Awliya’

Sudah banyak dibahas sebenarnya, awliya itu jamak dari wali. Apa makna kata ini? Maknanya banyak. Wali yang utama adalah Allah. “Allahu waliyyul laziina aamanu………” “Nahnu awliaakum fil hayatid dunya……….” Ada banyak ayat yang menyebutkan bahwa Allah adalah wali bagi orang-orang yang beriman. Dalam hal ini maknanya adalah pelindung serta pembimbing, juga penolong. Tentu saja makna ini tidak akan kita bahas lebih lanjut, karena yang akan jadi topik pembicaraan adalah wali dan awliya dalam konteks hubungan sesama manusia.

Apa makna kata wali/awliya dalam konteks hubungan sesama manusia? Ayat-ayat yang memuat kata wali/awliya diterjemahkan secara beragam, namun memuat makna yang nyaris sebangun. Ada yang menerjemahkannya sebagai teman, sekutu, juga pemimpin. Mana yang benar? Namanya tafsir, selama tidak melenceng dari kata dasarnya, maknya benar semua. Mana yang paling benar? Wallahu a’lam.

Ayat yang sering menjadi rujukan dalam diskusi soal pemimpin non-muslim, yaitu Al-Maidah 51, terkait dengan kesepakatan yang dibuat oleh Abdullah bin Ubay (tokoh yang sering disebut sebagai orang munafik) dan Ubadah bin Ash-Shamit membuat semacam perjanjian aliansi, isinya untuk saling melindungi dengan suku Yahudi Bani Qaunuqa. Belakangan kelompok ini memerangi nabi. Ubadah mendatangi rasul untuk menyatakan sumpah setia dan berlepas diri dari perjanjian itu. Ayat ini semacam penegasan bahwa perjanjian semacam itu tidak boleh lagi dibuat.

Kalau kita kiaskan, kejadian di atas sebenarnya mirip dengan  persekutuan antara Arab Saudi dan Amerika. Atau bergabungnya Turki ke dalam NATO. Amerika itu utamanya adalah Nasrani, dan kekuatan intinya ada pada Yahudi. Terang-terangan pula, Amerika itu mendukung zionisme Israel. Persekutuan Amerika-Arab Saudi itu berupa persekutuan militer dan ekonomi, posisinya tidak imbang. Arab Saudi lebih merupakan sub-ordinat. Ini persekutuan yang menjurus pada penjajahan, sebenarnya. Dalam hal ini Amerika adalah wali bagi Arab Saudi. Tapi tentu jarang orang membahas ayat ini dalam konteks yang sebenarnya sangat relevan ini.

Menarik untuk disimak bahwa kejadian ini hanya melibatkan satu kaum saja, yaitu Yahudi Bani Qaunuqa. Namun peringatan yang diberikan meliputi kaum Yahudi, dan bahkan Nasrani. Padahal kaum Nasrani tidak terlibat dalam kejadian ini. Karena itulah ulama seperti Sayyid Qutb dalam tafsir Fii zilaalil quran menyatakan bahwa ayat ini merupakan pedoman dasar yang berlaku secara umum, tidak terikat pada konteks kejadian asbabun nuzul di atas.

Dalam tafsir Ibnu Katsir dikisahkan bahwa Khalifah Umar bin Khattab memerintahkan Abu Musa Al-Asy’ari untuk menyerahkan catatan keuangan. Abu Musa mempersiapkan catatan ini dengan bantuan seorang Nasrani. Ketika mengetahui hal ini Umar berkata,”Segera bawa dia keluar dari sini (Madinah).” Lalu Umar mengutip ayat di atas.

Berdasarkan pandangan-pandangan seperti ini maka banyak orang berpendapat, haram hukumnya bekerja sama, berteman, bersekutu, dan tentu saja mengangkat orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin. Ingat, bukan sekedar mengangkat sebagai pemimpin, tapi menjadikan mereka pembantu dalam suatu urusan, dan berteman dengan merekapun dilarang.

Tapi ada hal yang juga menarik untuk disimak. Ketika nabi dalam tekanan Quraisy saat baru mulai berdakwah di Mekah, ia memerintahkan beberapa sejumlah orang untuk hijrah ke Habasyah (Etopia) dan meminta perlindungan pada seorang raja di sana. Raja itu kebetulan beragama Nasrani. Ia melindungi para pengungsi itu. Bahkan ketika kaum Quraisy memintanya mengembalikan orang-orang yang meminta perlindungan itu, ia menolak. Artinya ia betul-betul memberikan perlindungan. Kejadian ini kemudian direkam dalam ayat lain di surat yang sama, ayat 82, menyatakan bahwa orang-orang Yahudi itu sangat keras permusuhannya, namun orang-orang Nasrani tidak demikian halnya.

Jadi bila kita bandingkan, ada ayat yang mengatakan bahwa orang Yahudi dan Nasrani itu musuh yang tidak boleh diambil sebagai kawan maupun pemimpin. Tentu saja tidak boleh dimintai perlindungan. Namun fakta sejarah juga bahwa ada kalanya orang Nasrani dimintai perlindungan, dan mereka memberikannya. Bila kita hanya mengacu pada teks saja, tanpa melihat konteks, maka kita akan menemukan ada kontradiksi antar kedua ayat. Padahal dalam doktrin dasar, mustahil Quran itu mengandung pertentangan di dalamnya.

Jadi bagaimana penjelasannya? Pendapat-pendapat yang kukuh berpegang pada prinsip bahwa Yahudi dan Nasrani itu tidak boleh dijadikan teman menyakatan bahwa kejadian ini, ayat ini, adalah pengecualian. Nah, kalau sudah muncul istilah pengecualian sebenarnya sudah diakui ada konteks pada suatu ayat. Demikian pula ayat lain, juga terikat konteks. Dalam hal ayat 51 tadi ada yang membatasi makna kata awliya dalam ayat tadi terbatas dalam konteks saat itu, ketika umat Islam dalam keadaan berperang, dan kaum Yahudi tidak berada di pihak mereka.

Kalau ayat Quran saja terlingkupi oleh konteks tertentu, maka sudah tentu tafsir pun memiliki konteksnya pula. Tafsir itu mengandung subjektifitas penafsir. Kapan seseorang hidup, hal-hal apa yang dia saksikan, akan sangat berpengaruh pada tafsir yang ia hasilkan. Para ulama sepakat bahwa orang boleh berbeda dalam penafsiran.

Apakah ada tafsir yang berbeda? Ada. Prinsipnya, kalau mereka (Yahudi maupun Nasrani) tidak secara nyata menunjukkan permusuhan, maka tidak dilarang untuk bekerja sama dengan mereka. Tentu saja definisi “menunjukkan permusuhan” itu sendiri pun bisa sangat multi tafsir. Atas dasar pandangan seperti ini sebagian kalangan NU tidak menganggap haram mengangkat orang dari kalangan non-muslim sebagai pemimpin. Terlebih bila pemimpin yang dimaksud hanya sebatas kepala daerah, yang tidak secara langsung punya jalur komando kepada angkatan bersenjata, dan dikawal dengan berbagai mekanisme pengawasan. Dalam hal yang disebutkan terakhir ini, konteks bahasannya sudah sangat jauh dari situasi yang menjadi latar belakang turunnya ayat 51 di atas.

Saya orang awam. Pembaca tulisan ini kebanyakan juga adalah orang awam. Kita ini tahu agama cuma dari baca-baca sedikit, dan dengar-dengar sedikit. Yang bisa kita lakukan hanyalah ikut pada salah satu pendapat. Sebagi pengikut sebaiknya kita pilih saja pendapat yang kita setujui, dan bersitiqamah dengan pilihan itu. Orang lain punya pilihan lain. Perbedaan pendapat itu ada di wilayah ijtihad. Dalam wilayah ijtihad, tidak boleh satu pendapat menggugurkan pendapat pihak lain.

Maka menurut saya tak patut bila ada orang awam yang kukuh pada pendapat yang ia ikuti, dan menuding atau meragukan iman orang-orang yang berbeda dengan dia. Dia tidak berhak melakukan itu. Jadi, kalau berbeda pendapat, berhentilah mengajukan pertanyaan: Anda muslim?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *