Monthly Archives: January 2017

Dalil Cinta untuk Indonesia

Ada ustaz yang berkata, ah maaf, sebenarnya malu saya membahasnya. Dari sisi pemilihan diksi saja sudah tergambar kualitasnya. Tapi karena banyak yang membaginya, saya harus bahas.

Ia berkata, membela nasionalisme itu tak ada dalilnya. Adapun membela Islam ada dalilnya. Kita tentu akan berkerut kening membaca istilah “membela nasionalisme”. Tapi dengan sedikit berjongkok bolehlah dipahami bahwa maksudnya adalah tidak perlu bersikap nasionalis, karena tidak ada dalil yang mengajarkannya.

Apa makna nasionalis bagi Anda? Bagi saya, sebagai orang Indonesia, nasionalis artinya saya tinggal di bumi Indonesia ini, maka saya akan menjaganya agar aman, damai, bersih, sehat, tertib, dan makmur. Adakah dalil untuk hal-hal itu? Saya bukan ahli dalam berdalil. Sudah saya katakan bahwa saya ini bukan ahli apa-apa, hanya ahli dalam hal bukan-bukan. Maka saya cukup pakai akal saya saja.

Kalau saya punya rumah, maka saya tidak perlu dalil untuk tahu bahwa saya harus menjaga kebersihan dan keamanan rumah saya. Juga keindahannya. Kalau saya tinggal di suatu kampung maka hukumnya sama. Kalau saya berak di kali kampung saya, maka saya sedang memastikan bahwa besok lusa saya akan mandi atau minum air bercampur taik. Kalau saya membuat onar, maka cepat atau lambat akibatnya akan menimpa saya.

Kita tak perlu dalil untuk paham hal-hal sederhana seperti itu. Maka kita tidak perlu cari-cari dalil untuk cinta Indonesia. Kalau kita cari mungkin akan kita temukan dalil, dan mungkin pula akan ada yang membantahnya. Kita mafhum, yang paham soal dalil biasanya orang-orang pintar, di antaranya pintar berbantahan. Saya yang tak pintar ini tak perlu berdalil.

Jadi sekali lagi, saya tak perlu berdalil untuk cinta Indonesia.

Indonesia adalah rumah kita. Indonesia adalah kampung kita. Indonesia adalah negeri kita. Kita tak perlu dalil-dalil untuk menjaga, merawat, dan memakmurkannya. Karena menjaga Indonesia adalah menjaga diri kita, serta anak cucu kita.

Satu hal lagi. Indonesia ini hanyalah bagian dari kampung bumi. Bila kita mengotori atau merusak Indonesia, kita sedang merusak dan mengotori bumi kita. Seperti kita sedang memberaki air di bak mandi kita. Kita orang waras, tentu tak melakukannya, meski tak ada dalil yang melarangnya.

Orang-orang yang segala sesuatu dalam hidupnya harus berdasar dalil-dalil sepertinya adalah orang-orang yang tujuan hidupnya hanya untuk akhirat belaka. Well, semoga mereka segera pindah ke sana.

Ada satu hal lagi yang ingin saya tambahkan. Kenapa ada orang-orang yang kelihatannya begitu alergi dengan nasionalisme? Itu ada penjelasannya. Nasionalisme yang mereka benci sebenarnya adalah nasionalisme Arab. Itu adalah semangat kebangsaan Arab, yang tumbuh pada abad 18-19. Mereka sadar bahwa mereka sedang berada di bawah kekuasaan Turki Usmani. Turki bukanlah Arab, tapi mengapa kita mesti tunduk di bawah kekuasaan Turki, pikir mereka.

Dengan semangat itu, orang-orang Arab bergerak melawan Turki. Mereka memberontak. Faktor inilah yang kemudian membuat Turki babak belur dalam Perang Dunia I. Ini semakin melemahkan Turki, sehingga tak lama kemudian kekaisaran itu runtuh.

Membenci nasionalisme adalah perbuatan orang yang cinta pada kekhalifahan, yang dibangun oleh bangsa lain. Jangan heran. Orang-orang ini memang menginginkan sebuah negara khilafah, imperium besar, dengan Indonesia hanya menjadi salah satu provinsinya saja. Orang-orang ini sedang membangun kekuatan untuk mewujudkan mimpi mereka, menjadikan Indonesia bagian dari sebuah imperium besar. Seharusnya kita tak membiarkan mereka hidup dan cari makan di sini.

 

Bagimu Negeri, Jiwa Raga Kami

Bukan pertama kali saya mendengar orang mengatakan bahwa menyanyikan lagu Padamu Negeri itu syirik. Dulu saya dengar ceramah Endang Saefudin Anshari, anak dari Isa Anshari, mengatakan hal yang sama. Kata dia, tak patut jiwa kita disumbangkan untuk negeri. Jiwa hanya boleh disumbangkan untuk Allah.

Orang-orang ini adalah penganut ajaran jihad. Bagi mereka, membunuh atau terbunuh, dua-duanya mulia, selama dilakukan untuk Allah, bukan untuk yang lain. Membunuh atau terbunuh demi yang lain, adalah syirik. Begitu pandangan mereka.

Coba bayangkan satu keluarga sedang berwisata, naik perahu. Tiba-tiba terjadi bencana, perahu tenggelam. Sang Ayah berusaha menyelamatkan keluarganya. Ia menggapai anak-anaknya yang masih kecil, berusaha membawanya ke pantai. Anak-anaknya ketakutan, berpegang erat pada lengan Sang Ayah, sehingga dia sulit berenang dengan benar. Ia berenang timbul tenggelam, nafasnya tersengal, saluran nafasnya terisi air. Dengan sisa tenaga akhirnya ia bisa membawa anak-anaknya ke pantai. Tapi ia sendiri telah kehabisan nafas, tewas.

Apa yang membuat orang itu rela berbuat demikian? Cinta. Insting untuk bertahan hidup, mempertahankan keturunan. Tuhan? Boleh jadi dia ingat, boleh jadi pula tidak. Ajaran jihad? Kemungkinan besar tidak. Ia bergerak menyelamatkan anak-anaknya, karena dorongan insting tadi. Tidak ada relevansi tindakannya tadi dengan perintah jihad dalam pengertian yang umum dikenal orang.

Dalam skala yang lebih luas, orang rela mati untuk sesuatu yang ia cintai. Para lelaki sejak masa prasejarah sudah membangun nilai, bahwa mereka bertanggung jawab terhadap keselamatan keluarga dan kelompok mereka, dari serangan hewan, atau kelompok manusia lain. Banyak orang tewas dalam usaha menjaga keselamatan keluarga dan kelompok itu. Mereka menetapkan nilai, bahwa mati dengan cara seperti itu adalah mati yang mulia.

Jihad dan mati syahid bukanlah ekslusif milik Islam. Semua peradaban memilikinya. Semua peradaban memiliki ajaran untuk membela diri/kelompok, atau memenangkan diri/kelompok, dengan taruhan nyawa sekalipun. Kaum Quraisy yang berperang melawan kaum muslim Madinah, juga punya semangat yang sama. Bagi mereka, mati adalah sebuah kemuliaan.

Bedanya hanyalah, semangat rela mati itu tidak dituliskan dalam sebuah kitab yang mereka klaim berasal dari Tuhan. Atau, mereka punya klaim itu, tapi tidak menyebar turun temurun, sampai ke negeri lain.

Jihad menjadi ajaran absurd bila kita lihat pada masa selanjutnya. Ali, sepupu nabi, berperang melawan Aisyah, janda nabi. Mereka saling berbunuhan. Ini jihad untuk Allah? Bagaimana mungkin kita bisa mengatakan bahwa orang-orang itu mati demi membela agama Allah, padahal mereka saling bunuh antar sesama.

Kemudian Ali kembali berperang, kali ini melawan Muawiyah. Sama, dua kelompok yang sedang menjalankan ajaran yang sama, saling bunuh. Mereka mengaku berjihad, menegakkan ajaran Allah, melakukan perintah Allah. Bagaimana mungkin dua kelompok yang sama-sama merasa menjalankan perintah Allah, saling bunuh?

Di masa berikutnya, dalam pemerintahan Bani Umayyah, perang-perang terus dikobarkan. Berbagai wilayah ditaklukkan. Pasukan Umayyah bergerak jauh sampai ke Spanyol, menaklukkannya, menjadikannya sebagai wilayah kekuasaan. Itupun dilakukan atas nama jihad, melaksanakan perintah Allah. Perjuangan Tariq bin Ziyad dikenang sebagai perbuatan mulia, termasuk oleh orang-orang seperti Taufiq Ismail dan Endang Saefudin Anshari.

Apa beda antara Tariq bin Ziyad atau Muhammad Al-Fatih, dengan Napoleon Bonaparte? Nyaris tak ada. Mereka adalah para penakluk belaka. Bedanya hanyalah, sebagian besar orang yang membaca tulisan ini adalah orang-orang yang beriman pada ajaran yang sama dengan Tariq bin Ziyad dan Muhammad Al-Fatih. Mereka merasa memiliki koneksi pembenaran atas tindakan itu. Sedangkan substansi tindakannya sama saja.

Semangat yang sama, yaitu semangat untuk bertahan hidup, menggerakkan bapak-bapak kita untuk berjuang melawan penjajah. Ada yang memakai ajaran jihad, demi Allah. Ada yang memakai ajaran Kristus. Ada yang semata cinta pada tanah airnya. Mereka semua sama, semua mulia. Mereka menghadiahkan kemerdekaan pada kita sekarang. Tapi bagi orang-orang seperti Taufiq Ismail, hanya yang berniat berjihad atas nama Allah saja yang mulia. Yang lain syirik, dan akan jadi penghuni neraka. Absurd, bukan?

Saya akan menyumbangkan jiwa raga saya untuk negeri ini. Saya kemungkinan besar tidak akan mati di medan perang. Bagi saya perang itu bukan lagi solusi. Secara tegas saya katakan, saya membenci perang. Tapi saya akan bekerja untuk negeri ini, sampai saya mati. Itulah makna bagimu negeri, jiwa raga kami.

Teach It Easy

Awal tahun 2007 saya mulai bekerja di industri manufaktur. Dalam keadaan pengalaman nol di bidang industri saya harus mengurus berbagai hal berkenaan dengan persiapan produksi sebuah perusahaan baru. Salah satu masalah yang saya hadapi adalah mesin-mesin yang diimpor sudah tiba di pelabuhan, dan harus diurus proses kepabeanannya (custom clearance). Tentu saja saya tak tahu apa yang harus dilakukan.

Waktu itu kami masih menumpang di kantor perusahaan grup, menunggu kantor dan pabrik kami selesai dibangun. Karena karyawan juga masih sedikit, banyak hal yang dimintakan bantuannya kepada karyawan perusahaan grup, dan mereka dibayar ekstra atas bantuan ini. Termasuklah dalam urusan impor tadi.

Saya minta asisten manajer yang mengurusi ekspor impor untuk mengajari saya, dan dia setuju. Di ruang rapat dia menyodorkan kertas bertuliskan istilah-istilah yang biasa dipakai dalam kegiatan ekspor impor. “Bapak ngerti nggak istilah-istilah ini?” tanya dia. “Nggak.” jawab saya. “Aduh, inilah susahnya kalau harus mengajari orang yang tidak punya latar belakang perdagangan internasional.” kata dia ketus.

Saya melongo. Kalau saya punya latar belakang perdagangan internasional, tentu saya tidak perlu bertanya sama dia. Tapi sudahlah. Saya perlu urusan saya beres, jadi saya dengarkan dia dengan sabar. Dia menjelaskan ini itu, yang sebenarnya tidak jelas juga. Akhirnya berbekal sedikit informasi saya berurusan dengan perusahaan jasa kepabeanan (forwarder) yang dia tunjuk. Banyak dokumen kurang ini itu, ribut, sampai akhirnya barang bisa tiba ke pabrik meski terlambat dari jadwal.

