Berpikir Merdeka

Bulan puasa, saya diundang buka puasa di rumah seorang teman. Usai buka puasa, beberapa orang berbincang, sepertinya agak serius. Saya ikut duduk mendengarkan. Rupanya sedang membicarakan kebijakan Ahok di bidang pendidikan.
 
Konon, Ahok sedang mencanangkan agar tidak ada sekolah favorit di Jakarta. Kenapa? Entahlah. Mungkin dia ingin agar semua sekolah memiliki kualitas yang setara. Jadi orang tidak berebutan masuk ke suatu sekolah, dan menghindar dari sekolah yang lain. Salah satu caranya adalah dengan merotasi guru-guru, pindah dari sekolah favorit ke sekolah non-favorit. Diharapkan guru-guru hebat yang berhasil membuat sekolah jadi favorit bisa menjadi inspirasi di sekolah yang baru, sehingga kualitasnya bisa meningkat. Selain itu juga ada kebijakan anggaran yang memprioritaskan sekolah non favorit.
 
Karena saya tidak paham soal detil-detil kebijakan ini, saya hanya mendengarkan diskusi. Teman saya, seorang tokoh pendidikan menyatakan tidak senang dengan kebijakan Ahok itu. Menurut dia, kebijakan itu tidak efektif. Yang dilakukan Ahok adalah membuat pemerataan dengan menurunkan kualitas sekolah favorit.
 
Teman saya tadi juga berargumen bahwa guru itu baru bisa berbuat banyak kalau ia berkelompok. Kalau ia sendiri, sulit diharapkan untuk bisa berkreasi. Makanya ia lebih suka kalau sekolah-sekolah favorit itu tetap ada, menjadi contoh bagi sekolah-sekolah lain.
 
Sampai di titik ini diskusi biasa saja. Kalau kita tidak setuju dengan suatu kebijakan, maka kita boleh mengritiknya. Tentu saja dengan argumen yang baik. Namun kita juga harus sadar bahwa pembuat kebijakan juga punya pertimbangan dan argumennya sendiri.
 
Yang tidak patut adalah ketika diskusi menjadi tak rasional. “Ahok sebenarnya sedang menghancurkan basis pendidikan umat Islam. Kita tahu bahwa yang bersekolah di sekolah-sekolah negeri itu adalah umat Islam. Kalau non muslim kan sudah punya banyak sekolah unggulan. Tidak masuk negeri pun mereka bisa membayar untuk masuk ke sekolah-sekolah swasta yang berkualitas.”
 
Waduh. Sik sik sik. Setahu saya, sepengalaman saya, yang sekolah di sekolah negeri itu ya rupa-rupa. Islam, Kristen, Hindu, Budha, Kong Hu Cu. Latar belakang sukunya juga beragam. Sejak kapan sekolah negeri hanya diisi oleh pelajar muslim? Tidak semua orang non-muslim itu kaya, sehingga mampu menyekolahkan anaknya di sekolah swasta yang mahal. Sebaliknya, ada banyak orang Islam yang kaya dan sanggup menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah mewah. Jadi, ini sudah bukan lagi kritik berbasis argumen.
 
Saya sering tampil sebagai pendukung Ahok. Tapi bukan berarti saya mendukung setiap kebijakan dia. Saya biasa mengritiknya. Tapi sekali lagi, kritik harus berbasis pada argumen, bukan prasangka. Basisnya fakta dan data, bukan kecurigaan, apalagi permusuhan.
 
Saya tidak menyanggah kritik teman saya tadi. Saya diam saja. Bukan karena saya sungkan menyanggahnya. Tapi ada pengalaman yang saat itu saya rasakan, dan sangat berkesan. Yaitu, saya tidak lagi berpikir berbasis ikatan-ikatan emosional.
 
Kalau dulu saya akan otomatis mengiyakan kritik teman saya tadi, meski ada kesadaran kecil bahwa basis fakta dia keliru. Saya akan berpihak kepada umat Islam, meskipun salah. Kepentingan umat Islam harus dibela. Tapi kini tidak lagi. Saya tidak bisa membiarkan pikiran yang demikian itu. Tidak bisa lagi.
 
Ada sedikit rasa sepi saat itu, ketika saya merasa bahwa saya sedang menjauh dari teman-teman yang sedang berdiskusi itu. Tapi ada rasa lega, bahwa saya berpikir merdeka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *