Category Archives: Karir

Proses dan Hasil, dalam Dua Sudut Pandang

image

Kita sering mndengar nasihat atau ungkapan,”Lihatlah prosesnya, jangan cuma lihat hasilnya.” Itu nasihat yang sering kita dengar. Nasihat atau ungkapan pada umumnya kontekstual. Jadi, nasihat di atas harus kita pahami konteksnya.

Nasihat di atas berlaku dalam 2 konteks. Pertama, ketika kita melihat keberhasilan seseorang. Kita harus sadar bahwa keberhasilan dia tidak instant. Ada proses panjang yang sudah dia lewati. Karena itulah kita harus melihat prosesnya, agar kita belajar. Jangan sampai kita hanya melihat hasil akhir, lalu kita bertindak dengan harapan bisa sukses secara instant.

Konteks kedua adalah dalam hal mendidik dan mengajari, baik mendidik anak maupun mendidik bawahan. Orang Jepang bilang, “ookii me de miru”, lihat dengan mata yang besar. Artinya, lihatlah dengan lapang dada. Jangan hanya lihat di dua titik, dia berhasil atau tidak. Lihatlah kemajuan yang dia buat dalam setiap proses. Hargai setiap kemajuan itu untuk memberi dia semangat.

Banyak orang salah memakai nasihat ini. Ia menyodorkan proses ketika ia dituntut menyerahkan hasil. Saya saat ini sedang supervisi kepada 2 orang manager di anak perusahaan kami. Mereka sedang mengurus sesuatu yang mendesak, sudah lewat dari jadwal tapi belum ada hasil. Dalam diskusi mereka berusaha meyakinkan saya bahwa mereka sudah melakukan banyak hal (proses), tapi belum berhasil. Mereka berharap saya maklum.

Saya tegaskan kepada mereka bahwa perusahaan membutuhkan hasil. Get it done! Orang bisa berdalil tentang proses panjang yang mereka lalui, tapi kalau tidak ada hasil, tidak ada artinya. Ibarat orang sedang kelaparan, memanjat pohon untuk memetik buah, tapi tidak berhasil. Proses yang dia lakukan tidak mengobati laparnya.

Banyak orang menyodorkan proses ketika diminta hasil. Ia punya seribu penjelasan tentang kenapa ia belum berhasil. Ia begitu meyakinkan memberikan analisa soal kenapa dia belum berhasil. Padahal yang dibutuhkan adalah analisa bagaimana cara dia agar berhasil, berikut eksekusinya, bersama hasilnya.

Yang demikian itu disebut excuse, atau dalih. Dalam hidup kita punya begitu banyak dalih. Sampai ada ungkapan,”Losers make excuses, winners make progress.”

Salah satu hal penting dalam mengubah hidup kita adalah memandang hubungan proses-hasil dengan tepat. Kita menjalani proses. Ada saatnya di mana kita harus menghargai proses yang kita lalui. Tapi kita harus sadar bahwa proses saja pada akhirnya memang tidak ada maknanya. Kita dituntut mengeluarkan hasil. Maka saat kita belum mendapat hasil, berhentilah berdalih, karena memang tidak ada manfaatnya. Optimalkan energi kita untuk berpikir dan bertindak lebih kreatif. Kita belum berhasil semata karena itu, bukan karena hal-hal yang kita ungkap saat kita berdalih. Satu hal lagi, kita belum berhasil karena masih menyediakan ruang harapan agar dimaklumi dengan dalih kita.

Mahasiswa, Bagaimana Mengatur Waktu?

image

 

 

 

 

 

 

 

Dalam setiap kuliah saya kepada mahasiswa dengan tema mempersiapkan diri memasuki dunia kerja selalu muncul 2 petanyaan yang sebenarnya substansinya sama. Bagaimana cara mengatur waktu dengan disiplin? Bagaimana menghindari pengaruh lingkungan yang membuat kita tidak disiplin mengelola waktu?

Coba perhatikan kehidupan mahasiswa. Untuk apa waktu mereka paling banyak dihabiskan? Mahasiswa yang mengambil 20 SKS mata kuliah masih mempunyai sekitar 20 jam waktu tersisa, bila asumsinya waktu efektif adalah 40 jam seminggu. Dengan asumsi itu artinya pagi sebelum jam 8 dan sore hingga malam di atas jam 5 tidak dihitung sebagai waktu efektif. Juga akhir pekan, belum ditambahkan.

Katakanlah waktu efektifnya adalah 40 jam seminggu seperti orang bekerja. Lalu bagaimana sisa waktu 20 jam lagi dihabiskan? Mahasiswa pembaca tulisan ini bisa menghitung ulang. Dugaan saya sebagian besar waktu itu habis dipakai untuk nongkrong, ngobrol, chatting, atau main game. Sangat sedikit mahasiswa yang mengisi waktu di sela kuliahnya dengan membaca, berdiskusi, berlatih bahasa Inggris, atau menulis.

Ketika saya ingatkan tentang rentang skill yang mereka butuhkan untuk memasuki dunia kerja, termasuk di dalamnya kemampuan bahasa Inggris, hampir semua mahasiswa terpana. Bahkan mahasiswa yang sudah kuliah separo jalan di semester 6 atau 7 masih belum yakin soal skill yang sudah mereka miliki. Bahasa Inggris mereka masih tergagap-gagap. Kemudian mereka panik. Selama ini aku ngapain aja? Lalu mereka sadar betapa banyak waktu telah terbuang. Aku selama ini sudah menyia-nyiakan waktu. Tapi bagaimana cara agar bisa mengatur waktu dengan disiplin?

Dalam usaha memikirkan pengaturan waktu dengan disiplin itu mereka sadar bahwa pengaruh teman membuat mereka sulit disiplin. Ajakan untuk nongkrong dan ngobrol begitu sulit dihindari. Bagaimana menghindarinya?

Bagaimana solusinya? Saya selalu bilang, punyalah mimpi. Punyalah tujuan. Ini sebenarnya pesan utama pada setiap kuliah saya. Tetapkan tujuan, mau jadi apa, mau kerja apa setelah lulus kelak. Ingatkan diri sendiri bahwa kuliah harus diakhiri, dan setelah itu kita harus bekerja.

Setelah menetapkan tujuan, susunlah rencana terjangka untuk mencapainya. Itu dimulai dengan mengumpulkan informasi soal skill yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu. Misalnya seorang mahasiswa yang ingin menjadi instrument engineer harus tahu skill dan kualifikasi apa saja yang diperlukan seorang instrument engineer. Demikian pula bagi yang ingin menjadi diplomat, wartwan, atau pengusaha. Lalu susunlah rencana untuk mengumpulkan skill itu dalam format rencana tahunan, per semester, bulanan, mingguan, dan harian. Kemudian lakukan mekanisme PDCA, plan-do-check-action terhadap rencana itu.

Mahasiswa banyak menyia-nyiakan waktu karena memang tidak pernah merencanakan untuk mengisi waktunya. Agenda mereka selain kuliah selalu kosong. Maka mereka selalu menganggap waktu di luar kuliah adalah waktu bebas. Makanya mereka melewatkannya dengan santai.

Seseorang dengan tujuan dan rencana punya agenda untuk dilakukan hari ini, besok, minggu depan, dan seterusnya. Di pagi hari ia akan menyusun agenda soal apa saja yang ahrus dikakukan hari ini. Ada target yang harus dicapai. Setelah kuliah jam 9 saya harus melakukan ini, sampai jam 12. Kemudian ada kuliah sampai jam 3, setelah itu saya akan melakukan itu. Orang dengan rencana seperti ini akan fokus mengerjakan hal-hal yang sudah ia rencanakan, dan tidak akan menyia-nyiakan waktunya.

Tapi bagaimana menghindari godaan dari teman-teman? Kalau tidak bergabung nanti dianggap tidak solider dan bisa dikucilkan. Perhatikan bahwa hampir setiap mahasiswa mengeluh seperti itu. Saya tidak disiplin karena pengaruh teman. Kalau semua mahasiswa yang tidak disiplin mengaku akibat pengaruh teman, lantas siapa sebenarnya yang mempengaruhi?

Sebenarnya mereka itu adalah kumpulan orang-orang yang tidak disiplin dan saling mempengaruhi. Tapi mereka selalu merasa diri mereka terpengaruh oleh orang lain. Inilah yang disebut dengan perpektif korban.

Maka tinggalkanlah perspektif korban itu dengan bersikap proaktif, tumbuhjan perspektif bertanggung jawab. Tanggung jawab itu dalam bahasa Inggris adalah responsibility. Response-ability. Artinya seseorang yang bertanggung jawab adalah orang yang bisa memilih respons dia terhadap suatu keadaan di depannya. Seorang mahasiswa yang bertanggung jawab selalu bisa memilih, mengikuti ajakan nongkrong dari teman, atau menjalankan rencana yang sudah dia susun untuk hari ini.

Orang dengan perspektif korban selalu menganggap dirinya dalam posisi tidak punya pilihan. Padahal ia punya pilihan. Hanya saja, ia tidak menyukai resiko-resiko atas pilihan tersebut. Ya, setiap pilihan punya resiko. Memilih untuk tidak nongkrong bisa jadi akan dikucilkan, atau setidaknya terlewatkan dari obrolan seru. Itu sebuah resiko yang sangat tidak disukai anak muda. Padahal, memilih untuk nongkrong juga punya resiko, yaitu tidak tercapainya target membangun skill tadi. Yang ini sebenarnya resiko yang jauh lebih besar, karena menyangkut masa depan.

Maka saya selalu anjurkan untuk berhenti bersikap dengan perspektif korban. Jadilah orang yang bertanggung jawab, yang membebaskan diri mengatur respons yang akan dipilih dengan kesadaran atas resiko yang diambil pada setiap pilihan. Be the captain of your own life.

Jadi, bagaimana caranya agar bisa mengatur waktu dengan disiplin?
1. Tetapkan tujuan, sederhananya mau kerja apa setelah lulus nanti.
2. Susun rencana untuk mengumpulkan skill yang dibutuhkan untuk pekerjaan tadi. Buat rencananya sampai detil dengan target di setiap jangka waktu.
3. Jalankan rencana itu, lakukan evaluasi pencapaian target setiap selang waktu tertentu. Lakukan tindakan koreksi bila target tidak tercapai. Langkah-langkah inilah yang disebut PDCA tadi.
4. Kembangkan sikap proaktif dan bertanggung jawab. Aku bebas memilih setiap tindakan, dan aku siap menghadapi resikonya. Aku adalah kapten dalam kapal kehidupanku!

Selamat mencoba.

sumber foto: journal me.

Wawancara Kerja

Wawancara kerja adalah momok bagi banyak orang. Apalagi bagi yang baru lulus, belum punya pengalaman kerja. Mereka bahkan belum punya pengalaman menghadiri wawancara. Perlukan melakukan latihan dan persiapan khusus?

Jawabannya bisa tidak, bisa ya.

Hal terpenting dalam wawancara adalah menjadi diri sendiri. Pihak pemberi kerja ingin merekrut sosok yang nyata, bukan seorang aktor yang sedang memerankan sosok orang lain. Kalau Anda memerankan sosok orang lain dalam wawancara, kalaupun Anda lulus, maka yang lulus itu adalah sosok yang Anda perankan, bukan diri Anda. Artinya, selanjutnya Anda harus memerankan sosok itu selamanya. Besar kemungkinan Anda akan gagal. Kalaupun Anda sanggup, itu akan sangat menyiksa.

Sering kita berpikir, kita butuh kerja. Alih-alih mencari pekerjaan yang cocok untuk diri kita, sering kali yang terjadi adalah kita mencocokkan diri dengan pekerjaan yang tersedia. Salahkah? Tidak. Dalam beberapa sisi hidup memang menuntut adaptasi. Tapi ingat, beradaptasi berbeda dengan menjadi orang lain. Lagipula, pewawancara biasanya bisa membedakan siapa yang sedang menjadi diri sendiri dan siapa yang sedang berpura-pura.

Saya lebih menganjurkan untuk menjadi diri sendiri dalam wawancara. Tujuan kita adalah menjelaskan siapa kita sebenarnya kepada pewawancara. Kita akan lulus bila menurut dia kita memang cocok untuk pekerjaan yang ditawarkan. Bila tidak lulus, artinya kita memang tidak cocok. Kita tidak perlu memaksakan diri menerima pekerjaan yang tidak cocok dengan kita.

Jadi, perlukah mempersiapkan diri untuk wawancara? Tidak, kalau kita sudah biasa menjadi diri kita sendiri dalam keseharian kita. Perlukah berlatih untuk wawancara? Tidak. Kita tidak perlu berlatih untuk jadi diri kita sendiri, bukan?

Masalahnya adalah, banyak orang yang gagal menjelaskan atau mencitrakan dirinya kepada orang lain. Yang fasih berbahasa Inggris jadi terlihat gagap. Yang pandai matematika jadi terlihat tolol. Kenapa? Mungkin karena memang tak pandai menjelaskan. Atau, sekedar gugup saja.

Jadi dalam hal ini setidaknya ada 2 hal yang harus dipersiapkan yaitu bagaimana cara menjelaskan sesuatu, dan bagaimana mengatasi gugup.

Kemampuan menjelaskan sesuatu adalah bagian dari kemampuan berkomunikasi. Saya selalu mengingatkan kepada para mahasiswa untuk membangun kemampuan berkomunikasi. Intinya adalah bagaimana membuat informasi yang kita miliki sampai ke pihak lain secara utuh. Metodenya bisa berbagai cara. Dalam hal wawancara, kita berkomunikasi, menyampaikan informasi secara lisan.

Jadi, mirip dengan urusan menjadi diri sendiri di atas, kemampuan berkomunikasi tidak dibangun secara instant melalui latihan singkat. Kebutuhan terhadap kemampuan berkomunikasi tidak hanya saat wawancara, tapi juga diperlukan sepanjang karir. Karena itu saya anjurkan untuk membangun kemampuan ini sejak kuliah.

Bagaimana mengatasi rasa gugup? Gugup adalah reaksi tubuh terhadap sesuatu yang tidak biasa kita hadapi. Atau reaksi terhadap suatu harapan besar. Gugup saat wawancara adalah kombinasi keduanya.

Bagaimana mengatasinya? Pertama, dengan membiasakan diri. Dalam hal ini latihan diperlukan. Ada beberapa pertanyaan standar dalam wawancara. Misalnya soal latar belakang pribadi atau kuliah kita. Setidaknya latihlah diri Anda menjawab pertanyaan-pertanyaan standar ini. Bila bagian ini bisa dilewati tanpa gugup, itu akan membantu Anda melewati pertanyaan-pertanyaan lain.

Kedua, atur nafas. Gugup terkait dengan kerja jantung, dan kerja jantung terkait dengan pasokan oksigen ke tubuh. Aturlah nafas dengan baik, tarik nafas secara wajar, hembuskan dengan frekuensi wajar pula.

Ketiga, kendalikan konsentrasi dan pikiran. Fokuslah pada komunikasi dengan pewawancara. Alokasikan energi yang cukup untuk mendengar dan mencerna pertanyaan dengan baik. Banyak orang gagal menjawab pertanyaan karena gagal memahami pertanyaannya.

Keempat, jawab pertanyaan dengan jujur. Jujur artinya kita mengatakan apa adanya. Jujur tidak membuat kita perlu mengarang. Kalau kita mengarang, kita memerlukan energi tambahan untuk membuat karangan kita terlihat konsisten. Kesadaran bahwa kita sedang berbohong, ketakutan akan ketahuan akan membuat kita tambah gugup.

Kelima, be nothing to lose. Seperti saya tulis di atas, kalau kita tidak  lulus berarti pekerjaan itu memang tidak cocok dengan kita. Yakinlah bahwa akan ada pekerjaan lain yang cocok.

Lalu, apa yang biasa ditanyakan oleh pewawancara? Untuk calon pekerja lulusan baru biasanya hanya ditanya soal latar belakang pribadi, latar belakang pendidikan untuk menggali informasi tentang skill, dan motivasi. Sekali lagi kalau seseorang punya skill dan motivasi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ia cuma perlu menjelaskan dengan baik siapa dirinya.

Sadar Kompetensi

komp

 

 

 

 

Saya sering bertanya pada mahasiswa, nanti kalau sudah lulus mau jadi apa? Mau kerja sebagai apa? Sebagian dari mereka menjawab tidak tahu. Sebagian lagi menjawab ingin jadi ini dan itu, tapi ketika ditanya tentang apa kompetensi yang diperlukan untuk mendapatkan pekerjaan yang diinginkan tersebut, mereka tidak tahu. Mereka hanya bermimpi ingin menjadi sesuatu, tapi tidak menempuh jalan menuju impian tersebut. Itu namanya mimpi kosong.

