Awliya, dan Ironi Kepemimpinan Islam

12 March 2016 17 Comments

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

Ayat di atas sedang populer sekarang. Ayat itu selalu populer menjelang pemilu. Dalam hal pilkada DKI yang salah satu calon kuatnya adalah Nasrani, ayat ini menjadi semakin kuat bergema. Tapi apakah ayat ini soal pemilu? Apakah ini ayat soal pemilihan gubernur? Menurut saya bukan. Sejarah Islam tidak pernah mengenal adanya pemilihan umum. Juga tak pernah ada pemilihan gubernur atau kepala daerah. Satu-satunya pemilihan yang pernah terjadi adalah pemilihan khalifah. Itu pun hanya 5 kali, dan hanya melibatkan sekelompok orang yang tinggal di Madinah. Gubernur khususnya adalah pejabat yang ditunjuk oleh khalifah. Tidak pernah dipilih.

Jadi ayat ini tentang apa? Wali atau awliya itu soal pemimpin wilayah atau daerahkah? Bukan. Bagaimana mungkin ada ayat yang mengatur tentang pemilihan pemimpin, padahal pemilihan itu tidak pernah terjadi?

Jadi, apa yang dimaksud? Apa makna wali atau awliya? Wali artinya pelindung, atau sekutu. Ketika Nabi ditekan di Mekah, beliau menyuruh kaum muslimin hijrah ke Habasyah (Ethopia). Rajanya seorang Nasrani, menerima orang-orang yang hijrah itu, melindungi mereka dari kejaran Quraisy Mekah. Inilah yang disebut wali, orang yang melindungi. Kejadian ini direkam dalam surat Al-Maidah juga, ayat 81.

Adapun ayat 51 yang melarang orang menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pelindung itu adalah soal persekutuan dalam perang. Tidak ada sama sekali kaitannya dengan pemilihan pemimpin. Ini sudah pernah saya bahas, dan dibahas banyak orang.

Pagi ini, bangun tidur saya menyaksikan berita pilu. Orang-orang Arab dari Syiria dan Irak masih terus mengungsi. Ke mana? Ke Eropa. Siapa orang-orang Eropa itu? Muslimkah mereka? Sebagian besar tidak. Kebanyakan dari mereka, orang-orang Eropa itu, adalah Nasrani, atau ateis (musyrik). Tapi kini mereka menjadi pelindung bagi orang-orang muslim, persis seperti ketika kaum muslim hijrah ke Habasyah. Jadi, cobalah orang-orang yang rajin melafalkan ayat Al-Maidah 51 itu berkhotbah kepada para pengungsi itu. Katakan kepada mereka bahwa meminta perlindungan kepada Nasrani, menjadikan mereka wali atau awliya itu haram hukumnya. Bisakah?

Ironisnya, dari siapa mereka lari? Dari kaum kafir? Bukan. Mereka lari karena ditindas oleh pemimpin-pemimpin mereka sendiri, kaum muslim. Kaum muslim yang berebut kekuasaan. Utamanya Sunni melawan Syiah. Tahukah Anda bahwa bibit konflik Sunni-Syiah itu sudah terbentuk sejak Rasul wafat? Ketika orang-orang mulai kasak kusuk untuk mencari siapa yang akan jadi khalifah, padahal jenazah Rasul belum lagi diurus. Permusuhan itu abadi, mengalirkan darah jutaan kaum muslimin sepanjang sejarah ribuan tahun, kekal hingga kini.

Tidakkah kita sebagai kaum muslim malu ketika saudara-saudara kita dizalimi oleh saudara kita yang lain, mereka meminta perlindungan kepada kaum Nasrani dan kafir? Tapi pada saat yang sama mulut kita fasih mengucap ayat-ayat yang memusuhi orang-orang Nasrani, memelihara permusuhan kepada mereka.

Ingatlah, musuh abadi kita sebenarnya bukan Yahudi dan Nasrani, melainkan rasa permusuhan itu sendiri. Rasa permusuhan itulah yang telah mengalirkan banyak darah kaum muslimin, mengalir menjadi kubangan darah sesama saudara. Sesama saudara pun bisa saling berbunuhan kalau ada permusuhan di antara mereka. Kenapa mereka berbunuhan? Politik. Perebutan kekuasaan.

Itulah yang sedang dilakukan banyak orang dengan Al-Maidah ayat 51. Berebut kekuasaan politik dengan mengobarkan permusuhan. Mereka sedang mengabadikan kebodohan yang sudah berlangsung 15 abad. Anda mau menjadi bagian dari kebodohan itu? Saya tidak. Karena saya tidak mau menjadi pengungsi seperti orang-orang Irak dan Syiria itu.

 

 

17 thoughts on “Awliya, dan Ironi Kepemimpinan Islam”

  1. Kalau boleh tanya, berapa persen yang mengungsi ke Eropa, dan berapa persen yang mengungsi ke Turki (eropa muslim) dan Arab?

  2. Sepakat dengan isi tulisan di atas. Musuh terbesar kita adalah rasa permusuhan itu sendiri yang ada di dalam diri manusia itu sendiri. Sehingga manusia itu harus “dibenarkan” dari core/intinya, karena hukum apa pun yg dituliskan/disiapkan buat mereka pasti akan selalu dilanggar hingga saat ini.

  3. Tulisan bagus. Ringkas namun jelas dan ada penjelasan asal ayat serta analisanya. Terimakasih

  4. Pmilihan kpala daerah (gubernur, bupati, dll.) lwat pemilihan umum (lgsg oleh rakyat) mmang tdk ada dlm sjarah Islam. Apa brarti dlm mmilih kpla negara jg tdk perlu mnerapkn ayat itu, Pak Guru? Krna dlm sjarah masa awal Islam tdk ada negara bangsa (nation state) spt Indonesia, Malay, Saudi, Iran, dll. yg ada hanya khalifah (yg dipilih oleh ahlul hali wal aqdi, sblum datang masa dinasti). Apa dasarnya klo presiden Indonesia sbaiknya muslim, tp gubernur tdk? Bukankah demokrasi mnyiratkn bhw yg ke-mayoritas-an layak trwakili dlm kpemimpinan? Presiden Singapur slalu Tionghoa, Presiden AS slalu Kristen (isu sbg muslim jd kampanye negatif bagi Obama). Tidakkah jgn2 ayat Al Maidah itu mmberi dorongan bagaimana yg sebaiknya (das solen), meski yg trjadi (das sein) tdk slalu begitu? Tdk.kah pd hakikatnya agama2 itu mmang bersaing (dlm damai) dan utk itulah diwajibkannya dakwah dlm Islam, Pak Guru?

    1. Tergantung dari pilihan yg ada. Mayoritas di AS kulit putih, Tp yang terpilih kulit Hitam. Memilih pimpinan adalah memilih orang yg bisa mengerjakan tugas nya yaitu meningkatkan qualitas kehidupan seluruh masyarakat nya.
      Contoh gamblang anda mau pilih sebangsa Atut dan sebangsanya yg dipermukaan sopan n santun tp pada masuk KPK , atau berani pilih tipe lain tp sudah ada track record berani babat koruptor 2 lain

  5. Kalo saya sih sederhana aja, orangnya bener bisa kerja ngga ? Bagaimana reputasinya ?
    Ngomong-ngomong di Amerika ada tuh walikota muslim…padahal bukan mayoritas disitu.
    Inget…bangsa lain udah ke mars…kita masih sibuk ngurus ayat

  6. ckckck agan-agan diatas ini kalau merasa muslim, sudah seharusnya mengedepankan wahyu dibanding pemikiran pribadi, jauh di samping pikiran-pikiran liar kita, pasti ada kebaikan,
    contoh : dilarang makan daging babi bagi islam di dalam alquran, dan boom!! kata para ahli medis di dalam daging babi itu terdapat cacing pita yang amat berbahaya.

  7. Wahyu pun pake tafsir kok, dan sehebat2nya tafsir masih harus tunduk pada realita…great job Kang Hasan

  8. dari situ aja udah di ajarkan untuk melenceng dari nasionalisme raja/presiden/negara ..yaitu harus mengikuti kata nabi/agama daripada raja/negara,., jadi wajarlah umat islam sekarang memilih mengikuti nabi/agama daripada negara

    1. Bhya thd muslim sndri klo menyimak postingan ini…siapa abdurrahaman.,,,??shg bgt cpt qt pcy dg tlsn2 yg pnuh dg kjanggalan2 ….seakan mngambil ayat tpi..,,justru mengaburkn makna…hati2 lah sdrqu muslim.,….klo msh ada org muslim yg msh ragu dg firmanNya.,,,akan dg mdh mush islam meggiring qt utk trus mengikutinya….itulah akal licik yg trus dipegangnya shg qt mejauh dr ayat Allah, ,,hati2lah….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *