Monthly Archives: January 2017

Taat Agama, kok Korupsi?

Ada yang bilang, orang taat agama tak mungkin korupsi. Tapi fakta menunjukkan bahwa orang taat agama seperti Luthfi Hasan, Gatot Pujonugroho, Surya Dharma Ali, dan kini Patrialis Akbar, ternyata korupsi. Orang kemudian berdalih,”Oh, itu karena mereka beragama dengan cara yang salah.”

Bagaimana beragama dengan benar? Dengan menjauhi larangan Tuhan, dan melaksanakan perintahNya. Masalahnya, Tuhan tak melarang manusia untuk korupsi. Huss, ngawur! Korupsi itu mencuri, pasti dilarang oleh Tuhan.

Itu masalahnya. Korupsi itu dalam bahasa agama belum tentu mencuri. Mencuri itu mengambil barang milik orang lain. Kalau seseorang menerima suap, ia bisa berdalih bahwa ia tidak mencuri. Ia menerima pemberian, dan ia bisa mencarikan dalil pembenarnya.

Saya hampir yakin bahwa orang seperti Luthfi Hasan atau Patrialis itu tidak akan mau mencongkel jendela rumah orang, masuk ke rumah, kemudian mengambil uang atau harta pemilik rumah. Kenapa? Mereka patuh pada ajaran Tuhan, bahwa mencuri itu haram. Tapi kenapa mereka terima suap? Karena tidak tegas adanya larangan terima suap, sebagaimana tegasnya larangan mencuri.

Agama melarang kita mengambil hak orang lain. Ya, sama seperti mencuri tadi, itu bukan hak kita tapi kita ambil. Banyak orang tak mau mencuri. Tapi sangat banyak orang beragama yang menyerobot antrean, atau memotong jalan orang saat berkendara. Kenapa? Aturan berkendara tidak diterangkan secara jelas dalam beragama. Jadi, menyerobot tidak otomatis dianggap sebagai melanggar ajaran agama.

Apa boleh buat, agama memang dirumuskan belasan abad yang lalu. Banyak hal yang kita hadapi sekarang, tidak tertera aturannya dalam agama. Tapi, kan ada ijtihad? Bah, ijtihadnya sangat ketinggalan zaman. Banyak ahli agama yang sebenarnya tak berijtihad. Mereka cuma jadi penghafal pendapat ulama belasan abad yang lalu.

Jadi, kejahatan korupsi itu tak terdaftar dengan jelas dalam daftar kejahatan versi agama. Yang sangat jelas tercatat adalah mencuri, berzina, dan minum khamar. Belakangan ini, memilih pemimpin non-muslim didaftarkan dengan catatan berhuruf tebal.

Lalu, bagaimana memberantas korupsi? Jangan berharap pada agama. Korupsi hanya bisa diberantas dengan sistem manajemen yang baik. Sistem anggaran, tata kelola, dan pengawasan ketat. Jangan berharap orang taat agama tidak korupsi. Jangan memilih orang taat agama sebagai pemimpin, dengan harapan bahwa dia tidak akan korupsi. Tidak ada rumusan itu.

Menjalani Keputusan

Membuat keputusan sering kali dianggap sebagai suatu yang sulit dan berat. Apa yang membuat kita sulit memutuskan? Resiko yang harus kita tanggung sebagai konsekuensi ddari keputusan kita. Banyak orang yang tidak menyadari bajwa sebenarnya hampir di setiap saat kita membuat keputusan. Kita tidak merasakannya, karena keputusan yang kita buat tidak punya konsekuensi yang besar.

Setiap pagi, usai mandi, kita buka lemari. Baju apa yang akan kita pakai hari ini? Di meja makan saat sarapan kita memilih, apa yang akan kita makan pagi ini? Semua itu adalah saat membuat keputusan. Kita nyaris tak merasakannya, bukan? Kenapa? Karena tak ada hal besar yang akan menjadi konsekuensinya.

Situasinya akan berbeda bila ada konsekuensi yang besar. Kita mungkin tidak akan santai memilih baju yang akan kita pakai bila siang nanti kita akan menghadiri wawancara kerja, melakukan presentasi penting, atau makan siang dengan presiden. Atau, seorang gadis mungkin akan butuh waktu beberapa jam untuk memutuskan, baju mana yang akan dia pakai untuk pergi kencan.

