Bahasa Kasih

8 March 2016 0 Comments

image

Anak-anak punya ekspresi yang khas untuk meminta perhatian kita. Ekspresi ini biasanya diulang-ulang. Kadang kita kesal menghadapinya, karena yang mereka ungkapkan adalah hal-hal sepele. Itu adalah bahasa kasih, bahasa cinta anak-anak.

Ghifari kadang mengeluh pegal, entah di kaki atau di tangan. Kemarin waktu saya jemput di tempat latihan tae kwon do dia mengeluh,”Pahaku sakit.”

“Mungkin tadi kurang pemanasan,” jawab saya.

“Bukan. Tadi sudah sakit, sebelum pergi latihan.”

Sampai di rumah saya pijat sebentar kakinya. Tak sampai 10 menit Ghifari sudah merasa kakinya tak sakit. Kemudian Kenji juga ikut mengeluh minta pijat.

Bahasa kasih Kenji adalah ikut. Kalau saya pegang kunci mobil atau bawa dompet dia langsung bereaksi,”Ayah mau ke mana?”

“Mau ke ……..”

“Aku ikut.”

Kenji suka sekali ikut, ke mana pun saya pergi. Belanja ke mini market, ke pasar, saya pergi jogging, atau renang. Pokoknya ikut. Termasuk juga kalau saya lagi sibuk masak.

“Ayah lagi masak apa?”

“Masak……..”

“Aku bantu apa?” Atau,”Aku boleh aduk nggak?”

Bahasa kasih Sarah adalah bertanya, tentang apa saja. Kebanyakan menyangkut hal-hal yang dia baca atau pikirkan.

“Ayah, bom nuklir itu tidak menghasilkan panas, kan?”

“Ada dong panasnya. Panas yang dihasilkan bisa ribuan derajat, bisa melelehkan besi.”

“Oh, bukan cuma gelombang kejut aja?”

“Bukan. Nah, pada PLTN reaksi nuklirnya dikontrol sehingga panas yang dihasilkan hanya dalam jumlah tertentu. Itu yang dipakai untuk menghasilkan uap yang menggerakkan turbin.”

Sesekali Sarah memamerkan pengetahuannya, misalnya tentang banteng yang tidak bisa melihat warna.

Bahasa kasih adalah salah sati alat komunikasi anak-anak kepada kita. Melalui respon yang kita berikan mereka merasakan perhatian dan kasih sayang kita. Bila respon kita negatif, maka itu adalah awal putusnya komunikasi kita dengan anak.

Anak-anak punya bahasa kasih yang berbeda, karenanya harus kita respon dengan cara yang berbeda pula. Sayangnya kita sering gagal mendeteksi bahasa kasih ini. Kita jadi kesal, menganggap anak kita aneh. Atau kita membandingkan anak kita dengan kakak atau adiknya, bahkan dengan anak dari keluarga lain. Itu bisa menjadi sebuah pemutusan ikatan batin antara kita dan anak.

Maka kenalilah bahasa kasih setiap anak, responlah secara positif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *