Category Archives: Bahasa

Tuhan Ada Berapa?

godsAda pemandangan menarik pada suatu pertandingan sepak bola antara Indonesia melawan Filipina yang pernah saya tonton. Di babak kedua, Yabes, pemain cadangan yang baru masuk menyerang lewat sayap kanan, menusuk ke jantung pertahanan lawan, kemudian menembak ke arah gawang dari sudut sempit. Gol! Yabes segera menuju ke sudut lapangan. Ajakan rekan satu timnya untuk membuat perayaan dia tampik. Ia segera berlutut, lalu berdoa sejenak, dengan cara Kristen. Di sampingnya, rekan Yabes ikut merayakan gol tadi dengan sujud syukur, cara Islam.

Nalar saya tergelitik melihat pemandangan itu. Ada dua manusia yang berdampingan, memuja Tuhan dengan cara yang berbeda. Ada berapa Tuhan saat itu? Satu? Dua? Kalau satu, kenapa disembah dengan 2 cara? Kalau dua, Tuhan yang mana yang tadi mengizinkan terciptanya gol?

Seorang rekan berkomentar,”Tuhan hanya satu.” Saya mencoba menggali penjelasan logisnya. Tapi pada akhirnya ia hanya menjabarkan konsep imannya sebagai seorang  muslim. Saat saya tanya, kenapa satu Tuhan disembah dengan dua cara, ia mulai berdalil bahwa yang benar adalah cara Islam, karena cara Kristen adalah cara yang sudah direvisi oleh Islam. Saya hanya bisa tersenyum.

Setiap orang yang bertuhan mengklaim seperti itu. Klaimnya adalah Tuhan saya yang paling sahih. Tuhan orang lain itu pasti salah. Atau, cara saya memahami Tuhan adalah yang paling benar. Cara orang lain salah. Kalau kita mau hitung, ada lebih dari 5000 Tuhan yang disembah manusia, dan para penyembah itu masing-masing mengklaim bahwa Tuhannya lah satu-satunya yang benar. Tidakkah para penyembah Tuhan itu sadar bahwa orang lain pun punya klaim yang sama? Tidakkah mereka berpikir bahwa bila Tuhannya adalah satu-satunya yang benar, maka Tuhannya hanya sanggup menunjuki sebagian kecil dari umat manusia, karena di luar sana ada lebih banyak orang yang tidak menyembah Tuhan yang ini? Pilihlah satu Tuhan, maka kau akan menjadi minoritas di tengah para penyembah Tuhan.

Pembicaraan tentang Tuhan memang tak pernah berujung, lalu membuat gerah. Orang-orang pun berdalih,”Akal kita terlalu terbatas untuk bisa membahas Tuhan.” Bukan. Kita tidak sedang membahas Tuhan. Kita sedang membahas apa yang kau pikirkan tentang Tuhan.

“Akal kita terlalu terbatas untuk memahami Tuhan.”

“Kalau begitu, kenapa kau merasa paham tentang Tuhan?”

“Aku tidak memakai akal dalam memahami Tuhan. Aku mengikuti petunjuk dari Tuhan, dari kalamNya.”

“Tidak. Kau sedang mengikuti sesuatu yang kau anggap sebagai kalam Tuhan. Hal itu pun bagian dari pemahamannu tentang Tuhan. Itu adalah bagian dari circular logic mu tentang Tuhan.”

‘Aku beriman kepada Tuhan yang telah memberiku petunjuk melalui firmanNya, yang tertuang dalam kitab suci yang aku imani.’

Para penyembah Tuhan banyak yang tidak menyadari bahwa fondasi paling dasar dari iman mereka sebenarnya bukan pada kepercayaan pada Tuhan, melainkan pada pembawa kabar tentang Tuhan, yang dalam hal agama samawi adalah para nabi. Mereka enggan mengakui bahwa Tuhan sebenarnya hanyalah sesuatu yang mereka anggap Tuhan. Dalam bahasa yang lebih vulgar, orang-orang beriman enggan mengakui bahwa Tuhan adalah sesuatu yang diciptakan oleh pikiran manusia.

Orang-orang beriman dikungkung oleh sekat-sekat tembok iman yang enggan mereka akui keberadaannya, meski tembok-tembok itu hadir begitu nyata di depan mereka. Kalau akibatnya hanya sebatas pada pemujaan seperti yang dilakukan Yabes dan rekan satu timnya seperti saya gambarkan di bagian awal, sungguh tak jadi masalah. Namun kalau sampai menimbulkan perang berkepanjangan seperti Perang Salib, sungguh patut disesalkan.

Paranoia Kristenisasi

salib

Suatu ketika di tahun 2005. Saat itu saya bekerja sebagai dosen di sebuah PTN di Kalimantan. Kebetulan saya menjabat sebagai Ketua Jurusan/Program Studi. Saya sebetulnya baru saja pulang dari tugas belajar di luar negeri. Saya diangkat jadi Ketua Jurusan karena posisi itu lowong, dan kami sedang kekurangan staf pengajar.

Suatu hari saya menerima SMS berbunyi sebagai berikut:

“Tolong kau awasi gerak-gerik Ibu B itu. Hati-hati, sudah ada satu mahasiswa kita yang dia murtadkan.”

Pengirim SMS itu adalah kawan saya, beberapa tahun lebih tua dari saya. Saya mengenal dia sejak sama-sama kuliah. Kebetulan kami satu fakultas, dan saya juga pernah tinggal sekamar dengan dia di asrama daerah tempat saya tinggal di masa-masa awal kuliah dulu. Saat mengirim SMS itu dia adalah dekan di fakultas tempat saya bekerja. Artinya dia adalah atasan saya.

Ibu B yang dimaksud dalam SMS ini adalah dosen di jurusan saya. Dia berasal dari Toraja. Umurnya beberapa tahun di bawah saya, dan sudah menjadi dosen di tempat itu beberapa tahun.

Saya abaikan SMS tadi. Alasan saya, itu tidak ada kaitannya dengan tugas saya. Kalaupun benar Ibu B tadi melakukan kristenisasi, selama dia tidak melakukannya dengan menggunakan posisi dia sebagai dosen atau fasilitas kampus, saya tidak berhak melarangnya. Itu prinsip saya.

Meski tak pernah secara serius berpikir tentang isu kristenisasi tadi, toh saya akhirnya sampai juga pada titik terang duduk persoalannya. Semua terjadi nyaris secara kebetulan.

Suatu pagi, saat baru saja tiba di kampus dan hendak memarkir mobil, beberapa mahasiswi mendatangi saya sambil berteriak panik. Rupanya ada mahasiswi bernama A yang sedang kambuh asmanya. Melihat keadaannya saya langsung memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit. Beberapa mahasiwa menggotong tubuh si A ke mobil saya, tiga mahasiswi teman si A tadi ikut masuk. Lalu kami bergerak menuju rumah sakit yang berjarak kurang lebih 2 kilometer dari kampus.

Saya cukup panik selama menyetir. Anak perempuan saya kebetulan juga penderita asma. Tapi saya tidak pernah melihatnya kambuh semenderita si A ini. Nafasnya tersengal-sengat. Saya khawatir dia kehabisan nafas dan meninggal di mobil saya.

Saya pacu mobil saya sekencang mungkin. Saya hidupkan lampu hazard, sambil sesekali membunyikan klakson panjang. Saya berharap kendaraan di depan mau menepi. Saat itu jalan memang sedang ramai, persis saat orang-orang sedang dalam perjalanan ke tempat kerja.

Sampai di bagian UGD si A langsung mendapat pertolongan pertama. Setelah memastikan dia baik-baik saja, termasuk mengecek apakah dia punya uang untuk membayar biaya perawatan, saya putuskan untuk kembali ke kampus. Si A harus tinggal untuk rawat inap. Dua orang temannya yang tadi ikut mengantar, kembali ke kampus bersama saya.

Dari obrolan sepanjang jalan dengan dua mahasiswi tadi barulah saya tahu bahwa si A ini adalah “korban kristenisasi“ yang saya sebutkan tadi. Agak kaget saya, karena teman-teman yang mengantar dia tadi, saya duga teman terdekat dia, semua memakai jilbab dan aktif di berbagai kegiatan Islam di kampus. Lebih kaget lagi karena saya kemudian tahu bahwa si A ini kebetulan pernah bersekolah di Madrasah Tsanawiyah dan SMA yang sama dengan saya.

Tentu saja pembicaraan menyinggung soal kristenisasi tadi. Menariknya, mahasiswi para aktivis Islam ini sama sekali tidak menyalahkan Ibu B. Mereka bercerita bahwa si A ini memang sedang labil, karena ada masalah keluarga. Keluarganya sendiri ternyata beragama Katolik. Hanya dia sendiri yang Islam. Dia kebetulan tinggal satu kos dengan Ibu B. Dan dalam situasinya yang labil itu dia memutuskan untuk pindah agama.

Belakangan, lagi-lagi tanpa niat menyelidiki, saya juga berbincang dengan Ibu B soal si A tadi. Cerita yang saya dapat tak jauh berbeda dengan yang saya dengar dari para mahasiswi tadi. Tambahannya, si A tadi sebenarnya belum pindah agama. Dia konsultasi dengan seorang pastur, dan menyatakan niatnya untuk masuk Katolik. Tapi pastur ini menyuruh dia untuk menenangkan diri dulu, kemudian mempertimbangkan kembali niatnya itu.

Ibu B tadi juga bercerita pada saya tentang fitnah yang dia terima. Seolah dia adalah agen gereja untuk melakukan kristenisasi di kampus. Yang paling menyedihkan, kata dia, seorang dosen senior yang dia anggap bijak juga sempat menjaga jarak dengan dia selama beberapa waktu. Untunglah perlahan orang-orang mulai memahami situasi sebenarnya, sehingga dia bisa hidup lebih normal di kampus.

Cerita berikutnya, mundur ke tahun 70-an, saat masa kecil saya. Waktu itu di ibu kota provinsi kami belum ada rumah sakit pemerintah. Satu-satunya rumah sakit yang memadai adalah rumah sakit milik organisasi Katolik. Saya ingat betul, para perawatnya sebagian adalah suster gereja. Di sebelah rumah sakit ini ada gereja yang cukup besar. Dan di setiap ruangan perawatan terpajang salib di dinding.

Di rumah sakit itu anggota keluarga kami mendapat pelayanan medis. Emak, Ayah, Abang, Kakak, pernah dirawat di sini. Juga kakek, nenek, paman. Beberapa dari mereka mendapat keringanan biaya karena tergolong miskin. Dengan selembar surat keterangan dari kepala kampung, keringanan biaya itu diperoleh.

Tapi, ini yang penting, tidak ada satupun dari mereka yang pernah mendapat iming-iming untuk pindah agama. Tak satupun. Saya sering mendengar cerita tentang rumah sakit Kristen yang digunakan untuk kristenisasi. Orang miskin dibebaskan dari biaya asal mau masuk Kristen. Orang yang sedang sekarat dibimbing dengan tata cara Kristen, agar mati dalam keadaan Kristen. Tapi selama keluaga kami menerima layanan dari rumah sakit Katolik tadi, tak satupun yang mendekati kami untuk melakukan kristenisasi.

Saya punya sepupu yang beberapa tahun lebih tua dari saya. Saat hendak masuk SD ia diambil Ayah, tinggal di rumah kami. Oleh Ayah dia disekolahkan di SD kampung kami. Saat SMP dia ikut orang lain di kampung dekat kota provinsi, sekolah dibiayai sambil membantu berbagai pekerjaan di sekolah. Dia tinggal di gedung sekolah, menjaga dan merawatnya.

Saat SMA dia pindah ke kota, tinggal di rumah yang dibangun Ayah untuk anak-anaknya yang sedang sekolah. Seorang pastur yang menjadi kepala sebuah SMA Katolik menawarinya sekolah dengan biaya dibebaskan. Jadi, biaya makan dia ditanggung Ayah, sedangkan biaya sekolahnya ditanggung oleh pastur tadi.

Saat dia mulai sekolah pastur tadi menegaskan bahwa dia tidak akan pernah mengajak sepupu saya tadi untuk masuk Katolik. Dia membantu semata-mata karena ingin membantu, tidak ada niat lain. Dan itu dipegang teguh oleh pastur tadi. Selama sekolah sepupu saya itu adalah muazin di sebuah mesjid. Sampai dia tamat SMA hingga kini dia adalah seorang muslim yang taat.

Beberapa pengalaman yang saya tulis tadi mengajarkan pada saya bahwa kristenisasi sering kali adalah sesuatu yang diberi bumbu, bumbunya banyak, sehingga menutupi fakta. Salah satu sumber bumbu itu adalah paranoid, ketakutan yang berlebihan. Akibatnya semua tindak tanduk orang Kristen dipandang dalam konteks kristenisasi.

Tak jarang bumbu itu menjadi pokok cerita. Ada cerita, misalnya, tentang strategi orang Kristen. Pemuda Kristen sengaja disuruh memacari pemudi Islam, menghamilinya, lalu bersedia menikahi pemudi tadi dengan syarat dia mau masuk Kristen. Banyak yang percaya bahwa cerita ini adalah strategi yang disusun gereja dalam rangka kristenisasi.

Satu dua kejadian seperti itu mungkin ada. Sangat mungkin. Tapi mungkinkah itu sebuah strategi umat beragama secara kolektif atau kelembagaan? Bagi saya kita hanya bisa berfikir begitu kalau umat tersebut kita anggap jelmaan setan.

Saya, tentu saja, tidak mengabaikan adanya sekelompok atau banyak kelompok orang Kristen yang melakukan kegiatan kristenisasi dengan melanggar etika. Saya, misalnya, pernah menemukan sebuah website yang secara terang-terangan menyatakan missinya menjadikan Indonesia sebagai sebuah negeri Kristen. Tapi beberapa atau banyak kelompok itu tentunya bukan semua orang Kristen. Masih banyak, dan sangat banyak orang Kristen yang melakukan aktivitas sosial tanpa motivasi mengkristenkan orang.

Sebaliknya perlu juga diingat bahwa hal yang sama terjadi pula di kalangan umat Islam. Tidak sedikit umat Islam yang menjadikan dakwah terhadap orang-orang Kristen sebagai inti kegiatannya. Tak jarang kegiatan itu dilakukan secara vulgar dan provokatif.

Abang saya, seorang dosen, pernah mengritik teman-temannya. Dalam rangkaian kegiatan Dies Natalis di kampus, salah satu kegiatannya adalah mengumpulkan dana bagi para muallaf bekas pemeluk Kristen. Pengumpulan dana itu dilakukan secara terbuka dan vulgar. Padahal di kampus itu banyak juga dosen dan mahasiswa Kristen.

Seorang dekan di sebuah fakultas dengan enteng mengakhiri pidato di sebuah acara resmi dengan kalimat, “Maaf, saya tidak bisa hadir di acara ini sampai selesai, karena saya harus hadir di acara lain. Ada seorang pastur yang hendak masuk Islam hari ini, saya akan hadir di acara pengislamannya.“ Kalimat ini memancing emosi seorang dosen yang beragama Kristen.

Saya pernah ikut berdakwah di kampung orang Dayak. Di situ sudah berdiri mesjid, meski belum ada seorangpun yang terlihat masuk Islam. Di sekitar mesjid banyak babi berkeliaran. Kami membawa makanan, pakaian, dan barang-barang lain. Orang-orang kampung kami ajak ke mesjid, bersilatrrahmi, dengan harapan nantinya mereka tertarik untuk masuk Islam.

Orang Islam, sebenarnya juga melakukan islamisasi, dengan cara-cara yang sama dengan yang dilakukan oleh orang Kristen. Mengapa perlu marah kalau orang Kristen melakukan kristenisasi?

Bahasa Jepang tidak Sulit

image

Saya sering ditanya, sulitkah belajar bahasa Jepang? Saya selalu menjawab dengan yakin: tidak sulit. Saya tidak mengada-ada. Saya menguasai bahasa Jepang. Saya fasih berbahasa lisan maupun tulisan. Tidak sekedar untuk keperluan sehari-hari. Saya bisa menulis karya ilmiah dalam bahasa Jepang. Saya juga pernah menjadi penerjemah di kantor imigrasi Jepang. Dan kini dalam pekerjaan saya harus membuat laporan kondisi perusahaan dalam bahasa Jepang, meliputi persoalan regulasi, keuangan, dan lain-lain. Continue reading

Dikuntit Intel Jepang

image

Tahun 2001. Saya masih tinggal di Kumamoto, Jepang. Suatu hari ada orang Jepang menelepon ke apartemen saya. Ia mengaku mendapat nomor telepon saya dari International Center. Saya ingat, saya pernah memasang pengumuman, tawaran mengajar privat bahasa Inggris atau bahasa Indonesia. Saya mencantumkan nomor telepon saya di situ. Si penelepon ini tak hendak belajar. Ia hanya ingin berteman dan mengenal budaya Indonesia. Ia mengajak saya bertemu di sekitar kampus untuk makan siang. Pertemuan itu saya setujui. Kami bertemu, makan siang, berbincang, lalu bubar. Continue reading

