Berislam tanpa Beriman

7 June 2016 0 Comments

takpuasa

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kalau kita bicarakan soal menghormati orang yang berpuasa kita seolah-olah pasti sedang berbicara kepada orang-orang non muslim. Faktanya, yang tidak berpuasa itu lebih banyak dari kalangan muslim.
 
Berapa persen dari muslim Indonesia yang berpuasa? Adakah 60% atau 70%? Dengan asumsi 70% yang puasa, artinya ada 30% tdak puasa. Kalau jumlah penduduk muslim adalah 80% dari total penduduk Indonesia, maka ada sekitar 24% dari jumlah penduduk Indonesia yang tidak puasa. Ini sudah di atas jumlah penduduk non muslim. Itu kalau kita ambil angka sangat optimis, 70% tadi. Dugaan saya, angkanya masih jauh di bawah itu.
 
Belanja ke pasar saya cuma bisa nyengir menemukan si Uda penjual bumbu sedang ngebul merokok. Penjual kelapa parut di sebelahnya juga tidak puasa. Di pasar itu di sana sini dengan mudah kita temukan orang yang tidak puasa. Tukang kebon, tukang ojek, sopir-sopir, pekerja bangunan, sangat biasa tidak puasa. Demikian pula di kantor-kantor, ada banyak orang tidak puasa. Mereka semua muslim.
 
Ada orang-orang yang punya tradisi hanya puasa di hari pertama, atau dua tiga hari pertama, ditambah nanti menjelang lebaran. Kantin di kantor-kantor banyak yang tutup hanya pada beberapa hari itu, setelah itu buka seperti biasa, untuk melayani orang-orang tadi, ditambah orang-orang non muslim.
 
Mengapa tidak puasa? Kata almarhum Zainudin MZ, yang terpanggil untuk puasa itu adalah orang-orang yang beriman. Yang tidak beriman beda frekuensi, tidak akan bergetar oleh panggilan itu. Maka yang tidak beriman tidak akan terpanggil untuk puasa. Kalau dibalik, orang-orang yang tidak puasa itu boleh jadi memang tidak beriman.
 
Lho, kok bisa? Bukankah mereka itu muslim atau orang Islam? Kenapa bisa tidak beriman? Hampir 100% orang Islam sekarang adalah muslim keturunan. Mereka menjadi muslim karena status muslim itu dilekatkan pada mereka beberapa menit sejak mereka lahir, kemudian mereka hidup dengan status itu sampai mati. Sebagian menganggap status itu antara ada dan tiada. Dipakai tidak, dibuang juga tidak. Kelak kalau mereka punya anak, mereka akan mengulang apa yang dilakukan oleh orang tua mereka dulu, menyematkan status itu kepada anak-anak mereka.
 
Kenapa tidak dibuang saja status itu? Lho, kenapa dibuang? Membuang status turunan itu boleh jadi bermakna cari gara-gara. Orang muslim yang terang-terangan menyatakan tidak lagi muslim mungkin akan lebih repot daripada non muslim keturunan. Ia setidaknya harus menjelaskan kenapa ia keluar. Nah, kalau ia jelaskan, penjelasannya itu bisa jadi akan dianggap penistaan agama. Repot, kan?
 
Ada pula orang-orang yang berasal dari keluarga muslim taat, yang kemudian memilih untuk “menjauh” dari agamanya, karena berbagai alasan. Sebagian karena merasa sejak awal memang tidak ada koneksi dengan Tuhan yang disembah keluarganya. Ia terlihat beribadah semata karena menuruti kebiasaan keluarga, yang sebenarnya adalah sebuah tekanan sosial. Ketika ia punya ruang bebas, maka ia membebaskan diri dari tekanan itu. Sebagian lagi memang memilih untuk “keluar” dari Islam secara diam-diam, tanpa keributan, karena menemukan alasan logis untuk “keluar”.
 
Di luar itu ada orang-orang yang statusnya mengambang. Secara batin mereka merasa sebagai orang Islam, merasa beriman. Tapi hanya sampai di situ. Bagaimana konnsekuensi iman tersebut sudah di luar wilayah kepedulian mereka. Mereka percaya pada Allah, tapi tidak terlalu tahu apa saja yang dikehendaki Allah terhadap mereka. Kalaupun tahu, mereka tak merasa terlalu terikat.
 
Begitulah. Bagi saya, fakta yang saya lihat, agama itu bagian terbesarnya adalah sebuah organisasi sosial, di mana orang punya identitas, kemudian digiring untuk bergerak berdasar identitas tadi. Ibarat kambing-kambing gembala, yang bergerak mengikuti kerumunan tanpa kemerdekaan untuk memilih gerak sendiri.
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *