Ahok Berbahasa Cina

200px-Chinaimg

Kemarin saya lihat sekilas wawancara Ahok dengan CCTV (ini bukan kamaera sekuriti ya). Ahok menjawab wawancara dalam bahasa Cina. Cuma tidak jelas bagi saya apakah ini bahasa Mandarin, Hokkien, atau yang lain.

Bagi kami yang tinggal di Kalimantan dan Sumatera, WNI keturunan Cina berbahasa Cina itu biasa. Kami biasa melihat mereka sebagai suku Cina, walau sebenarnya suku mereka sendiri ada banyak, meliputi Hokkien, Teu Ciew, Khek (maaf kalau salah ejaan), dan sebagainya. Bahasa mereka pun terdengar sama, padahal berbeda.

Maka saya kaget waktu baru datang ke Yogya, lihat orang berwajah Cina ngomong Jawa medhok. Saya baru tahu bahwa di Jawa mereka, entah terpaksa, memilih, atau dikondisikan untuk tidak berkomunikasi dalam bahasa Cina.

Soeharto, meski didukung secara finansial oleh banyak pengusaha etnis Cina, menerapkan berbagai peraturan anti kebudayaan Cina. Seingat saya, penerbitan media massa berbahasa Cina dilarang. Pengajaran dalam bahasa Cina juga dilarang. Orang-orang keturunan Cina didorong untuk mengganti nama mereka dengan nama “pribumi”. Makanya sampai ada guyonan tentang seseorang bernama Kasnowo Diponegoro, bekas Cino dadi Jowo dipokso negoro.

Dimulai pada zaman Habibie, kemudian ditegaskan pada zaman Gus Dur, kebudayaan Cina yang melekat pada WNI keturunan Cina. Kini koran bahasa Cina boleh terbit. Sesekali di pesawat saya ambil dan mencoba baca. Gagap-gagap, minimal headline-nya ngerti, berbekal pengetahuan huruf Kanji yang saya pelajari dalam bahasa Jepang.

Ahok menjawab wawancara dalam bahasa Cina, sungguh keren!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *