Monthly Archives: November 2016

Dunia Islam Memerlukan Paradigma Baru

Pada masa awal sejarahnya Islam ditekan. Di Mekah ditolak, sampai harus pindah ke Madinah. Di Madinah, kekuatan baru disusun. Perlahan membesar, sampai mampu melawan balik. Perlahan kekuatan ini membesar, sehingga mampu melumpuhkan kekuatan-kekuatan di sekitar Madinah, yang tadinya melawan, baik dalam koalisi dengan Mekah, mapun yang melawan secara mandiri. Pada akhirnya Mekah pun bisa ditaklukkan.
 
Pada masa berikutnya perang masih berlanjut. Kini perang sifatnya ofensif, untuk menaklukkan wilayah lain, atau pre-emptive, mengantisipasi kekuatan musuh sebelum mereka menyerang. Situasi ini berlanjut hingga Nabi Muhammad wafat. Wilayah kekuasaan Islam meluas hingga ke Syam, Palestina, Persia, dan Mesir.
 
Usai masa kekuasaan khulafaur rasyidin, dunia Islam memasuki fase kerajaan/imperium. Kekuasan semakin meluas, yang diraih dengan berbagai ekspedisi bersenjata, menaklukkan wilayah-wilayah, hingga ke Eropa. Kemudian penguasa imperium silih berganti, demikian pula pusat kekuasaannya. Ada beberapa periode di mana imperium Islam hadir dalam wujud kembar. Imperium terakhir yang wujud adalah kekhalifahan Turki Usmani. Di luar imperium itu tumbuh kerajaan-kerajaan kecil yang relatif independen, seperti kerajaan-kerajaan Islam Nusantara.
 
Pada masa berikutnya, dunia Islam memasuki fase penjajahan kolonial. Hampir semua wilayah di dunia Islam dikuasai oleh kolonial Eropa. Tadinya Turki menjadi bagian dari kolonial itu. Tapi pasca Perang Dunia I Turki melemah hingga praktis seluruh wilayah dunia Islam di bawah kekuasaan kolonial, yang nota bene bukan Islam.
 
Pasca Perang Dunia II, perjuangan kemerdekaan menguat. Muncullah negara-negara baru dalam format negara bangsa. Sebagian masih menjadikan Islam sebagai dasar negara, sebagian lagi merupakan negara sekuler. Ini berlangsung hingga sekarang.
 
Separo dari sejarah Islam di masa kenabian adalah masa di mana umat Islam berada di bawah tekanan, tanpa kemampuan untuk melawan. Ajaran dalam periode ini (makiyah) fokus pada pembangunan fondasi iman (akidah). Pada periode berikutnya (madaniyah), mulai dibangun fondasi syariat (hukum), menopang suatu sistem komunitas yang sudah mengarah pada bentuk negara.
 
Ada satu aspek penting dalam ajaran pada periode madaniyah ini yang hingga saat ini memberi warna pada sejarah Islam, yaitu ajaran untuk melawan, dan berjuang secara fisik. Ajaran ini disebut jihad.
 
Usai kepemimpinan Nabi Muhammad, ajaran ini terus bersifat implementatif. Inilah yang menjadi sumber energi yang menggerakkan berbagai penaklukan. Ada kalanya juga ajaran ini dipakai dalam berperang dengan sesama Islam sendiri. Pada kasus itu, pihak lawan dianggap sebagai kafir yang layak diperangi.
 
Hingga ke masa perjuangan kemerdekaan, ajaran ini masih terus relevan. Semangat jihad dipakai dalam memperjuangkan kemerdekaan.
 
Bagaimana dengan masa setelah itu? Kini kekuasaan negara tidak lagi berdasarkan agama. Dua negara bisa berdiri, keduanya negara Islam. Keduanya bisa beradu dalam konflik kepentingan. Atau, negara tak lagi homogen berupa negara Islam. Saat ada konflik kepentingan, yang beradu bukan lagi Islam lawan non-Islam, melainkan bangsa lawan bangsa.
 
Bagaimana posisi ajaran jihad dalam dunia baru ini? Jihad fondasinya adalah Islam vs non Islam. Mukmin vs kafir. Tapi kini, siapa kafir itu? Indonesia, misalnya, bukan lagi negara Islam. Ini negara di mana Islam dan non-Islam berbaur di bawah satu payung negara. Masih relevankah jihad?
 
Secara faktual kita tidak lagi berada dalam ruang yang sama seperti di masa abad ke VII. Tidak ada lagi garis batas antara Islam dan non-Islam. Akibatnya, batas itu kita buat sendiri. Misalnya, Islam vs non-Islam dalam internal negara Indonesia. Itu garis batas yang dipaksakan ada, karena seharusnya kita tidak berkonflik dalam ruang ini. Atau, kita memberi label pada kekuatan lain, seperti Barat, sebagai kekuatan non Islam. Label ini rancu, karena Barat sendiri tidak melabeli diri mereka dengan label agama. Terlebih, di setiap negara yang dilabeli non muslim itu juga terdapat komponen muslim, meski porsinya masih minoritas.
 
Menurut saya dunia Islam perlu membangun sebuah paradigma berpikir baru. Kita tidak lagi dalam suasana penaklukan bersenjata atau kolonial. Kita juga diharapkan untuk membangun, ketimbang menaklukkan. Bagi saya fokus jihad kita tidak lagi mengarah pada kafir, tapi pada ketertinggalan dalam berbagai bidang: pendidikan, ekonomi, dan teknologi.
 
Energi kita tak perlu lagi kita arahkan untuk melawan pihak luar, tapi untuk melawan diri kita sendiri. Jihad melawan diri sendiri. Dalam hal ini non muslim bukan lagi musuh, tapi bisa kita gandeng sebagai mitra. Bahkan mereka bisa menjadi guru kita.
 
Untuk bisa melakukan itu, kita harus berhenti memandang mereka sebagai musuh. Ayat-ayat yang mengajarkan permusuhan kepada mereka harus kita lihat sebagai bagian dari sejarah masa lalu, bukan perintah untuk kita laksanakan sekarang.

Pasar Dalil

Saya melihat kitab suci itu seperti pasar. Ia menyediakan semua. Di pasar tersedia bahan dan bumbu untuk membuat berbagai jenis masakan. Anda mau soto, gulai, gado-gado, rawon, sate, ketoprak, bubur. Apa saja. Anda bisa dapatkan bahannya di pasar. Demikian pula halnya dengan kitab suci. Anda mau praktek agama yang damai, welas asih, tidak reaktif, Anda bisa mencari dalil-dalilnya. Anda mau keras, galak, tidak kompromi, Anda bisa temukan dalil-dalilnya.

Di Quran ada ayat-ayat yang menyuruh untuk menekan orang-orang non muslim (kafir), bersikap keras pada mereka, bahkan membunuh mereka. Tapi ada juga ayat-ayat yang memerintahkan untuk bergaul dengan mereka secara ma’ruf, dan berlaku adil.

Apakah dengan begitu berarti ayat-ayat itu saling bertentangan? Itu tergantung cara kita melihatnya. Pada dasarnya semua ayat maupun hadist memiliki konteks. Tapi terdapat perbedaan pandangan soal konteks ini. Ada yang berpendapat bahwa makna ayat terikat sangat erat pada konteksnya. Kalau konteknya sudah berubah, maka ayat tersebut tidak lagi bisa dimaknai sesuai bunyinya. Namun sebaliknya, ada yang berpendapat bahwa konteks tidak membatasi makna. Ayat harus dimaknai sebagaimana makna bunyinya saja.

Tapi, bukankah ayat-ayat itu memang seharusnya dipakai sesuai konteks situasi yang dihadapi? Misalnya, kalau pihak kafir menzalimi, kita harus keras, sebaliknya, kalau mereka baik, kita juga harus baik. Teorinya begitu. Masalahnya, definisi zalimdan tidak zalim itu relatif. Demikian pula kafir tidak kafir. Ia bahkan lebih banyak ditentukan oleh asumsi dan persepsi.

Contohnya, soal bagaimana seorang muslim harus bersikap terhadap Amerika. Ada yang menganggap Amerika itu biang kafir, dan juga zalim. Amerika selalu mengganggu negara-negara Islam, membuat kacau di berbagai tempat. Kenapa? Karena Amerika itu Kristen dan Yahudi. Maka Amerika itu musuh Islam.

Tapi di sisi lain ada yang melihat Amerika itu sebuah negara, tidak terkait dengan agama Kristen dan Yahudi. Negara itu bertindak atas dasar kepentingan nasional mereka, juga tanpa meihat agama orang-orang di negara yang menjadi lawan mereka dalam berurusan.

Amerika mengobarkan perang di Afganistan, tapi pada saat yang sama bersekutu dengan Arab Saudi. Keduanya negeri muslim. Bagaimana kita bisa mengatakan bahwa Amerika itu musuh Islam? Pada saat yang sama Amerika punya hubungan yang tegang terhadap Venezuela dan Kuba, yang mayoritas penduduknya adalah Kristen. Bagaimana kita bisa melabeli Amerika sebagai kafir Kristen?

Pada akhirnya, tidak ada orang yang beragama secara komprehensif. Sikap beragama tidak ditentukan oleh pemahaman komprehensif terhadap dalil-dalil. Faktanya, sangat sedikit dari umat Islam yang paham soal dalil. Kebanyakan hanya membaca Quran sekedar bunyinya saja, tanpa memahami isinya.

Orang beragama dengan sebuah kesimpulan d muka. Islam itu agama yang damai. Maka orang akan mencari dalil-dalil damai, dan menjadikannya pedoman. Bahkan, banyak yang tidak tersentuh dalil. Mereka cukup berpegang pada prinsip damai tadi, dan hidup sesuai prinsip itu.

Sebaliknya, ada orang-orang yang memilih untuk memandang Islam sebagai agama yang keras terhadap kafir. Maka mereka hidup dengan bersandar pada dalil-dalil keras, atau bahkan hidup tanpa perlu lagi menelisik dalil-dalil.

Bahkan sama-sama merujuk pada suatu ayat, hasil akhirnya bisa berbeda. Persis seperti orang memasak. Sama-sama pakai daging ayam, hasilnya bisa berupa soto atau gulai.

Jadi, semua kembali kepada Anda. Pasar tidak menentukan, apakah Anda mau masak soto atau rawon. Andalah yang menentukan. Andalah yang meramu bahan dan bumbunya. Andalah yang memilih untuk damai atau keras. Anda boleh saja mengklaim bahwa Anda komprehensif. Kenyataannya tidak.

Mahasiswa Abadi

Istilah ini populer pada tahun 70-90. Tapi saat ini pun sebenarnya fenomena ini masih ada. Mahasiswa abadi adalah mahasiswa yang masa kuliahnya lama. Tidak hanya lama, pada suatu titik, tidak jelas kapan mahasiswa itu akan lulus. Tidak sedikit dari mereka yang akhirnya tidak lulus kuliah.

Gejala ini marak di tahun 80-an, sehingga pemerintah mengeluarkan kebijakan drop out (DO). Pada 2 tahun pertama dilakukan evaluasi dengan ambang batas yang telah ditetapkan. Bila ambang batas itu tidak dilampaui, maka mahasiswa itu akan kena DO. Kebijakan ini tidak berjalan dengan efektif. Banyak kampus yang tidak tega menerapkannya dengan ketat.

Kini masa kuliah diperpendek jadi 4 tahun. Mahasiswa didorong untuk lulus cepat. Gejala mahasiswa abadi sudah turun drastis. Tapi bukan berarti sudah musnah sama sekali.

Ada banyak jenis mahasiswa abadi. Ada yang pada awalnya lancar, setiap mata kuliah dia lulus dengan nilai baik, tapi mentok pada saat harus menulis skripsi. Skripsi tidak kunjung jadi, selama bertahun-tahun. Ada pula yang sejak awal terseok-seok, dan terus begitu sepanjang kuliah. Ada juga yang tidak kuliah, sibuk dengan hal-hal lain di luar itu. Mereka sibuk menjadi aktivis, atau sibuk berbisnis.

Mahasiswa abadi tipe pertama adalah mahasiswa yang gagal membangun kemampuan belajar. Ia tidak bertransformasi menjadi orang yang mampu belajar mandiri. Orang-orang ini belajar dengan tipe anak-anak, tidak masuk ke cara belajar orang dewasa (adult learning). Ia hanya sanggup belajar dengan cara menghafal, pada hal-hal yang disodorkan padanya. Ia tidak sanggup mencari sendiri bahan pelajaran, meramunya menjadi pengetahuan baru, yang bisa ia pakai untuk menyelesaikan masalah.

Mahasiswa yang terseok-seok sejak awal adalah mahasiswa yang boleh jadi memang tidak layak kuliah. Kemampuan intelektualnya tidak memadai. Tapi ia tetap memaksakan diri untuk kuliah, mengikut arus. Atau, dipaksa oleh orang tua untuk kuliah. Mereka kuliah tanpa kemampuan, tanpa tujuan, dan tanpa semangat.

Adapun yang sibuk dengan aktivitas lain di luar kuliah, mereka adalah orang-orang yang kehilangan tujuan. Mereka tidak lagi tahu apa tujuan mereka kuliah. Sebagian sekedar mencari pelarian, karena nilai mereka yang buruk.

Yang sibuk dengan bisnis, ada yang benar-benar sibuk berbisnis, dan bisnisnya bagus. Orang-orang seperti ini memang sebenarnya tidak perlu lagi meneruskan kuliah. Mereka sudah punya segala sesuatu yang dibutuhkan. Tapi tidak sedikit pula yang sebenarnya hanya pura-pura berbisnis. Mereka sebenarnya sedang melarikan diri dari kuliah.

Lalu, ada satu lagi jenis mahasiswa abadi, yang wujudnya agak samar. Mereka cukup lancar kuliah, bisa lulus, tapi tidak sampai punya kemampuan memadai untuk masuk ke dunia kerja. Mereka tidak punya cukup skill. Mereka tidak laku di dunia kerja. Lalu, apa yang mereka lakukan? Kuliah lagi, ambil S2. Mereka mengira ijazah S2 akan menyelamatkan mereka kelak.

Secara keseluruhan, mahasiswa abadi adalah orang-orang yang hidup tanpa manajemen diri. Mereka tidak merumuskan tujuan hidup dengan jelas, tidak punya visi soal masa depan diri sendiri, tidak membuat rencana untuk menjalani hidup, dan tidak hidup menjalani suatu rencana. Hidup mengalir dalam wujud kebetulan-kebetulan. Kalau kebetulannya baik, dapatlah mereka sesuatu. Kalau buruk, terpuruklah mereka.

Tidak sedikit mahasiwa yang belum paham, apa itu kuliah. Mereka berfantasi, menganggap kuliah itu adalah kotak hitam ajaib, siapa saja yang masuk lalu keluar dari situ akan jadi orang sukses. Mereka tidak sadar bahwa kuliah itu adalah seperangkat proses kerja keras, dengan membawa sebuah visi.

Ada banyak mahasiswa yang bermimpi, tapi tidak mengenali jalan menuju mimpinya. Atau, mereka tidak pernah menerjemahkan mimpi itu menjadi rencana-rencana untuk dijalani. Mereka tidur abadi, terbuai mimpi, dalam keadaan jasad mereka hidup melakukan berbagai kegiatan.

Apa yang mesti dilakukan? Bangun, tatap masa depan. Tentukan visi, mau jadi apa saya. Berdasarkan visi itu, susun rencana. Kuliah apa yang akan diambil, kegiatan apa yang akan dilakukan, skill apa yang akan dibangun. Tetapkan jangka waktu pencapaian. Eksekusi, jalankan rencana itu. Evaluasi pencapaiannya secara periodik. Bila ada yang belum sesuai target, lakukan tindakan koreksi. Inilah yang disebut mekanisme plan-do-check-action (PDCA).

Kapital, Teknologi, dan Senjata

Suka atau tidak, 3 hal itu memenuhi ruang hidup kita sekarang. Ekonomi dunia digerakkan oleh kalitalisme, kekuatan uang. Uang ini jadi lingkaran setan dengan berbagai pendukungnya. Kapital menggerakkan inovasi teknologi. Inovasi ini nanti akan memberikan masukan kembalian berupa uang lagi, dalam jumlah yang lebih berlipat. Pada saat yang sama, teknologi memungkinkan terciptanya senjata-senjata canggih, yang bisa dipakai untuk mengamankan sumber daya alam, jalur bisnis, juga sebagai tekanan politik. Nanti, lagi-lagi ia akan memberikan pengembalian dalam jumlah yang lebih dahsyat lagi.

Amerika memegang semua itu. Teknologi, senjata, kapital. Ditambah lagi, sumber daya alam. Gonjang ganjingnya harga minyak dunia sekarang ini tidak terlepas dari beralihnya konsentrasi pemakaian energi Amerika dari minyak ke shallow gas.

Maka, meski babak belur saat krisis Lyman 6 tahun lalu, Amerika tetap kokoh. Meski ekonominya babak belur, seluruh negara di dunia masih tetap mengandalkan dolar sebagai cadangan devisa.

Rusia punya sumber daya alam, teknologi, dan tentu saja senjata. Tapi dalam hal kapital, masih jauh di bawah Amerika. Cina yang relatif lebih komplit, ditambah dengan satu hal, jumlah manusia. Yang terakhir ini bisa jadi keuntungan sekaligus masalah.

Jepang dan Korea punya teknologi dan kapital. Dalam hal senjata mereka masih tergantung pada Amerika, meski sekarang mulai menggeliat untuk melepaskan diri.

Apa yang dimiliki negara-negara Islam? Cuma sumber daya alam. Teknologi mereka tidak punya. Maka sumber daya alam hanya bisa jadi kapital dengan bantuan teknologi dari negara-negara lain. Parahnya, kapital yang diperoleh sebagian besar habis untuk konsumsi, tidak menghasilkan inovasi. Ketika sumber daya alam habis atau turun harga, mereka terancam jatuh miskin. Inilah yang sedang dihadapi oleh negara-negara Arab. Indonesia juga begitu.

Apa yang terpenting dari itu semua? Manusia. Manusialah yang bergerak menumpuk kapital, membuatnya jadi berlipat, mengubahnya menjadi teknologi, dan melipat gandakan kapital lagi. Manusia juga yang mengelola senjata, menjadikannya kekuatan untuk menguasai wilayah dan supply chain.

Kalau kita lihat sejarah peradaban, sejak abad pertengahan, dunia Islam sudah mundur jauh. Mereka tak lagi mengendalikan kapital, juga tidak mengendalikan teknologi. Ekonomi berkembang tanpa warna Islam. Dunia Islam bergeser keluar lapangan permainan, menjadi penonton.

Apa yang bisa dilakukan penonton? Bersorak, atau mengeluh. Itulah dunia Islam sekarang. Lebih spesifik lagi, lebih banyak mengeluhnya. Mereka mengeluh soal kapitalisme yang tidak adil, tapi ekonominya dikendalikan oleh kapitalisme. Setiap orang belanja memakai uang kertas produk riba, sambil merapalkan dalil-dalil tentang keharaman riba. Islam tidak hadir lagi ketika mata uang modern diperkenalkan dan dikembangkan.

Orang-orang Islam mengeluh soal babi yang haram, sementara produk makanan dan obat-obatan mereka dipenuhi produk turunan dari babi. Demikian pula halnya dengan alkohol.

Orang-orang Islam mengeluh soal khalwat, rapatnya interaksi perempuan dan laki-laki. Tapi berbagai produk budaya liberal memenuhi ruang keluarga mereka dalam wujud TV dan internet.

