Agama Timpang

Dalam perjalanan ke pasar saya lihat ada 3 anak perempuan, taksiran saya usia kelas 6 SD atau kelas 1 SMP, naik sepeda motor, bertiga di satu motor, tanpa helm. Mereka semua berjilbab.

Ini adalah potret pola pikir masyarakat kita. Ini juga potret pendidikan kita.

Orang-orang menganggap agama itu begitu penting, sangat penting. Anak-anak harus diajar salat. Kalau perlu dipukul agar mereka salat. Sejak kecil juga dibiasakan puasa. Konon, kalau tidak dibiasakan sejak kecil, anak-anak akan sulit memulainya ketika sudah besar.

Untuk soal jilbab lebih ekstrim lagi. Sejak bayi sudah dipakaikan jilbab. Padahal anak bayi itu tentu saja belum punya aurat.

Tapi anak-anak tidak dididik untuk tertib. Entah mengapa banyak orang tua yang gatal untuk memberi anaknya sepeda motor. Sejak usia SD anak-anak sudah diajar naik sepeda motor dan dibiarkan bermain dengannya. Padahal sepeda motor bukan mainan.

Tidak jarang anak-anak itu celaka. Sudah sangat sering terjadi kecelakaan yang melibatkan anak-anak di bawah umur, dengan akibat fatal: mati atau cacat. Inipun tidak membuat para orang tua itu sadar.

Anak usia SD tak patut naik sepeda motor, karena usia minimal bagi pengendaraa adalah 17 tahun. Membiarkan atau malah mendorong mereka berkendara adalah perusakan mental yang parah. Lebih parah lagi, mereka tidak dituntun untuk menaati aturan. Tanpa helm, berboncengan 3 orang, seperti contoh di atas.

Agama bagi banyak orang hanyalah soal takut masuk neraka. Maka agama hanya soal mematuhi hal-hal yang secara verbal diperintahkan Tuhan. Orang gagal memaknai agama di tingkat yang lebih fundamental, yaitu menciptakan masyarakat yang tertib dan berakhlak.

Orang tua ketiga anak tadi mungkin takut kalau kelak anaknya masuk neraka. Tapi dia tidak takut anaknya masuk liang kubur lebih cepat. Mungkin karena dia yakin, dengan pakai jilbab liang kubur bagi anaknya adalah liang kubur yang indah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *