Bagimu Negeri, Jiwa Raga Kami

Bukan pertama kali saya mendengar orang mengatakan bahwa menyanyikan lagu Padamu Negeri itu syirik. Dulu saya dengar ceramah Endang Saefudin Anshari, anak dari Isa Anshari, mengatakan hal yang sama. Kata dia, tak patut jiwa kita disumbangkan untuk negeri. Jiwa hanya boleh disumbangkan untuk Allah.

Orang-orang ini adalah penganut ajaran jihad. Bagi mereka, membunuh atau terbunuh, dua-duanya mulia, selama dilakukan untuk Allah, bukan untuk yang lain. Membunuh atau terbunuh demi yang lain, adalah syirik. Begitu pandangan mereka.

Coba bayangkan satu keluarga sedang berwisata, naik perahu. Tiba-tiba terjadi bencana, perahu tenggelam. Sang Ayah berusaha menyelamatkan keluarganya. Ia menggapai anak-anaknya yang masih kecil, berusaha membawanya ke pantai. Anak-anaknya ketakutan, berpegang erat pada lengan Sang Ayah, sehingga dia sulit berenang dengan benar. Ia berenang timbul tenggelam, nafasnya tersengal, saluran nafasnya terisi air. Dengan sisa tenaga akhirnya ia bisa membawa anak-anaknya ke pantai. Tapi ia sendiri telah kehabisan nafas, tewas.

Apa yang membuat orang itu rela berbuat demikian? Cinta. Insting untuk bertahan hidup, mempertahankan keturunan. Tuhan? Boleh jadi dia ingat, boleh jadi pula tidak. Ajaran jihad? Kemungkinan besar tidak. Ia bergerak menyelamatkan anak-anaknya, karena dorongan insting tadi. Tidak ada relevansi tindakannya tadi dengan perintah jihad dalam pengertian yang umum dikenal orang.

Dalam skala yang lebih luas, orang rela mati untuk sesuatu yang ia cintai. Para lelaki sejak masa prasejarah sudah membangun nilai, bahwa mereka bertanggung jawab terhadap keselamatan keluarga dan kelompok mereka, dari serangan hewan, atau kelompok manusia lain. Banyak orang tewas dalam usaha menjaga keselamatan keluarga dan kelompok itu. Mereka menetapkan nilai, bahwa mati dengan cara seperti itu adalah mati yang mulia.

Jihad dan mati syahid bukanlah ekslusif milik Islam. Semua peradaban memilikinya. Semua peradaban memiliki ajaran untuk membela diri/kelompok, atau memenangkan diri/kelompok, dengan taruhan nyawa sekalipun. Kaum Quraisy yang berperang melawan kaum muslim Madinah, juga punya semangat yang sama. Bagi mereka, mati adalah sebuah kemuliaan.

Bedanya hanyalah, semangat rela mati itu tidak dituliskan dalam sebuah kitab yang mereka klaim berasal dari Tuhan. Atau, mereka punya klaim itu, tapi tidak menyebar turun temurun, sampai ke negeri lain.

Jihad menjadi ajaran absurd bila kita lihat pada masa selanjutnya. Ali, sepupu nabi, berperang melawan Aisyah, janda nabi. Mereka saling berbunuhan. Ini jihad untuk Allah? Bagaimana mungkin kita bisa mengatakan bahwa orang-orang itu mati demi membela agama Allah, padahal mereka saling bunuh antar sesama.

Kemudian Ali kembali berperang, kali ini melawan Muawiyah. Sama, dua kelompok yang sedang menjalankan ajaran yang sama, saling bunuh. Mereka mengaku berjihad, menegakkan ajaran Allah, melakukan perintah Allah. Bagaimana mungkin dua kelompok yang sama-sama merasa menjalankan perintah Allah, saling bunuh?

Di masa berikutnya, dalam pemerintahan Bani Umayyah, perang-perang terus dikobarkan. Berbagai wilayah ditaklukkan. Pasukan Umayyah bergerak jauh sampai ke Spanyol, menaklukkannya, menjadikannya sebagai wilayah kekuasaan. Itupun dilakukan atas nama jihad, melaksanakan perintah Allah. Perjuangan Tariq bin Ziyad dikenang sebagai perbuatan mulia, termasuk oleh orang-orang seperti Taufiq Ismail dan Endang Saefudin Anshari.

Apa beda antara Tariq bin Ziyad atau Muhammad Al-Fatih, dengan Napoleon Bonaparte? Nyaris tak ada. Mereka adalah para penakluk belaka. Bedanya hanyalah, sebagian besar orang yang membaca tulisan ini adalah orang-orang yang beriman pada ajaran yang sama dengan Tariq bin Ziyad dan Muhammad Al-Fatih. Mereka merasa memiliki koneksi pembenaran atas tindakan itu. Sedangkan substansi tindakannya sama saja.

Semangat yang sama, yaitu semangat untuk bertahan hidup, menggerakkan bapak-bapak kita untuk berjuang melawan penjajah. Ada yang memakai ajaran jihad, demi Allah. Ada yang memakai ajaran Kristus. Ada yang semata cinta pada tanah airnya. Mereka semua sama, semua mulia. Mereka menghadiahkan kemerdekaan pada kita sekarang. Tapi bagi orang-orang seperti Taufiq Ismail, hanya yang berniat berjihad atas nama Allah saja yang mulia. Yang lain syirik, dan akan jadi penghuni neraka. Absurd, bukan?

Saya akan menyumbangkan jiwa raga saya untuk negeri ini. Saya kemungkinan besar tidak akan mati di medan perang. Bagi saya perang itu bukan lagi solusi. Secara tegas saya katakan, saya membenci perang. Tapi saya akan bekerja untuk negeri ini, sampai saya mati. Itulah makna bagimu negeri, jiwa raga kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *