Category Archives: Agama

Kafir Harbi, Kafir Dzimmi, dan NKRI

Banyak sekali umat Islam yang tidak paham bahwa kedua istilah di atas adalah istilah abad VII, yang sama sekali tidak relevan untuk disebut lagi dalam NKRI di abad XXI ini. Kafir adalah golongan non muslim. Di antara mereka pada masa itu ada yang memusuhi dan memerangi umat Islam. Mereka kemudian diperangi, dan dibunuh. Mereka itu disebut kafir harbi.

Contoh kafir Harbi pada masa itu adalah orang-orang Mekah, yang sebagian dari mereka adalah kerabat nabi Muhammad sendiri. Mereka sejak awal memusuhi, dan menzalimi nabi beserta sahabat-sahabatnya. Kemudian ada pula orang-orang Yahudi di sekitar Madinah, yang tadinya adalah sekutu nabi, mengikat janji damai dalam Piagam Madinah. Kemudian mereka berkonflik, lalu berperang.

Ketika kelak sudah menjadi kuat, pasukan Islam di Madinah menaklukkan Mekah. Tidak hanya itu, mereka mendatangi wilayah-wilayah di sekitar jazirah Arab, meminta penguasa di situ tunduk di bawah kekuasaannya, dengan membayar dzijyah atau upeti. Yang mau tunduk disebut kafir dzimmi. Yang menolak tunduk akan diperangi, diperlakukan sebagaimana kafir harbi.

Itu adalah pola kekuasaan abad VII. Orang-orang berinteraksi dalam wadah negara yang basis identitasnya adalah agama. Arab basisnya Islam. Persia berbasis pada Zoroaster. Bizantium berbasis Kristen. Mereka saling berperang, saling menaklukkan. Perang antar manusia, antar raja, sering pula dianggap sebagai perang antar agama.

Apa hubungannya dengan NKRI? Tidak ada. Negara ini tidak didirikan atas dasar agama. Tidak ada kata Islam dalam UUD kita. Ingat itu. Negara ini tidak didirikan oleh orang-orang Islam, untuk orang-orang Islam. Negara ini diperjuangkan tegaknya oleh banyak orang, dari berbagai daerah asal, suku, dan agama.

Maka negara ini tidak mengenal istilah kafir. Negara ini hanya mengenal istilah warga negara, dan kedudukan mereka sama, tak peduli apa agama dan suku mereka.

Orang yang masih memakai istilah kafir hirbi dan kafir dzimmi adalah orang-orang yang salah tempat dan salah zaman. Mereka seharusnya hidup di zaman di mana negara-negara saling berperang untuk saling menaklukkan. Kita sudah lama meninggalkan kebiasaan itu. Kita tidak akan menaklukkan tetangga kita Singapura atau Malaysia. Mereka juga tidak akan ganggu kita.

Di negeri ini kita sudah punya konstitusi dan hukum. Keduanya tidak akan diubah menjadi hukum Islam. Interaksi kita adalah interaksi untuk membangun bangsa ini, bukan untuk saling menaklukkan. Tidak akan ada Indonesia atau wilayah dalam negara ini di mana orang dikenali atas dasar identitas agamanya, dan tidak akan berlaku istilah kafir harbi dan kafir dzimmi.

Kita semua warga negara, kita tidak sedang bersaing.

Yang masih merasa kita ini bersaing dan bermusuhan, sebaiknya segera mencuci otaknya yang tercemar oleh kotoran dari padang pasir.

Kebebasan Beragama dalam Ruang Konstitusi

Ada hal yang harus diluruskan soal kebebasan beragama dalam konteks konstitusi kita. Kalau tidak, ini akan ditunggangi oleh begundal-begundal yang hendak menjadikan NKRI ini negara syariah. Mereka pakai dalih, kebebasan itu diatur oleh konstitusi, untuk melakukan tindakan-tindakan inkonstitusional.
 
Apa persoalan substansial di sini? Definisi agama. Konstitusi tidak memakai definisi agama dalam pengertian definsi kaffah sebagaimana yang mereka anut.
 
Orang-orang itu memakai definisi kaffah. Semua amal dalam Islam itu adalah ibadah. Maka, apapun pelaksanaan agama, bagi mereka adalah ibadah yang dilindungi oleh UUD. Itu klaim mereka.
 
Konsekuensinya apa? Mereka akan bilang, memakai hukum pidana Islam itu ibadah bagi kami. Maka, itu juga dilindungi oleh UUD. Apakah memakai hukum pidana Islam di NKRI ini dibenarkan oleh UUD? Tidak!
 
Maka, kembalikan pada definisi, kebebasan apa yang dijamin oleh UUD kita. Ibadah apa yang diperkenankan? Ini hanya dibatasi dalam pengertian ibadah ritual. Anda mau salat, itu hak Anda. Urusan zakat, haji, dan sebagainya, itu hak Anda, dijamin oleh UUD. Bahkan, pemerintah ikut memberi fasilitas.
 
Tapi kalau Anda mau berjihad melawan orang kafir, itu tidak disediakan wadahnya dalam konstitusi kita. Kenapa? Konstitusi kita tidak mengenal istilah kafir.
 
Negara ini adalah wadah bagi bermacam umat beragama. Maka, ibadah yang tidak bersinggungan dengan umat lain, silakan. Tapi kalau bersinggungan, pelaksanaannya harus tunduk pada hukum negara.
 
Contoh. Bagi orang Islam minuman keras itu haram. Maka, cukuplah mereka tidak minum. Namun, bagi orang-orang kaffah tadi, itu tidak cukup. Bagi mereka, mencegah orang lain minum minuman keras adalah ibadah. Wait, wait. Ibadah macam begini, tidak ada tempatnya dalam wadah NKRI.
 
Umat agama lain tidak mengharamkan minuman keras. Lagipula, pertimbangan yang dipakai pemerintah dalam hal ini bukan (semata) pertimbangan agama. Pemerintah punya pertimbangan sendiri. Karena itu, untuk minuman keras tadi, aturannya tidak spesifik mengacu pada ajaran agama tertentu. Pemerintah tidak melarang minuman keras, hanya mengatur peredarannya saja.
 
Maka tidak boleh ada orang yang melarang, menghalangi, orang yang hendak mengkonsumsi atau menjual minuman keras, dengan alasan itu ibadah dia. Tidak boleh!
 
Karena itulah Rizieq dulu dipenjara, ketika anak buahnya merusak cafe-cafe yang menjual minuman keras. Rizieq menganggap perusakan itu ibadah. Tapi bagi konstitusi dan hukum kita, itu tindak kriminal.
 
Paham?

Hadits Palsu dan Politisasi Islam

Hadits adalah perkataan atau perbuatan nabi Muhammad yang disampaikan secara verbal antar generasi. Hadits baru dikumpulkan dan ditulis secara sistematis beberapa abad setelah wafatnya nabi Muhammad.

Pola periwayatannya, dalam suatu peristiwa nabi mengatakan sesuatu. Perkataan itu didengar banyak orang, beberapa orang, atau satu orang. Pendengar menceritakannya kepada orang lain. Orang-orang itu kemudian menyampaikannya lagi. Dengan cara itulah hadits tersebar.

Perkataan nabi yang didengar banyak orang, kemudian diteruskan kepada banyak orang, disebut hadits mutawatir. Karena sejumlah orang tidak mungkin berdusta bersama maka hadist mutawatir dianggap otentik, atau sahih. Jumlah hadits mutawatir ini relatif sedikit, dibanding jumlah hadits secara keseluruhan.

Bila perkataan atau perbuatan nabi hanya disaksikan oleh satu atau sedikit orang, maka hadits itu disebut hadits ahad. Hadits ahad ini dibagi dalam beberapa kategori. Bila rantai penyampai hadits (sanad) itu terdiri dari orang-orang dengan reputasi baik, maka hadits dianggap sahih (otentik). Bila dalam rangkaian itu ada yang kurang baik reputasinya, maka hadits itu dianggap lemah atau dhaif.

Di bawah itu ada hadts yang derajatnya maudhu, atau palsu. Ini hadits yang tidak bisa dilacak jalur riwayat sanadnya yang terhubung langsung dengan nabi. Dipastikan, atau kuat dugaan, itu adalah perkataan seseorang, mengatas namakan nabi.

Kenapa ada orang yang membuat hadits palsu? Ini bagian menariknya. Salah satu penyebab utama munculnya hadits palsu adalah politik. Dunia Islam sejak awal sejarahnya sudah diwarnai oleh konflik politik.

Tak lama setelah nabi wafat, sudah terjadi friksi. Orang-orang Madinah (anshar) berkumpul untum menetapkan pemimpin, pengganti nabi. Mendengar itu, Umar dan Abu Bakar mendatangi mereka, mencegah jangan sampai orang anshar yang dipilih. Akhirnya mereka berhasil meyakinkan orang-orang anshar, lalu terpilihlah Abu Bakar. Ali, menantu dan sepupu nabi tidak dilibatkan. Dia sempat marah ketika itu, tapi kemudian bersikap legawa, sehingga konflik tidak meluas.

Ketika Usman jadi khalifah, wilayah kekuasaan sudah meluas. Berbagai kepentingan muncul. Sisa bara friksi tadi juga belum padam. Lalu terjadilah pemberontakan. Usman kemudian terbunuh.

Ali naik menghamtikan Usman. Perpecahan terus terjadi. Aisyah, janda nabi, memberontak. Terjadilah Perang Unta. Aisyah bisa ditaklukkan Ali. Tapi Muawiyah, kerabat Usman, anak Abu Sufyan, menantang. Pecahlah Perang Shiffin.

Sempat terjadi rekonsiliasi setelah perang itu, tapi sifatnya palsu. Kekuasaan Ali sudah dilemahkan. Ia kemudian dibunuh oleh golongan Khawarij, faksi lain di luar faksi Ali dan Muawiyah. Muawiyah kemudian mengambil alih kekuasaan. Lalu ia membangun dinasti Umayyah.

Dalam konflik itulah muncul hadits-hadits palsu. Orang berlomba-lomba membuat pembenaran. Masing-masing merasa pihak yang (paling) benar, dan mencari stempel pembenaran. Dari mana stempelnya? Dari nabi.

Pada zaman itu orang sudah tahu bahwa nama Tuhan punya kekuatan besar kalau dipakai berpolitik. Tapi firman Tuhan tak bisa dipalsukan. Yang bisa dipalsukan adalah sabda nabi, karena belum ada buku catatannya. Maka lahirlah hadits-hadits palsu.

Bisakah Anda bayangkan? Ada orang yang denga enteng berdusta, atas nama nabi. Dari mana sumber energi untuk berdusta itu? Nafsu untuk berkuasa. Itu sudah san abad yag lalu, di masa awal sejarah Islam.

Itu terus berlangsung. Orang terus berdusta untuk mencapai kekuasaan. Mereka menciptakan fakta-fakta palsu, di bawah naungan nama Tuhan dan nabinya, atas nama membela Islam. Seperti belasan abad yang lalu, memakai nama Tuhan sangat efektif untuk membuat sekelompok manusia percaya.

Jadi, kalau perkataan nabi saja bisa dipalsukan untuk politik, sekedar hoax, dusta, itu hal kecil saja. Demikian pula dengan tafsir-tafsir palsu atas ayat-ayat Quran. Semua bisa dibuat demi kepentingan politik.

Iman, Kebencian, dan Hilangnya Akal Sehat

Menolak reklamasi Teluk Jakarta? Saya menolak. Alasan saya, soal lingkungan. Bagaimanapun juga, pengubahan lingkungan secara radikal akan mengubah ekosistem. Meski ada perhitungan begini dan begitu, tetap saja ada hal yang luput dari perhitungan manusia.

Alasan lain? Soal keadilan. Ada banyak nelayan yang kehilangan laut, karena laut mereka kini ditimbun tanah, menjadi pulau. Sementara mereka tidak menikmati keuntungan dari pulau itu.

Itu adalah alasan-alasan bernalar untuk menolak reklamasi. Tentu semua itu bisa diperdebatkan, dengan data dan asumsi-asumsi. Soal nalar selalu bisa diperdebatkan.

Tapi ada penolakan yang tak lagi bisa diperdebatkan, karena alasannya tak lagi berdasar nalar. Lantas, berdasar apa? Ilusi. Ada orang-orang yang percaya bahwa reklamasi itu dilakukan oleh pengembang Cina. Hasilnya nanti akan dijual kepada orang-orang Cina. Ini sebagai salah satu langkah orang-orang Cina untuk menguasai Indonesia.

Cukup? Belum. Cina-cina itu tidak hanya pindah ke Indonesia. Mereka punya skenario yang lebih parah. Pulau-pulau reklamasi itu akan dijadikan basis perdagangan narkoba yang diimpor dari Cina. Narkoba ini akan dipakai untuk merusak bangsa Indonesia.

Strategi ini tentu saja paralel dengan yang sudah berjalan, yaitu mendatangkan 10 juta buruh Cina. Mereka inj sebenarnya bukan buruh biasa. Mereka adalah tentara Cina yang menyamar. Pada saatnya nanti mereka akan menghancurkan Indonesia dari dalam, ketika Cina menyerang secara terang-terangan.

Kenapa semua ini bisa terjadi? Karena Presiden Jokowi adalah antek Cina. Dia adalah orang Cina yang pura-pura jadi Jawa. Ia pemimpin agen-agen Cina yang akan merusak Indonesia, untuk kemudian dijajah.

Anda mungkin akan bertanya, orang bodoh mana yang percaya pada cerita itu? Yang percaya bukan hanya orang-orang yang pendidikannya rendah. Tak sedikit dari mereka itu yang berpendidikan tinggi, termasuk doktor lulusan luar negeri.

Kenapa bisa begitu?

Sebab pertamanya, iman. Dengan iman orang dilatih untuk percaya pada hal-hal yang tak logis. Betapapun logisnya seseorang, ia akan menyediakan ruang untuk percaya pada sesuatu yang tak logis, kalau dia beriman.

Dalam agama, ada begitu banyak dongeng yang dipercaya begitu saja, dianggap kejadian nyata, dan dijadikan dasar untuk berpikir. Dongeng dijadikan pedoman. Orang-orang yang “terlatih” untuk berpedoman pada dongeng, tidak lagi menajamkan nalarnya ketika mendengar cerita tadi. Mereka cenderung menerima.

Tapo, cerita tadi kan bukam soal agama. Betul. Celakanya, cerita tadi sering disampaikan dalam forum-forum agama, baik secara verbal, maupun lewat tulisan-tulisan di media sosial. Disampaikan oleh orang-orang yang dipercayai sebagai pemimpin agama. Karena itu informasinya diperlakukan sebagai informasi suci.

Itu baru satu komponen. Komponen lainnya adalah kebencian. Sejak dulu ada orang-orang yang dibuat begitu benci pada Cina, Kristen, dan Komunis. Saking bencinya, satu entitas yang mereka benci, bisa menyandang tiga identitas itu sekaligus. Belakangan ini ditambah satu lagi, Syiah.

Kebencian semakin mematikan sensor nalar. Maka cerita yang paling tidak masuk akal pun, akan dipercaya. Tak heran, misalnya, ada orang yang sampai dituduh Syiah, padahal dia Kristen.

Gejala kematian akal sehat ini terasa menguat, sejak pilkada 2012. Ia semakin menguat pada pilpres 2014. Lalu menjadi semakin kuat pada pilkada yang baru lalu.

Bagi saya, pemilu, pilkada, apapun hasilnya, bisa saya terima. Tapi kebodohan dan pembodohan macam ini, sungguh mengerikan. Orang-orang yang mati nalar, bisa berbuat apa saja, termasuk hal-hal yang mengerikan.

Masalahnya, kapan ini akan berakhir? Sepertinya masih belum. Karena ada orang-orang yang memetik keuntungan dari kebodohan ini. Dalam politik, orang-orang bodoh ini disebut useful idiots.

Menjalankan Perintah Quran dan Berindonesia

Ini adalah ayat Quran yang sedang populer sekarang.
 
“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih,yaitu) Yaitu orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Ketahuilah bahwa semua kekuatan itu milik Allah.” (QS. An-Nisa’ [4] : 138-139).
 
Anda bisa bayangkan betapa takutnya sebagian orang terhadap ancaman ayat ini. Memilih pemimpin non-muslim adalah sikap orang munafik, yang akibatnya akan membuat Anda masuk neraka. Makanya, banyak orang dengan gampang memberi cap munafik kepada orang-orang yang mendukung Ahok.
 
Coba kita renungkan. Kita berhadapan dengan ancaman siksa neraka. Apa yang akan kita lakukan? Tentulah kita akan memilih untuk mematuhi ayat itu, bukan? Lagipula ini cuma soal gubernur atau bupati. Terlalu kecil urusannya bila dibandingkan dengan urusan akhirat. Baiklah, patuhi ayat ini.
 
Tapi sebentar. Ini soal pemimpin, kan? Coba kita lihat dalam skala yang lebih luas lagi. Anda tidak boleh menjadikan orang kafir sebagai pemimpin. Artinya, mereka tidak boleh kita jadikan presiden, gubernur, bupati, camat, lurah. Iya kan? Lalu, mereka boleh jadi apa?
 
Mereka juga tentu tidak boleh jadi Panglima TNI dan Kapolri. Juga tidak boleh jadi Pangdam, Kapolda, Dandim, Kapolres, dan seterusnya. Juga kepala dinas, kepala cabang, kepala kantor.
 
Lantas, mereka bolehnya jadi apa?
 
Lalu ada yang berdalih,”Maksudnya bukan begitu. Ini hanya soal pemimpin yang dipilih. Yang tidak dipilih langsung oleh rakyat, boleh.” Sama saja. Menjadikan mereka pemimpin itu maknanya Anda memilih mereka, dan Anda juga mengakui kepemimpinan mereka.
 
Itu artinya, Anda juga tidak boleh punya bos dan atasan di kantor. Tidak boleh bekerja di perusahaan non-muslim. Lho, lho, lho, kok ngaco, kata mereka. Bekerja sama dengan orang kafir dalam hal muamalah boleh saja, kata mereka. Ngeri kali kalau tidak boleh bekerja bersama non muslim, kan?
 
Tapi coba kita ulangi lagi. Ini soal awliya. Apa arti kata ini? Pemimpin, pelindung, teman dekat, pengelola, pengatur, ketua, dan masih banyak lagi. Tahukah Anda bahwa kata wali kota, wali kelas, wali murid itu berasal dari kata ini, wali, jamaknya awliya? Itu artinya, muslim tidak boleh berteman dekat, bekerja sama, kongsi, beraliansi, dan sebagainya.
 
Lihatlah, betapa hidup ini jadi mustahil. Anda tidak boleh berteman dekat dengan non muslim. Ada banyak orang yang melakukan itu. Mereka pura-pura manis di depan non muslim, tapi kalau sudah berkumpul kembali dengan sesama muslim, mereka menunjukkan sikap aslinya.
 
Tapi bagi saya itu tidak mungkin saya lakukan. Maaf, justru itu adalah sikap munafik yang dicela oleh ayat di atas.
 
Jadi, bagaimana? Mungkinkah kita bisa mengamalkan Quran di Indonesia? Kalau dengan model penafsiran di atas, mustahil. Pilihannya adalah, keluar dari Indonesia, atau meninggalkan ayat di atas.
 
Adakah pilihan lain? Ada! Ubah definisi kafir dalam ayat itu. Maksudnya? Ada begitu banyak ayat yang menyebut kata kafir, dengan maksud menunjuk kepada kaum Quraisy Mekah yang waktu itu memang memerangi umat Islam. Hanya disebut kafir saja, tanpa embel-embel. Tapi yang membaca ayat itu, pada masa itu, sudah tahu siapa kafir yang dimaksud.
 
Masuk akal, bukan? Memang mustahil kita bisa berteman dekat dengan orang-orang yang memerangi kita. Tapi, sebaliknya mustahil kita hidup normal kalau kita mengharamkan pertemanan dekat dengan orang, hanya karena kita berbeda iman dengan mereka.
 
Bagi saya, sikap ini lebih masuk akal. Anda berbeda dengan saya? Tidak masalah.