Brand Yourself

Branding is learning. Banyak orang yang gagal memahami itu. Orang mengira branding atau pencitraan itu cukup dilakukan dengan memoles CV dan berakting saat wawancara. Itu salah besar!

Adapun marketing, sesekali adalah ndingkluk banting harga, yang penting bisa masuk dulu ke pasar. Setelah mendapat kepercayaan pasar, barulah kita bisa pasang harga layak. Bagaimana mendapat kepercayaan pasar? Lagi-lagi belajar, belajar, dan belajar.

Ada seorang teman, sekarang bekerja sebagai wartawan di media ternama. Ia ingin pindah kerja. Saya katakan, pindah saja. Tapi saya bisa kerja apa selain jadi wartawan? Ooo, banyak. Wartawan itu kerja di media. Maka, ia bisa bekerja sebagai media analyst, media strategist, public relation officer, bahkan marketing. Kedengaran keren, kan? Ya, keren itu karena diberi label keren, sehingga “harga”nya mahal. Tapi sekali lagi, kalau cuma keren di atas CV, itu namanya keren bodong.

Saya mengenal seseorang yang tadinya wartawan, sekarang jadi pengamat media sosial yang sudah jadi seleb, karena sering tampil di berbagai seminar dan TV. Kok bisa begitu? Sekali lagi, kuncinya belajar, belajar, belajar.

Ketika saya pulang dari Jepang tahun 2007, saya terancam jadi pengangguran. Saya kirim CV ke berbagai perusahaan, tidak ada yang mau menerima saya. Bahkan dipanggil wawancara pun tidak. Kenapa? Karena keahlian saya tidak relevan. Waktu itu mungkin tidak ada perusahaan yang membutuhkan doktor fisika dengan pengalaman riset sekian tahun. Untuk apa? Yang laku adalah sarjana teknik.

Maka masa itu adalah masa ndingkluk, alias banting harga. Kerja apa aja, yang penting dibayar. Berapa aja, yang penting ada pemasukan. Maka saya lihat pasar, dan menyesuaikan diri dengan pasar. Apa yang laku? Bukan keahlian sebagai doktor fisika, namun kemampuan bahasa Jepang. Bahasa Jepang saya tingkat mahir, Level 1. Maka akhirnya dengan kemampuan ini saya diterima kerja sebagai manager di sebuah perusahaan kecil dan baru.

Beberapa hari menjalani karir baru saya diajak makan siang oleh orang Jepang, presdir perusahaan group tempat saya bekerja. “Otakmu itu seperti jaringan elektronik. Kamu sudah punya rangkaian elektronik di situ, kalau kamu ingin fungsi baru, kamu tinggal menggantinya dengan komponen lain, maka ia akan bekerja dengan fungsi yang berbeda. Artinya, kamu sudah terbiasa belajar, dan kamu akan bisa belajar tentang apa saja.”

Saya anggap kalimat-kalimat itu nasihat, bukan pujian. Maka saya belajar-belajar-belajar. Hari-hari pertama di kantor saya bengong, tidak tahu harus berbuat apa. Saya lihat ada buku UU Ketenagakerjaan. Saya baca sampai tuntas. Itu pengetahuan pertama tentang dunia industri yang saya dapat. Berikutnya saya belajar tentang berbagai proses perizinan. Lalu dasar-dasar akuntansi, pajak, bea-cukai, ekspor-impor. Semua itu saya pahami dalam multi lingual, Indonesia-Inggris-Jepang, sehingga saya bisa menjelaskan semuanya ke pihak pimpinan di Jepang.

Setahun bekerja saya bukan lagi pendatang baru. Seluruh urusan di perusahaan manufaktur skala kecil-menengah bisa saya tangani. Maka saya pun diangkat jadi direktur. Selanjutnya saya bisa melabeli diri dengan berbagai label, sesuai kebutuhan pasar saja. Saya juga pasang label, bahwa saya siap mengembangkan perusahaan, membuka bisnis baru, karena saya punya latar belakang riset. Di sini barulah keahlian saya sebagai doktor bisa dijual. Namanya bisa dibikin keren: business development.

Jadi kuncinya cuma 2: yaitu, 1. Siap banting harga untuk bisa masuk ke pasar, dan 2. Belajar, belajar, belajar.

Then, you can brand yourself into whatever brand you like.

🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *