Antara Damaskus dan Ambon

Kita kini membicarakan Syiria dan ISIS seakan membicarakan orang lain, atau sesuatu yang jauh. Tapi sadarkah kita, betapa dekatnya kita dengan Syiria. Bukan dekat jarak, melainkan dekat situasi. Tentu kita masih ingat, bahwa belum lama berselang negeri kita hancur lebur oleh berbagai konflik agama dan etnis. Ambon dan Poso luluh lantak oleh konflik antara Islam dan Kristen. Sambas dan Sampit banjir darah oleh konflik etnis antara Dayak dan Madura.

Penting bagi kita untuk bertanya pada diri sendiri, di manakah kita berdiri di hadapan konflik-konflik itu?

Saya dulu pembenci Kristen. Pernah suatu hari saya dan beberapa kawan mendatangi Rektor UGM. Kami mendengar bahwa di kampus UGM waktu itu akan didirikan gereja, seiring dengan adanya rencana mendirikan mesjid kampus. Kami mendatangi Rektor, meminta agar dia mencegah berdirinya gereja di kampus. Bagi saya dulu gereja adalah pusat kristenisasi. Jadi berdirinya gereja harus dilawan.

Saya dulu percaya bahwa pemerintah Orde Baru adalah pemerintah yang dikendalikan oleh orang-orang Kristen. Misi mereka adalah menjadikan Indonesia ini makin Kristen, dan kurang Islami. Karena itu Kristen adalah musuh politik dan musuh sosial bagi saya.

Dulu, dalam setiap konflik yang terkait dengan umat Islam, posisi saya tegas: saya pembela Islam. Saya percaya, setiap konflik bermula dari upaya musuh-musuh Islam untuk merusak Islam.

Lalu saya berangkat sekolah ke Jepang. Tak lama setelah itu meletuslah kerusuhan Ambon. Suatu hari sebuah email masuk ke komputer saya. Isinya foto-foto mengerikan, korban kerusuhan Ambon. Berita di foto mengabarkan, inilah korban-korban pembunuhan biadab oleh orang-orang Kristen. Saya sangat marah ketika itu. Esoknya foto-foto yang sama saya terima, tapi dengan berita yang berbeda. Isinya: inilah korban kebiadaban orang-orang Islam.

Lalu saya terduduk lemas. Saya coba mencari faktanya, mana yang benar. Tak saya temukan. Karena mayat-mayat itu tak lagi bisa bercerita tentang siapa mereka. Ketika sudah mati, tak penting lagi mereka itu Islam atau Kristen. Fakta yang penting di situ adalah: Mereka Mati!

Saya mensyukuri, punya kesempatan melihat Indonesia dari jauh. Punya kesempatan untuk melihat dengan sudut pandang berbeda. Akhirnya saya sampai pada kesadaran bahwa semua itu sia-sia. Permusuhan-permusuhan itu. Kita bahkan tak saling mengenal, tapi begitu tajam permusuhan di hati kita.

From a distance you look like my friend,
even though we are at war.
From a distance I just cannot comprehend
what all this fighting is for.

Saya memilih untuk membuang rasa bermusuhan itu. Saya memilih damai. Jangan sampai ada lagi orang-orang mati dalam permusuhan sementara mereka tak tahu apa yang mereka permusuhkan.

Di mana kita berdiri pada setiap konflik? Bila kita berada di satu pihak, maka kita adalah bagian dari konflik. Kita punya potensi untuk menjadi bagian yang lebih nyata dari konflik itu: ikut mengalirkan darah, melakukan pembunuhan. Karena semua bermula dari satu hal: kebencian.

Kini saya memilih berdiri di pihak manusia. Pada setiap konflik, wujudnya selalu rumit. Siapakah yang salah di Syiria? ISIS? Assad? Syiah? Sunni? Amerika? Irak? Saudi? Semua serba centang perenang, rumit. Yang tidak rumit adalah jawaban atas pertanyaan, siapa yang dikorbankan? Manusia! Tak peduli apa agamanya, apa mazhabnya, apa bangsanya, yang jadi korban semuanya manusia. Maka saya memilih untuk berpihak pada manusia.

Saya memilih untuk tidak menyimpan kebencian, atas dasar apapun. Khususnya atas dasar agama. Pesan-pesan bernada benci dalam kitab suci kita adalah sejarah saja. Itu rekaman kejadian di masa lalu. Kita tidak perlu mewarisinya, juga tak perlu mengawetkannya. Kita sedang membuat sejarah kita sendiri. Kita yang berhak menentukannya, bukan orang-orang yang hidup belasan abad yang lalu.

Bila kita gagal berpihak pada manusia, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Damaskus dan Ambon sangatlah dekat.

 

One thought on “Antara Damaskus dan Ambon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *