Author Archives: Hasanudin Abdurakhman

Apakah Tuhan itu Ada?

Jawaban atas pertanyaan itu tergantung pada apa yang kita maksud ada. Orang-orang beriman yakin Tuhan itu ada. Di mana? Dalam keyakinan mereka. Tuhan hadir dalam kesadaran, menjadi inspirasi bagi tindak tanduk mereka. Maka Tuhan itu ada.

Sebaliknya, bagi yang tidak beriman, Tuhan itu tidak ada. Tuhan tidak hadir dalam kesadaran mereka. Tuhan juga tidak menjadi motif maupun inspirasi bagi tindak tanduk mereka. Maka, Tuhan itu tiada.

Bisakah kita membuktikan keberadaan Tuhan secara objektif?

Tidak mungkin! Mau dibuktikan dengan apa? Dengan peralatan scientific? Tidak bisa. Kenapa tidak bisa? Apakah karena teknologi manusia belum cukup canggih untuk bisa mendeteksi keberadaan Tuhan? Bukan begitu. Sains tidak menjadikan Tuhan sebagai objek kajiannya. Maka sains tidak akan menghasilkan sesuatu yang akan menjawab pertanyaan soal eksistensi Tuhan. Jadi, teknologi manusia sebagai produk sains tidak akan pernah bisa mendeteksi atau membuktikan keberadaan Tuhan. Ibaratnya, vaksin kimiawi tidak akan pernah bisa membunuh virus komputer. Bukan karena vaksin itu kurang ampuh, tapi karena memang tidak dibuat untuk itu.

Prinsip itu berlaku sebaliknya; sains dan teknologi juga tidak bisa dipakai untuk membuktikan tiadanya Tuhan.

Jadi, Tuhan tidak bisa dibuktikan secara objektif. Lantas, adakah Tuhan? Jawabannya kembali ke paragraf pertama dan kedua di atas. Tuhan itu ada bagi yang mengimaninya, dan tiada bagi yang tidak mengimaninya.

Ada orang-orang yang mencoba menggunakan sains untuk menjelaskan keberadaan Tuhan. Kata mereka, alam ini sungguh teratur. Tidak mungkin keteraturan itu ada kalau tidak ada yang menciptakan dan mengaturnya.

Baiklah. Mari kita lihat keteraturan alam ini. Lihatlah misalnya soal awan dan hujan. Siapa yang mengaturnya? Apakah Tuhan? Mari kita cek. Air di muka bumi menguap, membumbung tinggi menjadi awan. Apa yang membuat air itu menguap? Utamanya adalah panas dari matahari. Awan kemudian mengalami berbagai kondisi termodinamik yang membuatnya mengembun menjadi air. Air yang berat ini kemudian menjadi lebih berat, kemudian turun menjadi hujan.

Kalau kita selidiki setiap penyebab sepanjang proses di atas maka kita akan temukan bahwa setiap keteraturan yang kita saksikan terjadi oleh suatu kondisi. Kalau ada kondisi A, akan terjadi B. Kalau ada konsidi C, maka akan terjadi D. Siapa yang menciptakan atau mengatur kondisi itu? Kondisi-kondisi lain. Begitu seterusnya. Keteraturan alam itu saling terkait satu sama lain, bahkan saling mempengaruhi.

Menariknya, manusia bisa ikut campur mengatur kondisinya. Manusia bisa membuat suatu kondisi, emngubah kondisi yang ada, sehingga tercapai kondisi yang diinginkan, lalu terjadilah yang diinginkan itu. Manusia misalnya bisa mengatur kondisi termodinamika di angkasa, sehingga bisa membuat hujan.

Manusia tahu bagaimana terjadinya pembuahan yang menghasilkan janin (pada hewan maupun manusia), dan bisa mengintervensi kondisi-kondisi sesuai keinginan, sehingga bisa mencegah atau membuat kehamilan. Dengan mengubah kondisi-konsidi, manusia bisa mengatur keturunan hewan-hewan, menciptakan jenis-jenis baru, yang sebelumnya tidak ada. Manusia juga bisa membuat bahan-bahan baru, dengan sifat sesuai yang mereka inginkan. Bahkan manusia menciptakan atom-atom baru, yang sebelumnya tidak wujud di alam ini.

Adakah yang mengatur keteraturan itu? Selama basisnya sains, maka keteraturan alam adalah produk dari kondisi-kondisi yang diciptakan oleh alam itu sendiri. Bukan oleh sesuatu yang lain. Lalu, dari mana datangnya kesimpulan bahwa keteraturan itu dikendalikan oleh Tuhan? Iman. Bila dasarnya iman, maka penjelasan ilmiah tadi tidak diperlukan. Pokoknya keteraturan itu dikendalikan oleh Tuhan. Titik.

Jadi, apakah Tuhan itu ada? Sak karepmu.

 

Memperlakukan Anak dengan Adil

Para orang tua sering bertanya, apakah anak-anak harus kita perlakukan dengan sama? Kalau sama, apakah semua perlakuan akan cocok? Kalau tidak sama, apakah itu tidak melanggar prinsip keadilan? Adil memang konsep yang sering kali terlalu rumit untuk dipahami. Apakah sama itu adil? Atau justru sebaliknya, apakah adil itu harus sama?

Kita bisa menyederhanakan rumusannya. Anak harus diperlakukan sama, dalam arti semua mendapatkan kebutuhannya. Kita harus ingat, bahwa kebutuhan setiap anak berbeda-beda.

Perbedaan yang paling nyata pada anak kita adalah perbedaan usia. Anak dengan usia yang berbeda tentu berbeda pula kebutuhannya. Maka kita perlakukan mereka sesuai kebutuhan, tentu saja perlakuannya berbeda. Anak bayi masih perlu digendong, sedangkan yang sudah balita tidak perlu lagi.

Perbedaan yang lain adalah jenis kelamin. Anak lelaki berbeda kebutuhan dengan anak perempuan, maka perlakuan atas mereka akan berbeda. Tapi ingat, basisnya adalah kebutuhan, bukan hal lain. Ada orang tua yang membedakan perlakuan terhadap anak lelaki dan perempuan, tapi basisnya bukan kebutuhan anak-anak, melainkan perasaan atau kehendak mereka sendiri. Misalnya, anak perempuan tidak boleh pergi sekolah jauh dari orang tua. Apakah itu berbasis pada kebutuhan anak? Tidak. Itu basisnya adalah perasaan, atau nilai yang dianut oleh orang tua.

Lalu, apakah anak dengan usia yang sama harus diperlakukan sama? Misalnya, saat anak kita berusia 5 tahun, apakah perlakuan terhadapnya harus sama seperti saat kakak atau abangnya berusia 5 tahun? Lagi-lagi kita harus melihat kebutuhannya. Anak-anak dengan usia sama pun bisa berbeda kebutuhannya. Bahkan anak kembar sekalipun bisa berbeda kebutuhannya.

Anak pertama saya suka digendong waktu bayi. Menjelang tidur saya suka menggendong dia sampai dia tertidur. Ketika anak kedua saya lahir, saya perlakukan sama, saya gendong sebelum tidur. Di usia 5 bulan dia menunjukkan perbedaan. Tangannya mendorong badan saya, memberi isyarat untuk diletakkan saja di tempat tidur. Ia mau tidur sendiri, tanpa perlu digendong.

Jadi, sebagai orang tua kita perlu mengenali kebutuhan anak-anak kita, kemudian memperlakukannya sesuai kebutuhan itu. Banyak dari kita yang ingin memperlakukan secara sama. Pokoknya harus sama. Kakakmu begitu, maka kamu juga harus begitu. Maka anak yang kebutuhannya berbeda akan merasa diperlakukan tidak adil saat ia diperlakukan sama dengan anak lain.

Demikian pula sebaliknya, banyak orang tua yang bingung dalam menjelaskan kepada anak, kenapa ia diperlakukan berbeda dengan anak lain. Atau, saat anak menuntut perlakuan yang sama, padahal ia tidak atau belum membutuhkan perlakuan itu. Orang tua jadi merasa bersalah, karena telah membeda-bedakan perlakuan. Mereka bingung karena tidak menyadari bahwa perbedaan perlakuan itu terjadi karena adanya perbedaan kebutuhan.

Sering kita terjebak untuk memperlakukan anak-anak secara sama, karena menganggap itulah yang adil dan terbaik. Atau, kita membedakan perlakuan berbasis hal-hal yang bukan kebutuhan anak, atau bahkan tanpa dasar sama sekali. Keduanya akan membuat anak merasa diperlakukan secara tidak adil.

Hal terpenting dalam hal ini adalah soal mengenali kebutuhan anak. Untuk bisa melakukan itu, kita perlu mengenali mereka dengan baik. Artinya, kita harus berkomunikasi dengan baik, akrab dengan anak-anak kita. Kita kenal karakter mereka, serta kebutuhan-kebutuhan mereka. Itu juga akan mempermudah kita dalam menjelaskan perlakuan yang kita terapkan pada anak. Anak percaya bahwa mereka diperlakukan berbasis kebutuhan, dan perlakuannya adil, meski berbeda.

Menyusun Rencana Kabur dari Kemiskinan

Bagi saya penyebab utama kemiskinan adalah pola pikir dan kemalasan. Artinya, kalau mau membebaskan diri dari kemiskinan, orang harus mengubah pola pikirnya, dan bekerja keras. Saya dikritik. Kata pengritik, seolah saya hendak mengatakan bahwa orang-orang miskin itu pemalas. Kemiskinan, kata mereka, bukan melulu soal kerja keras atau pemalas, tapi juga terkait dengan kebijakan pemerintah. Mereka menyebutnya kemiskinan struktural. “Kurang keras bagaimana lagi para buruh atau kuli itu bekerja, tetap saja mereka miskin,” kata mereka.

Ketika bicara soal kemiskinan dan orang miskin, saya lebih suka membicarakannya sebagai “kita”, bukan “mereka”. Maka, ketika saya bicara soal kemalasan, itu bukan untuk menuding atau merendahkan, tapi sebagai evaluasi untuk memperbaiki diri. Ini soal mencari apa yang salah, bukan menyalahkan.

Banyak orang bekerja keras, tapi tetap miskin. Apa yang kurang kalau begitu? Saya suka mengandaikan kemiskinan itu seperti gravitasi. Kita dan semua benda bermassa terikat oleh gaya gravitasi bumi. Kalau kita melompat ke atas, kita akan ditarik kembali ke muka bumi. Kalau kita terbang dengan pesawat, kita harus mendarat kembali.

Bisakah kita lepas dari ikatan gaya gravitasi itu? Bisa. Hanya saja, kita memerlukan energi besar. Energi itu setara dengan yang diperlukan untuk melempar benda dengan kecepatan 11,2 km/detik, atau 40.320 km/jam. Kecepatan ini disebut escape velocity atau kecepatan kabur. Seberapa cepat itu? Rekor kecepatan tertinggi sebuah pesawat terbang hingga saat ini adalah 3.530 km per jam, jauh di bawah kecepatan kabur tadi.

Para penjelajah ruang angkasa berhasil membebaskan diri mereka dari ikatan gravitasi bumi. Dengan roket yang membawa bahan bakar sumber energi dalam jumlah besar. Sejumlah energi digunakan dalam suatu rentang waktu yang lama. Artinya, diperlukan energi dalam jumlah besar, juga diperlukan waktu yang lama. Bila tidak cukup, apa boleh buat, kita akan kembali jatuh ke bumi.

Begitu pula dengan kerja untuk membebaskan diri dari kemiskinan. Kerja keras saja tidak cukup. Kita perlu kerja keras dalam waktu yang lama, dan juga perlu strategi untuk memastikan bahwa kita tidak terjatuh kembali. Saya menyebutnya dengan rencana kabur, atau escape plan.

Berikut beberapa kunci dalam rencana kabur untuk membebaskan diri dari kemiskinan.

Pertama, pastikan kita bekerja dengan penghasilan memadai. Bekerja tanpa penghasilan memadai, seberapa keras pun, seberapa lama pun, tidak akan membebaskan kita dari kemiskinan. Intinya, harus ada sejumlah uang dari penghasilan kita yang kita sisihkan untuk memperbesar tenaga kita dalam rangka membebaskan diri tadi.

Bagaimana kalau yang kita terima saat ini ternyata kurang? Cari pekerjaan lain. Tapi bagaimana bila tidak ada pilihan lain? Ada! Yang mengatakan tidak ada itu adalah orang yang menderita penyakit miskin pikiran. Itu yang membuat dia tidak bisa keluar dari kemiskinan.

Maaf, saya harus mengatakan ini. Saya melihat begitu banyak orang yang melakukan pekerjaan tanpa masa depan. Mereka bekerja hanya cukup untuk makan sehari-hari, bahkan kurang. Tapi mereka tidak mau berganti pekerjaan. Kebanyakan berkata, tidak ada pilihan lain. Pilihan ada banyak, dan diambil oleh orang lain. Orang lain bisa, kenapa kita tidak?

Mau contoh nyata? Pekerjaan sebagai pak ogah, pedagang asongan, dan sejenisnya itu, bukan pekerjaan yang bisa membebaskan diri dari kemiskinan. Kalaupun bisa, diperlukan strategi yang sangat khusus, yang nanti akan dijelaskan lebih lanjut.

Kedua, lakukan pekerjaan dengan peningkatan penghasilan. Tanpa peningkatan, kita akan terus bekerja dalam waktu yang lama, dan sulit untuk lepas dari kemiskinan. Tapi, bagaimana caranya? Kalau kita pedagang asongan, cobalah untuk menjual lebih banyak dari yang lain, dengan cerdik mencari tempat berjualan, atau barang yang dijual. Tabunglah sejumlah penghasilan untuk dijadikan modal, menambah barang dagangan. Atau, gunakan itu sebagai modal untuk mempekerjakan orang lain.

Seorang tukang harus meningkatkan keterampilannya agar upahnya bertambah. Perlahan ia harus meningkatkan posisi dari tukang biasa menjadi kepala tukang, atau mandor. Kelak ia bisa meningkat jadi pemborong kecil-kecilan.

Apakah semua ini nyata? Ya, ini semua nyata. Ada banyak orang yang berhasil dengan cara seperti itu. Sayangnya lebih banyak yang bertahan, terikat erat pada zona nyaman yang sebenarnya sangat tak nyaman, yaitu kemiskinan. Jadi, ini jawaban atas pertanyaan tadi. Kerja keras saja memang tidak cukup untuk bebas dari kemiskinan. Perlu kerja dengan peningkatan.

Itulah yang dulu dilakukan emak saya. Ayah dulu bekerja sebagai buruh tadi. Bagi Emak, itu bukan pekerjaan yang bisa membebaskan dia dari kemiskinan, karena hasilnya sedikit dan tidak ada peningkatan. Emak mengajak Ayah pindah ke kampung baru, membuka lahan, dan membangun kebun. Punya kebun sendiri adalah langkah awal untuk membebaskan diri dari kemiskinan.

Ketiga, prihatin. Artinya, menahan diri dari kemewahan dalam bentuk apapun. Ada banyak orang yang segera ingin menikmati kemewahan saat baru saja mendapat penghasilan lebih baik dari sebelumnya. Sebagian bahkan tidak sadar bahwa tambahan penghasilan itu sementara saja sifatnya. Mereka mengira itu kekal, lalu berfoya-foya. Saat sumbernya hilang, barulah mereka menyesal.

Sepanjang masa sekolah dulu saya nyaris tak punya baju selain seragam sekolah. Emak sengaja mengajari kami untuk menahan diri, meski sebenarnya sudah mampu membelinya. Emak memilih memakai uangnya untuk hal-hal yang lebih berguna untuk masa depan. Demikian pula, Emak mengajari kami untuk tidak jajan dan makan di luar. Lebih baik masak sendiri kalau ingin makan enak.

Keempat, lakukan apa saja. Apa saja yang bisa menambah penghasilan, menjadikan hidup kita lebih baik. Kalau kita tidak bisa, belajar. Jangan pernah membatasi diri dengan kata tidak bisa. Banyak orang sukses dengan cara ini. Mencoba, belajar, coba lagi, sampai berhasil. Dengan cara yang sama ia terus membesar.

Empat poin di atas mungkin belum cukup untuk membuat kita bebas dari kemiskinan. Tapi empat poin itu fundamental. Tanpa itu, kita tidak akan bisa membebaskan diri.

Dampak Positif Pembangunan Kilang Minyak di Indonesia

Kilang minyak adalah titik yang sangat penting dalam industri perminyakan, juga dalam soal kedaulatan energi nasional. Dalam industri minyak, dengan memiliki kilang artinya kita tidak hanya berhenti pada eksploitasi alam tanpa nilai tambah. Mengolah minyak mentah menjadi BBM beserta berbagai produk lain yang menyertainya bisa menghasilkan nilai tambah yang cukup besar.

Dalam hal kedaulatan energi, adanya kilang minyak di dalam negeri dengan jumlah memadai membuat ketergamtungan kita pada BBM impor bisa diputus. Kita tahu bahwa BBM adalah salah satu pilar penting pada dalam struktur energi nasional. Memastikan pilar penting ini kita kendalikan secara penuh adalah hal yang sangat strategis. Di samping itu, tentu saja, tidak mengimpor BBM berarti menghemat devisa.

Pertamina sebagai BUMN di bidang energi saat ini punya program untuk membangun 6 kilang minyak, yaitu di Balikpapan, Balongan, Cilacap, dan Dumai, melalui pogram RDMP, serta di Bontang dan Tuban melalui program NGRR. Ini sesuai dengan arahan pemerintah melalui Perpres No. 146 tahun 2005 tentang Pengembangan dan Pembangunan Kilang Minyak Dalam Negeri.

Di luar soal strategis yaitu swasembada BBM dan penghematan devisa tadi, pembangunan ini akan menyerap ratusan ribu tenaga kerja selama masa pembangunannya 7 tahun ke depan. Kilang Tuban saja, misalnya, akan meyerap setidaknya 50.000 tenaga kerja. Penyerapan ini diharapkan memberi kontribusi dalam menekan angkaengangguran yang tentu akan berdampak pada ekonomi nasional.

Itu masih ditambah lagi dengan bergulirnya kegiatan ekonomi pendukung selama masa pembangunan di sekitar titik-titik pembagunan. Industri kecil dan menengah akan terlibat dalam kegiatan ekonomi di lokasi pembangunan, seperti penyediaan katering, transportasi, logistik, warung makan, binatu, dan sebagainya. Bagi daerah setempat, kontrobusi ini tidak kecil. Terlebih, plaksanaan pembangunannya cukup lama, yaitu 7 tahun.

 

Stereotyping

Ada teman yang menulis status, isinya kurang lebih begini. “Elu teriak NKRI. Tapi rumah elu pagarin tinggi-tinggi. Tetangga nggak kenal. Ketua RT nggak tahu. Tetangga sakit juga nggak tahu. Kumpul-kumpul nggak pernah ikut. Kerja bakti nggak pernah ikut. Pas giliran ronda, elu upah orang lain untuk menggantikan.”
 
Para pembaca segera bisa menduga, siapa yang sedang dibicarakan, meski tidak disebut secara eksplisit. Ini terkait dengan situasi politik sekarang. Ya, kita buat mudah saja, itu gambaran tentang orang Tionghoa, yang dianut oleh sebagian orang, khususnya pribumi. Sebagian, artinya tak semua. Tapi jumlahnya cukup banyak.
 
Penulis status tadi, saya duga, sedang membangun upaya delegitimasi komitmen sejumlah orang terhadap NKRI, yang sekarang sedang diteriakkan di mana-mana. Kenapa perlu delegitimasi? Karena sekarang sedang musim klaim.
 
Itu disebut stereotype. Stereotype itu adalah anggapan yang tetap tentang sesuatu. Tentu saja ia tak menggambarkan keadaan sebenarnya. Peliknya, orang tak merasa perlu untuk memeriksa keadaan yang sebenarnya. Bahkan, orang tak peduli ketika berhadapan dengan fakta yang berlawanan dengan kesimpulan yang ia buat. Ia lebih nyaman dengan kesimpulan streotype tadi.
 
Ada memang di wilayah tertentu, orang Tionghoa yang berperilaku seperti itu. Tapi ingat, yang bukan Tionghoa juga banyak yang begitu. Tentu saja ini bukan tipikal orang-orang yang sekarang sedang berdemo meneriakkan komitmen pada NKRI. Tidak ada hubungan sama sekali.
 
Saya sekarang tinggal di perumahan yang hampir separuhnya adalah orang Tionghoa. Rumah-rumah kami tidak berpagar, karena memang tidak boleh dipagari, sesuai aturan estate. Kami saling kenal, saling menyapa kalau bertemu di jalan. Anak-anak kami juga main bersama.
 
Kalau ada acara kumpul-kumpul, kami berkumpul dengan akrab. Teman-teman yang orang Tionghoa malah aktif hadir. Semua orang aktif berpartisipasi.
 
Malah ada yang unik, di cluster tempat saya tinggal sebelumnya. Kalau pas hari raya Idul Adha, teman-teman non muslim, utamanya orang Tionghoa, ikut menyumbangkan hewan kurban untuk disembelih. Usai pemotongan dan pembagian daging, kami berkumpul, pesta dengan masakan daging. Muslim dan non muslim berpesta bersama.
 
Nah, karena itulah mereka menyumbang tadi. Mereka ingin ikut kemeriahan hari raya, tapi tak ingin mengurangi jatah daging kurban yang seharusnya dibagikan kepada fakir miskin.
 
Dulu pernah ketua RT-nya orang Tionghoa. Ketika mau puasa, warga membuat musala darurat untuk tarawih. Pak RT ikut serta, kerja bakti membangun musala.
 
Ada banyak keindahan dalam hubungan antar agama di masyarakat kita. Ada banyak keindahan perilaku antar suku kita. Tapi tidak sedikit orang yang lebih suka mengingat hal-hal yang tak indah. Itu mungkin saja fakta, tapi bukan fakta yang menyeluruh. Berdasarkan ingatan itu, ia membangun sikap dasar, soal bagaimana ia memandang dan bersikap terhadap suatu golongan.
 
Kita bisa duga, bagaimana cara ia memandang. Ia memandang dengan kebencian dan permusuhan. Cara pandang tadi, fondasinya adalah kebencian dan permusuhan.
 
Bagi saya, Tionghoa itu manusia, persis seperti orang-orang dari suku apapun. Ada orang Tionghoa yang baik, sangat baik malah. Ada pula yang brengsek. Persis sama seperti orang Jawa, Bali, Padang, Madura, dan sebagainya.
 
Kalau kita bernalar, kesimpulannya pasti seperti itu. Karena itulah yang benar. Streotype tadi bukan kesimpulan yang benar. Itu biasanya kesimpulan yang dibuat berdasar rasa cinta atau benci. Cinta dan benci punya efek sama pada nalar, yaitu mematikannya.