Apakah Tuhan itu Ada?

Jawaban atas pertanyaan itu tergantung pada apa yang kita maksud ada. Orang-orang beriman yakin Tuhan itu ada. Di mana? Dalam keyakinan mereka. Tuhan hadir dalam kesadaran, menjadi inspirasi bagi tindak tanduk mereka. Maka Tuhan itu ada.

Sebaliknya, bagi yang tidak beriman, Tuhan itu tidak ada. Tuhan tidak hadir dalam kesadaran mereka. Tuhan juga tidak menjadi motif maupun inspirasi bagi tindak tanduk mereka. Maka, Tuhan itu tiada.

Bisakah kita membuktikan keberadaan Tuhan secara objektif?

Tidak mungkin! Mau dibuktikan dengan apa? Dengan peralatan scientific? Tidak bisa. Kenapa tidak bisa? Apakah karena teknologi manusia belum cukup canggih untuk bisa mendeteksi keberadaan Tuhan? Bukan begitu. Sains tidak menjadikan Tuhan sebagai objek kajiannya. Maka sains tidak akan menghasilkan sesuatu yang akan menjawab pertanyaan soal eksistensi Tuhan. Jadi, teknologi manusia sebagai produk sains tidak akan pernah bisa mendeteksi atau membuktikan keberadaan Tuhan. Ibaratnya, vaksin kimiawi tidak akan pernah bisa membunuh virus komputer. Bukan karena vaksin itu kurang ampuh, tapi karena memang tidak dibuat untuk itu.

Prinsip itu berlaku sebaliknya; sains dan teknologi juga tidak bisa dipakai untuk membuktikan tiadanya Tuhan.

Jadi, Tuhan tidak bisa dibuktikan secara objektif. Lantas, adakah Tuhan? Jawabannya kembali ke paragraf pertama dan kedua di atas. Tuhan itu ada bagi yang mengimaninya, dan tiada bagi yang tidak mengimaninya.

Ada orang-orang yang mencoba menggunakan sains untuk menjelaskan keberadaan Tuhan. Kata mereka, alam ini sungguh teratur. Tidak mungkin keteraturan itu ada kalau tidak ada yang menciptakan dan mengaturnya.

Baiklah. Mari kita lihat keteraturan alam ini. Lihatlah misalnya soal awan dan hujan. Siapa yang mengaturnya? Apakah Tuhan? Mari kita cek. Air di muka bumi menguap, membumbung tinggi menjadi awan. Apa yang membuat air itu menguap? Utamanya adalah panas dari matahari. Awan kemudian mengalami berbagai kondisi termodinamik yang membuatnya mengembun menjadi air. Air yang berat ini kemudian menjadi lebih berat, kemudian turun menjadi hujan.

Kalau kita selidiki setiap penyebab sepanjang proses di atas maka kita akan temukan bahwa setiap keteraturan yang kita saksikan terjadi oleh suatu kondisi. Kalau ada kondisi A, akan terjadi B. Kalau ada konsidi C, maka akan terjadi D. Siapa yang menciptakan atau mengatur kondisi itu? Kondisi-kondisi lain. Begitu seterusnya. Keteraturan alam itu saling terkait satu sama lain, bahkan saling mempengaruhi.

Menariknya, manusia bisa ikut campur mengatur kondisinya. Manusia bisa membuat suatu kondisi, emngubah kondisi yang ada, sehingga tercapai kondisi yang diinginkan, lalu terjadilah yang diinginkan itu. Manusia misalnya bisa mengatur kondisi termodinamika di angkasa, sehingga bisa membuat hujan.

Manusia tahu bagaimana terjadinya pembuahan yang menghasilkan janin (pada hewan maupun manusia), dan bisa mengintervensi kondisi-kondisi sesuai keinginan, sehingga bisa mencegah atau membuat kehamilan. Dengan mengubah kondisi-konsidi, manusia bisa mengatur keturunan hewan-hewan, menciptakan jenis-jenis baru, yang sebelumnya tidak ada. Manusia juga bisa membuat bahan-bahan baru, dengan sifat sesuai yang mereka inginkan. Bahkan manusia menciptakan atom-atom baru, yang sebelumnya tidak wujud di alam ini.

Adakah yang mengatur keteraturan itu? Selama basisnya sains, maka keteraturan alam adalah produk dari kondisi-kondisi yang diciptakan oleh alam itu sendiri. Bukan oleh sesuatu yang lain. Lalu, dari mana datangnya kesimpulan bahwa keteraturan itu dikendalikan oleh Tuhan? Iman. Bila dasarnya iman, maka penjelasan ilmiah tadi tidak diperlukan. Pokoknya keteraturan itu dikendalikan oleh Tuhan. Titik.

Jadi, apakah Tuhan itu ada? Sak karepmu.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *