Bagaimana Muslim Harus Bersikap?

Tadi saya lihat lagi ceramah Rizieq soal ayat di surat Al-Maidah. Dalam konteks kajian kitab, argumennya meyakinkan. Wali atau awliya’ artinya sangat banyak. Mulai dari teman dekat, pelindung, pengurus, pengelola, pengatur, dan masih banyak lagi. Makanya kita pakai istilah wali kota, wali murid, wali nikah, dan sebagainya. Semua berasal dari kata yang sama. Saya sepakat dengan penjelasan Rizieq soal ini.
 
Maka, mari terapkan itu dalam kehidupan Anda. Jangan berteman dengan Yahudi dan Nasrani. Kita sederhanakan sajalah. Kita bahas Nasrani atau Kristen saja, karena Yahudi tidak terlalu relevan.
 
Kalau orang Kristen itu tidak boleh jadi wali, dengan makna yang luas seperti yang dibahas Rizieq itu orang Kristen tidak boleh jadi presiden, gubernur, walikota, dan seterusnya. Juga tidak boleh jadi kepala polisi, kepala kantor, segala jenis kepala dan pimpinan.
 
Cukup? Belum. Tentu juga tidak boleh jadi pemimpin kita di kantor, di perusahaan. Eeee, jangan ngawur! Kalau kerja di perusahaan tidak ada ulama yang melarang. Eh, itu kata Rizieq. Coba cek lagi deh. Jadiin temen dekat aja nggak boleh, kata Rizieq. Lha, kalau temen dekat aja nggak boleh, masak boleh dijadikan bos?
 
Ingat, setahu saya Rizieq juga memang pernah menganjurkan orang-orang untuk berhenti bekerja dari perusahaan milik orang kafir. Bagian ini saya tidak mendengarnya langsung.
 
Tidak hanya itu. Menurut ayat yang ditafsirkan Rizieq, jangan kasih jalan sedikit pun kepada orang Yahudi dan Nasrani. Karena mereka itu saling menolong antar mereka, untuk menghancurkan umat Islam.
 
OK, anggaplah Rizieq itu benar. Itulah suruhan Quran. Itulah kehendak Allah. Bisa bayangkan kehidupan Anda akan seperti apa? Well, itulah yang coba dipraktekkan oleh sebagian muslim di Indonesia. Mereka tidak mau berteman dengan non muslim. Tidak mau berbisnis dengan mereka. Tidak mau belanja di toko mereka.
 
Tapi ketika saya bikin tulisan satire tentang pilot yang harus muslim juga, mereka memaki saya bodoh. Kata mereka, kalau pilot mah nggak apa-apa. Lho, menurut tafsir Rizieq tadi, yang ngurusi urusan beginian juga namanya wali. Pilot itu punya tugas sangat penting, menjaga keselamatan penumpang. Kalau dia Nasrani yang benci muslim, dia jatuhin aja pesawatnya, kan banyak muslim yang mati. Masak kita mau serahkan urusan ini ke orang kafir?
 
Nah, bingung, kan?
 
Singkat kata, kalau pemahaman seperti Rizieq itu mau dipakai, maka hidup menjadi mustahil. Tapi kenapa Rizieq masih hidup? Karena Rizieq juga tidak konsisten melaksanakan ajaran yang dia sebarkan. Dia naik pesawat nggak tanya pilotnya muslim atau kafir, kok.
 
Saya bukan ahli agama. Tapi saya tahu apa saja yang dibahas di Quran. Kesimpulan saya, kalau semua yang tertulis di Quran mau diterapkan, kita mustahil hidup dalam zaman modern ini.
 
Penjelasan detilnya sudah sering saya bahas. Setiap kali saya ungkap, orang marah. Baca Quran secara komprehensif, dong, kata mereka. Justru itu, kalau mau terapkan, coba terapkan secara komprehensif. Ketika saya bahas perbudakan, mereka marah. Katanya perbudakan sudah tidak ada. Memang. Tapi tidak ada satu pun ayat maupun hadist yang secara tegas mengharamkan perbudakan. Perbudakan diharamkan oleh produk pemikiran modern, yang sama sekali tidak merujuk pada Quran. Kalau mau total merujuk pada Quran, perbudakan itu masih boleh. Nah, yang nggak komprehensif itu siapa?
 
Jadi, bagaimana? Makanya saya memilih jalan sekuler. Yang masih cocok, silakan jalankan. Yang tidak, tinggalkan. Kata mereka kalau tidak kaffah, itu kafir. Emang siapa yang kaffah? Rizieq aja bisa kita buktikan tidak konsisten pada ajarannya sendiri, kok. Percayalah, tidak ada muslim kaffah di abad 21 ini. Yang ada cuma muslim sok kaffah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *