Monthly Archives: October 2016

Nobody’s Child

Tahun 1987 menjelang kuliah di UGM saya kebetulan hadir di suatu acara (kalau tak salah halal bi halal) masyarakat Kalimantan Barat di Jakarta. Para mahasiswa asal Kal-Bar yang berada di Jakarta terlibat dalam kepanitiaan. Saya waktu itu kebetulan menumpang sejenak di asrama daerah, diikutkan pula sebagai penyambut tamu. Orang-orang penting hadir pada acara itu, termasuk gubernur beserta istrinya.

Dalam acara ramah tamah, gubernur dan istri berkeliling menyapa para mahasiswa. Beberapa tampak sudah akrab dengan mereka. Saya paham, karena kebanyakan dari mereka adalah anak orang-orang penting di daerah kami. Ada yang pejabat pemerintah, tentara, serta pengusaha. Beberapa yang belum dikenal oleh kedua orang penting itu ditanyai, “Kamu anak siapa?” Mereka dengan sopan menjawab, “Saya anak Pak Anu.” Gubernur dan istrinya kemudian berkomentar ramah soal orang tua mahasiswa tadi.

Tibalah giliran saya. Istri gubernur dengan ramah menanyai saya.

“Kamu anak siapa?”

“Bapak saya Abdurakhman?”

“Pak Abdurakhman mana ya? Dinas di mana?”

“Tidak dinas, Bu. Bapak saya petani.”

Istri gubernur kehilangan kata-kata untuk berkomentar. Dia cuma berguman “Oooo”, kemudian berlalu.

Kalau mau diukur dengan jabatan ataupun harta, saya memang bukan anak siapa-siapa. Ayah saya petani, sekolah hanya sampai kelas 2 Sekolah Rakyat. Emak bahkan tak pernah sekolah sama sekali. Saya memulai hidup saya dari tempat paling dasar.

Di sekitar kita, ada banyak orang seperti saya, nobody’s child. Orang-orang seperti saya adalah orang yang tertinggal beberapa langkah dalam hal akses. Saat beberapa orang hanya memerlukan satu panggilan telepon atau satu kunjungan dari bapaknya untuk bisa mendapatkan bantuan gubernur, bagi saya bantuan dari gubernur nyaris mustahil. Maka orang-orang seperti saya harus benar-benar istimewa untuk menjadi “seseorang”.

Perlukah kita yang bukan anak siapa-siapa ini berkecil hati? Tidak. Dari pengalaman keseharian kita bisa melihat bahwa modal awal bukanlah segala-galanya untuk mencapai sukses. Sebenarnya sukses pun tidak diukur dari berapa tinggi tempat seseorang berdiri. Sukses diukur dari seberapa jauh seseorang telah naik. Tidak hanya itu. Sukses juga akan lebih indah bila dilihat pula jalan apa yang sudah ditempuh oleh seseorang untuk naik sampai ke posisi tertentu. Lebih penting lagi, apa yang kemudian diperbuat seseorang ketika ia sudah sampai pada posisi tertentu.

Hari-hari ini kita melihat ada beberapa orang yang sepertinya tak perlu banyak berkeringat untuk bisa berdiri pada posisi tertentu, karena mereka adalah keturunan orang penting. Sekilas hal itu bisa membuat iri. Tapi cobalah lihat lagi. Mereka boleh jadi hanyalah orang yang jalan di tempat. Tak ada peningkatan dalam hidup mereka. Alih-alih, boleh jadi mereka adalah orang yang sedang merosot.

Tentu ada di antara mereka yang mampu menapak lebih tinggi lagi. Maka perhatikanlah bahwa hanya orang-orang yang berkeringatlah yang mampu melakukan itu. Untuk naik sejumlah anak tangga diperlukan kerja keras yang sama, tak peduli dari mana kita memulainya.

Dalam berbagai pergaulan, saya menemukan banyak orang berprestasi. Ada yang melakukan riset, dengan itu ia tampil di berbagai panggung internasional. Ada seniman yang menginspirasi begitu banyak orang. Ada pula pengusaha yang bisnisnya menghidupi ribuan orang. Bermacam-macam orang dengan berbagai prestasi. Ada yang berlatar belakang seperti saya, anak petani kampung. Namun ada pula beberapa yang berasal dari keluarga terpandang.

Ketika saya duduk bersama mereka, tak penting lagi anak siapa mereka. Tak ada bekas tinggalan orang tua dalam rekam jejak mereka. Mereka hidup di dunia di mana hanya kerja diri sendirilah yang dihitung orang.

Saya merasa sangat bahagia bisa berkenalan dan berkumpul dengan orang-orang luar biasa ini. Kebahagiaan kecil saya ini membasuh “luka” di hati saya saat melihat anak-anak orang penting yang tak jelas apa kemampuan dan prestasinya, namun bisa menduduki posisi penting dalam pemerintahan. Luka saya bukan karena saya merasa bahwa saya lebih berhak. Luka saya lebih karena sedih dan kasihan melihat mereka berusaha mati-matian meyakinkan publik bahwa mereka layak berada di situ. Kasihan, karena mereka hanya sanggup berusaha meyakinkan orang dengan omongan, bukan dengan tindakan. Di ujung cerita, mungkin orang akan mengenang mereka sebagai “Anak Si Anu” belaka. Atau bahkan mereka akan jadi orang-orang yang terlupakan.

Ilusi Pendidikan Tinggi

wisuda

 

 

 

 

 

 

Ini adalah cerita yang biasa kita saksikan. Satu keluarga petani, tinggal di desa. Mereka punya sawah atau kebun, hidup cukup dengan hasil darinya. Dengan hasil kebun itu mereka menyekolahkan anak, hingga ke perguruan tinggi. Tidak sedikit dari mereka yang menjual sebagian sawah atau ladang untuk keperluan itu.

Ketika anaknya selesai kuliah, ia tak menjadi apa-apa. Ia tidak mendapat kerja di perusahaan atau lembaga pemerintah. Ia kembali ke kampung, bertani lagi. Atau bekerja sebagai buruh. Tidak terlihat sesuatu yang membedakan dirinya dengan orang-orang yang tak kuliah. Tidak sedikit pula yang bahkan tidak sanggup mandiri seperti orang tua mereka, sekedar menumpang hidup dari harta yang didapat oleh orang tua.

Apa yang sedang terjadi? Apa yang salah pada perguruan tinggi kita?

Dalam masa 20-30 tahun terakhir ini kita sedang mengalami berbagai jenis transformasi. Ada transformasi dari masyarakat agraris menuju masyarakat industri. Juga transformasi demografis dari desa menjadi urban. Akses ke dunia pendidikan sedang bertransofrmasi menjadi lebih mudah. Dalam situasi itu seharusnya terjadi pergeseran pola pikir. Tapi sering kali terjadi situasi yang tidak sinkron antara situasi yang dihadapi dengan pola pikir yang dipakai.

Di masa lalu sekolah adalah tiket untuk pindah dari domain petani-desa-wong cilik menjadi pegawai-kota-priyayi. Seperti digambarkan oleh Umar Kayam dalam novel “Para Priyayi’, sekolah membuat para wong cilik yang tadinya harus menerima status wong cilik sebagai suratan takdir, bisa bertransformasi menjadi priyayi. Anak orang desa, sekolah, menjadi pegawai pemerintah atau swasta, kemudian menjadi orang kaya dan terhormat di kota.

Proses ini yang dipercayai oleh banyak orang. Mereka terjebak dalam ilusi, bahwa sekolah, khususnya perguruan tinggi adalah mesin pencetak priyayi. Siapapun yang masuk ke situ akan keluar sebagai sosok yang digambarkan di atas. Dengan modal gelar sarjana dan ijazah, mereka berharap bisa pindah dari domain wong cilik menjadi priyayi.

Di masa lalu hal itu memang berlaku. Siapapun yang pernah kuliah nyaris bisa dipastikan akan mendapat pekerjaan. Tapi sekarang situasi sudah berubah. Fakta menunjukkan bahwa ada begitu banyak pengangguran sarjana, fenomenanya diwakili oleh cerita di awal tulisan ini tadi. Diperkirakan saat ini ada 500 ribu sarjana yang menganggur.

Orang tua menyekolahkan anak-anak mereka berdasar pada ilusi tadi. Mereka tidak menimbang kemampuan intelektual anak. Pokoknya kuliah. Kalau tidak bisa masuk jurusan favorit, cari jurusan lain. Tidak bisa masuk ke perguruan tinggi besar, masuk ke perguruan tinggi kecil pun tak apa. Tak bisa masuk ke negeri, ke swasta pun boleh. Tak bisa masuk ke PTS mahal, cari yang murah.

Sebagian besar anak-anak yang dikuliahkan juga berpikir seperti itu. Masih banyak yang mengira bahwa ijazah dan gelar sarjana akan menjamin masa depan mereka. Mereka tidak tahu soal apa yang dibutuhkan untuk merebut kesempatan kerja yang sudah semakin menyempit. Mereka kuliah tanpa rencana dan target.

Adapun perguruan tinggi, mereka sekedar menangkap situasi ini sebagai pasar yang harus digarap. Orang-orang membuka berbagai perguruan tinggi swasta, untuk menampung luberan peminat kuliah yang tidak tertampung di perguruan tinggi negeri. Maka kita menyaksikan perguruan tinggi berdiri hingga ke pelosok negeri. Tak mau kalah dengan swasta, perguruan tinggi negeri menyelenggarakan program extention, untuk menampung orang-orang yang tak lulus dalam seleksi reguler.

Orang-orang juga menjadi gila gelar. Lulusan sekolah vokasi yang tadinya tidak perlu menyandang gelar sarjana, memaksa diri pindah ke jalur akademik, agar punya gelar. Tidak punya gelar dianggap seperti cacat. Orang merasa lebih tidak nyaman dalam status tanpa gelar ketimbang tanpa keahlian.

Situasi ini harus diubah. Orang-orang harus dibangunkan dari ilusi. Sekolah atau perguruan tinggi bukan mesin pencetak priyayi. Harus disadari bahwa tidak semua orang harus kuliah. Juga tidak semua orang harus jadi sarjana. Menguliahkan anak harus didahului dengan pemikiran tentang apa potensi yang dimiliki anak, dan perencanaan soal akan jadi apa anak itu kelak.

Juga harus disadarkan bahwa masa priyayi sudah selesai. Sekarang orang bisa hidup terhormat sebagai petani yang makmur. Atau jadi pedagang, perajin, dan pengusaha. Tidak selalu harus jadi pejabat negara atau perusahaan. Anak-anak bisa dikuliahkan dengan mempertimbangkan potensi yang ia miliki, juga aset yang dimiliki keluarganya. Seorang anak petani, misalnya, bisa belajar untuk mengelola pertanian orang tuanya secara modern, berikut aspek bisnis pertanian tersebut.

Poin terpentingnya adalah bahwa kuliah itu tempat belajar. Belajar dengan suatu tujuan, dan target. Mau jadi apa seseorang dengan kuliah, maka jurusan yang ia pilih disesuaikan dengan tujuan itu. Kemudian selama kuliah ia secara terstruktur dan terencana belajar soal hal-hal yang ia butuhkan.

 

Pelajar Madrasah Memperkosa

Perkosaan remaja kembali terjadi lagi. Kali ini di Bone, Sulawesi Selatan. Seorang siswi diperkosa 5 orang temannya. Berbeda dengan kasus perkosaan Yuyun, yang pelakunya adalah anak-anak nakal peminum minuman keras, kali ini pelakunya adalah pelajar madrasah aliyah, sekolah setingkat SMA, yang memberikan pelajaran agama dalam porsi lebih banyak daripada sekolah umum.

Ada anggapan umum yang berkembang di Indonesia, bahwa agama itu panduan akhlak. Orang beragama berarti akhlaknya baik. Tidak beragama adalah sebuah keburukan. Untuk memperbaiki orang suruhlah ia beragama dan menjalankan agama. Maka, agar anak-anak kita baik, bekalilah mereka dengan pelajaran agama. Tidak hanya dibekali, tapi bekali sebanyak-banyaknya, dan sedini mungkin.

Maka anak-anak kita dijejali dengan berbagai bentuk pelajaran agama, sejak TK. Mereka disuruh menghafal ayat-ayat dan doa-doa. Menghafal kemudian menjadi trend. Anak TK harus menghafal sekian surat, kalau sudah SD harus hafal sekian juz. Hafal seluruh Quran jadi kebanggan. Bonusnya, bisa tampil di TV.

Ketika marak kasus kenakalan remaja, orang berpikiran sama, pendidikan agama untuk mereka kurang. Bahkan kurikulum 2013 menggiring semua pelajaran menjadi “pelajaran agama”, setiap materi pelajaran dikaitkan denga pikiran tentang Tuhan.

Kalau pelajaran agama adalah solusi, bagaimana kita memaknai kejadi pemerkosaan oleh pelajar madrasah tadi? Ya, tentu saya sadar bahwa saya tidak boleh melakukan generalisasi, hanya karena ada kejadian ini tidak berarti pelajaran agama telah gagal. Hanya saja, kalau untuk menyimpulkan bahwa pelajaran agama gagal diperlukan data yang valid, tidakkah kesimpulan bahwa pelajaran agama memperbaiki akhlak juga memerlukan data untuk mendukungnya? Adakah data itu?

Kita sudah sering terpana oleh para koruptor yang dalam kesehariannya adalah orang-orang taat agama. Tidak sedikit dari mereka bahkan pemuka agama, termasuk juga menteri agama. Mereka rajin beribadah, dan rutin berkunjung ke tanah suci. Ironisnya, ada di antara mereka yang merencanakan tindak pidananya di tanah suci. Lalu, apa hubungan antara agama dengan akhlak kalau begitu? Tidak ada.

Oh, mereka itu beragama dengan cara yang salah, kata orang-orang membela. Kalau mereka beragama dengan benar, kata mereka, tentu mereka tidak akan melakukan perbuatan buruk, karena agama melarang orang berbuat buruk. Ya, betul bahwa agama melarang orang berbuat buruk. Tapi ingat, tidak hanya agama yang melarang. Adat istiadat juga melarang. Akal sehat juga. Tanpa dilarang agama pun kita tahu bahwa korupsi, mencuri, atau memperkosa, itu perbuatan buruk.

Artinya, yang perlu kita lakukan adalah penyadaran soal baik buruk. Tidak cukup sampai di situ, kita juga perlu menciptakan sarana atau mekanisme untuk melatih kebaikan-kebaikan, agar menjadi kebiasaan. Pada saat yang sama kita perlu mencegah dan mengikis kebiasaan-kebiasaan buruk.

Pelajan agama di sekolah-sekolah kita umumnya berhenti pada agama sebagai pengetahuan, tidak membangun kesadaran. Bahkan tak jarang lebih rendah dari itu, pelajaran agama adalah hafalan. Kebiasaan-kebiasaan yang diciptakan sebatas pada ritual-ritual. Anak-anak diajarkan untuk terbiasa salat berjamaah, tapi tidak diajari untuk antri. Yang terbentuk adalah anak-anak yang taat ibadah, tapi belum tentu berbudi pekerti. Produk dalam format dewasanya adalah koruptor-koruptor yang rajin ibadah tadi.

Kita memerlukan pendidikan karakter. Tapi setiap kali kita bicara soal itu, yang menempati posisi nomor satu adalah iman dan takwa, lalu selesai. Pendidikan karakter direduksi menjadi pelajaran agama, dan kebiasaan untuk ibadah. Selesai, berhenti sampai di situ. Padahal ada begitu banyak aspek pendidikan karakter yang harus dieksplorasi, tapi tidak kita lakukan. Kenapa? Karena kita berilusi bahwa agama adalah solusi untuk segala persoalan akhlak. Padahal sama sekali tidak.

Bagi saya, agama dalam pendidikan kita bukanlah solusi.

Refleksi dari “To Do List”

todolist
To do list adalah daftar tugas-tugas yang harus dikerjakan pada suatu rentang waktu. Biasanya dibuat harian, mingguan, atau bulanan. Ini adalah bagian dari perencanaan. To do list bisa dibuat untuk tim, atau untuk pribadi. Tentu saja daftar ini tidak harus dibuat dalam bentuk tertulis. Kita bisa saja mengagendakan pekerjaan-pekerjaan kita dalam memori otak kita, tanpa mencatatnya. “To do list” bukanlah soal bentuk fisik catatannya, tapi substansinya, yaitu kita merencanakan untuk melakukan sesuatu pada suatu rentang waktu.
 
Nah, pernahkah Anda menganalisa isi “to do list” Anda? Sadarkah Anda bahwa “to do list” banyak mencerminkan siap diri Anda, dan bagaimana karakter Anda dalam bekerja?
 
Berikut beberapa hal yang bisa Anda pahami dari “to do list” Anda.
 
1. Tidak punya “to do list”, atau daftarnya kosong. Artinya Anda tidak punya rencana apapun. Anda tidak terbiasa hidup dengan perencanaan, atau memang tidak ingin mengerjakan apapun. Kok bisa? Mungkin Anda tidak peduli dengan hidup Anda.
 
Ada begitu banyak orang hidup tanpa tujuan, tanpa target. Hidup hanya mengalir, mengikuti bertambahnya waktu. Ia berharap pada kebetulan-kebetulan yang menghampirinya. Bila ada kebetulan yang menguntungkan, maka ia mendapat sedikit keuntungan. Bila tidak, ia akan menjadi pecundang seumur hidup. Saya berharap Anda tidak begitu.
 
2. Penuh dengan tugas-tugas kemarin, atau minggu lalu. Atau, penuh dengan tugas-tugas mendesak. Itu artinya Anda sering lalai dalam melaksanakan tugas, tidak patuh pada tenggat waktu. Besar kemungkinan karena Anda lambat dalam bekerja, atau Anda sering menunda pekerjaa. Anda adalah orang yang bermasalah dalam pengelolaan waktu.
 
Benahi sistem kerja Anda. Kerjakan tugas dengan cepat. Hentikan kebiasaan menunda.
 
3. Penuh dengan tugas dari orang lain. Artinya Anda seorang bawahan, atau seorang penunggu perintah. Anda belum jadi pengambil inisiatif. Anda menunggu tugas dibebankan oleh orang lain kepada Anda. Waktu Anda mungkin akan habis dipakai untuk melayani orang.
 
Biasakan untuk mengerjakan pekerjaan yang Anda anggap perlu untuk diselesaikan, sebelum diperintahkan. Biasakan berpikir untuk merumuskan tindakan yang akan Anda ambil. Jadilah orang yang penuh inisiatif.
 
4. Penuh dengan tugas-tugas rutin. Anda tidak melakukan tugas-tugas baru. Tapi pekerjaan saya memang hanya ini, rutin. Lalu, bagaimana Anda akan berkembang? Anda mau berada di tempat yang sama, mengerjakan hal yang sama, sampai mati? Tidak kan? Maka sisipkan agenda-agenda pengembangan, agenda belajar dalam to do list Anda. Tetapkan target untuk belajar 1 pengetahuan baru, 1 keterampilan baru, setiap waktu. Setiap hari baca satu artikel, belajar satu keterampilan.
 
5. Isinya terlalu banyak. Mungkin Anda tidak bisa memilah mana yang penting dan mana yang tidak untuk ditempatkan dalam to do list. Atau, Anda tidak pandai menetapkan prioritas.
 
Ini juga bisa bermakna bahwa Anda bekerja sendiri, tidak dengan tim. Anda tidak pandai mendelegasikan tugas, berbagi beban. Anda membebani diri dengan pekerjaan-pekerjaan yang seharusnya bisa dilakukan oleh orang lain.
 
Atau, sederhananya, Anda sedang dikerjai, baik oleh atasan mapupun rekan kerja.
 
Latihlah diri Anda untuk berbagi tugas, mendelegasikan pekerjaan. Bila bawahan atau rekan kerja tidak mampu melakukan tugas itu, latihlah mereka agar mampu. Dengan cara itu kosongkan sebanyak mungkin waktu Anda, agar Anda bisa mengambil inisiatif untuk melakukan pekerjaan yang lebih penting dan lebih besar. Juga agar Anda punya lebih banyak waktu untuk mengambangkan diri.
 
Selamat menganalisa “to do list” Anda.

Mencegah Kecanduan Gawai pada Anak

Kecanduan gawai artinya anak menghabiskan sangat banyak waktu dengan gawai. Waktu mereka dengan gawai melebihi waktu interaksi dengan manusia nyata. Anak selalu memegang gawai dalam setiap kesempatan, termasuk pada saat makan, atau di tempat tidur. Mereka abai terhadap banyak hal, seperti interaksi dengan orang lain, pelajaran, dan tugas-tugas di rumah.

Saya tak perlu berpanjang lebar menjelaskan akibat kecanduan gawai itu. Anak jadi susah dikontrol, tidak lagi mendengarkan kita. Hubungan kita dengan anak terputus. Prestasi belajar mereka akan rusak. Boleh jadi fisik mereka pun akan rusak, terutama mata.

Bagaimana mencegahnya? Pertama, membebaskan diri kita dari kecanduan gadget. Anak yang kecanduan biasanya tumbuh dari orang tua yang kecanduan. Anak tidak hanya meniru orang tua, tapi menemukan pelarian sendiri saat diabaikan oleh orang tua mereka yang kecanduan. Maka kalau Anda sendiri mengalami kecanduan dengan ciri-ciri di atas, segeralah lakukan pengobatan untuk diri Anda sendiri.

Apa yang mesti dilakukan agar anak kita tidak kecanduan gawai? Sebenarnya ini berlaku juga untuk berbagai jenis kecanduan lain, seperti TV, game, atau komik. Hal terpenting adalah menyediakan waktu sebanyak mungkin untuk berinteraksi dengan anak, memberi mereka perhatian sebanyak mungkin.

Anak-anak pada dasarnya sangat membutuhkan interaksi dengan orang tua. Mereka akan lapor saat melihat, mendengar, atau mengalami sesuatu yang tidak biasa, atau membuat mereka senang/sedih. Tapi apa yang terjadi saat anak memberi tahu sesuatu pada kita? Kita mengabaikannya, menganggapnya tidak penting, atau bahkan memarahinya. Itu terjadi karena kita sendiri asyik dengan hal lain seperti gawai, TV, obrolan dengan teman, atau dengan pekerjaan kita. Kalau itu terjadi, anak akan mulai berhenti bicara dengan mereka. Mereka akan mencari hal-hal lain.

Kedua, ajak anak melakukan aktivitas bersama. Bentuknya bisa sangat banyak. Bisa main, masak, olah raga, berbincang, atau sekedar bercanda. Banyak orang tua yang mengeluh, sulit menyuruh anak berhenti dari keasyikan mereka dengan gawai. Kenapa? Karena hanya disuruh, tidak dialihkan kepada hal lain yang lebih positif, dan orang tuanya tidak terlibat. Ketimbang menyuruh, mengajak akan lebih efektif. Kalau anak-anak terlalu asyik nonton TV atau main gawai, cobalah ajak mereka melakukan hal lain, seperti main sepeda, atau hal lain. Pasti akan lebih mudah.

Ketiga, bantu anak dalam pelajaran. Kesulitan dalam pelajaran membuat anak menjadi kehilangan gairah untuk belajar. Saat mereka kesulitan banyak orang tua yang tidak peduli, tidak membantu. Anak jadi frustrasi. Mereka enggan belajar, dan mulai mencari hal lain. Bantulah anak mengatasi kesulitan mereka, buat agar belajar itu menyenangkan. Manfaatkan internet untuk melakukan eksplorasi yang membuat pelajaran lebih menarik dan mudah dipahami.

Keempat, perhatikan batas umur anak. Jangan berikan penguasaan gawai kepada anak yang belum cukup umur. Demikian pula dengan akun media sosial. Facebook misalnya menetapkan batas usia minimal 13 tahun. Jangan langgar batas itu.

Kelima, beri tahu anak tentang apa itu internet, manfaat dan kerugiannya. Tidak cukup sekali, tapi mesti berulang-ulang, agar anak-anak paham dan sadar.

Keenam, batasi dan minimalkan waktu penggunaan gawai oleh anak-anak secara ketat. Biasakan pula agar mereka mengaksesnya di ruang terbuka, misalnya di ruang keluarga, yang berada dalam jangkauan pengawasan kita. Jangan biarkan anak-anak terbiasa main gawai di tempat tersembunyi. Jangan biarkan mereka main gawai saat kita tidak berada di dekat mereka.

Intinya adalah, penuhi waktu anak dengan interaksi bersama kita, sehingga mereka cukup mendapat perhatian, dan tidak tenggelam dalam keasyikan sendiri.