Author Archives: Hasanudin Abdurakhman

Apakah Homoseksualitas itu Menular?

Banyak orang menganggap homoseksualitas itu menular. Karena itu mereka beranggapan bahwa homoseksualitas itu bisa dicegah dan disembuhkan. Benarkah?

Kalau dasarnya adalah fakta sains, maka homoseksualitas itu bukan penyakit. Tidak ada metode penyembuhan homoseksualitas. Di negara kita ini soal homoseksualitas relatif baru diributkan sekarang. Di negara-negara seperti Inggris dan Amerika, soal ini sudah diributkan sejak 2-3 abad yang lalu. Di Inggris misalnya, homoseksualitas pernah dilarang secara hukum. Pelaku hubungan seks sejenis dihukum. Pernah ada berbagai upaya untuk menyembuhkan homokseks, tapi tidak berhasil. Karena, sekali lagi, ini bukan penyakit.

Banyak orang salah kaprah, mengira negara-negara Barat sejak dulu mempromosikan dukungan pada homoseksualitas. Padahal tidak demikian. Orang kini sampai pada kesimpulan bahwa homoseksualitas bukan penyakit, jadi tidak perlu disembuhkan atau diubah. Itu kesimpulan yang didapat dari pengalaman ratusan tahun.

Kembali ke pertanyaan tadi, apakah homoseksualitas bisa menular? Tidak. Tapi kenapa ada orang yang menjadi homoseks setelah bergaul dengan homoseks?

Pertama, harus kita bedakan dulu antara homoseksualitas dengan perilaku senggama dengan sesama jenis. Tidak semua orang yang senggama dengan sesama jenis itu adalah homoseks. Sebaliknya, tidak semua homoseks melakukan senggama dengan sesama jenis. Bahkan sebenarnya homoseks itu tidak selalu diekspresikan dengan senggama.

Ada banyak orang homoseks yang bersembunyi dengan statusnya, karena takut pada tekanan sosial, atau menuruti ajaran agama. Maka mereka menikah dengan lawan jenis, bersenggama, dan beranak pinak. Menikah dengan lawan jenis tidak membuat mereka jadi heteroseks. Nah, sama halnya dengan orang yang bersenggama dengan sejenis, karena ikut-ikutan atau karena dorongan imbalan uang. Perilaku itu tidak menjadikan mereka seorang homoseks. Mereka sekadar pelaku senggama dengan sesama jenis kelamin saja.

Jadi, keberadaan orang yang tadinya bukan homoseks, yang kemudian berubah perilaku, bukanlah bukti bahwa homoseksualitas bisa menular.

Ada lagi kasus lain, yaitu orang yang sebenarnya memang homoseks, tapi berpura-pura hetero. Ia baru secara jujur bersikap sebagai homoseks setelah bergabung dengan orang-orang yang punya orientasi seksual yang sama. Ini pun tidak bisa disebut menular. Ini hanyalah kasus orang yang menemukan habitatnya.

Menular dalam pengertian yang dibahas di atas, yaitu orang yang tadinya tidak berperilaku homoseks, lalu melakukan senggama ala homoseks, itu adalah “penularan” yang bisa terjadi dalam perilaku lain, tidak spesifik soal homoseksual. Perilaku seksual hetero pun bisa menular. Misalnya, seorang remaja yang tadinya menganut ajaran tidak senggama pra-nikah, bisa beralih menjadi pelaku senggama pra-nikah,

Artinya, perilaku seperti itu bisa menular, tidak secara khusus terkait dengan isu homoseksual. Jadi, kalau ada orang tua yang berprinsip bahwa pergaulan anak harus dijaga, itu sudah benar. Tapi itu tidak secara spesifik soal homoseksual. Tapi itu soal semua perilaku buruk. Artinya anak-anak kita mesti dijaga agar tidak berperilaku buruk, tidak ikut berperilaku buruk. Baik itu homoseksual maupun heteroseksual, juga perilaku lainnya. Jadi tidak perlu kewaspadaan khusus terhadap masalah homoseksual.

Apakah hubungan seks sesama jenis itu buruk? Bagi saya tidak. Alasannya, seperti sudah saya ungkap di atas. Tapi kenapa di atas saya sebut “perilaku buruk”? Maksudnya adalah perilaku yang tidak pada tempatnya.

Ilustrasinya begini. Pernah ada siswi SMA yang mengaku terus terang pada saya bahwa dia lesbian. Saya tanya, apakah kamu pernah berhubungan seks? Jawab dia, tidak. Kata saya, bagus. Tidak peduli kamu homo atau hetero, di usia ini soal hubungan seks adalah soal yang terlalu dini untuk menjadi bagian dari hidup kamu.

 

 

 

 

Kami bukan Kacung Asing

Saya kerja di perusahaan asing. Beberapa kawan saya dari kalangan lambat mikir sesekali mengejek saya sebagai antek asing. Ada juga yang menyebut saya kacung asing. Sederhananya, bagi mereka, orang yang kerja di perusahaan asing itu mengabdi pada kepentingan asing.

Tidak sedikit orang yang gagal melihat bahwa orang-orang yang bekerja di perusahaan asing justru bisa berperan membela kepentingan nasional kita. Mereka berpikir terlalu sederhana, bahwa karena kami digaji oleh peusahaan, maka kami akan mati-matian membela kepentingan perusahaan, mengalahkan kepentingan nasional.

Sebenarnya bisnis, baik oleh modal dalam negeri maupun asing, punya kepentingannya sendiri. Banyak perusahaan lokal yang bahkan tidak peduli pada kepentingan nasional. Mereka dengan enteng melakukan praktek korup, menyuap aparat, dalam menjalankan bisnis. Mereka merusak lingkungan, membayar upah buruh rendah, melakukan kecurangan pajak, dan sebagainya.

Tentu perusahaan asing pun ada yang begitu. Tapi ada juga perusahaan asing yang taat hukum, dalam istilah manajemen menjaga compliance atau kesesuaian dengan hukum setempat, dalam melaksanakan bisnis. Dalam konteks ini saja sebenarnya sudah tidak relevan lagi kategori asing dan non asing. Soalnya adalah sesuai hukum atau tidak.

Waktu menjadi direktur di sebuah perusahaan manufaktur skala menengah di Karawang saya tekankan soal kesesuaian hukum ini kepada manajemen di kantor pusat. Misalnya soal pajak. Ketika perusahaan mulai menuai pajak, saya sodorkan angka pajak pengjasilan yang harus kami bayar. Saya hitung angka itu tanpa kecurangan. “Bayar,” kata saya.

Bos saya waktu itu berkomentar. “Jujur saja, di Jepang pun saya merasa sesak kalau melihat angka pajak yang harus dibayarkan. Tapi sejak awal memang harus disadari bahwa kena pajak itu adalah konsekuensi dari aktivitas bisnis,” katanya.

Saya selalu tegaskan, jangan coba-coba mengakali hukum, khususnya dalam soal perpajakan. Alasan saya, saya direktur lokal. Segala tindakan melawan hukum akan berakibat pada diri saya pribadi. “Kalian kan bisa pulang ke Jepang kalau ada masalah,” kata saya.

Sebenarnya bukan itu soalnya. Ini negara saya. Kalian jangan berak sembarangan di sini.

Di perusahaan tempat saya bekerja sekarang saya merasa lebih nyaman lagi. Perusahaan menetapkan panduan kesesuaian hukum secara global. Prinsipnya, perusahaan tidak boleh melanggar hukum. Lebih membahagiakan lagi, saya bertugas menyampaikan panduan itu ke seluruh karyawan di grup kami, 12 perusahaan.

Banyak orang protes ketika saya sampaikan bahwa menyuap aparat itu adalah tindakan terlarang di perusahaan. “Tidak mungkin kita bisa kerja tanpa menyuap,” kata mereka. Saya jawab saja “Anda ini mengeluh kalau pejabat negara korupsi. Tapi Anda sendiri tidak mau mengeluarkan upaya sedikit pun untuk memberantas korupsi.”

Kata saya, kita sering menuding aparat korup. Tapi sangat sering kita mendorong mereka untuk korup. Sebabnya adalah kesalahan dan kemalasan kita. Anda salah mengisi laporan pajak. Lalu perusahaan terancam denda dalam jumlah besar. Anda menyuap aparat untuk menutupi kesalahan itu. Siapa sebenarnya yang korup?

Tingkah laku kita di perusahaan, baik asing maupun lokal, berkontribusi untuk membuat negara ini jadi lebih baik atau lebih buruk.

Bagi saya perusahaan adalah lembaga pendidikan. Di negara-negara maju orang belajar di perguruan tinggi. Tapi mereka tidak belajar di situ seumur hidup. Keahlian justru banyak dibangun di tempat kerja, di perusahaan.

Pertanyaannya adalah, apakah Anda sudah menjadikan perusahaan sebagai tempat belajar? Apakah kompetensi dan keahlian Anda meningkat selama bekerja? Ingat, peningkatan keahlian Anda bukan sekadar soal manfaat pribadi yang Anda terima. Itu juga adalah kontribusi Anda pada negara. Kemajuan suatu negara ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya. Apakah Anda sudah berkontribusi dengan meningkatkan kualitas Anda?

Saya berperan lebih dari itu. Saya mendorong orang-orang di perusahaan untuk belajar. Saya menyediakan sarananya. Saya dorong perusahaan untuk menyediakan kebutuhan belajar itu. Saya tuntut perusahaan untuk melakukannya.

Ini adalah tindakan timbal balik. Di satu sisi perusahaan akan lebih untung kalau sumber daya manusianya bagus. Di sisi lain negara juga ikut menikmatinya. Hanya saja, tak jarang orang-orang di level manajemen enggan berinvestasi dalam hal ini. Maka, saya mendorongnya. Di situ nasionalisme saya tempatkan.

Maaf, kami bukan kacung asing. Kami membela kepentingan nasional di tempat kami bekerja.

Ralitas Bumi Datar

Ada sebuah buku berjudul “Matahari Mengelilingi Bumi”. Buku ini menjabarkan pandangan sekelompok orang tentang sistem tata surya, berbasis pada kitab suci yang mereka anut. Menurut pandangan mereka, bukan bumi yang berputar pada porosnya serta berevolusi mengelilingi matahari, melainkan mataharilah yang beredar mengelilingi bumi.

Demikian pula, ada sejumlah orang yang kukuh pada pandangan, bahwa bumi ini datar, bukan bulat seperti bola.

Benarkah kitab suci menuliskan hal itu? Ya. Sejauh yang sudah saya baca, seperti itulah isinya. Bumi ini terhampar, matahari bergerak, menyebabkan terjadinya siang dan malam. Seperti itulah yang tertulis

Ada sekelompok orang yang keberatan terjadap cara pandang seperti ini. Kata mereka, tidak tegas tertulis bahwa bumi ini datat, atau matahari bergerak. Mereka bahkan mencari-cari dan menemukan ayat yang mengatakan bahwa bumi itu bulat.

Orang-orang ini sebenarnya tidak sedang menafsir teks kitab suci mereka. Mereka sedang mencocokkan narasi kitab suci dengan pengetahuan mereka. Bagi saya sederhana saja. Kalau memang benar ada pernyataan dalam kitab suci bahwa bumi ini bulat, tentu manusia tidak perlu menunggu sampai abad pertengahan untuk sadar bahwa bumi ini bulat. Juga tidak perlu menunggu lama untuk paham bahwa matahari tidak mengelilingi bumi.

Kata mereka, itu karena narasi di kitab suci itu memang tersamar. Lho, bukankah ini kitab petunjuk? Kalau manusia tidak bisa menangkap pesan bahwa bumi ini bulat dari kitab suci, sampai ia menemukan informasinya dari sumber lain, maka kitab suci ini gagal memberi petunjuk pada manusia. Pesannya tidak jelas menyatakan bahwa bumi ini bulat. Pesan yang lebih jelas adalah bahwa bumi ini datar.

Lalu, kalau kitab suci mengatakan bahwa bumi ini datar, matahari mengelilingi bumi, apakah berarti bahwa kitab suci itu salah? Soal ini kita harus hati-hati. Benar-salah itu maknya sangat beragam. Kebenaran sangat sulit untuk didefinisikan. Jadi sebaiknya kita tidak memakai istilah benar-salah.

Saya lebih suka memakai istilah sesuai realitas dan tidak sesuai realitas. Apa itu realitas? Itu adalah keadaan di depan kita, yang bisa kita tangkap dengan panca indera, secara langsung, maupun dengan alat bantu. Kemudian dari yang kita tangkap itu kita bangun sebuah model.

Bagi orang zaman dulu, bumi datar itu adalah realitas. Mereka hanya sanggup melihat bumi dari permukaan bumi. Dari situ bumi memang terlihat datar. Demikian pula, sehari-hari mereka melihat bahwa bumi ini diam, dan matahari bergerak. Itulah realitas bagi manusia yang hidup beberapa abad yang lalu.

Sesuaikah narasi kitab suci dengan realitas? Ya, sesuai dengan realitas saat kitab suci itu dinarasikan. Di masa itu memang seperti itulah realitasnya. Jadi, memang cocok.

Tapi kan tidak cocok dengan realitas sekarang. Ya, tidak cocok. Kalau begitu, kitab suci itu salah, dong. Ingat, realitas itu tidak sama dengan kebenaran. Relitas itu berkembang. Sekarang kita memahami tata surya seperti ini, galaksi seperti ini. Seratus tahun lagi, manusia akan menemukan fakta-fakta baru, pemahaman mereka akan berubah lagi. Realitas selalu berubah.

Kalau kitab suci tidak sesuai dengan realitas sekarang, terima saja. Mustahil ada teks yang selalu cocok dengan realitas. Sekali lagi, mustahil, karena realitas selalu berubah, sedangkan narasi teks bersifat tetap. Bagaimana mungkin sesuatu yang tetap bisa selalu cocok dengan sesuatu yang terus berubah? Satu-satunya jalan adalah dengan melakukan pencocokan.

Kenapa orang sampai perlu melakukan pencocokan? Mereka sedang mencoba mengingkari bahwa kitab suci itu sedang berbicara pada orang-orang yang hidup pada masa ketika kitab suci itu dinarasikan. Sikap ini sungguh konyol.

Dalam menafsir, juga merumuskan hukum, jelas sekali orang melakukan transformasi teks. Ketika disebutkan sesuatu, itu merujuk pada sesuatu di zaman itu, di tempat itu. Ketika disebut gandum, misalnya, maksudnya adalah makanan pokok di situ, pada zaman itu. Untuk kita di sini pada zaman ini, narasi itu bisa kita ubah maknanya menjadi beras. Karena narasi itu sedang bicara pada orang di zaman itu, di tempat itu.

Tapi ketika bicara soal-soal begini, masih saja ada orang yang memaksakan, mesti cocok. Maka mereka melakukan pencocokan secara konyol.

Kotab suci memang bicara pada manusia yang sedang hidup pada zaman ketika ia dinarasikan. Bahkan kadang ia bicara dalam konteks yang sangat lokal, tentang suatu peristiwa. Di zaman itu seorang laki-laki boleh punya istri banyak. Bahkan boleh pula memelihara budak dan menidurinya. Karena itu narasi kitab suci hampir tidak pernah menyebut “istrimu” dalam bentuk tunggal, melainkan dalam bentuk jamak.

Masalahnya, kita tidak konsisten untuk mengakui bahwa narasi kitab suci itu sedang berbicara pada manusia masa lalu. Kita paksakan bahwa maknanya selalu abadi, bahkan universal. Bagi saya, tidak ada yang abadi. Karena, seperti realitas tadi, tata cara hidup kita juga terus berubah.

Kita harus legowo mengakui bahwa realitas yang digambarkan dalam kitab suci itu sudah usang, berbeda dengan realitas sekarang. Demikian pula, hukum-hukum yang diajarkannya, banyak yang sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan kita. Bagi saya, itu pun layak kita tinggalkan.

Tidak Ada Ajaran Final

Seorang teman mengirim pesan WA, minta tolong menjawab pertanyaan anaknya. Ini anak cerdas istimewa. Berkali-kali ia mengajukan pertanyaan tentang doktrin maupun legenda yang diajarkan dalam pelajaran agama.

Pertanyaan yang diajukannya sekarang adalah,”Kenapa dulu menghancurkan berhala itu dianggap pahlawan, sedangkan sekarang kalau itu dilakukan bisa dianggap tindakan kriminal?”

Jawaban atas pertanyaan ini tidak sederhana. Kita harus menjawabnya denganmengurai sejarah peradaban manusia. Salah satu komponen penting dalam peradaban manusia adalah perang. Ya, perang. Suka atau tidak, sampai saat ini banyak hal dalam sejarah manusia diubah atau ditentukan dengan perang. Pahlawan dan orang-orang hebat juga banyak muncul di medan perang.

Sampai dua tiga abad yang lalu manusia masih menggunakan cara berperang yang dipraktekkan sejak ribuan tahun yang lalu. Dalam bahasa sederhana bisa digambarkan sebagai the winner takes all, pemenang mengambil segalanya.

Di masa lalu, ketika suatu kelompok memenangkan perang, maka ia boleh berbuat apa saja terhadap kelompok lawan. Ia boleh membunuh semua orang yang tersisa, atau memperbudak mereka. Mereka boleh merampas semua milik lawan, atau menghancurkannya.

Satu hal lagi, zaman dulu perang sering berlangsung atas nama iman. Kepentingan untuk merebut wilayah, sering kali dibalut dengan kepentingan untuk menyebarkan ajaran agama, atau memuliakan nama Tuhan. Berhala, sesembahan, rumah ibadah, adalah bagian dari benda milik lawan. Maka ia boleh dihancurkan. Tindakan individu atau kelompok pasukan yang menghancurkannya adalah tindakan heroik. Benda-benda itu adalah simbol keberadaan lawan. Menghancurkannya adalah simbolisasi dari penghancuran lawan. Itu sama saja psikologinya dengan membakar bendera lawan.

Perlahan manusia belajar, khususnya dari kepedihan perang. Lalu mereka membuat sejumlah aturan. Salah satu tonggak penting dalam sejarah peradaban kita adalah Konvensi Jenewa. Dalam konvensi ini dirumuskan tata cara berperang, perlindungan terhadap penduduk sipil dan tawanan perang. Termasuk juga perlindungan terhadap harta benda (property) milik lawan.

Dalam konvensi ini tegas dipisahkan antara sipil dan militer. Perang tak lagi melibatkan semua orang seperti dulu, melainkan hanya oleh sekelompok orang bersenjata yang disebut tentara. Warga sipil tidak boleh diserang dan disakiti.
Perbudkaan sudah dihapuskan, sehingga tidak boleh ada lagi warga dari pihak yang kalah yang diperbudak.

Hal lain lagi adalah perubahan tata pergaulan. Hampir semua negara kini beragam. Meski masih ada satu dua negara yang mengaku berdasarkan agama, pada substansinya mereka bukan negara agama. Karena toh ada beberapa negara dengan identitas agama yang sama. Kalau itu negara agama, seharusnya mereka menjadi satu negara, bukan? Bahkan kerap pula terjadi perang antara 2 negara yang berdasarkan agama yang sama.

Perang kini adalah perang antar negara, tidak lagi membawa nama Tuhan. Artinya, simbol-simbol ketuhanan milik lawan, seperti rumah ibadah dan patung-patung juga tak boleh diusik.

Tapi bukankah ajaran agama masih menganggap hebat penghancur berhala itu? Itu adalah ajaran yang dirumuskan belasan abad lalu. Ajaran seperti itu sudah kita tinggalkan. Harus kita tinggalkan. Dalam keadaan perang maupun damai manusia tidak boleh mengusik rumah ibadah dan perlengkapan ibadah milik orang lain. Karena beragama adalah hak azasi yang harus dihormati.

Tapi, kalau ditinggalkan, bagaimana dengan ajaran tentang kesempurnaan agama? Tidak ada ajaran sempurna. Itu hanya klaim saat itu. Sebelumnya agama-agama yang lebih tua juga melakuka klaim serupa. Toh kemudian muncul ajaran agama baru.

Agama adalah tata cara hidup yang dirumuskan di masa lalu. Kini kita terus merumuskan tata cara hidup. Hanya saja kita tak lagi mengaitkan tata cara itu dengan nama Tuhan. Kita menyenutnya undang-undang dan hukum. Tata cara hidup kita terus berkembang. Suka atau tidak, sebenarnya kita sudah banyak meninggalkan ajaran agama. Hanya saja kita enggan mengakuinya terang-terangan.

Di masa depan perang harus ditiadakan. Bagi saya segenap aturan perang, termasuk Konvensi Jenewa itu adalah aturan konyol. Aneh sekali, dalam keadaan biasa kita tidak boleh membunuh dan merusak, tapi dalam perang itu dibolehkan.

Begitulah. Tata cara hidup manusia terus berkembang. Ajaran yang dirumuskan belasan abad lalu secara perlahan akan ditinggalkan. Yang tersisa mungkin hanya ritual-ritual untuk senang-senang.

