Category Archives: Jepang

Melampaui Persaudaraan Islam

“I am really angry with you,” kata teman saya pada suatau hari. Ketika itu saya adalah visiting scientist di Kumamoto University, Jepang. Teman saya itu masih berstatus mahasiswa S3. Kebetulan kami satu fakultas, dan gedung yang kami tempati berdekatan, sehingga di waktu-waktu luang kami sering saling mengunjungi. Dia orang Tunisia. Badannya tinggi besar, dan wajahnya dihiasi jenggot dan cambang. Ketika dia mengatakan hal itu tadi wajahnya memang tampak seram. Tapi saya masih bisa santai dan nyengir, karena saya fikir dia sedang bercanda. Tapi dia bilang sekali lagi dengan tegas, “I am serious, brother. I am angry with you,”katanya.
 
Lalu saya mulai menanggapi dia dengan serius. Ini terjadi tahun 2002. Ketika itu saya baru saja selesai kuliah S3. Selesai belajar saya tidak langsung kembali ke Indonesia, karena ada tawaran untuk bekerja sebagai visiting scientist selama 2 tahun. Saya terima tawaran itu. Karena selama belajar di program S3 saya tidak pulang, saya gunakan sedikit waktu yang ada untuk pulang ke Indonesia. Sekedar berlibur, juga mengurus beberapa dokumen perizinan karena waktu itu saya masih berstatus PNS.
 
Tapi yang terpenting adalah memperkenalkan putri pertama saya ke keluarga di Indonesia. Sarah, putri pertama saya, lahir saat saya sedang menulis disertasi, di musim dingin tahun 2002. Saat saya selesai belajar dia sudah berumur 7 bulan. Seusia itu, hanya kakek dan nenek dari pihak istri saya yang pernah melihat Sarah. Mereka datang berkunjung menjelang Sarah lahir. Anggota keluarga yang lain belum pernah melihat. Maka kami putuskan untuk membawa dia pulang kampung.
 
Menjelang pulang, kami pindah apartemen. Karena sibuk, kami benar-benar hanya memindahkan barang-barang ke apartemen baru. Tidak ada waktu untuk mengeluarkanya dari kardus. Apalagi menatanya. Begitulah. Setelah selama kurang lebih sebulan berkumpul dengan handai tolan, kami pun kembali ke Kumamoto dengan penerbangan malam hari pada rute rute Jakarta-Kuala Lumpur-Fukuoka selama kurang lebih 8 jam, disambung dengan perjalanan darat selama 2 jam dari Fukuoka ke Kumamoto. Sampai di rumah dalam lelah kami harus mulai menata barang-barang pindahan, sambil tentu saja mengasuh bayi.
 
Saat berniat memindahkan sebuah kotak, istri saya merasakan sakit pada pinggangnya, hingga dia tidak bisa bergerak. Sedikit gerakan saja akan membuat dia menjerit kesakitan. Akhirnya dia hanya bisa terbaring tak berdaya. Saya duga ini akibat kelelahan. Sepanjang penerbangan dia harus tidur bersandar di sandaran kursi, sambil memeluk bayi. Ini mungkin memberi beban yang berlebih pada otot-otot punggungnya. Dan kelelahan itu mencapai puncak ketika dia mencoba mengangkat beban berat. Setelah 1-2 jam mencoba meringankan rasa sakit istri saya tanpa hasil akhirnya saya telepon layanan gawat darurat untuk meminta bantuan ambulans. Lima menit kemudian ambulans datang. (Ya, layanan ambulans dan pemadam kebakaran di Jepang diset sedemikian rupa sehingga penelpon bisa mendapat layanan paling lambat 5 menit setelah ia menelpon).
 
Istri saya dibawa ke rumah sakit terdekat. Saya mendampinginya di ambulans sambil menggendong bayi yang baru berumur 9 bulan. Di rumah sakit dokter memutuskan bahwa istri saya harus menjalani rawat inap. Ini adalah masalah. Soal pekerjaan, karena status saya peneliti, saya bisa agak fleksibel dalam soal jadwal. Membolos beberapa hari masih bisa diizinkan, yang penting target pekerjaan nantinya bisa dikejar. Masalahnya adalah bayi saya. Dia harus mendapat air susu dari ibunya beberapa kali sehari. Padahal jarak dari rumah sakit ke apartemen saya cukup jauh, dan saya tidak punya kendaraan (mobil). Yang saya punya hanyalah sepeda. Tidak mungkin jarak itu bisa saya tempuh berkali-kali sehari dengan sepeda. Pun anak saya tidak bisa ikut menginap bersama ibunya.
 
Untunglah “dewa penolong” datang pada saat yang tepat. Sebenarnya lebih cocok saya sebut dengan “dewi-dewi penolong”. Mereka adalah dua orang nenek, orang Jepang. Mereka ini tadinya adalah “murid” saya. Ceritanya saat jadi mahasiswa saya bekerja paruh waktu, mengajar bahasa Inggris. Pesertanya adalah orang-orang tua pensiunan yang ingin mengisi waktu luang, dan ibu-ibu rumah tangga. Bagi saya ini lebih cocok disebut kelompok minum teh karena mereka sebenarnya tidak pernah benar-benar belajar. Yang saya ajarkan minggu ini seringkali tidak pernah benar-benar mereka ingat pada pertemuan berikutnya. Karenanya saya lebih sering mengisi forum ini dengan obrolan tentang berbagai hal, termasuk memperkenalkan budaya Indonesia. Tentu saja dalam bahasa Jepang, bukan bahasa Inggris.
 
Selayaknya klub ibu-ibu, acara di forum ini senantiasa dibumbui dengan pertukaran kue, bumbu dapur, teh, sayuran, buah, atau acar (tsuke mono) hasil karya ibu-ibu itu dalam rangka mengisi waktu luang mereka. Sebagai yang bukan ibu-ibu, apalagi dengan status saya sebagai sensei (guru), saya lebih sering jadi penerima ketimbang penukar. Dan terkadang pemberian itu dalam porsi yang agak berlebihan. Suatu ketika, saat saya menunjukkan minat pada beras organik, dua orang nenek tadi menganugerahi saya dengan sekarung beras. Tepat menjelang saya pulang ke tanah air, mereka menjanjikan akan membawakan lagi sekarung. Karena saya tidak di rumah, saya minta mereka untuk menundanya.
 
Nah, saat berniat mengantarkan beras itulah mereka menemukan saya sedang merana: mengasuh bayi di rumah berantakan, sementara istri saya terbaring di rumah sakit. Mereka, secara otomatis mengambil inisiatif membantu membereskan rumah. Lebih tepat disebut merekalah yang membereskan rumah saya, karena saya lebih banyak mengurus bayi. Duh, saya sampai bingung. Mereka membelikan makanan, juga beberapa perabot kecil yang mereka anggap saya butuhkan. Pada saat diperlukan salah satu dari mereka menyupiri saya ke rumah sakit, agar anak saya bisa menyusu. Setelah 4 hari menjalani rawat inap istri saya diperbolehkan pulang. Karena merasa lega saya mengirim e-mail ke komunitas muslim di Kumamoto, memberitakan bahwa istri saya sakit, tapi sudah sembuh.
 
Inilah yang membuat teman saya tadi marah. Dia menganggap saya lebih memilih orang Jepang, yang non-muslim, sebagai tempat berbagi, ketimbang saudara saya sesama muslim. Saya tidak ingin mendebat teman saya itu, karena saya tahu itu hal yang percuma. Tentu saja saya sadar soal persaudaraan sesama muslim. Saya sering menikmati hal yang indah melalui hal itu. Tapi pada saat yang sama, hal itu tidak pernah membuat saya membatasi pergaulan. Selain itu, soal bantuan tadi cuma soal kebetulan. Kebetulan dua nenek tadilah yang pertama menemukan kami, sebelum saya sempat minta tolong kepada pihak lain. Kebetulan pula mereka ini adalah orang kaya, dalam arti berlebih dalam soal harta, juga soal waktu, karena mereka pensiunan. Bantuan-bantuan yang mereka berikan kepada saya kecil nilainya untuk ukuran finansial mereka. Itu tentu jumlah yang besar bagi anggota komunitas muslim kota kami yang sebagian besar adalah mahasiswa itu. Lalu, dua orang nenek ini punya waktu luang hampir sehari penuh, yang tentu saja tidak dimiliki oleh seorang mahasiswa asing di Jepang. Jadi saya sedikit merasa nyaman kalau saya “hanya” merepotkan dua orang nenek ini, tanpa perlu merepotkan rekan saya yang lain. Toh bantuan dari mereka sudah lebih dari cukup. Makanya saya memilih untuk tidak mengabarkan situasi keluarga saya sampai istri saya sembuh.
 
Kembali ke soal persaudaraan muslim. Saya sering menikmati hal ini. Banyak teman saya sesama pelajar asing di Jepang dari berbagai bangsa yang tanpa pamrih membantu saya dalam berbagai hal. Ini bagi saya luar biasa indah, mengingat kami tidak punya hubungan kekerabatan. Bertemu saja karena kebetulan, sama-sama berada di negeri asing. Tapi setelah saya fikir lagi, tidak hanya agama yang bisa mengikat demikian kuat. Ada teman saya sejak sama-sama masih belajar bahasa Jepang di Kuala Lumpur, orang Filipina, katolik, yang juga sangat dekat hubungannya dengan saya. Dia malah merasa saya lebih dekat daripada teman dia sesama orang Filipina.
 
Ada pula seorang nenek Jepang yang lain. Anak perempuannya sempat belajar bahasa Indonesia pada istri saya. Namun hubungan kami melampaui hal itu. Dia rutin mengunjungi kami. Saat saya harus ke luar kota untuk urusan kuliah, dia sampai menginap di apartemen saya, menemani istri dan bayi saya. Ini terjadi beberapa kali.Dan masih banyak yang lain. Tidak bisa saya sebut satu-satu. Intinya, kami berteman, saling membantu, tanpa perlu ada ikatan khusus yang mempertautkan, kecuali, tentu saja, bahwa kami sama-sama manusia.
 
Persaudaraan Islam, bagi saya sangat indah. Tapi ini masih membutuhkan sebuah syarat: bahwa kita seagama. Persaudaraan antar sesama manusia adalah persaudaraan tanpa syarat. Persaudaraan Islam, kadang saya rasakan berat syaratnya. Karena ada semacam keharusan untuk meninggalkan atau setidaknya mengurangi persaudaraan dalam bentuk lain, dengan umat lain, seperti yang diekspresikan oleh teman saya tadi. Ini kadang terasa sebagai beban. Dan saya memilih untuk melampauinya.

Ano Hito Wa Mo Inai

tohoku

 

 

 

 

 

 

 

 

Judul tulisan ini adalah penggalan syair lagu “Aobajo Koiuta” yang dinyanyikan oleh Muneyuki Sato. Lagu ini adalah lagilu cinta, dengan latar belakang lansekap kota Sendai, kota yang oleh orang Jepang disebut Mori no Miyako. Banyak tempat-tempat yang menjadi simbol kota Sendai disebut dalam lagu ini. Judulnya memuat kata Aobajo, sebuah puri Samurai yang didirikan oleh Masamune Date, pendiri kota itu. Lalu ada Hirosegawa, nama sungai yang membelah kota. Kemudian ada Tanabata Matsuri, festival musim panas yang terkenal di kota Sendai.

Lagu ini adalah lagu sedih, bercerita tentang kisah cinta yang sudah berlalu. Di akhir suatu bait berulang kalimat, “Ano hito wa mo inai”, dia sudah tiada. Lagu ini terasa makin menyayat ketika saya mengenang peristiwa gempa 11 Maret 2011.

Hari itu saya sedang bekerja di kantor saya di Karawang. Teman saya saya yang masih kuliah di Tohoku University mengirim pesan lewat mailing list, bahwa baru terjadi gempa. Waktu itu sempat saya balas dengan bercanda. Bagi orang yang pernah tinggal di Jepang, gempa itu adalah hal yang biasa. Kemudian saya lamjutkan bekerja.

Tak lama kemudian saya diberi tahu oleh rekan kerja saya, orang Jepang, bahwa telah terjadi tsunami di Sendai dan daerah pesisir prefecture Miyagi. Wilayah Tohoku dihantam bencana besar, orang Jepang menyebutnya Tohoku daishinsai. Lalu saya melihat gambar video saat tsunami menghantam bandara Sendai. Pilu rasanya melihat bandara yang dulu sering saya gunakan, hanyut terendam air bah.

Segera saya telepon Sensei, pembimbing saya waktu kuliah dulu, tapi tak tersambung. Beberapa kawan Jepang saya juga tak bisa saya hubungi. Kawan-kawan mahasiswa Indonesia di sana pun tak ada yang bisa dihubungi. Beberapa ka berlalu, terasa hening. Bagaimana nasib kawan-kawan di sana? Entahlah.

Siang menjelang sore baru ada kabar. Sebagian besar mahasiswa Indonesia di Sendai selamat, tak ada yang cidera, meski masih ada satu dua yang belum bisa dipastikan keberadaannya. Belakangan diketahui mereka sedang pulang ke Indonesia, dan ada juga yang sedang bepergian. Pihak KBRI Tokyo kemudian melakukan evakuasi, kemudian mengirim pulang para mahasiswa kita itu ke Jakarta. Kelak benerapa di antaranya kesulitan saat hendak kembali ke Jepang, karena tidak mengurus re-entry permit.

Sementara itu saya tetap tidak bisa menghubungi Sensei dan teman-teman Jepang saya. Kabar dari kawan-kawan yang pulang adalah bahwa kota Sendai tidak mengalami kerusakan yang parah. Gempa memang mengguncang. Tapi sepertinya Jepang sudah siap, belajar dari gempa Kobe tahun 1995 yang menghancurkan kota itu, banyak bangunan di Sendai yang diperbaiki standarnya sehingga lebih tahan gempa. Yang tidak bisa diantisipasi adalah tsunami. Akibat gempa dan tsunami, banyak pembangkit listrik dan saluran distribusi gas yang rusak. Kota tidak mengalami kerusakan berat, tapi pasokan energi terputus. Demikian pula pasokan barang kebutuhan. Orang harus antri di supermarket untuk membeli barang kebutuhan.

Kota-kota pesisir seperti Natori, Tagajo, dan Kesennuma luluh lantak diterjang tsunami. Kota-kota itu. Mendengar namanya saat itu langsung membuat air mata saya tumpah ruah. Bandara Sendai itu terletak di Natori. Ia luluh lantak. Di bandara itulah saya menyambut kedatangan istri saya pada kunjungannya yang pertama ke Sendai. Kami menikah beberapa hari sebelum saya berangkat untuk kuliah. Istri saya menyusul 3 bulan kemudian. Di bandara itulah dia mendarat, dan saya menjemputnya. Tempat kenangan itu musnah tersapu ombak.

Ada beberapa teman saya di Natori, hingga saat ini belum bisa saya ketahui keberadaannya. Kami juga pernah diundang oleh Walikota Tagajo bersama komunitas pelajar asing di Sendai. Banyak orang yang kami temui di sana, walau tidak berteman akrab. Kesennuma, kami pernah berlibur ke sana. Kota pelabuhan nelayan yang cantik. Banyak orang Indonesia yang bekerja di sana, sebagai awak kapal nelayan. Bagaimana nasib mereka?

Jepang berduka saat itu. Saya juga berduka. Dua minggu baru saya bisa mengontak kawan-kawan. Tak ada dari mereka yang jadi korban. Semua baik-baik saja. Tapi saya tetap merasakan duka, karena ada banyak orang yang dulu hanya saya kenal sekilas, tak bisa saya ketahui keadaannya. Mungkin ada di antara mereka yang sudah tiada. Ano hito wa mo inai.

Tapi di tengah duka itu, orang-orang Jepang menunjukkan ketabahannya. Mereka segera bangkit. Tindakan darurat segera diambil. Pembangunan kembali segera dimulai. Mereka tak berlama-lama meratap, segera bangkit dengan teriakan,”Ganbare, Tohoku!” Berjuanglah Tohoku! Yang mengguncang dunia adalah foto-foto korban yang tetap tertib antri mengambil makanan, meski mereka dalam keadaan kesusahan.

Dua tahun lalu saya berkunjung ke Sendai. Semua sudah pulih seperti sedia kala.

