Category Archives: Agama

Ralitas Bumi Datar

Ada sebuah buku berjudul “Matahari Mengelilingi Bumi”. Buku ini menjabarkan pandangan sekelompok orang tentang sistem tata surya, berbasis pada kitab suci yang mereka anut. Menurut pandangan mereka, bukan bumi yang berputar pada porosnya serta berevolusi mengelilingi matahari, melainkan mataharilah yang beredar mengelilingi bumi.

Demikian pula, ada sejumlah orang yang kukuh pada pandangan, bahwa bumi ini datar, bukan bulat seperti bola.

Benarkah kitab suci menuliskan hal itu? Ya. Sejauh yang sudah saya baca, seperti itulah isinya. Bumi ini terhampar, matahari bergerak, menyebabkan terjadinya siang dan malam. Seperti itulah yang tertulis

Ada sekelompok orang yang keberatan terjadap cara pandang seperti ini. Kata mereka, tidak tegas tertulis bahwa bumi ini datat, atau matahari bergerak. Mereka bahkan mencari-cari dan menemukan ayat yang mengatakan bahwa bumi itu bulat.

Orang-orang ini sebenarnya tidak sedang menafsir teks kitab suci mereka. Mereka sedang mencocokkan narasi kitab suci dengan pengetahuan mereka. Bagi saya sederhana saja. Kalau memang benar ada pernyataan dalam kitab suci bahwa bumi ini bulat, tentu manusia tidak perlu menunggu sampai abad pertengahan untuk sadar bahwa bumi ini bulat. Juga tidak perlu menunggu lama untuk paham bahwa matahari tidak mengelilingi bumi.

Kata mereka, itu karena narasi di kitab suci itu memang tersamar. Lho, bukankah ini kitab petunjuk? Kalau manusia tidak bisa menangkap pesan bahwa bumi ini bulat dari kitab suci, sampai ia menemukan informasinya dari sumber lain, maka kitab suci ini gagal memberi petunjuk pada manusia. Pesannya tidak jelas menyatakan bahwa bumi ini bulat. Pesan yang lebih jelas adalah bahwa bumi ini datar.

Lalu, kalau kitab suci mengatakan bahwa bumi ini datar, matahari mengelilingi bumi, apakah berarti bahwa kitab suci itu salah? Soal ini kita harus hati-hati. Benar-salah itu maknya sangat beragam. Kebenaran sangat sulit untuk didefinisikan. Jadi sebaiknya kita tidak memakai istilah benar-salah.

Saya lebih suka memakai istilah sesuai realitas dan tidak sesuai realitas. Apa itu realitas? Itu adalah keadaan di depan kita, yang bisa kita tangkap dengan panca indera, secara langsung, maupun dengan alat bantu. Kemudian dari yang kita tangkap itu kita bangun sebuah model.

Bagi orang zaman dulu, bumi datar itu adalah realitas. Mereka hanya sanggup melihat bumi dari permukaan bumi. Dari situ bumi memang terlihat datar. Demikian pula, sehari-hari mereka melihat bahwa bumi ini diam, dan matahari bergerak. Itulah realitas bagi manusia yang hidup beberapa abad yang lalu.

Sesuaikah narasi kitab suci dengan realitas? Ya, sesuai dengan realitas saat kitab suci itu dinarasikan. Di masa itu memang seperti itulah realitasnya. Jadi, memang cocok.

Tapi kan tidak cocok dengan realitas sekarang. Ya, tidak cocok. Kalau begitu, kitab suci itu salah, dong. Ingat, realitas itu tidak sama dengan kebenaran. Relitas itu berkembang. Sekarang kita memahami tata surya seperti ini, galaksi seperti ini. Seratus tahun lagi, manusia akan menemukan fakta-fakta baru, pemahaman mereka akan berubah lagi. Realitas selalu berubah.

Kalau kitab suci tidak sesuai dengan realitas sekarang, terima saja. Mustahil ada teks yang selalu cocok dengan realitas. Sekali lagi, mustahil, karena realitas selalu berubah, sedangkan narasi teks bersifat tetap. Bagaimana mungkin sesuatu yang tetap bisa selalu cocok dengan sesuatu yang terus berubah? Satu-satunya jalan adalah dengan melakukan pencocokan.

Kenapa orang sampai perlu melakukan pencocokan? Mereka sedang mencoba mengingkari bahwa kitab suci itu sedang berbicara pada orang-orang yang hidup pada masa ketika kitab suci itu dinarasikan. Sikap ini sungguh konyol.

Dalam menafsir, juga merumuskan hukum, jelas sekali orang melakukan transformasi teks. Ketika disebutkan sesuatu, itu merujuk pada sesuatu di zaman itu, di tempat itu. Ketika disebut gandum, misalnya, maksudnya adalah makanan pokok di situ, pada zaman itu. Untuk kita di sini pada zaman ini, narasi itu bisa kita ubah maknanya menjadi beras. Karena narasi itu sedang bicara pada orang di zaman itu, di tempat itu.

Tapi ketika bicara soal-soal begini, masih saja ada orang yang memaksakan, mesti cocok. Maka mereka melakukan pencocokan secara konyol.

Kotab suci memang bicara pada manusia yang sedang hidup pada zaman ketika ia dinarasikan. Bahkan kadang ia bicara dalam konteks yang sangat lokal, tentang suatu peristiwa. Di zaman itu seorang laki-laki boleh punya istri banyak. Bahkan boleh pula memelihara budak dan menidurinya. Karena itu narasi kitab suci hampir tidak pernah menyebut “istrimu” dalam bentuk tunggal, melainkan dalam bentuk jamak.

Masalahnya, kita tidak konsisten untuk mengakui bahwa narasi kitab suci itu sedang berbicara pada manusia masa lalu. Kita paksakan bahwa maknanya selalu abadi, bahkan universal. Bagi saya, tidak ada yang abadi. Karena, seperti realitas tadi, tata cara hidup kita juga terus berubah.

Kita harus legowo mengakui bahwa realitas yang digambarkan dalam kitab suci itu sudah usang, berbeda dengan realitas sekarang. Demikian pula, hukum-hukum yang diajarkannya, banyak yang sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan kita. Bagi saya, itu pun layak kita tinggalkan.

Tidak Ada Ajaran Final

Seorang teman mengirim pesan WA, minta tolong menjawab pertanyaan anaknya. Ini anak cerdas istimewa. Berkali-kali ia mengajukan pertanyaan tentang doktrin maupun legenda yang diajarkan dalam pelajaran agama.

Pertanyaan yang diajukannya sekarang adalah,”Kenapa dulu menghancurkan berhala itu dianggap pahlawan, sedangkan sekarang kalau itu dilakukan bisa dianggap tindakan kriminal?”

Jawaban atas pertanyaan ini tidak sederhana. Kita harus menjawabnya denganmengurai sejarah peradaban manusia. Salah satu komponen penting dalam peradaban manusia adalah perang. Ya, perang. Suka atau tidak, sampai saat ini banyak hal dalam sejarah manusia diubah atau ditentukan dengan perang. Pahlawan dan orang-orang hebat juga banyak muncul di medan perang.

Sampai dua tiga abad yang lalu manusia masih menggunakan cara berperang yang dipraktekkan sejak ribuan tahun yang lalu. Dalam bahasa sederhana bisa digambarkan sebagai the winner takes all, pemenang mengambil segalanya.

Di masa lalu, ketika suatu kelompok memenangkan perang, maka ia boleh berbuat apa saja terhadap kelompok lawan. Ia boleh membunuh semua orang yang tersisa, atau memperbudak mereka. Mereka boleh merampas semua milik lawan, atau menghancurkannya.

Satu hal lagi, zaman dulu perang sering berlangsung atas nama iman. Kepentingan untuk merebut wilayah, sering kali dibalut dengan kepentingan untuk menyebarkan ajaran agama, atau memuliakan nama Tuhan. Berhala, sesembahan, rumah ibadah, adalah bagian dari benda milik lawan. Maka ia boleh dihancurkan. Tindakan individu atau kelompok pasukan yang menghancurkannya adalah tindakan heroik. Benda-benda itu adalah simbol keberadaan lawan. Menghancurkannya adalah simbolisasi dari penghancuran lawan. Itu sama saja psikologinya dengan membakar bendera lawan.

Perlahan manusia belajar, khususnya dari kepedihan perang. Lalu mereka membuat sejumlah aturan. Salah satu tonggak penting dalam sejarah peradaban kita adalah Konvensi Jenewa. Dalam konvensi ini dirumuskan tata cara berperang, perlindungan terhadap penduduk sipil dan tawanan perang. Termasuk juga perlindungan terhadap harta benda (property) milik lawan.

Dalam konvensi ini tegas dipisahkan antara sipil dan militer. Perang tak lagi melibatkan semua orang seperti dulu, melainkan hanya oleh sekelompok orang bersenjata yang disebut tentara. Warga sipil tidak boleh diserang dan disakiti.
Perbudkaan sudah dihapuskan, sehingga tidak boleh ada lagi warga dari pihak yang kalah yang diperbudak.

Hal lain lagi adalah perubahan tata pergaulan. Hampir semua negara kini beragam. Meski masih ada satu dua negara yang mengaku berdasarkan agama, pada substansinya mereka bukan negara agama. Karena toh ada beberapa negara dengan identitas agama yang sama. Kalau itu negara agama, seharusnya mereka menjadi satu negara, bukan? Bahkan kerap pula terjadi perang antara 2 negara yang berdasarkan agama yang sama.

Perang kini adalah perang antar negara, tidak lagi membawa nama Tuhan. Artinya, simbol-simbol ketuhanan milik lawan, seperti rumah ibadah dan patung-patung juga tak boleh diusik.

Tapi bukankah ajaran agama masih menganggap hebat penghancur berhala itu? Itu adalah ajaran yang dirumuskan belasan abad lalu. Ajaran seperti itu sudah kita tinggalkan. Harus kita tinggalkan. Dalam keadaan perang maupun damai manusia tidak boleh mengusik rumah ibadah dan perlengkapan ibadah milik orang lain. Karena beragama adalah hak azasi yang harus dihormati.

Tapi, kalau ditinggalkan, bagaimana dengan ajaran tentang kesempurnaan agama? Tidak ada ajaran sempurna. Itu hanya klaim saat itu. Sebelumnya agama-agama yang lebih tua juga melakuka klaim serupa. Toh kemudian muncul ajaran agama baru.

Agama adalah tata cara hidup yang dirumuskan di masa lalu. Kini kita terus merumuskan tata cara hidup. Hanya saja kita tak lagi mengaitkan tata cara itu dengan nama Tuhan. Kita menyenutnya undang-undang dan hukum. Tata cara hidup kita terus berkembang. Suka atau tidak, sebenarnya kita sudah banyak meninggalkan ajaran agama. Hanya saja kita enggan mengakuinya terang-terangan.

Di masa depan perang harus ditiadakan. Bagi saya segenap aturan perang, termasuk Konvensi Jenewa itu adalah aturan konyol. Aneh sekali, dalam keadaan biasa kita tidak boleh membunuh dan merusak, tapi dalam perang itu dibolehkan.

Begitulah. Tata cara hidup manusia terus berkembang. Ajaran yang dirumuskan belasan abad lalu secara perlahan akan ditinggalkan. Yang tersisa mungkin hanya ritual-ritual untuk senang-senang.

Apakah Tuhan itu Ada?

Jawaban atas pertanyaan itu tergantung pada apa yang kita maksud ada. Orang-orang beriman yakin Tuhan itu ada. Di mana? Dalam keyakinan mereka. Tuhan hadir dalam kesadaran, menjadi inspirasi bagi tindak tanduk mereka. Maka Tuhan itu ada.

Sebaliknya, bagi yang tidak beriman, Tuhan itu tidak ada. Tuhan tidak hadir dalam kesadaran mereka. Tuhan juga tidak menjadi motif maupun inspirasi bagi tindak tanduk mereka. Maka, Tuhan itu tiada.

Bisakah kita membuktikan keberadaan Tuhan secara objektif?

Tidak mungkin! Mau dibuktikan dengan apa? Dengan peralatan scientific? Tidak bisa. Kenapa tidak bisa? Apakah karena teknologi manusia belum cukup canggih untuk bisa mendeteksi keberadaan Tuhan? Bukan begitu. Sains tidak menjadikan Tuhan sebagai objek kajiannya. Maka sains tidak akan menghasilkan sesuatu yang akan menjawab pertanyaan soal eksistensi Tuhan. Jadi, teknologi manusia sebagai produk sains tidak akan pernah bisa mendeteksi atau membuktikan keberadaan Tuhan. Ibaratnya, vaksin kimiawi tidak akan pernah bisa membunuh virus komputer. Bukan karena vaksin itu kurang ampuh, tapi karena memang tidak dibuat untuk itu.

Prinsip itu berlaku sebaliknya; sains dan teknologi juga tidak bisa dipakai untuk membuktikan tiadanya Tuhan.

Jadi, Tuhan tidak bisa dibuktikan secara objektif. Lantas, adakah Tuhan? Jawabannya kembali ke paragraf pertama dan kedua di atas. Tuhan itu ada bagi yang mengimaninya, dan tiada bagi yang tidak mengimaninya.

Ada orang-orang yang mencoba menggunakan sains untuk menjelaskan keberadaan Tuhan. Kata mereka, alam ini sungguh teratur. Tidak mungkin keteraturan itu ada kalau tidak ada yang menciptakan dan mengaturnya.

Baiklah. Mari kita lihat keteraturan alam ini. Lihatlah misalnya soal awan dan hujan. Siapa yang mengaturnya? Apakah Tuhan? Mari kita cek. Air di muka bumi menguap, membumbung tinggi menjadi awan. Apa yang membuat air itu menguap? Utamanya adalah panas dari matahari. Awan kemudian mengalami berbagai kondisi termodinamik yang membuatnya mengembun menjadi air. Air yang berat ini kemudian menjadi lebih berat, kemudian turun menjadi hujan.

Kalau kita selidiki setiap penyebab sepanjang proses di atas maka kita akan temukan bahwa setiap keteraturan yang kita saksikan terjadi oleh suatu kondisi. Kalau ada kondisi A, akan terjadi B. Kalau ada konsidi C, maka akan terjadi D. Siapa yang menciptakan atau mengatur kondisi itu? Kondisi-kondisi lain. Begitu seterusnya. Keteraturan alam itu saling terkait satu sama lain, bahkan saling mempengaruhi.

Menariknya, manusia bisa ikut campur mengatur kondisinya. Manusia bisa membuat suatu kondisi, emngubah kondisi yang ada, sehingga tercapai kondisi yang diinginkan, lalu terjadilah yang diinginkan itu. Manusia misalnya bisa mengatur kondisi termodinamika di angkasa, sehingga bisa membuat hujan.

Manusia tahu bagaimana terjadinya pembuahan yang menghasilkan janin (pada hewan maupun manusia), dan bisa mengintervensi kondisi-kondisi sesuai keinginan, sehingga bisa mencegah atau membuat kehamilan. Dengan mengubah kondisi-konsidi, manusia bisa mengatur keturunan hewan-hewan, menciptakan jenis-jenis baru, yang sebelumnya tidak ada. Manusia juga bisa membuat bahan-bahan baru, dengan sifat sesuai yang mereka inginkan. Bahkan manusia menciptakan atom-atom baru, yang sebelumnya tidak wujud di alam ini.

Adakah yang mengatur keteraturan itu? Selama basisnya sains, maka keteraturan alam adalah produk dari kondisi-kondisi yang diciptakan oleh alam itu sendiri. Bukan oleh sesuatu yang lain. Lalu, dari mana datangnya kesimpulan bahwa keteraturan itu dikendalikan oleh Tuhan? Iman. Bila dasarnya iman, maka penjelasan ilmiah tadi tidak diperlukan. Pokoknya keteraturan itu dikendalikan oleh Tuhan. Titik.

Jadi, apakah Tuhan itu ada? Sak karepmu.

 

Stereotyping

Ada teman yang menulis status, isinya kurang lebih begini. “Elu teriak NKRI. Tapi rumah elu pagarin tinggi-tinggi. Tetangga nggak kenal. Ketua RT nggak tahu. Tetangga sakit juga nggak tahu. Kumpul-kumpul nggak pernah ikut. Kerja bakti nggak pernah ikut. Pas giliran ronda, elu upah orang lain untuk menggantikan.”
 
Para pembaca segera bisa menduga, siapa yang sedang dibicarakan, meski tidak disebut secara eksplisit. Ini terkait dengan situasi politik sekarang. Ya, kita buat mudah saja, itu gambaran tentang orang Tionghoa, yang dianut oleh sebagian orang, khususnya pribumi. Sebagian, artinya tak semua. Tapi jumlahnya cukup banyak.
 
Penulis status tadi, saya duga, sedang membangun upaya delegitimasi komitmen sejumlah orang terhadap NKRI, yang sekarang sedang diteriakkan di mana-mana. Kenapa perlu delegitimasi? Karena sekarang sedang musim klaim.
 
Itu disebut stereotype. Stereotype itu adalah anggapan yang tetap tentang sesuatu. Tentu saja ia tak menggambarkan keadaan sebenarnya. Peliknya, orang tak merasa perlu untuk memeriksa keadaan yang sebenarnya. Bahkan, orang tak peduli ketika berhadapan dengan fakta yang berlawanan dengan kesimpulan yang ia buat. Ia lebih nyaman dengan kesimpulan streotype tadi.
 
Ada memang di wilayah tertentu, orang Tionghoa yang berperilaku seperti itu. Tapi ingat, yang bukan Tionghoa juga banyak yang begitu. Tentu saja ini bukan tipikal orang-orang yang sekarang sedang berdemo meneriakkan komitmen pada NKRI. Tidak ada hubungan sama sekali.
 
Saya sekarang tinggal di perumahan yang hampir separuhnya adalah orang Tionghoa. Rumah-rumah kami tidak berpagar, karena memang tidak boleh dipagari, sesuai aturan estate. Kami saling kenal, saling menyapa kalau bertemu di jalan. Anak-anak kami juga main bersama.
 
Kalau ada acara kumpul-kumpul, kami berkumpul dengan akrab. Teman-teman yang orang Tionghoa malah aktif hadir. Semua orang aktif berpartisipasi.
 
Malah ada yang unik, di cluster tempat saya tinggal sebelumnya. Kalau pas hari raya Idul Adha, teman-teman non muslim, utamanya orang Tionghoa, ikut menyumbangkan hewan kurban untuk disembelih. Usai pemotongan dan pembagian daging, kami berkumpul, pesta dengan masakan daging. Muslim dan non muslim berpesta bersama.
 
Nah, karena itulah mereka menyumbang tadi. Mereka ingin ikut kemeriahan hari raya, tapi tak ingin mengurangi jatah daging kurban yang seharusnya dibagikan kepada fakir miskin.
 
Dulu pernah ketua RT-nya orang Tionghoa. Ketika mau puasa, warga membuat musala darurat untuk tarawih. Pak RT ikut serta, kerja bakti membangun musala.
 
Ada banyak keindahan dalam hubungan antar agama di masyarakat kita. Ada banyak keindahan perilaku antar suku kita. Tapi tidak sedikit orang yang lebih suka mengingat hal-hal yang tak indah. Itu mungkin saja fakta, tapi bukan fakta yang menyeluruh. Berdasarkan ingatan itu, ia membangun sikap dasar, soal bagaimana ia memandang dan bersikap terhadap suatu golongan.
 
Kita bisa duga, bagaimana cara ia memandang. Ia memandang dengan kebencian dan permusuhan. Cara pandang tadi, fondasinya adalah kebencian dan permusuhan.
 
Bagi saya, Tionghoa itu manusia, persis seperti orang-orang dari suku apapun. Ada orang Tionghoa yang baik, sangat baik malah. Ada pula yang brengsek. Persis sama seperti orang Jawa, Bali, Padang, Madura, dan sebagainya.
 
Kalau kita bernalar, kesimpulannya pasti seperti itu. Karena itulah yang benar. Streotype tadi bukan kesimpulan yang benar. Itu biasanya kesimpulan yang dibuat berdasar rasa cinta atau benci. Cinta dan benci punya efek sama pada nalar, yaitu mematikannya.

HTI dan PKS Sebenarnya Bermusuhan

Ini cerita lama, tahun 90-an. Artinya, sudah berlalu 25 tahun lebih. Ketika itu saya aktivis Jamaah Shalahuddin UGM. Ketika itu di UGM belum ada mesjid. Kami menyelenggarakan salat jumat di hall gelanggang mahasiswa. Juga salat tarawih selama bulan ramadan. Ketika itu tarawih di gelanggang sangat trendy, karenanya jamaah hadir berjubel, hingga melimpah ke boulevard di depan gelanggang. Lembaga Dakwah Kampus (LDK) seperti Jamaah Shalahuddin ada hampir di setiap kampus. Untuk berkomunikasi diadakanlah Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK).

Tahun 1989 FSLDK tingkat nasional dilaksanakan di IKIP Malang. Waktu itu saya ikut pertama kali. Di forum ini rupanya ada yang namanya Forum Mantan. Isinya adalah mantan aktivis yang sudah tidak lagi jadi pengurus. Semacam KAHMI kalau di HMI. Forum Mantan ini punya peran dan pengaruh lumayan besar ketika itu. Motornya adalah Ismail Yusanto, yang juga mantan aktivis Jamaah Shalahuddin. Ketika itu dia adalah dosen di sebuah universitas swasta di Bogor (kalau ndak salah Universitas Ibnu Khaldun). Waktu itu sebenarnya Ismail sudah jadi kader Hizbut Tahrir (HT). Hanya saja dia tidak terang-terangan mengaku. Pembinanya adalah Abdurrahman Al-Baghdadi. Tokoh lain yang aktif dalam forum mantan itu adalah Gatot, yang kini kita kenal dengan nama Al-Khattath.

Dengan previllege sebagai Mantan, dia berusaha memasukkan ideologi HT. Dia mengusulkan agar LDK se Indonesia punya pegangan dalam menetapkan arah dakwah mereka. Disusunlah apa yang dia sebut Khittah dan Mafahim Dakwah. Kedudukannya di Bogor membuat Ismail juga berperan dalam pembinaan di LDK IPB, yaitu di mesjid Al-Ghifari. Salah satu LDK penyokong kuat konsep yang disodorkan Ismail adalah dari IPB ini. Salah satu tokohnya waktu itu adalah Adian Husaini.

Ndilalahnya, isi kedua dokumen itu mak plek bleg, persis sama dengan doktrin-doktrin HT. Pihak-pihak yang mengerti langsung bereaksi. Di antaranya Dewan Dakwah Islamiyah (DDII) yang waktu itu dikomandani secara operasional oleh Anwar Haryono. Tokoh lain yang berperan di situ adalah Husein Umar, dan MS Kaban. Mengapa DDII? Saya juga ndak tahu persis kenapa. Tapi saya punya feeling bahwa banyak tokoh yang membina LDK, termasuk Jamaah Shalahuddin menganut ideologi Ikhwanul Muslimin (IM), dan DDII adalah salah satu simpul IM di Indonesia. DDII sepertinya merasa bahwa Ismail adalah binaan mereka, yang kemudian “menyebrang” ke HT. Konon, Ismail dan Adian Husaini sempat disidang oleh orang-orang DDII karena masalah ini.

Ada usaha untuk membendung pengaruh HT ini. Gerakan tarbiyah yang sebenarnya adalah Ikhwanul Muslimin, berkepentingan untuk membendungnya. Di Timur Tengah sana IM memang tidak akur dengan HT. Saya pernah menjadi bagian dari usaha untuk membendung itu.

Sebagai utusan Jamaah Shalahuddin saya ditugasi untuk melawan aktivis HTI dalam perdebatan di FSLDK.  Saya dibekali dengan pengetahuan tentang seluk beluknya, serta dalil-dalil yang bisa dipakai untuk membantah kesahan HT dari sudut pandang Islam. Salah satu yang pernah memberi briefing untuk saya waktu itu adalah Ustaz Yunahar Ilyas.

Sejak FSLDK di Malang, isi FSLDK selanjutnya adalah soal Khittah dan Mafahim ini. Peran Mantan makin lama makin kuat. Akhirnya naskah Khittah dan Mafahim itu gol juga untuk disosialisasikan. Saya waktu itu capek dengan perdebatan yang sebetulnya juga bukan kapasitas saya untuk mengikutinya. Salah satu perdebatan saya yang agak keras terjadi dalam asrama mahasiswa IKOPIN Jatinangor, waktu acara FSLDK diadakan di situ. Lawan debat saya adalah Ismail Yusanto.

Akhirnya saya putuskan untuk menarik diri. Pada FSLDK di Makassar tahun 1991 Jamaah Shalahuddin mengundurkan diri dari posisi Koordinator Forum untuk wilayah Jateng, DIY, dan Kalimantan (Wilayah Tengah). HT semakin kuat bercokol dalam FSLDK ini. Selanjutnya saya tidak lagi berinteraksi dengan forum ini. Kenapa? Saya lihat ini adalah pertarungan antara dua kelompok politik, yang saya tidak ingin berada di dalamnya. Saya juga tidak ingin Jamaah Shalahuddin dibawa-bawa ke dalam pertarungan ini. Kami hanya ingin melayani umat yang hendak beribadah di kampus. Titik.

Meski HTI memenangkan pertarungan formal, IM tidak tinggal diam. Mereka mengirimkan utusan dari UI untuk menunggangi pelaksanaan forum ini tahun 1998 “ditunggangi”.  UI itu selama saya ikut FSLDK tidak pernah ikut serta. Tiba-tiba di tahun itu mereka hadir, dan kemudian membajak para peserta, diajak ke tempat lain, untuk mendeklarasikan berdirinya KAMMI. Ketuanya Fachri Hamzah itu. IM kemudian mendirikan Partai Keadilan, yang kemudian berubah menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). KAMMI menjadi underbouwnya.

Sekarang Ismail Yusanto terang-terangan jadi Juru Bicara HTI. MS Kaban pernah jadi menteri. Lebih sering tampil sebagai aktivis politik ketimbang aktivis dakwah. Diduga terlibat dalam beberapa kasus korupsi termasuk aliran dana BI. Adian Husaini malah merapat ke DDII. Kalau nggak salah sempat jadi pengurus.

Aku? Nobody.