Monthly Archives: December 2016

Saya Kira Saya sudah Mendidik Anak

Seorang teman saya mengeluh soal anaknya.

“Masak dia gagal masuk Universitas X (dia menyebut sebuah PTN ternama). Padahal bapak ibunya sama-sama lulusan situ,” keluhnya.

“Lho, memangnya seleksi masuk PTN sudah selesai?”

“Belum sih. Ini hasil simulasi di tempat dia ikut bimbingan.”

“Lho, kamu memvonis anakmu berdasarkan hasil simulasi? Kupikir tadi sudah gagal benar. Artinya masih ada waktu untuk memperbaikinya, kan?”

“iya, sih.”

“Nah, ketimbang memvonis dia gagal, tidakkah lebih baik memberi dia semangat, mengubah program belajarnya, selagi masih ada waktu?”

ia terdiam.

“Ada satu hal lagi. Kenapa dirimu kau jadikan standar untuk anakmu? Apakah kalau bapak ibunya lulusan PTN X, anaknya juga harus begitu?”

“Iya, dong.”

“Apakah anakmu sama dengan kamu? Potensinya, bakatnya, minatnya? Pernahkah mengukur potensi anak? Pernahkah mencari tahu apa minat dia?”

Dia terdiam.

“Boleh jadi ia punya potensi yang sangat berbeda dengan kamu. Menyuruh dia mengikuti jalan kamu selain menyiksa dia juga boleh jadi telah membunuh potensi besar yang ia miliki. Ia punya bakat A, tapi akhirnya menjadi B, demi memuaskan keinginan orang tuanya.”

“Tapi aku tidak memaksakan jurusan yang harus dia masuki. Yang penting dia bisa masuk PTN.”

“Belum tentu juga anakmu butuh kuliah.”

“Lho, kok gitu?”

“Memang begitu. Tidak setiap orang harus kuliah. Ada banyak profesi yang tidak memerlukan kuliah. Juga ada banyak profesi yang tidak tersedia kuliahnya di PTN. Mematok target anak harus masuk PTN tertentu itu lebih merupakan gengsi orang tua ketimbang kebutuhan anak.”

“Lha, kamu nggak masalah kalau anakmu nggak kuliah? Bapaknya doktor, kok anaknya nggak kuliah?”

“Sama sekali tidak. Profesor saya di Jepang dulu, anaknya jadi hair stylist. Bapaknya profesor di bidang fisika. Dia tidak mempermasalahkan. Saya juga tidak. Ini jalan saya. Anak saya punya jalan sendiri.”

Ia terdiam lagi.

“Pernah ngobrol sama anakmu, memabahas minat dia?”

“Wah, sekarang sudah nggak.”

“Sepertinya kamu nggak akrab sama anakmu.”

“Akrab gimana?”

“Dekat. Apakah anakmu masih mau memeluk dan menciummu?”

Dia tertawa.

“Lho, ini serius. Anak saya biasa memeluk saya, cium saya, tidur di pangkuan saya. Bahkan kadang-kadang duduk di pangkuan saya. Padahal dia sudah gadis remaja. Ia terbuka bicara sama saya, termasuk soal pribadi, misalnya soal cowok yang dia suka.”

“Wah, itu nggak mungkin.”

“Kalau anakmu tidak nyaman membahas sesuatu denganmu, lalu dengan siapa dia membahasnya? Dengan teman, atau orang lain. Maka secara perlahan hubungan kepercayaan antara anak dan orang tua hilang. Anak lebih percaya pada orang lain. Pada titik itu kita tak lagi kenal siapa anak kita. Kamu galak sama anakmu?

“Ya, sering emosi juga.”

“Itulah. Kita sering sulit membedakan antara tegas dengan galak. Kita harus tegas, bukan galak. Kita harus menegur, bukan memarahi. Apa bedanya? Emosi. Galak, marah, sering kali merupakan luapan emosi. Itu bukan pendidikan. Mendidik itu memberikan arahan dengan tegas, bila diperlukan. Tujuannya jelas, mengarahkan. Kalau memarahi, itu sekedar untuk melepaskan amarah kita saja.”

Begitulah. Ada begitu banyak momen interaksi kita dengan anak yang terlewatkan begitu saja, tanpa kita isi dengan proses pendidikan. Kita mengira kita sudah mendidik anak, tapi nyatanya tidak. Mungkin kita justru lebih sering hadir sebagai sosok pengganggu dan perusak ketimbang pendidik.

 

 

Menghafal itu bukan Belajar

Salah satu kegemasan saya soal pendidikan di Indonesia adalah soal kebiasaan menjadikan kegiatan menghafal sebagai bagian utama dari proses belajar. Ini dilakukan secara sadar maupun tidak. Yang dilakukan secara sadar adalah perintah untuk menghafal doa, teks, ayat, dan sebagainya. Yang dilakukan secara tidak sadar adalah materi pelajaran yang melebihi porsi, sehingga mustahil dipahami anak. Akhirnya ditempuh jalan pintas, yaitu, hafalkan saja. Sangat menyedihkan bila melihat bahwa pendidikan dasar kita didominasi oleh kegiatan menghafal.

Menghafal adalah proses menempatkan informasi ke dalam ingatan (memori). Ada proses mengubah informasi menjadi kode dalam proses penyimpanan, ini disebut coding. Bila diperlukan, informasi itu bisa ditarik kembali, diubah kodenya sehingga menjadi format asal. Menghafal umumnya berbasis pada bunyi yang dihasilkan secara oral.

Belajar adalah proses yang berbeda. Sangat berbeda. Perbedaan terpentingnya terletak pada proses pencernaan informasi. Informasi dicerna, berbasis pada informasi dan pemahaman yang sudah ada sebelumnya. Pada akhirnya informasi juga akan disimpan dalam memori, tapi dalam format yang sama sekali berbeda dengan yang disimpan melalui proses hafalan.

Nah, inilah masalah pada pendidikan kita, khususnya pendidikan dasar. Entah kenapa pembuat kurikulum kita begitu bersemangat untuk menjejalkan sebanyak mungkin pengetahuan kepada anak-anak sejak usia dini. Demikian banyak sehingga guru tak sanggup membangun pemahaman kepada anak-anak atas setiap subjek pelajaran. Anak-anak pun tak sanggup memahaminya. Akhirnya, dipilihlah jalan pintas, hafalkan saja.

Tentu saja ini sangat terkait dengan pola ujian, atau tes kita. Ujian kita berbasis pada pola pilihan ganda, satu jawaban untuk satu pertanyaan. Cara paling jitu untuk menghadapi ujian ini adalah menghafal. Kita tidak menyediakan ruangan memadai untuk eksplorasi dan argumentasi dalam sistem tes kita.

Selain hanya menyediakan satu jawaban atas satu persoalan, sistem hafalan tidak membangun hubungan antar informasi yang disimpan. Informasi disimpan dalam format tunggal, tanpa hubungan. Artinya, informasi tidak membangun pengetahuan, sebatas kumpulan bunyi belaka.

Cara menghafal adalah dengan mengulang. Persis seperti orang melakukan latihan fisik. Kalau kita rajin melakukan latihan beban secara berulang, maka otot kita akan membesar. Itu adalah “memori” yang menandai aktivitas tadi. Menghafal sama dengan memberi tanda itu pada otak kita. Konsekuensinya, bila prosesnya kita hentikan, maka secara perlahan tanda itu akan hilang. Kita akan lupa.

Anak-anak banyak belajar dari menghafal. Mereka bisa menghafal dengan cepat. Tugas kita sebenarnya bukan menjejali mereka dengan hafalan, mumpung ingatan mereka masih segar. Tugas kita justru sebaliknya, memanfaatkan masa itu untuk menciptakan ruang-ruang untuk fondasi pemahaman sebanyak mungkin, agar mereka lebih mudah menyerap informasi pada tahap selanjutnya, berbasis pada pemahaman. Banyak orang terjebak pada mitos bahwa kalau anak-anak disuruh menghafal di usia dini maka mereka akan ingat seumur hidup. Salah. Kelak mereka akan lupa lagi, kecuali mereka terus menerus melakukan pengulangan.

Nah, apa baiknya bila anak kita disuruh melakukan pengulangan demi mempertahankan hafalan? Bukankah sebaiknya mereka memanfaatkan waktu dan energinya untuk mengumpulkan informasi lain yang lebih baru? Ingatlah bahwa sesuatu yang dihafal adalah sesuatu yang statis, tidak mengalami pembaruan.

Apakah saya mengatakan tidak boleh menghafal? Tidak juga. Menghafal tetap punya beberapa sisi positif. Salah satunya, ia bisa menarik informasi dengan cepat dari memori. Saat berpikir membangun pemahaman, kecepatan ini bisa membantu. Namun harus diingat bahwa menghafal harus diposisikan sebagai alat bantu proses belajar. Ia bukan proses utama dalam belajar.

Contoh sederhananya adalah, anak-anak kita ajari proses penjumlahan. Mereka paham apa itu penjumlahan, dan bisa melakukan penjumlahan terhadap berbagai bilangan. Dalam proses itu mereka akan hafal bahwa 2+2=4. Atau, mereka sudah paham bahwa 3×5 adalah 5+5+5, tidak mengapa kalau mereka hafal bahwa 5×5 sama dengan 15.

Kalau Al-Maidah 51 Diterapkan, Tegakkah NKRI?

Dalam demo 411 maupun 212, pesertanya mengibarkan bendera merah putih. Mereka secara verbal menyatakan kecintaan dan komitmen kepada NKRI. Apakah ini pernyataan jujur, atau pura-pura saja demi keamanan? Apakah mereka tidak sadar bahwa sikap mereka saling bertentangan satu sama lain?

Mereka ini adalah orang-orang yang mengharamkan pemimpin non-muslim. Polemik soal inilah yang kemudian menjalar menjadi tuduhan penodaan terhadap Islam dan Quran yang mereka tuduhkan. Kalau kita baca artikel-artikel yang ditulis oleh orang-orang yang setuju pada pandangan ini, ayat yang berbunyi senada sangat banyak. Prinsipnya tidak hanya melarang memilih pemimpin, tapi juga menjadikan mereka sekutu, teman dekat, serta berhubungan akrab dengan mereka. Muslim juga dilarang patuh pada mereka, dan memberi jalan untuk mereka.

Bisakah Anda bayangkan bagaimana wujudnya bila ajaran itu diterapkan. Muslim tidak boleh memilih presiden dari kalangan non-muslim. Gubernu pun tentu tidak boleh. Bupati dan walikota juga. Camat dan lurah juga. Oh, kalau camat dan lurah kan tidak dipilih, dalih mereka. Iya, tidak dipilih, tapi mesti dipatuhi, bukan? Faktanya, orang-orang muslim itu menolak ketika Jokowi mengangkat Susan Jasmine menjadi lurah. Masih ingat?

Satu hal penting adalah, non muslim tidak boleh jadi tentara. Mustahil. Apalagi sampai jadi panglima. Mereka sering menjadikan cerita Umar bin Khattab yang menolak seorang ahli keuangan, karena ia Nasrani. Dasarnya adalah ayat tadi, Al-Maidah 51. Nah, kalau posisi sebagai pencatat dalam urusan keuangan saja tidak boleh, bagaimana mungkin non muslim bisa jadi tentara?

Bagaimana dengan di perusahaan. Nah, ini lucu. Kalau soal ini sikap mereka sedikit kendor. Pimpinan perusahaan tidak termasuk pemimpin, kata mereka. Kocak bukan? Bagaimana kita bisa mengatakan pemilik dan pemimpin perusahaan adalah bukan pemimpin? Lagi-lagi kita uji dengan sikap Umar tadi. Menjadikan non muslim sebagai bawahan dalam posisi penting saja tidak boleh, kok. Apalagi menjadikan mereka sebagai atasan. Lagipula, ayat-ayatnya kan melarang menjadikan mereka teman dekat.

Kenapa mereka kendor? Karena banyak dari mereka ini bekerja dan cari makan di perusahaan yang pemiliknya non muslim. Cina yang mereka maki-maki, sedihnya, adalah bos atau pemilik perusahaan tempat mereka bekeerja dan cari makan. Sebagian di antara mereka bahkan adalah karyawan bank atau lembaga keuangan yang beroperasi berbasis riba. Kalau sudah menyangkut perut dan periuk nasi, mereka memang bisa kompromi.

Nah, mungkinkah NKRI akan tegak bila sikap-sikap itu dipraktekkan secara konsekuen. Tidak ada pemimpin non muslim. Hanya muslim yang boleh jadi pemimpin. Tidak boleh ada gunernur, bupati, walikota, kepala dinas, kepala kantor, kepala bidang, semua jenis kepala. Tidak ada tentara dan polisi non muslim.

Tidak mungkin. NKRI ini menghargai kebhinnekaan. Menghargai artinya tidak hanya membiarkan orang-orang dengan berbagai identitas suku dan agama berbeda hidup. Tapi juga bermakna bahwa setiap orang, tak peduli apa latar belakang etnis maupun agamanya, punya hak dan kesempatan yang sama untuk memimpin, selama dia mampu. Orang-orang itu mengoceh soal menghargai perbedaan dan keberagaman, tanpa menghayati maknanya.

Jadi, adakah maknanya ketika orang-orang itu mengibarkan Sang Merah Putih, mengaku setia kepada NKRI, tapi mereka menolak non muslim jadi pemimpin? Tidak. Mereka berdusta saja. Mereka pura-pura saja. Atau, mereka sama sekali tidak berpikir panjang soal konsekuensi dari prinsip yang mereka teriakkan. Jangan heran. Orang dungu memang sulit berpikir panjang.

Tapi, bagaimana seharusnya seorang muslim bersikap terhadap Al-Maidah 51 dan ayat-ayat lain yang senada? Kita tetap beriman bahwa ayat-ayat itu wahyu dan petunjuk dari Allah. Tapi konteks ayatnya sudah berbeda dengan zaman yang sedang kita hadapi. Prinsip itulah yang dianut oleh bapak-bapak kita, pendiri Republik ini. Karena itu dalam sejarah kita punya pemimpin dari kalangan non muslim. Bahkan kita pernah punya perdana menteri yang non muslim.

Sekali lagi, dengan cara tafsir yang mereka anut, tidak akan ada NKRI.

Terjebak dalam Mimpi

Ada seorang teman di masa lalu saya. Sebenarnya tidak begitu pas bila saya sebut teman. Saya dulu pernah tinggal di asrama milik pemerintah daerah waktu kuliah. Setahun saya tingal di situ. Salah satu penghuni asrama itulah yang hendak saya ceritakan. Ia bermimpi ingin pergi ke Jepang.

Keinginan dia untuk pergi ke Jepang itu terlihat sangat jelas. Ia belajar bahasa Jepang dari sebuah kursus. Kegiatannya itu sempat menginspirasi beberapa anak lain untuk ikut kursus pula. Di kamarnya ada peta, yang mencakup wilayah Indonesia sampai Jepang. Ia menancapkan pin pada kedua peta tersebut. Satu di Jakarta, satu lagi di Tokyo. Kedua pin itu ia hubungkan dengan seutas benang. Peta itu menyimbolkan keinginan dia untuk pergi ke Jepang tadi.

Berhasilkah ia pergi? Tidak. Apa masalahnya? Detilnya saya tak tahu, karena saya tidak berteman akrab dengan dia. Tapi kesalahan mendasar dia menurut saya adalah hidup tanpa perencanaan. Saat saya masuk asrama dia sudah tergolong mahasiswa senior, artinya paling tua. Ketika orang-orang yang lebih muda dari dia bersusulan lulus, ia tak kunjung lulus. Bahkan ketika 6 tahun kemudian saya lulus, ia belum kunjung lulus juga. Kabar terakhir saya dengar ia meninggal, kurang lebih 2 tahun setelah saya lulus.

Banyak orang bermimpi, tapi tidak pernah bangun untuk mewujudkan mimpi itu. Ia hanya berangan-angan, dan terus begitu. Tidak sedikit pula berharap berbagai kebetulan akan mengantarkannya pada mimpinya. Padahal menggapai mimpi tak cukup hanya dengan itu.

Mimpi hanyalah permulaan. Mimpi memberi orang suatu tujuan. Dengan tujuan itu seharusnya orang membuat rencana. Kemudian menjalankan rencana itu, melakukan berbagai penyesuaian bila ada perubahan situasi di sekitar rencananya. Kemudian memastikan setiap langkah dalam rencana itu dijalankan, dan berhasil mendekatkan ia pada tujuan. Dalam bahasa manajemen, ia harus melakukan PDCA cycle (Plan, Do, Check, Adjust) secara berkala, kalau perlu secara harian.

Kita perlu membuat peta menuju mimpi yang hendak kita tuju. Kita perlu mengenali peta itu pada setiap langkah yang akan kita tempuh. Pada setiap langkah pada peta itu, kita mesti tahu apa yang kita butuhkan untuk setiap langkah kita selanjutnya. Maka lengkapi diri kita dengan segala sesuatu yang diperlukan tersebut. Dengan mekanisme PDCA tadi kita lakukan evaluasi di mana posisi kita saat ini, dan sudah berapa dekat kita dengan mimpi yang hendak kita tuju.

Tidak sedikit orang yang menganggap mimpi akan terwujud oleh faktor keberuntungan. Keberuntungan ia anggap sebagai berbagai kebetulan yang secara ajaib membuat seseorang mencapai apa yang ia inginkan. Ia pun hanya melihat orang-orang yang berhasil mencapai mimpinya dengan cara itu. Bahwa orang-orang itu berhasil karena berbagai kebetulan ajaib tadi.

Dalam hidup kita mungkin sering melihat seseorang yang diterpa begitu banyak kejaiban yang mengantarkannya ke jenjang sukses. Bila keajaiban itu tidak datang pada kita, maka kita akan meratap, bahwa Tuhan tidak memberi kesempatan sebagus yang diterima oleh orang-orang sukses itu. Ini adalah cara pandang orang-orang yang terjebak dalam mimpinya, tanpa pernah terbangun untuk mewujudkannya.

Benarkah begtu? Benarkah orang sukses itu mendapat kesempatan lebih banyak dari orang lain? Benarkah orang-orang yang gagal itu karena ia tidak mendapat cukup kesempatan?

Tidak. Kesempatan sesungguhnya datang menerpa kita bak air menerpa tubuh kita, saat kita berjalan menembus hujan. Bila kita berjalan beriring dengan orang lain dalam hujan, kita mendapat kesempatan yang sama untuk diterpa air hujan. Seperti itulah kesempatan untuk sukses datang kepada kita.

Yang membedakan orang sukses dan orang gagal adalah persiapan. Orang sukses sudah siap dengan segala sesuatu yang diperlukan untuk maju selangkah lagi dalam road map menuju mimpinya. Ketika kesempatan datang, ia langsung menangkap, kemudian mengolahnya, membuat kesempatan itu menjadi suatu langkah, atau sebuah lompatan besar. Bahkan, ia tak hanya menunggu. Ia mencari kesempatan. Lebih hebat lagi, ia menciptakan kesempatan itu.

Kesempatan yang datang melewati seorang pemenang meninggalkan jejak berupa langkah maju menuju mimpinya. Setiap kesempatan meninggalkan jejak, sehingga kita melihat begitu banyak jejak. Kita mengira ia mendapat lebih banyak kesempatan. Padahal tidak. Yang kita lihat sebenarnya adalah, pemenang berhasil mengabadikan kesempatan yang ia terima menjadi jejak sukses yang lebih banyak.

Adapun para pecundang, ia tak siap ketika kesempatan datang. Sering kali ia bahkan tak sadar saatt kesempatan melewatinya. Maka ia seperti tak pernah mendapat kesempatan, karena kesempatan yang melewatinya tidak diubah menjadi sesuatu yang meninggalkan jejak.

Jadi, bagaimana caranya keluar dari mimpi, bangun untuk mewujudkannya? Buatlah rencana. Gambarkan peta jalan menuju ke mimpi kita. Deteksi semua kebutuhan pada setiap langkah yang akan kita tempuh, dan persiapkan diri kita dengan kebutuhan itu. Ukurlah kemajuan kita setiap saat. Lakukan langkah-langkah perbaikan bila kita jauh di belakang target pada peta yang sudah kita buat.

Mengambil Risiko atau Nekat?

“Bisnis itu cukup dengan modal nekat,” begitu kata para motivator bisnis. “Saya dulu nekat saja, dan berhasil.” Sayangnya, tidak sedikit yang ikut nekat, tapi kemudian gagal. Karena itu, kita mesti hati-hati dalam memakai istilah.

Hal terpenting yang membedakan seorang pengusaha dengan karyawan adalah ia memikul risiko. Seorang pengusaha adalah pengambil risiko. Karyawan hanya mengelola risiko itu, tanggung jawab akhir bukan pada dirinya. Kemauan mengambil risiko ini sering dibahasakan dengan kata nekat tadi.

Ada perbedaan mendasar antara nekat dengan mengambil risiko. Nekat cenderung tanpa pengetahuan dan perhitungan. Bayangkan kita berada di tepi sebuah tebing yang terjal. Orang yang nekat akan turun begitu saja, tanpa banyak perhitungan, tanpa pengaman. Sedangkan pengambil risiko akan turun juga setelah ia memantau keadaan tebing, dan menyiapkan alat keselamatan.

Kalau ada yang berkata bahwa berbisnis tidak memerlukan persiapan, yakinlah bahwa ia seorang penyesat. Untuk sekedar tidur rebahan di ranjang saja kita perlu persiapan, apalagi mau berbisnis. Yang lebih tepat untuk dikatakan adalah, jangan sampai banyaknya persiapan yang diperlukan menyurutkan kangkah untuk memulai. Atau, jangan pula berpikir bahwa kita harus menyiapkan segala sesuatu yang menjamin langkah kita 100% aman, baru akan mulai.

Ingatlah penurun tebing tadi. Dengan segala persiapan pengamanan, tetap saja ia berhadapan dengan risiko jatuh. Tapi risiko yang sudah terlihat di depan mata diantisipasi. Di luar itu masih ada banyak risiko, tapi ia tetap turun juga, mengambil risiko. Ia percaya bahwa persoalan yang akan ia hadapi di bawah sana, bisa ia atasi.

Mengambil risiko juga bermakna bahwa kita sadar bahwa ada kemungkinan kita akan gagal. Kita tidak takut gagal, dan kita berniat mencoba lagi kalau kita gagal. Tapi bukan berarti kita sengaja mengambil tindakan yang dari awal kita sudah tahu bahwa kita akan gagal. Yang terakhir itu disebut nekat, bukan mengambil risiko.

Bisnis apapun tetap membutuhkan sebuah rencana. Karena itu kita mengenal istilah business plan. Rencana bisnis meliputi sistem deteksi terhadpa berbagai risiko yang ada, yang bisa mengancam keberhasilan bisnis. Risiko itu diantisipasi. Tapi tetap saja sedetil apapun rencana, tidak bisa menghilangkan ancaman 100%. Karena itu harus ada kesediaan untuk mengambil risiko.

Seperti kita lihat dalam berbagai ilustrasi di atas, mengambil risiko bukanlah nekat. Sama sekali berbeda. Jangan mau ditipu dengan istilah nekat, seolah nekat itu sesuatu yang ajaib, bisa mengantarkan orang kepada sukses dalam berbisnis. Tidak, nekat itu lebih mendekatkan orang kepada kegagalan ketimbang kesuksesan.