7 Jangan, Peran Kita Memberantas Korupsi

8 April 2016 0 Comments

Korupsi tidak selalu melibatkan orang besar belaka. Kita karyawan di level menengah dan bawah sebenarnya juga berpotensi terlibat. Banyak dari kita yang terlibat, tapi tidak menyadari. Kalau kita tahu di mana kita bisa terlibat, maka kita bisa menghindarinya. Itu artinya kita bisa ikut berperan memberantas korupsi.
 
1. Jangan membayar uang suap. Jangan mau bia disuruh menyerahkan uang suap. Penyuap dan penerima suap adalah koruptor. Menyerahkan uang suap, meski hanya menjalankan perintah atasan, tetap akan dihukum.
 
Trinanda Prihantoro karyawan Agung Podomoro itu hanya karyawan kecil. Kini ia ditahan KPK. Ia adalah orang pertama yang ditangkap. Geri dalam kasus suap yang melibatkan Kaligis dan kemudian merembet ke Gatot, juga staf biasa saja. Ia juga kena penjara. Odih Juanda dalam kasus PT Onamba Indonesia hanyalah manejr HRD, ia dikenai hukuman 4 tahun penjara, karena berperan sebagai yang menyerahkan suap.
 
Orang-orang besar di perusahaan tidak akan mau pergi menyerahkan sendiri uang suap. Mereka akan mencari orang suruhan, dengan harapan bisa menghindar kalau bawahannya tertangkap. Kaligis, misalnya, sempat berdalih bahwa pemberian suap kepada hakim adalah inisiatif stafnya, bukan atas suruhan dia.
 
Jadi, jangan mau dikorbankan atasan.
 
2. Jangan mengira suap Anda kecil. Ada yang mungkin mengira suapnya kecil-kecilan. Tapi korupsi adalah hantu besar yang wujud utuhnya tak pernah kita ketahui. Bisa jadi suap kecil kita hanya pintu masuk bagi KPK untuk mengungkap kasus besar. Jadi tidak pernah ada kasus korupsi yang kecil.
 
Dalam kasus PT Onamba Indonesia, suap yang diserahkan oleh Odih termasuk kecil, hanya 200 juta, untuk memenangkan perusahaan dalam kasus pemecatan karyawan. Tapi masalahnya jadi besar, karena hakim yang disogok itu sedang dalam pantauan KPK atas berbagai kasus lain. Kasus suap Onamba ini hanya celak kecil yang dipakai KPK untuk mencokok hakim itu.
 
Jadi, jangan pernah menganggap suap itu kecil, berapapun nilai uang yang diserahkan.
 
3. Jangan menganjurkan suap. Banyak karyawan yang bekerja di perusahaan asing yang justru mengompori orang asing di pihak manajemen untuk menyuap atau menyimpang. Kita sering bersikap fatalis, menganggap semua aparat pemerintah sudah bobrok, sehingga kita tidak merasa perlu lagi mematuhi hukum. Kita sering mengambil jalan pintas untuk menyelesaikan pekerjaan kita dengan suap. Orang asing yang tadinya tidak tahu bahwa masalah bisa “diselesaikan” dengan suap, menjadi tahu. Kemudian ia menjadikannya kebiasaan.
 
4. Jangan lakukan kesalahan. Korupsi sering bermula dari kesalahan, termasuk kesalahan administrasi yang kecil. Kesalahan administrasi sederhana bisa membuat perusahaan terancam denda yang besar. Kesalahan penulisan tanggal dokumen saja, misalnya, bisa membuat perusahaan terancam denda milyaran rupiah. Tentu saja hal ini menjadi sesuatu yang sangat menyakitkan bagi manajemen. Kalau sudah begitu perusahaan akan mencoba mencari cara untuk menghindar. Salah satunya adalah dengan menyuap.
 
5. Jangan berdalih diperas. Perusahaan sering berdalih bahwa pihaknya diperas oleh aparat. Kalau tidak membayar maka urusan tidak selesai. Dalam sebagian kasus itu memang benar terjadi. Tapi tidak sedikit perusahaan yang menikmati pemerasan itu. Dengan dalih “pemerasan” mereka menikmati proses cepat di luar prosedur, atau memperoleh izin yang seharusnya tak boleh keluar, dan sebagainya.
 
6. Jangan buat rencana mendadak. Juga jangan ubah rencana secara mendadak. Aparat pemerintah punya standar waktu dalam melakukan pekerjaan. Perusahaan sering meminta agar standar waktu itu dilanggar, karena kebutuhan mereka sudah mendesak. Kenapa mendesak? Biasanya karena perencanaan yang buruk. Misalnya, ada jadwal pengiriman yang sudah ditentukan, tapi pihak purchasing terlambat menerbitkan PO. Jadwal pengiriman barang jadi sangat ketat, sehingga proses custom clearance harus dipercepat. Untuk mempercepat biasanya mereka berusaha menyogok petugas.
 
7. Jangan terlalu dekat dengan aparat. Jangan jalin hubungan pribadi. Hubungan kita dengan aparat pemerintah adalah hubungan dalam rangka pekerjaan. Jangan ubah hubungan itu jadi pertemanan pribadi. Orang biasanya sengaja membangun hubungan pribadi, mengajak makan atau bermain bersama. Harapannya bila nanti ada masalah dalam pekerjaan, akan mudah diselesaikan melalui hubungan pribadi yang baik. Meski tidak otomatis menjadi korupsi, hubungan semacam ini adalah pintu masuk bagi terjadinya kegiatan korupsi.
 
Mungkin masih banyak lagi upaya yang bisa kita lakukan untuk melawan korupsi. Intinya, korupsi tidak terjadi hanya karena aparat korup. Korupsi terjadi karena pihak pengguna layanan pemerintah juga korup. It takes two to tango.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *