Monthly Archives: July 2016

Kembangkan Kelebihanmu

Dulu ada teman saya menulis tentang seorang gadis. Gadis itu cantik. Cantik itu hoki. Karena cantik, gadis tadi gampang dapat pekerjaan. Dengan senym manis saat wawancara ia diterima bekerja. Dengan keramahannya yang menyenangkan, ia disukai banyak orang. Karirnya meningkat cepat. Ia sukses karena hoki, tulis teman saya tadi. Kebetulan ia juga seorang perempuan.
 
Saya protes tulisan itu. Gadis tadi tidak hoki. Ia menyadari keunggulannya dan memanfaatkannya. Tapi ia memanfaatkannya dengan benar. Ia tidak menjual kecantikannya dalam pengertian seksual, untuk mendapatkan uang.
 
Itu saja? Tidak. Bagian ini yang sulit dilihat orang lain. Ia melakukan banyak usaha lain yang tidak disadari orang. Pertama, ia tidak membuat kesalahan dalam bekerja. Ia bekerja benar. Biarpun ia cantik, besar kemungkinan ia akan dibuang kalau terus melakukan kesalahan.
 
Ia ramah. Tidak mudah untuk ramah itu. Tidak mudah membangun suasana kerja yang menyenangkan. Suasana kerja yang menyenangkan mendorong banyak orang untuk bekerja lebih baik lagi. Tidakkah itu bisa dianggap hal besar?
 
“OK, lah,” kata seorang gadis yang kebetulan tidak cantik. “Setidaknya ia lebih mudah masuk kerja daripada saya. Ia lebih mudah membangun suasana menyenangkan daripada saya. Tetap saja dia lebih hoki dari saya.”
 
Kesalahanmu adalah kau mencoba meniru jalan orang yang memiliki kelebihan yang tidak kau miliki.
 
“Tapi, apa kelebihanku? Aku tak punya kelebihan.”
 
Itulah masalah terbesarmu. Kau tidak pernah tahu apa kelebihanmu. Karena itu kau tidak pernah memanfaatkannya. Karena itu kau tidak pernah mengembangkannya. Kelebihan yang kau miliki akhirnya hanya jadi sesuatu yang sia-sia.
 
Seorang perempuan yang sedang bingung mengeluh pada saya.
 
“Saya harus bekerja, tapi saya tidak punya skill.”
 
Kebetulan saya tahu, ia menguasai 2 bahasa asing. “Dua bahasa asing yang kau kuasai itu adalah skill yang luar biasa. Banyak orang bisa hidup dengan kemampuan satu bahasa asing. Kau punya dua, kau lebih punya kesempatan daripada dia.”
 
Begitulah. Banyak orang gagal memahami sukses orang lain, menyandarkannya pada faktor yang tidak bisa diutak-atik: hoki. Ia tidak paham apa keunggulan orang itu. Makanya ia pun tak paham dan tak sadar apa keunggulan dirinya. Ia puas dengan jadi penonton hoki.

Sake

image
Sake adalah minuman keras. Orang Jepang menyebut segala jenis minuman keras, tidak hanya minuman keras tradisional mereka, dengan sebutan sake. Pada kata sake juga sering ditambahkan awalan o, sehingga bunyinya menjadi osake. Awalan ini berfungsi sebagai penghormatan untuk memuliakan sesuatu. Tak banyak kosa kata yang tentang makanan yang diberi penghargaan sedemikian ini. Seingat saya hanya sake, sushi, dan sashimi. Ini menunjukkan betapa pentingnya sake dalam budaya Jepang.

Sake yang paling umum dikenal adalah bir. Bangsa Jepang boleh disebut bangsa peminum bir. Mungkin tingkat konsumsi bir di Jepang hanya sedikit lebih rendah dari Jerman. Selain bir, tentu saja yang juga populer adalah sake tradisional Jepang, yang disebut nihonshu, terjemahan lateralnya sake Jepang. Selain itu ada shochu, sejenis sake tradisional juga, namun proses pembuatannya berbeda, dan kadar alkoholnya lebih tinggi dari nihonshu. Selain itu orang Jepang juga minum berbagai Jenis sake yang berasal dari luar, seperti anggur, dan wiski.

Sake adalah tak mungkin dihilangkan dari keseharian orang Jepang. Karenanya ini adalah barang consumer good yang paling laris. Di TV Jepang iklan sake, khususnya bir, mengambil waktu terbanyak dari jam tayang. Dan tidak ada keberatan atas iklan sake, dengan visualisasi orang minum secara nyata. Berbeda dengan iklan rokok, yang tak pernah ditayangkan.

Undang-undang Jepang membatasi bahwa yang boleh minum sake adalah yang berusia 20 tahun ke atas. Ini adalah batas usia dewasa. Ketika seseorang memasuki usia ini ia menjalani ritual seijinshiki, yaitu ritual menjadi dewasa. Sejak saat itu dia sudah boleh minum sake. Minum sake pertama orang tua dengan anaknya menjadi semacam pengingat bagi orang tua, bahwa anaknya sudah dewasa.

Semua acara pesta menghadirkan sake. Pesta dibuka dengan bersulang (kanpai), dengan sake. Selanjutnya acara diisi dengan makan sambil minum sake. Bila pesta usai sebagian peserta pindah ke restoran atau kedai minum lain, melanjutkan acara minum sesi ke dua, tiga, bahkan empat (nijikai, sanjikai). Pada sesi selanjutnya suguhan sake lebih dominan, karena orang tak lagi butuh makanan.

Tentu saja mereka minum sampai mabuk. Selama bergaul dengan orang Jepang saya menyaksikan banyak jenis orang mabuk. Ada yang ceria melebihi batas, berbicara meracau, atau yang langsung tertidur. Sensei saya termasuk peminum yang kuat. Setelah minum beberapa gelas bir, ditambah beberapa gelas wiski kesukaannya, dia masih bisa berdiskusi masalah Fisika dengan saya. Yang tak pernah saya saksikan secara langsung adalah orang yang mengamuk ketika mabuk.

Acara minum sake bagi orang Jepang adalah salah satu media komunikasi. Beberapa orang Jepang menjelaskan pada saya bahwa mereka umumnya pemalu, sulit berbicara secara blak-blakan. Kalau sudah minum sake mereka biasanya bisa lebih banyak bicara. Saya lihat hal itu ada benarnya.
Orang Jepang membangun hubungan pertemanan di tempat minum. Istilah untuk ini adalah shuseki. Hubungan pertemanan dibuka dengan ajakan minum bersama. Keakraban antar anggota kelompok biasanya diukur dengan berapa sering mereka pergi minum bersama. Saat hubungan saya dengan Sensei sudah semakin akrab, dia sering mengungkapkan kekesalannya karena saya tidak minum dengan alasan agama. Bagi Sensei sangat aneh, orang yang sudah akrab dengan dia tapi tidak pernah minum bersama dia.

Di shuseki ada istilah murei. Artinya tidak perlu ada etika. Ketika sudah mulai mabuk orang cenderung tidak bisa mengontrol kata-kata maupun tindakan. Karenanya segala tindakan dan kata-kata di meja minum dimaafkan.

Tentu saja tidak berarti lantas tidak ada tata krama di meja minum. Ada tata krama baku, semacam table manner. Hal kecil yang saya amati, misalnya, seseorang tidak menuangkan sendiri minuman ke gelasnya. Orang terdekat dengan dia harus menuangkan, sebagai bentuk penghormatan. Dan ada banyak lagi tata krama sejenis itu.

Dengan budaya minum seperti itu, apakah tidak merusak? Meski efek minuman keras pada tubuh diketahui tidak baik, saya tidak punya data tentang pengaruhnya pada kesehatan orang Jepang secara spesifik. Yang jelas, Jepang adalah negara dengan tingkat harapan hidup tertinggi di dunia.

Bagaimana dengan ketertiban? Meski kedai minum ada seluruh pelosok kota, sangat jarang ada gangguan keamanan oleh orang mabuk. Yang agak sering menjadi berita adalah orang yang menyetir dalam keadaan mabuk. Beberapa di antaranya dengan akibat fatal, yaitu jatuh korban mati. Terhadap masalah ini pemerintah menerapkan peraturan yang keras. Sudah beberapa kali peraturan itu direvisi untuk memperkeras sangsi atas pelanggarannya. Pada level pelanggaran tertentu seperti adanya korban luka atau bahkan meninggal, pelaku dikirim ke penjara lebih dari 5 tahun. Tidak hanya itu, dapat dipastikan secara sosial masa depannya sudah habis, karena ia diberhentikan dari tempat kerja dan mungkin tidak akan ada perusahaan yang mau memperkerjakan dia lagi nantinya.

Yang unik adalah peran sake di dunia kerja. Logika kita yang tidak biasa minum, orang akan jadi malas atau menelantarkan pekerjaan bila sudah terbiasa minum. Tapi di Jepang yang terjadi sebaliknya. Sake adalah media untuk melepas beban kerja. Segala stress akibat beban kerja dilepas di kedai minum. Pulang ke rumah istirahat, dan esoknya siap bekerja kembali. Para istri tidak keberatan suaminya mampir minum di kedai. Dengan begitu segala macam kesumpekan di tempat kerja tidak perlu dibawa ke rumah. Itulah yang dipercaya oleh orang Jepang.

Masalah lain adalah “ijime”, yaitu semacam perpeloncoan dengan menggunakan sake. Pada acara minum di kalangan mahasiswa, misalnya pada kelompok kegiatan ekstrakurikuler, anak-anak baru dipacu, bahkan dipaksa untuk minum. Ada cara minum yang disebut “ikkinomi”, yaitu minum segelas sake sekali tegak. Ini sangat berbahaya dan sudah beberapa kali ada korban meninggal karenanya. Biasanya dosen pembimbing mengawasi dan mewanti-wanti agar acara minum liar seperti ini tidak terjadi.

Sertifikat “Agama Damai” UNESCO

unesco

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ada situs satire yang menerbitkan artikel tentang sertifikat “agama paling damai” yang dikeluarkan oleh UNESCO. Reaksi terhadap arikel itu menarik untuk dibahas.
 
Satire adalah suatu cara untuk menyampaikan kritik melalui sindiran. Ini sebenarnya cara yang halus. Tapi menariknya, satire bisa lebih menusuk. Kenapa? Karena ada unsur olok-olok. Olok-olok itu lucu dan menghibur. Tapi pada saat yang sama bisa menusuk sangat tajam. Olok-olok bisa pula dianggap sebagai penghinaan.
 
Satire soal sertifikat agama paling damai itu adalah sebuah protes atas kesenjangan antara doktrin atau klaim, dengan fakta. Islam adalah agama damai. Namanya saja Islam, berasal dari kata salam, artinya damai. Itu doktrin. Klaimnya pun begitu. Kami cinta damai. Namun fakta menyiratkan bahwa dunia Islam masih sarat dengan konflik. Ironisnya, sebagian besar konflik itu bukan antara muslim dengan umat lain, tapi antar muslim sendiri. Lalu, di mana damainya?
 
Tentu saja kita paham bahwa Islam bukan satu-satunya faktor penyebab konflik. Kita juga paham bahwa Islam dalam wajah yang damai hadir di berbagai belahan bumi ini. Tapi tetap saja fakta adanya konflik itu adalah sebuah kesenjangan besar terhadap doktrin dan klaim sebagai agama damai tadi. Kesenjangan itulah yang sedang dikritik.
 
Tanggapan umat Islam terhadap satire sering kali menyedihkan. Mereka hanya bisa melihat satire sebagai sebuah penghinaan belaka. Basisnya adalah mentalitas korban. Dalam doktrin Islam, kaum muslim dan Islam adalah musuh bagi umat lain. Maka apapun yang datang dari musuh selalu dianggap sebagai serangan.
 
Satire akhirnya tidak menjadi kritik untuk memperbaiki. Ia kemudian memicu permusuhan saja. Apakah satire pangkal masalahnya? Bagi saya bukan. Pangkal masalah adalah doktrin Islam, yang menganggap semua pihak di luar dirinya selalu memusuhi Islam.
 
Itulah yang terjadi dengan artikel satire ini. Artikel ini dianggap sebagai bagian dari usaha untuk memojokkan Islam. Ini penghinaan. Titik.
 
Yang lebih menyedihkan adalah tanggapan orang-orang yang gagal menyadari bahwa ini satire. Mereka mengira ini fakta, kemudian membanggakannya. Kenapa bisa begitu?
 
Salah satu sebabnya adalah kehausan orang-orang Islam terhadap pengakuan. Senang betul mereka bila mendapat pujian. Terlebih bila yang memuji adalah orang-orang non muslim, yang dalam keseharian mereka sebut orang kafir (ingkar). UNESCO ini adalah lembaga yang dipimpin orang kafir. Kalau dipuji oleh UNESCO, tentu mereka sangat bahagia.
 
Gejala ini sejenis dengan kebanggaan orang-orang soal “kecocokan” antara Quran dan sains. Banyak orang yang dengan bangga mengutip pengakuan para ilmuwan kafir yang mengatakan bahwa Quran itu cocok dengan sains. Tidakkah Anda melihat paradoks di situ? Orang-orang kafir itu, sesuai ajaran Quran, adalah orang-orang yang harus diwaspadai kata-katanya. Bagaimana Anda yakin bahwa mereka jujur ketika mengatakan itu? Tidakkah Anda curiga bahwa itu dilakukan untuk menyesatkan? Atau jangan-jangan itu adalah olok-olok satire pula.
 
Begitulah. Bagi saya semua ini hanyalah tanda bahwa memang masih banyak persoalan dalam tubuh umat Islam. Persoalan yang paling pokok adalah soal kemampuan menggunakan nalar.

 

 

Hijab Syar’i

Istilah hijab syar’i sebenarnya sebuah istilah yang rancu. Hijab adalah pakaian wanita sesuai tuntunan syariat Islam. Kalau sesuatu disebut hijab, maka ia sudah sesuai ketentuan syar’i. Jadi tidak perlu ditambahi lagi dengan kata sifat syar’i. Adapun sesuatu yang tidak sesuai kaidah, bukanlah hijab.

Kesalahan istilah ini bermula dari salah persepsi. Banyak orang menganggap selembar kain penutup kepala itulah hijab. Kain itu sebenarnya disebut khimar. Memakai khimar tidak sama dengan berhijab. Nah, kalau mau diberi embel-embel syar’i, khimar lebih cocok. Ada pemakaian khimar sesuai syar’i ada yang tidak.

Bagaimana ketentuan hijab menurut syariat? Pertama, ia menutupi seluruh tubuh, kecuali muka dan telapak tangan. Ini definsi yang sangat jamak dipakai. Tapi itu saja belum cukup. Syarat lain, tidak boleh ketat hingga menampakkan lekuk-lekuk tubuh, termasuk tonjolan buah dada. Pemakaian khimar tujuannya bukan sekedar menutupi kepala, tapi juga agar terjulur ke bawah menutupi dada. Tentu saja pakaian tidak boleh tipis menerawang. Terakhir, tidak boleh menyerupai laki-laki. Begitu ketentuan yang sering disampaikan para ulama.

