Monthly Archives: February 2018

Islam di Eropa dan Amerika

Bagaimana keadaan Islam di Eropa dan Amerika? Jawabannya tergantung cuaca. Kalau lagi mau menyalahkan orang Kristen, jawabannya: Islam di sana ditekan dan ditindas. Bangun mesjid nggak boleh. Pakai jilbab nggak boleh. Dimusuhi, dipersekusi, dipinggirkan, dizalimi.

Tapi kalau lagi mau bicara soal optimisme masa depan Islam, jawabannya: Islam berkembang pesat di sana. Mesjid-mesjid dibangun, orang-orang setempat banyak yang tertarik pada Islam dan menjadi muallaf.

Kalau dikonfrontir, katanya ditekan, tapi kok banyak mesjid? Jawabannya, itulah hebatnya Islam. Meski ditekan, tetap tumbuh.

Jawaban yang lebih objektif, kondisinya memang bervariasi. Masyarakat Eropa-Amerika memang berbeda-beda sikapnya terhadap Islam. Ada yang bersahabat, ada yang memusuhi. Ada yang sampai sangat anti.

Apakah boleh membangun mesjid? Boleh. Tentu saja dengan berbagai ketentuan perizinan. Di sana soal ini dijaga ketat. Semua bangunan diperlakukan sama. Tidak ada tawar menawar cincai.

Apakah orang Islam diterima? Iyalah. Kalau tidak, tentu tidak akan terjadi arus imigrasi besar-besaran dari Afrika maupun Timur Tengah. Tidak hanya diterima sebagai warga biasa, tapi juga diterima sebagai warga negara secara utuh dengan segenap hak dan kewajibannya. Maka, kita saksikan Walikota London itu muslim. Bayangkan, walikota sebuah ibukota negara. Duta besar Inggris untuk Indonesia juga muslim. Walikota Rotterdam juga muslim. Masih banyak lagi contoh, di mana muslim diberi kesempatan luas.

Tidak hanya dalam politik, tapi juga sains. Tiga muslim penerima Hadiah Nobel di bidang sains, yaitu Abdus Salam, Ahmaed Zewail, dan Abdul Aziz Sancar, semuanya berkiprah di Eropa dan Amerika. Salam di Italia, Zewail dan Sancar di Amerika. Mereka diterima, dan mendapat dukungan dana riset secara penuh, sama seperti ilmuwan lain.

Tapi kenapa ada tindakan permusuhan? Karena memang masih ada yang memusuhi. Tapi kalau mau dilihat secara total, kelompok itu bolehlah dianggap minor saja. Lho, bukankah adminstrasi Trump ini sangat anti Islam? Salah. Lebih tepat disebut anti imigran. Mau Islam, Kristen, Hindu, Buddha, sama saja. Kawan saya orang Kristen di Amerika pun mengeluh soal tidak ramahnya pemerintah sekarang.

Selain soal itu, banyak orang Islam, termasuk yang sudah jadi imigran, yang tidak paham sekularisme yang menjadi tulang punggung kehidupan sosial di sana. Sekuler itu memisahkan agama dengan negara. Banyak orang Islam yang ingin dilayani negara dalam soal agama. Itu tidak akan mereka dapatkan.

Ada kejadian-kejadian permusuhan. Orang-orang yang membenci memamg akan terus membenci. Tapi kejadian-kejadian yang indah juga banyak. Temansaya di Belanda bercerita soal gereja yang dipinjamkan untuk dipakai salat tarawih. Di Amerika juga ada kejadian serupa, gereja dipakai untuk salat Jumat.

Nah, tinggal pikiran kita, mau fokus ke mana. Kalau fokusnya kebencian dan permusuhan, maka kita punya banyak bahan untuk mengatakan bahwa Eropa dan Amerika itu anti Islam. Tambahi lagi dengan catatan bahwa mereka itu Kristen. Pantas, kan? Karena Kristen memang selalu memusuhi Islam.

Tapi kalau kita mau fokus ke perdamaian dan kasih sayang, ada begitu banuak fakta yang mendukung bahwa Islam diterima dengan kasih sayang di Eropa dan Amerika.

Nah, Anda mau yang mana?

Antara Pelakor dan Pemurtadan

Teman saya, seorang perempuan, sangat keberatan dengan istilah “pelakor” yang sempat populer beberapa waktu yang lalu. Bagi yang belum tahu, “pelakor” singkatan “pengambil laki orang”. Ini julukan untuk perempuan yang menikah dengan laki orang, atau sekadar berselingkuh saja dengan laki orang.

Teman saya tadi keberatan karena istilah itu tidak adil, khususnya bagi perempuan. Kesannya, pelakor itu merebut laki orang. Karena direbut, laki-lakinya pasif. Ia menjadi semacam sosok tak berdaya, diperebutkan antar wanita. Ia tidak melakukan apa-apa.

Faktanya, yang sering terjadi dalam kasus begitu adalah laki-lakinya aktif mencari perempuan selain istrinya. Pada saat yang sama, ada perempuan yang mau. Jadi ini soal hubungan mau sama mau, bukan sesuatu yang direbut. Laki-lakinya aktif. Bahkan tak jarang laki-lakinya tidak sekadar aktif, tapi agresif.

Tidak adilnya, ada julukan negatif kepada perempuan, sementara laki-lakinya aman tentram tanpa diberi julukan. Bahkan ia dikesankan pasif tadi.

Ceritanya mirip dengan cerita orang pindah agama. Istilahnya murtad. Yang dipakai adalah istilah pemurtadan, dimurtadkan. Banyak yang memakai istilah itu, ketimbang murtad sebagai kata kerja intransitif.

Memurtadkan, atau pemurtadan, seakan menyatakan bahwa seseorang itu keluar dari agamanya, karena tindakan pihak lain. Subjeknya sendiri pasif. Kalau disebut murtad, maka subjeknya sendiri aktif. Ia melakukan, dan ia bertanggung jawab. Dalam hal memurtadkan atau pemurtadan, kesannya ia hanya korban.

Mengapa orang murtad? Alasannya macam-macam. Banyak kasus orang pindah agama karena pernikahan. Ada pula yang pindah agama karena pergaulan, atau karena peristiwa-peristiwa yang ia alami. Ada juga yang pindah karena merasa cocok dengan ajaran agama baru.

Dalam hal pemurtadan, biasanya digambarkan orang dengan ekonomi lemah, ditawari iming-iming harta, atau sekadar sembako, agar pindah agama. Ia sendiri tidak hendak pindah. Tapi karena terdesak oleh kebutuhan hidup, ia pindah agama.

Masuk akalkah itu? Maksud saya, tentu ada orang yang hidupnya sangat sulit. Tapi orang yang pindah agama karena materi, agak sulit bagi saya untuk memahaminya.

Bagaimana mungkin ada pemuka atau pengurus agama membayar orang untuk masuk ke agamanya? Kalau ada, itu sungguh konyol. Untuk apa? Toh dia tidak tahu orang itu benar-benar mengimani ajaran agama itu atau tidak. Jadi, apa perlunya?

Yang mungkin adalah, tentu saja, seseorang pindah agama karena ia sendiri memang ingin pindah. Atau, ia sebenarnya tidak beriman pada apapun. Tidak pada iman lama, juga tidak pada iman baru. Yang ia lakukan adalah pindah agama secara formal saja.

Ini poin penting yang harus kita garisbawahi. Banyak orang beragama tapi tak beriman. Ia beragama karena orang tuanya beragama. Demikian pula orang sekitar dia. Dalam KTP pun ia harus mengisi kolom agama. Maka ia memilih suatu agama. Tapi kita tidak bisa menyebutnya beriman. Artinya, ketika ia pindah agama pun, sebenarnya ia tak begitu tepat disebut murtad.

Kemungkinan lain, orang yang merasa nyaman dengan pelayanan yang diberikan oleh umat agama lain. Ia menemukan kedamaian, kemudian memilih untuk pindah. Pindah tetap merupakan keputusan dia sendiri. Ia memilih untuk pindah. Ia murtad, bukan dimurtadkan. Bukan mengalami pemurtadan.

Istilah ini dipakai untuk membangun prespektif korban. Ada orang-orang yang tidak sanggup memberikan pelayanan yang diberikan umat lain, kemudian membangun citra bahwa umat sebelah sana itu jahat, dan yang pindah itu hanyalah korban saja.

Bagi saya tidak ada pemurtadan, atau orang dimurtadkan. Yang ada hanyalah orang murtad.