih lucu lagi, ini dianggap sebagai penyakit sosial yang coba disebarkan oleh pihak Barat. Mereka lupa atau tidak tahu bahwa Barat sendiri sudah menjalani pertarungan panjang, baik dalam hal pengobatan maupun penghukuman. Pada akhirnya mereka menyerah pada fakta sains, bahwa homoseksualitas bukan penyakit. Tentu saja dengan catatan bahwa kesimpulan sains pun bisa salah dan bisa diubah. Tapi selama belum ditemukan fakta baru, maka fakta ini harus diakui sebagai sebuah kebenaran.

Di masa lalu orang-orang percaya bahwa gerhana bulan itu terjadi saat Batara Kala menelan bulan. Itu dipercayai orang ketika sains belum mampu menjelaskan kejadiannya. Tapi kini tak ada lagi orang percaya pada dongeng itu. Di masa lalu homoseksualitas dianggap sebagai penyakit. Tapi setelah sains menjelaskan pun, masih banyak orang yang tidak berubah pandangan. Kekuatan apa yang bisa membuat orang mengabaikan sains? Agama!

 

Kecanduan Fakta Palsu

faktaAda sekelompok orang yang gemar memproduksi fakta palsu, kemudian bergembira dengan fakta itu. Menurut saya ini semacam kecanduan.

Setiap kali ada yang membuat fakta palsu, selalu ada bantahannya. Tapi sejumlah orang terus memproduksinya, lalu ada puluhan ribu orang di media sosial yang bergembira karena itu. Melihat sebuah “fakta” tentang sesuatu yang sesuai dengan angan, mendatangkan kebahagiaan bagi mereka. Bahwa kemudian dibuktikan bahwa fakta itu palsu, tak masalah. Mereka hanya butuh kebahagiaan saat melihatnya pertama kali. Continue reading