Syiria, ISIS, dan Malhamah Kubra

Apa pandangan umat Islam Indonesia tentang ISIS? Dugaan saya banyak orang yang tidak setuju dengannya. Bukan hanya tidak setuju, tapi juga ngeri. Namun tidak sedikit yang mendukung, baik secara terang-terangan maupun tersamar. Pemimpin FPI Rizieq jelas dan terang menyatakan mendukung ISIS. Anis Matta waktu menjabat sebagai Presiden PKS menyatakan bahwa ketakutan terhadap ISIS adalah berlebihan. Ia secara tersamar mendukung gagasan mempersatukan Irak dan Syiria di bawah satu pemerintahan.

Bagaimana dengan berbagai kekejian ISIS? Saya sempat agak shock ketika membaca laman FB seorang teman saya, yang terdidik, ternyata ia membenarkan secara tersamar ketika ISIS membakar pilot militer Yordania. Wow!

Ada apa sebenarnya? Mengapa ada umat Islam yang mendukung ISIS? Jawabannya terletak pada kata kunci “malhamah kubra”. Apa itu? Ada beberapa hadist yang meramalkan suasana akhir zaman. Akan muncul kebangkitan kekuatan baru Islam, khilafah islamiyah, melalui sebuah perang dahsyat di negeri Syam (Syiria). Contoh beberapa hadist itu antara lain adalah:

“Pusat kepemimpinan kaum Muslimin pada hari peperangan yang paling besar adalah di sebuah negeri yang bernama Ghuthah, yang mana di negeri itu terdapat sebuah kota yang bernama Damsyik (Damaskus). Ia merupakan tempat tinggal yang terbaik bagi kaum Muslimin pada waktu itu.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

“Akan keluar dari sulbi ini (Ali bin Abi Thalib ra) seorang pemuda yang akan memenuhkan dunia ini dengan keadilan. Maka apabila kamu meyakini yang demikian itu, hendaklah kamu turut menyertai Pemuda dari Bani Tamim itu. Sesungguhnya dia datang dari sebelah Timur dan dialah pemegang Panji-panji Al-Mahdi.” (At-Tabrani)

Jika kamu semua melihat Panji-panji Hitam datang dari arah Khurasan, maka sambutlah ia walaupun kamu terpaksa merangkak di atas salju. Sesungguhnya di tengah-tengah panji-panji itu ada Khalifah Allah yang mendapat petunjuk.”(Ibnu Majah).

Ring a bell? Banyak orang menganggap ISIS adalah kebangkitan yang dimaksud, dan Abdurahman Al-Baghdadi adalah keturunan Bani Tamim (keturunan Ali) yang diramalkan nabi dalam hadist-hadist di atas. Benarkah? Lha, embuh.

Ramalan selalu menghasilkan orang-orang yang mencoba memenuhi ramalan itu. Dulu ada ramalan bahwa presiden-presiden Indonesia akan terdiri dari orang-orang yang namanya membentuk kata no-to-no-go-ro. No-Soekarno, to-Soeharto. Waktu itu sempat dikira presiden berikutnya adalah Try Soetrisno, tapi meleset menjadi tidak karuan. Tapi tetap saja ada yang masih percaya, yaitu Kivlan Zen. Ia rela mengganti namanya menjadi Wiyogo. Menurut dia, Habibie-Gus Dur-Mega itu anomali saja. Alur sejarah kembali pada jalurnya dengan Yudhoyono menjadi presiden. Maka yang berikutnya adalah giliran orang bernama dengan akhiran go, maka ia mengganti namanya menjadi Wiyogo.

Dalam hal Al-Baghdadi, bisa jadi ia adalah orang yang meyakini dirinya adalah perwujudan ramalan nabi tadi. Atau, ia adalah seorang oportunis yang menunggangi dalil-dalil itu untuk kepentingan pribadinya. Lebih buruk lagi, bisa jadi pula ia hanyalah boneka dari kekuatan lain yang memainkan dalil-dalil itu untuk suatu skenario.

Yang jelas dalil-dalil itu dipercaya, dan berhasil membuat orang-orang mendukung ISIS.