Category Archives: Karir

Menjalani Keputusan

Membuat keputusan sering kali dianggap sebagai suatu yang sulit dan berat. Apa yang membuat kita sulit memutuskan? Resiko yang harus kita tanggung sebagai konsekuensi ddari keputusan kita. Banyak orang yang tidak menyadari bajwa sebenarnya hampir di setiap saat kita membuat keputusan. Kita tidak merasakannya, karena keputusan yang kita buat tidak punya konsekuensi yang besar.

Setiap pagi, usai mandi, kita buka lemari. Baju apa yang akan kita pakai hari ini? Di meja makan saat sarapan kita memilih, apa yang akan kita makan pagi ini? Semua itu adalah saat membuat keputusan. Kita nyaris tak merasakannya, bukan? Kenapa? Karena tak ada hal besar yang akan menjadi konsekuensinya.

Situasinya akan berbeda bila ada konsekuensi yang besar. Kita mungkin tidak akan santai memilih baju yang akan kita pakai bila siang nanti kita akan menghadiri wawancara kerja, melakukan presentasi penting, atau makan siang dengan presiden. Atau, seorang gadis mungkin akan butuh waktu beberapa jam untuk memutuskan, baju mana yang akan dia pakai untuk pergi kencan.

Saat hendak membuat keputusan kita mencoba melongok ke masa depan. Kita mencoba mencari tahu, apa akibat dari keputusan yang akan kita ambil. Sayangnya, kita tak punya mesin waktu, sehingga kita tak bisa tahu pasti soal apa yang akan terjadi. Yang bisa kita lakukan hanyalah berhitung berbasis data, yang kita refleksikan pada situasi masa depan, atau sekedar mereka-reka berdasar rasa.

Keputusan-keputusan penting dalam urusan bisnis dan kenegaraan memerlukan data yang sahih dan akurat sebagai dasar. Dengan data yang akurat dan sahih, kita bisa meramalkan dengan akurat pula apa akibat dari sebuah keputusan. Dengan begitu ketidakpastian soal akibat sebuah keputusan bisa ditekan seminimal mungkin. Dengan data yang baik, membuat keputusan akan lebih ringan.

Tapi bagaimanapun juga, data itu adalah soal masa lalu. Tak ada ramalan yang benar-benar bisa memastikan apa yang akan terjadi di masa depan. Artinya setiap keputusan pasti punya resiko, atau konsekuensi yang tak kita sukai. Itulah yang membuat banyak orang yang sulit atau enggan membuat keputusan.

Jadi, bagaimana cara mengatasi masalah itu? Pertama, ingatlah seperti ditulis di atas, setiap keputusan pasti punya risiko. Kita takut membuat keputusan yang salah. Apa itu keputusan yang salah? Yaitu keputusan yang akibatnya tidak kita inginkan. Untuk mencegahnya, kita lakukan simulasi atau refleksi akibat keputusan itu, dengan data dan analisa tadi. Sekali lagi, tidak ada jaminan soal itu.

Pada akhirnya kita memang harus memutuskan. Maka, putuskanlah. Toh, apapun yang kita pilih, apapun keputusan kita, tidak ada satupun yang konsekuensinya bergaransi. Artinya, sebenarnya sama saja, semua pilihan bisa menjadi pilihan yang buruk, setiap keputusan bisa menjadi keputusan buruk. Demikian pula sebaliknya, setiap keputusan bisa menjadi keputusan yang tepat. Jadi, putuskan, lalu jalani konsekuensinya.

Hal lain yang lebih penting adalah, membuat keputusan bukanlah bagian akhir dari sebuah proses. Sebenarnya ia adalah sebuah awal. Membuat keputusan bukan seperti memencet tombol ON pada sebuah mesin yang telah terprogram, sehingga tak ada lagi yang bisa kita lakukan setelah itu. Banyak hal yang bisa kita lakukan, atau harus kita lakukan setelah mengambil sebuah keputusan. Lebih tepat lagi, sebuah keputusan sebenarnya hanyalah satu bagian dari sebuah proses besar. Setelah itu kita akan membuat sejumlah keputusan lain sebagai rentetan dari keputusan itu.

Bagian terpenting dari sebuah keputusan sebenarnya bukan pada momen ketika keputusan itu diambil, melainkan pada tindakan untuk mengawal keputusan itu. Keputusan dibuat untuk mencapai tujuan. Yang memastikan tercapainya tujuan bukan keputusan itu sendiri, tapi tindakan untuk mencapai tujuan itu. Seorang pengusaha, misalnya, membeli truk untuk membangun bisnis logistik. Tercapai atau tidaknya tujuan bisnisnya ditentukan oleh tindakannya dalam berbisnis, bukan sekedar dari keputusan dia membeli truk.

Sebuah keputusan memerlukan banyak keputusan lain untuk memastikan ia menjadi sebuah keputusan yang tepat. Demikian pula, sebuah keputusan bisa jadi hanyalah keputusan yang diambil untuk mengawal keputusan sebelumnya. Jadi, buatkah keputusan, bertindaklah untuk mengawalnya. Lakukan tindakan-tindakan untuk memastikan bahwa keputusan itu tepat.

Sebuah keputusan bisa tepat, bisa pula tidak tepat. Bila tidak tepat, maka kita perlu membangun kondisi-kondisi untuk membuatnya jadi keputusan yang tepat. Atau, kita bisa juga mengambil keputusan lain untuk mengubahnya. Ingat, mengubah keputusan itu bukan dosa, itu hanya tindakan biasa. Bila diperlukan, ubah saja.

Tapi bagaimana bila keputusan tak mungkin diubah? Apa boleh buat, jalani saja. Carilah jalan yang membuat kita bisa menikmati sisi-sisi positif dari konsekuensi keputusan kita. Toh, kita ratapi pun tidak mengubah apapun, bukan?

Brand Yourself

Branding is learning. Banyak orang yang gagal memahami itu. Orang mengira branding atau pencitraan itu cukup dilakukan dengan memoles CV dan berakting saat wawancara. Itu salah besar!

Adapun marketing, sesekali adalah ndingkluk banting harga, yang penting bisa masuk dulu ke pasar. Setelah mendapat kepercayaan pasar, barulah kita bisa pasang harga layak. Bagaimana mendapat kepercayaan pasar? Lagi-lagi belajar, belajar, dan belajar.

Ada seorang teman, sekarang bekerja sebagai wartawan di media ternama. Ia ingin pindah kerja. Saya katakan, pindah saja. Tapi saya bisa kerja apa selain jadi wartawan? Ooo, banyak. Wartawan itu kerja di media. Maka, ia bisa bekerja sebagai media analyst, media strategist, public relation officer, bahkan marketing. Kedengaran keren, kan? Ya, keren itu karena diberi label keren, sehingga “harga”nya mahal. Tapi sekali lagi, kalau cuma keren di atas CV, itu namanya keren bodong.

Saya mengenal seseorang yang tadinya wartawan, sekarang jadi pengamat media sosial yang sudah jadi seleb, karena sering tampil di berbagai seminar dan TV. Kok bisa begitu? Sekali lagi, kuncinya belajar, belajar, belajar.

Ketika saya pulang dari Jepang tahun 2007, saya terancam jadi pengangguran. Saya kirim CV ke berbagai perusahaan, tidak ada yang mau menerima saya. Bahkan dipanggil wawancara pun tidak. Kenapa? Karena keahlian saya tidak relevan. Waktu itu mungkin tidak ada perusahaan yang membutuhkan doktor fisika dengan pengalaman riset sekian tahun. Untuk apa? Yang laku adalah sarjana teknik.

Maka masa itu adalah masa ndingkluk, alias banting harga. Kerja apa aja, yang penting dibayar. Berapa aja, yang penting ada pemasukan. Maka saya lihat pasar, dan menyesuaikan diri dengan pasar. Apa yang laku? Bukan keahlian sebagai doktor fisika, namun kemampuan bahasa Jepang. Bahasa Jepang saya tingkat mahir, Level 1. Maka akhirnya dengan kemampuan ini saya diterima kerja sebagai manager di sebuah perusahaan kecil dan baru.

Beberapa hari menjalani karir baru saya diajak makan siang oleh orang Jepang, presdir perusahaan group tempat saya bekerja. “Otakmu itu seperti jaringan elektronik. Kamu sudah punya rangkaian elektronik di situ, kalau kamu ingin fungsi baru, kamu tinggal menggantinya dengan komponen lain, maka ia akan bekerja dengan fungsi yang berbeda. Artinya, kamu sudah terbiasa belajar, dan kamu akan bisa belajar tentang apa saja.”

Saya anggap kalimat-kalimat itu nasihat, bukan pujian. Maka saya belajar-belajar-belajar. Hari-hari pertama di kantor saya bengong, tidak tahu harus berbuat apa. Saya lihat ada buku UU Ketenagakerjaan. Saya baca sampai tuntas. Itu pengetahuan pertama tentang dunia industri yang saya dapat. Berikutnya saya belajar tentang berbagai proses perizinan. Lalu dasar-dasar akuntansi, pajak, bea-cukai, ekspor-impor. Semua itu saya pahami dalam multi lingual, Indonesia-Inggris-Jepang, sehingga saya bisa menjelaskan semuanya ke pihak pimpinan di Jepang.

Setahun bekerja saya bukan lagi pendatang baru. Seluruh urusan di perusahaan manufaktur skala kecil-menengah bisa saya tangani. Maka saya pun diangkat jadi direktur. Selanjutnya saya bisa melabeli diri dengan berbagai label, sesuai kebutuhan pasar saja. Saya juga pasang label, bahwa saya siap mengembangkan perusahaan, membuka bisnis baru, karena saya punya latar belakang riset. Di sini barulah keahlian saya sebagai doktor bisa dijual. Namanya bisa dibikin keren: business development.

Jadi kuncinya cuma 2: yaitu, 1. Siap banting harga untuk bisa masuk ke pasar, dan 2. Belajar, belajar, belajar.

Then, you can brand yourself into whatever brand you like.

🙂

Refleksi dari “To Do List”

todolist
To do list adalah daftar tugas-tugas yang harus dikerjakan pada suatu rentang waktu. Biasanya dibuat harian, mingguan, atau bulanan. Ini adalah bagian dari perencanaan. To do list bisa dibuat untuk tim, atau untuk pribadi. Tentu saja daftar ini tidak harus dibuat dalam bentuk tertulis. Kita bisa saja mengagendakan pekerjaan-pekerjaan kita dalam memori otak kita, tanpa mencatatnya. “To do list” bukanlah soal bentuk fisik catatannya, tapi substansinya, yaitu kita merencanakan untuk melakukan sesuatu pada suatu rentang waktu.
 
Nah, pernahkah Anda menganalisa isi “to do list” Anda? Sadarkah Anda bahwa “to do list” banyak mencerminkan siap diri Anda, dan bagaimana karakter Anda dalam bekerja?
 
Berikut beberapa hal yang bisa Anda pahami dari “to do list” Anda.
 
1. Tidak punya “to do list”, atau daftarnya kosong. Artinya Anda tidak punya rencana apapun. Anda tidak terbiasa hidup dengan perencanaan, atau memang tidak ingin mengerjakan apapun. Kok bisa? Mungkin Anda tidak peduli dengan hidup Anda.
 
Ada begitu banyak orang hidup tanpa tujuan, tanpa target. Hidup hanya mengalir, mengikuti bertambahnya waktu. Ia berharap pada kebetulan-kebetulan yang menghampirinya. Bila ada kebetulan yang menguntungkan, maka ia mendapat sedikit keuntungan. Bila tidak, ia akan menjadi pecundang seumur hidup. Saya berharap Anda tidak begitu.
 
2. Penuh dengan tugas-tugas kemarin, atau minggu lalu. Atau, penuh dengan tugas-tugas mendesak. Itu artinya Anda sering lalai dalam melaksanakan tugas, tidak patuh pada tenggat waktu. Besar kemungkinan karena Anda lambat dalam bekerja, atau Anda sering menunda pekerjaa. Anda adalah orang yang bermasalah dalam pengelolaan waktu.
 
Benahi sistem kerja Anda. Kerjakan tugas dengan cepat. Hentikan kebiasaan menunda.
 
3. Penuh dengan tugas dari orang lain. Artinya Anda seorang bawahan, atau seorang penunggu perintah. Anda belum jadi pengambil inisiatif. Anda menunggu tugas dibebankan oleh orang lain kepada Anda. Waktu Anda mungkin akan habis dipakai untuk melayani orang.
 
Biasakan untuk mengerjakan pekerjaan yang Anda anggap perlu untuk diselesaikan, sebelum diperintahkan. Biasakan berpikir untuk merumuskan tindakan yang akan Anda ambil. Jadilah orang yang penuh inisiatif.
 
4. Penuh dengan tugas-tugas rutin. Anda tidak melakukan tugas-tugas baru. Tapi pekerjaan saya memang hanya ini, rutin. Lalu, bagaimana Anda akan berkembang? Anda mau berada di tempat yang sama, mengerjakan hal yang sama, sampai mati? Tidak kan? Maka sisipkan agenda-agenda pengembangan, agenda belajar dalam to do list Anda. Tetapkan target untuk belajar 1 pengetahuan baru, 1 keterampilan baru, setiap waktu. Setiap hari baca satu artikel, belajar satu keterampilan.
 
5. Isinya terlalu banyak. Mungkin Anda tidak bisa memilah mana yang penting dan mana yang tidak untuk ditempatkan dalam to do list. Atau, Anda tidak pandai menetapkan prioritas.
 
Ini juga bisa bermakna bahwa Anda bekerja sendiri, tidak dengan tim. Anda tidak pandai mendelegasikan tugas, berbagi beban. Anda membebani diri dengan pekerjaan-pekerjaan yang seharusnya bisa dilakukan oleh orang lain.
 
Atau, sederhananya, Anda sedang dikerjai, baik oleh atasan mapupun rekan kerja.
 
Latihlah diri Anda untuk berbagi tugas, mendelegasikan pekerjaan. Bila bawahan atau rekan kerja tidak mampu melakukan tugas itu, latihlah mereka agar mampu. Dengan cara itu kosongkan sebanyak mungkin waktu Anda, agar Anda bisa mengambil inisiatif untuk melakukan pekerjaan yang lebih penting dan lebih besar. Juga agar Anda punya lebih banyak waktu untuk mengambangkan diri.
 
Selamat menganalisa “to do list” Anda.

Padahal Saya Sudah Antisipasi

Dalam sebuah diskusi di suatu sesi training kami mendiskusikan suatu kasus sederhana. Sekelompok karyawan merencanakan acara kumpul keluarga. Segala sesuatu sudah disiapkan. Tempat tujuan, bis untuk angkutan, makanan untuk bekal, semua sudah dipesan. Suatu pagi mereka berkumpul, siap untuk berangkat. Di akhir cerita, mereka terpaksa harus bubar jalan. Acara dibatalkan.

Apa pasal? Bis yang hendak dipakai tidak datang. Setelah diselidiki, ternyata pihak agen tempat mereka memesan bis ternyata tidak pernah memesan ke perusahaan bis. Mereka menipu.

Dalam situasi itu kita sangat mudah jatuh ke sudut pandang korban. Begitulah para peserta training tadi. “Kami ditipu, artinya kami korban, dong.” Saya jawab,”Kalau masih ngotot merasa diri sebagai korban, saya harus katakan bahwa kalian adalah korban kebodohan kalian sendiri.”

Kami kemudian melakukan diagnosa lebih detil terhadap kasus itu. Dari diagnosa itu ternyata mereka baru sadar bahwa mereka sama sekali tidak paham soal seluk beluk penyewaan bis wisata. Mereka mengira agen adalah pemilik bis. Padahal bukan. Agen itu hanyalah pemasar. Mereka menerima pesanan, dan mereka harus memesan bis kepada perusahaan pemilik bis.

Panitia acara tadi, karena tidak tahu, menggantungkan segala urusan bis kepada agen. Mereka membayar sewa saat memesan, sekedar menerima bukti pembayaran dari agen. Mereka tidak melakukan konfirmasi, dengan meminta bukti pemesanan bis dari agen ke perusahaan pemilik bis.

Begitulah. Banyak rencana kita yang gagal karena salah dalam perencanaan. Kita merasa semua sudah direncanakan dengan baik, padahal tidak. Masalah utamanya, kita tidak tahu soal hal yang kita rencanakan. Ini adalah kesalahan paling fundamental dalam perencanaan.

Kesalahan kedua adalah percaya. Ada bagian vital pada rencana kita yang dioperasikan pihak luar, dan kita tidak mengontrolnya. Kita percaya saja bahwa mereka akan melakukan tugasnya dengan baik. Ada begitu banyak kegagalan jenis ini. Pihak luar yang diberi pekerjaan tidak melaksanakan, rencana kita gagal total. Parahnya, kita tidak mengambil pelajaran. Karena menurut kita yang salah adalah pihak luar, bukan kita. Cara kerja seperti ini persis sama dengan Anda memakai rompi bom, dan menyerahkan pemicunya ke tangan orang lain. Dia bisa meledakkan Anda kapan saja.

Ingat, kita adalah yang punya rencana. Kita harus memastikan setiap komponen dalam rencana kita kendalinya ada di tangan kita.

Kesalahan ketiga adalah tiadanya tindakan koreksi atau rencana cadangan. Pada kejadian tadi, panitia bisa saja mencari bis pengganti. Tapi itu tidak dilakukan. Mungkin mereka bahkan tidak tahu bagaimana mencari kendaraan sewa untuk keadaan darurat.

Saya ceritakan pada mereka bahwa saya juga sering mengurus acara seperti ini dulu. Pernah suatu kali, saat dalam perjalanan, bis yang kami tumpangi mogok. Saya kemudian mencegat beberapa angkot yang lewat, kemudian menyewanya untuk membawa kami ke tempat tujuan.

