Monthly Archives: August 2016

Mengubah Jalan Hidup

Changing-Paths
 
Kita sering melihat dan membicarakan orang sukses. Tapi pembicaraan berhenti pada fakta bahwa dia sukses, itu saja. Sering kita melihat sukses itu sebagai keberuntungan dia belaka. “Itu hoki dia,” kata kita. Sukses adalah kemurahan Tuhan yang Dia bagikan sesuai kehendakNya. Kalau kita tidak sukses, itu karena kita bukan orang yang dipilih Tuhan untuk sukses.
 
Tidak jarang pula kita membicarakan orang sukses dengan cara yang benar, yaitu kita membahas jalannya. Tapi hanya berhenti sampai pada pembicaraan. “Dia orang yang rajin, giat, punya visi, bla bla bla….” Kita tahu bagaimana dia bisa sukses, kita paham rumusnya. Tapi kita hanya menjadikannya pengetahuan saja, tidak menjadikannya tindakan. Seolah hanya dia yang bisa bertindak begitu, sementara kita mustahil melakukannya.
 
Tidak sedikit orang yang tidak puas dengan hidupnya, ia ingin mengubahnya. Tapi tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Apa yang harus dilakukan?
 
Seseorang bangun pagi, dia pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Ia ambil sebutir telur, ia panaskan penggorengan dengan minyak goreng, kemudian ia pecahkan telur tadi, ia masukkan isinya ke penggorengan. Lalu ia taburi garam. Ia akan mendapatkan seporsi telor ceplok.
 
Orang itu bangun pagi pada keesokan harinya. Ia ingin sarapan telur dadar. Ia ambil sebutir telur, ia panaskan penggorengan dengan minyak goreng, kemudian ia pecahkan telur tadi, ia masukkan isinya ke penggorengan. Lalu ia taburi garam. Apakah ia akan mendapatkan telur dadar? Tidak. Ia akan kembali mendapatkan telur ceplok. Kenapa? Karena ia tidak mengubah cara hidupnya. Begitulah. Banyak orang yang ingin mengubah hidupnya, tapi ia tidak pernah mengubah cara hidup. Maka hari-harinya akan berlalu tanpa perubahan. Kata Einstein, insanity is doing the same thing over and over, but expecting different results.
 
Apa yang harus kita ubah untuk mengubah hidup?
 
Pertama, cara pandang. Dunia di sekitar kita, kejadian-kejadian yang kita hadapi sering kali tampak sangat berbeda, bila kita lihat dengan sudut pandang yang berbeda. Misalnya, ada orang yang melihat segala sesuatu dengan sudut pandang reaktif. Ia menempatkan dirinya sebagai “produk” dari berbagai situasi di lingkungannya. Bosnya tidak ramah, bawahannya tidak kompeten, rekan kerja tidak mendukung. Ia tidak sukses karena itu semua. Kata Steven Covey,”Kalau kamu melihat semua masalah sumbernya ada di luar dirimu, maka kamu adalah orang yang paling bermasalah.”
 
Maka hal pertama yang harus kita ubah adalah cara kita melihat sesuatu. Ketimbang menjadi reaktif, menganggap diri kita adalah produk dari berbagai situasi di sekitar kita, Covey menyarankan sikap proaktif. Orang proaktif memilih sikap yang dia ambil sebagai respons terhadap situasi yang dia hadapi, berdasarkan nilai yang dia anut. Ia mengendalikan situasi, bukan dikendalikan situasi.
 
Kedua, mengubah sikap-sikap dasar. Sebenarnya sudah merupakan rumus umum bahwa sukses itu berkaitan erat dengan kerja keras, disiplin, komitmen, kejujuran, respect, dan banyak hal lagi. Mengubah hidup tentu saja otomatis berkait erat dengan mengubah sikap-sikap dasar tadi. Mengubah hidup berarti berubah menjadi orang yang tidak disiplin menjadi disiplin, dari jorok menjadi bersih, dan seterusnya.
 
Masalah bagi banyak orang adalah bahwa berubah itu membuat tidak nyaman. Situasi sekarang ini berlanjut karena orang biasanya menciptakan apa yang disebut dengan zona nyaman. Keluar dari zona nyaman itu tidak enak. Karena itu ketika ada keinginan untuk berubah, keinginan itu dilawan oleh keinginan lain untuk tetap berada di dalam zona nyaman.
 
Perubahan memerlukan kemauan keras untuk keluar dari zona nyaman tadi.
 
Ketiga, mengambil resiko. Zona nyaman adalah dunia yang sudah sangat kita kenal, karena kita yang membangunnya. Ibarat kamar pribadi kita, di situ kita tahu di mana letak sakelar lampu, remote control AC, posisi kulkas, atau kamar kecil. Sementara itu, di luar sana, dunia yang serba tidak kita kenal. Kita bayangkan diri kita akan terbentur tembok, terperosok lubang, atau tertusuk duri. Tidak ada jaminan bahwa kita akan berhasil.
 
Berubah artinya mengambil resiko, menghadapi semua kemungkinan itu. Kemungkinannya ada 2, berhasil atau gagal. Tapi sebenarnya peluang untuk berhasil lebih besar. Kenapa? Karena kita memilihnya. Tidak ada orang yang memilih untuk gagal. Artinya, setiap tindakan yang kita ambil adalah tindakan yang menggiring kita untuk berhasil. Kalau di suatu titik kita salah bertindak sehingga menyebabkan kita mengarah pada kegagalan, kita bisa selalu mengoreksinya. Jadi, sebenarnya tidak ada yang perlu ditakutkan.
 
Keempat, bertindaklah sekarang. Bukan nanti. Bukan besok. Bukan sebentar lagi. Menunda adalah sebuah cara untuk menghindar, untuk tetap bertahan di zona nyaman. Sebentar lagi, satu jam lagi, sehari lagi, seminggu lagi, sebulan lagi, setahun lagi. Menunda sering menghasilkan penundaan berikutnya. Itulah salah satu sebab kenapa banyak orang tidak pernah berubah.
 
Mau berubah? Berubahlah sekarang!
 
sumber gambar: tinybuddha dot com

Fakta dan Opini

Saya terbiasa membedakan antara fakta dan bukan fakta. Yang bukan fakta di antaranya adalah opini, analisa, isu, persepsi, prasangka, dan fitnah. Saya pernah bekerja sebagai ilmuwan. Hal paling penting dari kerja ilmuwan adalah memilah antara fakta dan bukan fakta. Bekerja 12 tahun sebagai peneliti fisika membuat saya terlatih.

Selain itu selama 20 tahun terakhir saya bekerja dalam lingkungan Jepang. Salah satu keunikan budaya Jepang adalah mereka memisahkan dengan tegas antara fakta dan bukan fakta. Misalnya kita hendak mengungkapkan “jam ini mahal”, dalam bahas Jepang kalimatnya menjadi “Kono tokei wa takai.” Kalimat itu hanya diucapkan bila seseorang memang benar-benar tahu harga jam itu, dan secara objektif harga itu memang mahal. Bila ia hanya menduga, ia akan mengatakan “Kono tokei wa takai to omou.” Saya pikir jam ini mahal.

Kalau dia mengira (dari tampilan jam), ia akan bilang, “Kono tokei wa takasou.” Kalau ia mendengar dari orang lain bahwa jam itu mahal, ia akan bilang,”Kono tokei wa takai souda.” Masih ada beberapa jenis ungkapan lain, memastikan terpisahnya fakta dan bukan fakta. Saya terbiasa dengan logika itu.

Dalam keseharian kita terbiasa dengan informasi yang tidak dipilah antara fakta dan bukan fakta. “Fulan Marah,” begitu judul berita. Apakah Fulan Marah itu fakta? Marah itu adalah suatu keadaan emosi yang sebenarnya sangat rumit untuk didefinisikan. Ada orang yang bicara sambil gebrak-gebrak meja, tapi dia tidak sedang marah. Orang yang belum mengenal dia akan mengira dia sedang marah. Maka dalam hal ini, kalau yang terlihat adalah gebrak meja, maka faktanya adalah gebrak meja. Marah bukan fakta, tapi persepsi.

Banyak hal yang sifatnya relatif bila diungkap tanpa ukuran. Mahal, murah, cepat, lambat, semua itu hal yang relatif, sesuai persepsi. Ukuran menjelaskan faktanya. Daging sapi mahal. Itu persepsi. Harga daging sapi Rp 130 ribu per kilo, itu fakta. Fakta tidak berubah, siapapun melihatnya. Mahal atau murah, tergantung siapa yang menilai. Hujan lebat, itu soal persepsi. Berapa milimeter, itu faktanya.

Persepsi bisa dianggap fakta atau mendekati fakta bila ia dianut oleh sangat banyak orang. Harga daging sapi mahal bisa menjadi fakta bila harganya adalah Rp 150 ribu per kilo. Bagi umumnya rakyat Indonesia harga itu mahal. Maka tak salah bila dalam hal ini diberitakan bahwa harga daging mahal.

Bagaimana memilah fakta dan bukan fakta saat kita menyampaikan informasi? Pertama, sertakan fakta. Misalnya tadi, ketika kita bilang mahal, sertakan berapa harganya. Dengan begitu orang bisa memilih untuk setuju atau tidak dengan persepsi kita soal mahal atau tidak.

Kedua, tegaskan derajat informasi yang kita sampaikan. “Informasi yang saya terima dari….” Kita membuka peluang adanya informasi lain. Cara lain,”Saya dengar……” Dugaan kita bukanlah fakta, maka kita katakan,”Menurut dugaan saya…” Atau,”Kesimpulan saya…”

Bagaimana membedah fakta atau bukan? Dengan memperkaya diri dengan informasi dan berpikir dengan benar. Kemarin setelah Arcandra dipecat ada kabar bahwa ia dipecat karena ada yang terancam. Ia katanya sudah komunikasi dengan KPK, berkas informasinya sudah lengkap, untuk membongkar kasus di zaman Sudirman Said. Dengan dipecatnya Arcandra, kasusnya tidak akan diproses.

Kita yang paham tentu tahu bahwa kerja KPK tidak tergantung kerja sama menteri. Dalam banyak kasus justru menterilah yang dicokok KPK. Kalau Acandra punya data, kasus akan jalan sekalipun ia bukan menteri lagi.

Begitulah. Banyak orang memproduksi sampah yang dianggap sebagai fakta. Mereka jadi seleb media sosial. Beberapa di antaranya dijerat dengan tuduhan kriminal. Saran saya, jangan terpesona pada tokoh, termasuk pada saya. Tetap waras mengurai fakta dan bukan fakta.

Sindroma Habibie

habibie

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sindroma Habibie
 
Habibie yang hebat. Ia menjadi vice president sebuah perusahaan aeronotika di Jerman. Ia punya banyak paten di bidang industri pesawat. Dia jenius. Lalu Soeharto mengajaknya pulang. Ia membangun industri pesawat Nurtanio, kemudian menjadi IPTN. Tidak cuma itu. Ia kemudian menjadi Menristek. Cukup? Tidak. Ia mendirikan industri kapal, menjadi presdirnya. Ia juga menjadi kepala otorita Batam. Masih ada lagi sejumlah jabatan yang diserahkan kepada Habibie seorang.
 
Mungkinkah seorang manusia bekerja dalam setumpuk beban jabatan seperti itu? Mustahil. Tapi ini Habibie, bukan manusia biasa. Ia adalah manusia super. Maka semua jadi mungkin, karena ini Habibie. Ia juga boleh melakukan apa saja, atas nama kepentingan bangsa. Misalnya memakai dana reboisasi untuk membuat pesawat. Tidak relevan, bukan? Tapi itu tak penting, karena ini Habibie.
 
Akhir ceritanya kita semua juga tahu. IPTN yang sekarang bernama PTDI tentu tak moncer lagi ketika diharuskan hidup sebagaimana sebuah perusahaan. PT PAL juga demikian. Batam, kini tak lebih dari sekedar penyangga kebutuhan industri Singapura.
 
Bangsa ini menderita sindroma Habibie. Orang-orang merindukan sosok super, yang prestasinya diakui di luar negeri. Ya, karena sudah sukses di luar negeri, tentulah ia orang hebat, bukan? Berbeda dengan orang-orang yang selama ini hanya berkiprah di dalam negeri. Mereka-yang di dalam negeri itu- tak hebat, pemalas, bahkan korup. Begitulah. Memuja orang yang sukses di luar negeri itu tidak jarang dilakukan dengan merendahkan orang-orang yang juga sudah bersimbah peluh membangun negara di dalam negeri.
 
Maka kalau ada orang seperti Habibie semua yang dia butuhkan harus disediakan. Semua yang dia mau harus dipenuhi. Prosedur yang ada harus dilanggar, bila menghalagi kemauan orang seperti Habibie. Yang tidak mendukung dia adalah pengkhianat bangsa.
 
Ada pula orang tertentu yang berlagak seolah dia Habibie. Berkarir setahun dua di luar negeri, pulang berlagak macam dewa. Sediakan segala sesuatu buat saya, karena saya ini hebat.
 
Kapan lagi ada orang hebat mau pulang untuk membangun negeri? Kenapa dihalangi? Yang menghalangi tentulah orang-orang dengki yang tak ingin negeri ini maju. Bahkan mereka itu pengkhianat, mafia, pencuri, dan koruptor.
 
Berbagai keributan dalam tubuh bangsa ini belakangan ini adalah karena soal ini. Kita jadi gelap mata, seolah negeri ini, selama 71 tahun merdeka, terlantar tidak diurus sama sekali. Lalu tiba-tiba ada dewa yang mau pulang kampung membereskan, dan tentu saja kita percaya bahwa semua akan beres di tangan dia. Kita percaya bahwa dia tidak punya kepentingan apapun untuk diri dia pribadi.
 
Bagi saya Habibie hanyalah manusia. Dia benar, dan dia juga salah. Apalagi kalau cuma orang yang merasa seperti Habibie. Dia sangat pantas ditempatkan di depan ujian, untuk memeriksa dia benar atau salah.

 

 

 

 

 

 

 

Doa

Suatu siangi, setelah hampir 2 jam bicara di training dengan tema bagaimana mengubah hidup, saat sesi tanya jawab salah seorang peserta bertanya,”Kok Bapak tidak menyebutkan faktor doa sama sekali?”
 
Di sebuah training manajemen ini bisa dianggap sebuah pertanyaan gubrak. Tapi saya harus jawab dengan tepat. Kalau saya salah jawab, bisa-bisa materi training 2 jam tadi runtuh oleh 1 hal, iman kepada takdir. Bahwa segala sesuatu ditentukan oleh Tuhan. Selesai.
 
Maka saya jawab.
 
“Coba sebutkan satu keinginan Anda. Sederhana saja, jangan yang rumit-rumit.”
 
“Saya ingin secangkir kopi.”
 
“Bagus. Sekarang berdoalah. Minta secangkir kopi sama Tuhan.”
 
Dia hendak membantah saya. Tapi saya teruskan. “Mau jawaban nggak atas pertanyaan tadi?”
 
“Mau.”
 
“Kalau gitu, lakukan apa yang saya minta.”
 
Dia berdoa. “Ya Tuhan, berilah aku secangkir kopi.”
 
“Dapat nggak kopinya?”
 
“Nggak dong.”
 
“Bagus. Bagaimana caranya agar dapat secangkir kopi? Anda ke belakang situ, di situ ada dispenser air panas, ada kopi sachet, ada cangkir. Anda ke sana, pergi buat kopi. Anda dapat secangkir kopi, bukan?”
 
“Iya.”
 
“Nah, kalau Anda ke belakang situ untuk buat kopi, perlukah Anda berdoa dulu untuk mendapat kopi?”
 
“Tidak.”
 
“OK, kita lanjutkan. Anda berdoa, minta naik gaji. Di awal tahun, ternyata gaji Anda naik. Apakah itu berarti doa Anda terkabul?”
 
“Iya.”
 
“Yakin, pasti Anda naik gaji karena Tuhan mengabulkan doa Anda?”
 
“Nggak juga.”
 
“Tepat sekali. Kita tidak pernah tahu doa kita terkabul atau tidak. Kita hanya membuat kesimpulan sepihak, bahwa Tuhan mengabulkan doa kita. Bagaimana sebenarnya? Bisa saja Tuhan punya maksud lain dengan menaikkan gajimu. Bisa saja Dia naikkan oleh sebab yang lain, bukan karena doamu. Iya kan?”
 
“Iya.”
 
“Artinya apa? Artinya, doa kita tidak mengubah apa-apa. Kalau pun ada sesuatu berubah sesuai harapan kita, kita tidak bisa memastikan bahwa itu terjadi karena doa kita.”
 
“Jadi, untuk apa berdoa?”
 
“Doa itu bukan remote control untuk menggerakkan Tuhan. Doa itu bukan untuk mengubah kehendak Tuhan. Doa itu adalah pernyataan bahwa diri kita ini lemah, dan karenanya sering salah. Doa itu pernyataan bahwa kita ini terbatas. Karena itu kita tidak bisa memastikan satu usaha kita akan membuat kita mencapai tujuan. Karena itu bila kita gagal, itu artinya kita perlu mencoba lagi. Gagal itu biasa, karena kita memang terbatas dan lemah. Tapi cara atau jalan yang bisa kita ambil untuk mencapai tujuan tidak terbatas. Kita hanya perlu mencobanya lagi dan lagi dan lagi. Sampai kita menemukan jalan yang tepat. Jadi doa itu untuk diri kita sendiri, untuk menguatkan kita. Untuk meyakinkan kita bahwa kita bisa. Kita hanya perlu melakukan saja. Kalau gagal, cari jalan yang lain.”

Kebebasan dalam Islam

Saya suka mengutip ayat laa ikraaha fi diin. Tidak ada paksaan dalam agama. Maksudnya agama Islam. Atau ayat lain, man yasya’ fal yu’min, waman lam yasya’ fal yakfuru. Siapa yang ingin, berimanlah, dan yang tidak ingin, kafirlah. Bagi saya Islam itu membebaskan. Orang mau beriman, boleh. Tidak juga boleh.
 
Iman itu seharusnya demikian. Tidak mungkin iman dipaksakan. Iman itu substansinya ada di pikiran setiap orang. Seseorang boleh saja mengerjakan ritual-ritual sebagaimana umumnya orang beriman. Tapi kita tidak pernah tahu ia benar beriman atau tidak. Kalau kita ingin memaksa, yang bisa kita paksakan hanyalah gerakan-gerakan fisik saja. Batin yang merupakan substansi iman tidak mungkin bisa kita paksakan.
 
Fondasi ibadah adalah ikhlas. Artinya, seseorang beribadah hanya karena Allah. Bukan karena ingin dinilai baik oleh orang lain. Juga bukan karena paksaan dari orang lain. Ibadah karena sebab-sebab selain Allah adalah ibadah yang ditolak. Pelakunya masuk dalam golongan musyrik.
 
Atas dasar itu saya menyatakan bahwa Islam itu membebaskan.
 
Kalau urusan beriman atau tidak adalah sesuatu yang sifatnya bebas, tentu saja urusan di bawah itu pun bebas saja sifatnya. Orang mau salat atau tidak, itu bagian dari kebebasan dia. Puasa atau tidak, itupun bebas saja buat dia. Puasa diwajibkan atas orang-orang yang beriman. Yang tidak beriman, tentu tak wajib puasa, bukan?
 
Tapi banyak orang Islam yang keberatan dengan pendapat itu. Katanya tidak demikian. Kebebasan itu hanya ada untuk orang di luar Islam. Kalau sudah masuk Islam, orang tidak lagi bebas. Jadi, kalau orang tidak salat atau puasa, bolehlah ia dipaksa untuk melakukannya. Bahkan kalau perlu, diperangi. Orang-orang lalu memberikan contoh sejarah, di mana Abu Bakar memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat.
 
Memaksa itu kata orang-orang adalah bagian dari amar makruf nahi munkar. Bahkan ada yang berpendapat bahwa itu harus dilakukan. Mula-mula orang memang akan merasa terpaksa. Tapi lama-lama dia akan terbiasa. Kalau sudah terbiasa, akan tumbuh kesadaran. Nanti dia akan ikhlas.
 
Itu hanya satu jalur, sebenarnya. Karena ada juga orang yang dipaksa semakin jadi antipati dan memberontak.
 
Lepas dari soal efektif atau tidaknya pemaksaan, banyak orang berpendapat bahwa Islam membolehkan untuk memaksa kepada orang Islam lainnya. Itulah yang disebut organized religion. Dalam organized religion, hubungan seseorang dengan Tuhan tidak lagi sebuah hubungan pribadi, tapi sebuah hubungan kolektif. Hubungan itu diatur oleh seperangkat aturan yang pelaksanaannya diawasi oleh manusia lain.
 
Peliknya, hampir semua muslim saat ini sebenarnya tidak pernah masuk Islam secara sukarela. Mereka sudah Islam sejak lahir. Agama dipilihkan oleh orang tua mereka. Sekali mereka menjadi muslim, nyaris tidak ada jalan untuk keluar. Berbagai sanksi sosial akan menjeratnya bila ia meninggalkan Islam. Bahkan ancaman dibunuh pun ada.
 
Jadi, adakah kebebasan dalam Islam? Tidak. Adakah makna bagi ayat-ayat yang saya kutip di atas dalam kenyataan sekarang? Tidak. Maka kebebasan yang dijamin oleh ayat-ayat itu tinggal jadi kebebasan semu.
 
Waktu saya katakan ini dalam sebuah diskusi, saya dituduh menghina ayat Allah.