 

 

Uematsu Sensei

Ketika aku pertama kali bertemu dengannya, aku bahkan tak mengenalnya sebagai orang Jepang. Aku kira dia orang Cina Malaysia. Waktu itu aku baru saja tiba di Kuala Lumpur, dan masuk ke dormitory yang akan aku tempati selama setahun ke depan. Rupanya ada kelambatan dalam persiapan dormitory sehingga saat aku masuk mereka masih harus membenahi banyak hal. Beliau hadir bersama seorang perempuan yang aku duga adalah istrinya. Dia memantau dan memberi saran untuk ini dan itu. Jadi aku langsung mengira dia adalah pengusaha Cina yang memasok barang-barang kebutuhan untuk dormitory kami.

Malam hari ketika aku menghadiri jamuan makan malam penyambutan, barulah aku tahu bahwa dia adalah calon guru bahasa Jepangku. Ia akan mengajar dalam program yang akan aku ikuti selama setahun ke depan. Hal pertama yang dia ajarkan kepadaku adalah cara memanggil orang dalam budaya Jepang. Kami saling memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris.

“What’s your name?”

“My name is Hasan, I’m from Indonesia.”

“I’m Uematsu.”

“Oh, Uematsu san….”

“No. Uematsu Sensei. You have to call me sensei, because I’m your teacher.”

Aku mengira setiap orang Jepang dipanggil san di belakang namanya. Baru tahu aku bahwa ada panggilan lain.

Kejadian itu aku alami saat baru bergabung dalam Asian Youth Fellowship (AYF) Program. Ini adalah program beasiswa untuk kuliah S2-S3 ke Jepang. Program ini ditujukan untuk mahasiswa dari 11 negara ASEAN ditambah Bangladesh. Setiap Negara diberi jatah dua mahasiswa, tapi ketika program ini dimulai tahun 1996 hanya dapat dilakukan seleksi di enam negara, dan dari Indonesia waktu itu hanya aku sendiri yang lolos. Jadi jumlah pesertanya hanya 11 orang.

Program beasiswa untuk kuliah ke Jepang biasanya diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Jepang (Monbusho). Sebenarnya AYF juga begitu, kami para pesertanya akan kuliah dengan beasiswa Monbusho. Bedanya dengan program Monbusho biasa, kepada kami diberikan program tambahan berupa pelatihan bahasa Jepang intensif selama setahun. Pelatihannya pun tidak dilaksanakan di Jepang, tapi di Kuala Lumpur. Penyelenggara program bekerja sama dengan lembaga pendidikan lokal, yaitu Yayasan Pelajaran Mara yang menyediakan fasilitas tempat belajar.

Pagi hari, kami berkumpul di kelas, berpakain rapi, lengkap dengan dasi. Memakai dasi adalah salah satu aturan yang ditetapkan pihak sekolah. Sensei masuk, memulai pelajaran pertama. Aku mengira dia akan menjelaskan panjang lebar tata bahasa Jepang dalam bahasa Inggris. Tapi itu tidak terjadi. Ia menghampiri salah seorang murid.

“Watashi…. Anata…..” katanya. Saat menyebut “watashi” ia menunjuk ke dirinya, dan saat ia mengatakan “anata” ia menunjuk ke murid. Lalu ia minta murid mengulangi. Setiap murid mendapat giliran. Dengan cara itu ia mengajarkan bahwa “watashi” itu artinya saya, dan “anata” artinya kamu.

Selanjutnya ia mulai mengajari kami menyusun kalimat. “Watashi wa Uematsu desu. Anata wa dare desuka.” Kami menjawab sesuai nama kami masing-masing. “Watashi wa Hasan desu.” Satu jam berlalu, kami asyik mengulangi contoh-contoh kalimat Sensei. Dalam satu jam itu kami sudah bisa membuat satu dua kalimat perkenalan. Ya, dalam satu jam itu kami sudah mulai berbicara dalam bahasa Jepang! Sensei tidak mengajari kami tata bahasa, tapi mengajari kami berbicara.

Ada dua orang guru lain yang mengajar kami, keduanya perempuan. Satu orang berumur sekitar 30 tahun, berasal dari sekolah bahasa Jepang yang sama dengan Uematsu Sensei, namanya Adachi. Satu lagi masih sangat muda, berumur 23 tahun. Dia mahasiswa S2 bidang Pendidikan Bahasa Jepang di Yokohama National University, ikut mengajar di program itu sebagai bagian dari kerja praktek. Namanya Kohata. Setiap hari kami belajar dalam enam jam pelajaran, artinya kami akan bertemu dengan setiap sensei selama dua jam. Masing-masing punya keunikan tersendiri.

Uematsu Sensei kami pandang sebagai sosok yang kami segani. Berumur sekitar 50 tahun lebih, ia tampak matang sebagai seorang guru. Pada kelas Adachi Sensei kami agak lebih santai, karena dia masih muda. Sedangkan Kohata Sensei, umurnya lebih muda dari kami semua, dan dia cantik.

Namun kesan angker pada Uematsu Sensei segera sirna. Suatu hari di kelas Adachi Sensei seorang murid agak nakal membuat contoh kalimat. “Uematsu Sensei wa omoi desu.” (Uematsu Sensei itu berat). Dengan keterbatasan kosa kata ia hendak meledek, bahwa Uematsu Sensei itu gendut. Kami sekelas tertawa. Jam pelajaran berikutnya giliran Uematsu Sensei. Ia mulai dengan menirukan kalimat tadi. Rupanya Adachi Sensei melaporkan kelucuan pada kelas sebelumnya. Kami sempat mengira Uematsu Sensei akan marah. Tapi kemudian ia tertawa terbahak-bahak. Itu adalah momen yang mencairkan hubungan kami dengannya.

Suatu hari di kelas dia bertanya, “Do you like wearing necktie?” Semua murid menggeleng. “Then, take it off.” Ia mulai dari dirinya sendiri, melepas dasi. Kami semua menirunya. Sekal itu aturan di kelas kami berubah, kami tak perlu lagi pakai dasi.

Seminggu berjalan, pelajaran mulai terasa sulit. Banyak kata-kata baru yang harus dihafal. Hiragana dan katakana juga harus diingat. Beberapa murid mulai keteteran, termasuk aku. Satu dua murid rupanya pernah belajar bahasa Jepang sebelumnya. Ada yang kursus 3 bulan, bahkan ada yang pernah berkunjung ke Jepang selama beberapa minggu. Mereka mendominasi kelas, dan aku merasa tertinggal. Kudatangi Uematsu Sensei di ruang guru, untuk protes.

“You’re going too fast, I can’t follow you. Please slow down.”

“OK, OK.” jawabnya sambil tertawa. Ia terlihat tak serius menanggapi protesku.

“Some students has started learning Japanese before entering this program. You have to consider this, so you don’t make them benchmark for the progress of the class.” lanjutku.

“You worry too much. Calm down.” jawab Uematsu Sensei.

Aku keluar kelas dengan dongkol karena merasa protesku tak ditanggapi serius. Tapi dia benar. Seminggu kemudian, saat aku mulai menguasai cara membaca dan menulis hiragana dan katakana, aku tak lagi ketinggalan. Pelajaran selama tiga bulan yang pernah ditempuh oleh beberapa murid ternyata bisa kami lewati dalam waktu kurang dari dua minggu. Kini aku yang mulai mendominasi kelas. Nilai-nilai tes harian dan mingguanku selalu teratas. Dan aku juga paling aktif berbicara di kelas.

Di sebelah ruang kelas ada student lounge. Kami biasa duduk di situ saat istirahat. Ada satu set pemutar CD, TV, dan pemutar video. Sensei menyediakan banyak CD musik klasik dari berbagai komposer. Aku suka memutar CD itu, menikmati musiknya di sela-sela jam pelajaran. Sesekali Sensei ikut bergabung duduk di situ.

“Suki desuka?” tanyanya dalam bahasa Jepang.

“Hai, suki desu. Kirei desune.”

“Soudesuyo. Kurasiku wa kirei desu.”

Meski dengan kosa kata yang terbatas, Sensei selalu meladeni kami dalam bahasa Jepang. Ia tak lagi mau berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Uniknya, ia selalu bisa mengungkapkan hal-hal yang sulit dengan kosa kata sederhana.

Semakin hari beban pelajaran makin tambah berat, khususnya bagi beberapa murid. Ada yang mulai tampak stress. Di kelas juga mulai terlihat kesenjangan. Aku berada di depan, selalu paling dulu paham pelajaran baru. Kemudian di bawahku ada mahasiswa Filipina, Bangladesh, dan Vietnam yang cukup baik penguasaannya. Lalu di bawahnya ada satu mahasiswa Vietnam, dan dua dari Kamboja yang selalu terlihat keteteran. Bukannya mengendorkan tekanan, Sensei justru menambahnya. Ia memberi banyak sekali PR. Kami harus menuliskan berbagai pola kalimat. Itu harus dikerjakan malam hari. Sangat melelahkan. Aku lagi-lagi protes.

“PR terlalu banyak. Saya tidak perlu 10 kalimat untuk memahami satu pola kalimat. 5 kalimat sudah cukup.”

“OK, kalau begitu kamu cukup kerjakan separuhnya.” jawab Sensei santai.

Untuk mengurangi ketegangan, Sensei menyuruh kami pergi. Sebagai ketua kelas (aku dipilih karena aku satu-satunya yang paham bahasa Melayu) aku diminta mengatur perjalanan keluar kota. Memakai mobil milik sekolah kami dan dua guru perempuan pergi ke kota-kota di sekitar Kuala Lumpur untuk rekreasi. Pernah pula kami adakan pertandingan ping pong. Saat ada yang ulang tahun, kami selenggarakan pesta kecil. Semua itu selain untuk keakraban, juga untuk mengurangi beban stress. Sensei juga pernah berpeluh-peluh memberi pijatan refleksi kepada setiap muridnya.

Tujuh bulan berlalu, kami tiba di akhir tahun, di mana kami harus ikut ujian Japanese Language Proficiency Test Level 2. Pelajaran di kelas separuhnya sudah berisi berbagai latihan soal. Semua tegang, khawatir tidak lulus. Ancamannya, kalau tidak lulus tidak boleh pergi ke Jepang. Hari yang kami khawatirkan itu akhirnya tiba. Diantar 3 sensei kami pergi tes. Setelah itu kami kembali belajar, meneruskan sisa program yang masih tersisa selama 3 bulan.

Dalam masa itu diselenggarakan lomba pidato bahasa Jepang tingkat nasional Malaysia. Sensei menawarkan kepada kami untuk ikut. “Kalian tidak akan diikutkan dalam pertandingan karena ini khusus untuk warga Malaysia. Kalian hanya akan ikut sebagai peserta tamu.” Aku bersama mahasiswa dari Vietnam mengajukan diri untuk ikut serta. Aku memilih topik tentang kamera, yang waktu itu baru kubeli. Sensei membimbing kami menulis naskah pidato.
Ketika membaca naskah pidatoku pada kalimat pertama, Sensei sangat terkesan. Tapi kemudian ia mencibir. “Kalimat pertamamu sungguh alami. Tapi pada kalimat selanjutnya, kamu sudah berlagak macam dosen yang serba tahu, dan menganggap pendengarmu tak tahu apa-apa.”

Lalu Sensei membimbingku menuliskan pidato dalam bahasa sederhana, dengan aliran alami, tapi bermakna dalam. Dengan menjadikan kamera sebagai simbol, aku menceritakan keadaan kami peserta program AYF, datang dari berbagai latar belakang, dengan minat yang berbeda-beda, tapi berkumpul untuk suatu tujuan. Ketika judul pidatoku disampaikan oleh MC di acara lomba, sebagian orang tertawa mendengarnya. Judul pidatoku terdengar sangat kanak-kanak. “Watashi wa atarashii kamera wo kaimashita.” Saya membeli kamera baru.

Aku ingat betul. Para juri, yang salah satunya adalah Direktur Japan Foundation Kuala Lumpur, mendengar pidatoku dengan seksama. Dan aku lihat ia seperti terpesona pada kalimat di akhir pidatoku, yang merupakan penegasan dari keseluruhan simbol yang hendak kusampaikan. Setelah itu dia bertanya panjang, dalam bahasa yang sudah tak lagi bisa kupahami. Kurasa ia sudah salah mengira bahwa bahasa Jepangku sudah sangat mahir. Padahal untuk peserta sebelumnya kudengar pertanyaan yang diajukan sangat sederhana. Kulihat di belakang Sensei menepok jidatnya. Walhasil, pembawa acara harus menerjemahkan pertanyaan untukku ke dalam bahasa yang lebih sederhana.

Menjelang akhir program hasil tes diumumkan. Dari sebelas peserta di kelas kami, hanya dua yang lulus. Aku dengan nilai tertinggi, dan mahasiswa Bangladesh di bawahku. Kami semua tegang. Bayangan kegagalan berangkat ke Jepang menghantui semua yang tak lulus. Tapi Sensei menghibur kami.

Ia menulis evaluasi panjang lebar, dia kirim ke Japan Foundation dan Kementerian Luar Negeri yang menjadi penanggung jawab program. Ia dengan tegas mengatakan bahwa kegagalan kami adalah wajar, karena waktu yang tersedia sangat sempit. Kelulusan dua peserta bagi Sensei adalah pencapaian luar biasa. Akhirnya penyelenggara bersikap lunak. Kami semua boleh berangkat ke Jepang!
Saat lulus dari program, aku sudah berencana menikah, sebelum berangkat ke Jepang. Sebagai kata perpisahan, Sensei menulis pesan di belakang ijazahku.

“人間は一人で生まれ、一人で死ぬ。だからこそ生きているときには二人で。ご結婚おめでとうございます。“
“Manusia itu lahir sendirian, dan mati sendirian. Karena itu selama hidup harus berdua. Selamat atas pernikahanmu.”

Terkahir kali aku bertemu Sensei, saat aku sudah lulus doktor. Sengaja aku mampir ke Kuala Lumpur untuk mengunjungi peserta AYF, memberi kuliah untuk menyemangati mereka. Sensei saat itu sudah tidak mengajar di program itu. Ia menjadi guru di University of Malaya. Malam hari ia mengundnagku makan. Kami berbincang lama.

Menyetir di Jepang

Ketika pertama kali menginjakkan kaki ke Tokyo, belasan yang tahun lalu, ada hal yang membuat saya terkesima. Tokyo memang megah dan modern. Kehidupan kota ini jelas menun-jukkan dukungan teknologi tinggi di belakangnya. Juga citra kesejahteraan yang begitu terasa. Tapi bukan itu yang membuat saya terkesima. Tampilan fisik Tokyo secara sekilas sebenarnya tak beda dengan Jakarta.

Saya terkesima ketika hendak menye-berang sebuah jalan kecil. Dari suatu arah datang mobil dengan kecepatan sedang menuju tempat yang hendak saya sebrangi. Mengikuti kebiasaan di Indonesia, saya mendadak menghentikan langkah, karena berpikir bahwa mobil itu akan terus berjalan. Ternyata tidak. Pengemudinya menghentikan laju mobil, dan memberi isyarat pada saya untuk menyebrang jalan.

Setelah itu, selama sepuluh tahun tinggal di Jepang, tak habis-habisnya saya kagum dengan tingginya disiplin serta etika orang Jepang di Jalan raya. Terlebih saat saya punya kesempatan belajar menyetir, lalu ikut jadi pengguna jalan di sana.

Sebagian besar dari kita tahu bahwa orang Jepang itu sangat tinggi disiplinnya, termasuk dalam berlalu lintas. Tapi kebanyakan kita tidak tahu bagaimana hal itu dicapai dan dipertahankan. Kita sering menganggap hal itu sebagai ciri yang melekat pada mereka secara turun temurun. Padahal semua itu dicapai dengan usaha yang luar biasa, dan berkelanjutan.

Dalam tulisan ini saya mencoba memberi gambaran ringkas penegakan disiplin itu berdasar pengalaman saya tinggal di Jepang sambil merefleksikannya dengan kondisi di tanah air. Berdasarkan pengalaman saya setidaknya ada tiga pilar utama yang diperlukan untuk menegakkan disiplin lalu lintas, yaitu pendidikan, penegakan hukum, dan keteladanan.

Pendidikan
Di Jepang, untuk mendapatkan SIM seseorang dituntut memiliki ketrampilan tinggi dalam mengendarai kendaraan serta berpengetahuan cukup mengenai peraturan lalu lintas dan keselamatan di jalan. Ini semua nyaris mustahil dipelajari secara mandiri sehingga mengikuti kursus menyetir (termasuk untuk kendaraan roda dua) boleh dikatakan sebagai kewajiban bagi siapa saja yang ingin mendapatkan SIM.

Kursus menyetir terdiri dari minimal 30 jam praktek dan 40 jam teori. Praktek dibagi dalam dua tahap, dengan menu latihan bervariasi meliputi seluruh kebutuhan agar seseorang layak menjadi pengendara yang memenuhi syarat keamanan. Peserta baru boleh melanjutkan latihan ke menu berikutnya bila sudah dianggap layak.. Di tahap pertama peserta dilatih di dalam course. Di situ peserta dilatih teknik dasar berkendaraan, termasuk beberapa teknik khusus seperti berhenti di tanjakan, pintu kereta api, dan sebagainya. Di akhir tahap ini ada ujian, dan hanya yang lulus yang boleh maju ke tahap ke dua. Tahap ke dua adalah latihan di jalan raya dengan prinsip yang sama dengan tahap pertama tadi. Teknik khusus pada tahap ke dua antara lain menyetir di jalan bebas hambatan dan jalan pegunungan. Di tahap akhir juga dilakukan ujian praktek.

Pada kelas teori peserta dilatih untuk memahami peraturan lalu lintas dan prinsip-prinsip keselamatan.
Setelah melalui tahap tertentu peserta juga diberi latihan ujian. Kurikulum yang dipakai adalah kurikulum baku yang diterapkan secara nasional.

Keseluruhan proses ini memakan waktu paling tidak dua minggu dengan biaya sekitar Rp 25 juta (sekitar 2,5 kali gaji bulanan karyawan dengan gelar sarjana). Bagi yang banyak gagal dalam setiap menu latihan, kursus ini akan memakan waktu lebih lama. Tak jarang seseorang menghabiskan waktu berbulan-bulan. Peserta yang gagal dalam suatu tahap pelajaran tidak melulu karena dia tidak terampil berkendaraan, tapi kebanyakan karena belum memperhatikan aspek-aspek keselamatan serta etika berlalu lintas.

Yang tak kalah penting adalah bahwa selama latihan peserta dituntut menjaga disiplin, seperti hadir tepat waktu pada setiap menu latihan, dan memberi perhatian penuh pada setiap pelajaran yang diberikan. Hasilnya adalah pengendara yang trampil, memahami peraturan lalu lintas dan prinsip keselamatan, serta memiliki kesadaran untuk mematuhinya.

Bandingkan hal ini dengan kursus menyetir di kota kita. Di sini kita hanya butuh latihan 10 jam, tanpa pelajaran teori. Terampil atau tidak, di akhir kursus kita pasti mendapatkan SIM. Ini pun masih mendingan. Dengan uang sekian ratus ribu tanpa prosedur apapun kita bisa memperoleh SIM di kantor polisi. Makanya kita sering menemukan orang yang tak bisa menyetir, tapi punya SIM A, tak heran bila pengguna jalan raya kita sebagian besar adalah orang yang tak trampil berkendaraan, tak paham peraturan lalu lintas, dan tak peduli pada prinsip-prinsip keamanan.

Penegakan hukum
Sangsi atas pelanggaran lalu lintas di Jepang tidak main-main. Denda untuk pengendara yang menggunakan telepon genggam sambil berkendaraan, misalnya, adalah sekitar Rp 25 juta. Untuk pelanggaran yang lebih berat seperti berkendaraan di bawah pengaruh alcohol, sangsinya tak cukup hanya dengan denda, tapi ditambah lagi dengan hukuman penjara. Dan ini masih ditambah lagi dengan sangsi sosial di tempat kerja/sekolah. Saya pernah mendengar cerita seorang profesor yang dipecat karena melakukan pelanggaran tersebut.

Sangsi yang berat itu tentu diiringi dengan sikap tak kenal kompromi dari polisi penegak hukum. Belum pernah saya dengar ada yang berhasil lolos dari jerat hukum dengan negosiasi damai dengan polisi.
Di tempat kita denda atas pelanggaran lalu lintas sebenarnya sudah cukup tinggi. Sayangnya, semua orang sudah tahu bahwa itu bisa diatur, karena polisi kita sangat “cinta damai”.

Keteladanan
Masyarakat Jepang sangat mementingkan hirarki senioritas. Dan orang-orang yang berada pada posisi senior biasanya memberikan keteladanan, termasuk dalam soal disiplin lalu lintas. Profesor di universitas misalnya, selalu mengajarkan dan mengingatkan anak didiknya soal itu. Tentu saja diiringi dengan penerepan hal itu pada diri mereka sendiri.

Hal yang sama juga dilakukan oleh polisi. Mereka senantiasa menunjukkan disiplin lalu lintas yang tinggi, terutama pada saat bertugas. Ini sekali lagi sangat kontras dengan polisi kita. Di kota ini saya sering menyaksikan polisi berseragam yang mengendarai sepeda motor tanpa kaca spion, atau tidak mengenakan helm standar. Ada juga yang menerobos lampu merah atau berbelok tanpa terlebih dahulu memberi isyarat dengan lampu sen. Pengendara mobil patroli saya lihat masih banyak yang tidak mengenakan sabuk pengaman.

Dengan perilaku polisi yang demikian itu, tak heran bila kampanye tertib lalu lintas lebih sering bermakna razia dan tilang, ketimbang sebagai upaya penyuluhan bagi masyarakat untuk mematuhi peraturan lalu lintas. Logikanya, kalau yang memberi penyuluhan saja melanggar peraturan, apalagi yang disuluh.

Punya Mobil di Jepang

punyaFoto ini adalah screen shot dari street-view Google Map, saya ambil secara acak di daerah Setagaya-ku, salah satu daerah perumahan di pusat kota Tokyo. Kalau Anda lakukan “perjalanan” dengan street view, Anda akan temukan bahwa di rumah-rumah orang punya garasi dan punya mobil. Lalu ada pula tanah-tanah kosong yang disewakan sebagai tempat parkir bagi orang yang rumahnya tidak punya garasi. Tegasnya, di kota besar pun orang punya mobil. Jadi tidak benar bahwa punya mobil di Jepang adalah ciri khas orang kampung. Sebenarnya lebih tepat bila dikatakan bahwa di kampung pun orang punya mobil.

Saya dulu tinggal di 2 kota, yaitu Kumamoto dan Sendai. Keduanya ibukota prefecture (setara provinsi). Kumamoto adalah kota yang relatif kecil, tapi Sendai adalah kota terbesar di wilayah Tohoku (wilayah utara Pulau Honshu). Di kedua tempat itu saya punya mobil. Di kedua kota itu orang-orang biasa punya mobil.

Angka penjualan mobil di Jepang setahun adalah sekitar 5 juta unit (2015). Jumlah produksi mobil setahun di Indonesia sekitar 1 juta unit saja. Jadi angka penjualan di Jepang kira-kira 5 kali lebih besar, padahal penduduknya hanya separo dibandingkan dengan Indonesia. Dari angka ini pun kita bisa membayangkan bahwa orang-orang kota di Jepang pasti punya mobil. Kalau tidak, tak mungkin tercapai angka penjualan 5 juta unit tadi.

Harga mobil di Jepang relatif murah dibandingkan dengan di Indonesia, karena merupakan produksi dalam negeri. Toyota Alphard misalnya, dapat dibeli dengan harga sekitar Rp 350 juta. Tentu saja ada varian yang mahal yang harganya mencapai 1,6 milyar. Nissan Serena dijual dalam kisaran 280-350 juta. Lalu ada mobil-mobil bertipe city car, yang bisa dibeli dengan harga sekitar 100 juta rupiah.

Harga mobil bekas jauh lebih murah. Mobil yang sudah dipakai setahun harganya bisa merosot sampai 30 persen dari harga baru. Mobil yang sudah menempuh 100 ribu kilometer sudah dianggap barang rongsokan. Saya pernah membeli city car bekas dengan harga 5 juta rupiah. Lalu pernah pula mendapat mobil yang umurnya belum ada 10 tahun, secara gratis. Saya hanya perlu membayar biaya kir sekitar 2 juta rupiah.

Jalan raya di kota-kota besar seperti Tokyo, Osaka, Kobe, dan Yokohama, selalu macet. Karena itu naik mobil memang bukan pilihan yang baik. Untungnya kota-kota ini dilengkapi dengan sarana transportasi massal, yaitu kereta api, kereta bawah tanah, dan monorel. Itu masih ditambah lagi dengan bis kota yang biasanya dipakai untuk menjangkau daerah yang lebih pelosok. Di kota-kota besar, orang lebih banyak menggunakan angkutan umum.

Tapi kenapa mereka masih punya mobil? Karena mobil tetap diperlukan. Ibu-ibu rumah tangga banyak menggunakan mobil untuk keperluan berbelanja, dan aktivitas keseharian, dalam wilayah pemukiman. Di akhir pekan mobil dipakai, saat jalan relatif tidak macet.

Ada beberapa biaya tambahan yang diperlukan bagi pemilik mobil. Pertama, asuransi. Setiap mobil wajib diasuransikan. Asuransi ini bukan untuk membiayai kerusakan mobil kita, melainkan untuk mobil lawan kita saat terjadi kecelakaan. Pertanggungan asuransi wajib ini biasanya tidak besar, sehingga umumnya orang menambah lagi asuransi lain. Bila ingin ada pertanggungan untuk mobil kita sendiri, maka diperlukan tambahan premi lagi.

Untuk bisa membeli mobil orang harus membuktikan bahwa ia punya garasi. Bila tidak, ia wajib menyewa tempat parkir. Di wilayah perumahan ada tanah-tanah kosong yang disewakan sebagai tempat parkir. Biaya sewa bervariasi tergantung ukuran kota dan posisi tempat itu di dalam kota. Semakin ramai semakin mahal. Di tengah kota seperti Tokyo sewa tempat parkir bisa mencapai 4-5 juta sebulan. Di kota kecil harganya hanya sekitar 700 ribu per bulan.

Di kota-kota yang lebih kecil seperti Nagoya, Sendai, Fukuoka, memakai mobil untuk sarana angkutan utama bagi keluarga menjadi lebih umum ketimbang kota-kota besar. Jalan raya tidak terlalu macet, sementara pilihan angkutan umum juga tidak banyak. Di kota-kota ini cukup lumrah orang punya 2 mobil, satu untuk bapak pergi kerja, dan satu lagi dipakai ibu untuk keperluan rumah tangga.

Waktu tinggal di Kumamoto, karena kampus tempat saya bekerja dekat rumah, saya pergi kerja naik sepeda. Mobil biasanya dipakai di akhir pekan saja. Tapi waktu bekerja di Sendai saya pergi bekerja dengan mobil.

Bila kita pergi belanja ke pusat kota, biaya parkir sekitar 10 ribu rupiah per jam. Di kota besar biayanya bisa 4 kali lipat dari itu. Maka kalau belanja ke pusat kota saya biasanya lebih suka naik bis. Tapi ada banyak tempat belanja di pinggir kota yang menyediakan tempat parkir dengan biaya murah, bahkan gratis. EON Mal yang sekarang mulai masuk ke Indonesia adalah mal pinggir kota yang menyediakan tempat parkir gratis.