Saat hendak membuat keputusan kita mencoba melongok ke masa depan. Kita mencoba mencari tahu, apa akibat dari keputusan yang akan kita ambil. Sayangnya, kita tak punya mesin waktu, sehingga kita tak bisa tahu pasti soal apa yang akan terjadi. Yang bisa kita lakukan hanyalah berhitung berbasis data, yang kita refleksikan pada situasi masa depan, atau sekedar mereka-reka berdasar rasa.

Keputusan-keputusan penting dalam urusan bisnis dan kenegaraan memerlukan data yang sahih dan akurat sebagai dasar. Dengan data yang akurat dan sahih, kita bisa meramalkan dengan akurat pula apa akibat dari sebuah keputusan. Dengan begitu ketidakpastian soal akibat sebuah keputusan bisa ditekan seminimal mungkin. Dengan data yang baik, membuat keputusan akan lebih ringan.

Tapi bagaimanapun juga, data itu adalah soal masa lalu. Tak ada ramalan yang benar-benar bisa memastikan apa yang akan terjadi di masa depan. Artinya setiap keputusan pasti punya resiko, atau konsekuensi yang tak kita sukai. Itulah yang membuat banyak orang yang sulit atau enggan membuat keputusan.

Jadi, bagaimana cara mengatasi masalah itu? Pertama, ingatlah seperti ditulis di atas, setiap keputusan pasti punya risiko. Kita takut membuat keputusan yang salah. Apa itu keputusan yang salah? Yaitu keputusan yang akibatnya tidak kita inginkan. Untuk mencegahnya, kita lakukan simulasi atau refleksi akibat keputusan itu, dengan data dan analisa tadi. Sekali lagi, tidak ada jaminan soal itu.

Pada akhirnya kita memang harus memutuskan. Maka, putuskanlah. Toh, apapun yang kita pilih, apapun keputusan kita, tidak ada satupun yang konsekuensinya bergaransi. Artinya, sebenarnya sama saja, semua pilihan bisa menjadi pilihan yang buruk, setiap keputusan bisa menjadi keputusan buruk. Demikian pula sebaliknya, setiap keputusan bisa menjadi keputusan yang tepat. Jadi, putuskan, lalu jalani konsekuensinya.

Hal lain yang lebih penting adalah, membuat keputusan bukanlah bagian akhir dari sebuah proses. Sebenarnya ia adalah sebuah awal. Membuat keputusan bukan seperti memencet tombol ON pada sebuah mesin yang telah terprogram, sehingga tak ada lagi yang bisa kita lakukan setelah itu. Banyak hal yang bisa kita lakukan, atau harus kita lakukan setelah mengambil sebuah keputusan. Lebih tepat lagi, sebuah keputusan sebenarnya hanyalah satu bagian dari sebuah proses besar. Setelah itu kita akan membuat sejumlah keputusan lain sebagai rentetan dari keputusan itu.

Bagian terpenting dari sebuah keputusan sebenarnya bukan pada momen ketika keputusan itu diambil, melainkan pada tindakan untuk mengawal keputusan itu. Keputusan dibuat untuk mencapai tujuan. Yang memastikan tercapainya tujuan bukan keputusan itu sendiri, tapi tindakan untuk mencapai tujuan itu. Seorang pengusaha, misalnya, membeli truk untuk membangun bisnis logistik. Tercapai atau tidaknya tujuan bisnisnya ditentukan oleh tindakannya dalam berbisnis, bukan sekedar dari keputusan dia membeli truk.

Sebuah keputusan memerlukan banyak keputusan lain untuk memastikan ia menjadi sebuah keputusan yang tepat. Demikian pula, sebuah keputusan bisa jadi hanyalah keputusan yang diambil untuk mengawal keputusan sebelumnya. Jadi, buatkah keputusan, bertindaklah untuk mengawalnya. Lakukan tindakan-tindakan untuk memastikan bahwa keputusan itu tepat.

Sebuah keputusan bisa tepat, bisa pula tidak tepat. Bila tidak tepat, maka kita perlu membangun kondisi-kondisi untuk membuatnya jadi keputusan yang tepat. Atau, kita bisa juga mengambil keputusan lain untuk mengubahnya. Ingat, mengubah keputusan itu bukan dosa, itu hanya tindakan biasa. Bila diperlukan, ubah saja.

Tapi bagaimana bila keputusan tak mungkin diubah? Apa boleh buat, jalani saja. Carilah jalan yang membuat kita bisa menikmati sisi-sisi positif dari konsekuensi keputusan kita. Toh, kita ratapi pun tidak mengubah apapun, bukan?

Brand Yourself

Branding is learning. Banyak orang yang gagal memahami itu. Orang mengira branding atau pencitraan itu cukup dilakukan dengan memoles CV dan berakting saat wawancara. Itu salah besar!

Adapun marketing, sesekali adalah ndingkluk banting harga, yang penting bisa masuk dulu ke pasar. Setelah mendapat kepercayaan pasar, barulah kita bisa pasang harga layak. Bagaimana mendapat kepercayaan pasar? Lagi-lagi belajar, belajar, dan belajar.

Ada seorang teman, sekarang bekerja sebagai wartawan di media ternama. Ia ingin pindah kerja. Saya katakan, pindah saja. Tapi saya bisa kerja apa selain jadi wartawan? Ooo, banyak. Wartawan itu kerja di media. Maka, ia bisa bekerja sebagai media analyst, media strategist, public relation officer, bahkan marketing. Kedengaran keren, kan? Ya, keren itu karena diberi label keren, sehingga “harga”nya mahal. Tapi sekali lagi, kalau cuma keren di atas CV, itu namanya keren bodong.

Saya mengenal seseorang yang tadinya wartawan, sekarang jadi pengamat media sosial yang sudah jadi seleb, karena sering tampil di berbagai seminar dan TV. Kok bisa begitu? Sekali lagi, kuncinya belajar, belajar, belajar.

Ketika saya pulang dari Jepang tahun 2007, saya terancam jadi pengangguran. Saya kirim CV ke berbagai perusahaan, tidak ada yang mau menerima saya. Bahkan dipanggil wawancara pun tidak. Kenapa? Karena keahlian saya tidak relevan. Waktu itu mungkin tidak ada perusahaan yang membutuhkan doktor fisika dengan pengalaman riset sekian tahun. Untuk apa? Yang laku adalah sarjana teknik.

Maka masa itu adalah masa ndingkluk, alias banting harga. Kerja apa aja, yang penting dibayar. Berapa aja, yang penting ada pemasukan. Maka saya lihat pasar, dan menyesuaikan diri dengan pasar. Apa yang laku? Bukan keahlian sebagai doktor fisika, namun kemampuan bahasa Jepang. Bahasa Jepang saya tingkat mahir, Level 1. Maka akhirnya dengan kemampuan ini saya diterima kerja sebagai manager di sebuah perusahaan kecil dan baru.

Beberapa hari menjalani karir baru saya diajak makan siang oleh orang Jepang, presdir perusahaan group tempat saya bekerja. “Otakmu itu seperti jaringan elektronik. Kamu sudah punya rangkaian elektronik di situ, kalau kamu ingin fungsi baru, kamu tinggal menggantinya dengan komponen lain, maka ia akan bekerja dengan fungsi yang berbeda. Artinya, kamu sudah terbiasa belajar, dan kamu akan bisa belajar tentang apa saja.”

Saya anggap kalimat-kalimat itu nasihat, bukan pujian. Maka saya belajar-belajar-belajar. Hari-hari pertama di kantor saya bengong, tidak tahu harus berbuat apa. Saya lihat ada buku UU Ketenagakerjaan. Saya baca sampai tuntas. Itu pengetahuan pertama tentang dunia industri yang saya dapat. Berikutnya saya belajar tentang berbagai proses perizinan. Lalu dasar-dasar akuntansi, pajak, bea-cukai, ekspor-impor. Semua itu saya pahami dalam multi lingual, Indonesia-Inggris-Jepang, sehingga saya bisa menjelaskan semuanya ke pihak pimpinan di Jepang.

Setahun bekerja saya bukan lagi pendatang baru. Seluruh urusan di perusahaan manufaktur skala kecil-menengah bisa saya tangani. Maka saya pun diangkat jadi direktur. Selanjutnya saya bisa melabeli diri dengan berbagai label, sesuai kebutuhan pasar saja. Saya juga pasang label, bahwa saya siap mengembangkan perusahaan, membuka bisnis baru, karena saya punya latar belakang riset. Di sini barulah keahlian saya sebagai doktor bisa dijual. Namanya bisa dibikin keren: business development.

Jadi kuncinya cuma 2: yaitu, 1. Siap banting harga untuk bisa masuk ke pasar, dan 2. Belajar, belajar, belajar.

Then, you can brand yourself into whatever brand you like.

🙂

Ahok dan Kerumitan Masalah Pelacuran

Debat antar calon Gubernur DKI memunculkan nama Alexis. Ini adalah tempat pelacuran kelas atas. Kenapa ini muncul dalam debat? Tentu saja dalam rangka menjatuhkan Ahok. Ahok pernah mengemukakan gagasan tentang legalisssi pelacuran. Ini sebenarnya gagasan biasa. Sebagaimana nanti akan kita bahas lebih detil, soal pelacursn adalah soal pilihan antara menyediakannya secara resmi dalam suatu ruang terbatas dengan harapan bisa dipantau dan dikontrol, atau menganggapnya tak ada. Ini sebenarnya gagasan biasa dalam penanganan masalah sosial. Cuma, bagi kalangan yang merasa paling bermoral, lebih tegasnya bagi umat Islam, gagasan ini dibuat personal. Seolah Ahok itu memang penggemar pelacuran, atau mau merusak moral bangsa dengan pelacuran.

Orang-orang sering berpikir dengan jalan pintas. Bagaimana menghilangkan pelacuran? Tutup rumah bordil atau lokalisasi. Bagi mereka, selama tidak ada tempat yang terang-terangan menyediakan pelacur, maka tidak ada pelacuran. Persis sama dengan orang yang menyembunyikan sampah di bawah karpet. Selama tak ada sampah terlihat, mereka boleh merasa tenang, menganggap sampah itu tak ada.

Belasan tahun yang lalu, lokalisasi Kramat Tunggak ditutup. Orang-orang senang. Terlebih di lahan itu dibangun Islamic Center. Ismail Yusanto, tokoh HTI itu, waktu itu berkomentar di depan saya,”Inilah bagusnya Sutiyoso.” Orang gampang terhibur, dan melupakan aspek lain kalau sudah begini. Artinya, kebijakan macam begini bisa jadi bedak tebal untuk menutupi borok yang lain.

Apakah dengan ditutupnya Kramat Tunggak lantas Jakarta jadi bebas pelacur? Tidak. Bahkan berkurang saja pun tidak. Menemukan tempat pelacuran di Jakarta itu lebih mudah dibanding menemukan penjual pisang goreng. Ada yang terang-terangan, pilih langsung pakai. Ada yang berkedok panti pijat atau salon.  Belum lagi penyediaan jasa pelacuran online, serta pelacuran yang sifatnya pribadi.

Kramat Tunggak ditutup, apakah pelacurnya lantas bertobat semua? Tidak. Mereka hanya berpindah warung, ke rumah-rumah di gang sempit, atau di pinggir rel kereta. Mereka beroperasi di kawasan pemukiman, disaksikan kehadirannya oleh anak-anak. Orang-orang bermoral tadi mengabaikan fakta ini. Bagi mereka yang penting tak ada lagi tempat pelacuran resmi.

inilah beda mereka dengan Ahok. Ahok adalah orang yang tak munafik. Ia mau mengakui fakta itu, mencoba mencari solusi terbaik. Salah satunya dengan melokalisir masalahnya, sehingga mudah dipantau dan dikontrol. Tapi itu tadi, kalangan moralis langsung menuduh dia macam-macam.

Mungkinkah pelacuran dihilangkan? “Nabi pun tak sanggup memberantasnya,” kata Ahok. Orang Islam marah lagi, menuduh Ahok melecehkan nabi. Padahal ia bicara tentang nabi dalam ajaran Kristen, yaitu Nabi Hosea. Tak ada sangkut pautnya dengan nabi Islam. Itu adalah ungkapan Ahok untuk menggambarkan rumitnya soal pelacuran. Senada dengan ungkapan bahwa pelacuran adalah profesi yang usianya sudah setua sejarah umat manusia. Artinya, di mana ada manusia, di situ ada pelacur.

Pelacuran adalah soal permintaan dan penawaran. Permintaan selalu ada. Selama masih ada laki-laki horny, pasti ada yang permintaan pelacur. Tidak ada satu agama pun, atau satu orang suci pun yang pernah hadir dan membuat pelacuran itu sirna di suatu wilayah.

Bagaimana dengan supply atau penawaran? Buatlah survey kecil, datangi rumah-rumah pijat, dan lakukan wawancara kepada para pemijat. Pofil umumnya adalah, usia antara 18-30, janda beranak atau tidak beranak. Menikah di usia muda, kemudian suaminya pergi entah ke mana. Cerita klise ini mungkin akan Anda dengar dari 40% responden. Lalu lakukan survey ke kampung-kampung di Pantura, atau ke Sukabumi. Dengan mudah kita akan temukan fakta pendukung soal kawin muda ini.

Belum lagi soal remaja di rumah tangga yang hancur, kemudian mencari tempat pelarian dengan melacur. Remaja yang terlibat narkoba, atau remaja hedonis yang menjual diri sekedar agar bisa selalu punya HP jenis paling mutakhir.

Semua itu adalah faktor supply bagi dunia pelacuran, yang tidak serta merta sirna dengan ditutupnya rumah bordil atau lokalisasi. Jadi, menutupnya sama sekali bukan solusi bagi masalah ini.

Masih ada sisi lain, yaitu korupsi. Mengapa Alxis tidak ditutup? Coba tanya balik kepada yang mengajukan pertanyaan itu, tahukah kamu ada berapa oknum berbintang yang jadi backing bisnis itu? Ada berapa petinggi imigrasi yang berperan mengamankan “izin kerja” bagi pelacur-pelacur asing yang bekerja di situ? Bahkan, mungkin, ada berapa petinggi organisasi agama yang harus dibungkam dengan uang supaya tidak rewel? Atau, lebih tegas lagi, kenapa sih sebelum ini, waktu Gubernur DKI muslim semua, tidak ada keributan publik menuntut penutupan Alexis? Ahok dicerca karena tidak menutup Alexis, padahal ia sudah menutup Kalijodo. Adalah yang bertanya, kenapa Foke dulu tidak menutup Kalijodo?

Jadi, berbagai keributan soal pelacuran ini jauh dari usaha mencari solusi. Ini hanya soal bagaimana menjatuhkan Ahok saja.

Bersyukur itu Menemukan Diri Sendiri

Ada teman saya yang dengan sinis mengatakan,”Bersyukur itu ndingkluk. Artinya merendahkan standar harapan kita. Dengan begitu, kita akan merasa bahwa kita sudah mendapat lebih. Lalu kita merasa senang.” Contohnya, kita lihat orang-orang miskin, atau orang-orang yang hidupnya menderita. Lalu kita lihat diri kita, ternyata kita lebih baik. Lalu kita merasa senang. Itulah bersyukur.

Pernah saya temukan meme yang menjengkelkan. Isinya tentang anak yang (terpaksa) berjualan, untuk menyambung hidupnya. Meme diakhiri dengan pertanyaan, masihkah kamu tidak bersyukur? Lha, apa hubungannya? Orang diajak bersyukur setelah melihat penderitaan orang lain. Bersyukur artinya merasa senang bahwa kita tidak menderita seperti dia. Syukur macam apa itu?

Suruhan untuk bersyukur juga sering datang ketika seseorang tidak puas dengan keadaannya. “Sudah, jangan banyak menuntut, syukuri yang sudah kau dapat!” Apakah bersyukur bermakna bahwa kita tidak boleh berharap mendapat yang lebih baik lagi? Apakah menginginkan yang lebih baik selalu bermakna bahwa kita tidak bersyukur atas apa yang kita dapat?

Bagi saya, bersyukur tidak begitu maknanya. Bersykur itu menyadari diri kita sendiri. Coba lihat diri kita. Kita punya tubuh, seadanya tubuh kita ini. Kita punya 2 tangan, 2 kaki, dan berbagai organ lain. Ada yang hanya punya 1 tangan, atau bahkan tidak punya tangan. Juga ada yang hanya punya 1 kaki, atau tidak punya kaki. Setiap orang mengenali dirinya, secara apa adanya. Inilah saya. Saya adalah saya, bukan orang lain.