Ada kawan saya mahasiswa jurusan komunikasi. Dia ingin jadi wartawan. Maka dia fokus menekuni kuliah-kuliah yang akan menjadi bekal untuk jadi wartawan. Mata kuliah pilihan yang dia ambil semua terkait dengan persiapan menjadi wartawan. Dia kemudian memang jadi wartawan setelah lulus.

Seperti itulah cara menempuh jalan menuju mimpi Anda.Tanpa upaya itu maka mimpi Anda adalah mimpi kosong belaka. Bila kebetulan cita-cita Anda tidak paralel dengan jurusan kuliah maka Anda harus belajar ekstra, dari sumber-sumber di luar kuliah.

Bagaimana mengetahui kompetensi yang diperlukan untuk suatu pekerjaan yang Anda inginkan? Baca! Artikel-artikel soal ini banyak bertenaran di internet. Stay in touch with your future! Bergaullah dengan orang-orang yang sudah bekerja di bidang yang ingin Anda tuju, baik secara nyata maupun virtual. Pergaulan itu sekaligus membuatkan Anda jaringan untuk masuk ke dunia kerja. Ingat, jaringan sangat penting dalam mencapai sukses.

Waktu kuliah dulu IP saya pas-pasan. Tapi saya sadar soal kompetensi. Saya memahami struktur ilmu fisika yang saya pelajari. Saya menguasai kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh seorang sarjana fisika, di antaranya menguasai sistem pengukuran serta analisa dan interpretasi data hasil pengukuran. Makanya ketika masuk bekerja sebagai field engineer di industri minyak saya tenang saja. Semua prinsip kerja yang merupakan prinsip pengukuran sudah saya kuasai. Saya hanya perlu belajar know how saat menggunakan alat ukur yang spesifik.

Di sisi lain, untuk jalur karir di dunia riset saya juga siap. Saya bisa menyusun proposal riset, dan sama seperti di atas saya bisa membangun sistem pengukuran dalam eksperimen fisika. Maka saya tidak kesulitan dalam wawancara seleksi penerima beasiswa.

Selain itu, bahasa Inggris skornTOEFL saya 570. Saya sudah biasa menulis di media massa. Saya juga sudah biasa berpidato atau presentasi di depan orang banyak, bahkan sanggup memberi training.

Begitulah. Mahasiswa harus sadar kompetensi apa yang harus mereka bangun, dan menempuh jalan untuk membangunnya. Ada kompetensi inti, ada pula kompetensi tambahan. Tanpa hal itu, sebaiknya Anda berhenti kuliah saja. Karena lulus sarjana pun kemungkinan Anda akan jadi pengangguran saja.

Lulusan SMA Jadi Manager, Mungkinkah?

mekanik
“Selembar ijazah sarjana itu hanyalah selembar kertas. Nilai intrinsiknya tak jauh berbeda dengan selembar tisu toilet. Kalau tidak disertai dengan skill pemegangnya, maka nilai ijazah itu tak jauh berbeda dengan selembar tisu toilet.”
 
Ada banyak karyawan perusahaan lulusan SMA yang kuliah lagi. Kuliah malam, kuliah akhir pekan. Kebanyakan kuliah di perguruan tinggi swasta. Ada perguruan tinggi yang bagus, tapi tidak sedikit pula yang abal-abal. Kalau ditanya, kenapa mau repot-repot kuliah, jawabannya adalah untuk mendapatkan ijazah atau kualifikasi sarjana.
 
Di antara yang kuliah itu sebenarnya banyak yang sudah mumpuni, memiliki skill dan keahlian setara, bahkan melebihi sarjana. Sayangnya mereka berada dalam suatu sistem diskriminatif, di mana ada hukum yang menetapkan hanya sarjana yang boleh jadi manager. Jadi mereka harus kuliah demi memenuhi tuntutan sistem tadi. Nah, ada pula yang latah. Mereka mengira ijazah sarjana adalah kertas magis yang bisa mengubah segalanya. Mereka tidak punya skill memadai. Kuliah asal-asalan di perguruan tinggi abal-abal, berharap dengan gelar sarjana nanti karirnya akan melesat.
 
Bagi saya sistem yang menetapkan syarat kesarjanaan untuk jabatan tertentu adalah sistem yang konyol, khususnya di dunia bisnis. Kita sudah sering menemukan pengusaha sukses, dengan pendidikan setara SMA. Tapi itu kan pengusaha, bukan karyawan. Lho, kalau pengusaha kenapa? Apakah pengusaha itu bukan seorang manager, dan tidak memerlukan skill seperti manager? Seorang pengusaha sukses tentu memiliki keterampilan dan keahlian yang melebihi kemampuan seorang manager. Artinya orang bisa saja meraih semua itu tanpa harus jadi sarjana.
 
