Monthly Archives: April 2017

Hadits Palsu dan Politisasi Islam

Hadits adalah perkataan atau perbuatan nabi Muhammad yang disampaikan secara verbal antar generasi. Hadits baru dikumpulkan dan ditulis secara sistematis beberapa abad setelah wafatnya nabi Muhammad.

Pola periwayatannya, dalam suatu peristiwa nabi mengatakan sesuatu. Perkataan itu didengar banyak orang, beberapa orang, atau satu orang. Pendengar menceritakannya kepada orang lain. Orang-orang itu kemudian menyampaikannya lagi. Dengan cara itulah hadits tersebar.

Perkataan nabi yang didengar banyak orang, kemudian diteruskan kepada banyak orang, disebut hadits mutawatir. Karena sejumlah orang tidak mungkin berdusta bersama maka hadist mutawatir dianggap otentik, atau sahih. Jumlah hadits mutawatir ini relatif sedikit, dibanding jumlah hadits secara keseluruhan.

Bila perkataan atau perbuatan nabi hanya disaksikan oleh satu atau sedikit orang, maka hadits itu disebut hadits ahad. Hadits ahad ini dibagi dalam beberapa kategori. Bila rantai penyampai hadits (sanad) itu terdiri dari orang-orang dengan reputasi baik, maka hadits dianggap sahih (otentik). Bila dalam rangkaian itu ada yang kurang baik reputasinya, maka hadits itu dianggap lemah atau dhaif.

Di bawah itu ada hadts yang derajatnya maudhu, atau palsu. Ini hadits yang tidak bisa dilacak jalur riwayat sanadnya yang terhubung langsung dengan nabi. Dipastikan, atau kuat dugaan, itu adalah perkataan seseorang, mengatas namakan nabi.

Kenapa ada orang yang membuat hadits palsu? Ini bagian menariknya. Salah satu penyebab utama munculnya hadits palsu adalah politik. Dunia Islam sejak awal sejarahnya sudah diwarnai oleh konflik politik.

Tak lama setelah nabi wafat, sudah terjadi friksi. Orang-orang Madinah (anshar) berkumpul untum menetapkan pemimpin, pengganti nabi. Mendengar itu, Umar dan Abu Bakar mendatangi mereka, mencegah jangan sampai orang anshar yang dipilih. Akhirnya mereka berhasil meyakinkan orang-orang anshar, lalu terpilihlah Abu Bakar. Ali, menantu dan sepupu nabi tidak dilibatkan. Dia sempat marah ketika itu, tapi kemudian bersikap legawa, sehingga konflik tidak meluas.

Ketika Usman jadi khalifah, wilayah kekuasaan sudah meluas. Berbagai kepentingan muncul. Sisa bara friksi tadi juga belum padam. Lalu terjadilah pemberontakan. Usman kemudian terbunuh.

Ali naik menghamtikan Usman. Perpecahan terus terjadi. Aisyah, janda nabi, memberontak. Terjadilah Perang Unta. Aisyah bisa ditaklukkan Ali. Tapi Muawiyah, kerabat Usman, anak Abu Sufyan, menantang. Pecahlah Perang Shiffin.

Sempat terjadi rekonsiliasi setelah perang itu, tapi sifatnya palsu. Kekuasaan Ali sudah dilemahkan. Ia kemudian dibunuh oleh golongan Khawarij, faksi lain di luar faksi Ali dan Muawiyah. Muawiyah kemudian mengambil alih kekuasaan. Lalu ia membangun dinasti Umayyah.

Dalam konflik itulah muncul hadits-hadits palsu. Orang berlomba-lomba membuat pembenaran. Masing-masing merasa pihak yang (paling) benar, dan mencari stempel pembenaran. Dari mana stempelnya? Dari nabi.

Pada zaman itu orang sudah tahu bahwa nama Tuhan punya kekuatan besar kalau dipakai berpolitik. Tapi firman Tuhan tak bisa dipalsukan. Yang bisa dipalsukan adalah sabda nabi, karena belum ada buku catatannya. Maka lahirlah hadits-hadits palsu.

Bisakah Anda bayangkan? Ada orang yang denga enteng berdusta, atas nama nabi. Dari mana sumber energi untuk berdusta itu? Nafsu untuk berkuasa. Itu sudah san abad yag lalu, di masa awal sejarah Islam.

Itu terus berlangsung. Orang terus berdusta untuk mencapai kekuasaan. Mereka menciptakan fakta-fakta palsu, di bawah naungan nama Tuhan dan nabinya, atas nama membela Islam. Seperti belasan abad yang lalu, memakai nama Tuhan sangat efektif untuk membuat sekelompok manusia percaya.

Jadi, kalau perkataan nabi saja bisa dipalsukan untuk politik, sekedar hoax, dusta, itu hal kecil saja. Demikian pula dengan tafsir-tafsir palsu atas ayat-ayat Quran. Semua bisa dibuat demi kepentingan politik.

Iman, Kebencian, dan Hilangnya Akal Sehat

Menolak reklamasi Teluk Jakarta? Saya menolak. Alasan saya, soal lingkungan. Bagaimanapun juga, pengubahan lingkungan secara radikal akan mengubah ekosistem. Meski ada perhitungan begini dan begitu, tetap saja ada hal yang luput dari perhitungan manusia.

Alasan lain? Soal keadilan. Ada banyak nelayan yang kehilangan laut, karena laut mereka kini ditimbun tanah, menjadi pulau. Sementara mereka tidak menikmati keuntungan dari pulau itu.

Itu adalah alasan-alasan bernalar untuk menolak reklamasi. Tentu semua itu bisa diperdebatkan, dengan data dan asumsi-asumsi. Soal nalar selalu bisa diperdebatkan.

Tapi ada penolakan yang tak lagi bisa diperdebatkan, karena alasannya tak lagi berdasar nalar. Lantas, berdasar apa? Ilusi. Ada orang-orang yang percaya bahwa reklamasi itu dilakukan oleh pengembang Cina. Hasilnya nanti akan dijual kepada orang-orang Cina. Ini sebagai salah satu langkah orang-orang Cina untuk menguasai Indonesia.

Cukup? Belum. Cina-cina itu tidak hanya pindah ke Indonesia. Mereka punya skenario yang lebih parah. Pulau-pulau reklamasi itu akan dijadikan basis perdagangan narkoba yang diimpor dari Cina. Narkoba ini akan dipakai untuk merusak bangsa Indonesia.

Strategi ini tentu saja paralel dengan yang sudah berjalan, yaitu mendatangkan 10 juta buruh Cina. Mereka inj sebenarnya bukan buruh biasa. Mereka adalah tentara Cina yang menyamar. Pada saatnya nanti mereka akan menghancurkan Indonesia dari dalam, ketika Cina menyerang secara terang-terangan.

Kenapa semua ini bisa terjadi? Karena Presiden Jokowi adalah antek Cina. Dia adalah orang Cina yang pura-pura jadi Jawa. Ia pemimpin agen-agen Cina yang akan merusak Indonesia, untuk kemudian dijajah.

Anda mungkin akan bertanya, orang bodoh mana yang percaya pada cerita itu? Yang percaya bukan hanya orang-orang yang pendidikannya rendah. Tak sedikit dari mereka itu yang berpendidikan tinggi, termasuk doktor lulusan luar negeri.

Kenapa bisa begitu?

Sebab pertamanya, iman. Dengan iman orang dilatih untuk percaya pada hal-hal yang tak logis. Betapapun logisnya seseorang, ia akan menyediakan ruang untuk percaya pada sesuatu yang tak logis, kalau dia beriman.

Dalam agama, ada begitu banyak dongeng yang dipercaya begitu saja, dianggap kejadian nyata, dan dijadikan dasar untuk berpikir. Dongeng dijadikan pedoman. Orang-orang yang “terlatih” untuk berpedoman pada dongeng, tidak lagi menajamkan nalarnya ketika mendengar cerita tadi. Mereka cenderung menerima.

Tapo, cerita tadi kan bukam soal agama. Betul. Celakanya, cerita tadi sering disampaikan dalam forum-forum agama, baik secara verbal, maupun lewat tulisan-tulisan di media sosial. Disampaikan oleh orang-orang yang dipercayai sebagai pemimpin agama. Karena itu informasinya diperlakukan sebagai informasi suci.

Itu baru satu komponen. Komponen lainnya adalah kebencian. Sejak dulu ada orang-orang yang dibuat begitu benci pada Cina, Kristen, dan Komunis. Saking bencinya, satu entitas yang mereka benci, bisa menyandang tiga identitas itu sekaligus. Belakangan ini ditambah satu lagi, Syiah.

Kebencian semakin mematikan sensor nalar. Maka cerita yang paling tidak masuk akal pun, akan dipercaya. Tak heran, misalnya, ada orang yang sampai dituduh Syiah, padahal dia Kristen.

Gejala kematian akal sehat ini terasa menguat, sejak pilkada 2012. Ia semakin menguat pada pilpres 2014. Lalu menjadi semakin kuat pada pilkada yang baru lalu.

Bagi saya, pemilu, pilkada, apapun hasilnya, bisa saya terima. Tapi kebodohan dan pembodohan macam ini, sungguh mengerikan. Orang-orang yang mati nalar, bisa berbuat apa saja, termasuk hal-hal yang mengerikan.

Masalahnya, kapan ini akan berakhir? Sepertinya masih belum. Karena ada orang-orang yang memetik keuntungan dari kebodohan ini. Dalam politik, orang-orang bodoh ini disebut useful idiots.

Kilang Minyak untuk Kedaulatan Energi

Setiap kali pemerintah menaikkan harga BBM selalu muncul pertanyaan awam, mengapa BBM jadi masalah di negeri ini? Bukankah kita ini negara penghasil minyak? Kenapa harga BBM di negara kita tidak bisa murah seperti di negara-negara Arab sana? Masih sangat banyak orang yang tidak paham bagaimana minyak mentah diproses sampai menjadi bahan bakar yang siap pakai.

Minyak mentah yang disedot dari perut bumi di berbagai sumur minyak terdiri dari berbagai jenis molekul hidrokarbon, pada dasarnya tidak bisa dipakai langsung. Minyak ini harus dipisahkan menjadi berbagai komponen, melalui proses penyulingan, atau refinery, yang dilakukan di kilang minyak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pada proses penyulingan, minyak mentah dipanaskan. Minyak mentah terdiri dari berbagai komponen hidrokarbon, yang memiliki titik didih yang berbeda. Molekul-molekul dengan titik didih berbeda akan terpisah seperti digambarkan pada diagram di atas. Di bagian atas dihasilkan gas, antara lain dikenal sebagai LPG, yang biasa kita pakai sebagai bahan bakar. Bahan lain yang dihasilkan adalah naptha, yaitu bahan kimia dasar yang kemudian diolah menjagi berbagai produk petrokimia seperti plastik. Lalu ada pula berbagai jenis BBM, yaitu bensin, solar, dan minyak tanah. Bahan-bahan dengan molekul yang lebih berat menjadi pelumas dan aspal.

Indonesia memang penghasil minyak, yaitu minyak mentah tadi. Tapi kita boleh dibilang bukan penghasil BBM, karena kilang minyak kita sedikit. Yang kita lakukan adalah mengekspor minyak mentah, tapi pada saat yang sama kita mengimpor berbagai jenis produk BBM, yang dihasilkan dari berbagai kilang di luar negeri. Ibaratnya, kita menjual padi hasil panen di sawah, kemudian kita membeli beras.

Impor BBM kita memerlukan biaya besar. Karena harga yang mahal, selama ini pemerintah memberi subsidi, agar harga BBM tetap bisa terjangkau oleh orang banyak. Tapi lama-lama subsidi ini menjadi beban yang tak ringan, sehingga akhirnya pemerintah secara bertahap menguranginya.

Apakah kita tidak punya kilang penyulingan minyak? Punya. Pertamina, sebagai BUMN terbesar, dibebani tanggung jawab untuk mengelolanya. Artinya, Pertamina punya peran yang sangat strategis dalam menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi, karena yang dikelolanya adalah produk yang sangat vital bagi ekonomi bangsa. Masalahnya, kilang yang selama ini sudah ada masih sangat kurang.

Saat ini kilang yang kita miliki punya kapasitas terpasang sebesar 1050 MBPD (juta barrel per hari). Namun karena harus ada perawatan dan sebagainya, kapasitas operasinya hanya 850-900 MBPD. Padahal kebutuhan nasional kita adalah 1600 MBPD. Artinya, masih sangat kurang. Karena itu kita terus menerus tergantung pada pasokan BBM impor. Situasi ini kurang tepat bila dilihat dari sudut pandang kedaulatan dan kemandirian energi yang merupakan amanat Nawacita.

Untuk menyelesaikan masalah itu, Pertamina telah menyiapkan 4 proyek refinery, melalui program Refinery Development Master Plan (RDMP), yaitu di Balikpapan, Balongan, Cilacap, dan Dumai. Berdasarkan perhitungan, keempat kilang itu akan cukup untuk memenuhi kebutuhan 1600 MBPD tadi, pada tahun 2023.

Tapi ingat, selama proses pembangunan, ekonomi kita juga tumbuh. Artinya, kebutuhan bahan bakar juga akan tumbuh. Dengan asumsi pertumbuhan ekonomi 5,5-5,8% per tahun, diperkirakan kebutuhan kita akan meningkat menjadi 2200 MBPD. Untuk menutup kebutuhan itu Pertamina juga telah menyiapkan proyek refinery New Grass Root Refinery (NGRR) di Tuban dan Bontang, masing-masing dengan kapasitas produksi 300 MBPD.

Dengan rencana ini, diharapkan kebutuhan tadi bisa terpenuhi, dan kita tak lagi tergantung pada BBM impor. Ini adalah langkah strategis untuk menjamin kedaulatan negara, khususnya di bidang energi.

 

 

 

 

 

 

Media Sosial, untuk Apa?

Tahun lalu dalam kunjungan ke Jepang, saya bertemu dengan seseorang yang sudah agak tua, usianya 60 tahun lebih. Sambil makan malam, obrolan kami masuk ke bahasan soal media sosial. Orang ini tidak punya akun media sosial apapun. Ia heran dengan orang yang main media sosial.
 
“Kenapa saya harus membagikan foto saya saat makan, atau bepergian, untuk dilihat orang lain?” tanyanya heran. Saya tak heran dengan pertanyaan itu. Ada begitu banyak orang yang heran dengan perilaku manusia di dunia maya. Untuk apa itu semua?
 
Suka atau tidak, media sosial adalah kebutuhan sebagian orang. Kalau bukan kebutuhan, produk ini tidak akan jadi industri, bukan? Sebagaimana produk lain, ada yang tidak membutuhkannya. Itu pun biasa saja.
 
Tapi pertanyaan tadi penting untuk dijawab. Untuk apa kita membagikan foto saat kita makan? Atau, makanan yang kita makan. Untuk apa kita membagikan foto anak kita? Atau, foto liburan keluarga kita?
 
Jawabannya bisa beragam. Kadang kita ingin memamerkan kebahagiaan kita, atau keberadaan materi kita. Ada juga yang ingin memamerkan, dengan siapa saja dia bergaul. Baik dengan kalangan elit, maupun dengan kalangan pinggiran, keduanya ingin memamerkan. Kita sedang membangun citra diri. Ada yang mencitrakan dirinya sebagai orang sukses dan kaya, ada pula yang membangun citra sederhana. Masalah? Tidak. Membangun citra, itu hal yang biasa saja. Dalam kehidupan keseharian pun, kita sedang membangun citra.
 
Yang tidak bagus adalah membangun citra palsu. Orang miskin berlagak kaya. Korup, tapi sok suci. Atau, membangun citra yang berlebihan. Kalau isi media sosial Anda hanya pamer kekayaan, apakah Anda tidak punya hal lain dalam hidup?
 
Tapi tidak sedikit orang yang sekadar menjadikan media sosial sebagai tempat berbagi kabar dengan teman, atau sanak saudara. “Kami sedang berkunjung ke sini, lho.” Atau,”Kami sedang melakukan ini, lho.”
 
Ada pula yang menggunakan media sosial untuk mempengaruhi orang lain. Ia melakukan propaganda. Propaganda bisa positif, bisa pula negatif secara absolut, bisa pula secara relatif. Tujuan propaganda adalah untuk menggiring orang pada suatu pemikiran, nilai, atau bahkan untuk bertindak.
 
Propaganda dengan mudah bisa kita temukan di media sosial. Bahkan, mungkin ini salah satu komponen terbesar media sosial kita. Propaganda politik, agama, kepentingan golongan. Hal terpenting pada propaganda adalah, ia tidak begitu mementingkan basis fakta, atau kebenaran. Yang penting adalah bagaimana menggiring orang.
 
Ada begitu banyak pengguna media sosial yang ambil bagian dalam permainan propaganda. Ingat, kunci terpenting pada media sosial adalah pada peran para pengguna. Suatu muatan tidak akan bermakna kalau tidak diteruskan secara massal, menjadi viral. Kekuatan media sosial bukan sekedar pada pembuat muatannya, tapi justru pada penyebarnya.
 
Tanpa disadari, banyak orang yang menjagi bagian sebuah propaganda. Ikut menyebar sesuatu, yang ia sendiri mungkin tidak tahu. Korban propaganda, mencari korban lain.
 
Sebaiknya bagaimana? Tetapkanlah nilai, lalu bermainlah di dunia sosial media berdasar nilai itu. Lebih penting lagi, jadikan media sosial sebagai tempat untuk mengevaluasi nilai-nilai yang kita anut. Persis seperti saat bergaul di dunia nyata, di mana kita hidup dengan nilai, Dalam interaksi, kita mengubah nilai kita, atau membuat orang lain mengubah nilainya.
 
Dalam media sosial, saya banyak membuat posting tentang nilai yang saya anut, misalnya soal ketertiban sosial, kebersihan lingkungan, good governance, self development, toleransi, pendidikan, kehangatan keluarga, dan sebagainya. Saya posting foto makanan, kemudian saya berbagi pengetahuan tentang makanan itu, resep, tempat kuliner, atau seluk beluk lain terkait dengannya. Demikian pula saat liburan, saya berbagi informasi tentang tempat liburan, serta nilai tentang bagaimana kehangatan keluarga saat liburan.
 
Tapi, seperti saya ungkap di atas, saya juga narsis, membangun citra, pamer dan sebagainya. Hal-hal yang biasa dilakukan banyak orang di media sosial.
 
Ingat, media sosial adalah tempat di mana orang bisa melihat kita. Apa yang ingin kita perlihatkan? Dalam istilah keren, ini adalah tempat untuk melakukan personal branding. Maka, biasakan untuk menghasilkan dan membagikan gagasan di media sosial. Orang akan mengenal Anda melalui gagasan itu.
 
Saya menikmati hasil dari kegiatan di media sosial. Saya menjadi penulis, baik kolom maupun buku. Bahkan ada yang berminat mengumpulkan meme buatan saya menjadi sebuah buku. Saya juga diundang ceramah di banyak tempat, dengan tema yang bervariasi. Nah, penting bagi setiap orang untuk bertanya pada diri sendiri, apa yang dia hasilkan dari aktivitas media sosial.