Monthly Archives: May 2017

Kebebasan Beragama dalam Ruang Konstitusi

Ada hal yang harus diluruskan soal kebebasan beragama dalam konteks konstitusi kita. Kalau tidak, ini akan ditunggangi oleh begundal-begundal yang hendak menjadikan NKRI ini negara syariah. Mereka pakai dalih, kebebasan itu diatur oleh konstitusi, untuk melakukan tindakan-tindakan inkonstitusional.
 
Apa persoalan substansial di sini? Definisi agama. Konstitusi tidak memakai definisi agama dalam pengertian definsi kaffah sebagaimana yang mereka anut.
 
Orang-orang itu memakai definisi kaffah. Semua amal dalam Islam itu adalah ibadah. Maka, apapun pelaksanaan agama, bagi mereka adalah ibadah yang dilindungi oleh UUD. Itu klaim mereka.
 
Konsekuensinya apa? Mereka akan bilang, memakai hukum pidana Islam itu ibadah bagi kami. Maka, itu juga dilindungi oleh UUD. Apakah memakai hukum pidana Islam di NKRI ini dibenarkan oleh UUD? Tidak!
 
Maka, kembalikan pada definisi, kebebasan apa yang dijamin oleh UUD kita. Ibadah apa yang diperkenankan? Ini hanya dibatasi dalam pengertian ibadah ritual. Anda mau salat, itu hak Anda. Urusan zakat, haji, dan sebagainya, itu hak Anda, dijamin oleh UUD. Bahkan, pemerintah ikut memberi fasilitas.
 
Tapi kalau Anda mau berjihad melawan orang kafir, itu tidak disediakan wadahnya dalam konstitusi kita. Kenapa? Konstitusi kita tidak mengenal istilah kafir.
 
Negara ini adalah wadah bagi bermacam umat beragama. Maka, ibadah yang tidak bersinggungan dengan umat lain, silakan. Tapi kalau bersinggungan, pelaksanaannya harus tunduk pada hukum negara.
 
Contoh. Bagi orang Islam minuman keras itu haram. Maka, cukuplah mereka tidak minum. Namun, bagi orang-orang kaffah tadi, itu tidak cukup. Bagi mereka, mencegah orang lain minum minuman keras adalah ibadah. Wait, wait. Ibadah macam begini, tidak ada tempatnya dalam wadah NKRI.
 
Umat agama lain tidak mengharamkan minuman keras. Lagipula, pertimbangan yang dipakai pemerintah dalam hal ini bukan (semata) pertimbangan agama. Pemerintah punya pertimbangan sendiri. Karena itu, untuk minuman keras tadi, aturannya tidak spesifik mengacu pada ajaran agama tertentu. Pemerintah tidak melarang minuman keras, hanya mengatur peredarannya saja.
 
Maka tidak boleh ada orang yang melarang, menghalangi, orang yang hendak mengkonsumsi atau menjual minuman keras, dengan alasan itu ibadah dia. Tidak boleh!
 
Karena itulah Rizieq dulu dipenjara, ketika anak buahnya merusak cafe-cafe yang menjual minuman keras. Rizieq menganggap perusakan itu ibadah. Tapi bagi konstitusi dan hukum kita, itu tindak kriminal.
 
Paham?

Pengeluh Bermental Korban

Ketika saya membahas soal etos kerja buruh, ada yang komentar. Kata dia, buruh-buruh kurang produktif, rendah motivasi, tidak giat, dan lain-lain, itu karena mereka diperlakukan tidak adil. Orang yang bekerja baik, rajin, dan tekun, tetap saja tidak mendapat penghargaan yang layak. Yang naik pangkat biasanya yang dekat sama atasan.

Penulis komentar mengaku kesimpulan itu dia dapat dari interaksi dengan buruh. Saya tanya? Anda sebagai apa? Jawabnya berputar-putar tak jelas.. Tapi akhirnya terjawab, dia buruh juga.

Saya juga buruh, kok. Tapi saya melihat dunia dengan cara berbeda. Perusahaan bekerja dengan sistem. Perusahaan membutuhkan orang-orang baik untuk memimpin. Maka disiapkanlah sistem pembinaan, penilaian, dan promosi. Perusahaan dengan manajemen baik, membuat sistem transparan. Orang-orang diperlakukan dengan adil.

Artinya, orang yang bekerja baik akan mendapat imbalan dan penghargaan yang baik. Itu rumus umum.

Tidak adakah kasus di mana orang dizalimi? Ada. Tapi itu kasus minor saja. Ada juga perusahaan dengan sistem manajemen yang buruk. Artinya apa? Kalau Anda kebetulan dizalimi, atau berada di sebuah sistem manajemen yang buruk, Anda sebenarnya bisa pindah. Anda terhubung dengan pasar bebas tenaga kerja. Kalau Anda sebutir intan yang kebetulan berada di comberan, Anda tinggal keluar dari situ, hijrah, dan Anda akan segera menemukan tempat yang pantas buat Anda.

Masalahnya, apakah Anda sebutir intan? Kalau Anda terus berada di kubangan comberan, carilah cermin untuk melihat diri Anda sendiri. Jangan-jangan Anda cuma sebuah kerikil kotor.

Menyalahkan pihak lain adalah cara berpikir dengan sudut pandang korban. “Saya ini dizalimi. Sudah bekerja dengan baik, tapi tidak dihargai, karena saya berada di sistem yang buruk. Apa boleh buat. Terima saja nasib saya. Memang takdir saya begini. Semoga Tuhan segera mengeluarkan saya dari sini. Semoga yang menzalimi saya kelak mendapat azab.”

Banyak orang betah bertahun-tahun berada dalam situasi itu. Keadaan itu menjadi zona nyaman baginya. Ironis bukan? Zona nyaman tapi sangat tak nyaman. Zona nyaman memang tak selalu nyaman. Orang bertahan di situ bukan karena nyaman, tapi karena takut menghadapi keadaan di luar zona itu. Ia takut untuk mengeluarkan tenaga lebih, yang diperlukan untuk membongkar tembok yang membatasi dirinya dengan dunia luar.

Seperti ia ungkap tadi, yang mendapat promosi adalah orang yang dekat dengan atasan. Apakah orang yang dekat dengan atasan itu buruk? Dalam kaca mata korban, yang dekat dengan atasan itu adalah orang yang pandai menjilat, lalu membangun hubungan kroni atau nepotis. Itu hal buruk.

Tapi kita bisa melihat keadaan dekat dengan atasan itu dari sudut pandang lain. Seseorang yang dekat dengan atasan, disukai atasan, artinya ia pandai berkomunikasi. Ia menjaga kepantasan perilaku. Ia pandai menempatkan diri. Singkatnya, ia pandai menjalin hubungan antar manusia.

Itu semua adalah keterampilan, yang tidak dimiliki oleh si pengeluh bermental korban tadi. Ketimbang memeriksa dan memperbaiki diri, ia memilih untuk mengeluh. Karena itu, ia tak beranjak dari tempatnya berada.

Dalam kasus lain, pernah seorang teman menulis tentang seorang gadis cantik. Dengan parasnya, ia segera diterima bekerja. Dalam sekejap, ia disenangi banyak orang. Siapa yang tak senang dengan gadis cantik, bukan? Dalam tempo yang tak lama, karirnya melesat naik. Ia adalah gadis yang beruntung, atau hoki. Begitu teman saya tadi menggambarkannya.

Hoki adalah konsep zona nyaman. Seseorang berhasil karena hoki. Iakebetulan memiliki sesuatu yang menguntungkan dirinya. Keberhasilan adalah sebuah kebetulan. Saya tidak berhasil karena kebetulan saya tak memiliki faktor hoki tadi.

Dengan pikiran itu kita gagal mempelajari kunci-kunci yang membuat orang sukses. Kebetulan, kan? Yang bisa kita lakukan hanyalah menunggu sampai kebetulan yang menguntungkan datang pada kita. Tak ada hal lain yang bisa dilakukan.

Tapi kita bisa melihat cerita gadis cantik tadi dengan cara lain . Pertama, ia menyadari keunggulannya. Ia cantik dan ia sadar. Ada begitu banyak gadis cantik yang tak sadar soal itu. Sebenarnya ia cantik, tapi tak berdandan dengan pantas, untuk membuat kecantikannya terlihat.

Kedua, ia nerperilaku pantas. Tak semua gadis cantik itu menyenangkan. Ada banyak yang menjengkelkan, karena ia pongah. Ketiga, ia bisa melakukan pekerjaan. Gadis cantik yang sekedar punya kecantikan, tak menyelesaikan masalah. Gadis cantik yang tak punya hal lain yang bisa dipakai untuk menyelesaikan masalah, sungguh menjengkelkan.

Artinya, dalam sudut pandang positif, gadis cantik yang melesat karirnya adalah orang yang sadar kecantikannya, dan ia membuat orang nyaman bekerja bersamanya, komunikatif, dan bekerja baik.

Maka, darinya kita bisa belajar bagaimana menemukan keunggulan-keunggulan kita, dan memanfaatkannya untuk bekerja. Kita membangun komunikasi yang baik, dan bekerja dengan baik, menyelesaikan setiap masalah yang dibebankan pada kita.

Lihatlah, bagaimana sudut pandang bisa membuat dunia menjadi tampak sangat berbeda. Berhentilah mengeluh dan menyalahkan pihak lain Perbanyaklah evaluasi diri. Tingkatkan keterampilan dan keahlian. Bangun hard skill dan soft skill.

Kata Covey, kalau kau selalu melihat masalah ada di luar dirimu, ada pada pihak lain, makau kamu adalah orang yang paling bermasalah.