Lalu, kita lihat diri kita lebih lanjut. Apa lagi yang kita miliki? Ada yang pandai matematika. Ada yang pandai main musik. Ada pula yang kuat badannya, mampu lari cepat, lari jauh, atau kuat mengangkat barang. Masing-masing orang punya kelebihan. Temukan kelebihan kita sendiri.

Banyak orang yang tidak tahu apa kelebihannya. Ia menjadi orang yang biasa saja, atau bahkan menganggap dirinya terbelakang. Lalu ia menjadi rendah diri. Ia tak merasa layak berdiri bersama manusia lain. Ia mungkin protes pada Tuhan. “Kenapa Kauciptakan aku seperti itu?” Protes itu tak akan pernah mengubah keadaannya. Yang akan mengubah keadaan adalah cara dia memandang dirinya sendiri.

Pernah saya lihat acara di TV Jepang. Acara ini memberi kesempatan kepada orang-orang yang merasa ada bagian tubuhnya yang ingin ia ubah. Setelah diseleksi, yang disetujui akan dibiayai untuk melakukan operasi plastik. Dalam suatu episode, ada gadis remaja yang merasa mukanya jelak. Ia ingin operasi plastik. Para pengisi acara itu tidak serta merta meluluskan permintaannya. Yang “dioperasi” justru mental gadis itu. Dengan sedikit polesan kosmetik, mereka berhasil membuat gadis itu tampil cantik. Ia diyakinkan bahwa ia sama sekali tidak jelek. Kemudian ia menjadi percaya diri.

Begitulah. Kita lebih sering lebih sensitif menemukan kekurangan-kekurangan kita, ketimbang menemukan kelebihan kita. Kita lebih sering mencoba menyembunyikan kekurangan, ketimbang menunjukkan kelebihan. Saking sibuknya kita dengan kekurangan, kita merasa bahwa diri kita penuh dengan kekurangan. Kita gagal menemukan kelebihan kita. Lalu kita mengeluh, protes pada Tuhan.

Bahkan, ada orang yang merasa dirinya memiliki kekurangan. Padahal yang ia anggap kekurangan itu adalah kelebihan bagi orang lain. Misalnya, maaf, ada perempuan yang minder karena buah dadanya terlalu besar. Padahal, banyak perempuan lain yang ingin punya buah dada yang besar. Ada orang jangkung yang terus membungkuk, karena merasa jangkung itu jelek. Padahal ada begitu banyak orang yang ingin jangkung.

Jadi, bersyukur itu sekali lagi, adalah soal mengenali diri kita, menemukan keunggulan kita, menyadari bahwa itu keunggulan, bukan kekurangan. Bahkan orang yang tangannya hanya satu pun bisa menjadikan satu tangannya itu sebagai keunggulan. Mungkin ada Anda pernah menyaksikan anak Korea yang tangannya tak utuh, menjadi pemain piano yang hebat. Ia tentu lebih hebat dari kebanyakan kita yang punya tangan lengkap. Ia tidak saja berhasil mengalahkan “kekurangannya”, tapi justru menjadikan tangannya itu sebagai pusat keunggulannya.

Perhatikan juga orang-orang di sekitar kita. Orang tua, saudara, teman, guru, dan siapapun yang mencintai kita. Mereka semua tidak sempurna. Ada saja hal yang membuat kita tak puas kepada mereka. Tapi mereka semua memberi kita energi yang luar biasa, untuk menikmati hidup ini. Jangan berharap mereka akan sempurna, karena kita juga tidak sempurna.

Lalu, selanjutnya bagaimana? Asahlah terus keunggulan kita itu. Manfaatkan untuk menghasilkan hal-hal yang baik, bermanfaat bagi diri kita sendiri. Banyak-banyaklah berbuat baik, sampai perbuatan baik kita itu dinikmati oleh banyak orang. Perbuatan baik, menghasilkan hal baik, akan menambah keunggulan yang tadinya sudah kita punya. Ia juga akan menghasilkan energi yang lebih besar untuk berbuat kebaikan lebih banyak lagi.

Ingat, bersyukur itu bukan mencari kekurangan orang lain yang tak ada pada kita. Bersyukur itu adalah menemukan keunggulan pada diri kita, memanfaatkannya, menikmatinya, tanpa merendahkan orang lain.