Ahok, Penguji Komitmen Kebangsaan

12 January 2017 0 Comments

Konstitusi kita dengan tegas menyatakan bahwa setiap warga negara punya kedudukan yang sama. Tak peduli apa agamanya, apa sukunya, juga tak peduli apa identitas lain yang melekat padanya. Satu-satunya identitas yang kita pertimbangkan adalah kewarganegaraannya. Begitu tegas ia seorang warga negara Indonesia, maka ia harus diberi hak yang sama dengan warganegara yang lain.

Menolak seseorang menjadi pemimpin karena agamanya bagi saya adalah pengkhianatan tehadap konstitusi. Tapi, ini kan ajaran agama saya. Hak saya untuk menjalankan ajaran agama saya dilndungi konstitusi. Betul. Hakmu untuk menjalankan ajaran agama, dilindungi konstitusi. Artinya, selama ajaran yang mau kau laksanakan itu tidak bertentangan dengan konstitusi. Nalar normal sudah cukup untuk memahami hal ini. Mustahil ada konstitusi yang melindungi ajaran yang bertentangan dengan dirinya sendiri.

Tapi apakah ajaran untuk memilih pemimpin dari kalangan muslim itu bertentangan dengan konstitusi? Ya, bertentangan. Sekali lagi, konstitusi menegaskan bahwa setiap warga negara punya kedudukan yang sama. Ia punya hak yang sama untuk dipiluh. Menegapkan syarat lain sebagai tambahan dalam pemilihan pemimpin, menyakahi konstitusi.

Masih sulit paham? Mari kita kaji contoh lain. Apa hukuman bagi pencuri dalam hukum Islam? Potong tangan. Lalu, bolehkah menjatuhkan hukum potong tangan kepada pencuri di negara ini? Tidak boleh. Kenapa? Karena hukum negara kita, yang dirumuskan berdasarkan konstitusi menetapkan hukuman penjara bagi pencuri, bukan hukum potong tangan. Itu contoh nyata bahwa ajaran Islam atau ajaran agama apapun tidak boleh diterapkan bila ia tidak sesuai dengan konstitusi.

Sama halnya, ajaran untuk memilih pemimpin dengan identitas agama tertentu, tidak dilindungi oleh konstitusi, dan tidak boleh diterapkan.

Tapi bukankah demokrasi memungkinkan orang memilih berdasarkan prefernsinya? Sebenarnya prinsip demokrasi tidak demikian. Demokrasi tetap meletakkan manusia setara. Karena itu tidak boleh ada identitas lain selain identitas kemanusiaan tadi. Tapi bukankah di Amerika sekalipun faktor agama dan warna kulit masih menentukan? Ya, itu namanya realitas demokrasi. Bedakan antara prinsip dan realitas. Amerika itu bukan negara yang sudah 100% melaksanakan prinsip demokrasi. Sama seperti kita, Amerika itu adalah negara yang sedang berjuang untuk menegakkan prinsip demokrasi.

Komitmen kebangsaan bagi saya adalah komitmen untuk meletakkan konstotusi di tempat tertinggi sebagai pedoman hidup. Suka atau tidak, agama harus berada di bawahnya. Itu prinsip. Prinsip itu sebenarnya sudah kita anut sejak dulu, baik secara sukarela atau terpaksa. Ya, ada yang sukarela patuh pada hukum negara. Tapi tidak sedikit yang sebenarnya tidak ingin patuh. Mereka inginnya menerapkan hukum Islam, tapi tidak berdaya karena mereka tinggal di negara yang bukan megara Islam. Konyolnya, mereka tidak berani pindah ke negara Islam, sesuai tuntutan ajaran Islam.

Bagi orang-orang Islam yang selama ini sudah menerima Pancasila sebagai dasar negara dan UUD 1945 sebagai konstitusi, mereka harus kembali sadar bahwa konsekuensinya adalah tidak boleh lagi ada tuntutan hak pelaksanaan ajaran agama yang bertentangan dengan prinsip konstitusi.

Ahok, adalah penguji komitmen kebangsaan kita. Seorang pemimpin non muslim di ibukota negara berpenduduk mayoritas muslim, adalah bukti komitmen kita pada kebangsaan. Ada segelintir yang tidak menerima ini, yaitu Rizieq dan ormasnya. Kita tahu bahwa Rizieq memang tidak patuh konstitusi. Dia dengan tegas menyatakan bahwa konstitusi hanya boleh dipatuhi kalau tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Komitmen Rizieq memang tidak pada konstitusi. Ia bahkan ingin menegakkan Islam kaffah. Apa itu? Yaitu Islam yang utuh seperti yang diterapkan pada abad ke VII. Salah satunya tadi, pencuri dipotong tangannya. Islam seperti ini tidak mendapat tempat di bawah konstitusi kita. Secara tersirat Rizieq sebenarnya ingin mengganti konstitusi kita dengan hukum Islam.

Jadi, menerima atau menolak Ahok dengan pertimbangan identitas agama menentukan kita  berada di barisan mana. Di barisan para pendukung konstitusi, atau di barisan Rizieq, barisan orang-orang yang hendak mengganti konstitusi.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *