Author Archives: Hasanudin Abdurakhman

Islam di Eropa dan Amerika

Bagaimana keadaan Islam di Eropa dan Amerika? Jawabannya tergantung cuaca. Kalau lagi mau menyalahkan orang Kristen, jawabannya: Islam di sana ditekan dan ditindas. Bangun mesjid nggak boleh. Pakai jilbab nggak boleh. Dimusuhi, dipersekusi, dipinggirkan, dizalimi.

Tapi kalau lagi mau bicara soal optimisme masa depan Islam, jawabannya: Islam berkembang pesat di sana. Mesjid-mesjid dibangun, orang-orang setempat banyak yang tertarik pada Islam dan menjadi muallaf.

Kalau dikonfrontir, katanya ditekan, tapi kok banyak mesjid? Jawabannya, itulah hebatnya Islam. Meski ditekan, tetap tumbuh.

Jawaban yang lebih objektif, kondisinya memang bervariasi. Masyarakat Eropa-Amerika memang berbeda-beda sikapnya terhadap Islam. Ada yang bersahabat, ada yang memusuhi. Ada yang sampai sangat anti.

Apakah boleh membangun mesjid? Boleh. Tentu saja dengan berbagai ketentuan perizinan. Di sana soal ini dijaga ketat. Semua bangunan diperlakukan sama. Tidak ada tawar menawar cincai.

Apakah orang Islam diterima? Iyalah. Kalau tidak, tentu tidak akan terjadi arus imigrasi besar-besaran dari Afrika maupun Timur Tengah. Tidak hanya diterima sebagai warga biasa, tapi juga diterima sebagai warga negara secara utuh dengan segenap hak dan kewajibannya. Maka, kita saksikan Walikota London itu muslim. Bayangkan, walikota sebuah ibukota negara. Duta besar Inggris untuk Indonesia juga muslim. Walikota Rotterdam juga muslim. Masih banyak lagi contoh, di mana muslim diberi kesempatan luas.

Tidak hanya dalam politik, tapi juga sains. Tiga muslim penerima Hadiah Nobel di bidang sains, yaitu Abdus Salam, Ahmaed Zewail, dan Abdul Aziz Sancar, semuanya berkiprah di Eropa dan Amerika. Salam di Italia, Zewail dan Sancar di Amerika. Mereka diterima, dan mendapat dukungan dana riset secara penuh, sama seperti ilmuwan lain.

Tapi kenapa ada tindakan permusuhan? Karena memang masih ada yang memusuhi. Tapi kalau mau dilihat secara total, kelompok itu bolehlah dianggap minor saja. Lho, bukankah adminstrasi Trump ini sangat anti Islam? Salah. Lebih tepat disebut anti imigran. Mau Islam, Kristen, Hindu, Buddha, sama saja. Kawan saya orang Kristen di Amerika pun mengeluh soal tidak ramahnya pemerintah sekarang.

Selain soal itu, banyak orang Islam, termasuk yang sudah jadi imigran, yang tidak paham sekularisme yang menjadi tulang punggung kehidupan sosial di sana. Sekuler itu memisahkan agama dengan negara. Banyak orang Islam yang ingin dilayani negara dalam soal agama. Itu tidak akan mereka dapatkan.

Ada kejadian-kejadian permusuhan. Orang-orang yang membenci memamg akan terus membenci. Tapi kejadian-kejadian yang indah juga banyak. Temansaya di Belanda bercerita soal gereja yang dipinjamkan untuk dipakai salat tarawih. Di Amerika juga ada kejadian serupa, gereja dipakai untuk salat Jumat.

Nah, tinggal pikiran kita, mau fokus ke mana. Kalau fokusnya kebencian dan permusuhan, maka kita punya banyak bahan untuk mengatakan bahwa Eropa dan Amerika itu anti Islam. Tambahi lagi dengan catatan bahwa mereka itu Kristen. Pantas, kan? Karena Kristen memang selalu memusuhi Islam.

Tapi kalau kita mau fokus ke perdamaian dan kasih sayang, ada begitu banuak fakta yang mendukung bahwa Islam diterima dengan kasih sayang di Eropa dan Amerika.

Nah, Anda mau yang mana?

Antara Pelakor dan Pemurtadan

Teman saya, seorang perempuan, sangat keberatan dengan istilah “pelakor” yang sempat populer beberapa waktu yang lalu. Bagi yang belum tahu, “pelakor” singkatan “pengambil laki orang”. Ini julukan untuk perempuan yang menikah dengan laki orang, atau sekadar berselingkuh saja dengan laki orang.

Teman saya tadi keberatan karena istilah itu tidak adil, khususnya bagi perempuan. Kesannya, pelakor itu merebut laki orang. Karena direbut, laki-lakinya pasif. Ia menjadi semacam sosok tak berdaya, diperebutkan antar wanita. Ia tidak melakukan apa-apa.

Faktanya, yang sering terjadi dalam kasus begitu adalah laki-lakinya aktif mencari perempuan selain istrinya. Pada saat yang sama, ada perempuan yang mau. Jadi ini soal hubungan mau sama mau, bukan sesuatu yang direbut. Laki-lakinya aktif. Bahkan tak jarang laki-lakinya tidak sekadar aktif, tapi agresif.

Tidak adilnya, ada julukan negatif kepada perempuan, sementara laki-lakinya aman tentram tanpa diberi julukan. Bahkan ia dikesankan pasif tadi.

Ceritanya mirip dengan cerita orang pindah agama. Istilahnya murtad. Yang dipakai adalah istilah pemurtadan, dimurtadkan. Banyak yang memakai istilah itu, ketimbang murtad sebagai kata kerja intransitif.

Memurtadkan, atau pemurtadan, seakan menyatakan bahwa seseorang itu keluar dari agamanya, karena tindakan pihak lain. Subjeknya sendiri pasif. Kalau disebut murtad, maka subjeknya sendiri aktif. Ia melakukan, dan ia bertanggung jawab. Dalam hal memurtadkan atau pemurtadan, kesannya ia hanya korban.

Mengapa orang murtad? Alasannya macam-macam. Banyak kasus orang pindah agama karena pernikahan. Ada pula yang pindah agama karena pergaulan, atau karena peristiwa-peristiwa yang ia alami. Ada juga yang pindah karena merasa cocok dengan ajaran agama baru.

Dalam hal pemurtadan, biasanya digambarkan orang dengan ekonomi lemah, ditawari iming-iming harta, atau sekadar sembako, agar pindah agama. Ia sendiri tidak hendak pindah. Tapi karena terdesak oleh kebutuhan hidup, ia pindah agama.

Masuk akalkah itu? Maksud saya, tentu ada orang yang hidupnya sangat sulit. Tapi orang yang pindah agama karena materi, agak sulit bagi saya untuk memahaminya.

Bagaimana mungkin ada pemuka atau pengurus agama membayar orang untuk masuk ke agamanya? Kalau ada, itu sungguh konyol. Untuk apa? Toh dia tidak tahu orang itu benar-benar mengimani ajaran agama itu atau tidak. Jadi, apa perlunya?

Yang mungkin adalah, tentu saja, seseorang pindah agama karena ia sendiri memang ingin pindah. Atau, ia sebenarnya tidak beriman pada apapun. Tidak pada iman lama, juga tidak pada iman baru. Yang ia lakukan adalah pindah agama secara formal saja.

Ini poin penting yang harus kita garisbawahi. Banyak orang beragama tapi tak beriman. Ia beragama karena orang tuanya beragama. Demikian pula orang sekitar dia. Dalam KTP pun ia harus mengisi kolom agama. Maka ia memilih suatu agama. Tapi kita tidak bisa menyebutnya beriman. Artinya, ketika ia pindah agama pun, sebenarnya ia tak begitu tepat disebut murtad.

Kemungkinan lain, orang yang merasa nyaman dengan pelayanan yang diberikan oleh umat agama lain. Ia menemukan kedamaian, kemudian memilih untuk pindah. Pindah tetap merupakan keputusan dia sendiri. Ia memilih untuk pindah. Ia murtad, bukan dimurtadkan. Bukan mengalami pemurtadan.

Istilah ini dipakai untuk membangun prespektif korban. Ada orang-orang yang tidak sanggup memberikan pelayanan yang diberikan umat lain, kemudian membangun citra bahwa umat sebelah sana itu jahat, dan yang pindah itu hanyalah korban saja.

Bagi saya tidak ada pemurtadan, atau orang dimurtadkan. Yang ada hanyalah orang murtad.

Apakah Homoseksualitas itu Menular?

Banyak orang menganggap homoseksualitas itu menular. Karena itu mereka beranggapan bahwa homoseksualitas itu bisa dicegah dan disembuhkan. Benarkah?

Kalau dasarnya adalah fakta sains, maka homoseksualitas itu bukan penyakit. Tidak ada metode penyembuhan homoseksualitas. Di negara kita ini soal homoseksualitas relatif baru diributkan sekarang. Di negara-negara seperti Inggris dan Amerika, soal ini sudah diributkan sejak 2-3 abad yang lalu. Di Inggris misalnya, homoseksualitas pernah dilarang secara hukum. Pelaku hubungan seks sejenis dihukum. Pernah ada berbagai upaya untuk menyembuhkan homokseks, tapi tidak berhasil. Karena, sekali lagi, ini bukan penyakit.

Banyak orang salah kaprah, mengira negara-negara Barat sejak dulu mempromosikan dukungan pada homoseksualitas. Padahal tidak demikian. Orang kini sampai pada kesimpulan bahwa homoseksualitas bukan penyakit, jadi tidak perlu disembuhkan atau diubah. Itu kesimpulan yang didapat dari pengalaman ratusan tahun.

Kembali ke pertanyaan tadi, apakah homoseksualitas bisa menular? Tidak. Tapi kenapa ada orang yang menjadi homoseks setelah bergaul dengan homoseks?

Pertama, harus kita bedakan dulu antara homoseksualitas dengan perilaku senggama dengan sesama jenis. Tidak semua orang yang senggama dengan sesama jenis itu adalah homoseks. Sebaliknya, tidak semua homoseks melakukan senggama dengan sesama jenis. Bahkan sebenarnya homoseks itu tidak selalu diekspresikan dengan senggama.

Ada banyak orang homoseks yang bersembunyi dengan statusnya, karena takut pada tekanan sosial, atau menuruti ajaran agama. Maka mereka menikah dengan lawan jenis, bersenggama, dan beranak pinak. Menikah dengan lawan jenis tidak membuat mereka jadi heteroseks. Nah, sama halnya dengan orang yang bersenggama dengan sejenis, karena ikut-ikutan atau karena dorongan imbalan uang. Perilaku itu tidak menjadikan mereka seorang homoseks. Mereka sekadar pelaku senggama dengan sesama jenis kelamin saja.

Jadi, keberadaan orang yang tadinya bukan homoseks, yang kemudian berubah perilaku, bukanlah bukti bahwa homoseksualitas bisa menular.

Ada lagi kasus lain, yaitu orang yang sebenarnya memang homoseks, tapi berpura-pura hetero. Ia baru secara jujur bersikap sebagai homoseks setelah bergabung dengan orang-orang yang punya orientasi seksual yang sama. Ini pun tidak bisa disebut menular. Ini hanyalah kasus orang yang menemukan habitatnya.

Menular dalam pengertian yang dibahas di atas, yaitu orang yang tadinya tidak berperilaku homoseks, lalu melakukan senggama ala homoseks, itu adalah “penularan” yang bisa terjadi dalam perilaku lain, tidak spesifik soal homoseksual. Perilaku seksual hetero pun bisa menular. Misalnya, seorang remaja yang tadinya menganut ajaran tidak senggama pra-nikah, bisa beralih menjadi pelaku senggama pra-nikah,

Artinya, perilaku seperti itu bisa menular, tidak secara khusus terkait dengan isu homoseksual. Jadi, kalau ada orang tua yang berprinsip bahwa pergaulan anak harus dijaga, itu sudah benar. Tapi itu tidak secara spesifik soal homoseksual. Tapi itu soal semua perilaku buruk. Artinya anak-anak kita mesti dijaga agar tidak berperilaku buruk, tidak ikut berperilaku buruk. Baik itu homoseksual maupun heteroseksual, juga perilaku lainnya. Jadi tidak perlu kewaspadaan khusus terhadap masalah homoseksual.

Apakah hubungan seks sesama jenis itu buruk? Bagi saya tidak. Alasannya, seperti sudah saya ungkap di atas. Tapi kenapa di atas saya sebut “perilaku buruk”? Maksudnya adalah perilaku yang tidak pada tempatnya.

Ilustrasinya begini. Pernah ada siswi SMA yang mengaku terus terang pada saya bahwa dia lesbian. Saya tanya, apakah kamu pernah berhubungan seks? Jawab dia, tidak. Kata saya, bagus. Tidak peduli kamu homo atau hetero, di usia ini soal hubungan seks adalah soal yang terlalu dini untuk menjadi bagian dari hidup kamu.

 

 

 

 

Kami bukan Kacung Asing

Saya kerja di perusahaan asing. Beberapa kawan saya dari kalangan lambat mikir sesekali mengejek saya sebagai antek asing. Ada juga yang menyebut saya kacung asing. Sederhananya, bagi mereka, orang yang kerja di perusahaan asing itu mengabdi pada kepentingan asing.

Tidak sedikit orang yang gagal melihat bahwa orang-orang yang bekerja di perusahaan asing justru bisa berperan membela kepentingan nasional kita. Mereka berpikir terlalu sederhana, bahwa karena kami digaji oleh peusahaan, maka kami akan mati-matian membela kepentingan perusahaan, mengalahkan kepentingan nasional.

Sebenarnya bisnis, baik oleh modal dalam negeri maupun asing, punya kepentingannya sendiri. Banyak perusahaan lokal yang bahkan tidak peduli pada kepentingan nasional. Mereka dengan enteng melakukan praktek korup, menyuap aparat, dalam menjalankan bisnis. Mereka merusak lingkungan, membayar upah buruh rendah, melakukan kecurangan pajak, dan sebagainya.

Tentu perusahaan asing pun ada yang begitu. Tapi ada juga perusahaan asing yang taat hukum, dalam istilah manajemen menjaga compliance atau kesesuaian dengan hukum setempat, dalam melaksanakan bisnis. Dalam konteks ini saja sebenarnya sudah tidak relevan lagi kategori asing dan non asing. Soalnya adalah sesuai hukum atau tidak.

Waktu menjadi direktur di sebuah perusahaan manufaktur skala menengah di Karawang saya tekankan soal kesesuaian hukum ini kepada manajemen di kantor pusat. Misalnya soal pajak. Ketika perusahaan mulai menuai pajak, saya sodorkan angka pajak pengjasilan yang harus kami bayar. Saya hitung angka itu tanpa kecurangan. “Bayar,” kata saya.

Bos saya waktu itu berkomentar. “Jujur saja, di Jepang pun saya merasa sesak kalau melihat angka pajak yang harus dibayarkan. Tapi sejak awal memang harus disadari bahwa kena pajak itu adalah konsekuensi dari aktivitas bisnis,” katanya.

Saya selalu tegaskan, jangan coba-coba mengakali hukum, khususnya dalam soal perpajakan. Alasan saya, saya direktur lokal. Segala tindakan melawan hukum akan berakibat pada diri saya pribadi. “Kalian kan bisa pulang ke Jepang kalau ada masalah,” kata saya.

Sebenarnya bukan itu soalnya. Ini negara saya. Kalian jangan berak sembarangan di sini.

Di perusahaan tempat saya bekerja sekarang saya merasa lebih nyaman lagi. Perusahaan menetapkan panduan kesesuaian hukum secara global. Prinsipnya, perusahaan tidak boleh melanggar hukum. Lebih membahagiakan lagi, saya bertugas menyampaikan panduan itu ke seluruh karyawan di grup kami, 12 perusahaan.

Banyak orang protes ketika saya sampaikan bahwa menyuap aparat itu adalah tindakan terlarang di perusahaan. “Tidak mungkin kita bisa kerja tanpa menyuap,” kata mereka. Saya jawab saja “Anda ini mengeluh kalau pejabat negara korupsi. Tapi Anda sendiri tidak mau mengeluarkan upaya sedikit pun untuk memberantas korupsi.”

Kata saya, kita sering menuding aparat korup. Tapi sangat sering kita mendorong mereka untuk korup. Sebabnya adalah kesalahan dan kemalasan kita. Anda salah mengisi laporan pajak. Lalu perusahaan terancam denda dalam jumlah besar. Anda menyuap aparat untuk menutupi kesalahan itu. Siapa sebenarnya yang korup?

Tingkah laku kita di perusahaan, baik asing maupun lokal, berkontribusi untuk membuat negara ini jadi lebih baik atau lebih buruk.

Bagi saya perusahaan adalah lembaga pendidikan. Di negara-negara maju orang belajar di perguruan tinggi. Tapi mereka tidak belajar di situ seumur hidup. Keahlian justru banyak dibangun di tempat kerja, di perusahaan.

Pertanyaannya adalah, apakah Anda sudah menjadikan perusahaan sebagai tempat belajar? Apakah kompetensi dan keahlian Anda meningkat selama bekerja? Ingat, peningkatan keahlian Anda bukan sekadar soal manfaat pribadi yang Anda terima. Itu juga adalah kontribusi Anda pada negara. Kemajuan suatu negara ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya. Apakah Anda sudah berkontribusi dengan meningkatkan kualitas Anda?

Saya berperan lebih dari itu. Saya mendorong orang-orang di perusahaan untuk belajar. Saya menyediakan sarananya. Saya dorong perusahaan untuk menyediakan kebutuhan belajar itu. Saya tuntut perusahaan untuk melakukannya.

Ini adalah tindakan timbal balik. Di satu sisi perusahaan akan lebih untung kalau sumber daya manusianya bagus. Di sisi lain negara juga ikut menikmatinya. Hanya saja, tak jarang orang-orang di level manajemen enggan berinvestasi dalam hal ini. Maka, saya mendorongnya. Di situ nasionalisme saya tempatkan.

Maaf, kami bukan kacung asing. Kami membela kepentingan nasional di tempat kami bekerja.

Ralitas Bumi Datar

Ada sebuah buku berjudul “Matahari Mengelilingi Bumi”. Buku ini menjabarkan pandangan sekelompok orang tentang sistem tata surya, berbasis pada kitab suci yang mereka anut. Menurut pandangan mereka, bukan bumi yang berputar pada porosnya serta berevolusi mengelilingi matahari, melainkan mataharilah yang beredar mengelilingi bumi.

Demikian pula, ada sejumlah orang yang kukuh pada pandangan, bahwa bumi ini datar, bukan bulat seperti bola.

Benarkah kitab suci menuliskan hal itu? Ya. Sejauh yang sudah saya baca, seperti itulah isinya. Bumi ini terhampar, matahari bergerak, menyebabkan terjadinya siang dan malam. Seperti itulah yang tertulis

Ada sekelompok orang yang keberatan terjadap cara pandang seperti ini. Kata mereka, tidak tegas tertulis bahwa bumi ini datat, atau matahari bergerak. Mereka bahkan mencari-cari dan menemukan ayat yang mengatakan bahwa bumi itu bulat.

Orang-orang ini sebenarnya tidak sedang menafsir teks kitab suci mereka. Mereka sedang mencocokkan narasi kitab suci dengan pengetahuan mereka. Bagi saya sederhana saja. Kalau memang benar ada pernyataan dalam kitab suci bahwa bumi ini bulat, tentu manusia tidak perlu menunggu sampai abad pertengahan untuk sadar bahwa bumi ini bulat. Juga tidak perlu menunggu lama untuk paham bahwa matahari tidak mengelilingi bumi.

Kata mereka, itu karena narasi di kitab suci itu memang tersamar. Lho, bukankah ini kitab petunjuk? Kalau manusia tidak bisa menangkap pesan bahwa bumi ini bulat dari kitab suci, sampai ia menemukan informasinya dari sumber lain, maka kitab suci ini gagal memberi petunjuk pada manusia. Pesannya tidak jelas menyatakan bahwa bumi ini bulat. Pesan yang lebih jelas adalah bahwa bumi ini datar.

Lalu, kalau kitab suci mengatakan bahwa bumi ini datar, matahari mengelilingi bumi, apakah berarti bahwa kitab suci itu salah? Soal ini kita harus hati-hati. Benar-salah itu maknya sangat beragam. Kebenaran sangat sulit untuk didefinisikan. Jadi sebaiknya kita tidak memakai istilah benar-salah.

Saya lebih suka memakai istilah sesuai realitas dan tidak sesuai realitas. Apa itu realitas? Itu adalah keadaan di depan kita, yang bisa kita tangkap dengan panca indera, secara langsung, maupun dengan alat bantu. Kemudian dari yang kita tangkap itu kita bangun sebuah model.

Bagi orang zaman dulu, bumi datar itu adalah realitas. Mereka hanya sanggup melihat bumi dari permukaan bumi. Dari situ bumi memang terlihat datar. Demikian pula, sehari-hari mereka melihat bahwa bumi ini diam, dan matahari bergerak. Itulah realitas bagi manusia yang hidup beberapa abad yang lalu.

Sesuaikah narasi kitab suci dengan realitas? Ya, sesuai dengan realitas saat kitab suci itu dinarasikan. Di masa itu memang seperti itulah realitasnya. Jadi, memang cocok.

Tapi kan tidak cocok dengan realitas sekarang. Ya, tidak cocok. Kalau begitu, kitab suci itu salah, dong. Ingat, realitas itu tidak sama dengan kebenaran. Relitas itu berkembang. Sekarang kita memahami tata surya seperti ini, galaksi seperti ini. Seratus tahun lagi, manusia akan menemukan fakta-fakta baru, pemahaman mereka akan berubah lagi. Realitas selalu berubah.

Kalau kitab suci tidak sesuai dengan realitas sekarang, terima saja. Mustahil ada teks yang selalu cocok dengan realitas. Sekali lagi, mustahil, karena realitas selalu berubah, sedangkan narasi teks bersifat tetap. Bagaimana mungkin sesuatu yang tetap bisa selalu cocok dengan sesuatu yang terus berubah? Satu-satunya jalan adalah dengan melakukan pencocokan.

Kenapa orang sampai perlu melakukan pencocokan? Mereka sedang mencoba mengingkari bahwa kitab suci itu sedang berbicara pada orang-orang yang hidup pada masa ketika kitab suci itu dinarasikan. Sikap ini sungguh konyol.

Dalam menafsir, juga merumuskan hukum, jelas sekali orang melakukan transformasi teks. Ketika disebutkan sesuatu, itu merujuk pada sesuatu di zaman itu, di tempat itu. Ketika disebut gandum, misalnya, maksudnya adalah makanan pokok di situ, pada zaman itu. Untuk kita di sini pada zaman ini, narasi itu bisa kita ubah maknanya menjadi beras. Karena narasi itu sedang bicara pada orang di zaman itu, di tempat itu.

Tapi ketika bicara soal-soal begini, masih saja ada orang yang memaksakan, mesti cocok. Maka mereka melakukan pencocokan secara konyol.

Kotab suci memang bicara pada manusia yang sedang hidup pada zaman ketika ia dinarasikan. Bahkan kadang ia bicara dalam konteks yang sangat lokal, tentang suatu peristiwa. Di zaman itu seorang laki-laki boleh punya istri banyak. Bahkan boleh pula memelihara budak dan menidurinya. Karena itu narasi kitab suci hampir tidak pernah menyebut “istrimu” dalam bentuk tunggal, melainkan dalam bentuk jamak.

Masalahnya, kita tidak konsisten untuk mengakui bahwa narasi kitab suci itu sedang berbicara pada manusia masa lalu. Kita paksakan bahwa maknanya selalu abadi, bahkan universal. Bagi saya, tidak ada yang abadi. Karena, seperti realitas tadi, tata cara hidup kita juga terus berubah.

Kita harus legowo mengakui bahwa realitas yang digambarkan dalam kitab suci itu sudah usang, berbeda dengan realitas sekarang. Demikian pula, hukum-hukum yang diajarkannya, banyak yang sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan kita. Bagi saya, itu pun layak kita tinggalkan.