Category Archives: Keluarga

Anak Membutuhkan Perhatian

Seorang ayah mengeluh pada saya.

“Anak saya, umur 4 tahun. Sekarang agresif sekali. Kalau dia marah, dia mengamuk. Teriak keras-keras. Ia melempar-lempar. Kemarin mobil saya disambit batu oleh dia. Apakah karena selama ini dia saya kerasi? Apakah dia cemburu karena dia punya adik? Apakah karena kurang perhatian, karena mamanya juga bekerja? Bagaimana cara menenangkannya supaya tidak mengamuk?”

Cerita ringkas sang ayah memberi gambaran rumit tentang situasi sang anak. “Masalah anak Anda itu rumit, dan sikapnya saat ini terbentuk selama bertahun-tahun. Untuk memperbaikinya perlu waktu yang cukup lama. Jadi, itu hal terpenting yang sekarang harus diingat.”

“Maksudnya bagaimana, Pak?”

“Dari pertanyaan Anda tadi terlihat bahwa Anda sedang mencari solusi instan. Lakukan A, maka hasilnya adalah B. Dalam hal ini rumus itu tidak berlaku. ”

Anak ini kurang perhatian dalam kadar yang kompleks. Seperti diceritakan ayahnya, ia jarang berinteraksi dengan kedua orang tuanya. Keduanya bekerja. Ketika pulang kerja ibunya mungkin sibuk dengan urusan di adik kecil. Ayah? “Saya biasanya beri dia HP untuk main game, biar dia diam,” cerita ayahnya. “Saya sengaja tidak membelikan dia HP, supaya tidak kecanduan.”

“Tidak membelikan, tapi memberi dia HP saat dia sebenarnya butuh perhatian Anda, itu sudah merupakan kesalahan yang sangat besar.”

“Maksudnya bagaimana, Pak?”

“Berbagai kelakuan agresif yang Anda lihat selama ini adalah cara anak untuk meminta perhatian.”

Kalau anak misalnya menangis menjerit-jerit, guling-guling mengamuk, itu tandanya mereka ingin menyampaikan sesuatu. Saya cukup sering melihat kejadian ini, di tempat umum maupun di lingkungan keluarga. Orang tua biasanya hanya menyuruh anak dia. “Diam, jangan nangis.” Ungkapan semacam itu. Mereka berharap anak akan diam secara instan. Itu tidak akan terjadi.

Yang sering saya saksikan dalam kejadian itu adalah rendahnya empati. Orang tua tidak berada di alam anaknya. Ia berada di alam lain, alam orang dewasa. Karena itu ia tak mampu menangkap pesan yang sedang disampaikan oleh anaknya.

Ketiga anak saya tidak pernah menangis lama-lama. Sejak mereka bayi saya terbiasa mengenali jenis tangisan mereka. Meski terdengar sama, ada perbedaan antara tangisan bayi yang sedang lapar, merasa kurang nyaman misalnya karena popoknya basah, atau karena kesakitan. Kemampuan membedakannya hanya bisa kita dapat kalau kita punya interaksi yang sangat kuat dengan bayi kita. Saya terbiasa menyelami alam bayi, sehingga saya menemukan isi pesan yang mereka sampaikan.

Dengan cara itulah komunikasi dengan anak harus dibangun, yaitu dengan membangun kedekatan. Anak tumbuh, kita tahu sifat-sifat, bahasa lisan, maupun bahasa tubuhnya. Ada begitu banyak pesan non-verbal yang mereka sampaikan. Bahkan pesan-pesan verbal anak bersifat sangat high context. Maksudnya, makna yang dibawa pesan itu sangat tergantung pada kebiasaan interaksi antara orang tua dan anak.

Orang tua banyak yang gagal menangkap pesan-pesan itu. Mereka terjebak untuk melihat tindak tanduk anaknya dengan kaca mata orang dewasa. Hasilnya, penghakiman bahwa anaknya nakal, tidak patuh, tidak tertib, dan sebagainya. Tindakan korektif yang dilakukan kemudian adalah memberi hukuman. Berharap anak jera, dan mengubah perilakunya. Tak jarang hukumannya berupa hukuman fisik, bahkan sampai menjurus pada kekerasan.

Kepada ayah tadi saya anjurkan untuk menyediakan waktu bersama anaknya.

“Tapi saya capek, Pak, kalau pulang kerja.”

“Kalau Anda tidak tahan capek sekarang, Anda akan capek seumur hidup dengan urusan anak Anda. Bukan hanya capek, bahkan mungkin Anda akan kehilangan dia. Anak yang nakal sampai berbuat kriminal, pecandu narkotika, dan sebagainya, umumnya karena hal ini, kurang perhatian dari orang tua.”

“Jadi, apa yang harus saya lakukan?”

“Hentikan kebiasaan memberi HP pada anak. Pisahkan anak dari HP. Ganti HP itu dengan kehadiran Anda.”

“Terus, ngapain?”

“Lakukan aktivitas berdua. Ajak dia main apa saja. Sekedar melipat kertas, mencoret-coret bikin gambar, atau ajak dia main di luar rumah. Sekedar Anda ajak belanja pun boleh. Intinya, membangun kembali ikatan yang selama ini sudah terputus.”

Saya ingatkan bahwa ini akan membutuhkan waktu lama. Saat awal mungkin anak akan menolak sama sekali. Ia akan lebih nyaman dengan HP. Ini ujian pertama yang harus dilewati oleh sang ayah. Kalau ia menyerah pada titik ini, tidak akan ada tahap selanjutnya. Jadi, jangan menyerah.

Mendidik anak memang pekerjaan yang paling berat, membutuhkan kesabaran tinggi. Banyak orang sukses dalam hidup, menjadi orang hebat, tapi ia gagal mendidik anaknya. Begitulah gambaran soal beratnya mendidik anak. Ia lebih berat dari berbagai tantangan hidup manapun.

 

Lelaki Dayus

Dayus artinya hina budi pekertinya. Di kampung saya kata ini lebih sering dilekatkan pada laki-laki. Laki-laki pengecut, tidak punya tanggung jawab dan kehormatan. Macam apa itu?

Salah satu bentuknya adalah yang tidak menafkahi istri dan anak-anak. Tidak bekerja, tidak bertanggung jawab, tidak punya malu.

Dalam berbagai interaksi saya berkenalan dengan banyak orang. Sebagian darinya adalah janda-janda yang akhirnya memilih hidup menjanda karena suaminya tidak bertanggung jawab. Istrinya kerja, lakinya tak jelas apa kegiatannya. Ada yang mengaku berbisnis, tapi tak jelas wujudnya. Alih-alih menambah penghasilan, ia jadi penggerogot nafkah yang dikumpulkan istrinya.

Laki-laki semacam ini memang sepantasnya ditinggalkan. Tapi perempuan sering tak mudah membuat keputusan itu. Salah satu sebab utamanya adalah status janda yang serinh dipandang rendah itu. Ada banyak perempuan yang harus menahan derita bertahun-tahun, tak berani memutuskan untuk bercerai.

Kenapa ada orang seperti itu? Pertama, tidak punya malu, atau sudah bebal. Tadinya malu, tapi sekarang cuek saja. Atau, dia punya malu, tapi tidak cukup kuat untuk mendorongnya menjadi lebih bertanggung jawab.

Kedua, soal manajemen diri. Ada orang yang memang bahkan tidak bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Ia tak punya keahlian maupun keterampilan, karena tak pernah membangunnya. Ia mau yang serba instan. Mimpi dalam angannya, ia harap bisa menjadi nyata dengan mudah, oleh berbagai kebetulan.

Ketiga, rendah diri. Istrinya bekerja, lebih dari dia. Alih-alih itu memberinya semangat untuk berkembang lagi, ia malah terpuruk jadi rendah diri, dan salah tingkah. Ia terjebak mencari jalan-jalan instant, agar segera bisa menyalip istrinya.

Adakah solusinya? Sulit. Orang seperti ini harus diinstall ulang. Perlu cuci otsk, kemudian dibimbing dalam bentuk coaching. Tapi sejak awal dia harus punya komitmen dulu.

Yang mungkin diperbaiki adalah orang dayus pada stadium awal. Istri harus lapang dada, mengulurkan tangan, mengalah, untuk membantu mengangkat dia.

Dalam banyak kasus yang saya lihat, jarang ada yang mau berubah. Kebanyakan istrinya mengalah dengan kesabaran tingkat super, atau akhirnya bercerai.

Akan lebih baik kalau para wanita tajam dalam menyeleksi calon suami. Jangan cari yang ganteng atau romantis saja. Kritislah dalam menilai tanggung jawabnya.

Menghadapi Orang Tua yang tak Patut

Kita wajib menghormati dan berbakti pada orang tua. Tapi bagaimana bila orang tua kita bersikap tak patut? Masih wajibkah kita menghormati dan berbakti padanya? Tapi sebelum pertanyaan itu dijawab, ada pertanyaan lain yang lebih penting, yaitu adakah orang tua yang bersikap tak patut?

Sayangnya, orang tua yang demikian itu ada. Dalam sebuah seminar parenting, seorang pengusaha yang menjadi narasumber bersama saya bercerita, bahwa ayahnya seorang lelaki yang tak patut. “Boleh dibilang, semua keburukan ada pada ayah saya,” katanya. Ayahnya pemabuk, pejudi, main perempuan, dan melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Akhirnya ibunya memutuskan untuk bercerai. “Hal terpenting dalam hidup saya adalah menjadi orang tua yang tidak seperti ayah saya,” katanya.

Dalam kesempatan lain saya mendapat pengaduan dari seorang gadis muda. “Ibu saya sangat tidak adil pada saya. Saya dibesarkan dengan kekerasan. Tadinya saya mencoba memahami itu sebagai bentuk pendidikan. Tapi makin lama saya tahu bahwa ternyata sejak saya dalam kandungan ibu saya sudah tidak menghendaki saya. Waktu ia hamil, ia sering menyumpahi kandungannya sendiri,” katanya. Ia akhirnya hidup menjauh dari ibunya.

Tentu saja ada banyak pula kasus konflik orang tua dengan anak yang sebenarnya hanya berupa komunikasi yang tak bersambung. Orang tua, dengan alam pikiran kolotnya, gagal memahami kebutuhan anaknya. Anak, di sisi lain, gagal memahami keinginan orang tuanya. Akhirnya keduanya saling menyalahkan. Kasus-kasus seperti ini bukan bagian dari topik yang sedang dibahas ini.

Jadi, bagaimana kita mesti bersikap terhadap orang tua yang tak patut?

Banyak orang terbelenggu oleh “aturan dasar”, yaitu wajib hukumnya berbakti pada orang tua. Ia mengalah, menerima saja meski diperlakukan oleh orang tua. Bagi saya ini tak patut. Mengalah sama artinya dengan membiarkan orang tua kita berlaku zalim, dan itu berlangsung terus menerus.

Status orang tua yang mesti dihormati bukanlah status gratis. Itu adalah status yang hadir bersama tanggung jawab. Dari sisi orang tua, mendapat hormat dan bakti dari anak adalah hak. Hak, hanya boleh ditagih ketika kewajiban sudah ditunaikan. Menagih hak tanpa menunaikan kewajiban adalah sebuah bentuk kezaliman.

Para orang tua juga harus diperlakukan seperti orang dewasa manapun. Keseimbangan antara hak dan kewajiban tadi adalah hukum dasar yang berlaku bagi setiap orang dewasa. Ia harus bertanggung jawab terhadap setiap tindakan yang ia lakukan. Status “orang tua” tak memberinya keistimewaan apapun.

Saran saya kepada orang yang menghadapi situasi itu adalah, jauhi. Jauhi dan tinggalkan orang tua yang begitu. Jangan mau hidup di bawah kezaliman orang tua. Tapi ingat, kita tetap tidak berhak melakukan yang lebih dari itu. Artinya, kelakuan buruk orang tua kita tidak membuat kita berhak membalasnya dengan keburukan. Kita tetap tak boleh menyakiti mereka. Kita tetap tak boleh mencaci mereka. Menjauhi itu justru suatu cara agar kita tidak melakukan keburukan terhadap mereka.

Berat? Pasti. Tapi sadarilah bahwa hidup memang tak selalu sesuai dengan hukum umum. Hukum umumnya adalah orang tua menyayangi anak, anak berbakti pada orang tua. Tapi ada kalanya hukum itu tidak terpenuhi. Apa boleh buat, kita harus bersikap ketika hidup kita tak penuh.

ini adalah pertarungan antara nalar dan emosi. Emosi kita cenderung mengikat kita untuk berada di dekat orang tua. Tapi ketika kedekatan itu adalah sesuatu yang tak patut, maka nalar harus menang. Ketidak patutan harus ditinggalkan, betapapun itu menyakitkan perasaan.

Jadi sekali lagi, tinggalkan dan jauhi, tapi jangan menyakit. Lakukan itu sampai ia kembali menjadi orang tua yang patut.

Menerima Jodoh, bukan Mencarinya

Ketika saya ditanya, apa kriteria saya ketika mencari jodoh, jawab saya kriterianya cuma 2, yaitu perempuan dan mau sama saya. Bercanda? Iya, tapi ada bagian seriusnya. Titik yang paling fundamentalnya adalah, saya tidak mungkin berjodoh dengan yang tidak mau sama saya. Jodoh saya haruslah orang yang mau sama saya.

Kita semua pernah menonton film dongeng atau fairy tale tentang kisah putri dan pangeran. Bagaimana sosok pangeran dalam dongeng? Tampan. Kalaupun ia berwujud monster atau seekor kodok, pada akhirnya ia akan jadi pangeran tampan. Tidak cuma itu. Ia juga jagoan dan baik hati. Tentu saja ia kaya. Dan seterusnya.

Bagaimana dengan sang putri? Ia cantik, secantik-cantiknya. Ia juga lembut, penyayang, baik hati, peduli. Ia bahkan bisa menyembuhkan kutukan dengan ciumannya.

Begitulah. Kita sering mencari jodoh dengan pikiran seperti dalam dongeng. Kita menetapkan sejumlah kriteria. Ada yang 5, ada yang 10. Dengan kriteria itu kita menyeleksi orang. Keiteria 1, 2, 3, dan 4 cocok, ah sayang, kriteria nomor 5 tidak terpenuhi. Atau, semua kriteria terpenuhi, ah ternyata ada hal yang kita temukan pada dirinya, selama ini tidak masuk dalam daftar kriteria, ternyata cukup menggangu.

Kriteria itu daftar impian. Kita mencari sosok impian kita. Kita mencari sang pangeran atau sang putri. Kita lupa bahwa sang pangeran atau putri itu adalah tokoh dongeng, bukan tokoh nyata.

Apakah tidak boleh mencari orang baik melalui kriteria-kriteria itu? Tentu saja boleh. Masalahnya, sering kali kriteria-kriteria itu bukan melulu daftar hal-hal baik, melainkan hal-hal yang kita suka atau kita benci. Kita tentu saja tidak bisa mengubah hal buruk menjadi baik. Tapi kita bisa mengubah hal yang kita benci menjadi yang kita suka.

Kuncinya adalah menerima. Artinya, kita mau mengubah selera kita, dari tidak menyukai sesuatu menjadi menyukainya, atau setidaknya tidak membencinya.

Sering kali kriteria yang kita buat itu tidak menyangkut hal-hal fundamental, hanya soal sepele saja. Sebaliknya, tak jarang pula kita justru mengabaikan hal-hal yang fundamental. Apa yang fundamental dalam suatu hubungan? Komitmen, tanggung jawab, dan penghormatan. Tanpa itu boleh jadi hubungan tak akan berumur panjang.

Ingatlah, pada saat yang sama pihak sana juga memegang daftar kriteria. Dia juga mungkin menemukan 1, 2, 3, 4, 5, 6 kriteria yang cocok, tapi mentok di kriteria nomor 7 yang tidak ia temukan pada diri Anda.

Jadi bagaimana? Silakan tetapkan semua kriteria, tapi bersiaplah mencoretnya bila itu tak Anda temukan pada sosok calon pasangan. If you cannot find the best, try to be satisfied with the second best, or even third, or fourth.

Satu hal penting, setelah menikah, Anda mungkin akan menemukan lebih banyak lagi ketidakcocokan dengan pasangan Anda. Nah, lu! Kini sudah tidak ada lagi jalan mundur. Pilihannya adalah membuat dia berubah. Tapi ingat, lebih mudah mengubah diri kita untuk orang yang kita cintai ketimbang membuat dia berubah untuk kita. Atau, bila tak ada yang bisa berubah, minimal saling mentolerir.

Jadi, kuncinya adalah menerima dan mentolerir. Bagi para pengembara pencari jodoh, yang mungkin Anda perlukan sekarang bukan berkelana mencari pangeran atau putri dari negeri dongeng. Anda hanya perlu menerima. Ya, jodoh itu adalah soal mau atau tidak mau menerima seseorang. Sesederhana itu.

Saya Kira Saya sudah Mendidik Anak

Seorang teman saya mengeluh soal anaknya.

“Masak dia gagal masuk Universitas X (dia menyebut sebuah PTN ternama). Padahal bapak ibunya sama-sama lulusan situ,” keluhnya.

“Lho, memangnya seleksi masuk PTN sudah selesai?”

“Belum sih. Ini hasil simulasi di tempat dia ikut bimbingan.”

“Lho, kamu memvonis anakmu berdasarkan hasil simulasi? Kupikir tadi sudah gagal benar. Artinya masih ada waktu untuk memperbaikinya, kan?”

“iya, sih.”

“Nah, ketimbang memvonis dia gagal, tidakkah lebih baik memberi dia semangat, mengubah program belajarnya, selagi masih ada waktu?”

ia terdiam.

“Ada satu hal lagi. Kenapa dirimu kau jadikan standar untuk anakmu? Apakah kalau bapak ibunya lulusan PTN X, anaknya juga harus begitu?”

“Iya, dong.”

“Apakah anakmu sama dengan kamu? Potensinya, bakatnya, minatnya? Pernahkah mengukur potensi anak? Pernahkah mencari tahu apa minat dia?”

Dia terdiam.

“Boleh jadi ia punya potensi yang sangat berbeda dengan kamu. Menyuruh dia mengikuti jalan kamu selain menyiksa dia juga boleh jadi telah membunuh potensi besar yang ia miliki. Ia punya bakat A, tapi akhirnya menjadi B, demi memuaskan keinginan orang tuanya.”

“Tapi aku tidak memaksakan jurusan yang harus dia masuki. Yang penting dia bisa masuk PTN.”

“Belum tentu juga anakmu butuh kuliah.”

“Lho, kok gitu?”

“Memang begitu. Tidak setiap orang harus kuliah. Ada banyak profesi yang tidak memerlukan kuliah. Juga ada banyak profesi yang tidak tersedia kuliahnya di PTN. Mematok target anak harus masuk PTN tertentu itu lebih merupakan gengsi orang tua ketimbang kebutuhan anak.”

“Lha, kamu nggak masalah kalau anakmu nggak kuliah? Bapaknya doktor, kok anaknya nggak kuliah?”

“Sama sekali tidak. Profesor saya di Jepang dulu, anaknya jadi hair stylist. Bapaknya profesor di bidang fisika. Dia tidak mempermasalahkan. Saya juga tidak. Ini jalan saya. Anak saya punya jalan sendiri.”

Ia terdiam lagi.

“Pernah ngobrol sama anakmu, memabahas minat dia?”

“Wah, sekarang sudah nggak.”

“Sepertinya kamu nggak akrab sama anakmu.”

“Akrab gimana?”

“Dekat. Apakah anakmu masih mau memeluk dan menciummu?”

Dia tertawa.

“Lho, ini serius. Anak saya biasa memeluk saya, cium saya, tidur di pangkuan saya. Bahkan kadang-kadang duduk di pangkuan saya. Padahal dia sudah gadis remaja. Ia terbuka bicara sama saya, termasuk soal pribadi, misalnya soal cowok yang dia suka.”

“Wah, itu nggak mungkin.”

“Kalau anakmu tidak nyaman membahas sesuatu denganmu, lalu dengan siapa dia membahasnya? Dengan teman, atau orang lain. Maka secara perlahan hubungan kepercayaan antara anak dan orang tua hilang. Anak lebih percaya pada orang lain. Pada titik itu kita tak lagi kenal siapa anak kita. Kamu galak sama anakmu?

“Ya, sering emosi juga.”

“Itulah. Kita sering sulit membedakan antara tegas dengan galak. Kita harus tegas, bukan galak. Kita harus menegur, bukan memarahi. Apa bedanya? Emosi. Galak, marah, sering kali merupakan luapan emosi. Itu bukan pendidikan. Mendidik itu memberikan arahan dengan tegas, bila diperlukan. Tujuannya jelas, mengarahkan. Kalau memarahi, itu sekedar untuk melepaskan amarah kita saja.”

Begitulah. Ada begitu banyak momen interaksi kita dengan anak yang terlewatkan begitu saja, tanpa kita isi dengan proses pendidikan. Kita mengira kita sudah mendidik anak, tapi nyatanya tidak. Mungkin kita justru lebih sering hadir sebagai sosok pengganggu dan perusak ketimbang pendidik.