Penetapan syarat seperti itu berpangkal dari pola pikir jalan pintas. Orang-orang HRD sering kali terlalu malas menjadi manusia untuk menilai manusia. Mereka lebih suka menjadi mesin yang menilai dokumen. Maka mereka menciptakan sistem yang bisa bekerja sendiri laksana mesin, untuk menilai kualitas manusia melalui setumpuk dokumen.
 
Pola pikir ini dipelihara untuk memudahkan kerja orang-orang HRD. Maka pintu ditutup bagi lulusan SMA, tak peduli seberapa hebat pun mereka. Sebaliknya, ini adalah demotivasi bagi karyawan lulusan SMA. Sejak masuk kerja mereka sudah mengalami pembunuhan semangat, bahwa karir mereka akan mentok di suatu tempat yang tidak tinggi. HRD dalam hal ini adalah Human Resources Demotivator.
 
Konsep saya soal HRD berbasis pada pengembangan kemampuan manusia secara nyata. Karena itu penilaiannya juga harus didasarkan atas kemampuan nyata, bukan sekedar melalui setumpuk dokumen. Bila telah terjadi pembuktian nyata di lapangan tidak diperlukan lagi dukumen untuk membuktikannya.
 
Apa yang mesti dilakukan oleh seorang lulusan SMA dalam berkarir agar ia bisa menjadi manager? Ia harus memiliki kualifikasi seorang manager. Ia harus matang dalam skill teknis di bidang yang ia tekuni. Kemudian ia juga harus membangun kemampuan mengelola, atau managerial skill.
 
Seorang karyawan baru lulusan SMA/SMK harus memulai pembangunan portfolionya dengan membangun skill teknis. Misalnya seorang karyawan di bagian perawatan (maintenance). Ia harus rakus dalam menguasai semua seluk beluk setiap mesin secara detil. Ia harus mampu tampil sebagai pemecah setiap masalah (problem solver). Jadilah orang dengan tagline,”I am the solution for every trouble you face.” Bila itu bisa ia lakukan ia akan dengan mudah naik ke posisi leader. Tahap ini mungkin akan memerlukan 4-5 tahun.
 
Di posisi leader seseorang sudah bisa mengasah kemampuan managerial. Ia sekarang seorang pemimpinm, punya 5-8 bawahan. Tugas tim ini adalah merawat mesin-mesin produksi dalam jumlah tertentu, memastikan semua berjalan dengan baik untuk mencapai produksi yang efisien.
 
Di posisi ini ia harus mampu bermetamorfosis dari seorang tukang menjadi pengelola. Ia tidak lagi perlu turun menangani masalah setiap mesin, tapi lebih fokus pada kegiatan memimpin orang untuk melakukan tugas-tugas mereka. Ia harus membangun skill kepemimpinan dan komunikasi, mendidik orang agar mampu menyelesaikan setiap masalah, sebagaimana ia dulu ketika masih menjadi seorang mekanik. Selanjutnya ia harus mampu menjalankan sebuah tim yang mampu mengatisipasi masalah. Tagline-nya kini adalah,”We solve your problems before they occur.” Satu hal lagi, ia juga sudah harus belajar mengelola anggaran. Bila ia berhasil membangun tim seperti ini, jabatan supervisor bukan hal yang sulit untuk diraih.
 
Tahap selanjutnya adalah memperbesar skala saja. Skala jumlah mesin yang bisa ditangani, jumlah staf yang bisa dipimpin, jenis masalah yang bisa dipecahkan, serta jumlah anggaran yang bisa dikelola. Kalau scale up ini berjalan lancar, maka posisi manager sudah di depan mata.
 
Saya percaya ada banyak lulusan SMA/SMA yang punya potensi untuk melakukan ini semua. Kuncinya adalah beri mereka kepercayaan. Jangan bunuh potensi mereka dengan menetapkan syarat yang tidak perlu. Dari sisi para lulusan SMA, mari bangun kepercayaan diri. Yakinlah bahwa Anda bisa. Robohkan tembok keangkuhan para sarjana itu!
 
sumber foto: wheels dot ca