Kesalahan keempat, kesalahan evaluasi. Panitia acara tadi melakukan evaluasi. Kesimpulannya, kita ditipu oleh agen. Tindakan koreksinya, jangan pakai agen itu lagi. Selesai. Padahal, seperti kita bahas di atas, ada begitu banyak kesalahan mereka sendiri yang tidak dimasukkan dalam evaluasi. Artinya, di masa depan besar kemungkinan mereka akan melakukan kesalahan yang sama.

Ada banyak kasus kejadian berulang, padahal sudah dilakukan evaluasi, dan diantisipasi. Kenapa? Karena evaluasi dan koreksinya salah, atau tidak utuh. Yang mampu dilihat dalam evaluasi ternyata hanya akibat, yang dikira sebab. Evaluasi tidak menyentuh akar masalah. Evaluasi yang tidak menyentuh akar masalah adalah evaluasi yang sia-sia.

Ingat, bila Anda gagal merencanakan, maka Anda sedang merencanakan kegagalan.

Proses dan Hasil, dalam Dua Sudut Pandang

image

Kita sering mndengar nasihat atau ungkapan,”Lihatlah prosesnya, jangan cuma lihat hasilnya.” Itu nasihat yang sering kita dengar. Nasihat atau ungkapan pada umumnya kontekstual. Jadi, nasihat di atas harus kita pahami konteksnya.

Nasihat di atas berlaku dalam 2 konteks. Pertama, ketika kita melihat keberhasilan seseorang. Kita harus sadar bahwa keberhasilan dia tidak instant. Ada proses panjang yang sudah dia lewati. Karena itulah kita harus melihat prosesnya, agar kita belajar. Jangan sampai kita hanya melihat hasil akhir, lalu kita bertindak dengan harapan bisa sukses secara instant.

Konteks kedua adalah dalam hal mendidik dan mengajari, baik mendidik anak maupun mendidik bawahan. Orang Jepang bilang, “ookii me de miru”, lihat dengan mata yang besar. Artinya, lihatlah dengan lapang dada. Jangan hanya lihat di dua titik, dia berhasil atau tidak. Lihatlah kemajuan yang dia buat dalam setiap proses. Hargai setiap kemajuan itu untuk memberi dia semangat.

Banyak orang salah memakai nasihat ini. Ia menyodorkan proses ketika ia dituntut menyerahkan hasil. Saya saat ini sedang supervisi kepada 2 orang manager di anak perusahaan kami. Mereka sedang mengurus sesuatu yang mendesak, sudah lewat dari jadwal tapi belum ada hasil. Dalam diskusi mereka berusaha meyakinkan saya bahwa mereka sudah melakukan banyak hal (proses), tapi belum berhasil. Mereka berharap saya maklum.

Saya tegaskan kepada mereka bahwa perusahaan membutuhkan hasil. Get it done! Orang bisa berdalil tentang proses panjang yang mereka lalui, tapi kalau tidak ada hasil, tidak ada artinya. Ibarat orang sedang kelaparan, memanjat pohon untuk memetik buah, tapi tidak berhasil. Proses yang dia lakukan tidak mengobati laparnya.

Banyak orang menyodorkan proses ketika diminta hasil. Ia punya seribu penjelasan tentang kenapa ia belum berhasil. Ia begitu meyakinkan memberikan analisa soal kenapa dia belum berhasil. Padahal yang dibutuhkan adalah analisa bagaimana cara dia agar berhasil, berikut eksekusinya, bersama hasilnya.

Yang demikian itu disebut excuse, atau dalih. Dalam hidup kita punya begitu banyak dalih. Sampai ada ungkapan,”Losers make excuses, winners make progress.”

Salah satu hal penting dalam mengubah hidup kita adalah memandang hubungan proses-hasil dengan tepat. Kita menjalani proses. Ada saatnya di mana kita harus menghargai proses yang kita lalui. Tapi kita harus sadar bahwa proses saja pada akhirnya memang tidak ada maknanya. Kita dituntut mengeluarkan hasil. Maka saat kita belum mendapat hasil, berhentilah berdalih, karena memang tidak ada manfaatnya. Optimalkan energi kita untuk berpikir dan bertindak lebih kreatif. Kita belum berhasil semata karena itu, bukan karena hal-hal yang kita ungkap saat kita berdalih. Satu hal lagi, kita belum berhasil karena masih menyediakan ruang harapan agar dimaklumi dengan dalih kita.