Apakah Homoseksualitas itu Menular?

Banyak orang menganggap homoseksualitas itu menular. Karena itu mereka beranggapan bahwa homoseksualitas itu bisa dicegah dan disembuhkan. Benarkah?

Kalau dasarnya adalah fakta sains, maka homoseksualitas itu bukan penyakit. Tidak ada metode penyembuhan homoseksualitas. Di negara kita ini soal homoseksualitas relatif baru diributkan sekarang. Di negara-negara seperti Inggris dan Amerika, soal ini sudah diributkan sejak 2-3 abad yang lalu. Di Inggris misalnya, homoseksualitas pernah dilarang secara hukum. Pelaku hubungan seks sejenis dihukum. Pernah ada berbagai upaya untuk menyembuhkan homokseks, tapi tidak berhasil. Karena, sekali lagi, ini bukan penyakit.

Banyak orang salah kaprah, mengira negara-negara Barat sejak dulu mempromosikan dukungan pada homoseksualitas. Padahal tidak demikian. Orang kini sampai pada kesimpulan bahwa homoseksualitas bukan penyakit, jadi tidak perlu disembuhkan atau diubah. Itu kesimpulan yang didapat dari pengalaman ratusan tahun.

Kembali ke pertanyaan tadi, apakah homoseksualitas bisa menular? Tidak. Tapi kenapa ada orang yang menjadi homoseks setelah bergaul dengan homoseks?

Pertama, harus kita bedakan dulu antara homoseksualitas dengan perilaku senggama dengan sesama jenis. Tidak semua orang yang senggama dengan sesama jenis itu adalah homoseks. Sebaliknya, tidak semua homoseks melakukan senggama dengan sesama jenis. Bahkan sebenarnya homoseks itu tidak selalu diekspresikan dengan senggama.

Ada banyak orang homoseks yang bersembunyi dengan statusnya, karena takut pada tekanan sosial, atau menuruti ajaran agama. Maka mereka menikah dengan lawan jenis, bersenggama, dan beranak pinak. Menikah dengan lawan jenis tidak membuat mereka jadi heteroseks. Nah, sama halnya dengan orang yang bersenggama dengan sejenis, karena ikut-ikutan atau karena dorongan imbalan uang. Perilaku itu tidak menjadikan mereka seorang homoseks. Mereka sekadar pelaku senggama dengan sesama jenis kelamin saja.

Jadi, keberadaan orang yang tadinya bukan homoseks, yang kemudian berubah perilaku, bukanlah bukti bahwa homoseksualitas bisa menular.

Ada lagi kasus lain, yaitu orang yang sebenarnya memang homoseks, tapi berpura-pura hetero. Ia baru secara jujur bersikap sebagai homoseks setelah bergabung dengan orang-orang yang punya orientasi seksual yang sama. Ini pun tidak bisa disebut menular. Ini hanyalah kasus orang yang menemukan habitatnya.

Menular dalam pengertian yang dibahas di atas, yaitu orang yang tadinya tidak berperilaku homoseks, lalu melakukan senggama ala homoseks, itu adalah “penularan” yang bisa terjadi dalam perilaku lain, tidak spesifik soal homoseksual. Perilaku seksual hetero pun bisa menular. Misalnya, seorang remaja yang tadinya menganut ajaran tidak senggama pra-nikah, bisa beralih menjadi pelaku senggama pra-nikah,

Artinya, perilaku seperti itu bisa menular, tidak secara khusus terkait dengan isu homoseksual. Jadi, kalau ada orang tua yang berprinsip bahwa pergaulan anak harus dijaga, itu sudah benar. Tapi itu tidak secara spesifik soal homoseksual. Tapi itu soal semua perilaku buruk. Artinya anak-anak kita mesti dijaga agar tidak berperilaku buruk, tidak ikut berperilaku buruk. Baik itu homoseksual maupun heteroseksual, juga perilaku lainnya. Jadi tidak perlu kewaspadaan khusus terhadap masalah homoseksual.

Apakah hubungan seks sesama jenis itu buruk? Bagi saya tidak. Alasannya, seperti sudah saya ungkap di atas. Tapi kenapa di atas saya sebut “perilaku buruk”? Maksudnya adalah perilaku yang tidak pada tempatnya.

Ilustrasinya begini. Pernah ada siswi SMA yang mengaku terus terang pada saya bahwa dia lesbian. Saya tanya, apakah kamu pernah berhubungan seks? Jawab dia, tidak. Kata saya, bagus. Tidak peduli kamu homo atau hetero, di usia ini soal hubungan seks adalah soal yang terlalu dini untuk menjadi bagian dari hidup kamu.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *