Category Archives: Bahasa

Darmawisata

“Anak-anak, besok kita akan pergi berdarmawisata,” kata Pak Kateng, guruku. Aku sungguh senang mendengarnya. Kata-kata itu persis seperti yang biasa kubaca dalam buku bacaan pelajaran bahasa Indonesia yang kami pakai di kelas. Dalam buku-buku pelajaran kami cerita tentang darmawisata selalu dimulai dengan kalimat itu. Lalu ada cerita tentang perjalanan ke tempat yang indah, naik bis atau kereta api.

Aku langsung jatuh ke dalam khayalan itu. Kubayangkan diriku pergi beramai-ramai, bersama kawan-kawan dan guru, membawa berbagai bekal, baik bis, pergi darmawisata. Sungguh menggairahkan. Tapi, nanti dulu. Mana ada bis atau kereta api di kampung kami. Kampung kami ini di pulau. Tak ada jalan raya yang menghubungkan kampung kami dengat kota, tempat bis berada. Jalan kampung kami hanya jalan tanah, sejajar dengan parit yang membelah kampung kami. Itupun berujung di kuala, ujung parit tadi. Setelah itu laut, selat yang memisahkan pulau kampung kami dengan pulau-pulau sekitarnya.

“Besok kita akan pergi ke hutan bakau di dekat kuala, naik sampan,” kata Pak Kateng melanjutkan. Nah, ini membuat diriku kembali berpijak ke bumi. Jadi besok kami akan pergi ke hutan bakau.

“Kalian harus membawa bekal. Nasi dan lauk, dibungkus pakai daun pisang. Jangan bawa rantang, nanti hilang. Jangan lupa, bawa air minum yang sudah dimasak.”

Aku tersenyum mendengar perintah terakhir itu. Tak kan ada murid yang mematuhinya. Tak ada orang masak air di kampung ini, kecuali kalau mereka hendak membuat air kopi. Hanya ayahku saja yang tak mau minum air mentah dari tempayan. Ia selalu minum air yang sudah dimasak, dan seringnya ia minum dalam keadaan panas.

Aku sebenarnya merasa agak aneh dengan darmawisata ini. Terdengar macam lagak saja bunyinya, darmawisata. Padahal kami bukan pergi naik bis macam anak-anak sekolah di kota. Cuma pergi ke hutan bakau saja. Tak patutlah diberi nama darmawisata. Tapi tak usahlah kupikir lagi. Yang penting aku pergi dengan kawan-kawan, pastilah ada yang menyenangkan.

Begitulah. Besok paginya, lepas sembahyang subuh aku makan pagi. Emak menyiapkan nasi panas dengan sambal teri dan telur dadar. Petang kemarin kulihat Emak pergi mengambil telur di petarang tempat ayam bertelur di belakang rumah kami. Itulah kini yang jadi telur dadar di hadapanku. Aku makan dengan lahap. Di depanku sudah tersedia 2 bungkus nasi, aku yakin isinya sama dengan yang kumakan ini. Lalu ada satu botol beling berisi air minum.

“Kau jangan lupa bawa tudung, pakai nanti di sana,” pesan Emak.

“Tak payahlah bawa tudung, Mak. Bukan panas dalam hutan bakau, tu,” bantahku. Memakai tudung bagi aku sungguh perkara yang mengganggu.

“Haissy, namanya tengah laut, pastilah panas. Nanti kering kepala kau.”

Percuma berdalil membantah Emak. Baiklah menurut saja, karena aku tak akan menang. Kubawa semua bekal, aku berpamitan pada Emak dan Ayah, lalu aku berangkat menuju sekolah.

Tiba di sekolah kutemui kawan-kawan sekelasku sudah berkumpul. Kami hanya 12 murid, 8 laki-laki, 4 perempuan. Semua membawa bekal yang hampir sama, nasi berbungkus daun pisang. Tempat minumnya rupa-rupa. Ada yang membawa botol macam aku, ada pula yang membawa jerigen kecil. Lagi-lagi aku nyaris tergelak sendiri mengingat bahwa yang mereka isikan ke tempat minum itu tentulah air mentah belaka.

Ada 4 sampan bertambat di tepi parit di depan sekolah. Setelah memeriksa kesiapan kami, Pak Kateng menyuruh kami naik ke sampan. “Anak-anak perempuan naik ke setiap sampan. Satu sampan satu murid perempuan. Yang besar badannya, Maila, Su, Rusli, Hamdan, jadi kepala sampan masing-masing. Yang lain boleh pilih mau naik sampan yang mana,” katanya memberi perintah. Kami menurut.

Beriringan sampan kami bergerak menyusuri parit kampung. Aku satu sampan dengan Maila, Nur, dan Ab. Sesekali kami berpapasan dengan orang kampung yang sedang berjalan di jalan kampung. Mereka heran melihat anak-anak sekolah bersampan bersama-sama.

“Nak, ke mana, Pak Kateng.”

“ini, membawa budak-budak ni belajar di hutan bakau.”

“Ai, ada-ada saja, belajar dalam hutan. Dah jemu belajar di kelas, kah?” tanya orang itu sambil bergelak. Pak Kateng pun ikut bergelak.

Kurang lebih setengah jam berkayuh, sampan-sampan kami tiba di kuala. Di depan sana tampak laut dengan air yang sedikit membiru. Laut di kampung kami tak luas benar. Kurang lebih dua kilo di depan sana sudah tampak tepi laut pada sisi lain, sisi pulau sebelah sana. Keluar dari kuala kami berbelok ke arah kiri. Perlahan kami menyusuri tepi laut. Di sisi kiri kami berjajar pohon-pohon bakau, tinggi menjulang. Di bagian bawah akar-akarnya bersilangan satu sama lain, seakan berebut ruang jalar.

Pak Kateng memungut buah bakau dengan sulurnya yang panjang yang terapung di permukaan air.

“Kalian tahu, apa ini?

“Buah bakau,” jawabku.

“Betul. Coba lihat bentuknya. Ada sulur panjang. Kalau jatuh dari pohoh, ia tegak, langsung menancap di lumpur. Di situ dia akan tumbuh. Sulur ini sekaligus menjadi pelampung, membuat buah bakau ini bisa hanyut jauh. Saat air surut, ia akan terdampar, lalu tumbuh di situ. Ia akan jadi pohon baru, jauh dari induknya. Begitulah cara pepohonan menyebarkan keturunan.”

Kami semua mendengar dengan seksama. Aku bukan pertama kali ini ke hutan bakau. Sudah beberapa kali aku pergi, ikut Ayah. Tapi pergi seperti ini, bersama kawan-kawan, ditambah panduan Pak Kateng, rasanya berbeda. Lebih asyik.

Pak Kateng menyuruh kami menambatkan sampan di suatu tempat. Lalu kami naik ke darat. Air laut sedang pasang. Di tepi laut sebagian akar bakau terendam air, tak berapa dalam, hanya satu dua jengkal. Kami dapat dengan jelas melihat ikan-ikan berkeliaran di antara akar bakau. Ada ikan berbentuk pipih, sisiknya berwarna perak, tapi ada pola berbentuk bulatan hitam di tengah badannya. Aku tahu, namanya ikan sumpit. Sesekali ikan-ikan itu menyemprotkan air ke arah daun bakau.

“Ikan sumpit itu menyemprotkan air ke daun dan batang bakau, kalau mengenai serangga, ia akan jatuh, lalu jadi mangsa ikan.”

Oh, begitu. Patutlah ia diberi nama ikan sumpit. Ia pandai menyumpit pakai air.

Pak Kateng membiarkan kami berkeliaran sesuka hati di tengah hutan bakau. Ab berteriak-teriak, menikmati pantulan saranya. Budak-budak berbadan besar beradu cepat memanjat pohon bakau. Budak-budak perempuan mulai mengumpulkan berbagai jenis siput yang merayap di akar dan batang bakau.

Aku turun tanah basah di bawah pohon bakau. Di situ bisa ditemukan kepah. Ayah pernah mengajari aku cara mencari kepah. Ada garis belahan kecil di permukaan tanah. Itu adalah mulut kepah yang sedikit terbuka. Koreklah sedikit ke bawah, maka kau akan mendapatkannya. Dalam sekejap aku sudah menemukan satu kepah bakau yang besar. Asyik aku berjalan ke sana ke mari mengumpulkan kepah. Dalam sekejap sudah kudapat belasan kepah. Melihat kepahku bertumpuk, Nur datang membawakan bakul kecil untuk menampungnya.

Puas kami bermain, Pak Kateng mengajak kami berkumpul. Kini sudah tengah hari, perut mulai lapar. Melihat kami membawa kepah dan siput, Rusli bergegas ke sampan, dan kembali dengan tungku. Sampan nelayan memang dilengkapi dengan tungku, terbuat dari blek bekas yang dipotong, kemudian separuhnya diisi tanah liat. Maila motong beberapa dahan bakau, kemudian membelahnya. Sigap dia menyalakan api di tungku. Lalu kami makan nasi bekal kami, dengan lauk bekal, ditambah kepah dan siput bakar. Sedap bukan main.

Lepas makan kami berenang di laut. Pak Kateng membiarkan kami bermain sesuka hati. Kami mengumpulkan kayu-kayu hanyut, mengikatnya dengan rotan hanyut yang kami temukan, menjadikannya rakit. Beberapa rakit terbentuk, lalu kami mengadakan perlombaan kayuh rakit.

Tak terasa waktu berlalu. Tahu-tahu matahari sudah tampak condong ke barat. Pak Kateng mengajak kami pulang. Sungguh menyenangkan. Tadinya aku sempat berkecil hati dengan darmawisata ini. Tapi ternyata ini adalah darmawisata yang hebat.

 

 

Fakta dan Opini

Saya terbiasa membedakan antara fakta dan bukan fakta. Yang bukan fakta di antaranya adalah opini, analisa, isu, persepsi, prasangka, dan fitnah. Saya pernah bekerja sebagai ilmuwan. Hal paling penting dari kerja ilmuwan adalah memilah antara fakta dan bukan fakta. Bekerja 12 tahun sebagai peneliti fisika membuat saya terlatih.

Selain itu selama 20 tahun terakhir saya bekerja dalam lingkungan Jepang. Salah satu keunikan budaya Jepang adalah mereka memisahkan dengan tegas antara fakta dan bukan fakta. Misalnya kita hendak mengungkapkan “jam ini mahal”, dalam bahas Jepang kalimatnya menjadi “Kono tokei wa takai.” Kalimat itu hanya diucapkan bila seseorang memang benar-benar tahu harga jam itu, dan secara objektif harga itu memang mahal. Bila ia hanya menduga, ia akan mengatakan “Kono tokei wa takai to omou.” Saya pikir jam ini mahal.

Kalau dia mengira (dari tampilan jam), ia akan bilang, “Kono tokei wa takasou.” Kalau ia mendengar dari orang lain bahwa jam itu mahal, ia akan bilang,”Kono tokei wa takai souda.” Masih ada beberapa jenis ungkapan lain, memastikan terpisahnya fakta dan bukan fakta. Saya terbiasa dengan logika itu.

Dalam keseharian kita terbiasa dengan informasi yang tidak dipilah antara fakta dan bukan fakta. “Fulan Marah,” begitu judul berita. Apakah Fulan Marah itu fakta? Marah itu adalah suatu keadaan emosi yang sebenarnya sangat rumit untuk didefinisikan. Ada orang yang bicara sambil gebrak-gebrak meja, tapi dia tidak sedang marah. Orang yang belum mengenal dia akan mengira dia sedang marah. Maka dalam hal ini, kalau yang terlihat adalah gebrak meja, maka faktanya adalah gebrak meja. Marah bukan fakta, tapi persepsi.

Banyak hal yang sifatnya relatif bila diungkap tanpa ukuran. Mahal, murah, cepat, lambat, semua itu hal yang relatif, sesuai persepsi. Ukuran menjelaskan faktanya. Daging sapi mahal. Itu persepsi. Harga daging sapi Rp 130 ribu per kilo, itu fakta. Fakta tidak berubah, siapapun melihatnya. Mahal atau murah, tergantung siapa yang menilai. Hujan lebat, itu soal persepsi. Berapa milimeter, itu faktanya.

Persepsi bisa dianggap fakta atau mendekati fakta bila ia dianut oleh sangat banyak orang. Harga daging sapi mahal bisa menjadi fakta bila harganya adalah Rp 150 ribu per kilo. Bagi umumnya rakyat Indonesia harga itu mahal. Maka tak salah bila dalam hal ini diberitakan bahwa harga daging mahal.

Bagaimana memilah fakta dan bukan fakta saat kita menyampaikan informasi? Pertama, sertakan fakta. Misalnya tadi, ketika kita bilang mahal, sertakan berapa harganya. Dengan begitu orang bisa memilih untuk setuju atau tidak dengan persepsi kita soal mahal atau tidak.

Kedua, tegaskan derajat informasi yang kita sampaikan. “Informasi yang saya terima dari….” Kita membuka peluang adanya informasi lain. Cara lain,”Saya dengar……” Dugaan kita bukanlah fakta, maka kita katakan,”Menurut dugaan saya…” Atau,”Kesimpulan saya…”

Bagaimana membedah fakta atau bukan? Dengan memperkaya diri dengan informasi dan berpikir dengan benar. Kemarin setelah Arcandra dipecat ada kabar bahwa ia dipecat karena ada yang terancam. Ia katanya sudah komunikasi dengan KPK, berkas informasinya sudah lengkap, untuk membongkar kasus di zaman Sudirman Said. Dengan dipecatnya Arcandra, kasusnya tidak akan diproses.

Kita yang paham tentu tahu bahwa kerja KPK tidak tergantung kerja sama menteri. Dalam banyak kasus justru menterilah yang dicokok KPK. Kalau Acandra punya data, kasus akan jalan sekalipun ia bukan menteri lagi.

Begitulah. Banyak orang memproduksi sampah yang dianggap sebagai fakta. Mereka jadi seleb media sosial. Beberapa di antaranya dijerat dengan tuduhan kriminal. Saran saya, jangan terpesona pada tokoh, termasuk pada saya. Tetap waras mengurai fakta dan bukan fakta.

Qalb, Kok Jadi Hati?

Kalau kita perhatikan Quran terjemahan bahasa Indonesia, ada suatu hal yang menarik. Kata “qalb” jamaknya “quluub” yang dalam bahasa Arab bermakna jantung (heart dalam bahasa Inggris), diterjemahkan menjadi “hati” dalam bahasa Indonesia. Nah, apa basis berpikirnya hingga diterjemahkan begitu?

Saya menemukan paper yang ditulis Poppy Siahaan, yang merupakan bagian dari buku berjudul “Culture, body, and language: Conceptualizations of internal body organs across cultures and languages”. Dalam paper itu penulisnya menjelaskan bahwa kata “hati” dalam berbagai ungkapan bahasa Indonesia yang mewakili makna jiwa, keinginan, dan akal, berasal dari konsep animisme yang mempercayai bahwa tempat kedudukan jiwa atau ruh dalam tubuh manusia adalah hati atau liver. Persepsi ini sudah tumbuh sebelum agama-agama dari luar, baik samawi (semitic) maupun bukan, masuk ke Indonesia.

Sementara itu, di belahan lain dunia orang Mesir kuno percaya bahwa tempat kedudukan jiwa manusia ada di jantung. Konsep ini mempengaruhi budaya Semit yang melahirkan 3 agama besar dunia, yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam. Tidak heran bila ekspresi yang sama soal perasaan, pikiran, dan jiwa diwakili dengan kata qalb atau jantung. Di dalam Quran jelas disebutkan bahwa manusia berpikir dengan qalb (jantung), dalam konteks pujian kepada yang menggunakannya (22:46), maupun celaan kepada yang tidak menggunakannya (7:179).

Dalam konteks budaya Indonesia, seperti diungkapkan di atas, hati dipercaya sebagai pusat jiwa, pikiran, dan kehendak manusia. Apakah Quran secara “serius” menganggap jantung (qalb) sebagai organ yang mengendalikan pikiran dan tindakan manusia? Ayat 7:179 berbunyi: Mereka punya mata tapi tak (digunakan untuk) melihat, punya telinga tapi tak (digunakan untuk) mendengar, dan punya hati tapi (tak digunakan untuk) berakal. Kita ketahui bersama bahwa mata dan telinga adalah organ dalam konteks kegiatan melihat dan mendengar. Penempatan jantung dalam konteks seperti ini menyiratkan bahwa jantung dalam hal ini adalah dalam pengertian organ. Hanya saja perlu dicatat bahwa melihat dan mendengar dalam kalimat ini juga simbolik sifatnya.

Yang lebih tegas adalah keterangan nabi soal masa kecilnya. Waktu masih dalam asuhan Halimah, menurut sebuah hadist, nabi pernah didatangi oleh malaikat Jibril. Jibril memangkap beliau, menidurkan, lalu membedah dadanya, mengeluarkan jantungnya untuk dibersihkan dari berbagai penyakit. Ini membebaskan beliau dari penyakit-penyakit perilaku atau penyakit mental. Sekali lagi teks ini mengindikasikan jantung sebagai organ dianggap sebagai pusat kendali pikiran dan tindakan manusia.

Namun perlu dicatat bahwa dalam berbagai pembahasan para ulama tidak membahas sifat organ fisik qalb. Al-Ghazali misalnya, hanya sepintas menyebut qalb sebagai organ yang berada di dalam dada, kemudian dalam berbagai pembahasan selanjutnya pembahasan soal qalb lebih berfokus dari aspek non-materi. Ada pula ulama yang membagi dua aspek pikiran manusia, yang bersifat rasional diproses dalam otak, sedangkan yang non-rasional diproses di dalam qalb.

Jadi, bagaimana kesimpulannya? Dalam hal penerjemahan qalb menjadi hati kita bisa simpulkan bahwa ini adalah sisa pengertian masa lalu soal peran organ. Orang tak lagi benar-benar menganggap hati adalah organ tempat kedudukan jiwa manusia, tempat akal diproses. Melainkan ia adalah simbol saja dari pikiran manusia. Karena itu pemaknaan qalb tidak dihubungkan dengan makna kamusnya, tapi dibelokkan secara simbolis menjadi hati.

Tapi pemaknaan ini punya konsekuensi. Kalau qalb ternyata boleh tidak dimaknai secara leksikal, artinya ia bukan organ, padahal saat mengatakan “Ketakwaan itu letaknya di sini” nabi menunjuk ke dadanya, apakah makna kata lain seperti neraka, surga, malaikat, dan sebagainya boleh kita maknai pula secara simbolik? Bahwa semua terminlogi itu tidak otomatis wujud secara nyata?

Menguasai Bahasa Asing

language

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Saya mulai belajar bahasa Jepang bulan Maret tahun 1996. Sebelum itu saya tidak pernah belajar sama sekali. Pengetahuan saya nol. Bukan Desember di tahun yang sama, 9 bulan kemudian, saya ikut tes kemampuan bahasa Jepang Level 2 dan lulus. Pelatihan bahasa Jepang berlanjut, sampai genap setahun saya belajar. Hasilnya? Saya bisa berkomunikasi dengan lancar, baik secara lisan maupun tulisan. Saya sanggup memahami kuliah-kuliah fisika dan teknik dalam bahasa Jepang, kemudian melakukan berbagai presentasi ilmiah dan menulis karya tulis ilmiah dalam bahasa Jepang.

Bagaimana menguasai bahasa asing? Jawaban atas pertanyaan ini adalah sesuatu yang serius, sampai ia menjadi sebuah bidang ilmu yang disebut second language acqusition (SLA). Prinsip dasarnya terkait dengan bagaimana otak manusia bekerja.

Fondasi belajar bahasa asing adalah meniru, sebagaimana kita belajar bahasa ibu. Tentu saja dengan beberapa perbedaan. Pada saat kita belajar bahasa ibu, otak kita masih dalam masa pertumbuhan. Artinya, kita belum memiliki kesadaran yang baik. Orang dewasa yang belajar bahasa asing sudah memiliki kesadaran tertentu. Orang dewasa juga sudah “terisi” dengan kemampuan bahasa ibu, sehingga nalar bahasanya sudah terbentuk. Bahasa ibu akan mempengaruhi pula kemampuan seseorang melafalkan bahasa asing yang ia pelajari.

Perbedaan-perbedaan di atas bisa menjadi sebuah hambatan, tapi pada saat yang sama bisa menjadi dukungan bagi penguasaan bahasa asing. Anak-anak bisa cepat menguasai bahasa, tapi juga cepat lupa. Itu karena mereka semata meniru saja. Orang dewasa meniru sambil membuat struktur yang sistematis. Dalam kasus tertantu cara ini lebih efektif dari sekedar meniru.

Ketika saya belajar bahasa Jepang, hal utama yang saya lakukan adalah meniru dan melafalkan. Guru saya membuat contoh 2-3 kalimat. Saya pahami makna dan struktur kalimatnya, lalu saya buat kalimat saya sendiri dengan mengganti kata-kata yang ia pakai. Saya lakukan berulang-ulang sampai saya bisa menggunakan kalimat itu.

Kita sering terjebak, mengira bahwa belajar bahasa itu sama dengan menghafal kosa kata. Salah. Ada ribuan kata yang mesti kita hafal, dan itu mustahil bisa kita lakukan. Tidak sedikit pula yang terpaku untuk menghafal struktur kalimat. Bahasa kemudian diperlakukan seperti kumpulan rumus-rumus matematika.

Yang kita lakukan dalam belajar bahasa adalah mengingat ekspresi. Eskpresi itu mengandung struktur kalimat, sekaligus kosa kata. Kita hanya bisa mengingat ekspresi dengan mengucapkannya berulang-ulang, dan mendengar orang lain mengucapkannya. Maka cara paling efektif dalam belajar bahasa adalah dengan menggunakannya.

Banyak orang yang belajar bahasa asing, tapi tak kunjung bisa. Kenapa? Karena tidak digunakan. Pengalaman saya kursus bahasa Inggris selama bertahun-tahun, di kelas selalu saja ada peserta yang duduk di pojok, hanya mendengarkan, tak pernah bicara. Orang-orang seperti ini tidak akan pernah bisa menguasai suatu bahasa. Banyak orang bisa mengira akan bisa berbahasa tanpa memakainya. Itu sebuah kesalahan besar.

Ada pertanyaan berbau dilemma tentang belajar bahasa. Pentingkah belajar tata bahasa? Apakah tidak lebih baik mencoba bicara saja dengan mengabaikan tetek bengek tata bahasa? Pertanyaan ini muncul dari kesalah pahaman tentang proses belajar bahasa. Tanpa tata bahasa tidak mungkin kita akan menghasilkan kalimat (ungkapan) yang bermakna. Jadi jelas, tata bahasa itu penting. Namun yang sering terjadi adalah, seperti yang saya tulis di atas, orang belajar bahasa dengan mencoba mengingat atau bahkan menghafal tata bahasa. Padahal tata bahasa (struktur kalimat dan sebagainya) diingat bersama kosa kata, dengan memakainya. Jadi, berbicaralah, dan berbicaralah dengan tata bahasa yang benar.

Kesalahan lain soal belajar bahasa adalah orang mengira prosesnya bisa instan. Saya belajar bahasa Jepang sampai mahir selama setahun penuh. Itu saya lakukan melalui pelatihan intensif, 35 jam seminggu. Bila intensitasnya kurang dari itu, maka diperlukan waktu lebih lama lagi. Jadi jangan pernah percaya dengan iklan yang menawarkan paket mahir bahasa asing dalam waktu 2-3 bulan, atau hanya beberapa minggu saja.

Ingat, cara terbaik dalam belajar bahasa asing adalah dengan memakainya.

Adam dan Hawa Berbahasa Apa?

adam


Coba Anda cari jawaban atas pertanyaan itu di Google, apa yang Anda temukan? Kalangan Judeo-Kristian menganggap bahwa bahasa yang dipakai Adam adalah bahasa Ibrani. Alasannya merujuk pada nama-nama yang dipakai saat itu, seperti Hawa, yang merupakan bahasa Ibrani. Berdasarkan alasan itu muncullah anggapan bahwa bahasa Ibrani adalah induk bahasa manusia, sebagaimana Adam adalah induk semua manusia.
 
Bagaimana dengan Islam? Saya belum menemukan bahasan yang memadai dari para ulama tentang hal ini. Tapi tak sulit untuk menduga bahwa umat Islam pun akan berpikir dengan cara yang sama seperti orang-orang Yahudi dan Kristen. Jadi, ada di kalangan umat Islam yang mengklaim bahwa Adam berbahasa Arab, yang diajarkan langsung oleh Allah.
 
Apa kata sains? Sains tidak menganggap manusia berasal dari Adam. Sains tidak menganggap Adam itu wujud sebagai tokoh sejarah, melainkan hanya sebagai legenda tradisional Yahudi. Sains berteori bahwa manusia modern adalah produk evolusi dari berbagai jenis manusia purba yang tersebar di muka bumi. Ada pula yang berpendapat bahwa terjadi migrasi besar-besaran dari Afrika sekitar 50 ribu tahun yang lalu, ke berbagai tempat di bumi. Mereka menggantikan manusia-manusia purba yang telah punah.
 
Tapi bukankah ada istilah “Adam dan Hawa genetik” dalam sains? Ya, beberapa peneliti berpendapat bahwa mengatakan bahwa secara genetik seluruh manusia yang ada saat ini bersumber pada satu orang manusia laki-laki dan satu perempuan. Mereka diperkirakan hidup sekitar 135 ribu tahun yang lalu. Nah, bukankah itu sesuai dengan ajaran kitab suci? Banyak kalangan khususnya Kristen yang bergembira dengan hal ini. Tidak perlu heran, baik di Islam maupun Kristen banyak penggemar gathukan.
 
Faktanya, yang disebut Adam dan Hawa genetis itu bukanlah manusia pertama yang hidup di bumi. Keduanya hidup terpisah, tidak kenal satu sama lain. Tentu saja tidak pernah bersenggama sebagai pasangan. Dalam pengertian genetis, keduanya hanyalah satu dari ribuan manusia yang hidup pada zaman itu yang secara genetis tersambung dengan manusia modern.
 
Kembali ke soal bahasa, para ilmuwan membangun teori perkembangan bahasa yang paralel dengan teori evolusi. Bahwa manusia mengembangkan kemampuan bahasanya seiring dengan berkebangnya fisik manusia, termasuk perkembangan otak, sistem saraf, dan organ lain seperti mulut dan tenggorokan. Ada yang menganggap bahasa itu berkembang secara berkesinambungan, ada pula yang menganggapnya terputus. Diperkirakan pada suatu periode terjadi “lompatan” pada perkembangan fisik manusia secara tidak berkesinambungan, di mana kemampuan pada periode berikutnya jauh lebih baik dari periode sebelumnya.
 
Manusia diperkirakan mulai menciptakan bahasa dari ekspresi sederhana yang secara refelek terlontar saat ia merasa kesakitan atau marah. Bunyi-bunyi itu kemudian berkembang menjadi bunyi yang lebih berbentuk, yang kemudian dipakai bersama. Ada pula teori yang mengatakan bahwa bahasa dibentuk dari peniruan terhadap bunyi-bunyi hewan. Selain itu ada pula yang beranggapan bahwa bahasa tercipta dari hubungan antara ibu dan anak.
 
Ada begitu banyak teori perkembangan bahasa. Yang jelas kita ketahui bahasa verbal itu kita pelajari dari interaksi antar manusia. Seseorang yang sejak bayi hidup sendiri tidak akan punya bahasa verbal. Hal itu bisa kita simpulkan dari pertumbuhan kemampuan berbahasa anak-anak kita. Atau, bisa kita lihat bagaimana orang tuna rungu yang tidak punya kemampuan berbahasa verbal.
 
Jadi, Adam dan Hawa berbahasa apa? Jawabannya tergantung pada jenis jawaban apa yang Anda inginkan. Bila basisnya adalah iman, maka mereka berbahasa Ibrani, kalau Anda memilih iman Yahudi atau Kristen. Bagi yang beriman Islam, jawabannya (mungkin) bahasa Arab. Orang Buddha dan Hindu tidak mengenal Adam dan Hawa, jadi jawaban mereka kosong, alias tidak ada. Begitu pula dengan sains.