Setelah itu kami pindah kantor. Menjelang pindah kantor dia menawarkan. “Nanti kalau mau ekspor hubungi saya, biar saya bantu.” katanya. Saya cuma mengangguk. Di kantor baru, saat akan impor saya undang forwarder. Saya minta mereka menjelaskan apa yang harus kami siapkan, dan apa yang mereka urus. Juga berapa lama waktu yang diperlukan. Berdasarkan itu kami mulai melakukan proses custom clearance untuk impor kami selanjutnya. Saya tidak perlu tahu detil soal impor, yang penting cukup untuk keperluan mengeluarkan barang kami dari pelabuhan. Walhasil, impor kami lancar tanpa masalah. Saat mau ekspor pun begitu. Semua berjalan lancar. Saat ketemu dia lagi beberapa bulan setelah kami pindah, dia bertanya, “Pak, kapan mau mulai ekspor? Kan saya mau bantu.” “Oh, kami sudah jalan beberapa kontainer, kok.” jawab saya. “Eeeee, kenapa nggak bilang-bilang? Emang sudah bisa sendiri.” Saya jawab dengan senyuman saja.

Akhir tahun 2011 di perusahaan tempat saya bekerja, kami membeli alat untuk analisa kimia, namanya gas chromatography. Alat ini dibeli dalam rangka produksi produk baru di tempat kami. Untuk keperluan ini saya merekrut seorang karyawan yang berlatar belakang ilmu kimia. Perekrutan karyawan ini adalah salah satu syarat yang ditetapkan saat kami berunding soal produksi produk baru ini. Namun dalam perjalanannya kemampuan karyawan ini selalu dipertanyakan oleh orang QC di pihak pelanggan. “Kalau dia orang yang tidak pernah pakai alat ini dan tidak punya kemampuan analisa dengan alat ini percuma. Mending dia dikirim ke Jepang untuk ditraining.” tulis dia dalam email.

Saya keberatan, karena selain berbiaya tinggi hal itu menurut saya mubazir. Menurut saya alat ini fungsinya adalah alat quality control. Artinya, sekedar alat ukur untuk menguji sesuatu, bukan alat analisis seperti kalau seseorang menggunakannya di bidang riset. Saya tolak, tapi saya beri jaminan ke dia bahwa staf yang saya rekrut akan bisa memakai alat tadi saat diperlukan. Dua punya pengalaman banyak di bidang kimia, walau belum pernah pakai alat ini. Prinsip saya, kalau cuma soal cara memakainya, staf saya bisa belajar dari penjual alat. Dan itulah yang kami lakukan. Selebihnya, sesuai kesepakatan, orang QC dari Jepang ini yang akan mengajarkan.

Karena khawatir soal kemampuan kami, pihak perusahaan induk pergi ke pelanggan ini, melihat proses pelaksanaan pengukuran. Mereka merekam pelaksanaan itu dan mengirimnya ke kami. Saya saksikan videonya, cuma kegiatan menakar, menimbang, dan membuat larutan. Di bagian tertentu larutan harus dikocok. “Ini salah satu teknik penting, know how yang diperlukan. Kalau tidak biasa melakukan analisa tidak akan bisa melakukan teknik ini.” katanya. Halah, cuma begitu saja.

Beberapa bulan kemudian  orang ini datang. Saya pikir dia akan segera mengajar. Eh, dia malah minta staf saya ditraining di perusahaan grup. Untuk apa? “Harus dicek dulu apakah dia sudah bisa pegang pipet dan bikin larutan dengan benar.” kata dia. Saya sebenarnya keberatan, tapi malas ribut. Saya suruh saja staf saya ikut training, menggunakan gas chromatography, diajari oleh staf lokal di sana. Kembali ke perusahaan kami, saya suruh staf tadi mempraktekkan hasil trainingnya. Ia melakukan pengukuran. Tamu saya tadi minta hasil pengukuran. Dia tidak pernah mengajari staf saya, langsung minta saja. Kami serahkan hasilnya, dan hasilnya benar. Lalu,, apa kesulitan yang dia khawatirkan selama ini?

Begitulah. Tidak sedikit orang yang menganggap ilmu yang dia miliki adalah ilmu sulit, sehingga sulit pula diajarkan kepada orang lain. Hanya orang hebat macam dia yang bisa menguasainya. Padahal itu hal sederhana yang bisa diajarkan secara sederhana. Bahkan banyak hal yang sebenarnya sulit, bisa diajarkan secara sederhana kalau yang mengajarkan adalah orang yang benar-benar mahir. Orang sering membuat sulit sesuatu agar tampak hebat. Anda mau hebat? Ajarkan sesuatu secara mudah. Teach it easy!

Beruntung

Kita sering salah lihat. Salah melihat kesuksesan orang. Dia sukses karena beruntung. Dia beruntung. Saya tidak. Dia sukses, wajar saja karena dia orang beruntung. Saya tidak sukses, wajar saja, karena saya bukan orang beruntung. Ini takdir.

Masa sih? Iya, benar. Dia itu selalu beruntung. Selalu ada saja kesempatan dia untuk sukses, lebih maju lagi. Saya ini sangat jarang dapat kesempatan bagus.

Kenapa Tuhan begitu pilih kasih?

Ah, ini bukan soal Tuhan yang pilih kasih. Ini soal salah lihat.

Sebenarnya kita mendapat banyak kesempatan. Kesempatan kita untuk sukses selalu datang seperti oksigen mendatangi hidung kita, atau seperti titik-titik air hujan menerpa tubuh kota. Soalnya tinggal, apakah kita menghela napas menghirup oksigen atau tidak. Apakah kita membuka mulut untuk minum air atau tidak.

Tapi kenapa ada orang-orang tertentu yang selalu dapat kesempatan bagus, yang kemudian mengantarkan mereka ke jenjang sukses berkali-kali, sedangkan orang lain tidak? Begini. Ini sekali lagi soal salah lihat.

Orang yang kita sangka beruntung itu mendapat peluang atau kesempatan. Ia siap menerima peluang itu. Ia mempersiapkan diri, ia mengolah kesempatan itu. Persiapannya sungguh panjang sehingga kita bahkan tidak bisa mendeteksi bahwa ia sudah melakukan persiapan. Kita hanya sekedar melihat ia, sama seperti kita. Padahal berbeda.

Pemenang bahkan mencari kesempatan itu, menciptakan kesempatan. Peluang yang sebenarnya tidak begitu besar ia olah menjadi peluang dan kesempatan besar. Yang agak mustahil ia ubah menjadi kenyataan. Maka setiap peluang meninggalkan jejak dalam sejarah hidupnya, karena peluang itu menjadi faktor sukses dia.

Adapun para pecundang, mereka tidak siap mengolah kesempatan. Ada kesempatan datang, ia biarkan berlalu, karena tak sanggup mengolahnya. Bahkan sering kali ia tak sadar bahwa ia berhadapan dengan kesempatan bagus. Maka kesempatan itu lewat begitu saja. Kesempatan itu tidak meninggalkan jejak apapun dalam hidupnya. Maka ia tak pernah merasa mendapat kesempatan. Padahal kesempatan itu selalu datang.

Sejak kecil saya bermimpi untuk bisa sekolah ke luar negeri. Sejak SMP saya sadar bahwa saya harus fasih berbahasa Inggris untuk mewujudkan mimpi saya. Orang tua saya tidak punya uang untuk membiayai kursus bahasa Inggris. Tapi saya selalu mencari jalan agar bisa belajar. Akhirnya ada guru saya yang mau membiayai kursus itu sampai saya mahir.

Saat mulai bekerja sebagai dosen, saya selalu mencari informasi beasiswa. Saya sudah siap dengan proposal riset. Ketika ada kesempatan melamar, saya langsung masukkan. Saya ingat, pada kesempatan pertama wawancara beasiswa, saya berangkat berdua dengan rekan sekampus. Dia diwawancarai terlebih dahulu. Tak sampai 5 menit dia sudah keluar, karena bahasa Inggrisnya tak lancar. Saya masuk setelah dia, diwawancara hampir 1 jam. Saya lulus, dia tidak.

Kami mendapat kesempatan wawancara. Saya siap, dia tidak. Saya lulus, dia tidak. Saya mengenang kesempatan itu sebagai kesempatan berharga. Dia mungkin sudah lupa bahwa dia pernah ikut wawancara, karena wawancara itu tidak meninggalkan bekas bagi sejarah hidupnya.

Luck = Preparation + Opportunity!

Hijrah

Saya sering melihat gelandangan, mendorong gerobak memungut sampah. Tak jarang mereka bergerak berkelompok, sepertinya satu keluarga. Ada ayah, ibu, dan anak-anak. Saat senja mereka seperti mencari tempat berteduh. Gerobak itu mungkin akan jadi tempat tidur.

Kemiskinan di kota terasa begitu menyolok. Mungkin karena kekayaan orang-orang di sekitarnya menggambarkan jurang kesenjangan yang demikian lebar.

Saya membayangkan, mungkin orang-orang ini dulu dari desa, pergi ke kota untuk mengadu nasib, mencari penghidupan. Kota tak selalu ramah. Khususnya pada orang-orang yang hanya mampu bekerja mengandalkan tenaga fisik.

Entah karena apa, orang-orang ini bertahan, meski tidak mendapat penghidupan yang layak. Mungkin karena mereka tak tahu mau ke mana lagi. Mereka tak tahu, juga tak ada yang memberi tahu atau mengarahkan.

Saya jadi teringat pada kampung saya. Waktu Ayah dan Emak baru pindah ke kampung itu untuk membuka kebun, ada beberapa orang Jawa yang baru datang, pindah dari Kebumen. Bersama-sama mereka menebang hutan, membuka kebun. Meski tidak ada hubungan kerabat, suku berbeda, keluarga kami menjadi sangat dekat dengan orang-orang Jawa itu.

Ketika mereka sudah sedikit berhasil, mereka pulang ke Jawa. Kok? Ah, mereka mengajak lagi sanak saudara. Beramai-ramai mereka melakukan transmigrasi spontan, tidak dibiayai pemerintah. Walhasil, di dekat kampung saya ada 2 kampung yang berisi orang-orang transmigran dari Jawa.

Orang-orang ini boleh dibilang sukses. Mereka punya kebun besar-besar, juga membangun rumah besar. Kalau menikahkan anak, mereka bikin pesta besar. Mereka juga bisa mengirim anak-anak sekolah ke kota. Intinya, mereka hidup makmur.

Mereka ini bukan orang-orang yang berpendidikan. Tapi mereka bisa mengukur diri, dan memilih hendak ke mana, melakukan apa. Pilihan mereka tepat. Dalam hal pendidikan mungkin para gelandangan tadi setingkat dengan kaum transmigran ini. Namun sepertinya para gelandangan ini salah pilih.

Masalahnya, orang-orang itu sepertinya tidak ingin mengubah pilihan. Atau mungkin mereka memang tidak pernah membuat pilihan. Ada yang pindah ke kota oleh suatu sebab di luar kemauan mereka. Ada yang sejak dulu tinggal di kota, tersingkir oleh ganasnya pembangunan. Mereka tidak pernah membuat keputusan untuk mengubah nasib.

Kenapa? Mungkin karena mereka tidak menganggap ada masalah. Atau mereka tidak punya keberanian untuk mengubah jalan hidup. Langkah untuk mengubah jalan hidup itu adalah hijrah. Tak semua orang sanggup melakukannya.

Hijrah itu soal keberanian dan kemauan. Mirip dengan keinginan untuk membuka dan melemparkan selimut di pagi buta, saat dingin masih menusuk. Saat itu orang cenderung menarik selimut rapat-rapat, menikmati kehangatan. Tapi kehangatan itu kalau dituruti akan membuat kita membusuk di situ. Hanya orang-orang yang sadar bahwa di luar sana ada tantangan dan tanggung jawab saja yang mampu melawan kenyamanan rasa hangat itu, untuk bangkit menantang dingin yang menusuk. Orang-orang semacam ini lah yang akan jadi pemenang.

Hijrah tentu akan membawa guncangan. Itu yang kadang menakutkan. Orang takut pada guncangan di masa awal, dia rela mencampakkan masa depan gemilang hanya karena takut pada guncangan sesaat itu.