Monthly Archives: September 2016

Mengajar di Jepang

Baito! Kata itu adalah salah satu kata yang populer di kalangan mahasiswa di Jepang, baik mahasiswa asing maupun mahasiswa lokal. Kata itu adalah penggalan dari kata “arubaito”. Kata ini sendiri berasal dari bahasa Jerman “arbeit”, yang artinya bekerja. Dalam serapan bahasa Jepang kata “arbeit” bergeser maknanya menjadi “kerja paruh waktu”.

Macam-macam jenis pekerjaan paruh waktu yang bisa dikerjakan. Menjadi pelayan restoran, tukang cuci piring, penerjemah, dan lain-lain. Ada pekerjaan yang sifatnya sangat sementara, ada yang semi permanen. Ada yang nyaris permanen. Salah satu pekerjaan favorit mahasiswa Indonesia adalah pengantar koran. Pekerjaan ini mengharuskan kita bangun subuh, sesuatu yang bukan masalah bagi orang Indonesia yang biasa salat subuh. Pekerjaannya tiap hari, dengan pemasukan tetap yang lumayan besar, yaitu sekitar 60.000 yen sebulan. Namun kalau sudah tiba musim dingin, mengendarai sepeda motor dalam suhu -5 celcius bukanlah pekerjaan mudah.

Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu berminat untuk baito. Saya khawatir kegiatan itu mengganggu kuliah. Waktu tinggal di Sendai beberapa kali saya secara insidental diminta oleh kantor imigrasi, melalui pengelola dormitory tempat saya tinggal, untuk untuk menjadi penerjemah pada pemeriksaan kasus imigran Indonesia yang bermasalah. Di luar itu nyaris tidak ada.

Ketika pindah ke Sendai tahun 2000 saya dan istri memasang pengumuman di International Center, tempat interaksi antara pendatang dengan orang-orang Jepang, menawarkan jasa mengajar. Kami tawarkan jasa mengajar bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Tak lama setelah itu istri saya dihubungi oleh seseorang yang minta diajari bahasa Indonesia.

Murid istri saya itu seorang gadis Jepang. Ia seorang seniman. Ia membuat lampu hias dari hyoutan, sejenis buah labu. Labu ini dikeringkan, dan hanya diambil kulitnya. Ia kemudian melubangi kulit labu ini dengan pola-pola tertentu. Bila didalamnya dipasang lampu, pola lubang-lubang tadi akan memancarkan sinar, bila terpantul di dinding akan terbentuk pola-pola yang indah. Masayo ingin belajar bahasa Indonesia, karena ia sering ke Bali. Ia tidak sekedar melancong, tapi mengerjakan pekerjaan seninya di Bali.

Hubungan dengan Masayo ini berlanjut menjadi hubungan pertemanan. Kami sering diundang ke rumah orang tuanya di Ueki, sebuah kota kecil di daerah pinggiran Kumamoto. Ayah dan ibunya sangat menyanyangi kami. Saat anak pertama saya lahir, ibu Masayo yang kebetulan mantan bidan, banyak membantu istri saya merawat anak kami. Termasuk di antaranya menginap di apartemen kami, menemani istri saya, saat saya harus keluar kota. Masayo kemudian menikah dengan seorang pria Bali.

Tak lama setelah itu saya juga mendapat tawaran mengajar. Kali ini dari perusahaan, namanya Omron. Perusahaan ini punya cabang di Indonesia. Mereka meminta kursus bahasa Indonesia untuk karyawan yang sering pergi ke Indonesia. Selain itu juga ada trainee yang berasal dari Indonesia, yang membutuhkan pelajaran bahasa Jepang. Perusahaan ini memberi imbalan yang sangat menarik, 10 ribu yen tiap sesi, ditambah biaya transpor.

Kami berbagi tugas. Istri saya mengajar bahasa Indonesia, saya bahasa Jepang. Seminggu sekali, Kamis sore kami pergi ke perusahaan itu. Jaraknya sekitar 1,5 jam perjalanan dengan bis dari apartemen kami. Tiba di sana saat orang selesai kerja, kemudian mereka ikut kelas kami.

Tak lama istri saya mengajar di situ. Sekitar 2 bulan kemudian ia hamil, anak kami yang pertama. Sekitar 4 tahun kami menunggu kehamilan ini. Kami ingin menjaganya sebaik mungkin. Suatu saat, pulang mengajar, saya rasakan getaran bis yang kami tumpangi terasa cukup kuat. Istri saya baru hamil beberapa minggu saat itu. Saya khawatir perjalanan semacam itu akan membahayakan kandungan istri saya. Maka saya minta dia berhenti mengajar. Selanjutnya hanya saya yang mengajar. Kursus jadi bergantian. Satu minggu untuk bahasa Jepang, minggu berikutnya bahasa Indonesia.

Kira-kira setahun saya mengajar di perusahaan itu. Honor yang terkumpul cukup banyak. Ketika saya berkesempatan ikut konferensi internasional ke Santander, Spanyol, uang hasil mengajar tadi saya pakai untuk mengajak istri ikut bersama saya dalam perjalanan itu.

Setelah itu ada lagi grup lain yang meminta saya mengajar. Mereka ini adalah grup orang-orang yang sudah pensiun, yang mengisi waktu luangnya dengan berbagai kegiatan. Mereka meminta pelajaran bahasa Inggris. Honornya tak seberapa, 3000 yen setiap pertemuan. Tapi kursus di dalam kota, dan saya diantar-jemput, sehingga kegiatannya tidak melelahkan.

Yang saya ajar adalah orang-orang tua, tak pernah ada kemajuan dalam pelajaran. Minggu ini diajari, minggu depan sudah lupa lagi. Mereka tak menginginkan kemajuan, sekedar mencari kegembiraan dengan kumpul-kumpul. Maka sering pula saya isi acara ini dengan bercerita tentang Indonesia.

Sekitar 2 tahun lebih saya mengajar di grup ini. Mereka senang dengan saya. Lalu hubungan kami menjadi lebih dekat. Saya sering menerima oleh-oleh berbagai macam makanan. Waktu Sarah lahir, kebetulan cucu dari salah satu peserta kegiatan ini juga lahir di rumah sakit yang sama. Maka hubungan terasa makin dekat, menjadi hubungan keluarga.

Begitulah. Lama setelah saya pulang ke Indonesia hubungan dengan orang-orang itu masih terjalin. Ketika saya berkesempatan kembali ke Kumamoto, saya bertemu lagi dengan orang-orang yang pernah saya ajar itu. Beberapa di antaranya kini masih terhubung dengan Facebook.

Passion itu bukan Agama

Dalam sebuah kuliah di depan para mahasiswa saya pernah mendapat pertanyaan soal passion. “Saya ingin bekerja sesuai passion saya. Bagaimana bila pekerjaan yang tersedia ternyata tidak sesuai passion saya? Saya bekerja, tapi tidak menikmatinya. Mungkin saya tidak akan betah.”

Saya jawab dengan petanyaan balik. “Bisakah kamu makan passionmu?”

“Tidak.”

“Bisakah kamu bayar uang kos pakai passion?”

“Tidak.”

“Bisakah kamu traktir pacar kamu dengan passion?”

“Tidak.”

“Kalau begitu, lupakan passion kamu. Kamu sekarang butuh kerja untuk bertahan hidup. Passion itu barang mewah, bukan kebutuhan primer. Bekerjalah apa saja, yang penting kamu hidup mandiri. Urus passion kamu nanti, kalau sudah mapan.”

Saya tidak sedang mengatakan bahwa kita tidak perlu punya passion. Saya juga tidak bilang tidak perlu bekerja dengan passion. Sangat perlu. Saya hanya hendak mengatakan, jangan jadikan passion sebagai alat bunuh diri. Memilih menganggur, atau bekerja tanpa masa depan atas nama passion menurut saya naif.

OK, Anda punya passion. Carilah kerja sesuai passion itu. Cari sampai dapat. Kalau tidak dapat bagaimana? Cari lagi, sampai dapat. Kalau tidak dapat juga bagaimana? Lakukan sesuatu dengan passion itu sampai Anda dapat uang. Sadarkah Anda bahwa usaha keras untuk membuat passion itu berharga ada sebuah passion juga?

Ya, banyak orang konyol, mengaku punya passion tapi hidup tanpa passion. Ia hidup hanya menunggu. Menunggu kebetulan yang membawakan passion ke pangkuannya. Atau, mencari sekadarnya saja.

Itu salah. Kalau Anda punya passion, maka perjuangkanlah sampai passion itu mengantarkan Anda kepada kesuksesan. Orang yang menganggur terlunta-lunta dengan alasan tidak menemukan pekerjaan sesuai passion, boleh jadi hanya seorang pecundang pemalas yang menutupi kemalasannya dengan dalih passion.

Tapi bagaimana bila memang tidak menemukan pekerjaan sesuai passion tadi? Seperti saya katakan tadi, lupakan. Bertahan hidup lebih penting. Passion bisa diurus belakangan.

Tapi sebentar. Apa sih passion itu? Apakah ia seperti agama yang tak boleh diganti-ganti?

Passion saya dulu adalah riset dan mengajar. Makanya dulu saya menjadi dosen. Sempat saya bekerja sebentar sebagai engineer di lapangan minyak, tapi saya tinggalkan. Saya memilih jadi dosen dengan gaji yang jauh lebih kecil.

Saya jalani passion itu selama sekitar 12 tahun. Dengan itu saya mengembara, tinggal di Jepang 10 tahun, mengunjungi berbagai negara dengan pekerjaan itu, menghasilkan belasan karya ilmiah di jurnal internasional. Saya menduduki jabatan terhormat di Jepang.

Tapi kemudian saya berada di persimpangan. Hidup bekerja di dunia akademis menjadi agak sulit waktu itu. Saya banting setir, memasuki dunia bisnis industri, mulai dari mengurusi tetek bengek administasi. Saya, dengan gelar doktor dan pengalaman riset, harus mengurus tetek bengek administrasi.

Kabar gembiranya adalah saya ternyata tidak perlu membuang passion saya. Dalam interaksi dengan para staf saya, ternyata saya bisa memposisikan diri saya seperti guru. Saya bisa membimbing mereka seperti saya membimbing mahasiswa di kampus.

Lebih hebat lagi, saya menemukan banyak passion baru. Mengejar target produksi, mningkatkan nilai penjualan, cost down, kaizen, pengembangan produk, penghematan pajak, dan masih banyak lagi hal-hal yang menggairahkan. Membuat target, mengejar target, kemudian menetapkan target baru, menjadi sangat menggairahkan.

Kemudian datang berbagai tawaran yang serba menantang. Saya ambil salah satunya. Ajaibnya, pada tawaran baru ini ada kesempatan untuk kembali berinteraksi dengan riset, meski saya tidak lagi menjadi peneliti. Saya berinteraksi dengan peneliti di perusahaan tempat saya bekerja, bersama mereka memikirkan pengembangan produk dan memasarkannya. Saya juga mengelola sejumlah dana riset untuk kami sumbangkan kepada para peneliti Indonesia.

Bagaimana dengan mengajar? Perusahaan memberi saya kesempatan mengajar seluas-luasnya, di dalam maupun di luar perusahaan. Bagi saya tersedia biaya perjalanan untuk pergi mengajar ke mana saja di seluruh Indonesia.

Selesai? Belum. Saya kini menjalani passion lain, yaitu menulis. Inipun sungguh menggairahkan. Saya akan menulis dan menulis, menghasilkan banyak buku. Saya juga melakukan berbagai eksplorasi dengan hobby saya yang lain, yaitu memasak. Saya masak, saya potret hasilnya, saya tulis resepnya.

Saya kini hidup dalam passion.

Jadi, passion itu bukan agama yang tak boleh berganti. Passion itu bukan berhala yang harus disembah. Passion itu bukan pengikat. Ia bukan subjek, kitalah subjeknya. Gairah kita dalam melakukan sesuatu, itulah passion.

Tetap Waras

Tetap waras itu artinya menerima fakta secara apa adanya, tidak peduli fakta itu menguntungkan atau merugikan kita, kita sukai atau tidak.

Fakta sering kali tidak kita sukai. Reaksi alamiah kita adalah mengingkainya. Atau, mencari fakta lain yang lebih cocok dengan preferensi kita, untuk menutupi fakta yang tidak kita sukai tadi.

Saya pernah menulis soal tertinggalnya dunia Islam saat ini dalam bidang sains. Kontribusi ilmuwan dari negara-negara berpenduduk muslim sangat sedikit. Kalaupun ada, kebanyakan dari mereka bekerja di Eropa dan Amerika, wilayah yang bukan negeri muslim. Tiga muslim penerima Hadiah Nobel di bidang sains, semuanya bekerja di luar.

Apa reaksi orang? Mereka mulai mengoceh soal kejayaan sains Islam sekian abad yang lalu. Ya, kita semua tahu itu. Tapi apa hubungannya? Kata mereka, kalau tidak ada kontrbusi dunia Islam dulu, sains modern tidak akan seperti sekarang. Itu ibarat orang diajak gotong royong membesihkan kampung, ia menolak, dengan alasan dulu bapaknya sudah membangun kampung ini.

Kenyataan bahwa dunia Islam sekarang tertinggal dalam sains itu begitu menyakitkan, membuat orang mencari fakta lain, yang meski tidak relevan, akan membuat dia nyaman.

Begitu pula dengan Ahok. Ia Cina, Kristen, dan ia seorang gubernur di ibu kota negara. Ini fakta yang sangat tidak menyenangkan bagi banyak orang Islam. Ditambah lagi, ia membuat banyak gebrakan yang mendapat apresiasi secara luas. Yang lebih penting, ia punya peluang besar untuk terpilih kembali.

Maka orang-orang yang tersakiti oleh fakta itu mulai mencari fakta lain. Ahok itu bermulut kotor, kata mereka. Itu juga fakta. Tapi fakta yang dibesarkan jauh melebihi porsinya. Karena kata-kata kasar Ahok biasanya dalam konteks tertentu. Sama halnya dengan Risma, yang juga kasar dalam bicara. Tapi kenapa kasarnya Risma tidak jadi masalah? Karena fakta lain tentang Risma tidak menyakitkan, sehingga orang tidak perlu mencari fakta lain untuk mengalihkan perhatian.

Fakta soal mulut kotor tadi ternyata tidak cukup untuk menutupi fakta bahwa Ahok itu bekerja keras. Maka orang-orang mencari fakta lain. Bingo! Ada temuan BPK soal indikasi penyelewengan dan pembelian lahan Sumberwaras. Fakta ini langsung disambar. Banyak orang yang sudah mematri kesimpulan di benak mereka bahwa Ahok itu korup. Kesimpulan itu tidak berubah meski KPK menyatakan tidak ada korupsi dalam kasus itu. Saking sulitnya mereka menerima fakta itu, mereka kemudian menciptakan fakta baru, bahwa KPK sudah dibeli.

Soal yang terakhir itu bukan soal baru. Waktu Luthfi Hasan ditangkap KPK, ada begitu banyak orang yang sulit menerima fakta itu. Mereka mengarang cerita konspirasi untuk menyamankan diri. Salah satu ceritanya, KPK itu bagian dari konspirasi untuk menjelekkan Islam.

Yang harus kita lakukan adalah membebaskan diri dari berbagai kerangka yang mengikat kita dalam melihat fakta. Islam pasti baik, orang Islam selalu baik, itu adalah kaca mata yang dipakaikan oleh doktrin yang dicekokkan kepada kita sejak kecil. Dongeng-dongeng indah tentang Islam dan muslim, sering membuat kita gagal melihat fakta dengan jernih. Itu masih ditambah lagi dengan dongeng-dongeng soal keburukan kafir.

Demi kesehatan jiwa, saya memilih untuk melepaskan kerangka itu, membuat diri saya bebas. Saya merdeka dalam berpikir. Itu membuat saya #tetapwaras .

Mengajarkan Kejujuran pada Anak

Judul tulisan ini mengandung kesalahan. Sesungguhnya anak-anak itu jujur. Kita orang dewasalah yang tidak jujur. Ketimbang mengajarkan kejujuran, kita lebih sering mengajarkan sebaliknya kepada anak-anak kita. Anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang memberi pelajaran kepada mereka bahwa mereka harus berbohong atau tidak jujur.
 
Saat kita sedang berbincang sesama orang dewasa, tiba-tiba anak kita yang masih kecil datang melapor dengan polos tentang sesuatu. Bagaimana reaksi kita? Kita tertawa. Anak kita merasa heran, apa yang salah pada ucapan saya tadi? Oh, ia akan sadar bahwa ia telah berkata jujur, dan berkata jujur itu akan jadi bahan tertawaan.
 
Di lain waktu anak kita lapor, telah melakukan kesalahan. “Aku memecahkan vas bunga kesayangan Mama.” Lalu, reaksi apa yang mereka terima? Kita marah, lalu menghukum mereka. Bahkan tidak jarang kita sampai memukul mereka. Apa yang dipelajari anak? Berbuat jujur itu mendatangkan akibat yang menyakitkan.
 
Kita melakukan sesuatu yang ingin kita rahasiakan. Anak kita kebetulan mengetahuinya. Lalu kita berkata,”Jangan bilang-bilang sama Mama, ya..” Anak belajar bahwa mereka pun harus berbohong.
 
Kita melanggar peraturan lalu lintas. Polisi menilang kita. Tapi kita enggan datang ke pengadilan. Lalu kita menyerahkan sejumlah uang kepada polisi. Anak kita melihat itu, dan mereka belajar bahwa cara tidak jujur bisa menyelesaikan masalah dengan cepat.
 
Kita tidak mengajari anak-anak soal kejujuran. Setiap hari kita secara verbal menyuruh mereka untuk jujur, tidak boleh bohong. Tapi pesan-pesan non-verbal kita terus-menerus meyakinkan mereka bahwa berbohong itu perlu, bahkan sangat perlu. Setiap anak tumbuh persis seperti kita, menyaksikan berbagai kebohongan, kemudian melakukannya.
 
Jadi, kalau kita mau menanamkan kejujuran pada anak, hal pertama yang harus kita lakukan adalah menghindarkan reaksi negatif terhadap kejujuran yang dilakukan anak. Baik itu berupa menertawakan, atau memarahi mereka. Bila anak telah melaporkan kesalahan dengan jujur, lebih penting bagi kita untuk memberi penghargaan atas kejujuran itu, ketimbang menghukum kesalahan yang mereka perbuat.
 
Yang tidak kalah penting adalah, menghindarkan anak-anak dari menyaksikan perbuatan-perbuatan tidak jujur yang kita lakukan. Bagaimana caranya? Cara terbaik adalah dengan berhenti berbuat tidak jujur. Atau, setidaknya jangan sampai terlihat oleh anak-anak kita.
 
Bila ada indikasi anak kita melakukan ketidakjujuran atau berkata bohong, sebaiknya kita selidiki dengan tuntas. Harus jelas, dia berkata benar atau bohong. Anak harus terbiasa hidup dalam keyakinan bahwa kebohongan pasti akan terungkap, sehingga mereka tidak lagi akan mencoba melakukannya.
 
Kejujuran antara kita dengan anak hanya bisa kita bangun dalam sebuah hubungan yang akrab dan hangat. Maka, usaha untuk mengajarkan kejujuran tidak bisa dilakukan tanpa membangun hubungan yang akrab dan hangat. Maka sebenarnya pendidikan kejujuran itu hanyalah suatu bagian dari pendidikan terhadap anak. Kita mendidik anak-anak, membangun kedekatan dan keakraban dengan mereka. Mereka merasa aman dan nyaman di dekat kita. Mereka tidak merasa perlu berbohong kepada kita.
 
Mau anak Anda jujur? Hadirlah bersama mereka. Jalinlah hubungan yang akrab dan hangat dengan mereka.

Ahok, Si Tukang Gusur

Kalau ada orang bangun gubuk di lahan kosong di dekat Jembatan Semanggi, apa yang harus dilakukan? Gusur. Tak peduli siapapun gubernurnya, apa pasti akan menggusur. Kenapa? Karena itu bangunan liar, menempati lahan secara ilegal.

Kita melihat, siapapun gubernurnya, semua melakukan penggusuran. Karena di setiap masa selalu ada saja orang yang menempati lahan secara ilegal. Tidak hanya menyerobot lahan, mereka merampas tempat-tempat yang seharusnya menjadi ruang milik publik, seperti trotoir atau bahu jalan. Tak jauh dari rumah mertua saya di kawasan Setiabudi ada sederet bahu jalan yang berubah fungsi jadi tempat bedeng-bedeng yang dipakai orang untuk berjualan atau sekedar hidup di situ.

Jakarta ini dipenuhi oleh manusia-manusia penyerobot ini. Kalau pemda tidak bertindak tegas, seluruh kota ini akan penuh gubuk liar. Maka menggusur itu wajib hukumnya.

Tapi mereka sudah lama menempati tempat itu. Ya, ibarat penyakit, mereka adalah penyakit maha kronis, karena selama ini mereka lebih sering dibiarkan ketimbang ketimbang ditindak. Ahok membuat perbedaan itu. Ia tak segan menindak, sehingga dalam masa 3 tahun ini ada begitu banyak penggusuran yang ia lakukan, sampai ia dikenal sebagai Tukang Gusur.

Sahkah hak orang yang menguasai tanah itu? Di belakang rumah mertua saya ada lahan yang tadinya hendak dipakai untuk bangunan. Tapi karena krisis moneter tahun 98, perusahaan pemiliknya menghentikan proyek pembangunan. Di lahan itu kemudian muncul bangunan-bangunan liar, rumah penduduk. Sudah belasan tahun mereka tinggal di situ. Mereka mulai merasa bahwa lahan itu hak mereka. Kalau nanti pemilik sahnya hendak memakai lahan itu, mereka akan menuntut berbagai ganti rugi.

Kejadian begini sudah jadi masalah klise di Jakarta. Penyerobotan tanah secara liar tidak terjadi secara acak. Ada preman, bekerja sama dengan aparat korup, yang mengambil untung, mengutip uang sewa dari pengguna, dengan jaminan keamanan semu. Pengguna merasa sudah membayar, mengira ia menempati lahan secara sah.

Masalah lahan ini adalah kombinasi antara kebodohan, kebebalan, premanisme, dan pejabat pemda yang korup. Hanya yang benar-benar bernyali yang berani melawannya. Ahok adalah pejabat yang bernyali itu.

Ahok dituduh orang bengis karena menggusur. Tapi faktanya penggusuran terjadi di Bandung, Tangerang, Depok, dan Surabaya. Hanya Ahok yang dimaki. Kenapa? Ah, panjang penjelasannya kalau soal itu. Tapi intinya, pembangunan Jakarta memang harus menggusur. Membangun itu harus tega. Kalau tidak, Jakarta akan tetap kumuh.

Di dekat kantor saya di Sudirman, di depan Gedung Niaga, ada trotoir dekat zebra cross yang luasnya tak lebih dari 2 meter persegi. Di situ ada penjual ketoprak dan bubur. Bayangkan, ini jalan protokol ibu kota, mau dibuat kumuh oleh pedagang bebal. Mau dibiarkan?

Istilah rakyat kecil sering membuat orang kehilangan akal sehat dalam melihat masalah. Saya tidak. Rakyat kecil harus dibantu. Tapi tidak dengan membiarkan mereka mengotori ibukota. Bantu mereka untuk berdagang dan berusaha di tempat yang benar. Yang tidak punya kemampuan bertahan hidup di Jakarta sebaiknya berhijrah ke tempat lain, misalnya menjadi petani, yang tidak memerlukan banyak modal dan keterampilan. Orang-orang kampung saya di Kubu Raya sana bisa hidup layak dan bahagia dengan jadi petani. Orang-orang seperti ini tidak perlu memaksakan diri hidup di ibukota.

Ahok menggusur, artinya ia membersihkan Jakarta. Lanjutkan Koh Ahok!