Air Hasil Daur Ulang, Pandangan Teknologi vs Islam

Sebagai orang yang terlibat dalam bisnis air, saya agak ketar-ketir soal pandangan ulama Indonesia terhadap air hasil daur ulang. Beberapa pandangan mereka, misalnya dalam soal penggunaan katalis yang molekulnya disintesa dari babi, misalnya, bagi saya agak tidak sesuai dengan semangat teknologi modern.
 
Teknologi pengolahan air sekarang bisa membersihkan air dari berbagai jenis kotoran. Kita tinggal memilih, sebersih apa produk air yang kita inginkan. Air yang sangat kotor, bisa diubah menjadi air yang sangat bersih dan murni, ultra-purified water.
 
Ukuran lubang (pore size) pada RO membrane adalah 0,001 mikron, cukup kecil untuk memisahkan ion-ion garam yang terkandung dalam air laut, sehingga bisa dipakai untuk desalinasi, yaitu membuat air tawar dari air asin. Tentu saja dengan membrane ini kotoran yang lebih besar ukurannya seperti protein, lemak, dan sebagainya, bisa dipisahkan.
 
Secara teknologi, kualitas air dilihat dalam konteks kandungan pada air tersebut. Ada berbagai parameternya, seperti BOD, COD, TSS, dan sebagainya. Pada level yang lebih teliti, kandungan setiap jenis ion juga diukur. Dari ukuran itu kualitas air ditentukan. Air yang bersih tentu saja dengan BOD, COD, TSS, dan kandungan ion-ion yang sangat rendah, mendekati nol.
 
Air dengan kualitas itu tentu saja dianggap bersih oleh dunia teknologi modern. Dalam industri farmasi dan medical treatment, air sejenis ini dipakai. Reaksi kimia tertentu juga memerlukannya. Pada riset DNA yang pernah saya lakukan di Jepang juga saya memakai air ultra-pure ini.
 
Pandangan teknologi modern hanya pakai patokan itu. Yaitu, air bersih dinilai dengan parameter-parameter tadi. Dari mana asal air, tidak jadi masalah. Karena di level molekul bisa ditunjukkan bahwa air itu sudah murni. Tanpa kandungan zat lain, maka air sudah disebut murni atau bersih.
 
Dalam konteks ajaran Islam, ceritanya bisa sangat berbeda. Kalau kita punya segelas air murni, tapi kalau itu adalah hasil ekstrak dari daging babi, tetap akan dianggap najis. Atau, kalau air dari septic tank diolah sampai bersih, akan dianggap sebagai air najis juga.
 
Kok begitu? Karena standar “bersih” dan “suci” menurut Islam memang berbeda dari standar modern. Standar Islam fokus pada hal-hal yang bisa dideteksi dengan panca indera. Lalu, juga tidak tersedia kaidah yang detil soal bagaimana air dibersihkan. Fokusnya hanya pada klasifikasi air, yaitu air suci dan tidak suci. Selama saya belajar fiqh seingat saya tidak ada pelajaran tentang membersihkan air.
 
Nah, soal ini menjadi masalah ketika kita hendak melakukan daur ulang air mesjid. Bolehkah air bekas wudhu didaur ulang, lalu dipakai lagi untuk wudhu? Diskusi saya dengan beberapa orang menunjukkan bahwa para ulama banyak yang belum bisa menerima air daur ulang itu dipakai untuk wudhu lagi.
 
Untungnya ada solusi. Air itu boleh dipakai dengan dicampur dengan air lain yang bukan daur ulang, dengan perbandingan tertentu.
 
Sebenarnya dari kaca mata teknologi, ini agak lucu. Air yang kita pakai setiap hari itu adalah air yang sudah jutaan tahun berada di bumi. Ia berputar dalam siklus air. Air hujan, turun ke bumi, diserap di tanah, lalu mengalir menjadi sungai. Air tanah, sungai, danau, dan laut, dibersihkan, dipakai untuk mandi dan minum.
 
Air yang sudah dipakai, sebagain dibersihkan, lalu dialirkan kembali ke sungai. Ada pula yang langsung menguap menjai awan, kemudian turun lagi sebagai air hujan.
 
Ringkasnya, air yang Anda minum itu dulu mungkin pernah diminum oleh babi, atau anjing, pernah pula masuk ke perut orang kafir dan keluar sebagai air kencingnya. Segala kemungkinan soal asal air itu ada.
 
Karena itu menyelidiki asal air dalam konteks kebersihannya sebenarnya sesuatu yang sia-sia. Yang lebih penting adalah memperhatikan kandungannya. Tapi begitulah. Agama memang tidak otomatis paralel dengan sains dan teknologi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *