Monthly Archives: June 2016

Penjajahan dan Kaca Mata Sejarah

OttomanMap1700

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Apakah penjajahan itu? Definisinya bisa rumit. Sebaiknya kita mulai saja dengan kolonialisasi. Kolonialisasi adalah penguasaan suatu wilayah, yang bukan wilayah negeri sendiri, untuk mendapatkan manfaat (eksploitasi) sumber daya alam, sumber daya manusia, maupun posisi geografisnya.
 
Frase “yang bukan wilayah sendiri” itu agak rumit. Berbagai wilayah di Eropa misalnya, silih berganti penguasa sepanjang sejarah, baik karena ekspansi maupun akibat runtuhnya suatu kekuasaan secara internal. Jadi, mendefinisikan “wilayah sendiri” tadi menjadi rumit, karena setiap wilayah yang ditaklukkan tentu menjadi wilayah sendiri. Tapi baiklah kita sampingkan dulu kerumitan itu.
 
Intinya, kolonialisasi adalah penguasaan suatu wilayah. Orang-orang Eropa menguasai wilayah-wilayah Afrika, Asia, Amerika, dan Pacific, selama beberapa abad sejak abad pertengahan hingga abad ke 20. Kita menyebutnya zaman kolonial, atau zaman penjajahan. Yang sering luput dari kesadaran kita adalah bahwa yang melakukan kolonialisasi itu bukan hanya Jerman, Spanyol, Inggris, Perancis, Belanda, dan Portugis saja, tapi juga Turki!
 
Coba perhatikan peta wilayah kekuasaan Turki Usmani sebelum Perang Dunia II. Wilayahnya meliputi sejumlah negara Eropa (kini) di antaranya Hungaria, Rumania, Bulgaria, dan Yunani. Pusatnya ada di perbatasan Asia-Eropa, yang kini masih menjadi negara Turki. Ia meliputi pula wilayah Georgia dan Azerbaijan. Kemudian di Asia, meliputi Syiria, Yordania, Irak, dan Semenanjung Arab. Ini masih ditambah lagi dengan Afrika utara, yaitu Mesir, Libiya, dan Maroko.
 
Ketika membahas kolonialisasi kita sering melupakan Turki. Mungkin karena mereka tidak datang ke negeri kita. Tapi bisa juga karena Turki itu Islam. Dalam retorika sejarah umat Islam, Islam tidak pernah menjajah. Yang dilakukan Islam adalah membebaskan, meluaskan dakwah Islam. Maka serbuan Umayyah hingga ke Spanyol dikenang dengan bangga. Demikian pula, kuasa Turki yang demikian luas tidak disebut sebagai kolonialisme. Pada saat kita mengutuk penjajahan Belanda atas nusantara, sebagian dari kita dengan bangga bicara soal luasnya kekuasaan Turki Usmani.
 
Pemberontakan Arab atau Arab Revolt (orang Turki menyebutnya Arap isyani) adalah pemberontakan yang dipimpin oleh Sherif Hussein bin Ali, di wilayah Arab. Ia ingin membebaskan wilayah itu dari kekuasaan Turki, dan mendirikan negara sendiri yang merdeka. Sherif menuduh Turki menodai kesucian tanah Islam, sebaliknya Turki menuduh dia melawan kekuasaan suci khilafah Islam.
 
Pemberontakan ini sebenarnya tidak banyak berbeda dengan berbagai pemberontakan di tanah air sepanjang masa pendudukan Belanda. Uniknya, lagi-lagi, kita menganggap pemberontakan di tanah air sebagai perjuangan heroik melawan penjajah, sementara ada kalangan dalam Islam menganggap pemberontakan berbasis nasionalisme Arab terhadap Turki itu adalah pemberontakan haram. Tidak sedikit ulama Islam yang kemudian mengharamkan nasionalisme karena ini.
 
Sherif memenangkan pemberontakan ini dengan bantuan Inggris. Ia sempat berkuasa di situ sampai tahun 1925, meski kekuasaannya sebenarnya terbatas. Inggris cenderung menduking keluarga Saud, yang kemudian mendirikan kerajaan Saudi Arabia, yang bertahan hingga kini.
 
Kita saksikan bahwa sejarah menjadi demikian absurd kalau kita tidak menggunakan kaca mata yang adil dalam melihatnya. Dengan sejarah, kita menipu diri kita sendiri.

Mengapa Kamu tidak Beriman?

“Mengapa kamu tidak beriman? Tidakkah kamu takut pada siksa neraka?” Tidak. Orang yang tidak beriman, tentu tidak percaya pada Tuhan. Atau dia tidak percaya pada Tuhan yang kau imani. Maka ia tidak takut pada neraka, atau tidak takut pada neraka yang kau imani. Ia juga tidak percaya pada adanya surga seperti yang kau idamkan.
 
“Mengapa kamu tidak beriman? Tidakkah kau bersyukur pada Tuhan yang telah menciptakanmu? Juga menciptakan alam semesta ini untuk kamu.” Orang tidak beriman, tentu tidak percaya bahwa ia diciptakan oleh Tuhan, atau oleh Tuhan yang kamu imani. Jadi, apa yang mesti dia syukuri?
 
“Ah, tidak begitu. Mereka sebenarnya percaya. Kalau ditanya, siapa yang menciptakan langit dan bumi, maka mereka akan menjawab, Allah. Itu tertulis dengan jelas kok dalam Quran.” Lagi-lagi itu masalahnya. Kau menganggap apa yang tertulis dalam Quran itu sebagai kebenaran, sementara mereka tidak. Mereka tidak beriman pada Tuhan, atau Tuhan yang kamu yakini, otomatis mereka juga tidak percaya bahwa kitab sucimu berasal dari Tuhan. Mereka tidak mengimani isinya.
 
“Sombong sekali kamu, berani mendustakan ayat-ayat Allah. Padahal apalah kamu itu bila dibandingkan dengan kebesaran Allah. Coba lihat alam semesta ini, begitu besar. Jangankan kamu, bumi ini, bahkan tata surya ini hanyalah sebutir debu yang sangat kecil bila dibandingkan dengan alam semesta ciptaan Allah.” Masalahnya tetap sama. Kau percaya bahwa Allah yang menciptakan alam semesta, dia tidak. Jadi dia tidak sombong. Dia hanya tidak beriman saja.
 
“Tapi kenapa kamu tidak mau diajak kepada kebaikan? Apakah kamu puas dengan hidup berperi laku buruk? Agama ini baik. Kalau mau jadi orang baik, ikutlah aturan agama.” Masih tetap sama, kau percaya bahwa agamamu baik, dia tidak. Bagi dia, agama tidak selalu baik. Sebaliknya, kebaikan tidak hanya terdapat dalam agama. Dia yakin bisa menjadi orang baik tanpa beragama.
 
Nah, ketimbang ribut berteori soal iman, agama, dan kebaikan, kenapa tidak kau tunjukkan saja bahwa dirimu adalah orang baik? Mulailah dengan tidak memaksa orang lain.
 
 

Mengapa Memaksakan Syariat?

 
“Lebih baik memaksa orang masuk surga daripada membebaskan mereka masuk neraka.” Pernah dengar pernyataan itu? Itu adalah pernyataan yang sering diungkapkan oleh orang-orang yang suka memaksa orang lain untuk beribadah.
 
Dari sudut pandang akidah sekalipun logika itu ngawur. Secara akidah tidak mungkin manusia bisa memaksa orang masuk surga, karena surga itu hak Allah, bukan hak manusia. Orang yang beribadah karena paksaan manusia bukanlah orang yang tunduk pada Allah. Maka seluruh amalnya akan ditolak. Jadi, memaksa orang masuk surga adalah tindakan sesat nalar, juga sesat akidah.
 
“Tidak apa-apa, awalnya terpaksa, kemudian nanti akan terbiasa, lalu menghayati.”
 
Tidak ada jaminan prosesnya akan seperti itu. Bahkan tidak sedikit yang berproses sebaliknya, dari taat ibadah dan beriman, kemudian menjadi tidak beriman. Ada hadist yang menyatakan, akan datang suatu masa di mana hari ini seseorang beriman, esoknya ia kafir, dan sebaliknya. Iman itu disadari bisa berubah-ubah, bolak-balik. Siapa yang bisa mengubahnya? Orang itu sendiri, bukan orang lain.
 
Orang dipaksa beribadah. Harapannya ia akan terbiasa. Kalau tidak kunjung terbiasa juga, paksa terus. Maka prinsip ini sebenarnya menginginkan agar paksaan itu selalu ada. Untuk apa? Untuk Tuhan? Bukan. Tuhan tidak memaksa, Tuhan membebaskan. Man yasya’ fal yu’min, wa man lam yasya’ falyakfur. Barang siapa yang mau, maka ia beriman, dan barang siapa yang tidak mau, maka dia kafir.
 
Jadi mengapa orang-orang itu memaksa, padahal Tuhan sendiri tidak memaksakan? Mereka takut kesepian. Mereka adalah orang-orang yang mengira banyak itu benar. Kalau ada banyak orang beribadah bersamanya, maka ia akan yakin bahwa ia berada di jalan yang benar. Kalau ia hanya sendiri, mungkin ia akan celingukan. “Kok cuma aku yang melakukan ini? Jangan-jangan aku ini sesat.”
 
Saya dulu banyak menyaksikan orang-orang Iran yang di negara mereka dipaksa beribadah. Bagi perempuan khususnya, mereka dipaksa berjilbab. Begitu mereka pergi ke luar negeri, lepaslah semua paksaan Maka banyak perempuan Iran itu buka jilbab begitu mereka ke luar negeri. Ah, Iran, mereka kan Syiah. Hehehehe. Orang Saudi juga banyak yang begitu.
 
Jadi, lebih baik bila syariat tidak dipaksakan, agar jelas mana orang-orang yang tunduk dan mana orang-orang munafik.
 
 

Mentalitas Korban

Kita sangat sering mendengar keluhan orang Islam soal kaum muslimin yang dimusuhi dan dizalimi. Banyak orang yang percaya soal adanya konspirasi global untuk memusuhi Islam. Konspirasi itu dimotori oleh kaum Yahudi dan Nasrani. Tidak hanya secara global. Di tingkat nasional pun begitu. Pemerintah dianggap anti Islam. Atau ada kekuatan-kekuatan tertentu yang menggiring agar berbagai kebijakan pemerintah merugikan dan memojokkan umat Islam.
 
Ini adalah sebuah gejala sakit mental, yang disebut victim mentality, atau biasa juga disebut victimism. Orang dengan penyakit seperti ini biasa menuduh dan menyalahkan orang lain atas kemalangan yang ia alami. Ia juga secara negatif menuduh orang lain memusuhi dia, mencari-cari jalan untuk menyakiti dia. Dalam bahasa lain disebut paranoid. Mereka juga biasa menganggap pihak lain selalu diuntungkan oleh situasi, lebih dari dirinya sendiri. Nah, parahnya, ia sebenarnya menimati situasi itu, yaitu situasi malang yang ia alami. Ia menikmati situasinya, dan ia menikmati proses menyalah-nyalahkan itu.
 
Dalam hal Indonesia, apa sih yang tidak diperbuat pemerintah untuk umat Islam? Setiap kebijakan yang diambil tentulah menempatkan kepentingan orang banyak. Dalam hal Indonesia, orang banyak itu tentulah umat Islam. Sekolah, rumah sakit, berbagai infrastruktur, yang menikmati paling banyak adalah umat Islam. Masih kurang? Coba lihat kementerian agama. Kalau mau jujur, ini sebenarnya adalah kementerian agama Islam. Agama lain hanya sekedar aksesori saja. Belum lagi berbagai regulasi yang dibuat terkait kebutuhan umat Islam, seperti peradilan agama, produk halal, dan sebagainya.
 
Meski begitu masih saja ada orang yang menuduh pemerintah Indonesia di segala zaman adalah pemerintah anti Islam. Bagi saya ini adalah gejala sakit mental tadi, yaitu mental korban.
 
Mengapa umat Islam mengalami ini? Sebabnya banyak. Salah satunya bersifat skriptual. Dalam sejarahnya umat Islam memang dizalimi. Di Mekah mereka disudutkan dan diteror oleh orang-orang Quraisy, sampai harus eksodus ke mana-mana. Puncaknya adalah hijrah atau eksodus ke Madinah, yang kemudian menjadi titik balik sejarah Islam. Di Madinah pada awalnya mereka masih diteror. Kemudian mereka membalikkan keadaan dengan melawan balik. Beberapa perang dimenangkan, tidak hanya melawan Quraisy Mekah, tapi juga terhadap orang-orang Yahudi di sekitar Madinah. Mereka dibasmi dengan satu tuduhan: berkhianat.
 
Bila kita telisik narasi Quran kita akan temukan fakta unik. Quraisy Mekah adalah kelompok yang tidak berhenti memusuhi, namun nama mereka sebagai kelompok tidak secara tersurat dinyatakan dalam ayat-ayat celaan. Berbeda dengan kaum Yahudi, yang diberi stempel musuh abadi. Lebih unik lagi, kaum Nasrani yang tidak memiliki rekaman sejarah konflik terbuka sepanjang sejarah kenabian, ikut terkena getahnya. Narasi Quran soal Yahudi dan Nasrani sangat kental dengan aroma menuduh tadi.
 
Dalam fase sejarah selanjutnya kaum muslim mengalami banyak kejayaan. Kekuasaan mereka sampai menjangkau Eropa, dan hingga kini bekasnya masih sangat terasa. Selepas itu dunia Islam mengalami surut. Hampir seluruh wilayah kaum muslim tunduk di bawah kekuasaan bangsa-bangsa Eropa. Lalu beberapa abad kemudian terjadilah kemerdekaan.
 
Dalam menuturkan sejarah, sambil mengenang kejayaan masa lalu. umat Islam tidak pernah berhenti meratapi permusuhan-permusuhan atas diri mereka. Meski melakukan ekspansi sampai ke Eropa, mereka tetap mengidentifikasi diri sebagai korban permusuhan pihak lain. Tidakkah pihak lain juga berhak menuduh bahwa mereka adalah korban invasi dan permusuhan pihak Islam?
 
Kini, meski sudah merdeka, mayoritas negeri-negeri muslim adalah wilayah tertinggal dalam hal teknologi dan ekonomi. Siapa yang salah? Penjajahan bisa dituding sebagai biang keroknya. Tapi itulah, orang lebih suka berhenti di situ. Apa yang telah kita perbuat setelah sekian puluh tahun merdeka? Ada banyak kemajuan yang dibuat. Tapi tidak sedikit pula kemunduran.
 
Dalam hal infrastruktur, misalnya, jalan utama di pulau Jawa adalah peninggalan Belanda. Demikian pula dengan jalur kereta api. Alih-alih bertambah, infrastruktur kereta api kita banyak berkurang dibanding dengan zaman Belanda dulu. Produksi gula juga demikian. Zaman dulu kita adalah pengekspor, tidak hanya produk gula, tapi juga teknologi produksinya. Kini kita adalah pengimpor.
 
Dalam suasana kalah itu umat Islam lebih sering meratap, menuduh-nuduh. Ketimbang mencari kesalahan untuk diperbaiki, mereka lebih suka meratap menyalah-nyalahkan pihak lain. Persis seperti gejala yang diderita oleh orang yang mengalami sindroma mentalitas korban tadi. Tidakkah umat ini sakit secara kolektif?
 
Yang mengerikan adalah penyakit itu muncul dalam wujud fatal: terorisme. Teorirsme yang dilakukan oleh kelompok-kelompok Islam adalah wujud paling parah dari victimism tadi. Mereka menganggap semua pihak di luar Islam adalah pihak-pihak yang menebar permusuhan. Padahal mereka sendirilah penebar permusuhan itu.
 
Apa yang harus kita perbuat? Bagi saya tidak bisa tidak, pembacaan kita terhadap berbagai skrip harus diubah. Ada bagian-bagian dari teks suci yang harus dibaca sebagai catatan sejarah, bukan sebagai perintah Tuhan. Dengan demikian kita bisa menganggap rekaman-rekaman permusuhan itu sebagai bagian dari masa lalu, bukan sesuatu yang harus kita pelihara sekarang.
 
 
 

Sensing The Problem

troubleshooting-astro
Di perbagai perusahaan banyak diberikan training dengan subjek memecahkan masalah, atau problem solving. Namun bagi saya ada satu soal yang harus dibereskan dulu, satu langkah sebelum kita bicara soal problem solving, yaitu mendeteksi atau menemukan masalahnya. Ini mungkin terdengar mengada-ada, tapi ini soal yang nyata.
 
Ada banyak perusahaan atau organisasi di mana masalah-masalah menumpuk tidak terselesaikan, bukan karena mereka tidak mampu menyelesaikan. Masalah-masalah itu tidak disadari adanya, atau tidak dianggap sebagai masalah. Kalau begitu adanya tentu tak mungkin akan diselesaikan, bukan?
 
Di berbagai perusahaan atau organisasi itu hadir sejumlah orang bebal. Apa itu bebal? Yaitu orang yang sensitivitasnya dalam mendeteksi masalah sangat rendah. Bahkan terhadap masalah yang ada di depan mata mereka sendiri saja pun mereka tidak bisa merasakannya. Dalam banyak kasus, yang terjadi sebenarnya adalah mereka tidak menganggapnya sebagai masalah, alias cuek.
 
Ada beberapa contoh kecil. Seseorang masuk WC dan menemukan keran di westafel dalam keadaan terbuka dan mengalirkan air. Orang bebal melihat itu, tapi tidak menutupnya. Demikian pula halnya dengan lampu atau AC di ruangan, yang menyala padahal tak ada orang di situ. Kita terbiasa membiarkannya begitu saja. Kita bebal.
 
Dalam konteks yang lebih besar kebebalan banyak terjadi, kemudian menimbulkan masalah sampai di tingkat nasional. Sedihnya, masalah itu sering dianggap sebagai masalah kodrati yang tidak bisa dicarikan solusinya.
 
Soal tepat waktu, lagi-lagi saya harus bahas ini, bermula dari soal individu yang menganggap bahwa terlambat itu boleh ditoleransi. Baik terlambat datang ke tempat kerja, terlambat memulai acara yang sudah disepakati, terlambat dalam menyelesaikan pekerjaan, hingga terlambat dalam mengirim barang/jasa yang merupakan produk perusahaan.
 
Soal tidak tepat waktu ini melanda hampir semua perusahaan kita, khususnya perusahaan jasa. Keterlambatan penerbangan menjadi sesuatu yang akhirnya kita anggap bisa, dan tidak mungkin diselesaikan. Sumber utamanya adalah individu yang menganggap keterlambatan bukan masalah.
 
Begitulah. Ada banyak lagi masalah yang membuat perusahaan tidak efisien, bahkan merugi, karena masalah yang ada tidak dianggap atau dirasakan sebagai masalah. Karena itu bagi saya penting untuk meningkatkan sensitivitas karyawan terhadap masalah di sekitar mereka.
 
Bagaimana caranya? Beberapa hal bisa dilakukan. Pendekatannya bisa individual, juga kolektif. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah meningkatkan disiplin individual. Bagaimanapun juga, sensitivitas setiap individu terhadap persoalan sangat penting. Kemampuan mengendus adanya masalah berawal dari sensitivitas pribadi terhadap masalah. Orang yang tidak disiplin biasanya adalah orang-orang yang cuek terhadap apapun yang terjadi di sekitar mereka.
 
Biasakan membuat rekaman atas masalah yang teridentifikasi, meliputi apa masalahnya, akar penyebabnya, kemudian tindakan-tindakan yang diambil untuk mengatasinya. Publikasikan catatan ini secara terbuka, mudah dipahami, dan dijangkau semua orang. Dengan cara ini kewaspadaan (awareness) terhadap masalah bisa terus dijaga.
 
Perusahaan tempat saya bekerja sangat peduli terhadap soal keselamatan kerja. Kami menjaga iklim nol kecelakaan kerja, dan mempertahankannya selama bertahun-tahun. Setiap ada kejadian kecelakaan, sekecil apapun, dicatat, kemudian dianalisa. Hasilnya disebarkan ke seluruh perusahaan kami di seluruh dunia, meliputi sekitar 250 perusahaan. Dengan cara itu, masalah di tempat lain pun bisa membantu kita untuk meningkatkan sensitivitas terhadap masalah di sekitar kita.
 
Level tertinggi dari proses ini adalah membiasakan untuk mendeteksi potensi masalah. Masalah bisa kita ramalkan akan terjadi, sehingga bisa dilakukan antisipasi untuk mencegahnya. Dari berbagai catatan kejadian, baik di internal perusahaan, perusahaan satu grup, bahkan perusahaan luar, semua bisa dijadikan referensi untuk mencegah timbulnya masalah.
 
Sering kali pelatihan dengan materi problem solving seperti menerpa ruang hampa. Sebabnya yang dilatih adalah orang-orang yang masih bebal, tidak bisa mendeteksi adanya masalah. Kalau bagi mereka tidak ada masalah, bagaimana mereka bisa berpikir mencari jalan untuk menyelesaikannya? Karena itu bagi saya penting untuk terlebih dahulu membangun sensitivitas terhadap adanya masalah.