Kita bertanya, bagaimana caranya agar umat Islam bisa kembali berjaya, ikut berkontribusi dalam derap peradaban dunia? Sedihnya, jawabannya aneh: kembali kepada Quran dan sunnah. Maaf, jawaban itu salah. Maksudnya, salah karena yang dimaksud kembali adalah kembali hidup dengan gaya abad ke 7.

Tidak bisa tidak, kalau mau bangkit maka dunia Islam harus menguasai 2 hal fundamental: kapital dan teknologi. Caranya? Apa boleh buat, jadilah kapitalis. Lebih kapitalis dari Amerika. Kemudian lakukan konversi kapital menjadi teknologi.

Yang kedua itu maha sulit. Untuk membangun teknologi, orang harus punya satu tradisi penting: berpikir bebas. Ini tidak dimiliki dunia Islam. Orang-orang Islam sudah dibelenggu dengan norma-norma abad 7, membuat mereka tak bisa bergerak. Pikiran mereka sudah dipenjara dalam ruang yang sangat sempit.

Ini kenyataan pahit yang harus saya ungkap. Maka posis saya adalah bongkar ruang sempit itu. Merdekakan diri, meski dengan itu kita akan dianggap kafir sekalipun.

Mitos-mitos Islam

Ada banyak mitos yang dipercaya oleh umat Islam, baik yang menyangkut sejarah masa lalu maupun keadaan masa kini. Mitos-mitos ini selalu dikumandangkan dalam berbagai kesempatan, di pengajian, pelajaran sekolah, juga dalam obrolan. Sebagian besar dari umat Islam itu tidak mengaji dengan benar, juga tidak membaca buku. Mereka mempercayai begitu saja mitos-mitos itu, tanpa pernah mau memeriksanya. Sebaliknya, bila kita ungkapkan pandangan versi lain, mereka akan marah.

Mitos-mitos ini membentuk pola pikir, bingkai bagi mereka dalam melihat segala sesuatu. Maka, sering kali mereka melihat dengan cara yang salah. Salah satu produk kesalahan bingkai ini adalah sikap tidak toleran terhadap agama lain.

Bagi saya mitos-mitos ini harus dibongkar. Fakta-fakta sebenarnya harus dibukakan. Atau setidaknya, sudut pandang lain harus disampaikan kepada mereka. Perubahan sudut pandang diharapkan bisa pula mengubah sikap, ke arah yang lebih toleran.

Berikut beberapa mitos yang dipercaya oleh umat Islam.

1. Mitos Perang Defensif

Umat Islam percaya bahwa pihak Islam tidak pernah memulai perang, atau melakukan perang ofensif. Perang hanya dilakukan untuk membela diri. Ini keliru.

Boleh dibilang bahwa perang-perang defensif hanya terjadi pada masa awal sejarah Islam, seperti Perang Badar, Perang Uhid, dan Perang Khandaq. Perang-perang lain lebih banyak merupakan perang ofensif, di mana umat Islam pergi keluar dari Madinah, untuk menyerbu posisi lawan.

Contohnya adalah perang dengan Bani Qaunuqa. Perang ini terjadi tak lama setelah Perang Badar. Umat Islam yang menang dalam perang yang tak seimbang itu menjadi sangat percaya diri. Nabi Muhammad pergi ke pasar di kampung Bani Qaunuqa, menyampaikan ultimatum, agar kaum Yahudi Bani Qaunuqa masuk Islam. Bila tidak, nasib mereka akan seperti orang-orang Quraisy Mekah.

Ultimatum itu ditolak oleh Bani Qaunuqa. Para penulis sejarah Islam menyebut mereka congkak dengan penolakan itu. Sudut pandang inilah yang dianut oleh umat Islam hingga kini. Padahal, siapakah yang memberi ultimatum?

Penolakan atas uktimatum itu menimbulkan suasana tegang. Hanya diperlukan percikan kecil, untuk menyulutnya menjadi perang. Seorang tukang emas Yahudi iseng mengaitkan kerudung seorang muslimah di pasar, sehingga kerudungnya terlepas. Ia dibunuh oleh seorang lelaki muslim yang ada di situ, kemudian ia dibalas bunuh. Meletuslah perang.

