Artificial Intelligence: Facebook vs Google

27 August 2021 5 Comments

Facebook memiliki sederet aturan main yang disebut Community Standard. Tujuannya tentu baik, yaitu mencegah perilaku negatif dalam bermedia sosial. Berbagai bentuk pelecehan dilarang di Facebook. Demikian pula perundungan, kekerasan, dan sebagainya.

Bagaimana Facebook menegakkan standar ini? Ini jelas bukan pekerjaan mudah. Ada 2,85 milyar pengguna yang harus diawasi. Jawabannya adalah algoritma. Kita bisa bayangkan, Facebook membuat daftar kosa kata yang dilarang, algoritma itu mencari penggunaan kata-kata itu di tengah puluhan milyar perbincangan yang berlangsung setiap saat.

Persolan muncul dari algoritma ini. Bagaimana mungkin mesin bisa memahami bahasa manusia. Lebih muskil lagi, bagaimana mungkin mesin bisa jadi hakim atas bahasa manusia. Di situlah Facebook membuat blunder besar.
Kalau ditilik dari kasus-kasus yang dihukum oleh Facebook, termasuk yang saya alami sendiri, Facebook sangat mengandalkan algoritma. Masalahnya, algoritma Facebook masih jauh dari kualitas yang cukup untuk memahami, apalagi menghakimi bahasa manusia. Maka muncullah kasus-kasus konyol, penghakiman yang tidak masuk akal oleh algoritma Facebook.

Seorang teman saya posting tentang pedagang pisau di pasar, langsung kena tuduhan berjualan senjata. Komentar-komentar yang tidak berbau pelecehan atau kekerasan, dihukum dengan tuduhan itu. Jangan coba-coba bercanda, Facebook sama sekali tidak punya kemampuan untuk mendeteksi candaan, sarkasme, atau satire. Apa boleh buat, mesin memang tidak sanggup memahami semua itu.

Untuk mengatasi hal itu sepertinya Facebook masih mempekerjakan manusia, untuk melakukan evaluasi ulang terhadap kasus-kasus yang sudah ditangani oleh mesin. Jumlah pekerjanya tentu sangat sedikit, dibanding angka 2,85 milyar tadi. Masalahnya, para manusia ini juga tidak punya kecerdasan yang cukup untuk memahami kerumitan bahasa manusia. Mungkin Facebook hanya sanggup menggaji karyawan dengan gaji berstandar UMK untuk menangani persoalan ini. Akibatnya mereka bekerja dengan standar buruh pabrik. Pola kerjanya tak jauh berbeda dengan mesin: lihat teks, bandingkan dengan standar, eksekusi, selesai. Bahkan untuk sekadar memahami maksud kalimat saja mereka tidak sanggup.

Pertanyaan menariknya, mungkinkah mesin memahami bahasa manusia sampai ke konteksnya? Waktu Google mulai memperkenalkan Google Translator sekitar 15 tahun yang lalu, saya sering tertawa membaca hasil terjemahannya. Benar-benar khas kerja mesin. Mesin Google waktu itu masih kesulitan memahami makna kata berbasis konteks. Jadi terjemahan yang dibuat Google sangat lucu.

Tapi kini Google translator sudah sangat berbeda. Banyak pekerjaan penerjemahan bisa saya lakukan dengan bantuan Google Translator. Saya hanya perlu memoles sedikit saja. Untuk terjemahan bahasa Jepang-Inggris dan sebaliknya, hasil terjemahan Google sudah mendekati sempurna. Untuk bahasa Indonesia masih banyak masalah.

Apa yang dilakukan Google? Tentu mustahil untuk memasukkan database makna kata ke mesin penerjemah Google. Di situlah artificial intelligence, atau kecerdasan buatan bekerja. Ada istilah machine learning, yaitu mesin yang belajar. Database yang dipakai untuk belajar adalah berbagai teks yang ada di seluruh jaringan internet, termasuk di Google Translator sendiri. Mesin milik Google membandingkan triliunan kata yang dipakai orang di internet, lalu belajar memahami makna berbasis konteks dari situ. Dari situ Google kini bisa membuat mesin operator telepon yang bisa berbicara dengan manusia, melakukan pekerjaan-pekerjaan verbal, bahkan sudah mulai bisa mengenali candaan.

Dalam hal ini, Google sudah jauh didepan, dibandingkan dengan Facebook.

5 thoughts on “Artificial Intelligence: Facebook vs Google”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *