Monthly Archives: July 2016

Tukang Baca Doa

 
Saya mengenal profesi tukang baca doa saat menemani ibu kos nyekar ke Banjarnegara. Ibu kos saya anak Pak Soemitro Kolopaking, Bupati Banjarnegara zaman dulu. Ia menjadi bupati sejak zaman Belanda. Karena hubungan saya dengan ibu kos sangat dekat, ia sering mengajak saya hadir dalam berbagai acara pribadinya, termasuk saat pergi nyekar.
 
Tiba di makam saya otomatis melafalkan wirid dan doa, sebagaimana biasa dilakukan oleh ayah saya dulu. Usai berdoa baru saya sadar, ternyata di dekat kami ada seseorang yang ikut duduk.
 
“Siapa itu, Mbak?”
 
“Kuncen, yang jaga makam. Biasanya kalau kami nyekar dia yang baca doa.”
 
Waduh. Saya lihat memang wajahnya tak begitu senang melihat saya. Saya jadi merasa tak nyaman karena telah “merampas” pekerjaan orang. Untungnya ibu kos saya tetap memberi dia uang meski dia tak membaca doa.
 
Ketika berziarah di makam mertua di Karet saat menjelang puasa juga demikian. Ada orang pakai sarung, baju koko, dan peci, datang mendekat waktu kami mulai duduk berziarah. Tapi ia segera menjauh saat mendengar saya mulai membaca doa.
 
Hal kecil ini sedikit menyentuh pikiran kritis saya. Ada sangat banyak dari orang Islam yang tidak bisa baca doa. Sekedar doa ziarah untuk mendoakan orang tua, kerabat, dan kaum muslim yang sudah meninggal. Berdoa itu dianggap sesuatu yang sulit. Pertama, karena ia harus pakai bahasa Arab. Kedua, bacaannya sudah tertentu dan panjang. Padahal tidak ada ketentuan soal bacaan khusus yang harus dibaca. Doa kita kepada Tuhan bisa berupa apa saja yang ada dalam pikiran kita, dan bisa diungkapkan dengan bahasa apapun. Lagipula, orang-orang ini bisa hafal begitu banyak teks lagu, tapi tak sanggup menghafal lafal doa. Ini adalah kombinasi antara tidak tahu dan tidak punya niat untuk tahu/bisa.
 
Profesi tukang baca doa adalah jawaban atas keadaan tadi. Karena ada banyak orang yang tak bisa, maka membaca doa itu dianggap sebuah keterampilan khusus, hanya orang tertentu yang bisa melakukannya. Maka muncullah profesi tukang baca doa.
 
Kalau kita lihat dari konteks hubungan antara manusia dengan Tuhan, tidakkah ini lucu? Doa adalah permintaan seorang hamba kepada Tuhan. Tapi si hamba tak sanggup mengatakan keinginannya. Ia kemudian minta pertolongan orang lain. Bagaimana hamba ini berkomunikasi dengan Tuhannya kalau ia tak bisa melakukannya sendiri? Bagaimana ia bisa mendekat kalau ia masih memerlukan perantara?
 
Doa dalam konteks ini tidak lagi dianggap sebagai komunikasi antara Tuhan dengan hamba. Doa adalah mantera untuk membuat sesuatu terjadi. Tuhan dianggap sebagai sosok gaib yang akan bergerak bila kepadaNya dibacakan mantera tertentu.
 
Ada lagi satu jenis tukang baca doa. Mereka sering hadir di laman Facebook saya, menulis komentar berupa doa untuk saya. “Semoga kamu segera mendapat hidayah dari Allah.” Baik sekali doanya. Tapi itu doa yang tersurat. Yang tersirat sebenarnya adalah, penulis doa itu tak setuju dengan isi tulisan saya. Namun ia tak sanggup untuk membantahnya dengan argumen. Yang ada hanyalah rasa dongkol yang kemudian diekspresikan dengan cara tadi. Penulisnya sebenarnya sedang berkata,”Aku sungguh jengkel kepadamu dengan pendapatmu itu. Tapi aku tak sanggup membantahnya. Aku hanya bisa berharap semoga Tuhan berkenan mengubah sikap dan pendapatmu.”
 
Ada juga yang doanya lebih seram lagi. “Semoga kamu segera mati, masuk neraka, bla bla bla………”
 
Tukang baca doa jenis pertama adalah orang cerdik yang mencari hidup dari ketidakmampuan orang lain dalam membaca doa. Tukang baca doa jenis kedua adalah manusia tak berdaya yang berharap Tuhan datang kepadanya setiap saat ia membutuhkan. Ia memanggil Tuhan dengan doa-doa mantera, seperti dukun membaca mantera untuk memanggil jelangkung.
 

Berpikir Merdeka

Bulan puasa, saya diundang buka puasa di rumah seorang teman. Usai buka puasa, beberapa orang berbincang, sepertinya agak serius. Saya ikut duduk mendengarkan. Rupanya sedang membicarakan kebijakan Ahok di bidang pendidikan.
 
Konon, Ahok sedang mencanangkan agar tidak ada sekolah favorit di Jakarta. Kenapa? Entahlah. Mungkin dia ingin agar semua sekolah memiliki kualitas yang setara. Jadi orang tidak berebutan masuk ke suatu sekolah, dan menghindar dari sekolah yang lain. Salah satu caranya adalah dengan merotasi guru-guru, pindah dari sekolah favorit ke sekolah non-favorit. Diharapkan guru-guru hebat yang berhasil membuat sekolah jadi favorit bisa menjadi inspirasi di sekolah yang baru, sehingga kualitasnya bisa meningkat. Selain itu juga ada kebijakan anggaran yang memprioritaskan sekolah non favorit.
 
Karena saya tidak paham soal detil-detil kebijakan ini, saya hanya mendengarkan diskusi. Teman saya, seorang tokoh pendidikan menyatakan tidak senang dengan kebijakan Ahok itu. Menurut dia, kebijakan itu tidak efektif. Yang dilakukan Ahok adalah membuat pemerataan dengan menurunkan kualitas sekolah favorit.
 
Teman saya tadi juga berargumen bahwa guru itu baru bisa berbuat banyak kalau ia berkelompok. Kalau ia sendiri, sulit diharapkan untuk bisa berkreasi. Makanya ia lebih suka kalau sekolah-sekolah favorit itu tetap ada, menjadi contoh bagi sekolah-sekolah lain.
 
Sampai di titik ini diskusi biasa saja. Kalau kita tidak setuju dengan suatu kebijakan, maka kita boleh mengritiknya. Tentu saja dengan argumen yang baik. Namun kita juga harus sadar bahwa pembuat kebijakan juga punya pertimbangan dan argumennya sendiri.
 
Yang tidak patut adalah ketika diskusi menjadi tak rasional. “Ahok sebenarnya sedang menghancurkan basis pendidikan umat Islam. Kita tahu bahwa yang bersekolah di sekolah-sekolah negeri itu adalah umat Islam. Kalau non muslim kan sudah punya banyak sekolah unggulan. Tidak masuk negeri pun mereka bisa membayar untuk masuk ke sekolah-sekolah swasta yang berkualitas.”
 
Waduh. Sik sik sik. Setahu saya, sepengalaman saya, yang sekolah di sekolah negeri itu ya rupa-rupa. Islam, Kristen, Hindu, Budha, Kong Hu Cu. Latar belakang sukunya juga beragam. Sejak kapan sekolah negeri hanya diisi oleh pelajar muslim? Tidak semua orang non-muslim itu kaya, sehingga mampu menyekolahkan anaknya di sekolah swasta yang mahal. Sebaliknya, ada banyak orang Islam yang kaya dan sanggup menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah mewah. Jadi, ini sudah bukan lagi kritik berbasis argumen.
 
Saya sering tampil sebagai pendukung Ahok. Tapi bukan berarti saya mendukung setiap kebijakan dia. Saya biasa mengritiknya. Tapi sekali lagi, kritik harus berbasis pada argumen, bukan prasangka. Basisnya fakta dan data, bukan kecurigaan, apalagi permusuhan.
 
Saya tidak menyanggah kritik teman saya tadi. Saya diam saja. Bukan karena saya sungkan menyanggahnya. Tapi ada pengalaman yang saat itu saya rasakan, dan sangat berkesan. Yaitu, saya tidak lagi berpikir berbasis ikatan-ikatan emosional.
 
Kalau dulu saya akan otomatis mengiyakan kritik teman saya tadi, meski ada kesadaran kecil bahwa basis fakta dia keliru. Saya akan berpihak kepada umat Islam, meskipun salah. Kepentingan umat Islam harus dibela. Tapi kini tidak lagi. Saya tidak bisa membiarkan pikiran yang demikian itu. Tidak bisa lagi.
 
Ada sedikit rasa sepi saat itu, ketika saya merasa bahwa saya sedang menjauh dari teman-teman yang sedang berdiskusi itu. Tapi ada rasa lega, bahwa saya berpikir merdeka.

Learn-Do-Share

LEARN

Sejak saat pertama kita lahir kita tidak pernah berhenti belajar. Prosesnya berjalan lambat, tapi kita belajar. Salah satu hal yang kita pelajari adalah, bila kita merasa tak nyaman oleh sesuatu lalu kita berteriak, seseorang akan datang untuk menolong kita. Semakin besar kita tumbuh, semakin banyak hal yang kita pelajari. Belajar tiarap, merangkak, duduk, berjalan, berbicara, dan seterusnya.

Lalu tibalah waktunya kita masuk sekolah. Kita belajar lebih banyak di sekolah. Belajar kini bergeser dari proses alami menjadi proses sistematis. Beberapa orang menikmatinya, tapi tidak sedikit yang tersiksa. Dulu kita belajar karena ingin bisa, maka kita belajar dengan senang, sampai bisa. Ada yang cepat bisa, ada yang lambat. Tapi tak ada yang menyerah. Tak ada misalnya yang berhenti belajar berjalan atau berbicara, karena merasa tak bisa.

Sekolah adalah tempat belajar kolektif. Waktu terbatas, ruang terbatas. Bahkan daya tampungnya pun terbatas, sehingga orang harus bersaing untuk bisa masuk sekolah. Maka orang tidak diberi kesempatan untuk belajar sampai bisa. Orang harus bisa dalam suatu rentang waktu tertentu. Kalau tidak bisa, ditinggalkan. Maka kita dikotak-kotakkan antara yang sangat bisa, bisa, agak bisa, kurang bisa, dan tidak bisa. Kotak-kotaknya disimbolkan dengan angka-angka atau huruf-huruf nilai. Sejak itu kita diyakinkan bahwa ada hal di mana kita tidak bisa. Kita diajari untuk berhenti belajar.

Lalu kita lulus sekolah. Tamat. Selesai. Kita lagi-lagi diajari untuk berhenti belajar. Tugas kita sekarang adalah bekerja, bukan belajar. Atau, kita diyakinkan bahwa kita sudah bisa, melalui sertifikat, ijazah, gelar, dan jabatan. Saya sudah bisa, maka saya tidak perlu belajar lagi. Masak sarjana belajar lagi. Masak doktor belajar sama lukusan S1. Lagi-lagi kita didorong untuk berhenti belajar.

Saya sadar bahwa saya harus selau belajar. Ada begitu banyak hal yang saya belum bisa, belum tahu, maka saya terus menerus belajar. Berbagai cara saya lakukan untuk belajar. Bertanya, membaca, berdiskusi, ikut pelatihan, dan sebagainya. Saya juga berpikir, meramu hal-hal yang pernah saya pelajari, menjadi pengetahuan baru. Tidak ada kata tamat dalam belajar, tidak boleh kita berhenti.

DO
Tahu tentang sesuatu tak punya akibat apa-apa. Tindakan kita berbasis pada suatu pengetahuanlah yang menimbulkan akibat. Maka pengetahuan perlu diubah menjadi tindakan nyata.

Bisa melakukan sesuatu juga tidak mengubah apa-apa selama kita tidak melakukannya. Orang yang bisa dengan tidak bisa tidak tampak berbeda ketika mereka tidak sedang melakukan sesuatu.

Hampir semua orang tahu bahwa tepat waktu itu baik. Namun, berapa banyak dari kita yang mempraktekkannya? Kita tahu bersih itu baik, tapi tidak sedikit dari kita yang jorok.
Kita tahu olah raga itu menyehatkan, tapi kita tidak melakukannya.

Jadi, mari kita lakukan hal-hal baik yang kita tahu. Hentikan kebiasaan-kebiasaan buruk yang kita ketahui keburukannya. Jadilah manusia yang lebih baik dengan cara itu.

Practice makes perfect. Kalau kau lakukan, kau akan menjadi lebih baik dalam melakukannya. Makin sering kau lakukan, kau akan melakukannya dengan sempurna. Doing is actually a learning process.

SHARE
Saya selalu membagikan pengetahuan dan pengalaman saya dengan berbagai cara. Melalui tulisan, ceramah, diskusi, atau sekedar obrolan ringan. Saya ingin orang lain belajar dari pengetahuan dan pengalaman saya.

Saya juga membagikan hal-hal yang saya pikirkan. Banyak orang yang kesulitan merumuskan sesuatu secara utuh, kemudian bisa merumuskannya setelah membaca tulisan saya atau mendengar pembicaraan saya.

Saat berpikir merumuskan sesuatu sering saya mendapat gagasan baru. Untuk merumuskan sesuatu tidak jarang saya harus belajar lagi. Sering pula saya mendapat pengetahuan baru dari tanggapan orang-orang terhadap hal-hal yang saya bagikan.

Berbagi pada dasarnya adalah proses belajar juga.

Pendidikan dan Wirausaha, Terobosan untuk Memberantas Kemiskinan

 
Saya selalu mengenang Emak sebagai perempuan hebat. Ia menjadi motor penggerak keluarga kami untuk keluar dari kemiskinan. Tidak hanya kami, ia memberi inspirasi kepada orang-orang di kampung kami untuk melakukan hal yang sama, keluar dari kemiskinan. Emak melakukan 2 hal: pendidikan dan wirausaha.
 
Emak begitu getol untuk menyekolahkan anak-anaknya, meski di kampung kami dulu belum ada sekolah. Ia kirim anaknya sekolah ke kampung lain, hanya untuk sekedar masuk SD. Ia dorong Ayah untuk menggerakkan orang kampung agar membangun sekolah, supaya anak-anaknya dan anak-anak orang kampung bisa sekolah.
 
Lalu Emak melakukan berbagai usaha untuk membiayai sekolah anak-anaknya. Ia tak cuma berladang menanam padi untuk makan, dan berkebun kelapa untuk menghasilkan uang. Ia berdagang dan menjadi perias pengantin. Melalui usahanya itu Emak menghasilkan uang yang kami pakai untuk sekolah. Dari sekolah kami mendapat pekerjaan, kemudian bebas dari kemiskinan.
 
Kemiskinan sering menjadi lingkaran setan. Untuk bisa keluar dari kemiskinan orang memerlukan pendidikan, agar mereka mendapat gagasan tentang bagaimana hidup dan mencari nafkah lebih baik. Tapi pendidikan memerlukan biaya. Orang miskin tidak punya biaya. Maka orang miskin yang tidak punya biaya tidak bisa sekolah untuk mendapatkan pendidikan. Maka dia akan terus miskin.
 
Yang bisa memutus rantai lingkaran setan itu adalah terobosan. Pemerintah menyediakan pendidikan gratis, atau memberi beasiswa kepada siswa-siswa yang punya potensi baik. Orang-orang yang sudah punya kelebihan juga bisa ikut membantu. Di luar itu, wirausaha.
 
Wirausaha adalah hal yang unik. Tidak selalu diperlukan pendidikan tinggi untuk bisa melakukannya. Yang lebih diperlukan adalah kejelian, kemauan, dan kerja keras. Tentu saja juga diperlukan visi. Yang utama adalah kesadaran bahwa kita semua harus keluar dari kemiskinan.
 
Di kampung kami dulu ada beberapa orang yang sempat kaya dengan bisnis, memanfaatkan booming industri kayu yang marak di kecamatan. Sayangnya itu hanya sesaat. Tidak sedikit pengusaha kampung yang segera menghabiskan hasil usahanya pada hal-hal konsumtif tanpa berhitung. Mereka mengira pendapatan dari usaha itu kekal. Mereka tidak melihat berbagai kemungkinan ke depan, kemudian berinvestasi secara aman untuk mengamankan masa depan. Anak-anak juga tidak dibekali dengan pendidikan yang memadai. Walhasil, ketika bisnis yang ditekuni mulai turun pamor, mereka kembali kepada kemiskinan.
 
Kesimpulan saya, pendidikan dan wirausaha itu penting. Tapi sebelum itu, yang lebih penting lagi adalah kesadaran dan visi. Sadar bahwa kita hidup dalam kemiskinan, dan menganggapnya sebagai masalah. Sadar bahwa kemiskinan harus ditinggalkan. Yakin bahwa kita bisa meninggalkannya. Kemudian memikirkan dan menjalankan berbagai usaha untuk meninggalkannya.
 
Kesadaran dan visi ini sebenarnya juga diperlukan oleh kita semua. Sadar bahwa hidup tidak boleh berhenti. Hidup harus berproses ke arah yang lebih baik, tidak jalan di tempat. Ini berlaku untuk berbagai hal: karir, taraf ekonomi, tingkat pendidikan, dan sebagainya. Kita yakin bahwa kita bisa lebih baik lagi. Yang terpenting, kita tidak pernah berhenti berikhtiar untuk lebih baik lagi.
 
Jalan di tempat adalah kejumudan. Kejumudan adalah kemiskinan gagasan dan visi. Maka setiap hari kita adalah perjuangan, usaha untuk keluar dari kemiskinan gagasan dan visi itu.
 

Terrorist Mind

Menjelang lebaran dunia maya sedikit riuh oleh soal pelarangan kegiatan takbir keliling di Jakarta. Zara Zettira, seorang penulis, memuat sebuah poster di laman Facebooknya. Isi poster itu adalah kemarahan atas larangan tadi. Isinya, larangan takbir keliling itu adalah bentuk kezaliman Ahok. Acara takbir keliling yang merupakan aktivitas ibadah umat Islam dilarang, sementara keramaian sejenis oleh umat lain dilarang. Karena itu poster itu mengajak untuk melempar bom molotov pada aktivitas tahun baru atau tahun baru Imlek.
 
Bagi saya itu adalah ajakan untuk meneror orang. Pelemparan bom molotov adalah sebuah bentuk teror. Poster tadi adalah ajakan terang-terangan untuk melakukan teror. Saya tidak tahu seberapa serius pembuat poster itu dan para pembacanya memikirkan rencana itu. Namun dalam pikiran mereka sudah ada bibit terorisme.
 
Apa yang ada dalam benak para teroris? Pertama, ada orang-orang yang memusuhi Islam dan menzalimi umat Islam. Dalam kasus tadi, Ahok adalah sosok tersebut. Kedua, tindakan penzaliman itu harus dibalas dengan tindakan zalim juga. Tidak peduli bahwa yang terkena akibat tindakan pembalasan itu bukan Ahok secara langsung, pokoknya harus dibalas. Ketiga, mereka tidak peduli bahwa ketika tindakan balasan itu diambil, umat Islam juga akan jadi korban. Bayangkan, pada keramaian tahun baru misalnya, sebagian besar pengunjungnya adalah umat Islam. Melempar bom molotov ke situ akan melukai umat Islam juga.
 
Pola pikir itu persis sama dengan yang dipikirkan oleh para penyerang di Perancis, Turki, Bangladesh, dan Indonesia. Juga penyerang Madinah. Sulit bagi kita untuk menalar, bagaimana bisa kebencian mereka terhadap orang kafir dilampiaskan dengan menyerang Madinah. Sama seperti tidak bersambungnya nalar antara larangan takbir keliling, dengan serangan kepada acara tahun baru.
 
Orang-orang yang berpikiran teroris hanya mau melihat fakta yang mendukung kesimpulan mereka. Dalam hal larangan takbir, Ahok adalah musuh Islam, itu postulatnya. Mereka hanya perlu mencari tindakan Ahok yang bisa dipakai untuk membenarkan kebencian mereka. Maka mereka mengabaikan fakta bahwa larangan acara takbir keliling itu sudah dilakukan pada zaman Sutiyoso, seorang gubernur yang muslim. Bahkan larangan yang sama juga diterapkan di Jawa Barat yang gubernurnya dari partai Islam, atau di kota Depok, yang walikotanya berasal dari partai yang sama.
 
Cara berpikir teroris ini dianut oleh banyak orang Islam di Indonesia. Meski hanya sedikit yang berani mewujudkannya dalam tindakan nyata, cara berpikir ini tetap berbahaya. Cara berpikir ini membuat mereka permisif terhadap tindakan terorisme. Tak heran bila tidak sedikit orang Indonesia yang mendukung berbagai aksi terorisme.