Nah, apakah pakaian muslimah di sekitar kita sudah sesuai ketentuan itu? Terus terang, saya jaran melihat yang sesuai. Hampir 100% masih terlihat punggung tangannya. Itu sudah salah. Kemudian tidak sedikit yang terlihat sampai ke lengan dan betis. Sangat banyak pula yang ketat. Salah kaprah yang umum adalah mengira khimar itu hanya untuk menutup kepala atau rambut. Maka banyak yang bakai khimar yang ujungnya dililitkan ke leher, tidak menutupi dada. Buah dada bertonjolan jadinya. Kemudian pakai pula celana ketat, hingga tidak hanya pantat yang jelas kelihatan lekuknya, tapi juga tonjolan di daerah kemaluan. Imi semua salah kaprah.

Lho, kok jadi nyinyir ngurusin baju orang? Bukan, ini bicara soal bagaimana seharusnya kalau syariat dijadikan standar. Artinya apa? Artinya, banyak orang yang mengaku atau merasa sedang menjalankan syariat, tapi sebenarnya tidak. Baik karena dia tidak tahu, atau karena merasa bahwa yang sesuai ketentuan syariat secara penuh itu merepotkan.

Ya, kita jujur saja, kalau mau dipenuhi 100% akan repot benar. Bagaimana menutupi punggung tangan? Pakai sarung tangan? Wanita-wanita Arab biasanya menempatkan tangannya di balik khimar, sehingga punggung tangan yang tidak tertutupi oleh lengan baju terlindung di situ. Tapi kan repot jadinya? Ya, memang. Karena itulah di Arab Saudi gerak wanita di ruang publik dibatasi.

Kita bisa bayangkan betapa sulit bahkan mustahilnya bagi wanita untuk melakukan hal-hal yang biasa kita lihat dilakukan oleh wanita dalam kehidupan sehari-hari kalau mereka berhijab, dalam pengertian 100% sesuai ketentuan tadi. Mau naik turun kendaraan saja sudah sulit. Bekerja hampir mustahil kalau tempat kerjanya tidak diset khusus untuk perempuan.

Tak heran bila kemudian banyak yang menuduh bahwa ketentuan pakaian ini sebenarnya adalah alat pengekang agar wanita tidak keluar rumah. Tuduhan ini dibantah. Tapi kalau kita ikuti alur logika tadi, memang begitulah adanya.

Bagaimana kita memaknai fakta ini? Kita hidup di abad 21, dengan sejumlah orang yang mencoba menerapkan ketentuan-ketentuan yang diperkenalkan pada abad ke 7. Kita hidup di berbagai belahan dunia dengan aneka ragam budaya, dengan sejumlah orang yang mencoba menerapkan aturan-aturan yang diperkenalkan kepada masyarakat Arab abad ke 7. Benturan itulah yang terjadi dan kita saksikan.

Dalam benturan-benturan itu terjadilah koompromi dalam berbagai bentuk. Ada yang kompromi, punggung tangan boleh terlihat. Ada yang mentolerir lengan terlihat. Begitu seterusnya. Dengan berbagai kompromi itu orang masih percaya diri bahwa dia sedang melaksanakan syariat. Apa iya? Embuh.

Syariat compang camping seperti itu adalah wajah Islam saat ini. Sudah berulang kali saya tulis, orang mengaku anti riba, tapi memakai uang kertas (uang nominal, fiat money), yang jelas-jelas adalah produk riba.

Tapi kan itu darurat? Bukan. Darurat itu sifatnya sementara, yang ini tidak. Orang Islam secara natural akan digiring untuk menjauh dari syariat. Bukan karena ada usaha sistematis oleh orang-orang yang membenci Islam. Bukan. Bukan itu. Semata karena kita memang sudah sangat jauh dari Arab abad ke 7, dan akan semakin menjauh.

Lalu bagaimana? Saya orang sekuler. Saya tidak punya niat untuk menjalankan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Saya hanya tertarik untuk menjadikan Quran dan Islam sebagai referensi moral untuk menegakkan nilai-nilai universal, seperti keadilan dan kemanusiaan. Selebihnya saya hidup sesuai tuntunan akal saya.

Yang merasa wajib menjalankan syariat, silakan. Yang penting Anda sadar bahwa yang Anda sebut syariat itu wujudnya compang camping, sehingga pada titik tertentu sudah sulit untuk disebut sebagai syariat.

 

Antara Dory dan Forrest Gump

dory

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Antara Dory dan Forrest Gump
 
Akhir pekan anak-anak mengajak nonton film “Finding Dory”. Saya menikmati film ini, tentu saja terutama karena saya melewatkan momen kebersamaan dengan anak-anak saya dengan menonton film ini. Di sisi lain, filmnya memang menarik.
 
Dory adalah ikan dengan suatu penyakit pelupa yang sangat parah. Istilah kerennya, short term memory lost. Ia kemudian terpisah dari orang tuanya karena itu. Dengan ingatan yang samar-samar ia mencoba mencari orang tuanya. Ini sebenarnya sebuah misi mustahil, kalau mengingat keadaannya. Tapi akhirnya ia bisa bertemu.
 
Merlin dan Nemo tadinya mencoba membantu Dory. Tapi mereka kemudian terpisah. Dalam keadaan nyaris putus asa, Nemo kemudian menyadari suatu hal, Dory’s way. Cara Dory. Dengan mengikuti cara Dory kemudian akhirnya mereka bisa bertemu kembali. Tidak hanya itu, Dory bisa bertemu dengan orang tuanya.
 
Film Forrest Gump juga berbicara tentang hal yang sama. Tentang anak idiot yang dalam keadaan “normal” hanya akan jadi bahan cercaan dan bullying bagi anak-anak lain dan orang-orang di sekitarnya. Tapi Forrest tenyata bisa meraih prestasi, jauh dari rata-rata orang “normal” di sekitarnya. Ia meraih semua itu hanya dengan 2 hal sebagai modal, yaitu berlari, dan hidup dengan cara Forrest Gump.
Keduanya, Forrest dan Dory, dididik oleh orang tua mereka untuk menjadi diri sendiri, kuat dan tangguh dengan keistimewaan yang mereka miliki. Di mata orang lain mereka mungkin anak-anak yang memiliki kekurangan. Tapi orang tua mereka menjadikan kekurangan itu keistimewaan.
 
Anak-anak kita sebenarnya istimewa dan unik. Tapi kita sering memperlakukan mereka tidak unik. Kita ingin mereka sama dengan anak-anak lain. Kita bahkan menyuruh mereka meniru anak-anak lain, bukan menjadi diri mereka yang unik dan istimewa. “Coba lihat si Anu itu, prestasinya begini begitu bla bla bla…” Lalu anak-anak kita menghabiskan hidupnya untuk menjalankan kehendak kita. Mereka menghabiskan masa kecilnya dengan mencoba menjadi orang lain yang bukan dirinya.
 
Anak-anak sering dipaksa untuk bisa hal-hal yang mereka tidak bisa, dalam rangka menjadi sesuatu. Mereka dipaksa melihat orang-orang dan meniru jalan orang-orang itu, bukan melihat kepada diri sendiri untuk menemukan keistimewaan diri sendiri. Kita mungkin bangga saat anak kita menjadi sesuatu sesuai dengan yang kita arahkan. Tapi kita tidak tahu bahwa sebenarnya anak-anak kita bisa lebih baik lagi di bidang yang sebenarnya menjadi bakat dan keinginan mereka.
 
Yang parah adalah, kita bersedih ketika menyadari bahwa anak kita tidak sama dengan anak lain. Ketika upaya kita memaksanya agar sama dengan orang lain gagal, kita marah dan kecewa. Padahal yang diperlukan oleh anak-anak kita hanyalah menjadi dirinya sendiri, dan berbahagia dengan itu. Menjadi anak-anak yang tumbuh seperti Dory dan Forrest Gump. Pesan itu yang saya baca dari kedua film itu.
 
“……putramu bukanlah putramu,
mereka adalah putra putri kehidupan,
yang mendambakan hidup mereka sendiri………”