Perang-perang lain adalah perang ofensif, atau setidaknya dalam istilah sekarang bisa disebut pre-emptive strike. Menyerang duluan terhadap musuh yang hendak melakukan serangan ofensif. Misalnya Ekspedisi Mu’ta dan perang dengan Bani Mustaliq.

Dalam sejarah selanjutnya di masa khalifah, tentara Islam bergerak jauh keluar dari jazirah Arab, menaklukkan Syiria, Palestina, Persia, hingga Mesir. Di masa selanjutnya bahkan sampai mencapai daratan Eropa. Bagaimana kita bisa mengatakan orang Madinah mempertahankan diri dengan menaklukkan Persia dan Mesir?

2. Kristen dan Penjajahan

Orang Islam terbiasa menganggap penjelajahan samudera yang kemudian diikuti dengan penjajahan adalah bagian dari misi Kristen. Karenanya mereka sering memandang Kristen sebagai musuh, karena mereka dulu penjajah.

Pandangan di atas tidak sepenuhnya benar, tapi juga tidak sepenuhnya salah. Kerajaan-kerajaan Eropa pada abad pertengahan memang merupakan kerajaan Kristen. Mereka menjelajahi dunia, menaklukkan, kemudian menjajah. Tujuan utamanya, menguasai wilayah, mengambil keuntungan dari berbagai sumber daya alam di daerah taklukan.

Itu semua adalah motif ekonomi belaka. Kebetulan agama resmi kerajaan adalah Kristen, maka misi Kristen juga terbawa dalam kegiatan itu.

Hal yang sama sebenarnya juga dilakukan oleh orang-orang Islam. Seperti saya tulis di atas, pasukan khalifah Islam menaklukkan berbagai wilayah, kemudian menguasainya. Orang-orang Islam menceritakan sejarah ini dengan bangga. Tapi mereka tidak menyebut penaklukan ini sebagai penjajahan. Mereka menyebutnya dakwah Islam.

3. Minoritas Muslim Dizalimi

Orang-orang Islam Indonesia selalu mengulangi frasa yang sama,”Umat Islam di negara mayoritas non muslim selalu dizalimi.” Itu dijadikan pembenaran saat mereka menzalimi umat lain di Indonesia. Kata mereka, perlakuan yang kalian terima masih mendingan dibanding dengan kaum muslim di negara non muslim.

Kalau menyebut contoh, mereka selalu merujuk ke Palestina dan Myanmar. Padahal keduanya sama sekali tak cocok untuk dipadankan dengan keadaan Indonesia. Palestina sedang dalam konflik militer dengan Israel. Itu yang membuat mereka sengsara. Keadaan itu tak ada hubungannya dengan soal minoritas. Muslim di Palestina adalah minoritas.

Muslim minoritas di Myanmar memang tertekan. Tapi itu tak membenarkan kesimpulan bahwa seluruh muslim minoritas tertekan dan terzalimi.

Di negara-negara Eropa dan Amerika kaum muslim mendapat ruang gerak yang luas. Mereka bisa berimigrasi, menjadi warga negara, dan mendapatkan hak-hak sebagaimana warga negara lain. Bahkan tidak jarang pula mereka menjadi politikus dan pemimpin. Saat ini setidaknya ada 2 muslim yang menjadi walikota di Eropa, yaitu di London dan Rotterdam. Demikian pula halnya dengan di Amerika dan Kanada.

Ironisnya, tak sedikit muslim yang menderita justru di negeri sendiri, di mana mereka mayoritas, di bawah pemimpin yang muslim pula. Contohnya adalah kaum muslim di kawasan yang terus bergolak, yaitu Syiria, Irak, dan Yaman. Setiap hari mereka terbunuh, terluka, dan terusir.

Itulah beberapa mitos yang dipercayai oleh umat Islam. Masih ada banyak mitos lain. Semua harus dibuka, agar kaum muslim dapat melihat segala sesuatu dengan sudut pandang yang lebih luas.