Cina Tetangga Saya

Sangat banyak orang Indonesia yang menganggap orang Cina itu kaya semua. Juga sangat banyak yang mengira Cina itu kaya secara otomatis. Pokoknya kalau Cina, takdirnya kaya. Lebih parah lagi, tidak sedikit yang beranggapan bahwa Cina itu kaya karena mereka bisa menghalalkan segala cara dalam berbisnis. Kata orang, karena agama mereka membolehkan.

Di kampung saya, sebuah pulau kecil di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, ada beberapa keluarga Cina yang tinggal bersama kami. Mereka semua berdagang barang kebutuhan harian. Mereka tinggal di sana selama puluhan tahun, sama dengan warga kampung yang lain.

Hampir bersamaan dengan perginya saya dari kampung untuk melanjutkan sekolah di tahun 1981, sebagian dari keluarga-keluarga Cina ini pindah ke Jakarta. Mereka mencoba peruntungan, berdagang di Jakarta. Termasuk di antaranya keluarga teman sekelas saya, Ishak The (almarhum).

Sekitar 10 tahun kemudian, saat lulus kuliah saya bertemu lagi dengan Ishak. Ia bekerja sebagai staf akuntansi di sebuah perusahaan. Di usia muda ia sudah cukup berada di mata saya. Setidaknya ia sudah punya mobil.

Ishak mengajak saya ke rumah kakaknya, tempat ia tinggal. Meski tampak mentereng di luar, hidupnya biasa saja. Ia menempati kamar sempit di ruko kakaknya. Kakaknya juga tinggal di situ. Kakaknya sendiri mengelola toko sederhana. Toko itu lebih besar dari toko di kampung dulu, tapi bukan toko yang besar benar.

Beberapa tahun kemudian, saat saya sekolah di Jepang, sesekali saya bertemu Ishak. Dia makin sukses dan makin kaya. Tapi tidak istimewa, hanya kaya seperti umumnya karyawan perusahaan. Bukan orang yang kaya raya.

Ketika saya tinggal menetap di Bekasi, saya berkesempatan bertemu kembali dengan Cina kawan-kawan sekampung saya dulu. Ada yang jadi penguasaha, tapi banyak juga yang karyawan seperti saya. Bahkan ada yang belum berhasil. “Aku lagi susah, San. Usahaku bangkrut,” keluhnya pada saya.

Adakah yang istimewa? Tidak. Mereka hidup sama saja dengan saya. Sama-sama berjuang untuk hidup. Tidak lebih dan tidak kurang.

Ketika kami bertemu, saya merasakan kehangatan. “Aduh, Bang, aku rindu sama Nenek dan Datuk. Dulu sering benar aku main ke rumah Abang, sampai tertidur di sana,” kata Ana, tetangga saya. Kisah yang dia ceritakan itu terjadi saat saya sudah tidak tinggal di kampung lagi. Ana akrab dengan ayah dan emak saya.

Tidak adakah yang curang? Dari kampung saya setahu saya tidak ada. Tapi saya terkejut ketika suatu hari kawan cerita.

“San, kau masih ingat Budi kawan sekelas kita dulu?”

“Ya, kenapa?”

“Kan dia kena kasus, yang simulator itu.”

“Ha? Itu Budi kawan kita?”

Nah, kan, kalau Cina berbisnis pasti curang, kan? Haha. Tidak. Banyak yang jujur. Yang curang pun ada. Yang curang dari kalangan bukan Cina juga banyak. Itu partner in crime si Budi kan Djoko Susilo, orang Jawa.

Tapi kenapa di tempat-tempat mewah kita lihat banyak Cina? Mungkin kita sibuk melihat apa yang ingin kita lihat saja. Padahal orang lain juga banyak di situ.

Tapi secara rata-rata mereka memang banyak yang sukses dan kaya. Apa kuncinya? Mereka memang punya kultur yang mengajarkan orang untuk kerja keras dan jadi kaya. Coba perhatikan ucapan selamat tahun barunya. Gong itu emas, simbol kekayaan. Kaya memang ukuran keberhasilan hidup.

Kita sendiri suka malu-malu sama duit. Mengaku tak mengejar dunia, tapi kalau lihat orang lain kaya, mewek. Mengaku tak mengejar dunia itu sering jadi dalih agar kita tak usah bekerja keras.