Monthly Archives: June 2016

Berharap pada Pelayanan Pemerintah

Dalam usaha memperbaiki birokrasi, pemerintah di berbagai bidang baik di pusat maupun daerah mengkampanyekan “pelayanan berorientasi pada kepuasan pelanggan”. Mengapa ini perlu dilakukan?
 
Dunia bisnis sudah lama menjalankan konsep ini. Mereka tidak hanya membuat produk dan menjualnya, tapi memastikan produk mereka memenuhi kebutuhan pelanggan. Berbagai produk yang ada di tangan kita didesain sedemikian rupa agar memenuhi berbagai kebutuhan kita. Bila produk itu menyentuh kebutuhan pelanggan, menyelesaikan masalah mereka, maka kepuasan pelanggan dapat dicapai. Untuk mencapai itu biasanya tidak cukup hanya dengan produk saja, tapi juga disertai dengan layanan pelengkap seperti layanan purna jual.
 
Negara-negara dengan produk-produk dan layanan unggul mendapat keuntungan ekonomi. Ekonomi mereka menjadi kuat. Tapi bukankah ini adalah produk dunia swasta? Lalu, apa hubungannya dengan layanan pemerintah?
 
Ada begitu banyak argumen yang bisa disampaikan soal kenapa layanan pemerintah perlu disetarakan dengan layanan yang diberikan oleh pihak swasta. Namun saya lebih suka meringkasnya dari pengalaman saya hidup 10 tahun di Jepang.
 
Selama di Jepang saya menemukan bahwa pelayanan di swasta dan pelayanan oleh kantor-kantor pemerintah sama saja. Sama baiknya. Nalar ringkas saya menyimpulkan bahwa tidak mungkin terjadi keadaan di mana ada ketimpangan layanan antara swasta dan pemerintah. Tidak mungkin swasta maju dan menonjol dalam pelayanan, sedangkan pemerintah jauh tertinggal di belakang, atau sebaliknya. Artinya, bila kita menginginkan kemajuan ekonomi berbasis pada berbagai kegiatan ekonomi yang dimotori oleh swasta, maka tidak bisa tidak, pelayanan oleh pihak pemerintah harus setara dengan kualitas pelayanan oleh pihak swasta. Sementara itu, swasta yang tidak bisa menyajikan pelayanan berstandar global tidak mungkin bisa bersaing di tingkat global. Artinya, tuntutan kepada pemerintah adalah layanan berstandar global pula.
 
Konsep tentang pemerintahan sudah bergeser. Dulu pemerintah bermakna pemberi perintah, penguasa. Ia punya kuasa untuk mengatur rakyat, secara sepihak menyediakan kebutuhan-kebutuhan rakyat. Posisinya mirip dengan posisi tuan di hadapan kawulanya. Kini pemerintah hanya sekedar pengelola kepentingan rakyat. ia regulator yang menjaga agar kepentingan rakyat agar tidak diciderai oleh pelaksanaan kepentingan rakyat yang lain. Tapi di saat yang sama ia adalah pelayan, yang harus memastikan setiap kepentingan rakyat dapat dipenuhi.
 
Dalam konteks ini ada persoalan pola pikir yang cukup rumit. Pertama aparat pemerintah pemberi layanan harus mengubah pola pikir, dari prinsip lama sebagai penguasa, menjadi prinsip baru, sebagai regulator dan pelayan. Lebih rumit lagi, ia harus menjalani peran ganda regulator-pelayan tadi, yang sering kali bersifat antagonis. Maka diperlukan pola pikir yang sangat jernih untuk bisa menjalaninya.
 
Pelayanan seperti apa yang dibutuhkan rakyat? Sebenarnya sederhana saja. Rakyat sebagai pengguna memerlukan layanan yang berbasis pada informasi yang jelas. Jelas prosedur, persyaratan, biaya, serta siapa yang berwenang melayani. Mereka juga membutuhkan tempat pelayanan yang memadai dan patut, serta pelayan yang kompeten. Pada intinya, khalayak menginginkan pelayanan yang mudah, cepat, dan murah.
 
Bagaimana pemerintah, termasuk pemerintah daerah menjawab tantangan itu? Ini bukan soal mudah. Ada begitu banyak hambatan dan keterbatasan. Hambatan pertama adalah soal pola pikir tadi. Masih banyak pejabat yang belum menganggap dirinya sebagai pelayan. Mereka lebih suka bersikap sebagai tuan. Kemudian, dualisme peran sebagai regulator dan pelayan juga masih sulit untuk dimainkan secara seimbang.
 
Lalu ada pula masalah SDM. Pembinaan SDM dalam pengertian hakiki sudah lama terbengkalai di berbagai lembaga pemerintah. Birokrasi kita diisi oleh orang-orang dengan kompetensi rendah dan beretos kerja buruk. Ditambah lagi, mereka tidak disiapkan untuk menjadi pelayan.
 
Di sisi lain anggaran yang disediakan juga terbatas. Infrastruktur jauh dari cukup.
 
Begitulah. Kita kemudian berhadapan dengan situasi: Tak ada yang bisa kita lakukan. Menyerah. Kita akan terus begini. Dalam ceramah saya di hadapan jajaran Pemda Kabupaten Sumbawa kemarin saya sampaikan persoalan di atas. Saya ajak semua orang untuk menyadari dulu bagaimana situasi kita saat ini, sebagaimana saya paparkan di atas.
 
Nah, apakah kita akan menyerah? Tidak. Saya ajak seluruh jajaran Pemda untuk bersikap proaktif sebagaimana diajarkan oleh Steven Covey. Mereka harus mencari berbagai solusi di tengah berbagai kekurangan. Kembangkan kreativitas untuk tetap memberi layanan terbaik di tengah berbagai keterbatasan. Menariknya, sangat banyak tanggapan positif yang disampaikan pesera. “Kami tidak ingin hidup di bawah bayang-bayang stigma PNS yang malas, tidak kompeten, dan korup,” kata salah seorang peserta kemarin. Artinya, mari membuat perubahan!
 
Sumbawa bisa!

Qalb, Kok Jadi Hati?

Kalau kita perhatikan Quran terjemahan bahasa Indonesia, ada suatu hal yang menarik. Kata “qalb” jamaknya “quluub” yang dalam bahasa Arab bermakna jantung (heart dalam bahasa Inggris), diterjemahkan menjadi “hati” dalam bahasa Indonesia. Nah, apa basis berpikirnya hingga diterjemahkan begitu?

Saya menemukan paper yang ditulis Poppy Siahaan, yang merupakan bagian dari buku berjudul “Culture, body, and language: Conceptualizations of internal body organs across cultures and languages”. Dalam paper itu penulisnya menjelaskan bahwa kata “hati” dalam berbagai ungkapan bahasa Indonesia yang mewakili makna jiwa, keinginan, dan akal, berasal dari konsep animisme yang mempercayai bahwa tempat kedudukan jiwa atau ruh dalam tubuh manusia adalah hati atau liver. Persepsi ini sudah tumbuh sebelum agama-agama dari luar, baik samawi (semitic) maupun bukan, masuk ke Indonesia.

Sementara itu, di belahan lain dunia orang Mesir kuno percaya bahwa tempat kedudukan jiwa manusia ada di jantung. Konsep ini mempengaruhi budaya Semit yang melahirkan 3 agama besar dunia, yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam. Tidak heran bila ekspresi yang sama soal perasaan, pikiran, dan jiwa diwakili dengan kata qalb atau jantung. Di dalam Quran jelas disebutkan bahwa manusia berpikir dengan qalb (jantung), dalam konteks pujian kepada yang menggunakannya (22:46), maupun celaan kepada yang tidak menggunakannya (7:179).

Dalam konteks budaya Indonesia, seperti diungkapkan di atas, hati dipercaya sebagai pusat jiwa, pikiran, dan kehendak manusia. Apakah Quran secara “serius” menganggap jantung (qalb) sebagai organ yang mengendalikan pikiran dan tindakan manusia? Ayat 7:179 berbunyi: Mereka punya mata tapi tak (digunakan untuk) melihat, punya telinga tapi tak (digunakan untuk) mendengar, dan punya hati tapi (tak digunakan untuk) berakal. Kita ketahui bersama bahwa mata dan telinga adalah organ dalam konteks kegiatan melihat dan mendengar. Penempatan jantung dalam konteks seperti ini menyiratkan bahwa jantung dalam hal ini adalah dalam pengertian organ. Hanya saja perlu dicatat bahwa melihat dan mendengar dalam kalimat ini juga simbolik sifatnya.

Yang lebih tegas adalah keterangan nabi soal masa kecilnya. Waktu masih dalam asuhan Halimah, menurut sebuah hadist, nabi pernah didatangi oleh malaikat Jibril. Jibril memangkap beliau, menidurkan, lalu membedah dadanya, mengeluarkan jantungnya untuk dibersihkan dari berbagai penyakit. Ini membebaskan beliau dari penyakit-penyakit perilaku atau penyakit mental. Sekali lagi teks ini mengindikasikan jantung sebagai organ dianggap sebagai pusat kendali pikiran dan tindakan manusia.

Namun perlu dicatat bahwa dalam berbagai pembahasan para ulama tidak membahas sifat organ fisik qalb. Al-Ghazali misalnya, hanya sepintas menyebut qalb sebagai organ yang berada di dalam dada, kemudian dalam berbagai pembahasan selanjutnya pembahasan soal qalb lebih berfokus dari aspek non-materi. Ada pula ulama yang membagi dua aspek pikiran manusia, yang bersifat rasional diproses dalam otak, sedangkan yang non-rasional diproses di dalam qalb.

Jadi, bagaimana kesimpulannya? Dalam hal penerjemahan qalb menjadi hati kita bisa simpulkan bahwa ini adalah sisa pengertian masa lalu soal peran organ. Orang tak lagi benar-benar menganggap hati adalah organ tempat kedudukan jiwa manusia, tempat akal diproses. Melainkan ia adalah simbol saja dari pikiran manusia. Karena itu pemaknaan qalb tidak dihubungkan dengan makna kamusnya, tapi dibelokkan secara simbolis menjadi hati.

Tapi pemaknaan ini punya konsekuensi. Kalau qalb ternyata boleh tidak dimaknai secara leksikal, artinya ia bukan organ, padahal saat mengatakan “Ketakwaan itu letaknya di sini” nabi menunjuk ke dadanya, apakah makna kata lain seperti neraka, surga, malaikat, dan sebagainya boleh kita maknai pula secara simbolik? Bahwa semua terminlogi itu tidak otomatis wujud secara nyata?

Islam Kaya, Islam Miskin

Menjadi kaya itu tidak dilarang dalam Islam. Sebaliknya kefakiran harus dihindari. “Kefakiran itu mendekati kekafiran,” kata Ali. Islam mendorong orang untuk kerja keras, dan melarang orang untuk malas. Jadi dalam soal ini semua sudah jelas. Mencari dan mengumpulkan harta itu boleh saja.

Tapi Islam juga dengan jelas mengatakan bahwa harta bukanlah tujuan. Dunia ini hanya permainan dan tempat singgah. Kalau seseorang mati, maka semua hartanya ia tinggalkan.

Banyak sahabat Nabi yang kaya. Tapi Nabi sendiri tidak punya harta. Doa beliau,”Ya Allah, jadikan aku orang miskin, wafatkan aku dalam keadaan miskin, dan bangkitkan aku bersama orang-orang miskin.” Apa makna doa ini?

Rasulullah menegaskan bahwa miskin bukanlah suatu kehinaaan, dalam arti tidak seorang pun bokeh dihina karena miskin. Rasulullah berdiri di situ. Menghina orang miskin sama halnya dengan menghina Rasulullah. Tapi pada saat yang sama Rasulullah menyuruh orang bekerja. Maknanya, jangan menyerah. Jangan menjadi fakir karena malas mencari rezeki yang telah disediakan Allah. Oksigen itu disediakan berlimpah, tapi tetap saja kita perlu mengerakkan otot dada dan perut untuk bernafas.

Di sisi lain, Islam mengajarkan untuk berbagi. Ada yang sifatnya wajib yaitu zakat, ada yang sifatnya didorong, yaitu sedekah. Maknanya, kemiskinan tidak boleh dibiarkan. Orang miskin harus dibantu, dan didorong untuk keluar dari kemiskinan. Siapa yang bisa membantu? Orang yang tidak miskin lagi. Itu berarti bahwa semua orang didorong untuk mencari jalan agar tidak miskin.

Miskin itu lawan katanya adalah kaya. Tapi di antara kedua kata itu ada satu kata lain, yaitu cukup. Bagi saya, pada kata inilah Islam berdiri. Rasulullah itu sebenarnya kaya, dalam arti ia punya kemampuan untuk mengumpulkan harta. Beliau hidup seperti itu karena memilih begitu. Beliau merasa cukup.

Dengan kerja keras dan kesempatan baik kita bisa mengumpulkan banyak harta. Tapi ingat, bukan harta yang membuat kita bahagia dan mulia, melainkan rasa cukup. Cukup artinya kita tidak ingin lebih. Kelebihan setelah cukup itulah yang kita bagikan.

Cukup adalah alarm bagi kita untuk berhenti. Alarm itu mengingatkan bahwa dunia ini hanya sementara. Ketimbang menyibukkan diri untuk memperkaya diri, lebih mulia kalau kita berbagi.

Sedekah tujuannya untuk berbagi. Sedekah untuk memastikan kita berada dalam keadaan cukup. Sedekah mengikat kaki kita untuk tidak melangkah ke ruang tamak. Makanya saya sangat keberatan kalau ada yang mengajarkan sedekah dengan harapan akan diberi imbalan harta lebih banyak. Sedekah macam itu adalah sedekah yang menyuburkan ketamakan.

Dalil-dalil Bertentangan

Kalau kita melakukan perjalanan di dalam rimba dalil, maka kita akan temukan dalil-dalil bunyi teksnya bertentangan. Contohnya, di surat Al-Hujurat ada ayat yang menyampaikan bahwa manusia itu setara. Yang membedakannya di hadapan Allah hanyalah ketakwaan. Tapi pada saat yang sama di banyak tempat ada ayat yang menyatakan bahwa budak (malakul yamin) boleh digauli.
 
Di mana masalahnya? Kalau budak boleh digauli, maka itu artinya boleh memelihara budak. Kalau masih ada orang berstatus budak, bagaimana dengan prinsip kesetaraan tadi? Paradoks bukan?
 
Saya sering melempar thread soal budak ini, kemudian menjadi kontroversi. Memang saya sengaja. Pertama, karena banyak orang yang belum pernah mendengarnya, sehingga tidak tahu. Ada pula yang hanya mendengar sisi apologetiknya saja, bahwa Islam melarang perbudakan, padahal larangan itu tidak ada. Ekspose ini saya harapkan merangsang orang untuk menggali lebih jauh.
 
Tujuan kedua, mengeksplorasi pandangan orang-orang. Ada banyak yang berpandangan lucu. Misalnya, mereka mengatakan bahwa ayat-ayat perbudakan tetap diperlukan. Siapa tahu kelak terjadi lagi perbudakan, maka kita sudah siap dengan regulasinya. Itu sebuah nalar yang rusak.
 
Bagaimana pandangan saya sendiri? Bagi saya Quran itu selalu punya 2 sisi, yaitu universal dan lokal. Ayat di surat Al-Hujurat tadi adalah muatan universal. Ini akan berlaku sampai kapanpun. Adapun aturan-aturan tentang budak, itu adalah aturan yang sifatnya lokal, berlaku untuk orang-orang Arab yang hidup di abad ke 7. Perbudakan sudah ada sejak sebelum masa Islam, dan aturan-aturan itu diperlukan untuk mengatur masyarakat pada saat itu. Aturan itu sudah tidak berlaku sekarang, dan tidak boleh diberlakukan lagi di masa depan. Karena prinsip yang universal tadi berkonsekuensi bahwa perbudakan harus dihapuskan.
 
Sama halnya soal ayat-ayat hubungan Islam dengan Yahudi dan Nasrani. Ada ayat-ayat yang sifatnya bersahabat, ada yang terkesan bermusuhan. Bersahabat dan damai bagi saya adalah nilai universal, sedangkan yang terdengar seperti bermusuhan, itu adalah dalil yang temporer sifatnya. Di antaranya adalah ayat di Al-Baqarah 120,”Tidak ridha kaum Yahudi dan Nasrani kepadamu sampai kamu mengikuti millah mereka.” Ayat ini memakai narasi “anka”, berarti kamu (tunggal), menunjuk kepada Nabi seorang, bukan umat Islam. Artinya ayat ini hanya untuk Nabi, pada situasi saat itu saja.
 
Tapi saya tahu bahwa pandangan moderat ini sering ditentang oleh orang-orang skriptualis. Pandangan tentang budak tadi misalnya, mereka keberatan kalau saya katakan bahwa ayat itu berlaku situasional. Mereka takut terjadi seolah-olah ada ayat yang bisa dianulir manusia. Demikian pula halnya dengan ayat-ayat “permusuhan” tadi. Mereka tetap mengatakan bahwa ayat itu berlaku sampai sekarang. Bahkan kemudian mereka memakainya secara serampangan dalam konteks politik saat ini. Bagi saya itu keblinger.
 
Maka terhadap itu saya sering bombardir mereka dengan posting-posting sengak, sinis dan satire. Maka keluarlah tuduhan menghina Islam dan anti Islam itu. Tapi kalaupun tidak saya tulis posting satire itu, pandangan moderat tadi tetap akan dianggap sebagai ciri orang liberal. Artinya, apapun yang saya sampaikan akan dianggap salah juga. Makanya saya tidak peduli. Saya tuliskan apa saja yang saya ingin tulis, sesuai mood saya. Ada yang bisa mengambil benang merahnya secara baik, namun tidak sedikit yang hanya melihatnya sebagai permusuhan.
 
I am responsible for what I write, but I am not responsible for what you think about it.
 

Apa Manfaat Puasa Kita?

Puasa itu ada ongkosnya. Menjelang bulan puasa pemerintah harus jaga-jaga. Stok beberapa jenis bahan pangan harus diamankan, agar tak kekurangan. Ironi memang. Ini kan ceritanya mau mengurangi makan, tapi yang terjadi sebaliknya stok bahan pangan harus ditingkatkan. Intinya, pemerintah harus bekerja ekstra untuk membantu umat Islam beribadah.

Polisi juga harus kerja ekstra. Kabarnya, menjelang dan selama bulan puasa kriminalitas meningkat. Agak pening kepala kita menalarnya, tapi memang begitulah adanya.

Bulan puasa itu adalah ujian nasional bagi umat Islam. Bayangkan, 200 juta manusia serentak mengikuti ujian. Bedanya dengan ujian sekolah adalah pada papan peringatan. Pada ujian sekolah peringatannya berbunyi,”Harap tenang, jangan ribut, ada ujian.” Untuk ujian nasional umat Islam ini papan peringatan berbunyi,”Ada ujian puasa, harap maklum kalau berisik.” Begitulah, seantero negeri harus memaklumi kebisingan selama bulan puasa.

Masih ada sejumlah pemakluman lain. Warung-warung makan harus ditutup, atau minimal diberi tirai penutup. Bahkan warung nasi babi yang seharusnya tak punya konsumen muslim harus ikut tutup. Tempat-tempat hiburan, kedai minum, panti pijat, semua yang sebenarnya haram didatangi orang Islam harus ditutup.

Pokoknya, ada begitu banyak pemakluman yang harus dilakukan agar kaum muslimin bisa berpuasa. Nah, pertanyaannya adalah, hasilnya apa? Pertanyaan ini sah dan sahih. Ibarat seorang ibu yang sudah capek-capek mempersiapkan anaknya untuk ikut ujian, dia berharap anaknya lulus. Nah, luluskah umat Islam dalam ujian puasa ini? Apa buktinya?

Puasa katanya membuat orang jadi bertakwa. Apa faedah ketakwaanmu? Kau jadi lebih rajin dan khusuk dalam ibadah salat. Itu baik untukmu. Tapi apa faedahnya bagi orang lain yang sudah berkorban untuk puasamu?

Kau jadi lebih tertib bayar zakat dan rajin sedekah. Alhamdulillah, itu banyak manfaatnya. Tapi benarkah? Yang terlihat, sedekah hanya ramai selama bulan puasa.

Lalu, apa lagi? Apakah kau menjadi manusia yang lebih baik setelah puasa? Apakah kau jadi orang yang lebih tertib? Jadi lebih disiplin dan produktif? Apakah kau jadi lebih bermanfaat bagi manusia yang lain? Apakah kehadiranmu membuat suasana lebih damai? Apakah kau berhenti korupsi?

Atau, puasa ini hanyalah acara rutin tahunan yang merepotkan banyak orang? Apa jawabanmu?